Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

TRADISI HERAPO-RAPO PADA ORANG WANCI DESA WAHA KECAMATAN WANGI-WANGI KABUPATEN WAKATOBI Faris Faris Faris; La Ode Dirman; Sitti Hermina
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 3 No 1 (2020): Volume 3 Nomor 1, Januari-Juni 2020
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v3i1.1013

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Waha Kecamatan Wangi-wangi Kabupaten Wakatobi dengan tujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan dan makna simbolik yang terkandung dalam tradisi Herapo-rapo pada suku Buton di Desa Waham Kecamatan Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik pengamatan (observasi), wawancara mendalam dan studi dokumentasi. Tradisi Herapo-rapo dilakukan pada saat bulan Ramadhan. Proses pelaksanaan tradisi Herapo-rapo memiliki beberapa tahap yaitu (1) tahap persiapan, (2) tahap pelaksanaan, dan (3) tahap perempuan menjual kacang yang sudah disangrai sambil menunggu laki-laki yang singgah membeli kacang tersebut. Makna simbolik dalam tradisi Herapo-rapo ini yaitu makna alat dan bahan tradisi Herapo-rapo tersebut berupa kacang sangrai, meja, kursi, lampu pelita. Secara umum makna tradisi Herapo-rapo yaitu agar cepat mendapatkan jodoh atau pasangan hidup.
RITUAL KAFOLODONO MAESA PADA ETNIK MUNA (STUDI DI DESA ONDOKE KECAMATAN SAWERIGADI KABUPATEN MUNA BARAT) Wa Liagus; Wa Kuasa Baka; Sitti Hermina
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 3 No 2 (2020): Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2020
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v3i2.1173

Abstract

Ritual kafolodono maesa merupakan ritual yang dilaksanakan oleh etnik Muna khususnya di Desa Ondoke pada saat keseratus hari atau bisa juga dilakukan lebih dari seratus hari pasca kematian yang dilakukan pada malam hari dan diakukan hanya semalam saja. Ritual ini dilakukan karena merupakan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan proses pelaksaan dan mengetahui makna ritual kafolodono maesa pada Etnik Muna di Desa Ondoke Kecamatan Sawerigadi Kabupaten Muna Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa ritual kafolodono maesa terdiri dari beberapa tahap pelaksanaan yaitu tahap persiapan alat dan bahan; batu, air, kapur, daun pisang, kuas, dua lembar sarung, bantal dan guling. Tahap pelaksanaan yaitu; tahap kakadiuno maesa, tahap kaburakino maesa, tahap kafolodono maesa. Tahap akhir yaitu; tahap kaladuno maesa dan tahap pembacaan doa. Adapun makna kafolodono maesa yaitu agar yang telah meninggal dunia dapat diberikan ketengan dan mendapatkan tempat yang layak disisi Allah SWT.
TRADISI MAPPASAU BOTTING DALAM PERNIKAHAN SUKU BUGIS DI KELURAHAN LAPAI KABUPATEN KOLAKA UTARA Hartina Darwis Darwis; Wa Kuasa Baka; Sitti Hermina
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 3 No 2 (2020): Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2020
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v3i2.1174

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pelaksanaan tradisi mappasau botting, mendeskripsikan makna simbolik yang terdapat pada tradisi mappassau botting, dan pola pewarisan tradisi mappasau botting. Lokasi penelitian di Kelurahan Lapai Kabupaten Kolaka Utara. Metode penelitian secara deskriptif kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui pengamatan secara langsung, wawancara mendalam dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi mappasau botting dalam pernikahan suku Bugis di Kelurahan Lapai Kabupaten Kolaka Utara merupakan tradisi yang pelaksanaannya memiliki tujuan untuk mencegah keringat yang tidak baik di badan calon pengantin sehingga keringat yang dikeluarkan hanya berbau harum. Setiap dan bahan yang digunakan memiliki makna simbolik sebagai bentuk harapan agar calon pengantin menjadi keluarga yang harmonis. Dalam pola pewarisan tradisi mappasau botting yaitu dengan belajar kepada orang tua atau masyarakat yang melakukan praktik mappasau botting.
TRADISI KAFOFINDA NE WITE PADA ETNIK MUNA DESA WALELEI KECAMATAN BARANGKA KABUPATEN MUNA BARAT Munawar Munawar; Wa Kuasa Baka; Sitti Hermina
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 3 No 2 (2020): Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2020
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v3i2.1175

