Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

STUDI KEPEDULIAN MASYARAKAT SLEMAN MEMBANGUN SUMUR RESAPAN AIR HUJAN Suhadi Purwantara
Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian Vol 5, No 2 (2007): Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/gm.v5i2.14195

Abstract

Penelitian di sebagian wilayah fereng Merapi bagian sefatan yang diwakifi Kecamatan Pakem dan Kecamatan Ngemplak bertujuan untuk me1getahui tingkat pengetahuan masyarakat tentang sumur resapan air hujan dan mengetahui tingkat kepedulian masyarakat tentang sumur resapan air hujan. Dalam hal ini wifayah lereng Gunung Merapi bagian selatan merupakan wilayah resapan air hujan yang menjadi penyangga . konservasi air tanah dl Kota Yogyakarta. Populasi dalam penelitian adalah semua masyarakat Sleman yang membangun rumah dafam periode 10 tahun terakhir. Penelitian ini bersifat penefitian deskriptif berdasarkan hasii wawancata pendapat masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Sleman yang ada di Kecamatan Pakem dan Ngemplak yang menjadi responden sudah tahu manfaat sumur resapan air hujan untuk menghindari banjir (82,15%), walaupun sebagian besar tidak tahu manfaatnya untuk konservasi air tanah (60, 72%). Sebagian besar responden tidak memiliki resapan air hujan (89,29%) dan sebagian besar responden juga tidak akan membangun sumur resapan air hujan (67,86%). Ketidakpedulian masyarakat membangun sumur resapan air hujan tersebut karena sebagian besar fingkungan permukimannya sudah tersedia saluran drainase. Kata kunci: kepedulian masyarakat, sumur resapan
KARAKTERISTIK MATAAIR KAKI LERENG GUNUNG MERAPI DAN PEMANFAATANNYA DI KECAMATAN DUKUN KABUPATEN MAGELANG Ririn Putri Aurita; Suhadi Purwantara
Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian Vol 15, No 1 (2017): Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.358 KB) | DOI: 10.21831/gm.v15i1.16239

Abstract

AbstrakPenelitian ini dilaksanaan di Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang dengan tujuan: (1) Mendekripsikan pola sebaran mataair; (2) Mengetahui potensi, pemanfaatan, dan imbangan antara potensi dan pemanfaatan mataair; (3) Membandingkan kualitas fisik dan kimia mataair pada bentuklahan dataran kaki gunungapi dan dataran fluvial gunungapi berdasarkan persyaratan baku mutu air minum menurut Permenkes RI nomor 492 tahun 2010. Populasi dalam penelitian ini terdiri atas fenomena fisik dan fenomena non fisik. Sampel diambil dengan purposive sampling untuk mataair; area probability sampling untuk kebutuhan air irigasi; dan random sampling untuk rumah tangga pengguna. Data dikumpulkan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian: (1) Sebaran mataair berdasarkan “nearest neighbour analysis” berpola mengelompok. (2) Terdapat 33 mataair untuk kebutuhan rumah tangga dan 8 mataair untuk irigasi. Debit terendah 0,16 liter/detik dan tertinggi 16 liter/detik. Rata-rata debit untuk rumah tangga 1,6 liter/detik dan irigasi 13,88 liter/detik. Pemanfaatan mataair untuk kebutuhan rumah tangga tercukupi dan rata-rata imbangan airnya surplus. Pemanfaatan untuk irigasi secara keseluruhan juga tercukupi, namun pada bulan Mei mengalami kekurangan air di Desa Paten. (3) Kualitas fisika dan kimia mataair sesuai dan memenuhi persyaratan kualitas air minum. Kata kunci: Karakteristik Mataair, Kaki Lereng Gunung Merapi, Kecamatan Dukun
Konservasi Sumberdaya Air Tanah di Wilayah Ngaglik Sleman Suhadi Purwantara
Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian Vol 16, No 2 (2018): Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (808.442 KB) | DOI: 10.21831/gm.v16i2.25202

