Santoso, Imam
Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Published : 90 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS KINERJA JARINGAN DWDM MODEL MULTISITE SEDERHANA MENGGUNAKAN CISCO TRANSPORT PLANNER RELEASE 9.2 Adela Ika Anindita; Imam Santoso; Ajub Ajulian Zahra
Transient: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro TRANSIENT, VOL. 3, NO. 3, SEPTEMBER 2014
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.473 KB) | DOI: 10.14710/transient.v3i3.323-331

Abstract

Abstrak Serat optik merupakan media transmisi yang mampu melakukan pengiriman data dalam jumlah besar. Untuk mendukung pentransmisian menggunakan serat optik diperlukan teknik yang menunjang yaitu teknik multiplexing. Seiring meningkatnya kebutuhan transmisi data dikembangkan teknik multiplexing DWDM (Dense Wavelength Division Multiplexing) yang mampu mentransmisikan lebih dari 400 panjang gelombang dalam satu serat optik.Dalam implementasi sistem komunikasi serat optik dengan menggunakan teknik multiplexing DWDM perlu analisis kinerja jaringan. Berdasarkan hal tersebut akan dilakukan analisis kinerja model multisite sederhana jaringan DWDM.Terdapat beberapa macam kabel serat optik yang digunakan yakni G.652-SMF, True Wave Reach, G.652-SMF-28E, dan Free Light.Sedangkan, jenis teknologi transmisi untuk teknologi DWDM yang digunakan antara lain 10 Gigabit Ethernet, dan 40 Gigabit Ethernet. Parameter yang dijadikan tolak ukur antara lain nilai attenuasi, nilai dispersi serat optik, dan nilai tundaan. Dengan bantuan perangkat lunak atau aplikasi perancangan jaringan DWDM dimungkinkan untuk diketahui kinerja dari jaringan yang inginkan.  Dari analisi yang dilakuakan performansi paling baik dalam perancangan ini ditunjukkan pada serat optik dengan variasi G.652-SMF-28E, G.652-SMF-28E, dan Free-light pada teknologi 10GE dengan nilai rata-rata link availability sebesar 0,999913.Sedangkan, pada kombinasi serat optik dengan  ketiganya menggunakan Free-light dengan teknologi transmisi 40GE-40GE-10GE menunjukkan performa paling rendah dengan nilai 0,999907. Kata kunci: DWDM, Kinerja Jaringan, Parameter, Multisite  Abstract An optical fiber medium capable of sending large amounts of data. To support the use of fiber-optic transmission technique that required multiplexing techniques. With the increasing need for data transmission multiplexing techniques developed DWDM (Dense Wavelength Division Multiplexing) is capable of transmitting more than 400 wavelengths in a single optical fiber. In the implementation of fiber optic systems using DWDM multiplexing techniques necessary network performance. Based on the analysis of the performance of the simple model multisite DWDM networks. There are several kinds of fiber optic that are G.652 SMF, True Reach Wave, G.652-SMF-28E, and Free Light. Meanwhile, the type of transmission technology for DWDM technologies used include 10 Gigabit Ethernet, and 40 Gigabit Ethernet.Parameters are used value of attenuation, optical fiber dispersion value, and value of delay. With the help of software or application design DWDM networks it is possible to note the performance of the network is required.  From the analysis best performance in this design is shown in optical fibers with variations G.652-SMF-28E, G.652-SMF-28E, dan Free-light on 10GE technology with 0.999913 link availability. Whereas, in combination with a third optical fiber using Free-light transmission technology with 40GE-40GE-10GE showed the lowest performance 0.999907. Keywords: DWDM, Networks Performance, Parameters, Multisite
Pengaruh Modulasi M-PSK Pada Unjuk Kerja Sistem Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) Ajub Ajulian Zahra; Imam Santoso; Wike Septi Fadhila
Transmisi: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro Vol 10, No 2 (2008): TRANSMISI
Publisher : Departemen Teknik Elektro, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2394.153 KB) | DOI: 10.12777/transmisi.10.2.70-76

