Santoso, Imam
Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Published : 90 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS PROTOKOL ISUP DAN PROTOKOL BICC PADA CORE NETWORK UMTS REL.4 Melia Dewi Murni; Imam Santoso; Sukiswo Sukiswo
Transient: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro TRANSIENT, VOL. 2, NO. 3, SEPTEMBER 2013
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.013 KB) | DOI: 10.14710/transient.v2i3.776-785

Abstract

Abstrak Protokol yang umum digunakan untuk interkoneksi antara MSC server adalah protokol ISUP yang berbasis TDM dan protokol BICC yang berbasis paket data. Dalam penelitian ini dianalisis kinerja protokol ISUP dan protokol BICC pada Core Network UMTS Rel.4. Pada analisis parameter trafik, nilai tertinggi ASR (Answered Seizure Ratio) dan SCR (Successfull Call Ratio) pada protokol ISUP sudah memenuhi standard KPI (Key Performance Indicator) yaitu sebesar 50% dan SCR sebesar 47,58%. Sedangkan pada protokol BICC, nilai tertinggi ASR dan SCR tidak memenuhi standar KPI yaitu sebesar 31,01%. Secara garis besar nilai tertinggi GoS (Grade of Service) pada protokol BICC sudah memenuhi standar KPI dan pada protokol ISUP tidak memenuhi standar KPI dikarenakan nilainya mencapai 40,76%. Nilai MHTS (Mean Holding Time per Seizure), SCH (Seizure per Circuit per Hour) dan OCC (Occupancy Rate) pada protokol ISUP dan protokol BICC tidak memenuhi standar KPI. Pada protokol ISUP, nilai tertinggi untuk MHTS yaitu 12,129 menit, SCH yaitu 0,3075, dan OCC yaitu 2,7%. Pada protokol BICC, nilai tertinggi untuk MHTS yaitu 3,144 menit, SCH yaitu 1,294, dan OCC yaitu 1,93%. Ini membuktikan bahwa pada protokol ISUP memiliki tingkat kesuksesan panggilan lebih tinggi daripada protokol BICC namun sering terjadi masalah transmisi pada protokol ISUP sehingga sirkit tidak bisa diduduki (seizure times). Pada perhitungan ADPH juga didapat bahwa sirkit yang disediakan oleh operator jauh lebih besar daripada intensitas trafik yang terjadi. Kata kunci : Protokol ISUP, protokol BICC, parameter trafik, ADPH  Abstract Protocols that commonly used for the interconnection between the MSC server are ISUP protocol that TDM-based and BICC protocol that packet data-based. In this study analyzed the performance of  ISUP protocol and BICC protocol on UMTS Core Network Rel.4. In the analysis of the traffic parameters, the highest ASR (Answered Seizure Ratio) and SCR (Successfull Call Ratio) ISUP protocol meets the standard KPI (Key Performance Indicator) that is equal to 50% and SCR equal to 47.58%. While in the BICC protocol, the highest ASR and SCR does not meet the standards KPI is equal 31.01%. Broadly speaking, the highest value of GoS (Grade of Service) in the BICC protocol to meet the standard KPI and the ISUP protocol does not meet the standards because the KPI value reached 40.76%. MHTS value (Mean Holding Time per seizure), SCH (Seizure per Circuit per Hour) and OCC (Occupancy Rate)  ISUP protocol and BICC protocol does not meet the KPI standards. In the ISUP protocol, the highest value for MHTS is 12.129 minutes, SCH is 0.3075, and the OCC is 2.7%. In the BICC protocol, the highest value is 3,144 minutes for MHTS, SCH is 1,294, and the OCC is 1.93%. This proves that the ISUP protocol has a higher call success rate than the BICC protocol, but often there are problems in the transmission of ISUP protocol so that the circuit can not be occupied (seizure times). In the calculation of ADPH also found that the circuit is provided by the carrier is much greater than the intensity of traffic that occurs. Keywords: ISUP protocol, BICC protocol, traffic parameters, ADPH
EVALUASI KINERJA DIVERSITAS BERBASIS STBC (SPACE TIME BLOCK CODE) MENGGUNAKAN METODE ESTIMASI KANAL MMSE (MINIMUM MEAN SQUARE ERROR) Rosyid Haryadi; Imam Santoso; Ajub Ajulian Zahra
Transient: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro TRANSIENT, VOL. 3, NO. 3, SEPTEMBER 2014
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.664 KB) | DOI: 10.14710/transient.v3i3.379-383

