Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Pengembangan Kawasan Minapolitan di Wilayah Pesisir Kabupaten Karawang Menggunakan Konsep Sharing Economy Kingkin Hanif Robani Herdiat; Ivan Chofyan; Asnita Frida Sebayang
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol. 17 No. 1 (2022)
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, UPT Publikasi Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jpwk.v17i1.596

Abstract

Sejak tahun 2011 Pemerintah Kabupaten Karawang sudah meluncurkan program minapolitan, salah satunya dengan sudah disusunnya Master plan pengembangan kawasan perikanan terpadu (minapolitan), kemudian dalam keputusan Bupati Karawang No 523/Kep.399 - Hukum/2014 tentang Penetapan Lokasi Pengembangan Kawasan Minapolitan Industrialisasi Perikanan Budidaya Tahun 2014. Beberapa hal yang menjadi hambatan dalam pengembangan kawasan minapolitan di wilayah pesisir ini adalah masih dianggap sebagai sebuah proyek, kurangnya informasi benih, pakan, pemasaran dan kurangnya pengetahuan SDM. Saat ini konsep Sharing Economy sebagai model ekonomi yang sudah banyak diterapkan, dimana orang atau sekelompok orang mampu menghasilkan uang dari sumber daya miliknya yang diutulisasi sehingga memberi jasa bagi orang atau sekelompok orang lain, melalui pelantara online. Hasil analisis penelitian pada penentuan pusat kawasan Kecamatan Cilamaya Wetan belum layak untuk ditetapkan sebagai kawasan minapolis karena belum menjalankan fungsinya dengan sesuai yaitu sebagai kawasan minapolis. Adanya gap antara kenyataan dan harapan pada sarana penunjang minapolitan dan sarana ICT, hasil analisis potensi Sharing Economy menunjukkan masyarakat dinilai belum siap untuk melakukan kegiatan ekonomi dengan berbasis ICT karena masyarakat belum mahir untuk mengaplikasikannya, sedangkan pada ketersediaan fasilitas ICT masih belum merata dan perlu untuk ditingkatkan. Pengembangan kawasan minapolitan di wilayah pesisir karawang menggunakan konsep Sharing Economy memiliki 3 (tiga) strategi utama yang dapat dilakukan yaitu harus mengembangkan pengolahan dan produksi budidaya ikan bandeng, peningkatan penguatan kelembagaan (UPP) untuk menjalin kerjasama antar kelompok dan pemerintah di bidang teknologi, dukungan pembangunan sarana dan prasarana minapolitan serta fasilitas ICT (penguasaan ICT) oleh SKPD di Kabupaten/Kota.
Perubahan Tingkat Pendapatan Petani Pemilik Lahan Setelah Adanya Alih Fungsi Lahan di Kecamatan Ciparay Ikbal Kamiludin Gunawan; Ivan Chofyan
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 1, No. 1, Juli 2021, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.235 KB) | DOI: 10.29313/jrpwk.v1i1.72

