Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Pemodelan Debit Sungai Kahayan Menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan Berdasarkan Data Hujan dan Evapotranspirasi Very Dermawan; Widandi Soetopo; Jano Alpikarigo
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol. 11 No. 1 (2020)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pengairan.2020.011.01.05

Abstract

Debit merupakan suatu dasar dalam perencanaan pada sebuah kegiatan pengelolaan sumber daya air. Penentuan nilai debit dapat dilakukan melalui pengukuran secara langsung di lapangan ataupun melalui analisa. Dengan adanya analisa curah hujan terhadap debit sungai dapat menjadi alternatif dalam perencanaan bangunan air, dengan penggunaan metode yang tepat hasil analisa debit akan mendekati nilai hidrologis. Dalam studi ini analisa yang dilakukan menggunakan metode Jaringan Syaraf Tiruan untuk mengetahui hasil pemodelan debit sungai berdasarkan data hujan dan evapotranspirasi dan mengetahui perbandingan debit model dengan debit lapangan. Untuk mengetahui kesesuaian antara debit pemodelan terhadap debit lapangan, maka dilakukan kalibrasi dan pelatihan Jaringan Arsitektur dengan data latih 6 sampai 9 tahun serta verifikasi debit model dengan pembagian data 4 sampai 1 tahun dari data sisa kalibrasi. Pelatihan jaringan arsitektur digunakan epoch 500 sampai 2000. Uji yang digunakan yaitu Mean Square Error (MSE), Mean Absolute Error (MAE), Kesalahan Relatif (Kr), Koefisien Korelasi (R), Nash-Sutcliffe Efisiensi (NSE). Hasil pengujian debit model menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan terhadap debit lapangan berdasarkan hasil pengujian didapatkan bahwa di pembagian data latih 7 tahun dan data uji 3 tahun dengan epoch 1000 yang memenuhi kriteria dan memiliki nilai paling baik, berdasarkan nilai Nash-Sutcliffe Efisiensi (NSE), dan Koefisien Korelasi (R).
Analisis Prediksi Debit Sungai Amprong Dengan Model Arima (Autoregressive Integrated Moving Average) Sebagai Dasar Penyusunan Pola Tata Tanam Wiwin Sri Rahayu; Pitojo Tri Juwono; Widandi Soetopo
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol. 10 No. 2 (2019)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pengairan.2019.010.02.04

Abstract

An accurate determination of water availability in the 10-day period of the Amprong River has an important role in the planting system to support the agricultural production process in DI. Kedungkandang, because if the availability of water is not precisely determined, there will be an error in regulating irrigation water and its use is not as expected. To overcome these problems, an analysis system is needed that is able to make predictions well. One of the time series models is the ARIMA (Autoregressive Intregated Moving Average) model. The model was built by 9 period discharge data, namely 2008/2009 until 2016/2017, to predict the discharge of period 2017/2018. Of the ten tentative models obtained, there are only five models that are worth using. The best model is the ARIMA model (2,0,1) (1,2,1) 36 with the value of MSE = 22,90; KR = 6.00; MSD = 8.05; MAD = 2.04; MAPE = 18.53 and MPE = -8.98. In second crop season the crop intensity of paddy increased from 55.79% to 64.50%, and the production of GBK increased by 13.50%. While the third crop season paddy crop intensity increased from 37.22% to 49.99%, and GBK production increased by 25.54%.
Analisis Optimasi Untuk Prioritas Pembangunan Embung Berbasis Ketersediaan Air Di Kecamatan Kedungadem Kabupaten Bojonegoro Yulia Indriani; Lily Montarcih Limantara; Widandi Soetopo
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol. 11 No. 2 (2020)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pengairan.2020.011.02.03