Abstract

Abstrak Telekomunikasi nirkabel sangat rentan terhadap gangguan seperi derau dan interferensi. Adanya lintasan jamak pada sinyal dapat menimbulkan terjadinya fading yaitu naik turunnya level sinyal yang diterima karena sinyal yang diterima berinterferensi dengan sinyal yang mengalami tundaan. Fading mengakibatkan turunnya kinerja sistem telekomunikasi yang ditandai dengan tingginya BER (Bit Error Rate). Salah satu cara untuk mengatasi fading ini adalah dengan menggunakan teknik diversitas berbasis STBC. Teknik diversitas STBC menggunakan lebih dari satu antena dan mengirim salinan data yang sudah dikodekan secara simultan. Pada sisi penerima akan dilakukan decoding untuk mendapatkan kembali data yang dikirimkan. Proses decoding ini membutuhkan informasi respon kanal. Informasi kedaan kanal ini dapat diperoleh dengan estimasi. Metode yang lazim dipakai untuk estimasi adalah MMSE (Minimum Mean Square Error). Teknik STBC sendiri memiliki beberapa bentuk, diantaranya STD (Simple Transmit Diversity), EA, (Extended Alamouti), dan QOSTBC (Quasi Orthogonal Space Time Block Code). Pada tugas akhir ini dilakukan simulasi untuk mengetahui kinerja sistem diversitas berbasis STBC ini menggunakan metode estimasi kanal MMSE. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kinerja sistem STD lebih baik dari sistem tanpa diversitas dengan selisih 15dB untuk target BER 10-4. Sedangkan Extended Alamouti EA  hanya sedikit lebih baik dari sistem STD, yaitu berselisih sekitar 1 dB. QOSTBC lebih baik dari STD dan EA pada nilai SNR yang rendah yaitu nilai SNR di bawah 25 dB, di atas tingkat SNR tersebut, STD dan EA lebih unggul ditandai dengan nilai BER QOSTBC yang lebih rendah. Kata Kunci : Space Time Block Code, Simple Transmit Diversity, Extended Alamouti, Quasi Orthogonal STBC, Minimum Mean Square Error  Abstract Wireless telecommunicationsis very susceptible to disturbance such as noise and interference. The existence of multipath on signal propagationcan cause fading, that is the fluctuation ofthe receivedsignal leveldue tointerference with the delayed signal. Fading causes a decline onthe performance ofthe telecommunicationssystemthatis characterized by highBER(Bit Error Rate). One wayto mitigate this phenomenon is to usediversitytechniquesbased on STBC. STBCdiversitytechnique uses morethanoneantennaandsends copy ofthe datathat has beenencoded, simultaneously.Receiver will decode to recoverthe transmitted data. Thedecodingprocessrequireschannelresponse information. This channel stateinformationcan beobtained byestimation. Common used method for estimation is MMSE(Minimum MeanSquareError). STBCtechniqueitselfhas several kinds, those are STD(Simple TransmitDiversity), EA(Extended Alamouti), andQOSTBC(Quasi OrthogonalSpace TimeBlockCode). In this final project simulationconductedtodetermine the performance ofSTBC-based diversitysystemusingMMSEchannel estimationmethod. The results showthat theperformance ofthe STDsystem is betterthansystemwithoutdiversity with difference about 15dB for BER target 10-4.While Extended Alamout is only slightly betterthanthe STDsystem, about 1dB.QOSTBC is betterthanSTDandEAata lowSNR below 25dB, above that level, STDandEAaremore superior. Keyword :            Space Time Block Code, Simple Transmit Diversity, Extended Alamouti, Quasi Orthogonal STBC, Minimum Mean Square Error
ANALISIS KINERJA TCP BIC UNTUK PENCEGAHAN KONGESTI PADA JARINGAN LTE DENGAN MENGGUNAKAN NETWORK SIMULATOR 2.33 M. Fajri Fitrianto; Sukiswo Sukiswo; Imam Santoso
Transient: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro TRANSIENT, VOL. 3, NO. 3, SEPTEMBER 2014
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (774.086 KB) | DOI: 10.14710/transient.v3i3.415-421

