Claim Missing Document
Check
Articles

PARODI CALON ARANG DALAM NOVEL JANDA DARI JIRAH KARYA COK SAWITRI Mulyawati, Netari; Rahayu, Lina Meilinawati; Saidi, Acep Iwan
JURNAL PESONA Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : JURNAL PESONA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26638/jp.296.2080

Abstract

This research described characters parody in the novel Janda dari Jirah by Cok Savitri. Parodi appears indicating that the glorification of Calon Arang. This research method uses descriptive analytical with the theory of parody as part of intertextuality. Parody which appears also associated with feminine and masculine leadership style defined by Parker. This study shows that there is a glorification through figures and depictions of feminine leadership style Candidate Arang.
Pergeseran Bentuk Siluet Kostum Tari Jaipongan Tahun 1980-2010 Marlianti, Mira; Saidi, Acep Iwan; Destiarmand, Achmad Haldani
PANGGUNG Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v27i1.233

Abstract

ABSTRACKThis article is aimed at identifying the shift in silhouette of Jaipongan costume from its first appearance (in 1980) until thirty years later (2010). The silhouette of Jaipongan costume keeps changing at present, and is believed to become trends followed by other costume designers in different areas. Since it has never been studied by other researchers, the study result is expected to be the reference for future studiesthat focus on Jaipongan. The approach used in this study is aesthetics of form. The result shows that the aesthetics shift in silhouette of Jaipongan costume took place because the designers hadopportunities and freedom to be more expressive in designing Jaipongan dance costumes appropriate to current trends of the era and of the show. The shifts includesilhouette of blouse that entirely appears in silhouette fited and silhouette of skirt from slim line to fit and flare line. While the silhoutte cutting has shifted from amphora silhouette, hourglass silhouette, redingote silhouette toextra redingote silhouette.Keywords: shift, silhouette, Jaipongan costume periode 1980-2010ABSTRAKTampilan kostum Jaipongan sejak awal kemunculannya hingga kini semakin bervariasi, sehingga memungkinkan terjadinya pergeseran dalam hal siluet kostumnya. Tulisan ini bertujuan mengidentifikasi pergeseran bentuk siluet kostum Jaipongan tahun 1980-2010 di wilayah Bandung. Persoalan ini penting dikaji karena kajian terhadap bentuk siluet kostum Jaipongan belum pernah dilakukan oleh peneliti lain dan kostum Jaipongan di Bandung disinyalir menjadi trend senter yang banyak ditiru para penata kostum di wilayah lainnya.Tahun 1980-2010 dipilih karena untuk melihat pergeseran bentuk siluet kostum Jaipongan dari awal kemunculannya hingga genap tiga puluh tahun keterkinian-nya yang masih terus berkembang hingga kini. Pendekatan yang digunakan untuk kepentingan tersebut adalah estetika. Hasil kajian menunjukkan bahwa pergeseran bentuk siluet kostum Jaipongan terjadi karena bermunculanya kreativitas-kreativitas baru yang lebih bebas dan lebih ekspresif dalam hal perancangan desain kostum tari Jaipongan, sebagai upaya menyeimbangan akan tuntutan jaman dan tuntutan pertunjukan. Pergeseran tersebut meliputi siluet kostum atasan yang seluruhnya tampil dalam silhouette fited, dan bentuk siluet kostum bawahan yang berawal dari slim line menjadi fit and flare line. Adapun potongan silhouette diawali amphora silhouette, hourglass silhouette, redingote silhouette, dan diakhiri ekstra redingote silhouette.Kata Kunci: pergeseran, bentuk siluet, kostum Jaipongan rentang tahun 1980-2010 
Representasi Identitas Melalui Komunikasi Visual Dalam Komunitas Virtual Palanta Urang Awak Minangkabau Franzia, Elda; Pialang, Yasraf Amir; Saidi, Acep Iwan
PANGGUNG Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v25i4.45