Abstract

Abstract. Ciparay Sub-District is one of the areas that have changed the function of agricultural land to non-agricultural, this is due to its strategic geographical location that makes investors race to get the land in the area. The area of agricultural land in Ciparay sub-district each year has a significant change in which Ciparay subdistrict is one of the sub-districts that has ample agricultural land. Area of Ciparay subdistrict ± 46,175.6 Ha, with land area planting rice ± 7,390 ha in the year 2014 or average of land change amounted to 6.9% per year. The purpose of this research is to cover the impact of land function on land owner farmers Income level quantitative analysis used is an average difference test analysis with data collection techniques by distributing the questionnaire to 29 respondents. Based on the results of the study can be concluded that by the existence of land function has an impact on the farmers in Ciparay sub-district that the income of the owners of farmers, smaller than before the land function. Because seen from the results of analysis of average difference obtained the value of T count < T table which means H0 on reject and H1 accepted. Abstrak. Kecamatan Ciparay merupakan salah satu daerah yang mengalami perubahan fungsi lahan pertanian ke non pertanian, hal ini dikarenakan letak geografisnya yang strategis yang membuat para investor berlomba - lomba untuk mendapatkan lahan yang ada di kawasan tersebut. Luas lahan pertanian di Kecamatan Ciparay setiap tahunnya mengalami perubahan yang cukup signifikan dimana Kecamatan Ciparay merupakan salah satu kecamatan yang memiliki lahan pertanian yang cukup luas. Luas Kecamatan Ciparay ± 46.175,6 Ha, dengan luas lahan tanam padi sawah ± 7.390 ha pada tahun 2014 atau rata – rata perubahan lahan sebesar 6,9 % per tahun. Tujuan penelitian ini untuk melihat dampak alih fungsi lahan terhadap tingkat pendapatan petani pemilik lahan Analisis kuantitatif yang digunakan adalah analisis uji beda rata-rata dengan teknik pengumpulan data dengan cara membagikan kuisioner kepada 29 orang responden. Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan adanya alih fungsi lahan memberikan dampak terhadap para petani yang ada di Kecamatan Ciparay bahwa pendapatan para petani pemilik, lebih kecil jika dibandingkan dengan sebelum adanya alih fungsi lahan. Karena dilihat dari hasil analisis uji beda rata-rata didapat nilai T hitung < T tabel yang artinya H0 di tolak dan H1 diterima.
STRATEGI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS CABAI MERAH DI KAWASAN AGROPOLITAN KABUPATEN CIAMIS Muhammad Tito Apriyanto; Ivan Chofyan
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol. 16 No. 1 (2021)
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, UPT Publikasi Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.57 KB) | DOI: 10.29313/jpwk.v16i1.285

Abstract

Tanaman Cabai Merah merupakan komoditas unggulan di Kawasan Agropolitan, Kabupaten Ciamis. Produksinya banyak dengan memiliki kualitas yang baik. Walaupun harganya fluktiatif, tapi banyak diminati oleh konsumen luar daerah maupun pasar induk. Permasalahan yang terjadi di kawasan Agropolitan Kabupaten Ciamis yaitu adanya produksi cabai merah yang terus turun setiap tahunnya, keterbatasan sarana prasarana penunjang kegiatan pertanian yang belum berjalan secara optimal untuk mendistribusikan hasil produksi dan sarana, serta pemasaran belum berjalan secara optimal. Akibatnya, mobilisasi sarana produksi dan hasil produksi cenderung membutuhkan biaya yang besar dan para petani lebih memilih untuk menjual kepada tengkulak karena lebih menguntungkan. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi 5 (lima) subsistem agribisnis cabai merah dan merumuskan strategi pengembangan agribisnis cabai merah. Untuk pengembangan cabai merah digunakan analisis deskriptip kualitatif. Sementara itu, analisis SWOT untuk menyusun strategi pengembangan agribisnis cabai merah. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa kondisi agribisnis cabai merahterdapat pada kuadran III. Artinya strategi mengarah pada pemanfaatan peluang yang ada dengan meminimalisir kelemahan. Oleh karena itu, strategi yang digunakan adalah melakukan berbagai inovasi cara bertanam dengan berbagai bibit dengan kualitas baik yang dapat meningkatkan hasil produksi cabai merah dan serta dapat meminimalisir hama penyakit yang dapat terjadi, meningkatkan prasarana jalan, khususnya jalan usaha tani dan sarana transportasi untuk para petani dalam mobilisasi dan distribusi hasil pertanian, serta memberikan penyuluhan untuk usaha olahan dari cabai merah demi terciptanya nilai tambah dan harga kompetitif.
PENERAPAN KONSEP BUKIT BERTERAS DENGAN KOMBINASI TANAMAN CAMPURAN Rossa Adilah; Ivan Chofyan
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol. 16 No. 1 (2021)
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, UPT Publikasi Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.057 KB) | DOI: 10.29313/jpwk.v16i1.287