Abstract

Penelitian ini berlatar tentang masalah berkurangnya air tanah di banyak lokasi permukiman padat di wilayah urban Kota Yogyakarta maupun Sleman yang berbatasan dengan kota Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan: (1) mengetahui perubahan penggunaan lahan dalam kurun waktu 10 tahun dari tahun 2001 hingga 2011, (2) mengetahui wilayah yang memiliki kedalaman air tanah bebas yang relatif dalam, (3) memberi saran kepada pemerintah untuk membuat pembatasan wilayah konservasi dengan membangun resapan buatan yang mungkin dibangun. Subyek penelitian ini adalah semua lahan di Kecamatan Ngaglik.  Data perubahan lahan dikumpulkan berdasarkan analisis peta 2001 dan 2011, dan data kedalaman muka sumur diperoleh berdasarkan sumur terbuka penduduk. Penelitian ini menggunakan instrumen tali, meteran, untuk mengukur kedalaman muka air sumur, dan formulir isian data.  Data sekunder yang dikumpulkan adalah data temperatur. Analisis wilayah resapan air dilakukan dengan standar Imhoff dan Riedell. Hasil penelitian menunjukkan perkembangan penduduk di Kecamatan Ngaglik cukup tinggi, bertambah 24% dalam waktu 10 tahun. Pertambahan penduduk diikuti pertambahan kepala keluarga (KK) hingga 54%, yang selanjutnya mempengaruhi pertambahan permukiman. Luas permukiman bertambah pesat 460 ha, menjadi 1395 ha dari 935 ha pada tahun 2001. Perluasan lahan permukiman berdampak pada berkurangnya lahan peresapan air hujan yang berakibat berkurangnya volume air tanah. Oleh karena itu beberapa wilayah telah mengalami kekeringan lebih awal, terutama wilayah padat permukiman di wilayah perkotaan dan pinggiran. Konservasi air tanah dapat dilakukan dengan dengan membangun resapan buatan yang hendaknya dirancang di wilayah yang memiliki daya serap tinggi dan relatif dalam sehingga efektivitas peresapan air hujan relatif tinggi.Penelitian ini berlatar tentang masalah berkurangnya air tanah di banyak lokasi permukiman padat di wilayah urban Kota Yogyakarta maupun Sleman yang berbatasan dengan kota Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan: (1) mengetahui perubahan penggunaan lahan dalam kurun waktu 10 tahun dari tahun 2001 hingga 2011, (2) mengetahui wilayah yang memiliki kedalaman air tanah bebas yang relatif dalam, (3) memberi saran kepada pemerintah untuk membuat pembatasan wilayah konservasi dengan membangun resapan buatan yang mungkin dibangun. Subyek penelitian ini adalah semua lahan di Kecamatan Ngaglik.  Data perubahan lahan dikumpulkan berdasarkan analisis peta 2001 dan 2011, dan data kedalaman muka sumur diperoleh berdasarkan sumur terbuka penduduk. Penelitian ini menggunakan instrumen tali, meteran, untuk mengukur kedalaman muka air sumur, dan formulir isian data.  Data sekunder yang dikumpulkan adalah data temperatur. Analisis wilayah resapan air dilakukan dengan standar Imhoff dan Riedell. Hasil penelitian menunjukkan perkembangan penduduk di Kecamatan Ngaglik cukup tinggi, bertambah 24% dalam waktu 10 tahun. Pertambahan penduduk diikuti pertambahan kepala keluarga (KK) hingga 54%, yang selanjutnya mempengaruhi pertambahan permukiman. Luas permukiman bertambah pesat 460 ha, menjadi 1395 ha dari 935 ha pada tahun 2001. Perluasan lahan permukiman berdampak pada berkurangnya lahan peresapan air hujan yang berakibat berkurangnya volume air tanah. Oleh karena itu beberapa wilayah telah mengalami kekeringan lebih awal, terutama wilayah padat permukiman di wilayah perkotaan dan pinggiran. Konservasi air tanah dapat dilakukan dengan dengan membangun resapan buatan yang hendaknya dirancang di wilayah yang memiliki daya serap tinggi dan relatif dalam sehingga efektivitas peresapan air hujan relatif tinggi. 
UPAYA KONSERVASI LAHAN POTENSIAL KRITIS DI SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI JENES KABUPATEN KULONPROGO Hermawan Kuswantoko; Suhadi Purwantara
Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian Vol 14, No 1 (2016): Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1054.72 KB) | DOI: 10.21831/gm.v14i1.13781