Abstract

OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing) is a transmission technique which uses some orthogonal subcarrier frequencies (multicarrier). Each of the subcarrier is modulated by conventional modulation technique at low symbol ratio. It can be a PSK (Phase Shift Keying) modulation. PSK modulation is chosen as its simplicity and ability to reduce amplitude fluctuation which could leads to attenuation.A simulation with Matlab is made in this final project. The purpose of this simulations is to analyze M-PSK modulation effect on OFDM system performance under AWGN (Additive White Gaussian Noise)  noisy channel condition. System parameter that being changed is modulation level of PSK with system inputs consist of random data, grayscale images, and sounds. OFDM system performance is observed by analyzing Bit Error Rate (BER) values and Signal to Noise Ratio (SNR) received by OFDM receiver by varying channel SNR value.The results show that in grayscale pictures and sounds transmission, BPSK is the most noise  durable modulation technique compared with QPSK, 16PSK, and 256PSK. It can be shown from the least BPSK BER value compared with other three modulations. Received SNR value shows received image quality on receiver side. The simulation results show that on high noise channel condition (channel SNR <6dB) using 256PSK is better than BPSK, QPSK or 16PSK.Keywords: OFDM, PSK, BER, SNR
Analisis Model Kanal SUI Berdasarkan Modulasi QAM dan Variasi Bandwidth Frans Sugiharto; Imam Santoso; Ajub Ajulian Zahra
Transmisi: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro Vol 13, No 1 (2011): TRANSMISI
Publisher : Departemen Teknik Elektro, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.117 KB) | DOI: 10.12777/transmisi.13.1.15-20

Abstract

Wimax is the wireless technology providing link of broadband in distance which far. Wimax is technology of broadband having high speed access and the wide reach. Such as system communications of previous nirkabel, wimax also have model of different propagation. Propagation models of wimax involve variation of delay (μs), power (dB), Factor K (dB), Doppler frequency (Hz). This Model called SUI (Stanford University Interim) channel. Variation of Parameters SUI channel determine performance of communications wimax. In this final project, analysed SUI channel use simulation where parameter of SUI channel of variation into 6 condition of channel SUI - 1 up to SUI-6. While performance of channel presented in comparison of graph of BER and Eb/No. For wimax communication used type of IEEE 802.16d with digital modulation 16 QAM and 64 QAM, include the variation of cylic prefix and bandwidth. Simulation test result show that simulation of SUI channel with type of modulation 16 QAM with cylic prefix 1/8, bandwidth 1.5MHz can repair almost entirety of performance SUI channel. Five SUI channel show best performance when at gyration of Eb/No 5dB up to 15 dB. While result of simulation SUI channel with type of modulation 16QAM with cylic prefix 1/16, bandwidth 20MHz showing bad performance, when improvement Eb/No of gyration BER between 10-1 dan 100 for channel SUI-2, SUI-3, SUI-4, SUI-5, SUI-6. Result of simulation SUI channel with type of modulation 64 QAM with cylic prefix 1/8, bandwidth 1.5MHz showing best performance. Result of simulation SUI channel with type of modulation 64 QAM with cylic prefix 1/16, bandwidth 20MHz showing bad performance. Keyword : 802.16d, SUI channel, WiMAX, cylic prefix, bandwidth.
APLIKASI METODE KODE RANTAI UNTUK MENGHITUNG PANJANG PERBATASAN DAERAH DAN LUAS PULAU DI INDONESIA Alia Rizkinawati; Imam Santoso; Ajub Ajulian Zahra
Transmisi: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro Vol 17, No 2 April (2015): TRANSMISI
Publisher : Departemen Teknik Elektro, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (804.463 KB) | DOI: 10.12777/transmisi.17.2.89-97

