Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Warta Perkaretan

PENTINGNYA APLIKASI MARKER-ASSISTED SELECTION DALAM SELEKSI KLON KARET TOLERAN KEKERINGAN Cahyo, Andi Nur
Warta Perkaretan Vol. 42 No. 2 (2023): Volume 42, Nomor 2, Tahun 2023
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.wp.v42i2.939

Abstract

Seleksi klon karet toleran kekeringan sangat mendesak untuk dilakukan karena pada masa yang akan datang diperkirakan kejadian fenomena kekeringan sebagai dampak pemanasan global akan lebih sering terjadi. Untuk melaksanakan hal ini, terdapat satu masalah, yaitu kegiatan pemuliaan tanaman karet dengan metode yang konvensional membutuhkan waktu sekitar 35 hingga 40 tahun karena tanaman karet adalah tanaman tahunan. Salah satu solusi untuk mengatasi masalah ini adalah dengan memanfaatkan metode Marker-Assisted Selection (MAS). MAS adalah metode seleksi tanaman yang memanfaatkan marka DNA yang bertautan dengan lokus target sebagai alat untuk menduga fenotipe tanaman yang diinginkan oleh pemulia tanaman. Untuk melaksanakan metode ini diperlukan penentuan QTL dan menganalisis gen-gen dalam QTL yang terasosiasi dengan parameter-parameter toleransi kekeringan pada tanaman karet, misalnya kandungan ROS (Reactive Oxygen Species), aktifitas enzim SOD (Superoksida Dismutase), POD (Peroksidase), CAT (Catalase), kandungan asam absisat (ABA), asam askorbat, tekanan turgor sel, kandungan prolin, laju transpirasi, bukaan stomata, electrolyte leakage, tekanan osmosis sel daun, kadar air daun relatif, dan DFI (Drought Factor Index). Apabila marker yang diperlukan dalam metode MAS sudah selesai diidentifikasi dan divalidasi, diharapkan metode MAS ini dapat diadopsi untuk memangkas durasi waktu pemuliaan tanaman karet konvensional yang memerlukan waktu antara 35-40 tahun menjadi kurang dari satu tahun. Tulisan ini bertujuan untuk mengulas parameter fisiologis tanaman yang terasosiasi dengan sifat toleransi kekeringan serta pentingnya metode MAS dalam seleksi klon karet toleran kekeringan.
PELAPIS LATEKS SEBAGAI ANTITRANSPIRAN PADA DAUN BIBIT TANAMAN KARET Cahyo, Andi Nur; Pranata, Dina Eka; Wijaya, Andi
Warta Perkaretan Vol. 42 No. 2 (2023): Volume 42, Nomor 2, Tahun 2023
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.wp.v42i2.947

Abstract

Pengendalian laju transpirasi yang berlebihan pada tanaman karet dapat dilakukan dengan aplikasi bahan anti-transpiran untuk mengurangi konduktivitas stomata selama musim kemarau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh formula anti-transpiran lateks dengan berbagai konsentrasi terhadap laju transpirasi dan nilai Performance Index (PI) selama periode cekaman kekeringan. Bahan tanam dalam penelitian ini berupa bibit karet klon PB 260 satu payung daun yang ditanam pada polibeg berukuran 15 x 35 cm. Penelitian menggunakan rancangan split-plot dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah pemberian anti-transpiran tanpa anti-transpiran sebagai kontrol (A0), anti-transpiran lateks 7,5% (A7,5), anti-transpiran lateks 15% (A15), dan anti-transpiran lateks 22,5% (A22,5) pada daun. Faktor kedua adalah perlakuan stress kekeringan, yaitu kontrol (K) dan terminal stress (T). Parameter yang diamati meliputi luas daun, laju transpirasi, serta fluoresensi klorofil daun. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa Penggunaan anti-transpiran berbahan dasar lateks pada tanaman karet dapat menurunkan laju transpirasi oleh daun dan mempertahankan ketersediaan air dalam jangka waktu yang lebih lama. Konsentrasi anti-transpiran yang paling ideal diaplikasikan pada daun tanaman karet adalah 7,5%. Aplikasi antitranspiran dengan konsentrasi 7,5% dapat mengurangi laju transpirasi sebesar 0,05 dan 0,065 g/cm2 luas daun/hari pada perlakuan kontrol dan cekaman kekeringan (terminal stress) berturut-turut. Selain itu, perlakuan aplikasi antitranspiran dengan konsentrasi 7,5%, 15%, dan 22,5% telah dapat mengurangi laju transpirasi sekitar 50%, 50%, dan 75% berturut-turut dibandingkan perlakuan kontrol (tanpa anti-transpiran). Konsentrasi yang lebih tinggi dari pada 7,5% dapat menyebabkan penutupan stomata yang berlebihan sehingga berpotensi menyebabkan terbentuknya ROS yang berlebihan. Anti-transpiran ini dapat diaplikasikan sekali sebelum terjadinya musim kemarau/kekurangan air.
HUBUNGAN ANTARA KADAR AIR TANAH DENGAN KADAR KARET KERING LATEKS TANAMAN KARET Cahyo, Andi Nur; Ardika, Risal; Wijaya, Andi
Warta Perkaretan Vol. 43 No. 1 (2024): Volume 43, Nomor 1, Tahun 2024
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.wp.v43i1.977

