Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Aspek-aspek Reproduksi Cacing Diopatra neapolitana Di Cilacap Ita Purwati; Farida Nur Rachmawati; Eko Setio Wibowo
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 3 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.3494

Abstract

Diopatra neapolitana merupakan polychaeta yang memiliki tubuh dengan struktur tabung besar. D. neapolitanan dapat dimanfaatkan sebagai pakan udang karena memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi. Penggunaan D. neapolitana sebagai pakan dilakukan dengan mengambil cacing langsung dari alam sehingga dapat mengganggu keberlangsungan populasi cacing D. neapolitana di alam. Kondisi ini memerlukan adanya usaha domestifikasi dan budidaya D. neapolitana, namun informasi tentang kondisi biologis dan reproduksi yang ada masih terbatas, terutama spesies yang ditemukan di Cilacap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek-aspek reproduksi D. neapolitana yang dapat mendukung domestifikasi dan budidaya cacing D. neapolitana. Hasil penelitian menunjukkan nilai rasio jenis kelamin yang seimbang yaitu 1:1. Ukuran tubuh cacing betina dan jantan tidak berbeda nyata. Hasil pengamatan pada cacing betina menunjukkan rata-rata jumlah segmen 131,96 ± 28,19 buah; rata-rata berat tubuh 2.65 ± 1,15 g dan cacing berada dalam fase mature dan submature dengan diameter telur antara 199-240 µm. Cacing jantan memiliki rata-rata jumlah segmen 136,97 ± 24,51 buah; rata-rata berat tubuh 2.18 ± 1,11 g dan bentuk sperma berupa tetrad spermatid. Hasil analisis hubungan berat tubuh dan tingkat maturasi D. neapolitana menunjukkan hasil korelasi negatif dengan r= 0,009, persamaan regresi linier y= 219.868 – 0,080x; dan nilai t hitung (-0,043) < t tabel (2,07961), dan asil analisis hubungan jumlah segmen dan tingkat maturasi D. neapolitana didapat nilai r = 0,101; r2 = 1%; persamaan regresi linier y = 224.247– 0,035x; dan t hitung (-0,463) < t tabel (2,07961). Hasil analisis regresi linier menunjukkan bahwa %. Berat tubuh tidak berkorelasi positif dengan tingkat maturasi cacing D. neapolitana. Peningkatan berat tubuh tidak selalu dikuti dengan peningkatan tingakat maturasi, dan peningkatan jumlah segmen tidak selalu diikuti dengan peningkatan tingkat maturasi cacing D. neapolitana.
Efek Subletal Limbah Batik Terhadap Aktivitas Enzim Superoksida Dismutase pada Serum Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Annisa Nafiah Salmaa; Hernayanti Hernayanti; Farida Nur Rachmawati
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 1 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.058 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.1.1833

Abstract

Limbah batik merupakan salah satu penyebab pencemaran di lingkungan perairan karena diketahui mengandung beberapa jenis logam berat. Jenis logam berat tersebut antara lain seperti krom (Cr), seng (Zn), merkuri (Hg), tembaga (Cu), timbal (Pb), Arsen (As), kadmium (Cd), mangan (Mn) dan nikel (Ni). Ikan yang terpapar limbah batik memberikan respon secara fisiologis. Respon yang muncul sebelum ikan mengalami kematian disebut efek subletal. Ikatan antara logam berat atau metal (M) dengan protein metalotionin ini disebut sebagai ikatan M+Mt. Ikatan ini bersifat stabil sehingga tidak mudah lepas. Hal inilah yang akhirnya memicu pembentukan radikal bebas. Ketika radikal bebas dalam tubuh semakin meningkat, maka kadar enzim Superoksida Dismutase atau SOD akan semakin menurun. Pengujian kadar enzim SOD dapat dijadikan sebagai upaya deteksi dini adanya pencemaran perairan yang disebabkan oleh limbah batik. Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian ini memiliki tujuan untuk melihat pengaruh toksisitas limbah batik terhadap penurunan enzim SOD pada ikan nila. Berdasarkan hasil penelitian ini, kadar SOD mulai dari kontrol, konsentrasi 17% v/v, 34% v/v dan 51% v/v berturut-turut yaitu 29,48 ± 1,40 U/mL, 22,20 ± 1,18 U/mL, 17,77 ± 1,16 U/mL, 13,68 ± 0,56 U/mL. Hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai F hitung (218,570) > F tabel (4,30) yang artinya terdapat pengaruh paparan limbah batik terhadap penurunan aktivitas SOD. Semakin tinggi konsentrasi limbah batik maka semakin rendah aktivitas SOD. Kata kunci: Limbah Batik, Oreochromis niloticus, Superoksida Dismutase (SOD)
Peran Hormon Kortisol dalam Osmoregulasi Ikan Sidat, Anguilla bicolor, pada Lingkungan Bersalinitas Untung Susilo; Farida Nur Rachmawati; Sorta Basar Ida Simanjuntak
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 24, No 3 (2007)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mib.2007.24.3.281