Abstract

Lahan pertanian di Kecamatan Cimenyan berada di wilayah perbukitan. Lahan pertanian tersebut ditanami dengan tanaman semusim yaitu bawang daun, kentang, bawang merah, tomat, cabe, kol dan lobak. Tanaman semusim memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari tanaman semusim dapat dengan cepat memberikan hasil panen untuk petani. Sedangkan kelemahan tanaman semusim, yaitu kurang memiliki lebar tajuk yang besar sehingga mengakibatkan air hujan yang turun langsung mengenai permukaan tanah tanpa adanya penghalang dan saat musim panen lahan pertanian menjadi gundul sehingga dapat menyebabkan erosi. Pada tahun 2018 telah terjadi banjir bandang di kawasan Jatihandap dan Cicaheum Bandung. Salah satu penyebab banjir tersebut adalah karena terjadinya alih fungsi lahan di Kecamatan Cimenyan bagian hulu, yang asalnya ditanami tanaman tahunan diganti menjadi tanaman semusim. Penanaman tanaman semusim di wilayah perbukitan menyebabkan kerusakan lingkungan, seperti erosi. Kajian ini bertujuan untuk mengajukan penerapan konsep bukit berteras dengan kombinasi tanaman campuran. Teras yang digunakan adalah teras bangku, sementara tanaman yang ditanam adalah tanaman kopi dan tanaman kayu-kayuan. Model analisis yang digunakan dalam kajian ini adalah analisis kemampuan lahan dan analisis kesesuaian lahan. Penerapan konsep ini dimaksudkan untuk mengurangi erosi dan kerusakan lingkungan lainnya.
Pengembangan Budidaya Minapadi berdasarkan Preferensi Petani: Studi Kasus: Desa Cikurutug Kecamatan Cireunghas Kabupaten Sukabumi Muhammad Fadhil Naufal; Ivan Chofyan
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 2, No. 2, Desember 2022, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v2i2.1385

Abstract

Abstract.. The application of Minapadi cultivation in Cikurutug Village did not last long because fish predators and the selling price for fish makes loss. This study aims to identify the magnitude of the potential for the development of Minapadi cultivation in Cikurutug Village, to determine the preferences of farmers towards the development of Minapadi cultivation, and to develop a strategy for developing Minapadi cultivation based on the preferences of farmers. To achieve this goal, the researcher uses a quantitative approach with data collection methods, namely literature study, interviews, observation, and documentation. As well as using oil and gas potential analysis, farming analysis, farmer preference tabulation analysis, and SWOT analysis. The results are about the strategy for developing Minapadi cultivation based on farmer preferences. The strategy for developing Minapadi cultivation in Cikurutug Village is to facilitate the provision of rice seeds, fish seeds, tile planting system with a trench or caren for protect fish, when a leak occurs, making it easier to harvest fish, maintain water quality, and excessive use of water for Minapadi which can affect water needs outside of Minapadi cultivation activities. Abstrak. Penerapan budidaya minapadi di Desa Cikurutug tidak bertahan lama dikarenakan terdapat permasalahan yang menyebabkan mayoritas petani mengalami kegagalan. Penyebab utama para petani menyerah dalam budidaya minapadi ialah dikarenakan predator pemangsa ikan dan harga jual untuk produksi ikan yang seringkali merugikan petani. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi besarnya potensi pengembangan budidaya minapadi di Desa Cikurutug, untuk mengetahui preferensi petani terhadap pengembangan budidaya minapadi, dan untuk menyusun strategi pengembangan budidaya minapadi berdasarkan preferensi petani. Untuk mencapai tujuan tersebut peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode pengumpulan data yaitu studi literatur, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Serta menggunakan analisis potensi air minapadi, analisis usahatani, analisis tabulasi preferensi petani, dan analisis SWOT. Hasil dari penelitian ini yaitu mengenai strategi pengembangan budidaya minapadi berdasarkan preferensi petani. Strategi pengembangan budidaya minapadi Desa Cikurutug adalah mempermudah penyediaan benih padi, benih ikan, menerapkan sistem tanam tegel yang dilengkapi parit atau caren pada lahan budidaya minapadi agar dapat membantu melindungi ikan dari kekeringan pada saat terjadi kebocoran, memudahkan panen ikan, menjaga kualitas air agar tidak tercemar, ketersediaan air mencukupi, dan penggunaan air yang berlebihan untuk minapadi yang dapat mempengaruhi kebutuhan air diluar kegiatan budidaya minapadi.
Strategi Penanggulangan Bencana Banjir di Kelurahan Rancabolang Firlya Nuzsa Miyori; Ivan Chofyan
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i1.5772