Abstract

Kecamatan Kedungadem berada di Kabupaten Bojonegoro yang pada setiap tahunnya mengalami kekeringan. Diperlukan program peningkatan kapasitas embung secara bertahap. Untuk menentukan alokasi anggaran dana, dilakukan pemilihan tiga embung prioritas. Penelitian ini ditujukan untuk dasar penentuan pemilihan lokasi embung. Pemilihan embung prioritas menggunakan analisa manfaat keuntungan terbesar dengan berbasis ketersediaan air. Dari analisa manfaat keuntungan diperoleh prioritas pembangunan embung meliputi Embung Panjang, Embung Kepohkidul Dusun Pedang dan Embung Sidomulyo. Optimasi dilakukan dengan alokasi anggaran dana pada embung tersebut, agar menghasilkan keuntungan untuk irigasi. Dengan menggunakan metode dinamik stokastik, apabila kebijakan alokasi anggaran dana diterapkan, akan menghasilkan keuntungan yang jauh lebih besar apabila anggaran dibagi rata untuk ketiga embung tersebut. Jika dilakukan sesuai dengan perhitungan optimasi, nilai benefit cost ratio yang diperoleh sebesar 1.71. Akan tetapi apabila tidak diterapkan optimasi, benefit cost ratio yang diperoleh sebesar 0.67.
Analisis Biaya Pengelolaan Air Dengan Metode Sistem Dinamik Pada Waduk Jatigede Ussy Andawayanti; Harya Muldianto; Ery Suhartanto; Widandi Soetopo
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol. 12 No. 2 (2021)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pengairan.2021.012.02.11

Abstract

Pengoperasian dan pemeliharaan pada suatu waduk sangat penting dalam keberlanjutan fungsinya. Hal ini harus ditunjang dengan biaya pengoperasian dan pemeliharaan yang memadai. Adapun biaya pengoperasian waduk yang memadai terdiri dari biaya pengelolaan air dari pengguna air dan subsidi dari pemerintah jika diperlukan. Operasi dan pemeliharaan yang berkelanjutan harus menjaga subsidi pemerintah pada tingkat minimum, sementara pada saat yang sama harus juga mempertimbangkan kesediaan pengguna air untuk membayar. Kedua parameter subsidi dan iuran pengelolaan air ini membentuk suatu loop umpan balik yang saling bergantung dalam menentukan biaya operasi dan pemeliharaan, yang termasuk dalam fenomena dinamika sistem. Studi ini bertujuan untuk menghitung besarnya subsidi pemerintah dan besarnya iuran pengelolaan air agar mencapai pengelolaan sumber daya air yang optimal. Dengan pendekatan sistem dinamik dengan menggunakan program Powersim.. Analisis ini dilakukan di Waduk Jatigede Jawa Barat – Indonesia. Waduk Jatigede dengan volume 877 juta m3 yang digunakan untuk irigasi, pasokan air publik dan PLTA. Berdasarkan hasil simulasi agar mencapai pengolaan SDA yang optimal, didapat subsidi sebesar 0% pada kondisi normal, 0% pada kondisi basaha dan 0,88% pada kondisi kering. Adapun iuran pengelolaan air per m3 untuk PDAM Rp. 111,00, PAM Industri Rp. 175,00, Industri langsung Rp. 236,00, PLTA Rp.35.00/KWH dan subsidi Pemerintah Rp. 191.760.000,-.
Rice Self-Sufficiency and Optimization of Irrigation by Using System Dynamic . Asmelita; Lily M. Limantara; M. Bisri; Widandi Soetopo; Indra Farni
Civil Engineering Journal Vol 10, No 2 (2024): February
Publisher : Salehan Institute of Higher Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28991/CEJ-2024-010-02-010

Abstract

This research intends to optimize the results of irrigation canals with the conversion of function to fisheries without reducing rice self-sufficiency regionally. However, irrigation is an infrastructure asset that needs to be used optimally. It is due to the water; water sources and irrigation infrastructure can provide more benefits to rice fields, which are to function as fisheries in the study location (West Sumatra Province). The aim of this research is to propose the optimal combinations of irrigated land planted with rice and those in the form of fisheries. The methodology uses System Dynamics due to the official BPS data. There are many tools that are used in this system dynamics approach, such as causal diagrams, archetype systems, diagrams of stock and flow, and the behavior of over-time graphs. The DSS generator for simulating the program in this study uses Stella, which is a new paradigm in the water resources system approach. The result shows that the potential increase in income that could be obtained by converting the rice fields to tilapia fisheries is about 126 million Rupiah per year per hectare. West Sumatra Province, as a national rice granary, has many districts that are more self-sufficient in rice, so it can be considered to utilize irrigation to become the irrigation for fisheries. The potential of rice fields that can be converted into fisheries while maintaining self-sufficiency in rice at the district/city level of West Sumatra Province is more than 61 thousand hectares, and it generates an increase in income of about 7.7 trillion per year. Doi: 10.28991/CEJ-2024-010-02-010 Full Text: PDF
Studi Simulasi Pemberian Air Irigasi Berdasarkan Debit Andalan di Daerah Irigasi Bena Kecamatan Amanuban Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur Lake, Tania Chrisna Maria; Sayekti, Rini Wahyu; Soetopo, Widandi
Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 1 No. 2 (2021): Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air (JTRESDA)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtresda.2021.001.02.41