Abstract

Abstrak LTE merupakan teknologi telekomunikasi yang dikembangkan oleh 3GPP dari GSM. LTE  berbasis flat-IP, yaitu semua informasi dilewatkan melalui teknologi IP dan berkecepatan akses yang sangat tinggi. Perkembangan ini diikuti peningkatan trafik yang menyebabkan penurunan QoS sehingga perlu dilakukan pengontrolan menggunakan BIC pada TCP dimana BIC meningkatkan window dengan algoritma additive increase dan binary search sesuai dengan ketersediaan bandwidth serta akan menurunkan window saat kongesti menjadi β kali ukuran window sebelum terjadi kongesti. Berdasarkan hal tersebut maka pada penelitian ini dilakukan simulasi jaringan LTE dengan agen pembawa TCP dengan algoritma BIC dengan menggunakan NS 2.33. Kemudian dilakukan analisis throughput dan fairness dengan jumlah user 5 dan dalam satu jaringan LTE yang sama dengan variasi β(Beta) yang digunakan adalah 0.6 hingga 0.9, serta analisa terhadap delay end to end dengan 6 buah user yang aktif menggunakan variasi topologi 1 eNodeB, 2 eNodeB dan 2 gateway. Dari hasil simulasi didapatkan throughput rata-rata BIC β 0.9 memiliki throughput paling tinggi namun memiliki fairness yang rendah, sedangkan BIC β 0.6 memiliki throughput paling rendah tetapi memiliki indeks fairness paling tinggi. Pada analisis delay end to end didapatkan delay pada topologi 1 eNodeB 4.8 ms, topologi 2 eNodeB 8.9 ms dan topologi 2 gateway 11.8 ms. Kata kunci :  LTE, BIC, kontrol kongesti, throughput, fairness, delay end to end.  Abstract LTE is telecommunication technology which was developed by 3GPP based on GSM. LTE is All-IP based technology and has very high access rate, which lead the traffic rising and QoS degradation. It’s needed to control QoS  using BIC algorithm on TCP. BIC will increase the window using additive increase and binary search algorithm according to the bandwidth availability, BIC will decrease the window size when congested toβ times the last window size before congestion. In this research LTE simulated by NS 2.33 using TCP BIC as transport agent. Throughput, fairness and end to end delay are being analyzed. To analyze throughput and fairness 5 active user in one network system with decrease factor (β) 0.6 to 0.9. To analyze end to end delay, 3 topology (1 eNodeB, 2 eNodeB and 2 gateway). As the result, throughput BIC β 0.9 has the highest throughput than the other BIC variations, but has the lowest fairness index. In the other hand, BIC β 0.6 has the lowest throughput, but has the highest fairness index. In delay end to end analyze, resulting in 1 eNodeB topology is 4.8 ms, in 2 eNodeB topology is 8.9 ms and in 2 gateway topology is 11.8 ms. Keywords:  LTE, BIC, Congestion Control, throughput, fairness, delay end to end
ANALISIS KINERJA JARINGAN DWDM BERDASARKAN PERBEDAAN TIPE SERAT OPTIK MENGGUNAKAN CISCO TRANSPORT PLANNER RELEASE 9.2 Hana’ Ad’ha Rodhiah; Imam Santoso; Ajub Ajulian Zahra
Transient: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro TRANSIENT, VOL. 3, NO. 3, SEPTEMBER 2014
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.428 KB) | DOI: 10.14710/transient.v3i3.358-366