Abstract

Abstract. Indonesia is a country with a relatively high disaster risk. Flood disaster is one of the disasters that often hit various regions in Indonesia. In general, flooding can be caused by high rainfall intensity, low soil infiltration capacity, and the like. The city of Bandung is one of the areas that is often hit by floods. One area in the city of Bandung that is prone to flooding is Rancabolang Village, Gedebage District. This study aims to determine the dominant factors that cause flooding and to formulate strategies related to flood disaster management in Rancabolang Village. This study used a combined method with primary and secondary data collection techniques. The analytical method used in processing research data is multiple linear regression analysis to determine the dominant factors causing flooding and SWOT analysis to formulate a flood disaster management strategy in Rancabolang Village. Based on the results of multiple linear regression analysis, it is known that the factors that influence the height of the inundation are the intensity of rainfall, water infiltration, rivers, and flood control buildings with the dominant factor being problems in flood control buildings. The results of the SWOT formulation in formulating an alternative strategy for dealing with floods in Rancabolang Sub-District are improving and optimizing the quality, quantity and maintenance of flood control buildings, increasing monitoring and evaluation related to drainage systems, and carrying out other programs related to water absorption efforts. Abstrak. Indonesia merupakan salah satu negara dengan risiko bencana yang cukup tinggi. Bencana banjir merupakan salah satu bencana yang seringkali melanda berbagai wilayah di Indonesia. Umumnya banjir dapat disebabkan oleh tingginya intensitas curah hujan, rendahnya kemampuan infiltrasi tanah, dan sejenisnya. Kota Bandung termasuk salah satu wilayah yang seringkali dilanda bencana banjir. Salah satu wilayah di Kota Bandung yang rawan terhadap banjir adalah Kelurahan Rancabolang, Kecamatan Gedebage. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui faktor dominan penyebab banjir dan merumuskan strategi terkait penanggulangan bencana banjir di Kelurahan Rancabolang. Penelitian ini menggunakan metode gabungan dengan teknik pengumpulan data primer dan sekunder. Metode analisis yang digunakan dalam mengolah data penelitian adalah analisis regresi linier berganda untuk mengetahui faktor dominan penyebab banjir dan analisis SWOT untuk merumuskan strategi penanggulangan bencana banjir di Kelurahan Rancabolang. Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda, diketahui bahwa faktor yang berpengaruh terhadap tinggi genangan adalah faktor intensitas curah hujan, peresapan air, sungai, dan bangunan pengendali banjir dengan faktor dominan berupa permasalahan pada bangunan pengendali banjir. Hasil rumusan SWOT dalam merumuskan strategi alternatif penanggulangan bencana banjir di Kelurahan Rancabolang adalah dengan meningkatkan dan mengoptimalkan kualitas, kuantitas serta pemeliharaan pada bangunan pengendali banjir, meningkatkan monitoring dan evaluasi terkait sistem pengaliran, dan melakukan program-program lain yang terkait dengan upaya peresapan air.
Strategi Pengentasan Kemiskinan di Desa Kemuning Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar Gigih Pilihanto; Ivan Chofyan
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i1.6210