Abstract

The Bena Irrigation Area has 68 tertiary blocks where the total area of rice fields is 3515 ha with a length of 23 km. However, the Bena Irrigation Area experiences water deficits annually, particularly during the dry season. The phenomenon mentioned causes inefficiency from the functional point of view of The Bena Dam, which only irrigates 2470 Hectares of rice fields effectively. The phenomenon mentioned causes inefficiency from the functional point of view of The Bena Dam, which only irrigates 3515 Hectares of rice fields effectively. This thesis is discussing the simulation of water supply irrigation based on the Water Use Index (IPA) method. The purpose of the simulation is to overcome the water shortage at the Bena Irrigation Area by obtaining the ideal and/or most efficient volume of water by using the Water Use Index (IPA). Referring to the simulation presented with the IPA value at 0,5 hypothetically (good criteria), it revealed that the greatest volume is at 239,067 lt/sec at the first planting season, 862,948 lt/sec in the second planting season, and 39,571 lt/sec simultaneously. Daerah Irigasi Bena mempunyai petak tersier sebanyak 68 petak dimana luas total baku sawah 3515 ha dengan panjang 23 km. Namun, Daerah Irigasi Bena mengalami peningkatan kekurangan dan kekeringan air di setiap tahunnya terutama pada saat musim kemarau. Hal ini menyebakan Bendung Bena yang harusnya mengairi sawah seluas 3515 Ha hanya mampu mengairi sawah fungsional seluas 2470 Ha. Oleh karena itu, perlu adanya simulasi pemberian air irigasi untuk mengatasi kekurangan air yang terjadi di Daerah Irigasi Bena. Salah satu cara untuk mensimulasi penyediaan air irigasi menggunakan metode indeks penggunaan air (IPA). Tujuan dari simulasi pemberian air dengan nilai indeks penggunaan air (IPA) agar memperoleh hasil dari menghemat air irigasi yang paling hemat sehingga dapat mengatasi kekurangan air yang terjadi. Berdasarkan hasil simulasi nilai IPA diperoleh hasil dengan coba-coba nilai IPA = 0,5  (kriteria baik) mempunyai nilai paling besar adalah 862,948 lt/detik (musim tanam II) , 239,067 (musim tanam I), dan 39,571 lt/dtk (musim tanam III).
Analisis Neraca Air (Water Balance) Pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Rejoso Kabupaten Pasuruan Wintyaswan, Gevan Rangga; Sumiadi, Sumiadi; Soetopo, Widandi
Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 3 No. 1 (2023): Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air (JTRESDA)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtresda.2023.003.01.28

Abstract

One of the watershed areas in Indonesia has been identified as experiencing water balance problems in the Rejoso watershed, Pasuruan Regency, East Java, by looking at the condition of the water balance before and after the Umbulan Regional SPAM raw water was taken. Therefore, it is necessary to take measures for water management and conservation in a measurable, systematic way so that the potential negative impacts can be reduced and controlled. In this study, 2 water balance scenario simulations were also carried out to see whether the availability of water experienced a surplus or deficit using the method FJ Mock uses the Basic Month and Basic Year statistical tests. The discharge reliability level is calculated based on the Distribution Conformity Test examination of 80% with a 20% chance of failure. Calculation of the total Availability of Discharge for Domestic Water Needs, Irrigation, Fisheries, Industry and River Maintenance is 108,562 million m3/year. The Projection of Total Water Demand for Scenario 1 by taking the Umbulan Spring Debit of 4000 lt/sec for Regional SPAM is 116.757 million/m3. Projected Total Water Demand for Scenario 2 (without Industrial Groundwater) by taking Umbulan Spring Debit 5000 lt/sec for Regional SPAM is 67.780 million/m3.Dengan membandingkan keseimbangan air sebelum dan sesudah asupan air baku SPAM Regional Umbulan, ditentukan bahwa salah satu daerah aliran sungai Indonesia, DAS Rejoso di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, mengalami masalah dengan keseimbangan air. Oleh karenanya perlu dilakukan langkah-langkah pengelolaan serta konservasi air secara terukur, sistematis agar potensi dampak negatif dapat dikurangi dan dikendalikan. Pada penelitian ini juga dilakukan simulasi skenario neraca air sebanyak 2 kalipercobaan untuk melihat ketersediaan air apakah mengalami Surplus atau Defisit dengan Metode FJ. Mock menggunakan uji statistika Basic Month dan Basic Year. Tingkat keandalan debit dihitung berdasarkan pemeriksaan Uji KesesuaianDistribusi sebesar 80% dengan peluang kegagalan 20%. Perhitungan total Ketersediaan Debit untuk Kebutuhan Air Domestik, Irigasi, Perikanan, Industri dan Pemeliharaan Sungai sebesar 108,562 Juta m3/Tahun. Proyeksi Kebutuhan Air Total untuk Skenario 1 dengan pengambilan Debit Mata Air Umbulan 4000 lt/dt untuk SPAM Regional adalah 116,757 Juta/m3. Proyeksi Kebutuhan Air Total untuk Skenario 2 (tanpa Air Tanah Industri) dengan pengambilan DebitMata Air Umbulan 5000 lt/dt untuk SPAM Regional adalah 67,780 Juta/m3.
Studi Optimasi Pemanfaatan Air Irigasi Menggunakan Program Linier pada Daerah Irigasi Pirang Kabupaten Bojonegoro Triwidianto, Heru; Limantara, Lily Montarcih; Soetopo, Widandi
Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 3 No. 1 (2023): Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air (JTRESDA)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtresda.2023.003.01.26