Abstract

Abstrak DWDM (Dense Wavelength Division Multiplexing) merupakan salah satu jenis teknik multupelxing yang terus dikembangkan dalam sistem komunikasi serat optik yang mampu mentransmisikan lebih dari 400 panjang gelombang. Teknologi DWDM saat ini kecepatan aksesnya bisa dipacu hingga 1 Tbps atau 1.000 Gbps dengan salah satunya didukung oleh kemampuan serat optik yang digunakan dalam proses transmisi data. Dan untuk mengetahui kinerja jaringan DWDM ada beberapa parameter yang perlu diperhatikan yaitu berupa power link budget jaringan, rugi-rugi daya akibat redaman serat, akibat dispersi, link avaibability dan latency jaringan.  Pada penelitian ini akan dilakukan analisis terhadap pengaruh dari berbagai Jenis serat optik, khususnya karakteristik nilai redaman dan dispersi dari tiap serat optik yang sering digunakan pada sistem komunikasi serat optik Metro WDM. Ini berguna untuk melihat pengaruhnya pada jaringan agar didapat sistem yang optimal pada.Pada penelitian ini digunakan 11 Jenis serat optik yaitu Non Dispertion Shifted Fiber (NDSF) dan Non Zero Dispertion Shifted Fiber (NZDSF) dengan topologi point to point. Dan dengan menggunakan perangkat lunak Cisco Transport Planner 9.2 (CTP) dilakukan analisis kinerja jaringan terhadap berbagai Jenis fiber untuk mengetahui fiber yang tepat pada sistem DWDM.Secara keseluruhan jenis serat optik yang paling optimal pada sistem DWDM adalah True Wave Reach. Kata kunci: DWDM, Kinerja Jaringan, NDSF, NZDSF  Abstract DWDM (Dense Wavelength Division Multiplexing) is one type multupelxing techniques are constantly being developed in the optical fiber communication system capable of transmitting more than 400 wavelengths. The current DWDM technology access speed can be driven up to 1 Tbps or 1.000 Gbps with one of them supported by the ability of the optical fiber used in the data transmission process. And to determine the performance of DWDM networks there are several parameters that need to be considered in the form of a network link power budget, power losses due to fiber attenuation, due to dispersion, avaibability link and network latency. This research will be the analysis of the influence of various type of optical fiber, in particular the characteristics of attenuation and dispersion values of each optical fiber is commonly used in optical fiber communication systems Metro WDM. It is useful to see the effects on the network in order to obtain the optimal system. In this study used 11 type of optical fiber that is non Dispertion shifted Fiber (NDSF) and Non-Zero Dispertion shifted Fiber (NZDSF) with point-to-point topology. And by using the Cisco Transport Planner Software 9.2 (CTP) analyzes network performance against various type of fiber to determine the exact fiber in DWDM systems. Overall most types of optical fiber DWDM system is optimal in the True Reach Wave. Keywords: DWDM, Networks Performance, NDSF, NZDSF
ANALISIS PERFORMANSI LAYANAN SMS (SHORT MESSAGE SERVICE) PADA SMSC (SHORT MESSAGE SERVICE CENTER) JARINGANCDMA2000-1X Apriliani Sulistyoningrum; Imam Santoso; Ajub Ajulian Zahra
Transient: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro TRANSIENT, VOL. 1, NO. 3, SEPTEMBER 2012
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1118.73 KB) | DOI: 10.14710/transient.v1i3.101-106

Abstract

Abstrak   CDMA (Code Division Multiple Access) merupakan salah satu teknologi seluler yang digunakan di dunia telekomunikasi saat ini, salah satu kelebihan teknologi  CDMA adalah memiliki bit rate yang tinggi sehingga kecepatan tinggi untuk transfer data. Salah satu varian dari teknologi CDMA adalah CDMA2000-1x. Seperti teknologi seluler GSM, CDMA juga menyediakan layanan data dan layanan suara. Salah satu layanan data adalah layanan pesan singkat yang biasa disebut sebagai Short Message Service (SMS). Melihat banyaknya jumlah pengguna layanan SMS, tingkat performansi dari jaringan harus memiliki kualitas yang baik agar pengiriman pesan SMS tidak mengalami kegagalan atau penundaan Penelitian ini membahas tentang performansi layanan pesan SMS oleh pusat pesan SMSC pada jaringan CDMA2000-1x dengan memperhatikan berbagai parameter yang mempengaruhi hal itu, seperti Service Accessibility (SA), Delivery Delay (AD), Completion Rate SMS (CR), SMS Total Delivery, Busy Hour Message Service (BHSM) dan Utilisasi. Data ini merupakan hasil pemilihan dari monitoring sistem selama 31 hari pada bulan Juli 2011.Dari 31 hari pengamatan, ada 74,19% nilai utilitas performansi SMS berada di bawah standard KPI (Key Performance Indicator) (>90%) dan 25,80% nilai utilitas di atas standard KPI (<90), nilai  CR tertinggi dalam satu  bulan  terjadi pada minggu pertama sebanyak 1.284.220 sms, CR  terkecil adalah 547.414 di minggu kelima, hampir 80% puncak waktu pengiriman SMS selama satu bulan terjadi dipukul 20.00.   Kata Kunci: Utilitas, CR, BHSM, performansi layanan SMS     Abstract CDMA is one of the cellular technology used in today's telecommunications world, one of the advantages of CDMA is a high bit rate so as to transfer the data have a high speed. One variant of CDMA technology is CDMA2000-1x. As cellular technologies GSM, CDMA also provides data and voice services. One of the data services is a short message service commonly referred to as Short Message Service (SMS). Seeing the large number of SMS users, the performance of the network must have a good quality so that SMS messaging is not a failure or delay. This study discusses the performance of services SMS message center SMSC on CDMA2000-1x network by taking into account various parameters that affect it, such as Service Accesibility (SA), Delivery Delay (AD), Completion Rate SMS (CR), Number of Successfully SMS and SMS Total Delivery. The data is the result of the query the system for 30 days in July 2011. Of the 31 days of observation, there was 74.19% SMS utility value performance > 90% and 25.80% above the standard utility value KPI, Higest CR in the month is the first week 1,284,220 sms, the smallest is 547 414 at  fifth week, BHSM almost 80% peak time SMS delivery occurred at 20.00.   Keywords: SMS, CDMA, SA, AD, CR.
PERANCANGAN ANTENA BOWTIE SEBAGAI PENERIMA SIARAN TELEVISI DIGITAL PADA RENTANG FREKUENSI UHF (ULTRA HIGH FRQUENCY) Enggar Hindami Hadyan; Imam Santoso; Teguh Prakoso
Transient: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro TRANSIENT, VOL. 4, NO. 4, DESEMBER 2015
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.333 KB) | DOI: 10.14710/transient.v4i4.1087-1094