Abstract

Tradisi kafofinda ne wite adalah suatu upacara yang bertujuan untuk mengatasi hal-hal yang dapat menyulitkan bayi tersebut pada saat melakukan aktivitas. Menginjakkan kaki bayi pertama kali merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keselamatan bayi sehingga dapat menginjakkan kaki di muka bumi. Kafofinda ne wite merupakan salah satu tradisi leluhur pada etnik Muna yang diwariskan secara turun-temurun dan di dalamnya banyak terkandung nilai-nilai budaya daerah, sehingga sampai sekarang tradisi ini masih dilakukan. Tujuan penelitian ini Untuk mendeskripsikan proses untuk mengetahui makna simbolik dalam tradisi kafofinda ne wite pada etnik Muna di Desa Walelei Kecamatan Barangka Kabupaten Muna Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Hasil penelitian tradisi kafofinda ne wite terdiri beberapa tahap pelaksanaan. Tahap Persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap. Makna tradisi kafofinda ne wite yaitu sebagai rasa syukur kepada Allah SWT yang telah mengizinkan seorang anak manusia untuk berpijak di Bumi ini.
RITUAL HAROAA KAMPO PADA MASYARAKAT KULISUSU DESA LANGERE KECAMATAN BONEGUNU KABUPATEN BUTON UTARA Lisnarti Lisnarti; Sitti Hermina; Samsul Samsul
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 4 No 2 (2021): Volume 4 Nomor 2, Juli-Desember 2021
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v4i2.1381

Abstract

Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah, (1) Untuk mengetahui proses pelaksanaan ritual haroaano kampo pada masyarakat Desa Langere Kecamatan Bonegunu Kabupaten Buton Utara, (2) Untuk menjelaskan makna simbolik dari ritual haroaano kampo pada masyarakat Desa Langere Kecamatan Bonegunu Kabupaten Buton Utara. Lokasi penelitian yang dipilih adalah di Desa Langere Kecamatan Bonegunu Kabupaten Buton Utara. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan secara langsung, wawancara terhadap informan dan dokumentasi. Penentuan informan menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan analisis deskriptif kualitatif yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikkan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Proses pelaksanaan ritual haroaano kampo pada masyarakat Desa Langere Kecamatan Bonegunu Kabupaten Buton Utara adalah dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu (1) tahap persiapan, (2) tahap pelaksanaan dan (3) tahap akhir. Ada beberapa yang perlu dipersiapkan dalam tahapan persiapan yaitu penentuan hari baik, waktu dan tempat, alat dan bahan. Setelah semua telah dipersiapkan maka dilaksanakanlah tahapan membunyikan gendang, penganyaman ketupat sabung ayam, pelaksanaan haroaano kampo tarian lense/ngibi dan manca lalu kemudian tahapan akhir. (2) Makna simbolik ritual haroaano kampo terdiri dari beberapa yaitu (1) makna pada alat dan bahan serta (2) makna pada kegiatan dalam ritual haroaano kampo.Alat dan bahan yang digunakan terdapat makna yang terkandung di dalamnya seperti, makna ketupat, makna ayam, makna beras dan makna gendang. Kegiatan dalam ritual haroano kampo juga terdapat makna yang terkandung di dalamnya seperti,makna pada sabung ayam, makna pada haroa, makna pada tari lense/ngibi dan makna pada manca.
Makna Tradisi Zakat Fitrah (Lawatino Pitaraa) dalam Pembentukan Karakter Kepedulian Sosial Masyarakat Etnik Muna Wa Kuasa Baka; Usman Rianse; La Ode Topo Jers; Sitti Hermina; Samsul Samsul; La Ode Aris
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 12 No 2 (2023): Volume 12, Issue 2, June 2023
Publisher : Laboratory of Anthropology Department of Cultural Science Faculty of Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/etnoreflika.v12i2.2049

