Santoso, Imam
Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Published : 90 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

PERENCANAAN JARINGAN LONG TERM EVOLUTION (LTE) TIME DIVISION DUPLEX (TDD) 2300 MHz DI SEMARANG TAHUN 2015 – 2020 Yusuf Septiawan; Imam Santoso; Ajub Ajulian Zahra
Transient: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro TRANSIENT, VOL. 4, NO. 4, DESEMBER 2015
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.419 KB) | DOI: 10.14710/transient.v4i4.979-986

Abstract

LTE merupakan teknologi release 8 dikembangkan oleh 3rd Generation Partnership Project (3GPP). LTE memberikan kecepatan downlink sampai 300 Mbps dan uplink 75 Mbps. Operator mempunyai keterbatasan untuk membangun jaringan LTE. Maka perencanaan diperlukan untuk membuat jaringan yang optimal dengan memenuhi kapasitas dan cakupan sesuai kondisi lingkungan tempat jaringan diimplementasikan. Teknologi LTE menurut division duplexnya ada dua, yaitu LTE FDD dan LTE TDD. Di Indonesia, LTE FDD digunakan pada frekuensi 1800 MHz dan 900 MHz. Sedangkan LTE TDD digunakan pada frekuensi 2300 MHz. Penelitian ini dilakukan perencanaan jaringan LTE TDD frekuensi 2300 MHz di Semarang tahun 2015 sampai 2020. Simulasi perencanaan dilakukan dengan menggunakan software Atoll. Metode yang digunakan yaitu perencanaan cakupan dan perencanaan kapasitas. Parameter masukan yaitu data kependudukan, nilai link budget, serta diperlukan pemetaan berisi clatter class, kontur bumi, dan kepadatan penduduk untuk menentukan daerah urban, suburban, dan rural. Dari hasil perencanaan didapatkan jumlah eNodeB yang dibutuhkan pada perencanaan cakupan yaitu 161 site sedangkan pada perencanaan kapasitas yaitu 46 site. Hasil simulasi menunjukan bahwa jumlah pelanggan sukses tersambung pada perencanaan cakupan sebesar 69,2% sedangkan pada perencanaan kapasitas sebesar 59,2%. Selain itu hasil simulasi menunjukan bahwa perencanaan cakupan memberikan nilai rata-rata throughput tiap pelanggan lebih besar daripada perencanaan kapasitas.
SIMULASI KINERJA PENGUAT OPTIS TIPEERBIUM DOPED FIBER AMPLIFIERS (EDFA) BERDASARKAN TEKNIK PEMOMPAAN Mohammad Yanuar Siddiq; Imam Santoso; Ajub Ajulian Zahra
Transient: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro TRANSIENT, VOL. 3, NO. 4, DESEMBER 2014
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.032 KB) | DOI: 10.14710/transient.v3i4.650-655