Abstract

Antena bowtie adalah salah satu jenis dari antena dipole biconical karena antena bowtie merupakan bentuk lempeng dari antena biconical. Antena bowtie ini memiliki beberapa keunggulan antara lain berbentuk sederhana, berpita lebar dan mudah untuk dibuat. Antena bowtie memiliki lebar pita antara 17-40%. Untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan tersebut, perlu memperhatikan beberapa parameter antena seperti pola radiasi, voltage standing wave ratio (VSWR), lebar pita dan |S11|. Frekuensi, gain serta cakupan antena juga merupakan parameter yang penting untuk antena bowtie. Namun hal yang paling berpengaruh bagi kinerja antena bowtie adalah bentuk, ukuran antena dan strukturnya. Pada penelitian ini dilakukan perancangan antena bowtie dengan frekuensi resonansi pada frekuensi UHF 600 MHz. Antena bowtie yang difabrikasi memiliki ketebalan 0,3 mm, ukuran sisi elemen terpanjang sebesar 50 cm dengan besar sudut 120o. Jarak antara elemen sebesar 2 cm dan jarak antara elemen antena dengan reflektor adalah 12,5 cm. Antena hasil fabrikasi tersebut kemudian diuji di laboratorium untuk mendapatkan nilai VSWR dan besar daya penerimaannya serta antena juga diujikan sebagai penerima siaran televisi digital di Kota Semarang. Dari hasil pengujian didapatkan nilai VSWR antena sebesar 1,02 lebih baik dari antena pembanding PF Indoor HD14 dengan nilai VSWR 1,28. Lebar pita dari hasil pengujian sudah memenuhi teori besar lebar pita antena bowtie yaitu sebesar 24,8%. Hasil pengujian sebagai penerima siaran televisi digital untuk lima kanal, antena bowtie memiliki kinerja yang lebih baik dari antena pembanding PF Indoor HD14 dengan rerata nilai kekuatan sinyal sebesar 71% dan rerata nilai kualitas sinyal 77,4% dibandingkan dengan rerata nilai kekuatan dan kualitas sinyal PF Indoor HD sebesar 64,2% dan 70,4%. 
KINERJA STEGANOGRAFI METODE END OF FILE PADA DATA CITRA DIGITAL Lulu Maftukhatul Jannah; Imam Santoso; Yuli Christyono
Transient: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro TRANSIENT, VOL. 7, NO. 1, MARET 2018
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.208 KB) | DOI: 10.14710/transient.v7i1.34-39