Abstract

ABSTRACTIn virtual community, identity represented through various form. A person as community member is appearing through profile picture and doing communication activity between members in virtual community. The communication held actively in verbal and visual communication form consists of message exchange and meaning through symbols that understand thoroughly based on culture and custom with certain characteristic differ to each ethnic groups. Palanta Urang Awak Minangkabau is one of the virtual communities in Facebook social network. As an active virtual community, the communication is ongoing intensely between members. Conversation and interac- tion are often beginning with image posting by member. This research is aim to explain the variety of visual communication form in this certain virtual community as part of virtual identity con- struction of Minangkabau ethnic group. The method is virtual observation and documentation, with semiotic method analysis in cultural studies approach. This research gave the understanding of image typology and cultural symbolism in Minangkabau culture, especially in the context of virtual community in Facebook.Keywords: identity, communication, visual, Minangkabau, Facebook ABSTRAKDalam komunitas virtual, identitas direpresentasikan melalui berbagai bentuk. Individu yang menjadi anggota komunitas dihadirkan melalui foto profil dan melakukan aktivitas komunikasi antar individu dalam ruang komunitas virtual tersebut. Komunikasi berlangsung secara aktif meliputi tukar menukar pesan dan pemaknaan secara verbal dan visual melalui simbol-simbol penandaan yang dipahami bersama, dengan berbasis budaya dan adat dengan karakteristik tertentu yang berbeda antara etnis satu dengan yang lain. Palanta Urang Awak Minangkabau merupakan salah satu komunitas virtual di jejaring sosial Facebook. Sebagai komunitas virtual yang aktif, komunikasi berlangsung secara intens antar anggotanya. Percakapan dan interaksi sering kali dimulai dengan gambar yang dipaparkan oleh anggota komunitas. Kajian ini bertujuan untuk memaparkan ragam bentuk dan cara penyampaian komunikasi visual di dalam komunitas virtual ini sebagai bagian dari konstruksi identitas virtual etnis Minangkabau. Metode yang digunakan adalah observasi dan dokumentasi virtual, melalui analisis semiotik dengan pendekatan cultural studies. Kajian ini memberi pemahaman terhadap tipologi gambar dan simbol-simbol budaya yang berlaku dalam adat Minangkabau, khususnya dalam konteks komunitas vir- tual di Facebook.Kata kunci: identitas, komunikasi, visual, Minangkabau, Facebook
Visualisasi dan Transformasi Kebertubuhan Dalam Film Animasi Planes (Ke Arah Pembentukan Mitos Baru) Saidi, Acep Iwan; Budiwaspada, Agung Eko
PANGGUNG Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v25i4.41

Abstract

ABSTRACTThis research is entitled “Visualization and Transformation of Embodiment in the Film of Planes Animation”. As an animation film, Planes is interesting because it is using inanimate objects, in this case the planes, as characters. This fact indicates that the character transformation is done by an animator, from the character of inanimate objects in to live character. By using the methods of structural and semiotic analysis, found that the transformation is done not only for personification (it is made as if the inanimate objects becomes alive). In the Planes, “the living things” not only exist in the mind as imagination, but it is exist out of the mind, as an autonomous reality. Based on that, Planes is the animation film which opens space for creating a new myth in the history of culture. Like the fable as a myth in the tradition of primary orality, Planes allows the formation of myth in digital oral tradition.Key Words: Transformation, visualization, embodiment, personification, metaphor, tradition, myth ABSTRAKPenelitian ini bertajuk “Visualisasi dan Transformasi Kebertubuhan dalam Film Animasi Planes”.Sebagai film animasi, Planes menarik karena menggunakan benda-benda mati, dalam hal ini pesawat, sebagai tokoh cerita. Fakta ini mengindikasikan dilakukannya transformasi karakte r ole h animator, yakni dari karakte r “yang mati” ke “yang hidup”.Dengan menggunakan metode analisis structural dan semiotik, ditemukan bahwa transformasi tersebut dilakukan melampaui sarana retorika personifikasi (membuatseolah- olah yang mati menjadi hidup).Di dalam Planes, “yang hidup” itu tidak berada di dalam pikiran dan imajinasi apresiator sebagai yang seolah-olah, melainkan hadir di luar pikiran, berdiri sendiri sebagai realita sotonom. Berdasarkan hal itu, Planes merupakan film animasi yang membuka ruang bagi terciptanya mitos baru dalam sejarah cerita. Jika fable merupakan mitos dalam tradisi kelisanan primer, Planes memungkinkan terbentuknya mitos dalam tradisi lisan digital.Kata kunci: transformasi, visualisasi, kebertubuhan, personifikasi, metafora, tradisi, mitos.
Pergeseran Bentuk Siluet Kostum Tari Jaipongan Tahun 1980-2010 Marlianti, Mira; Saidi, Acep Iwan; Destiarmand, Achmad Haldani
PANGGUNG Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (777.283 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v27i1.233