Abstract

Abstrak Sistem komunikasi serat optis adalah suatu sistem komunikasi yang menggunakan kabel serat optis sebagai saluran transmisinya yang dapat menyalurkan informasi dengan kapasitas besar dan tingkat keandalan yang tinggi. Akan tetapi, daya sinyal informasi yang dikirimkan melalui serat optis akan mengalami penurunan yang disebabkan oleh redaman di sepanjang serat dan pada titik persambungan serat optis. Salah satu upaya untuk mencegah penurunan daya sinyal informasi adalah dengan memasang penguat optis. Mengacu pada hal tersebut, maka pada penelitian ini dilakukan analisis kinerja penguat optis tipe EDFA (Erbium Doped Fiber Amplifiers) berdasarkan teknik pemompaan.Dengan menggunakan bantuan perangkat lunak optisdimungkinkan untuk diketahui kinerja penguatannya sebelum diterapkan pada sistem komunikasi serat optis.Untuk mengetahui kinerja penguatan EDFA ada beberapa parameter yang perlu diperhatikan yaitu berupa gain, noise figure, dan daya ASE (Amplified Spontaneous Emission).Pada penelitian ini akan dilakukan analisis pengaruh dari berbagaiteknik pemompaan dan panjang gelombang pompa terhadap parameter kinerja penguatan EDFA. Teknik pemompaan yang digunakan pada penelitian ini ada 3 yaitu teknik pemompaan maju, teknik pemompaan mundur, dan teknik pemompaan dua arah. Secara keseluruhan teknik pemompaan yang paling baik kinerjanya adalah teknik pemompaan maju dengan panjang gelombang pompa 980 nm karena menghasilkan gain yang tinggi sebesar 35,63643 dB dan noise figure yang sangat kecil sebesar 4,36313 dB. Kata kunci: Serat Optis, EDFA, Gain, Noise Figure, Daya ASE  Abstract Optical fiber communication system is a communication system that utilizes optical fiber cable as the transmission channel to deliver information with a large capacity and high reliability levels. However, the information signal power sent through an optical fiber will decline due to attenuation along the fiber and at the junction point of the optical fiber. One of the efforts to prevent the loss of information signal power is by installing an optical amplifier. Referring to that, the analysis conducted in this research is performance analysis of an optical amplifier EDFA(Erbium Doped Fiber Amplifiers) type based on its pumping techniques.With the help of optical software, it is possible to know the performance gains before being applied to the optical fiber communication system. To determine the performance of the EDFA gain, there are several parameters that need to be considered such as gain, noise figure, and the power of ASE (Amplified Spontaneous Emission). In this research, the analysis of the effects of various pumping techniques and the pump wavelength on EDFA gain performance parameters. There are three pumping techniques will be conducted used in this study that are forward pumping technique, backward pumping technique, and bidirectional pumping technique. Overall pumping techniques is the most excellent performance in the forward pumping for the pump wavelength of 980 nm because it produces high gain of 35,63643 dB and very small noise figure of 4,36313 dB. Keywords: Optical Fiber, EDFA, Gain, Noise Figure, ASE Power
APLIKASI PENGENALAN WAJAH MENGGUNAKAN METODE EIGENFACE DAN JARAK EUCLIDEAN Kresna Lita Maulana; Achmad Hidayatno; Imam Santoso
Transient: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro TRANSIENT, VOL. 7, NO. 1, MARET 2018
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (834.257 KB) | DOI: 10.14710/transient.v7i1.62-69

Abstract

Wajah merupakan salah satu identitas bagi setiap individu pada sistem biometrik. Wajah merupakan ciri unik dari setiap manusia yang dapat membedakan rupa antar manusia. Berbeda dengan manusia yang dapat mengenali wajah dengan mudah dan cepat, komputer tidak secepat dan semudah manusia. Pada komputer diperlukan suatu algoritme dalam pengenalan wajah. Pada Penelitian ini, dirancang suatu sistem pengenalan wajah menggunakan kamera web dan OpenCV yang terpasang pada Raspberry Pi 3 Model B. Masukan sistem berupa video real-time yang diperoleh dari kamera web. Metode yang digunakan pada pendeteksian wajah adalah metode Viola-Jones dan dalam pengenalan wajah digunakan metode eigenface dan jarak euclidean. Terdapat 5 responden yang diambil citra wajahnya sebagai database. Hasil yang diperoleh dari sistem ini adalah nama dari setiap responden yang terdapat pada database. Berdasarkan hasil pengujian pada kondisi dalam ruangan dihasilkan rata-rata akurasi sebesar 99,8%,  sedangkan pada kondisi luar ruangan dihasilkan rata-rata akurasi sebesar 93,8%. Pada pengujian citra wajah yang diberi derau salt & pepper dengan kepadatan derau 0,001 dan 0,01 didapatkan bahwa program mampu mengenali wajah dengan benar. Program mampu mengenali wajah  dengan benar pada citra yang dirotasi sebesar 10 derajat.
KINERJA ROUTING FISHEYE STATE ROUTING (FSR) PADA JARINGAN WPAN 802.15.4 (ZIGBEE) TOPOLOGI MESH Sabri Alimi; Sukiswo Sukiswo; Imam Santoso
Transient: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro TRANSIENT, VOL. 2, NO. 1, MARET 2013
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.337 KB) | DOI: 10.14710/transient.v2i1.87-96