Abstract

The osmoregulatory capacity of Anguilla bicolor in the sea water is influenced by hormonal activities.  Therefore, the aim of this study was to know the influence of cortisol on osmoregulation of the eel at the different levels of salinity medium. An experimental method with six treatments on randomized completely design was used in this study. The treatments were (1) fish acclimated at water salinity 15 ppt without hormone injection; (2) fish acclimated at water salinity of 30 ppt without hormone injection; (3) fish acclimated at water salinity of 15 ppt and injected with 4 µg cortisol/gr body weight; (4) fish acclimated at water salinity 15 ppt and injected with 8 µg cortisol/gr body weight; (5) fish aclimated at water salinity of 30 ppt and injected with 4 µg cortisol/g body weight; (6) fish acclimated at water salinity of 30 ppt and injected with 8 µg cortisol/g body weight. All of the treatments were replicated four times. Data were analyzed using One way ANOVA followed by Least Significant Difference. The results showed that the cortisol has significant effect (P<.05) on plasma osmolality only at the early of acclimation on medium 30 ppt after injection, especially at 6 and 12 hours after cortisol treatment, and there was no significant efffect of cortisol treatment (P>.05) if the acclimation increased. Osmoregulatory capacity on medium of 15 ppt and 30 ppt were influenced by cortisol treatment at 6 hours acclimation (P<.05), but only that aclimated in medium opf 5 ppt was influenced by cortisol treatment at 12 hours acclimation. Increased acclimation on medium of 15 ppt and 30 ppt was not influenced by cortisol treatment (P>.05). Water body content was not influenced by cortisol treatment (P>.05) at all medium acclimation. At six hour acclimation, treatment cortisol has significant difference (P<.05) on hematocrite only at medium 30 ppt, but cortisol treatment has significant difference (P<.05) at medium 15 ppt and 30 ppt in 12 hours acclimation. Increased acclimation has no significant difference (P>.05) on treatment cortisol. Cortisol injection has no significant difference (P>.05) on plasma glucose on all medium and only on 7 days aclimation, the plasma glucose has significant difference (P<.05) after injected by cortisol. It could be concluded that cortisol treatment has a role on eel osmoregulation at early acclimation. Haematocrite account was also influenced by cortisol injection, but only at the early acclimation. Water body content, blood glucose and total body energy were not influenced by cortisol.
Karakteristik Enzim Digesti, Protease dan Amilase, Ikan Gurami (Osphronemus gouramy Lac.) pada Fase Pertumbuhan Untung Susilo; Edy Yuwono; Farida Nur Rachmawati; Slamet Priyanto; Hana Hana
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 32, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mib.2015.32.2.305