Abstract

ABSTRACKThis article is aimed at identifying the shift in silhouette of Jaipongan costume from its first appearance (in 1980) until thirty years later (2010). The silhouette of Jaipongan costume keeps changing at present, and is believed to become trends followed by other costume designers in different areas. Since it has never been studied by other researchers, the study result is expected to be the reference for future studiesthat focus on Jaipongan. The approach used in this study is aesthetics of form. The result shows that the aesthetics shift in silhouette of Jaipongan costume took place because the designers hadopportunities and freedom to be more expressive in designing Jaipongan dance costumes appropriate to current trends of the era and of the show. The shifts includesilhouette of blouse that entirely appears in silhouette fited and silhouette of skirt from slim line to fit and flare line. While the silhoutte cutting has shifted from amphora silhouette, hourglass silhouette, redingote silhouette toextra redingote silhouette.Keywords: shift, silhouette, Jaipongan costume periode 1980-2010ABSTRAKTampilan kostum Jaipongan sejak awal kemunculannya hingga kini semakin bervariasi, sehingga memungkinkan terjadinya pergeseran dalam hal siluet kostumnya. Tulisan ini bertujuan mengidentifikasi pergeseran bentuk siluet kostum Jaipongan tahun 1980-2010 di wilayah Bandung. Persoalan ini penting dikaji karena kajian terhadap bentuk siluet kostum Jaipongan belum pernah dilakukan oleh peneliti lain dan kostum Jaipongan di Bandung disinyalir menjadi trend senter yang banyak ditiru para penata kostum di wilayah lainnya.Tahun 1980-2010 dipilih karena untuk melihat pergeseran bentuk siluet kostum Jaipongan dari awal kemunculannya hingga genap tiga puluh tahun keterkinian-nya yang masih terus berkembang hingga kini. Pendekatan yang digunakan untuk kepentingan tersebut adalah estetika. Hasil kajian menunjukkan bahwa pergeseran bentuk siluet kostum Jaipongan terjadi karena bermunculanya kreativitas-kreativitas baru yang lebih bebas dan lebih ekspresif dalam hal perancangan desain kostum tari Jaipongan, sebagai upaya menyeimbangan akan tuntutan jaman dan tuntutan pertunjukan. Pergeseran tersebut meliputi siluet kostum atasan yang seluruhnya tampil dalam silhouette fited, dan bentuk siluet kostum bawahan yang berawal dari slim line menjadi fit and flare line. Adapun potongan silhouette diawali amphora silhouette, hourglass silhouette, redingote silhouette, dan diakhiri ekstra redingote silhouette.Kata Kunci: pergeseran, bentuk siluet, kostum Jaipongan rentang tahun 1980-2010 
UNSUR-UNSUR GOTIK DALAM NOVEL PENUNGGU JENAZAH KARYA ABDULLAH HARAHAP (Gothic Elements in the Novel Penunggu Jenazah by Abdullah Harahap) Darmawan, Adam; Priyatna, Aquarini; Saidi, Acep Iwan
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 2 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i2.161-178