Abstract

Abstrak Wireless Personal Area Network (WPAN) adalah jaringan tanpa kabel yang menghubungkan perangkat komunikasi jarak dekat. Jaringan WPAN hanya membutuhkan daya yang rendah dan hanya memiliki cakupan area sempit. Salah satu teknologi yang termasuk jaringan WPAN adalah Zigbee. Zigbee dapat diimplementasikan pada gedung ataupun taman kota  untuk menghubungkan berbagai macam perangkat sensor dan kendali pada waktu bersamaan. Dibutuhkan parameter yang tepat agar jaringan WPAN dapat berkomunikasi dengan optimal.  Berdasarkan implementasi Zigbee, pada penelitian ini dibuat simulasi dengan software Network Simulator 2 (NS2) untuk menganalisis kinerja routing FSR pada jaringan WPAN. Dalam pengujiannya akan digunakan variasi jumlah node, yaitu 5 node, 20 node, 40 node, dan 60 node. Jarak coverage area masing-masing node adalah 10 meter. Routing protocol yang digunakan adalah Fisheye State Routing (FSR), topologi mesh, model antena omni, tipe antrian first in first out, dan model propagasi radio two ray ground. Unjuk kinerja jaringan WPAN dengan routing FSR dianalsis menggunakan parameter throughput, data delay, dan packets delivery ratio (PDR). Analisis kinerja routing FSR pada jaringan WPAN skenario pertama didapatkan nilai  throughput 12,3821 Kbps, delay 0,0303878 detik , dan PDR 86,878 %. Skenario kedua didapatkan nilai throughput 13,6707 Kbps, delay 0,041207 detik, PDR 89,9388 %. Skenario ketiga didapatkan nilai throughput 14,7421, delay 0,0459898 detik, dan PDR 87,9066 %. Skenario keempat didapatkan nilai throughput 23,6648 Kbps, delay 0,0529184 detik, dan PDR 88,3298 %.   Kata Kunci :  FSR , Zigbee, kinerja jaringan WPAN, NS-2     Abstract   Wireless Personal Area Network (WPAN) is a network that connects wireless communication devices at close range. WPAN networks only require low power and only has a small area coverage. One technology that includes network WPAN is Zigbee. Zigbee can be implemented on a building or a city park to connect a variety of sensors and control devices at the same time. It takes the right parameters for the network WPAN can communicate optimally. Based on Zigbee implementation, the research is simulation software with Network Simulator 2 (NS2) to analyze the routing performance of FSR on WPAN network. In the testing will be used variations node number, ie 5 nodes, 20 nodes, 40 nodes, and 60 nodes. Distance coverage area of ​​each node is 10 meters.Routing protocol used is Fisheye State Routing (FSR), mesh topology, omni antenna models, the type of first-in, first-out queue, and models two ray ground radio propagation. Performance WPAN network performance by using parameters dianalsis FSR routing throughput, data delay and packets delivery ratio (PDR). Analysis FSR routing performance in the first scenario WPAN network throughput values ​​obtained 12,3821 Kbps, delay 0,0303878 seconds and PDR 86,878 %. The second scenario obtained value 13,6707 Kbps throughput, delay 0,041207 seconds, PDR 89,9388 %. The third scenario obtained throughput values ​​14,7421, 0,0459898 seconds delay and PDR 87,9066 %. The fourth scenario obtained values ​​23,6648 Kbps throughput, delay 0,0529184 seconds, and PDR 88,3298  %. Keywords: FSR, Zigbee, WPAN network performance, NS-2
IDENTIFIKASI KERUSAKAN SARAF AUTONOMIK MELALUI CITRA IRIS MATA MENGGUNAKAN EKSTRAKSI CIRI ANALISIS KOMPONEN UTAMA (PCA) DAN JARINGAN SARAF TIRUAN PERAMBATAN BALIK Erizco Satya Wicaksono; Imam Santoso; Ajub Ajulian Zahra; R. Rizal Isnanto
Transient: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro TRANSIENT, VOL. 6, NO. 3, SEPTEMBER 2017
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (659.012 KB) | DOI: 10.14710/transient.v6i3.254-258