Abstract

Abstrak   Kode rantai merupakan salah satu metode pada pengolahan citra digital yang mampu merepresentasikan kurva, garis atau kontur dari suatu bidang dan dapat menentukan faktor bentuk dari suatu objek. Selain itu, kode rantai pula dapat diterapkan untuk menentukan panjang dan luas suatu objek berdasarkan jarak. Kode rantai menghasilkan kode-kode berupa deretan angka berdasarkan arah mata angin. Dalam Penelitian ini, metode kode rantai diaplikasikan untuk menentukan nilai panjang perbatasan daerah dan luas suatu pulau yang berbentuk citra satelit. Citra ini diperoleh dari program aplikasi Google Earth. Adapun tolak ukur keberhasilan adalah perbandingan hasil perhitungan kode rantai dengan nilai data sebenarnya. Sebelum diujikan, citra ini dilakukan prapengolahan terlebih dahulu agar mendapatkan citra yang bisa dibaca oleh kode rantai. Disini untuk pengujian dilakukan beberapa variasi, yaitu variasi bentuk pulau (kontur tertutup), variasi skala bentuk pulau (kontur tertutup), variasi garis perbatasan daerah (kontur terbuka), variasi posisi objek dan variasi jenis file. Dari hasil pengujian didapat nilai presentase kesalahan minimum sebesar 0,126% pada variasi bentuk pulau, nilai presentase kesalahan maksimum sebesar 16,588% pada variasi skala pulau (kontur tertutup), dan nilai rata-rata kesalahan sebesar 69,811% pada variasi pulau (kontur tertutup). Kata Kunci: Pulau, Perbatasan Daerah, Citra Satelit, Panjang, Luas, Kode Rantai     Abstract   Chain Codes is one of the techniques in image analysis that is able to represent lines, curves or contour of an area, and determine the shape factor of an object. Further more chain codes can be applied to count length and perimeter of object based on distance. Chain code creates the codes which contains number sequence based on wind direction. In this research, chain codes are applied to count length and perimeter of area border and islands wide which is satellite images. The objects captured from Google Earth. Meanwhile, the success parameter was the comparison of length and wide between chain code’s result and real wide number. In this program, there were some variation tests, those were the island shape variation (closed contours), island scale variations (closed contours), area border variations (opened contours), position variations and files variations. Based on test result, with got minimum error percentage by 0,126% from islands shape variations, maximum error percentage by 69,811%, from island scale variations and mean error percentage by 2,486% from island shape variations. Keywords: Islands, Area Border, Satellite Image, Length, Wide, Chain Code
IDENTIFIKASI TANDA TANGAN MENGGUNAKAN METODE ZONING DAN SVM (SUPPORT VECTOR MACHINE) Riska Aristantya Aristantya; Imam Santoso; Ajub Ajulian Zahra
Transient: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro TRANSIENT, VOL. 7, NO. 1, MARET 2018
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (741.863 KB) | DOI: 10.14710/transient.v7i1.174-178

Abstract

Identifikasi tanda tangan adalah proses untuk mengenali dan menentukan tanda tangan seseorang. Identifikasi tanda tangan termasuk biometik yang menggunakan perilaku alami manusia. Identifikasi tanda tangan dapat digunakan dalam bidang keamanan seperti izin penarikan uang, validasi cek, transaksi kartu kredit dan lainnya. Selama ini identifikasi tanda tangan dilakukan secara manual. Kesulitan dari cara ini, jika tanda tangan yang harus diidentifikasi berjumlah banyak, pemeriksa akan mengalami kelelahan. Untuk mempermudah tersebut perlu dilakukan pengembangan untuk membuat sistem identifikasi tanda tangan yang terkomputerisasi. Pada Penelitian ini dibuat pengembangan identifikasi tanda tangan ini menggunakan metode pencirian zoning dan klasifikasi Support Vector Machine (SVM). Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan, pengujian data uji normal menghasilkan akurasi pengenalan sebesar 95,31%. Pada pengujian data uji dengan gangguan diperoleh akurasi sebesar 21,87%. Sedangkan pengujian tanda tangan tiruan dihasilkan akurasi sebesar 30%. Selain pola citra tanda tangan yang telah terdaftar, terdapat juga citra tanda tangan yang tidak terdaftar pada basis data. Akurasi yang didapat pada  pengujian ini sebesar 0%.
ANALISIS QUALITY OF SERVICE (QOS) PADA JARINGAN LOKAL SESSION INITIATION PROTOCOL (SIP) MENGGUNAKAN GNS3 Seto Ayom Cahyadi; Imam Santoso; Ajub Ajulian Zahra
Transient: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro TRANSIENT, VOL. 2, NO. 3, SEPTEMBER 2013
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.33 KB) | DOI: 10.14710/transient.v2i3.635-642

