Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Pertumbuhan dan Lulus Hidup Larva Ikan Nilem yang Diberi Pakan Awal Infusoria Bhagawati, Dian; Nuryanto, Agus; Rahayu, Diana Retna Utarini Suci; Rachmawati, Farida Nur
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2021: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.021 KB)

Abstract

Keberadaan benih ikan Nilem (Osteochilus hasselti Valencienes, 1842) di wilayah Kabupaten Banyumas, pada tingkat petani, semakin sulit diperoleh, karena seringkali mengalami kendala dalam memelihara larvanya, terutama saat larva harus beralih dari pakan endogen ke eksogen. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji pertumbuhan dan kelulushidupan larva ikan Nilem yang diberi pakan awal berupa Infusoria. Penelitian menerapkan metode eksperimental dengan rancangan acak lengkap, lima perlakuan yang diulang sebanyak tiga kali. Larva diperoleh dari hasil pemijahan induksi, dan telur ditetaskan dalam kotak inkubasi yang terkontrol. Pemeliharaan larva dilakukan selama 30 hari, dalam kotak kayu berukuran 90x60x20cm, dan dibagian dalam dilapisi terpal plastik, diisi air dengan ketinggian 15cm. Selama pemeliharaan larva tidak diberi aerasi dan ketinggian air dijaga agar konstan dengan cara menambah air baru. Masing-masing kotak diisi sebanyak 750 ekor larva. Perlakuan yang dicobakan yaitu pemberian pakan awal berupa Infusoria selama 7 hari, sebanyak 50 ml(A), 100ml(B); 150ml(C); 200ml(D) dan 250ml(E), mulai hari ke-5 setelah telur menetas. Mulai hari ke-13 sampai dengan ke-30, pada masing-masing perlakuan diberikan tambahan Infusoria sebanyak 50ml dan tepung pellet sebanyak 30mg. Pakan diberikan sehari sekali, pada pagi hari, antara jam 09.00-10.00. Data yang diamati adalah pertumbuhan panjang mutlak, panjang relatif, dan kelulushidupan, yang diuji dengan analysis of variance (ANOVA) selang kepercayaan 95%. Hasilnya menunjukkan, perlakuan E memberikan hasil yang terbaik, sehingga dapat disimpulkan bahwa ketersediaan Infusoria dalam jumlah yang lebih banyak dari kebutuhan pakan awal larva Nilem, memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan dan kelulushidupannya.
Karakteristik Dimorfisme dan Gambaran Histologis Gonad pada Benih Ikan Nila Hasil Alih Kelamin Bhagawati, Dian; Rachmawati, Farida Nur; Rukayah, Siti
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2017: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.863 KB)

Abstract

Kegiatan alih kelamin pada ikan sangat mungkin dilakukan mengingat proses deferensiasi gonad saat embriodapat dimanipulasi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengamati morfologi organ seks sekunder dangambaran histologis gonad benih ikan nila hasil alih kelamin. Proses pengalihan kelamin dilakukan denganteknik perendaman menggunakan hormon 17α- Metiltestosteron (MT). Pembuatan stok larutan berhormonmengacu pada Zairin (2002), yaitu dengan melarutkan 112,5 mg hormon 17-α metiltestosteron dalam 250 mlalkohol 96%. Penelitian kualitatif ini dilakukan dengan cara merendam benih ikan nila berumur tujuh hari,sebanyak 1000 ekor dalam 5 ml stok larutan berhormon yang dicampur dengan 15 liter air yang diaerasi, danperendaman dilakukan selama 24 jam. Benih yang telah diperlakukan kemudian dipelihara dalam 4 drum plastik,dengan kepadatan 250 ekor dalam 200 liter air. Identifikasi jenis kelamin dilakukan berdasarkan pengamatankarakter morfologi dan jumlah lubang urogenital serta pewarnaan gonad menggunakan larutan asetokarmin.Pengamatan dilakukan setelah satu, dua dan tiga bulan pasca perendaman, terhadap 10 ekor benih dari tiapdrum. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa secaramorfologis perbedaan jenis kelamin benih ikan nila mulai dapat dikenali dengan mudah setelah berumur duabulan. Benih ikan nila jantan memiliki satu lubang dan betina dua lubang. Pengamatan hitologis gonad jugalebih mudah dilakukan setelah benih berumur dua bulan. Gonad yang diwarnai asetokarmin mampumenggambarkan sel bakal sperma, yaitu berupa titik-titik kecil berjumlah banyak, sedangkan sel bakal telurberupa bulatan besar dan inti terdapat di tengah dengan warna lebih pucat.
Protease, Lipase and Amylase Activities in Barred Loach, Nemacheilus Fasciatus C.V. Susilo, Untung; Rachmawati, Farida Nur
Jurnal Biodjati Vol 5 No 1 (2020): May
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/biodjati.v5i1.6530