Abstract

Tulisan ini mengkaji unsur-unsur gotik yang terdapat dalam novel Penunggu Jenazah karya Abdullah Harahap. Novel yang dikaji menunjukkan keterkaitan  unsur-unsur gotik sebagai pembangun cerita, yaitu hal-hal supernatural, bentuk-bentuk transgresi, latar yang menyeramkan, bentuk-bentuk monstrositas, excess dan fetis. Kajian ini dilandasi dengan menggunakan teori gotik. Hasil analisis menunjukkan bahwa unsur gotik dalam novel Penunggu Jenazah saling tumpang tindih. Hal-hal supernatural digunakan sebagai sumber konflik dan bentuk transgresi. Transgresi sebagai unsur gotik menggunakan pelanggaran terhadap tabu yang melibatkan transgresi terhadap seksualitas, tubuh, dan kematian. Latar yang menyeramkan, bentuk-bentuk monstrositas dan excess dihadirkan sebagai unsur gotik yang menggangu tatanan norma dan normalitas. Fetis yang muncul dalam Penunggu Jenazah adalah fetis terhadap tubuh perempuan dengan kecenderungan sadomasokis. Novel disajikan dengan mencampurkan semua unsur gotik dengan unsur supernatural, transgresi dan monstrositas sebagai unsur gotik yang dominan. Oleh sebab itu, penelitian ini saya fokuskan untuk mengungkap cara gotik ditampilkan dalam karya Harahap.Abstract: This paper examines the gothic elements in the novel entitled Penunggu Jenazah written by Abdullah Harahap. The novel shows that the gothic elements are supernatural, forms of transgression, scary setting, forms of monstrosity, excess and fetish. This study uses gothic theories. Furthermore, the results of the analysis also show that the gothic elements are overlapping. Transgression as the gothic element is using violation of taboo of sexuality, body and death. The scary setting, the forms of monstrosity and excess are representing to disturb norms and normality. The fetish in the Penunggu Jenazah novel is the fetish of a woman body with a tendency to sadomasochism. Gothic is represented by blending all gothic elements with the supernatural, transgression and monstrosity as the majority elements. Moreover, this study is focused on the way gothic represented.
GOFFMAN’ DRAMATURGY OF MOVEMENT CONCEPT IN SETAN JAWA FILM BY GARIN NUGROHO Dewi, Agustina Kusuma; Piliang, Yasraf Amir; Irfansyah, Irfansyah; Saidi, Acep Iwan
International Journal of Humanity Studies (IJHS) Vol 3, No 2 (2020): March 2020
Publisher : Sanata Dharma University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.384 KB) | DOI: 10.24071/ijhs.v3i2.2339

Abstract

Dramaturgy Goffmann closely related to the model of the interaction between the persona by assuming that a mode of social relations as a stage show. There are self-raised, there are purposely hidden for management to create a certain impression. Setan Jawa Film by Garin Nugroho, as an art film, the issue of movement as the media said the film that marks the cultural code of Java to interact. This study aims to identify the perception of motion applicable to the 'movement' in Setan Jawa Film using test questionnaire responses on the perception of respondents from diverse ethnic, which was later confirmed by the method of Focused Group Discussion with Goffmann’ Dramaturgy analysis as the basis of interpretation.
Narasi Visual Kematian Pada Ilustrasi Buku Cerita Rakyat Anak Indonesia Indrayati, Refita Ika; Setyawan, Pindi; Saidi, Acep Iwan
Jurnal Budaya Nusantara Vol 2 No 1 (2018): NUSANTARA & TEKNOLOGI
Publisher : LPPM Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36456/b.nusantara.vol2.no1.a1713

Abstract

Folklore used as a tool to transfer life lesson from generation to generation. In the midst of modern children'sbooks that carry moral as a main theme, folklore must comes with a new adaptation to compete with other stories. Thisadaptation forced to change how sensitive theme must be delivered, such as death. This study aims to explore howIndonesian folklore books that narrated death in terms of images, texts, and relationships built between the twoelements. Using content analysis, this research takes an example of story containing subtheme as story line from fourprinted books of Indonesian children ’s folktales that published between 2015-2017.
KAJIAN SEMIOTIKA: STYLE YAMI KAWAII DAN KESEHATAN MENTAL Mestika Nawang Sukma; Acep Iwan Saidi; Vyana Lohjiwa
DeKaVe Vol 14, No 1 (2021): Jurnal DeKaVe Vol.14 No.1 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/dkv.v1i1.5709