Abstract

Suatu penelitian untuk mengetahui karakteristik enzim digesti, protease dan amilase pada ikan gurami, Osphronemus gouramy Lac., telah dilakukan dengan metode survey. Jumlah ikan yang digunakan untuk penelitian sebanyak 25 ekor yang dikelompokan menjadi tiga kelompok ukuran13,29, 35,86 dan 91,86 g/ekor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas protease digesti ikan gurami berbeda secara signifikan pada segmen usus dan pH buffer yang berbeda (P<.05). Aktivitas amilase digesti tidak berbeda secara signifikan diantara segmen usus yang diuji (P>.05), namun berbeda secara signifikan diantara ukuran ikan yang berbeda (P<.05), dan aktivitas amilase tertinggi dijumpai pada ikan dengan ukuran terkecil. Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa aktivitas protease dan amilase dijumpai sepanjang saluran digestinya baik pada ikan yang berukuran kecil maupun besar. Aktivitas protease umumnya tinggi pada suasana asam dan netral pada usus depan dan tengah. Aktivitas protease ikan yang berukuran besar lebih rendah dari pada ikan yang berukuran lebih kecil. Aktivitas amilase tidak terdapat perbedaan diantara segmen usus yang diuji, namun aktivitas amilase tertinggi dijumpai pada ikan dengan berat rata-rata 13,29 g/ekor
Aktivitas Protease dan Komposisi Proksimat Tubuh Ikan Sidat (Anguilla bicolor Mcclelland) pada Kondisi Puasa dan Pemberian Pakan Kembali Untung Susilo; Nuning Setyaningrum; Farida Nur Rachmawati
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 30, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mib.2013.30.2.133

Abstract

Protease activity and body proximate composition of eel, Anguilla bicolor McClelland., under starvation and refeeding conditions with three treatments and four replications in randomized completely design has been evaluated. The result showed that the protease activity of eel was no significant different (P>.05) between treatment, but body proximate composition has significant differences (P<.05), especially in protein and lipid contents at starvation condition. It can be concluded that the eel protease activity did not change under starvation and refeeding condition, but the lipid content decreased at starvation condition.
Comparison of Reproductive Aspects of the Tropical Eel Anguilla bicolor (McClelland 1884) in Freshwater and Estuarine Habitats Rachmawati, Farida Nur; Susilo, Untung; Aya, Frolan
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 28, No 3 (2023): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ik.ijms.28.3.260-266

Abstract

The tropical anguillid eel, Anguilla bicolor McClelland, experiences significant growth up to the adult size in both freshwater and estuarine ecosystems, encountering salinity gradients that may impact their reproduction. Therefore, this study aimed to investigate the reproductive aspects of A. bicolor collected from Serayu River (freshwater) and Segara Anakan (estuary), Cilacap, Central Java, during July 2020 field surveys. The examined parameters included eye index (EI), fin index (FI), gonadosomatic index (GSI), hepatosomatic index (HSI), and sex ratio of eel specimens in freshwater and estuary. Furthermore, the total length (TL) and body weight (BW) ranged from 260 - 630 mm and 18 - 419 g in freshwater, and 260 - 630 mm and 18 - 447 g in estuary. Significant differences (P<0.01) were observed in the reproductive characteristics between the two habitats (P<0.01), with higher eye index, fin index, gonadosomatic index, and hepatosomatic index in freshwater-caught eels than the values obtained in estuary inhabitants. The mean of these four parameters were 6.99 ± 2.98%, 4.08 ± 0.71%, 1.70 ± 1.13%, and 1.92% ± 1.07 in freshwater, while 3.48 ± 1.60%, 3.45 ± 0.479%, 1.12 ± 0.23%, and 0.28 ± 0.19% were found in estuary. The sex ratio was significantly affected by habitat, with female eels dominating in freshwater (62.5%) compared to estuary (32%). These results suggested that eels in freshwater habitats might exhibit early gonadal maturation compared to those in estuary.
Efek Subletal Limbah Batik Terhadap Aktivitas Enzim Superoksida Dismutase pada Serum Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Salmaa, Annisa Nafiah; Hernayanti, Hernayanti; Rachmawati, Farida Nur
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 1 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.1.1833