Abstract

Barred loach is wild fish in which there is no information related to its enzymatic digestive capacity yet. Therefore research on this subject needs to be conducted.  The spectrophotometry method was used to study protease, lipase, and amylase activities in barred loach. The study used 89 fish with an average weight of 3.61 ± 0.26g, and 1.68 ± 0.21g.  The results showed that pH 7.0 was the highest protease activity. Similarly, lipase activity found  between pH 7.0 and pH 8.1. Still, the amylase activity found to be high at pH 8.1. Protease activity also found to be high in the posterior intestine than in the hepato-pancreas and anterior intestine. Lipase and amylase activities did not found differences between hepato-pancreas, anterior intestine, and posterior intestine. In conclusion, the protease, lipase, and amylase activities of barred loach found along the gastrointestinal tract in both large and small fish, which shows that barred loach can digest protein, fat, and carbohydrates in diets better.
Protease and Amylase Activities of Javaen barb (Systomus rubripinnis Val.) Susilo, Untung; Rachmawati, Farida Nur; Wibowo, Eko Setio
Jurnal Biodjati Vol 7 No 1 (2022): May
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/biodjati.v7i1.15535

Abstract

Studies on morphology, growth, and reproduction have been carried out on wild Javaen barb, but there was no information on its digestive capacity; therefore, the research was conducted to determine protease and amylase activities in the digestive tract. This study used a total of 50 barbs with body weights between 13.56 -128.93g / fish. The measurement of enzyme activity was carried out using the spectrophotometer method. The results showed that differences in fish size resulted in differences in protease activity, but not for amylase. Fish with a small size have a higher protease activity than fish with a larger size. The protease activity did not differ between pH 6.9 to 10.0 but was higher than pH 12.5. Protease activity also did not vary between the anterior and posterior intestine and between 30-50°C. Amylase activity also found no difference between the anterior and posterior intestine, but there was a difference in activity between temperatures of 30-50°C. In conclusion, protease activity occurs in a neutral to alkaline environment, and there were differences in protease activity between different body sizes but not between intestinal segments. Amylase activity occurs throughout the intestine and decreases at temperatures of 50°C.
Growth, Food Efficiency, and Enzyme Activities in Yellow Rasbora (Rasbora lateristriata) at Different Feeding Frequencies Susilo, Untung; Sistina, Yulia; Wibowo, Eko Setio; Mahmoud, Hanan Hassan Alsheikh; Hana, Hana; Rachmawati, Farida Nur
Jurnal Biodjati Vol 8 No 1 (2023): May
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/biodjati.v8i1.25029

Abstract

Many studies have been conducted on the feeding frequency in fish, but there is no information on R. lateristriata. Therefore, this study aimed to determine yellow rasbora growth performance, feed efficiency, and digestive enzyme activity at different feeding frequencies. This research was conducted experimentally with four treatments and three replications. The treatments include: P1 fish were fed two times/day; P2 fish were fed three times/day; P3 fish were fed four times/day; and P4 fish were fed five times/day. In this experiment, 420 two-month-old yellow rasboras were used. The experimental results showed that body weight gain, RGR, SGR, CF, FCR, PER, body lipid & protein levels, protein and lipid retention, protease, and amylase activity were not significantly different (p>0.05) between different feeding frequencies. However, lipase and alkaline phosphatase activities differed significantly among the different feeding frequencies. Growth performance, feed efficiency, protease activity, and yellow rasbora amylase are not affected by feeding frequency between two to five times a day. Still, the highest lipase and alkaline phosphatase activity were achieved at the feeding frequency four times a day, but no effect on growth. So, feeding twice a day is considered quite efficient for the culture of yellow rasbora. The results of this study can contribute to the development of fish farming, especially the yellow rasbora, in the future.