Abstract

Steganografi merupakan teknik yang digunakan utuk menyembunyikan data ke dalam data lainnya. Pada Penelitian ini data yang disembunyikan atau disisipkan yaitu berupa pesan teks dan media penampung yang digunakan yaitu citra digital biner dan citra digital greyscale. Salah satu metode pada steganografi yaitu End of File. Pada Penelitian ini dirancang suatu sistem penyisipan data yang mana data akan disisipkan pada baris terakhir media penampung. Tujuan pembuatan Penelitian ini guna mendapatkan hasil citra stego yang baik yang dapat ditunjukkan dengan nilai PSNR. Nilai PSNR yang dihasilkan pada citra stego biner dan greyscale yaitu 100% diatas 20 dB. Berdasarkan hasil pengujian steganografi dengan variasi ukuran citra 592x525, 200x196 dan 75x98 yang akan disisipkan pesan dengan variasi panjang pesan sebanyak 7 karakter, 195 karakter dan 524 karakter, hasil dari penyisipan pesan kedalam citra akan menghasilkan empat format citra yaitu BMP, JPEG, PNG dan TIFF. Hasil desteganografi menunjukkan bahwa ketika pengungkapan pesan dilakukan tanpa adanya manipulasi citra, tingkat keberhasilan mencapai 75% .
ANALISIS KUALITAS LAYANAN PANGGILAN PADA TELEKOMUNIKASI BERGERAK 3G Fandi Yusuf Nugroho; Imam Santoso; Ajub Ajulian Zahra
Transient: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro TRANSIENT, VOL. 2, NO. 2, JUNI 2013
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.564 KB) | DOI: 10.14710/transient.v2i2.316-321

Abstract

Abstrak Teknologi WCDMA (Wideband Code Division Multiple Access)  merupakan teknologi akses yang dikembangkan sebagai standar teknologi telepon bergerak generasi ketiga (3G). Penggunaan  chip rate  sebesar 3,84 Mbps memungkinkan pelanggan pengguna teknologi WCDMA memperoleh kecepatan pengiriman data yang tinggi untuk masing-masing pengguna. Dengan teknologi tersebut diharapkan akan diperoleh kualitas yang baik pula untuk layanan suaranya (voice). Pengukuran kualitas panggilan untuk layanan sistem WCDMA dapat dilakukan dengan melihat beberapa parameter kualitas layanan panggilan jaringan. Tugas akhir ini melakukan analisis beberapa parameter kualitas layanan panggilan pada jaringan 3G yaitu CSSR (Call Setup Ratio), CDR (Call Drop Ratio), HSR (Handover Success Ratio), CCR (Call Congestion Ratio), SCR (Successful Call Ratio). Parameter yang dianalisis berdasarkan data jumlah call attempt, call setup, jumlah block call dan drop call, serta jumlah handover yang terjadi di 6 BTS di kota Semarang. Hasil perhitungan parameter kualitas layanan panggilan dalam tugas akhir ini adalah berupa presentase kemudian ditampilkan dalam bentuk grafik. Berdasarkan hasil analisis pada data real kualitas layanan panggilan didapatkan hasil nilai CSSR rata-rata pada 6 BTS tersebut adalah 94%. Nilai CDR setelah dianalisis didapatkan nilai rata-rata yaitu 3% untuk semua BTS.Untuk nilai SCR didapatkan rata-rata sebesar 90% dan CCR sebesar 2,5%. Sedangkan rata-rata nilai HSR untuk masing-masing BTS adalah 90%. Kata kunci : WCDMA, 3G, CCSR, CDR, HSR  Abstract WCDMA (Wideband Code Division Multiple Access) is an access technology that was developed as a standard third generation of mobile phone technology (3G). The use of chip rate of 3.84 Mbps WCDMA technology enables users to obtain customer data transmission speeds for each user. With these technologies are expected to obtain good quality also for voice services (voice). Call for service quality measurement WCDMA system can be done by looking at some network call service quality parameters. This thesis to analyze several parameters of quality of service calls on the 3G network CSSR (Call Setup Ratio), CDR (Call Drop Ratio), HSR (Handover Success Ratio), CCR (Call Congestion Ratio), SCR (Successful Call Ratio). Parameters are analyzed based on the amount of data call attempt, call setup, call block number and drop call, as well as the number of handovers that occur at 6 sites in the city of Semarang. Results of calculation of service quality parameters of the call in this thesis is a percentage then displayed in graphical form. Based on the analysis of real data quality call services showed an average value of CSSR at 6 BTS is 94%. CDR values obtained after analysis the average value of 3% for all BTS.Untuk SCR values obtained on average by 90% and by 2.5% CCR. While the average value of HSR for each BTS is 90%. Keyword : WCDMA, 3G, CSSR, CDR, HSR
PERANCANGAN ANTENA SKEW-PLANAR UNTUK KOMUNIKASI UNMANNED AERIAL VEHICLE FREKUENSI 2,4 GHz Ardhian Ainul Yaqin; Imam Santoso; Teguh Prakoso
Transient: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro TRANSIENT, VOL. 5, NO. 4, DESEMBER 2016
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1189.951 KB) | DOI: 10.14710/transient.v5i4.473-481