Abstract

This research aims (1) to explain the procedure for implementing the tradition of zakat fitrah (known as "lawatino pitaraa") in the Muna ethnic community, and (2) to discover and explain the wisdom and symbolic meanings inherent in the tradition of zakat fitrah's implementation in shaping the character of the Muna ethnic community. This study was conducted in Muna Regency, Southeast Sulawesi Province. The selection of informants was carried out using the snowballing technique. The data collection techniques used were: (1) direct observation, (2) in-depth interviews, and (3) literature study related to zakat fitrah. Qualitative descriptive data analysis was performed on the procedure for implementation and the symbolic meanings of zakat fitrah in the tradition of the Muna ethnic community. The research findings indicate that: (1) The implementation of "lawatino pitaraa" in the Muna ethnic group is led by a "modhi" who functions as the zakat administrator. The main stages of its implementation include: (a) the "muzakki" (the person giving zakat) handing over money according to their zakat obligation or substituting it with rice or corn; (b) the "muzakki" articulating their intention, (c) the "muzakki" grasping the rice or corn, (d) the turn of the zakat administrator to hold the rice or corn while simultaneously blowing on it with intention, (e) the zakat administrator leading a prayer to Allah SWT followed by the "muzakki"; (2) The significance of zakat fitrah's implementation in fostering the social concern character of the Muna ethnic group includes values of honesty/integrity, adherence to principles, surrender, inner peace, and submission to Allah SWT for the forgiveness of sins, purification of wealth, hope for a better future life, health, and longevity, as well as gratitude to Allah SWT. Zakat fitrah represents a social responsibility to create collective happiness among different social, cultural, and economic groups.
TRADISI MEREAMI BAGI ETNIS BUTON DI DESA BUBU KECAMATAN KAMBOWA KABUPATEN BUTON UTARA Yuslan Irawan; sitti hermina
SANGIA: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol 3 No 1: SANGIA, JURNAL PENELITIAN ARKEOLOGI, VOLUME 3, NO.1, 2019
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v3i1.577

Abstract

The purpose of this research is to find out and describe the process of implementing the tradition ofreforming, as well as analyzing the symbolic meaning contained in the tradition of reforming. The location of thisresearch is Bubu Village, Kambowa District, North Buton Regency. Determination of informants using purposivesampling technique. Data collection is done through direct observation, in-depth interviews and documentation.Data analysis is carried out in a description through three channels, namely, data reduction, data presentationand conclusion drawing. The results of this study indicate that the tradition of reforming is a tradition intended forpeople who have just had a new vehicle, in the hope that the vehicle can avoid bad things, besides this traditionaims to express gratitude because it has a vehicle and hopes that the fortune will always delegated. There arethree stages in the process of implementing the tradition of reami, namely the initial stages of preparationincluding the mecalentu procession (determining mari good) and the procession of medambai (cooking). Theimplementation stage includes a procession of accusing chickens, chicken slaughter processions, and chickenblood sprinkling processions. The final stage of the haroa included the priest burning incense, reading thecongratulatory prayer, and finally eating together. The symbolic meaning contained in the reami tradition isdivided into two: symbolic meanings of equipment including the meaning of rice, money and eggs, the meaningof fruits, the meaning of native chicken, the meaning of chicken blood, the meaning of incense (comfort), themeaning of rice one plate and eggs 1 seed in gutters . The symbolic meaning of behavior includes the meaningof the day (determination of the day), the meaning of the implementation of reami in the morning, the meaning ofcleaning parts of chicken as much as 3 times and the meaning of raising the sun rising when slaughtering chickens.