Abstract

Abstrak Session Initiation Protocol (SIP) merupakan protokol standar multimedia sebagai produk dari Internet Engineering Task Force (IETF) dan telah digunakan sebagai standar VoIP. Protokol ini menggabungkan teknologi seluler dan dunia internet. Sebuah sesi dalam jaringan SIP dapat berupa panggilan suara, e-mail, pesan teks, atau video streaming. Keunggulan SIP adalah operator jaringan dapat menggunakannya untuk mengontrol semua bentuk komunikasi dalam jaringan, bukan hanya suara. Protokol SIP berasal dari Simple Mail Transport Protocol (SMTP) dan Hypertext Transport Protocol (HTTP). Pada penelitian ini layanan Video Streaming, Audio Streaming, Voice over IP (VoIP) dan Conference Call dalam jaringan lokal SIP menggunakan Graphical Network Simulator (GNS3) dianalisis dengan mengamati Quality of Service (QoS) yaitu nilai delay, jitter, packet loss dan throughput dengan Wireshark. Dilakukan juga variasi faktor – faktor yang mempengaruhi QoS yaitu variasi  jenis file, ukuran file, panjang kabel Lokal Area Network (LAN) dan gangguan pada  pemutaran/playback video dan audio streaming. Dari hasil pengujian yang dilakukan, diperoleh bahwa pada layanan video dan audio streaming, QoS/kinerja layanan dipengaruhi oleh jenis file, ukuran file dan gangguan pada playback. QoS video dan audio streaming secara umum sudah memenuhi standar ITU G.114 baik dilihat dari besar delay, jitter, packet loss maupun throughput-nya. Pada layanan VoIP dan Conference Call, QoS dipengaruhi oleh variasi panjang kabel LAN dan secara umum sudah memenuhi standar. Kata Kunci : QoS,  SIP, GNS3, Video Streaming, Audio Streaming,  VoIP, Conference Call  Abstract Session Initiation Protocol (SIP) is a multimedia standard protocol as a product of the Internet Engineering Task Force (IETF) and has been used as a standard VoIP.  This protocol  will merge together the cellular and the Internet worlds. A session in SIP networks can be anything like voice call, e-mail, text message, or video stream. Excellence of SIP is network operators are able to use SIP to control all forms of communications within networks, not just voice. The SIP protocol derived from the Simple Mail Transport Protocol (SMTP) and the Hypertext Transport Protocol (HTTP). In This research, Video Streaming, Audio Streaming, Voice over IP (VoIP) and Conference Call service on the local SIP network using the Graphical Network Simulator (GNS3) is analyzes by observing Quality of Service (QoS)that is delay, jitter, packet loss and throughput with Wireshark. Also performed variety of factorsaffect the QoS that is the variation of  file format, size, Lokal Area Network (LAN) cable long and disturbance on video and audio streaming playback. From the results of tests performed, it found that in the video and audio streaming services , QoS/service performance is affected by file type, file size and disturbance on playback. QoS or performance video and audio streaming service has been meet ITU G.114 standard with good views of it delay, jitter, packet loss and throughput value. On VoIP and Conference Call, QoS is affected by length variation of LAN cable and generally already meet the standards. Keywords: QoS,  SIP, GNS3, Video Streaming,  Audio Streaming,  VoIP, Conference Call
IMPLEMENTASI ALGORITMA KRIPTOGRAFI RIVEST CODE 4, RIVEST SHAMIR ADLEMAN, DAN METODE STEGANOGRAFI UNTUK PENGAMANAN PESAN RAHASIA PADA BERKAS TEKS DIGITAL Rizal Yunan Rifai; Yuli Christyono; Imam Santoso
Transient: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro TRANSIENT, VOL. 5, NO. 1, MARET 2016
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.466 KB) | DOI: 10.14710/transient.v5i1.86-91