Abstract

Identifikasi penyakit dapat dilakukan melalui berbagai cara, salah satunya menggunakan pengamatan kondisi iris mata yang sedang berkembang dengan pesat di kalangan akademik dan industri. Berdasarkan ilmu iridologi pola tertentu pada citra iris mata dapat menunjukkan penyakit tertentu sehingga dalam hal ini dapat memanfaatkan pengolahan citra digital. Dalam penelitian ini, dibuat program identifikasi penyakit khususnya kerusakan saraf autonomik yang mengamati pola tertemtu pada iris mata menggunakan metode ekstraksi ciri analisis komponen utama dan metode klasifikasi jaringan saraf tiruan perambatan balik. Dalam penelitian ini digunakan 80 data yang berisi 40 citra iris mata normal dan 40 citra iris mata mengalami kerusakan saraf autonomik. Tujuan pembuatan penelitian ini guna mendapatkan hasil identifikasi yang cukup baik untuk mengenali kerusakan saraf autonomik, dan memberikan saran untuk pengembangan identifikasi kerusakan saraf autonomik agar semakin baik lagi. Berdasarkan hasil pengujian keseluruhan data dengan variasi komponen utama 25, 50, dan 100 dan jumlah lapisan tersembunyi 10 sampai 50 memiliki rata-rata tingkat akurasi keberhasilan pengenalan penyakit 62,88% dengan nilai tertinggi 83,33%, tingkat sensitivitas 55,56% dengan nilai tertinggi 100%, nilai spesifisitas 71,50% dengan nilai tertinggi 100%.
OPTIMASI KETINGGIAN ACCESS POINT PADA JARINGAN WIRELESS DISTRIBUTION SYSTEM Farich Novriana Sandy; Wahyul Amien Syafei; Imam Santoso
Transient: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro TRANSIENT, VOL. 4, NO. 2, JUNI 2015
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.059 KB) | DOI: 10.14710/transient.v4i2.355-359

Abstract

Abstrak Wireless LAN memberikan alternatif baru dalam mengakses internet kecepatan tinggi tanpa bergantung pada jaringan kabel yang menyebabkan mobilitas user terbatas. User dapat terhubung dalam jaringan untuk mengakses dan mengirim data serta melakukan koneksi ke internet tanpa menggunakan media kabel. Untuk memperluas jangkauan sinyal yang dihasilkan Access Point (AP) tanpa menggunakan kabel, dibutuhkan sebuah Wireless Distribution System (WDS) yang mampu mendistribusikan sinyal dari  satu AP ke AP yang lain. Salah satu permasalahan dalam WDS adalah penempatan posisi AP yang kurang optimal, oleh karena itu diperlukan optimasi ketinggian AP dengan mengukur kualitas layanan data agar diperoleh analisa teoritis sebelum mengimplementasikan AP. Pada penelitian ini kualitas layanan data yang diukur adalah throughput dan delay. Perancangan meliputi konfigurasi WDS dan FTP server. Pengujian dilakukan di dalam ruangan (Laboratorium KPS) dan luar ruangan (Lapangan dan Selasar) dengan variasi ketinggian AP 0,75 meter, 2 meter, 3,5 meter dan 4 meter. Ketinggian optimal AP di dalam ruangan yaitu pada ketinggian 2 meter dengan throughput rata-rata sebesar 169,08 Bps, sedangkan posisi optimal AP di luar ruangan yaitu pada ketinggian 0,75 meter dengan throughput 676,03 Bps di Lapangan Basket dan pada ketinggian 2 meter di Selasar dengan throughput rata-rata 703,7 Bps. Kata kunci : Wireless Distribution System, tinggi optimal, QoS.  Abstract Wireless LAN provides a new alternative to high-speed internet access without relying on network cables that lead to limited user mobility. Users can connect to the network to access and transmit data, and connect to the internet without using a cable. To extend the range of the signal generated by Access Point (AP) without using a cable, it takes a Wireless Distribution System (WDS) that is able to distribute the signal from one AP to another AP. One of problem in WDS is positoning AP less than optimal, therefore the necessary optimization AP height by measuring the quality of data services in order to obtain a theoretical analysis before implementing the AP. In this research, the quality of data services that measured are throughput and delay. The design includes the configuration of the WDS and the FTP server. Tests conducted indoor (KPS Laboratory) and outdoor (land and selasar) with a height variation AP 0.75 mters, 2 meters, 3.5 meters and 4 meters. Optimal AP in the room is 2 meters height with average throughput 169.08 Bps, while the optimal altitude AP outdoors are at a height of 0.75 meters to 676.03 Bps throughput in Basketball and 2 meters height with average throughput 703,7 Bps in Selasar. Keywords : Wireless Distribution System, high-optimal, QoS.
IMPLEMENTASI MIMO DECODER BERBASIS METODE NON-LINEAR UNTUK MENINGKATKAN KINERJA WLAN 802.11ac Zuhrotul Maulida; Wahyul Amien Syafei; Imam Santoso
Transient: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro TRANSIENT, VOL. 6, NO. 3, SEPTEMBER 2017
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (966.574 KB) | DOI: 10.14710/transient.v6i3.496-502