Abstract

Dari Diskusi Pendalaman Materi Jurnal Sosioteknologi “INDONESIA MEROBEK-ROBEK DIRI SENDIRI” Acep Iwan Saidi
Jurnal Sosioteknologi Vol. 5 No. 7 (2006)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada 23 Februari 2006, redaksi telah menyelenggarakan diskusi pendalaman materi topik utama edisi ini, yakni “Sains dan Teknologi Dalam Perspektif Ilmu Sosial dan Kemanusiaan”. Dalam diksusi tersebut hadir Prof. Imam Buchori yang bertindak sebagai narasumber. Pesertanya adalah seluruh staf redaksi. Berkait dengan topik yang dibahas, Prof. Imam Buchori mengawali dengan sebuah informasi bahwa telah dibentuk sebuah Forum Pensiunan Guru Besar ITB yang antara lain berkonsentrasi untuk memikirkan dan ikut memecahkan masalah-masalah kebangsaan di negeri ini. Masalah kaitan antara sains, teknologi, dan kebudayaan menjadi pokok penting di dalamnya. Dalam hal ini, menurut Buchori, dipertanyakan beberapa hal, misalnya, mengapa teknologi di Indonesia tidak berjalan sebagaimana mestinya, apakah persoalannya terletak pada manusianya, atau justru dalam teknologinya sendiri.
Co-Authors Achmad Haldani Destiarmand Achmad Haldani Destiarmand Achmad Syarief Achmad Syarief Adinda Maharani AG. Andi Hismanto Agung Eko Budi Waspada Agung Eko Budiwaspada Agus Sachari Agustin, Senja Aprela Agustina Kusuma Dewi Ahmad Auliya Zul Hazmi Aisyah, Lani Siti Noor Aminudin TH Siregar Aniendya Christianna Aquarini Priyatna Astrid Kusumowidagdo Azhar Natsir Ahdiyat Azhar Natsir Ahdiyat Azhar, Ghina Zoraya Cama Juli Rianingrum Ciawita Atmadiratna Lautama Dana Waskita Darmawan, Adam Dave Johsua M. Rumengan Dendi Ismi Sofian Dody achmad Nawawi Dwikartini, Fanny Dyah Gayatri Puspitasari Dyah Gayatri Puspitasari Dyah Gayatri Puspitasari Dyah Gayatri Puspitasari, Dyah Gayatri Elda Franzia Elda Franzia Jasjfi Elda Franzia, Elda Fadly Latif Faiz, Muhammad Syukri Ferry Fauzi Hermawan Firdyanza Pramono Firmanda Satria Galih Wisudha Pratama Ganal Rudiyanto Ganal Rudiyanto, Ganal Hafiz Aziz Ahmad Harifa Ali Alba Siregar Hendriyo Kustrianjaya Hendy Yuliansyah Hismanto, AG. Andi Ida Ayu Putu Sri Widnyani Iman Sudjudi Indrayati, Refita Ika Intan Rizky Mutiaz Irfansyah Irfansyah Irfansyah Irfansyah Irma Damajanti Irma Damajanti Ivan Setiawan Junaidi Wirawan Krishna Hutama Krishna Hutama Krishna Hutama, Krishna Kunto Adi Wibowo Lani Siti Noor Aisyah Lina Meilinawati Rahayu Marina Wardaya Mario Alvine Wangarry Markus Jiuhanteng Mestika Nawang Sukma Miftahul Jannah At Tabrani Mohamed Razeef Abdul Razak Muhammad Syukri Faiz Mulyawati, Netari NIA KURNIASIH Nugraha Nugraha Nugraha Nugraha Nuning Yanti Damayanti Parung, Christabel Pertiwi, Untari Gunta Pindi Setyawan Pramono, Firdyanza Prayogo, Matheus Purwaramdhona, Ananda Bintang Rahmat Refita Ika Indrayati Rendy Iswanto Riama Maslan Sihombing Riksa Belasunda Senja Aprela Agustin Senja Aprela Agustin Senja Aprela Agustin Setiawan Sabana Setyawan, Pindi Siregar, Harifa Ali Albar Sofian, Dendi Ismi Thirathep Chonmaitree Tommi Tommi Totok Rikanto Tri Sulistyaningtyas Triyadi Guntur Wiratmo Utomo, R. Drajatno Widi Vebriyanti, Evi Azizah Vyana Lohjiwa Wangarry, Mario Alvine Wegig Murwonugroho Wicaksana, Adhika Widiya Lestari Harahap Yan Yan Sunarya Yan Yan Sunarya Yan Yan Sunarya Yasraf Amir Pialang Yasraf Amir Pialang, Yasraf Amir Yasraf Amir Piliang Yasraf Amir Piliang Yasraf Amir Piliang Yasraf Amir Piliang Yusron Falahi