Abstract

The Pirang Irrigation Area has a total area of 1,314 hectares of raw rice fields located in Bojonegoro Regency. The problems that occur in this irrigation area are irregularities in the implementation of cropping pattern that are not according to the plan and the availability of water that cannot meet irrigation needs. Therefore, it is necessary to optimize the available land area and discharge to maximize agricultural profits. Optimization is carried out using a linear programming method with a solver facility in Microsoft Excel. In this study, 1 existing cropping pattern and 4 alternative are planned with 80% and 50% mainstay discharge conditions. The results of the water balance at each cropping pattern before being optimized experienced a water balance deficit with a percentage of 22-25%. However, after optimizing all cropping patterns, none of them experienced a water balance deficit. The optimization results also showed that each alternative cropping pattern experienced an increase in planting intensity and also the benefits of agricultural products compared to the existing cropping pattern at 80% and 50% mainstay discharge conditions. For the best cropping pattern at 80% mainstay discharge conditions, namely alternative 3 (rice ­- peanut - rice) with a planting intensity of 228.33% and a profit of Rp. 54,664,759,359, and in the 50% mainstay discharge condition, alternative 1 was chosen (rice, corn - rice, corn - rice, corn) with a planting intensity of 253.37% and a profit of Rp. 54,099,646,076. Daerah Irigasi Pirang memiliki luas baku sawah 1.314 Ha yang berlokasi di Kabupatern Bojonegoro. Permasalahan yang terjadi pada daerah irigasi ini yaitu penyimpangan pelaksanaan PTT yang tidak sesuai rencana serta ketersediaan air yang tidak dapat mencukupi kebutuhan irigasi. Maka dari itu diperlukanlah pengoptimalan luas lahan dan debit yang tersedia sehingga dapat memaksimalkan keuntungan pertanian. Optimasi dilakukan menggunakan metode program linier dengan alat bantu fasilitas solver pada Microsoft Excel. Pada studi ini direncanakan 1 PTT eksisting dan 4 PTT alternatif dengan kondisi debit andalan 80% dan 50%. Hasil neraca air pada setiap PTT sebelum dioptimasi mengalami defisit neraca air dengan persentase 22-25%. Namun, setelah dioptimasi seluruh PTT tidak ada yang mengalami defisit neraca air. Dari hasil optimasi juga menunjukkan pada setiap PTT alternatif mengalami peningkatan intensitas tanam dan juga keuntungan hasil pertanian daripada PTT eksisting di kondisi debit andalan 80% maupun 50%. Untuk PTT terbaik pada kondisi debit andalan 80% yaitu alternatif 3 (padi - palawija (kacang tanah) - padi) dengan intensitas tanam 228,33% dan keuntungan Rp. 54.664.759.359, serta pada kondisi debit andalan 50% terpilih alternatif 1 (padi, palawija (jagung) - padi, palawija (jagung) - padi, palawija (jagung)) dengan intensitas tanam 253,37% dan keuntungan Rp. 54.099.646.076.
Studi Optimasi Pemanfaatan Air Irigasi Menggunakan Program Linier Pada Daerah Irigasi Manikin Kabupaten Kupang Kharistanto, Robertus Tegar Kurnia; Limantara, Lily Montarcih; Soetopo, Widandi
Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 3 No. 1 (2023): Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air (JTRESDA)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtresda.2023.003.01.42