Abstract

Kebutuhan sistem komunikasi nirkabel yang mendukung laju data dan kinerja yang semakin tinggi mendorong perkembangan teknologi WLAN. Teknologi ini mengerucut pada penggunaan teknologi terkini, yaitu MIMO-OFDM. Implementasi OFDM pada perkembangan WLAN dimulai sejak IEEE 802.11a, hingga saat ini mencapai 900 Mbps pada IEEE 802.11ac. Dengan penggunaan kanal yang sama  untuk beberapa data pada setiap antenna, dibutuhkan teknik khusus untuk mendapatkan kembali informasi yang dikirim. Dua teknik yang umum digunakan adalah berbasis metode linear, yaitu ZF dan MMSE. Keduanya memiliki kompleksitas yang rendah, tetapi kinerjanya juga rendah. Teknik yang dikenal optimal adalah berbasis non-linear, yaitu MLD. Teknik ini memiliki kinerja paling baik tetapi tingkat kompleksitasnya tinggi. Untuk menengahi kedua metode tersebut, dikembangkanlah metode non-linear yang sub-optimal, seperti K-Best, Trellis, dan Sphere Detection. Ketiga metode ini memiliki kompleksitas yang rendah dan menghasilkan kinerja yang baik. Pada penelitian ini akan dilakukan simulasi dan analisa terhadap kinerja MIMO Decoder yang berbasis metode non-linear, yaitu K-Best, Trellis, dan Sphere Detection. Simulasi dilakukan pada MCS 5, 6, dan 7 dengan konfigurasi 6x6 dan 40 MHz bandwidth. Konfigurasi ini akan menghasilkan laju data sebesar 720 Mbps, 810 Mbps, dan 900 Mbps.
PERBANDINGAN KINERJA AM (ACKNOWLEDGED MODE) DAN UM (UNACKNOWLEDGED MODE) PADA JARINGAN UMTS MENGGUNAKAN NS-2 Rosalinda Tri Wahyuni; Sukiswo Sukiswo; Imam Santoso
Transient: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro TRANSIENT, VOL. 1, NO. 4, DESEMBER 2012
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.605 KB) | DOI: 10.14710/transient.v1i4.128-135