Abstract

Kriptografi adalah salah satu cara untuk menjaga keamanan dan kerahasiaan data dengan melakukan penyandian terhadap data, sehingga pihak yang tidak berkepentingan tidak dapat mengetahui isi data  tersebut. Saat proses pengiriman,  data rahasia memerlukan perlindungan ekstra dengan memanipulasi media cover  agar hanya dapat dibaca oleh penerima saja dengan memanfaatkan steganografi. Dalam penelitian ini dibangun aplikasi yang dapat melakukan enkripsi dan dekripsi pesan teks  memanfaatkan metode kriptografi algoritma simetris Rivest Code 4, algoritma asimetris Rivest Shamir Adleman, kemudian pesan tersebut disembunyikan dengan menggunakan metode steganografi mode ukuran font atau warna font dengan variabel jumlah karakter pesan asli, pesan palsu, ukuran font, intensitas warna dan password. Berdasarkan hasil uji kriptografi dengan plaintext sama, algoritma simetris RC4 kecepatan operasi algoritma RC4 lebih cepat dibandingkan algoritma RSA. Untuk hasil uji steganografi, jumlah karakter pesan asli, pesan palsu, ukuran font, dan intensitas warna berpengaruh terhadap ukuran file. Selanjutnya hasil uji pengiriman online berkas adalah kondisi file sebelum upload dan setelah download tetap sama. Penelitian ini menghasilkan aplikasi untuk mengamankan pesan teks yang dapat dijaga kerahasiaan dan keamanannya.
PERANCANGAN JARINGAN AKSES FIBER TO THE HOME PERUMAHAN HARMONY RESIDENCE JANGLI MENGGUNAKAN ALGORITMA K-MEANS CLUSTERING Nicholas Audric Adriel; Teguh Prakoso; Imam Santoso
Transient: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro TRANSIENT, VOL. 8, NO. 2, JUNI 2019
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1191.587 KB) | DOI: 10.14710/transient.v8i2.136-143

Abstract

Fiber To The Home (FTTH) merupakan infrastruktur jaringan akses yang menghubungkan pusat penyedia layanan telekomunikasi dengan rumah pengguna layanan menggunakan media transmisi serat optik. Perancangan jaringan akses FTTH saat ini masih memiliki kendala berupa penentuan lokasi penempatan Optical Distribution Point (ODP) secara manual tanpa metode sistematis, serta tidak terdapat daftar keanggotaan rumah calon pelanggan untuk suatu ODP berdasarkan jarak terdekat. Penggunaan algoritma K-Means Clustering pada perancangan jaringan akses FTTH untuk mengelompokkan rumah calon pelanggan menjadi beberapa kelompok sejumlah K berdasarkan jarak rumah terhadap ODP terdekat dapat menjadi solusi terhadap kendala tersebut. Perancangan tersebut dilakukan di Perumahan Harmony Residence Jangli Semarang. Hasil yang diperoleh yaitu penggunaan algoritma K-Means Clustering dengan nilai K=4 merupakan perancangan yang paling tepat untuk diimplementasikan berdasarkan okupasi ODP, koreksi lokasi penempatan ODP, panjang kabel serat optik maksimal, link power budget, serta biaya implementasi. Nilai tertinggi link power budget yang diperoleh yaitu 23,85 dB dan telah memenuhi ketentuan link power budget dari PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. sebesar ≤ 25 dB. Perancangan tersebut juga memiliki kelebihan berupa persentase okupasi ODP yang lebih tinggi dan biaya implementasi yang lebih murah jika dibandingkan dengan perancangan manual.
ANALISIS JARINGAN FTTH (FIBER TO THE HOME) BERTEKNOLOGI GPON (GIGABIT PASSIVE OPTICAL NETWORK) Brilian Dermawan; Imam Santoso; Teguh Prakoso
Transmisi: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro Vol 18, No 1 Januari (2016): TRANSMISI
Publisher : Departemen Teknik Elektro, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.856 KB) | DOI: 10.12777/transmisi.18.1.30-37