Abstract

 Kadar air tanah mempunyai korelasi dengan produksi lateks serta terdapat indikasi berpengaruh terhadap nilai K3 (kadar karet kering) lateks tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika perubahan nilai K3 lateks berdasarkan nilai kadar air tanah. Penelitian dilaksanakan di Kebun Produksi dan Percobaan Pusat Penelitian Karet pada bulan Maret 2024. Tanah pada lokasi penelitian tersebut adalah tanah ultisol dengan tekstur geluh lempungan (clay loam) yang ditanami pohon karet klon campuran (didominasi oleh klon PB 260) dengan jarak tanam 6 m x 3 m yang mayoritas ditanam pada tahun 2009. Data komponen iklim yang digunakan dalam penelitian ini adalah data hujan dan penguapan bulanan, yang diperlukan dalam perhitungan neraca air untuk menentukan kadar air tanah (KAT). Selain itu, data anasir iklim dan data K3 lateks yang digunakan adalah data pada tahun 2015 (tahun El-Nino) serta tahun 2020 hingga 2022 (tahun normal). Hasil penelitian menunjukkan bahwa K3 lateks mempunyai korelasi yang negatif dengan kadar air tanah pada saat terjadinya fenomena El-Nino yang kuat pada tahun 2015 dengan nilai koefisien determinasi sebesar 0,7645. Sebaliknya, pada tahun-tahun normal, korelasi antara kadar air tanah dan K3 lateks sangat rendah dengan nilai koefisien determinasi 0,0581. Pada tahun 2015, terjadi penurunan kadar air tanah pada daerah perakaran tanaman karet hingga mancapai di bawah titik layu permanen pada bulan September, Oktober, dan November. Hal ini berarti bahwa pengaruh penurunan nilai kadar air tanah terhadap kenaikan nilai K3 lateks hanya terjadi ketika nilai kadar air tanah berada di bawah titik layu permanen menurut perhitungan neraca air.
STRATEGI ADAPTASI TANAMAN KARET DALAM MENGHADAPI CEKAMAN KEKERINGAN: SEBUAH TINJAUAN METODE SELEKSI KLON KARET TOLERAN KEKERINGAN Cahyo, Andi Nur
Warta Perkaretan Vol. 44 No. 2 (2025): Volume 44, Nomor 2, Tahun 2025
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.wp.v44i2.1263

Abstract

Dalam budidaya tanaman karet, perlu dilakukan seleksi klon karet tahan kekeringan sebagai antisipasi fenomena pemanasan global yang saat ini sedang terjadi. Tulisan ini bertujuan untuk menguraikan parameter-parameter seleksi tanaman karet toleran kekeringan yang berkaitan dengan strategi drought tolerance dan drought avoidance. Mekanisme pertahanan tanaman dalam kondisi lingkungan yang kering dengan menggunakan strategi drought tolerance dapat melibatkan mekanisme enzimatik maupun non-enzimatik. Mekanisme pertahanan non-enzimatik meliputi penetralisiran ROS melalui bermacam substansi antioksidan non-enzimatik, misalnya prolin, glutathione (GSH), asam askorbat (AsA), karotenoid, dan flavonoid. Pada strategi adaptasi drought tolerance dengan mekanisme enzimatik, terdapat beberapa jenis yang terlibat, misalnya superoksida dismutase (SOD), peroksidase (POD), katalase (CAT), askorbat peroksidase (APX), dan glutathione peroksidase (GPX). Untuk mekanisme drought avoidance meliputi adaptasi tanaman dapat melalui pemanjangan akar, pengaturan bukaan stomata, dan chlorophyll fluorescence (CF). Parameter CF dapar dipergunakan untuk menghitung drought factor index (DFI). Dari beberapa parameter tersebut, salah satu parameter non-destructive yang dapat diamati dalam waktu yang relative singkat adalah DFI. Kata kunci: antioksidan, Hevea brasiliensis, fluoresensi klorofil, indeks faktor kekeringan, ROS