Abstract

Abstak Teknologi 3G (Third Generation Technology) merupakan teknologi komunikasi seluler generasi ketiga. Teknologi ini biasa dikenal dengan W-CDMA (Wideband-Code Division Multiple Access) atau UMTS (Universal Mobile Telecommunications System). Jaringan UMTS mampu memberikan sebuah layanan suara dan data dalam bandwidth yang cukup besar sehingga memiliki jangkauan sinyal yang cukup luas dengan jumlah pelanggan yang lebih besar. Pada penelitian ini akan dirancang sebuah simulasi dan analisis kinerja jaringan UMTS dalam satu sel dengan dua mode RLC (Radio Link Control) yang berbeda berdasarkan jumlah node UE (User Equipment) menggunakan perangkat lunak Network Simulator-2 (NS-2). Skenario pertama terdiridari 6 node UE, skenario kedua terdiridari 10 node UE dan skenario ketiga terdiridari 14 node UE. Perancangan dilakukan membandingkan kinerja dari dua mode RLC yaitu AM (Acknowledged Mode) dan UM (Unacknowledged Mode), dimana parameter-parameter yang digunakan adalah throughput, delay dan paket hilang. Dari hasil simulasi diperoleh bahwa nilai throughput rata-rata terbaik untuk program simulasi tipe AM dihasilkan oleh skenario pertama dengan 6 node UE yaitu 150.842 Kbps, sedangkan untuk tipe UM dihasilkan oleh skenario ketiga dengan 14 node UE yaitu 10739 Kbps. Nilai delay rata-rata terbaik untuk program simulasi tipe AM maupun UM dihasilkan oleh skenario pertama dengan 6 node UE yaitu 8.28023 detik dan 0.0632214 detik. Sedangkan untuk jumlah paket hilang,persentase rata-rata terbaik pada program simulasi tipe AM dan UM dihasilkan oleh skenario pertama dengan 6 node UE yaitu 37.6466% dan 17.6774%. Kata kunci : 3G, UMTS, NS-2, AM, UM, Throughput, Delay Abstract 3G technology (Third Generation Technology) is a third generation of mobile communication technology. This technology is commonly known as W-CDMA (Wideband-Code Division Multiple Access) or UMTS (Universal Mobile Telecommunications System). The UMTS network is able to provide voice and data services in a bandwidth large enough so that it has coverage area of signal is quite spacious with a greater number of user. On this research will be designed a simulation and performance analysis of UMTS network in single cell with two different modes of RLC (Radio Link Control) based on amount of UE (User Equipment) nodes using Network Simulator-2 (NS-2) software. The first scenario consist of 6 UE nodes, second scenario consist of 10 UE nodes and third scenario consist of 14 UE nodes. The designing is done by comparing performance from two modes of RLC, those are AM (Acknowledged Mode) and UM (Unacknowledged Mode), the used parameters in the simulation are throughput, delay, and packet loss. From the simulation result obtained that the average throughput for the simulation program of AM type generated by the first scenario with 6 UE nodes that is 150.82 Kbps, while UM type generated by the third scenario with 10 UE nodes that is 10739 Kbps. The average delay values for the simulation program of AM and UM types generated dy the first scenario those are 8.28023 seconds and 0.0632214 seconds. As for the number of packet los, the best of average percentage in the simulation program of AM and UM types generated by the first scenario with 6 UE nodes those are 37.6466% and 17.6774%. Keywords : 3G, UMTS, NS-2, AM, UM, Throughput, Delay
APLIKASI PENGOLAHAN CITRA UNTUK IDENTIFIKASI PRODUK BERDASARKAN LABEL KEMASANNYA Dani Wijayanto; Achmad Hidayatno; Imam Santoso
Transient: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro TRANSIENT, VOL. 1, NO. 3, SEPTEMBER 2012
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.416 KB) | DOI: 10.14710/transient.v1i3.6-15