Abstract

Serat optik  merupakan media transmisi yang dapat menyalurkan informasi dengan kapasitas besar dan teknologinya disebut JARLOKAF (Jaringan Lokal Akses Fiber). Salah satu perkembangan JARLOKAF yaitu FTTH (Fiber To The Home). Pembangunan jaringan FTTH menggunakan teknologi GPON. Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan analisis jaringan FFTH berteknologi GPON dengan parameter daya transmisi di Optical Line Terminal, daya receiver, redaman kabel serat optik, konektor, passive splitter, dan sambungan. Hal tersebut dilakukan dengan metode link power budget. Setelah itu dilakukan pengembangan jaringan FTTH dengan merancang jalur distribusi sebanyak tiga opsi dan menganalisis menggunakan metode link power budget  dan rise time budget. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah Meranti dengan 40 pelanggan terakhir memiliki Pr sensitivitas rata-rata uplink (downlink), yakni -23,8 dBm (-23,6 dBm) sehingga margin daya yang didapatkan adalah 4,1 dBm untuk uplink dan 4,3 dBm untuk downlink. Sedangkan pada perencanaan pengembangan jaringan Meranti didapatkan bahwa opsi kedua menjadi opsi yang terbaik dengan jarak total 5,422 km memiliki Pr sensitivitas terbesar, yakni -25,8 dBm untuk uplink dan -25,2 dBm untuk downlink sehingga margin daya yang didapatkan adalah 2,2 dBm untuk uplink dan 2,8 untuk downlink dan rise time total sebesar 0,258 ns untuk uplink dan 0,283 ns untuk downlink.
IDENTIFIKASI KEBERADAAN KANKER PADA CITRA MAMMOGRAFI MENGGUNAKAN METODE WAVELET HAAR Dane Kurnia Putra; Imam Santoso; Ajub Ajulian Zahra
Transmisi: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro Vol 11, No 2 (2009): TRANSMISI
Publisher : Departemen Teknik Elektro, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1791.398 KB) | DOI: 10.12777/transmisi.11.2.100-106