Abstract

Abstract. Villages are areas whose activities are dominated by agriculture, so they usually have quite a lot of natural resources. However, the magnitude of this potential has not been able to overcome the problem of poverty. It is the same with Kemuning Village which has various advantages, as it is known as a tourist village. In addition, Kemuning Village was also designated as a pilot project for the implementation of the smart village nusantara concept, with the application of the concept Kemuning Village was able to win the 2021 BCA Desa Wisata Award. However, these advantages have not been able to help solve the problem of poverty. So this research was conducted to identify the factors that influence poverty in Kemuning Village, as well as develop appropriate strategies for poverty alleviation. The analytical method used is multiple regression analysis to find out what factors influence income, SWOT analysis to determine the internal and external factors owned by Kemuning Village in poverty alleviation, and QSPM analysis used to determine the priority of the strategy to be implemented. The results obtained from multiple linear regression analysis are known that health does not have a significant effect on income, while accessibility has a positive effect on income, and vulnerability and powerlessness have a negative effect on income. SWOT analysis shows that Kemuning Village is in quadrant 4, which is a strategy that uses strength to face challenges. Meanwhile, based on the results of the QSPM analysis, it is known that the first priority of the strategy that must be carried out is to hold skills training and add reading materials about skills to the PaDi (Digital Library) in the smart village nusantara. Abstrak. Desa merupakan wilayah yang kegiatannya didominasi oleh pertanian, sehingga biasanya memiliki sumber daya alam yang cukup banyak. Akan tetapi potensi tersebut belum bisa mengatasi permasalahan kemiskinan. Sama halnya dengan Desa Kemuning yang mana memiliki berbagai potensi, seperti dikenal sebagai desa wisata. Selain itu Desa Kemuning juga ditetapkan sebagai pilot project penerapan konsep smart village nusantara, yang mana dengan penerapan konsep tersebut Desa Kemuning mampu memenangkan penghargaan BCA Desa Wisata Award 2021. Akan tetapi keunggulan tersebut belum bisa membantu menyelesaikan permasalahan kemiskinan. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi factor-faktor apa saja yang memengaruhi kemiskinan di Desa Kemuning, serta menyusun strategi yang tepat untuk pengentasan kemiskinan. Metode analisis yang digunakan yakni analisis regresi berganda untuk mengetahui faktor apa saja yang berpengaruh terhadap pendapatan, analisis SWOT untuk mengetahui factor internal dan eksternal yang dimiliki Desa Kemuning dalam pengentasan kemiskinan, dan analisis QSPM yang digunakan untuk menentukan prioritas strategi yang akan dilaksanakan. Hasil penelitian yang didapat dari analisis regresi linier berganda yakni diketahui bahwa kesehatan tidak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan, sedangkan aksesibilitas berpengaruh positif terhadap pendapatan, dan kerentanan serta ketidakberdayaan berpengaruh negatif terhadap pendapatan. Analisis SWOT menunjukkan bahwa Desa Kemuning berada pada kuadran 4 yakni strategi yang menggunakan kekuatan untuk menghadapi tantangan. Sedangkan berdasarkan hasil analisis QSPM diketahui prioritas pertama yang harus dilakukan yakni mengadakan pelatihan keterampilan dan menambahkan bahan bacaan tentang keterampilan pada PaDi (Perpustakaan Digital) di smart village nusantara.
Kajian Penerapan Kebijakan Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan di Daerah Kota Bandung Galih Mahardika; Ernady Syaodih; Ivan Chofyan
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol. 18 No. 1 (2023)
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, UPT Publikasi Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jpwk.v18i1.1642

Abstract

Laju alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian di Kota Bandung semakin tinggi, yang tidak saja mengancam ketahanan pangan, tetapi juga mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan. Menindaklajuti penerapan Undang Undang Nomor 41 tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, perlu dibuat Kajian Penerapan Kebijakan Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B) di Daerah Kota (Studi Kasus: Kota Bandung). Arahan kebijakan KP2B Kota Bandung sudah terdapat Peraturan Daerah Nomor 18 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung Tahun 2011-2031 yaitu mempertahankan kawasan pertanian tanaman pangan melalui intensifikasi lahan pertanian di 3 kecamatan. Namun belum eksplisit menyebutkan KP2B, detail lokasi dan luasannya baru berupa arahan kecamatan. Penelitian ini menggunakan metoda Analisa overlay dan SWOT. Dari hasil analisa overlay Kecamatan Mandalajati tidak dapat lagi dimasukan kedalam usulan KP2B karena sudah beralih fungsi menjadi Lahan Pemakaman. Lokasi KP2B yang sesuai dan dapat dipertahankan adalah yang berlokasi di Kecamatan Ujung Berung dan Kecamatan Cibiru. Diperlukan penetapan Kawasan pertanian pangan berkelanjutan (KP2B) secara eksplisit dalam batang tubuh maupun peta perda Revisi RTRW Kota Bandung agar memiliki kekuatan hukum.
The Regencies and Municipalities Population Food Availability and Affordability in Eastern Priangan Zulfikar Noormansyah; Ivan Chofyan; Faqihuddin Faqihuddin; Dedi Djuliansah
MIMBAR : Jurnal Sosial dan Pembangunan Volume 39, No. 1, (Juni 2023) [Accredited Sinta 2] No 10/E/KPT/2019]
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah (Universitas Islam Bandung)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mimbar.v39i1.2152