Abstract

Komunikasi antara ground station controller dan pesawat Unmanned aerial vehicle (UAV) dapat terganggu saat antena pemancar tidak mengarah dengan posisi yang tepat terhadap sudut terbang pesawat dengan adanya pointing error loss dan saat pesawat bermanuver menggunakan antena berpolarisasi linear dengan adanya polarization mismatch. Berdasarkan permasalahan tersebut, pada penelitian ini dirancang antena skew-planar yang bekerja pada frekuensi 2,4 GHz yang memiliki polaradiasi omnidirectional dan polarisasi sirkular. Studi parameter dilakukan untuk mendapatkan desain antena yang optimal berdasarkan hasil simulasi menggunakan CST microwave studio 2015 dan diketahui bahwa parameter yang paling berpengaruh terhadap nilai s11, VSWR dan gain adalah panjang kabel koaksial dan kemiringan elemen antena. Perkiraan jarak sistem komunikasi  menggunakan antena desain optimal adalah sejauh 1,66 km pada sudut 90º. Hasil pengukuran antena skew-planar desain optimal : VSWR 1:1,05 dan S11 -31,6 dB pada frekuensi 2,44 GHz, bandwidth 640 MHz dengan S11 ≤ -10 dB, gain linear 1,9 dBil dan gain sirkular 4 dBic, polarisasi elips pada sudut phi 0° theta 90° dengan axial ratio 1,9 dan polaradiasi omnidirectional. Pengujian secara line-of-sight pada jarak 810 meter  menunjukan antena  skew-planar dapat bekerja dengan baik pada semua sudut pengujian, Pengujian tanpa line-of-sight menunjukan antena skew-planar dapat bekerja sampai dengan radius 454 meter.
IMPLEMENTASI DEKODER MIMO BERBASIS DETEKSI TRELLIS PADA WLAN 802.11n Yama Aryadanangjaya; Wahyul Amien Syafei; Imam Santoso
Transient: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro TRANSIENT, VOL. 1, NO. 3, SEPTEMBER 2012
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (613.027 KB) | DOI: 10.14710/transient.v1i3.94-100