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan mengetahui: (1) Kemampuan lahan di Sub DAS Jenes; (2) Upaya konservasi untuk mencegah timbulnya lahan kritis berdasarkan kelas kemampuan lahan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh satuan lahan di Sub DAS Jenes dengan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi dan uji laboratorium. Analisis data menggunakan analisis SIG dengan cara overlay dan analisis pencocokan (matching) menggunakan software LCLP. Hasil penelitian: (1) Terdapat 3 kelas kemampuan lahan, dengan sub kelas kemampuan lahan III–e, III–s, III–e,s, IV–s, dan V–s; (2) Konservasi pada Kelas III–e, III–s dan III–e,s untuk pertanian ekstensif dengan tingkat konservasi sedang berupa penanaman menurut strip, pergiliran tanaman dan pembuatan teras tangga dengan tanaman berseling, Kelas IV–s untuk pertanian marginal dengan tingkat konservasi berat berupa agroforestry, teras bangku, teras tangga dan sistem drainase, Kelas V–s tidak dapat diolah dan membutuhkan konservasi berat berupa terasering dan penanaman vegetasi penahan tanah. Kata kunci: konservasi, kemampuan lahan, Sub DAS Jenes
KAITAN FENOMENA EL NINO DENGAN BADAI DAN GELOMBANG PASANG Suhadi Purwantara
Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian Vol 7, No 2 (2009): Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.664 KB) | DOI: 10.21831/gm.v7i2.19079

Abstract

Artikel ini membahas kaitan  Fenomena El Nino dengan badai atau gelombang pasang yang terjadi di beberapa wilayah dunia maupun di Indonesia. Dalam tulisan ini disajikan alasan-alasan penamaan badai yang ada di wilayah dunia, serta nama-nama badai baru yang ada di Indonesia. Kajian artikel ini dilengkapi dengan  data  berupa tabel,  grafik, dan peta.    Kata kunci: Badai, Gelombang, El Nino.
PENGUKURANTINGKATBAHAYABENCANAEROSIDIKECAMATANKOKAP Suhadi Purwantara; Muhammad Nursa'ban
Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian Vol 10, No 1 (2012): Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/gm.v10i1.3603

Abstract

TujuanpenelitianiniyaitumengetahuitingkatbesarerositanahdanpersebarannyadiKecamatanKokapKabupatenKulonprogoPenelitianinimerupakanpenelitiandeskriptifeksploratifmenggunakanbantuanSistemInformasiGeografis.PopulasipenelitianyaitusemualahandiKecamatanKokapKabupatenKulonprogo.Sampelpenelitiandiperoleh16satuanunitlahanmelaluiteknikpurposiveareasamplingdengancaratumpangsusunpeta;kondisigeologi,jenistanah,kemiringanlerengdantatagunalahan.Metodepengumpulandatamelaluisurveiuntukmemperolehfaktor-faktorpembentukerosimenggunakanmetodeUniversalSoilLossEquation(USLE),perhitunganerositotal,erosidiperbolehkandanbesarantingkatbahayaerosipadasetiapsatuanunitlahan.Teknikanalisisdatadilakukanmelaluianalisislaboratoriumdanoengukuranlapangan,kemudiandideskripsikansesuaikriteriayangdibuat.HasilpenelitiandiperolehdatabesaranerositanahpermukaandiKecamatanKokapyaiturata-rata3610,13ton/tahunataurata-rata10,50ton/ha/tahun.Rata-ratabesarerositotalyaitu4512,66ton/tahunataurata-rata13,12ton/ha/tahun.Besarerosiyangdiperbolehkanadalahrata-rata2330ton/tahunatau5,22ton/ha/tahun.Hasilerosipermukaanmaupunerositotallebihbesardaripadaerosidiperbolehkansehingga.diprediksikanbahwaerosi-erosipotensialyangterjadidikecamatanKokapakansangatmemberikandampakterhadapkualitastanah.Sebarandaerahpotensialerositanahkategori”ringan”(R)meliputiluas265,23ha(3,59%)padasatuanunitlahanAlIB.Tingkatbahayaerosikategori”sedang”mencakupluas4081,49ha(55,31%)padasatuanunitlahanLtIIIA,ALIA,GRIA,GR1B,GRIIB.Tingkaterosikategori”berat”mencakup32,38%dariluaskeseluruhanlokasipenelitian.Kategori”berat”terdapatpadasatuanunitlahanLtIA,LtIB,LtIIA,LtIIB,LtIIIB,AlIIBdanGRIIA.Tingkaterosikategori”sangatberat”mencakupluas643,84ha(8,72%)padasatuanunitlahanALIIAdanGrIIIA,sertaGRIIIB.KataKunci:erosi,mitigasi,tanah,bencana
Persepsi Masyarakat Terhadap Penanaman Cemara Laut (Casuarina Equisetifolia L.) di Lahan Pasir Pantai Selatan Kabupaten Bantul Sebagai Upaya Mitigasi Bencana Suhadi Purwantara; Nurul Khotimah; Agus Sudarsono
Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian Vol 17, No 2 (2019): Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.167 KB) | DOI: 10.21831/gm.v17i2.29623