Abstract

Breast cancer is the most common kind of cancer suffered by women. Mammography has been a common method for early detection of breast cancer. Recently mammograms are examined manually, so it demands good knowledge, intuition, and experience in this particular field. In many cases the breast normal tissue can hide malignant so that it can’t b seen on the mammogram. With image processing tissue into mammogram image can be effored to know location. Much methode are used in digital image processing. Methode is used in this final task is texture analysis. Based on that methode, this simulation program is made for identification tissue into mammogram image using wavelet Haar methode. Data about mammogram image any 42 image are get from Telogorejo Hospital Semarang. This program simulation is started with reading image processing and then continued to ROI (region of interest) process, in image from ROI used image enhancement quality with median filter to strech the contrast, after that texture analysis is used to get coefficient from that image. The classification is started with the decomposition process to obtain the wavelet coefficients which then counted the energy and entropy values of each images and then incorporated to database. The next process is comparing the energy and entropy between images which will be classified with the images on the database. The final step is to find Euclidean distance to show that the tested images is one of the class on the database. From the 42 sample observed, the testing result image after ROI and enhancement show that it has recognition rate 86% and testing result without image enhancement show recognition rate at 50%. The observed with using image enhancement ang wavelet Haar from 14 normally image, 13 image can identified, from 20 masses image, 15 can identified, from 8 microclasification image, 7 can identified. The observed without image enhancement and wavelet Haar is using 10 image analyzed by doctor. from 2 normally image, 1 image can identified, from 6 masses image, 2 can identified, from 2 microclasification image, 2 can be identified as microclassification. Keywords: breast cancer, wavelet Haar, decomposition, energy, Euclidean.
Co-Authors Abdul Hamid Alfauzi Achmad Chaerodin Achmad Hidayatno Adela Ika Anindita Adhi Susanto Afrian Ramadhan Afriandi Ferdinan Aghus Sofwan Agnes Yora Gracia Simatupang Agung Dwi Prastowo Ajub Ajulian Z Ajub Ajulian Zahra Ajub Ajulian Zahra Macrina Ajub Ajulian ZM Al Anwar Alia Rizkinawati Andrew Ishak Budiman Andrio Ghara Pratama Anky Setyadewa Antaresa Mayuda Apriliani Nabila Anjani Apriliani Sulistyoningrum Ardea Satya Hasnanta Ardhian Ainul Yaqin Ardianto Eskaprianda Arif Mustakim Ariyono Rohmadi Aulia Jasmine Ramadhanti Bambang Winardi Brilian Dermawan Budi Setiawan Budi Utomo Dane Kurnia Putra Dani Wijayanto Dania Eridani Darjat Darjat Dwi Anasthasia Pasaribu Enggar Hindami Hadyan Erizco Satya Wicaksono Erlin Dolphina Erna Supriyatna Fandi Yusuf Nugroho Farich Novriana Sandy Fiska Jelita Puspitasari Frans Sugiharto Hanardi Satrio Hana’ Ad’ha Rodhiah Hanitya Triantono Widya Putra Hayu Pratista Hutama Arif Bramantyo Ian Amri Dinina Ibrahim Ibrahim Ifki Arifatul Utami Iwan Setiawan Jasmine Firja Salsabila Kevin Maulana Azhar Khoerul Fajri Kresna Lita Maulana Lulu Maftukhatul Jannah Luluk Arifatul Chalida M. Fajri Fitrianto M. Lukmanul Hakim Melia Dewi Murni Mikail Ilham Bramantya Mirna Tria Pratiwi Mohammad Yanuar Siddiq Muhammad Arif Siddiq Muhammad Fatkhur Rahman Muhammad Rifqi Fadhilah Muhammad Salman Lubis Munawar Agus Riyadi Muthia Nur Fajrina Nafi Arrizqi Nicholas Audric Adriel Novita Sari Harianja Pinkan Dyah Putrantyono Putrantyono R Rizal Isnanto Rahmat Dwi Cahyo Rini Indah Sulistiyawati Riska Aristantya Aristantya Rivaldi MHS Riyadi, Munawar Rizal Yunan Rifai Rosalinda Tri Wahyuni Rosyid Haryadi Rudi Prasetio Samuel Pangihutan Hutagalung Seto Ayom Cahyadi Sri Widodo, Thomas Stefani Dian Hutami Sudjadi Suhardjo Suhardjo Sukiswo Sukiswo Sumardi . Teguh Dwi Prihartono Teguh Prakoso Tunjung Dwi Madyanto Umi Nur Hikmah Velayati Habsyah Wahyul Amien Syafei Wike Septi Fadhila Wildand Angesti Yama Aryadanangjaya Yosua Alvin Adi Soetrisno Yudhitya Sorrenti Yuli Christiyono Yuli Christyono Yuli Christyono Yuli Christyono Yusuf Septiawan Zuhrotul Maulida