Abstract

Abstrak Wireless Local Area Network(WLAN) adalah teknilogi nirkabel yang digunakan secara luas unruk komunikasi data dan suara. Kebutuhan laju data yang lebih tinggi mengharuskan penggunaan teknologi terbaru pada WLAN. Dimulai dengan troughput maksimal 2 Mcps pada 1997, dewasa ini WLAN diharapkan dapat mencapai troughput Gbps. Kombinasi OFDM dan MIMO menjanjikan peningkatan troughput yang besar tanpa tambahan bandwidth. Pada makalah ini kami melakukan penelitian dalam teknik decoding MIMO pada IEEE WLAN 802.11n. Metode Trellis  akan diterapkan pada simulator IEEE WLAN 802.11n untuk meningkatkan kinerja sistem sebelumnya yang menggunakan teknik ZF dan MMSE. Simulasi ini dilakukan pada model kanal TGn channel B pada konfigurasi MIMO 2 x 2. Teknik Maximum Likelihood akan diterapkan sebagai teknik dengan kinerja paling baik. Dari hasil simulasi didaptkan kesimpulan bahwa detektor Trellis memiliki kinerja mendekati optimal, hanya menurun 1 hingga 3 dB dibandingkan MLD  . Kompleksitas MLD berbanding Trellis akan menurun seiring dengan bertambahnya jumlah antena pemancar dan skema modulasi. Kata kunci : IEEE WLAN 802.11n, MIMO decoding, metode Trellis.  Abstrak  WLAN 802.11n is a system with maximum throughput 600 Mbps, which is ten times faster compared to the preceeding standard. The main features in the 802.11n standard are OFDM and MIMO techniques, those techniques promise dramatically increasement of troughput without additional bandwidth. The demand of higher data rate forces improvement on the performance of WLAN 802.11n by implementing new techniques in the system. One of the concern is the use of new MIMO decoding techniques on Spatial Division Multiplexing (SDM) MIMO. This final project conduct research in MIMO decoding technique in IEEE WLAN 802.11n. The Trellis method will be implemented in  IEEE WLAN 802.11n to improve  performance of preceeding MIMO decoding method i.e ZF, MMSE. The simulation is done under 64QAM scheme TGn channel B in 2x2  MIMO configuration.The Maximum Likelihood method will be set as reference for its optimal performance compared to the other methods. The result shows thatTrellis detector givesnear-optimal performance, and only degrade1 to 3 dB compared to the MLD method.The trellis to MLD  complexity ratio will decrease as the number of Transmit antenna. Keywords : IEEE WLAN 802.11n, MIMO decoding, Trellis method
Co-Authors Abdul Hamid Alfauzi Achmad Chaerodin Achmad Hidayatno Adela Ika Anindita Adhi Susanto Afrian Ramadhan Afriandi Ferdinan Aghus Sofwan Agnes Yora Gracia Simatupang Agung Dwi Prastowo Ajub Ajulian Z Ajub Ajulian Zahra Ajub Ajulian Zahra Macrina Ajub Ajulian ZM Al Anwar Alia Rizkinawati Andrew Ishak Budiman Andrio Ghara Pratama Anky Setyadewa Antaresa Mayuda Apriliani Nabila Anjani Apriliani Sulistyoningrum Ardea Satya Hasnanta Ardhian Ainul Yaqin Ardianto Eskaprianda Arif Mustakim Ariyono Rohmadi Aulia Jasmine Ramadhanti Bambang Winardi Brilian Dermawan Budi Setiawan Budi Utomo Dane Kurnia Putra Dani Wijayanto Dania Eridani Darjat Darjat Dwi Anasthasia Pasaribu Enggar Hindami Hadyan Erizco Satya Wicaksono Erlin Dolphina Erna Supriyatna Fandi Yusuf Nugroho Farich Novriana Sandy Fiska Jelita Puspitasari Frans Sugiharto Hanardi Satrio Hana’ Ad’ha Rodhiah Hanitya Triantono Widya Putra Hayu Pratista Hutama Arif Bramantyo Ian Amri Dinina Ibrahim Ibrahim Ifki Arifatul Utami Iwan Setiawan Jasmine Firja Salsabila Kevin Maulana Azhar Khoerul Fajri Kresna Lita Maulana Lulu Maftukhatul Jannah Luluk Arifatul Chalida M. Fajri Fitrianto M. Lukmanul Hakim Melia Dewi Murni Mikail Ilham Bramantya Mirna Tria Pratiwi Mohammad Yanuar Siddiq Muhammad Arif Siddiq Muhammad Fatkhur Rahman Muhammad Rifqi Fadhilah Muhammad Salman Lubis Munawar Agus Riyadi Muthia Nur Fajrina Nafi Arrizqi Nicholas Audric Adriel Novita Sari Harianja Pinkan Dyah Putrantyono Putrantyono R Rizal Isnanto Rahmat Dwi Cahyo Rini Indah Sulistiyawati Riska Aristantya Aristantya Rivaldi MHS Riyadi, Munawar Rizal Yunan Rifai Rosalinda Tri Wahyuni Rosyid Haryadi Rudi Prasetio Samuel Pangihutan Hutagalung Seto Ayom Cahyadi Sri Widodo, Thomas Stefani Dian Hutami Sudjadi Suhardjo Suhardjo Sukiswo Sukiswo Sumardi . Teguh Dwi Prihartono Teguh Prakoso Tunjung Dwi Madyanto Umi Nur Hikmah Velayati Habsyah Wahyul Amien Syafei Wike Septi Fadhila Wildand Angesti Yama Aryadanangjaya Yosua Alvin Adi Soetrisno Yudhitya Sorrenti Yuli Christiyono Yuli Christyono Yuli Christyono Yuli Christyono Yusuf Septiawan Zuhrotul Maulida