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) persepsi masyarakat terhadap penanaman cemara di lahan pasir pantai selatan Kabupaten Bantul, (2) persepsi masyarakat terhadap mitigasi bencana, dan (3) persepsi masyarakat terhadap penanaman cemara laut sebagai upaya mitigasi bencana. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilaksanakan di pantai selatan Kabupaten Bantul di antara Muara Sungai Opak dan Sungai Progo. Populasi penelitian adalah seluruh masyarakat di wilayah Pantai Samas, Pantai Baru, Pantai Gua Cemara, Pantai Kuwaru, dan Pantai Pandansimo. Sampel penelitian ditentukan secara quota sampling, yaitu sebanyak 60 responden. Data dikumpulkan melalui metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa (1) Persepsi masyarakat terhadap penanaman cemara laut di lahan pasir pantai selatan Kabupaten Bantul, yaitu sebanyak 85% responden mengatakan bahwa tanaman cemara laut memberikan manfaat baik, sedangkan sisanya 20% mengatakan manfaat sedang (2) Persepsi masyarakat terhadap mitigasi bencana, yaitu semua responden (100%) mengetahui arti bencana dan mengetahui potensi bencana di wilayahnya, dan (3) Persepsi masyarakat terhadap penanaman cemara laut sebagai upaya mitigasi bencana, yaitu sebanyak 90% responden mengatakan bahwa fungsi cemara laut adalah untuk mitigasi bencana.
STUDI TEMPERATUR UDARA TERKINI DI WILAYAH DI JAWA TENGAH DAN DIY Suhadi Purwantara
Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian Vol 13, No 1 (2015): Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.661 KB) | DOI: 10.21831/gm.v13i1.4476

Abstract

Artikel ini dikembangkan dari penelitiaan dengan judul Studi Revisi Rumus Braakdan Mock tentang Gradien Suhu Udara di Jawa Tengah dan DIY” ini berawal dari hasilperhitungan gradien suhu udara menurut rumus Braak yang sudah tidak sesuai denganfakta lapangan. Banyak wilayah pegunungan yang dulu relatif dingin sekarang sudahtidak dingin seperti dulu lagi. Masyarakat merasa temperatur udara semakin panas. Untukitu dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui suhu udara di permukaan air laut,perbedaan suhu udara per seratus meter hingga ketinggian 2000an meter, dan selisihhasil perhitungan dengan formula Braak dengan data di wilayah penelitian. Populasidalam penelitian ini ad alah semua udara yang ada di wilayah permukaan bumi di PulauJawa bagian Tengah. Penelitian ini bersifat penelitian kuantitatif berdasarkan hasilpengukuran langsung dan perekaman data sekunder. Penelitian ini menggunakaninstrumen thermometer, dan formulir isian data. Pengumpulan data sekunder diperolehdari instansi-instansi yang terkait dengan masalah dan tujuan penelitian antara lain : datatemperatur. Dalam penelitian ini analisis dilakukan dengan memasukkan hasil pengukuranprimer yang dirata-rata kemudian dimasukkan dalam rumus Braak. Hasil penelitianmenunjukkan perbedaan suhu udara berdasar perbedaan tinggi tempat masih mengikutirumus Braak, hanya suhu udara di permukaan laut yang sering para penelitimenggunakan angka 26,3⁰C, menjadi 28,5⁰C. Temperatur udara berdasarkan datamenunjukkan bahwa terjadi peningkatan yang sangat nyata. Wilayah pantai yangmerupakan wakil permukaan air laut bersuhu udara bulan April Mei 2012 sebesar 28,5⁰C,suhu udara pada 800 m sebesar 24⁰C, dan suhu udara pada ketinggiaan udara 2100meter sebesar 16,25⁰C. Pada ketinggian 800 meter, perbedaan temperatur hasilperhitungan rumus Braak dengan data lapangan hanya 23,62 ˚C dengan 24 ˚C, atau 1,2%,sedangkan di wilayah dengaan ketinggian 2100 meter, perbedaan temperatur hasilperhitungan rumus Braak dengan data lapangan hanya 16,70 ˚C dengan 16,25 ˚C, atau2,1%.Kata kunci: temperature udara, gradien suhu
The role of social media as a communication facility for hydrometeorological disasters in shallot farming activities Nurul Khotimah; Dyah Respati Suryo Sumunar; Suhadi Purwantara; Nugraho Sistu Prabintoro; Mohd Hairy Ibrahim; Nasir Nayan
Informasi Vol 52, No 1 (2022): Informasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/informasi.v52i1.50115