Abstract

Manikin Area of Irrigation irrigates 201.87 hectares of rice fields, located in NTT which is known for its long dry season, this directly affects the availability ofwater for irrigation. So that the availability of water during the dry season is sufficient and can irrigate the fields, optimization is carried out on the area of plants to be irrigated using the available water availability with the linear programming method in order to get the optimal planting area and the benefits obtained are also more optimal. This study was conducted by optimizing the existing cropping pattern and adding three alternative cropping patterns as an option at 80% (dry), 50% (normal), and 30% (wet) discharge. After optimizing all mainstay discharges, the average water balance which can only be met by 80% of the fulfilled period can be maximized to 100% of the fulfilled period, with details for the existing planting intensity of 200%, and a profit of Rp. 4,643,010,000, alternative 1 has a planting intensity 269.78%, anda profit of Rp. 6,234,664,440, alternative 2 has a planting intensity of 300%, and a profit of Rp. 6,915,540,000, alternative 3 has a planting intensity of 269.78%, and a profit of Rp. 5,854,139,490. Alternative 2 cropping pattern with rice-paddy/peanutrice was chosen as the best one to implement because it has an optimal planting intensity of 300% and a profit of Rp.6,915,540,000 per year, which is greater than Rp. 2,272,530,000 from the profit of the existing cropping pattern which is only Rp. 4,643,010,000 per year. Daerah Irigasi Manikin mengairi sawah seluas 201,87 hektar, terletak di NTT yang dikenal dengan musim kemarau panjang, hal tersebut secara langsung berpengaruh pada ketersediaan air untuk irigasinya. Agar ketersediaan air saat musim kemarau tercukupi dan dapat mengairi sawah, dilakukan optimasi pada luas areal tanaman yang akan diairi menggunakan ketersediaan air yang ada dengan metode program linier supaya mendapatkan luasan tanam yang optimal dan keuntungan yang didapat juga lebih optimal. Studi ini dilakukan dengan pengoptimalan pola tanaman di lapangan dan penambahan tiga pola tanam alternatif sebagai pilihan pada debit andalan 80% (kering), 50% (normal), dan 30% (basah). Setelah dioptimasi pada semua debit andalan, rerata neraca air yang hanya dapat tepenuhi 80% periode tercukupi dapat di maksimalkan ke 100% periode tercukupi, dengan rincian untuk eksisting memiliki intensitas tanam 200%, dan keuntungan Rp.4.643.010.000, alternatif 1 memiliki intensitas tanam 269,78%, dan keuntungan Rp.6.234.664.440, alternatif 2 memiliki intensitas tanam 300%, dan keuntungan Rp.6.915.540.000, alternatif 3 memiliki intensitas tanam 269,78%, dan keuntungan Rp.5.854.139.490. Pola tanam alternatif 2 dengan tanaman padi- padi/kacang tanah-padi dipilih sebagai yang terbaik untuk dilaksanakan karena memiliki intensitas tanam yang optimal 300% dan keuntungan sebesar Rp.6.915.540.000 per tahun lebih besar Rp. 2.272.530.000 dari keuntungan pola tanam eksisting yang hanya Rp.4.643.010.000 per tahun.
Penilaian Spasio-Temporal Kualitas Air Irigasi di Daerah Irigasi Kali Metro, Jawa Timur, Indonesia Amik, Arra Misrokhis; Soetopo, Widandi; Siswoyo, Hari
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 6, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37637/ab.v6i3.1297

Abstract

Daerah Irigasi Kali Metro mendapatkan suplai air dari Sungai Metro melalui bangunan utama yaitu Bendung Mergan. Berdasarkan hasil survei di lapangan, diketahui bahwa kondisi air di Sungai Metro saat ini tidak hanya berasal dari mata airnya melainkan juga sudah tercampur dengan limbah domestik. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk menilai kualitas air irigasi secara spasio-temporal dan kesesuaiannya dengan tanah dan tanaman pada lahan pertanian di Daerah Irigasi Kali Metro. Penilaian kualitas air irigasi dilakukan dengan menggunakan Model Indeks Kualitas Air Irigasi. Nilai indeks kualitas air irigasi di lokasi penelitian baik secara spasial maupun secara temporal berada pada rentang 70–85. Air irigasi dapat diberikan pada lahan pertanian dengan kondisi permeabilitas tanah sedang dan tidak untuk diberikan pada tanaman- tanaman yang sensitif terhadap garam.