Abstract

AbstrakSeiring dengan perkembangan zaman, pengolahan citra sekarang ini berkembang dengan sangat pesat. Berbagai aplikasi pengolahan citra yang telah dikembangkan saat ini seperti pengenalan citra objek, perbaikan citra objek, dan lain-lain. Hal ini memungkinkan manusia untuk membuat suatu sistem pengolahan citra yang dapat menerima masukan berupa citra objek yang kemudian akan diproses, diidentifikasi, dan diberikan keluaran berupa deskripsi objek dalam citra. Oleh karena itu, dilakukan penelitian untuk merancang sistem untuk mengidentifikasi produk kemasan. Proses identifikasi produk kemasan dilakukan dengan proses ekstraksi fitur warna yang menggunakan metode histogram hue dan ekstraksi fitur bentuk yang menggunakan deteksi tepi Canny. Langkah awal dari pembuatan sistem ini adalah pembuatan basis data dari 15 produk kemasan. Kemudian dilakukan dengan pengambilan gambar dari label kemasan produk itu sendiri dan untuk mengetahui identitas masing-masing produk dilakukan proses ekstraksi fitur.  Berdasarkan hasil pengujian produk yang termasuk dalam basis data diperoleh tingkat keberhasilan terhadap produk dengan intensitas cahaya yang stabil, posisi yang tetap dan kondisi produk uji yang baik dapat dapat melakukan identifikasi dengan tingkat keberhasilan rata-rata 97.33%. Untuk posisi pengambilan 45° dari basis data tingkat keberhasilan rata-rata setiap produk sebesar 96%, sedangkan dengan posisi pengambilan sebesar 90° tingkat keberhasilan rata-rata setiap produk sebesar 96%, dan dengan posisi pengambilan sebesar 180° tingkat keberhasilan rata-rata setiap produk sebesar 94.67%.Kata Kunci : identifikasi produk, histogram hue, deteksi tepi Canny AbstractDue to time progress, image processing now it develops rapidly. Various image processing application that has been developed today as the introduction of the image of the object improved image of the object and others. This has allowed humans to make an image processing system that can receive input image of an object which will then processed, identified and rendered exodus of description object in its image. Hence, performed research to design systems to identify products packs. The identification process of packing done with the process of extracting features a color using histogram hue methods and extraction features form using Canny edge detection method. An early step in making this system is making database product of 15 pack. Then performed with simulcast of labels packaging the product itself and to know the identity done each product features extraction process. Based on the testing products included in database to products obtained the success rate stable, with the intensity of light a fixed position and conditions can test products can do good identification with the success rate average 97.33 %. For position of 45° from database the success rate average of 96 %, while with position of much as 90° the success rate average of 96 %, and with the position of 180° the success rate average of any product 94.67 %.Keywords: product identified, hue histogram, Canny edge detection
APLIKASI KODE RANTAI UNTUK MENENTUKAN KELILING DAN LUASSUATU BANGUN DATAR DUA DIMENSI Mirna Tria Pratiwi; Imam Santoso; Ajub Ajulian Zahra
Transient: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro TRANSIENT, VOL. 2, NO. 4, DESEMBER 2013
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (654.505 KB) | DOI: 10.14710/transient.v2i4.924-929