Abstract

Limbah batik merupakan salah satu penyebab pencemaran di lingkungan perairan karena diketahui mengandung beberapa jenis logam berat. Jenis logam berat tersebut antara lain seperti krom (Cr), seng (Zn), merkuri (Hg), tembaga (Cu), timbal (Pb), Arsen (As), kadmium (Cd), mangan (Mn) dan nikel (Ni). Ikan yang terpapar limbah batik memberikan respon secara fisiologis. Respon yang muncul sebelum ikan mengalami kematian disebut efek subletal. Ikatan antara logam berat atau metal (M) dengan protein metalotionin ini disebut sebagai ikatan M+Mt. Ikatan ini bersifat stabil sehingga tidak mudah lepas. Hal inilah yang akhirnya memicu pembentukan radikal bebas. Ketika radikal bebas dalam tubuh semakin meningkat, maka kadar enzim Superoksida Dismutase atau SOD akan semakin menurun. Pengujian kadar enzim SOD dapat dijadikan sebagai upaya deteksi dini adanya pencemaran perairan yang disebabkan oleh limbah batik. Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian ini memiliki tujuan untuk melihat pengaruh toksisitas limbah batik terhadap penurunan enzim SOD pada ikan nila. Berdasarkan hasil penelitian ini, kadar SOD mulai dari kontrol, konsentrasi 17% v/v, 34% v/v dan 51% v/v berturut-turut yaitu 29,48 ± 1,40 U/mL, 22,20 ± 1,18 U/mL, 17,77 ± 1,16 U/mL, 13,68 ± 0,56 U/mL. Hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai F hitung (218,570) > F tabel (4,30) yang artinya terdapat pengaruh paparan limbah batik terhadap penurunan aktivitas SOD. Semakin tinggi konsentrasi limbah batik maka semakin rendah aktivitas SOD. Kata kunci: Limbah Batik, Oreochromis niloticus, Superoksida Dismutase (SOD)
Aspek-aspek Reproduksi Cacing Diopatra neapolitana Di Cilacap Purwati, Ita; Rachmawati, Farida Nur; Wibowo, Eko Setio
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 3 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.3494

Abstract

Diopatra neapolitana merupakan polychaeta yang memiliki tubuh dengan struktur tabung besar. D. neapolitanan dapat dimanfaatkan sebagai pakan udang karena memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi. Penggunaan D. neapolitana sebagai pakan dilakukan dengan mengambil cacing langsung dari alam sehingga dapat mengganggu keberlangsungan populasi cacing D. neapolitana di alam. Kondisi ini memerlukan adanya usaha domestifikasi dan budidaya D. neapolitana, namun informasi tentang kondisi biologis dan reproduksi yang ada masih terbatas, terutama spesies yang ditemukan di Cilacap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek-aspek reproduksi D. neapolitana yang dapat mendukung domestifikasi dan budidaya cacing D. neapolitana. Hasil penelitian menunjukkan nilai rasio jenis kelamin yang seimbang yaitu 1:1. Ukuran tubuh cacing betina dan jantan tidak berbeda nyata. Hasil pengamatan pada cacing betina menunjukkan rata-rata jumlah segmen 131,96 ± 28,19 buah; rata-rata berat tubuh 2.65 ± 1,15 g dan cacing berada dalam fase mature dan submature dengan diameter telur antara 199-240 µm. Cacing jantan memiliki rata-rata jumlah segmen 136,97 ± 24,51 buah; rata-rata berat tubuh 2.18 ± 1,11 g dan bentuk sperma berupa tetrad spermatid. Hasil analisis hubungan berat tubuh dan tingkat maturasi D. neapolitana menunjukkan hasil korelasi negatif dengan r= 0,009, persamaan regresi linier y= 219.868 – 0,080x; dan nilai t hitung (-0,043) < t tabel (2,07961), dan asil analisis hubungan jumlah segmen dan tingkat maturasi D. neapolitana didapat nilai r = 0,101; r2 = 1%; persamaan regresi linier y = 224.247– 0,035x; dan t hitung (-0,463) < t tabel (2,07961). Hasil analisis regresi linier menunjukkan bahwa %. Berat tubuh tidak berkorelasi positif dengan tingkat maturasi cacing D. neapolitana. Peningkatan berat tubuh tidak selalu dikuti dengan peningkatan tingakat maturasi, dan peningkatan jumlah segmen tidak selalu diikuti dengan peningkatan tingkat maturasi cacing D. neapolitana.
Panjang Gonad Relatif, Indeks Kematangan Gonad, dan Indeks Hepatosomatik Ikan Sidat (Anguilla bicolor Mcclelland) Hasil Budidaya Nadeak, Rizki Kustanti; Rachmawati, Farida Nur; Susilo, Untung
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 5 No 3 (2023): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2023.5.3.6696