Abstract

Social media as a means of communication plays a role in building a new paradigm of disaster. One of the social media users for hydrometeorological disaster communication is a shallot farmer in Parangtritis Village, Kretek Subdistrict, Bantul District, Yogyakarta Special Region. This study aims to determine the role of social media as a means of communication for hydrometeorological disasters in shallot farming activities. The design of this research is descriptive quantitative research. The research was carried out from April to October 2021 by taking the location of shallot farmers in Parangtritis Village, Kretek Subdistrict, Bantul District, Yogyakarta Special Region. The research sample was determined by a quota of 50 respondents. Research data were collected through observation, interviews, and documentation. The data that has been collected is then processed and analyzed descriptively. The results of this study show that: (1) The respondents' ownership of gadgets is 84%. Of all respondents who have gadgets, 71.4% of respondents have an internet connection. (2) All respondents stated that ownership of gadgets and internet connection is useful in hydrometeorological disaster information. (3) All respondents who have gadgets and internet connections have facebook and whatsapp social media accounts. (4) The role of ownership of social media accounts is as a means of exchanging information on hydrometeorological disasters, namely information related to shallot farming activities (seedlings, soil processing, fertilizers, pest eradication, harvesting, etc.) and information on the threat of hydrometeorological disasters on shallot farming, such as floods and extreme weather. The existence of social media is able to have a positive impact on shallot farmers, especially in adapting to existing weather conditions with strategies to change crop variations, change cropping patterns, change planting periods, and change irrigation systems, thereby helping harvest success.
Hidrogeomorfologi mataair pada peralihan antara Paleovulkan Gajah dan Menoreh di Pegunungan Kulonprogo Maulana Azkaa Salsabila; Suhadi Purwantara; Muhamad Ervin
Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian Vol 20, No 1 (2022): Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/gm.v20i1.48832

Abstract

Kondisi geomorfologis merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap lokasi, persebaran, dan kondisi hidrologis mataair. Penelitian ini bertujuan; (1) menggambarkan pola distribusi spasial dan karakteristik mataair berbasis hidrogeomorfologi pada peralihan antara Paleovulkan Gajah dan Menoreh di Pegunungan Menoreh Kulonprogo, (2) mengidentifikasi karakteristik mataair pada peralihan antara Paleovulkan Gajah dan Menoreh di Pegunungan Kulonprogo. Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif-survei. Pengumpulan data dilakukan secara random sampling pada masing-masing satuan unit geomorfologi. Teknik analisis data dibantu dengan analisis geostatistik dan pendekatan keruangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) bentuklahan berperan dalam mengontrol lokasi keberadaan mataair. Pola distribusi spasial mataair di lokasi penelitian bertipe mengelompok. Pengelompokkan ini dikontrol oleh perpotongan topografi, struktur sesar, dan perpotongan hydraulic head pada cekungan airtanah. (2) karakteristik mataair dengan tipe pemunculan paling banyak adalah rheocrene. Rata-rata debit mataair termasuk pada kelas VI. Studi ini memberikan wawasan tentang hidrogeomorfologi Paleovulkan yang karakteristiknya sangat bergantung dari kondisi geomorfologis saat ini.