Abstract

The realization of national food security is expected to be built on regional food security. Local governments are obliged to build their own regional food security, and contribute to national security. This is in line with the mandate of Law No. 23/2014 on Regional Government, which states that food is a mandatory matter for the central and regional governments. In relation to this background, this study aims to determine the availability and affordability of food in the East Priangan region, as one of the food production centers of West Java Province. The research method used is mixed method research with the dominance of quantitative design. Based on the results of the analysis, the research can be concluded that the food security conditions of regencies and municipalities in the East Priangan region are categorized as strong. However, based on the results of the comparative analysis among the regencies and cities, it shows a quite unique condition. The condition of the level of food availability (independent) is inversely proportional to the condition of the level of affordability. Regencies and municipalities that have a high marketable surplus of food tend to have a relatively low level of affordability. Conversely, regencies and municipalities with high food affordability have low marketable surplus.
Kepuasan Wisatawan terhadap Kawasan Hutan Mangrove Sebagai Destinasi Wisata Baru Akhmad Ichsan Bahri; Ivan Chofyan
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.7568

Abstract

Abstract. Mangrove tourism in Central Bangka Regency is a new tourist attraction in the province of Bangka Belitung. Good tourism is tourism that is able to provide satisfaction, comfort and safety for its users. Even though tourists are actually satisfied, there is hope that tourists want for tourist objects to be better. This is done in order to meet the expectations of visitors to mangrove tourism. This study aims to measure the level of tourist satisfaction with the mangrove forest area in Kurau Village, Koba District, Central Bangka Regency. The analytical method used is Import and Performance Analysis (IPA) and qualitative descriptive analysis. Primary data was obtained through field observations, interviews and questionnaires from 100 respondents. The results of the IPA analysis show that the level of agreement between tourists' expectations and ratings ranges from 77.78% - 83.93%. Tourist perceptions tend to be lower than their expectations. The results of this study emphasize the need for improvements and enhancements to the attributes that are a top priority for tourists. The recommendations put forward include improving the condition of mangrove forests, paying attention to traffic signs, ensuring the accessibility of adequate telecommunications signals, providing bridge facilities, maintaining the cleanliness and quality of toilets, and providing adequate electricity and security posts. The government also needs to maintain and improve performance indicators that are considered good by tourists, as well as encourage visitor participation in maintaining the cleanliness and orderliness of tourist objects. It is hoped that the results of this study can encourage continuous improvement and improvement to increase tourist satisfaction with the mangrove forest area in Kurau Village as an attractive tourist destination. Abstrak. Wisata mangrove di Kabupeten Bangka Tengah merupakan salah satu objek wisata baru di provinsi di Bangka Belitung .Wisata yang baik adalah wisata yang mampu memberikan kepuasan, kenyamanan dan keamanan bagi penggunanya. Walaupun sebenernya wisatawan sudah puas tapi ada harapan yang diinginkan oleh wisatawan terhadap objek wisata untuk menjadi lebih baik. Hal ini dilakukan agar memenuhi harapan pengunjung terhadap wisata mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kepuasan wisatawan terhadap kawasan hutan mangrove di Desa Kurau, Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah. Metode analisis yang digunakan adalah Importand Performance Analysis (IPA) dan analisis deskriptif kualitatif. Data primer diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara, dan kuisioner dari 100 responden. Hasil analisis IPA menunjukkan bahwa tingkat kesesuaian antara harapan dan penilaian wisatawan berkisar antara 77.78% - 83.93%. Persepsi wisatawan cenderung lebih rendah daripada harapan mereka. Hasil penelitian ini menekankan perlunya perbaikan dan peningkatan pada atribut-atribut yang menjadi prioritas utama bagi wisatawan. Rekomendasi yang diajukan meliputi perbaikan kondisi hutan mangrove, pemerhatian terhadap rambu lalu lintas, memastikan aksesibilitas sinyal telekomunikasi yang memadai, penyediaan fasilitas jembatan, menjaga kebersihan dan kualitas toilet, serta menyediakan fasilitas listrik dan pos keamanan yang memadai. Pemerintah juga perlu mempertahankan dan meningkatkan kinerja indikator-indikator yang dinilai baik oleh wisatawan, serta mendorong partisipasi pengunjung dalam menjaga kebersihan dan ketertiban objek wisata. Diharapkan hasil penelitian ini dapat mendorong perbaikan dan peningkatan berkelanjutan untuk meningkatkan kepuasan wisatawan terhadap kawasan hutan mangrove di Desa Kurau sebagai destinasi wisata yang menarik.