Abstract

Abstrak Kode rantai merupakan salah satu metode pada pengolahan citra digital yang menghasilkan kode-kode berupa deretan angka berdasarkan arah mata angin. Kode rantai ini mampu  merepresentasikan kurva,garis, atau kontur dari suatu bidang, menentukan keliling dan luas, dan dapat menentukan faktor bentuk dari suatu objek. Dalam Tugas Akhir ini, metode kode rantai diaplikasikan untuk menentukan keliling dan luas pada bangun datar dua dimensi.Program ini dibuat dengan menggunakan perangkat lunak MATLAB. Perancangan sistem ini memiliki beberapa tahapan seperti tahapan prapengolahan, dimana citra yang digunakan sebagai data uji adalah hasil akuisisi kamera  yang diubah menjadi citra aras keabuan kemudian diubah menjadi citra biner. Kemudian tahap penelusuran kode rantai.Pada tahap ini algoritma kode rantai yang digunakan adalah 8 arah mata angin.Pada tahap perhitungan keliling dan luas dilakukan proses perhitungan akhir melalui perhitungan yang didasarkan pada kode-kode yang dihasilkan pada tahap penelusuran. Pada pengujian sistem ini dilakukan beberapa variasi, yaitu variasi bangun geometri, variasi ukuran objek, variasi posisi objek, dan variasi bangun tak beraturan.Dari hasil pengujian terhadap sistem, diperoleh hasil persentase kesalahan minimum untuk keliling sebesar 0.001% dan persentase kesalahan maksimumnya sebesar 14.1418%.Untuk luas, persentase kesalahan minimumnya sebesar 0.0363% dan persentase kesalahan maksimalnya sebesar 17.8540%.Hasilnya, kode rantai dapat digunakan untuk menghitung keliling dan luas pada bangun datar dua dimensi dengan kesalahan yang dapat ditoleransi. Kata Kunci : Bangun Datar Dua Dimensi, Keliling, Luas, Kode Rantai  Abstract Chain Codes is one of the techniques in image analysis that is producingthe codes which is containing a line of number based on the direction for representing lines, curves or contour of an area. Chain Codes is able to represent lines, curves or contour of an area, to determine perimeters and area, and to determine shape factor of an object.In this final assignment, chain codes are applied to count areas and perimeters of  two dimensional shapes. This program was built by using Matlab program and using the capture image as the object tests.  The system was built to have some following steps. First, preprocessing step which changes object images into grayscale image and changes to create a binary image.  The next step was computing chain codes which is using 8 directions. And the last step was counting perimeter and area process. These were based on the codes which were provided by the step before. In this program, there are four variation tests, those are the shape variation, the size variation, the position variations and the irregular shape of the objects.From the perimeter tests, the minimum error rate of the object is 0.001% , and 14.142 % for the maximum error rate. For area tests, the minimum error rate of the objects is 0.0363%, and the maximum error rate is 17.854 %. As acresult chain code can be applied to count area and perimeter of two dimensional shape with acceptable error. Keywords :two dimensional shapes, Perimeters, Areas, Chain Codes
Co-Authors Abdul Hamid Alfauzi Achmad Chaerodin Achmad Hidayatno Adela Ika Anindita Adhi Susanto Afrian Ramadhan Afriandi Ferdinan Aghus Sofwan Agnes Yora Gracia Simatupang Agung Dwi Prastowo Ajub Ajulian Z Ajub Ajulian Zahra Ajub Ajulian Zahra Macrina Ajub Ajulian ZM Al Anwar Alia Rizkinawati Andrew Ishak Budiman Andrio Ghara Pratama Anky Setyadewa Antaresa Mayuda Apriliani Nabila Anjani Apriliani Sulistyoningrum Ardea Satya Hasnanta Ardhian Ainul Yaqin Ardianto Eskaprianda Arif Mustakim Ariyono Rohmadi Aulia Jasmine Ramadhanti Bambang Winardi Brilian Dermawan Budi Setiawan Budi Utomo Dane Kurnia Putra Dani Wijayanto Dania Eridani Darjat Darjat Dwi Anasthasia Pasaribu Enggar Hindami Hadyan Erizco Satya Wicaksono Erlin Dolphina Erna Supriyatna Fandi Yusuf Nugroho Farich Novriana Sandy Fiska Jelita Puspitasari Frans Sugiharto Hanardi Satrio Hana’ Ad’ha Rodhiah Hanitya Triantono Widya Putra Hayu Pratista Hutama Arif Bramantyo Ian Amri Dinina Ibrahim Ibrahim Ifki Arifatul Utami Iwan Setiawan Jasmine Firja Salsabila Kevin Maulana Azhar Khoerul Fajri Kresna Lita Maulana Lulu Maftukhatul Jannah Luluk Arifatul Chalida M. Fajri Fitrianto M. Lukmanul Hakim Melia Dewi Murni Mikail Ilham Bramantya Mirna Tria Pratiwi Mohammad Yanuar Siddiq Muhammad Arif Siddiq Muhammad Fatkhur Rahman Muhammad Rifqi Fadhilah Muhammad Salman Lubis Munawar Agus Riyadi Muthia Nur Fajrina Nafi Arrizqi Nicholas Audric Adriel Novita Sari Harianja Pinkan Dyah Putrantyono Putrantyono R Rizal Isnanto Rahmat Dwi Cahyo Rini Indah Sulistiyawati Riska Aristantya Aristantya Rivaldi MHS Riyadi, Munawar Rizal Yunan Rifai Rosalinda Tri Wahyuni Rosyid Haryadi Rudi Prasetio Samuel Pangihutan Hutagalung Seto Ayom Cahyadi Sri Widodo, Thomas Stefani Dian Hutami Sudjadi Suhardjo Suhardjo Sukiswo Sukiswo Sumardi . Teguh Dwi Prihartono Teguh Prakoso Tunjung Dwi Madyanto Umi Nur Hikmah Velayati Habsyah Wahyul Amien Syafei Wike Septi Fadhila Wildand Angesti Yama Aryadanangjaya Yosua Alvin Adi Soetrisno Yudhitya Sorrenti Yuli Christiyono Yuli Christyono Yuli Christyono Yuli Christyono Yusuf Septiawan Zuhrotul Maulida