Abstract

Ikan sidat (Anguilla bicolor McClelland) merupakan ikan katadromous yang sulit matang gonad dalam kondisi budidaya, sehingga perlu dilakukan penelitian untuk mengkaji nilai IKG, IHS, hubungan antara IKG dan panjang gonad relatif ikan sidat hasil budidaya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui nilai IKG, IHS, hubungan antara IKG dan panjang gonad relatif ikan sidat hasil budidaya pada ukuran berbeda dan mengetahui korelasi antara IKG dengan Panjang Gonad Relatif ikan sidat hasil budidaya. Penelitian dilakukan dengan metode survei secara purposive random sampling. Sampel ikan sidat sebanyak 29 ekor diperoleh dari pembudidaya ikan sidat di wilayah Cilacap dikelompokkan berdasarkan fase reproduksinya yaitu yellow eel dan silver eel. Variabel yang diamati ialah panjang gonad relatif sebagai variabel bebas dan IKG sebagai variabel terikat. Parameter yang diukur, yaitu panjang tubuh ikan, bobot tubuh ikan, bobot gonad, panjang gonad, dan bobot hati. Hasil yang didapat pada penelitian ini, rata-rata panjang gonad fase yellow eel 16,93 ± 2,09 cm, sementara fase silver eel 19,93 ± 3,46 cm. Rata-rata IKG yellow eel 1,356±0,992 %, sementara silver eel 2,408±1,053 %. Hasil rata-rata IHS fase yellow eel 1,163±0,201 % dan silver eel sebesar 1,339±0,264 %. Analisis korelasi Spearman’s Rank antara panjang gonad relatif dengan IKG didapatkan nilai signifikansi sebesar 0,167 (P > 0,05). Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa Nilai IKG dan IHS Anguilla bicolor McClelland hasil budidaya pada ukuran berbeda memiliki nilai yang berbeda. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara panjang gonad relatif dengan IKG.
Biochemical Composition and Digestive Enzyme Activity of Anguilla bicolor McClelland 1844 on Reproductive Phase Rachmawati, Farida Nur; Susilo, Untung; Hana, Hana
Molekul Vol 20 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jm.2025.20.1.12940

Abstract

ABSTRACT. The critical problems in eel cultivation are slow growth due to low digestibility and high feed conversion. This shows the need to understand the biochemical composition of eel to obtain information about the physiological condition, energetic adaptation, habits, nutritional value, and industrial uses. Nutritional data are also essential to develop a suitable processing method that enables eel to be consumed throughout the year while respecting state-imposed limitations to protect the species. Despite the significant contribution, there has been no data about the biochemical composition and the digestive enzyme activity of eel species such as Anguilla bicolor McClelland 1844, during the reproductive phase. Therefore, this study aimed to evaluate the biochemical composition of A. bicolor McClelland and the digestive enzyme activity during the reproductive phase. The experiment was conducted through a survey on eels in the reproductive phase with an average weight and length of yellow (106.00 ± 38.1 g and 42.00± 5.78 cm) and silver eel (362.89 ± 88.93 g and 59.86 ± 7.39 cm) respectively. The results showed that Nitrogen Free Extract (NFE) did not substantially alter between different phases, while the percent protein, lipid, ash, and fiber had significant variation (p<0.05). The activity of pepsin differed in various phases (p<0.05), while the activity of trypsin, amylase, and lipase of A. bicolor did not vary (p>0.05). The yellow eel had a higher body protein composition and pepsin activity than the silver eel, although the biochemical composition and other enzyme activities were similar. In summary, the biochemical compositions, and digestive enzymes of A. bicolor varied depending on their phases. Moreover, further studies were recommended to understand the biochemical composition of A. bicolor and digestive enzyme activity during the reproductive phase. Keywords: Anguilla bicolor, Digestive enzyme activity, Proximate analysis