Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

BODY WEIGHT EFFECT ON JOINT SPACE WIDTH AND TIBIO FEMORAL ANGLE OF KNEE JOINT MEASUREMENT FOR OSTEOARTHRITIS DETECTION USING IMAGEJ Agung Nugroho Setiawan; Suryono Suryono; Sugiyanto Sugiyanto; Fatimah Fatimah; Gatot Murti Wibowo
Proceedings of the International Conference on Applied Science and Health No. 1 (2017)
Publisher : Yayasan Aliansi Cendekiawan Indonesia Thailand (Indonesian Scholars' Alliance)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Radiograph of knee joint with Kellgren and Lawrence classification system is the gold standard for assessing knee osteoarthritis. However, these grades are still obstacles. It is sometimes not appropriate to assess the progress of osteoarthritis and very long time to see the results of such progress. Osteoarthritis diagnosis and classification have been relying on qualitative visual interpretation by a radiologist. Probably difficult to determine whether there OA in the knee or not. Image quantification of digital radiography is done by measuring the joint space width and tibio femoral angle of the knee joint using the ImageJ software, with body weight variance as one factor that could affect it. Aims: This research aims to get information of body weight effect on the measurement of the joint space width and tibio femoral angle of knee joint in OA detection. Methods: This is a cross-sectional study. Subjects were digital images of the knee joint anteroposterior (AP) projection using Computed Radiography (CR) from 21 respondents with specific criteria. Image is then quantified using ImageJ software to measure the joint space width and tibio femoral angle. Print out of examination visually evaluated by one radiologist to confirm the diagnosis of OA of the knee joint. Results: The value of the right knee joint space width lateral and medial (3.81 ± 1.18 and 2.42 ± 0.77), while the left lateral and medial (3.49 ± 1.11 and 2.69 ± 0.83). Tibio femoral angle range 168.44 to 178.39 with the average tibiofemoral angle right knee 175.18 ± 2.04 and 173.80 ± 2.44 left knee. Body weight has a significant correlation to the tibiofemoral angle of knee joint (p value < 0,03). Conclusion: The joint space width values that taken from digital quantificationcan be baseline data of respondents, especially for those respondents who had grade 2 or indicated osteoarthritis, to be observed or compared in the next examination.The tibio femoral angle can be addition information in relation with knee pain to detect osteoarthritis. 
TUNTUTAN GANTI RUGI ATAS KEHILANGAN BARANGDIDALAM CONTAINER OLEH PENGGUNA JASATERMINAL PETIKEMAS BELAWANPT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I Suryono Suryono; Isnaini Isnaini
JURNAL MERCATORIA Vol 2, No 2 (2009): JURNAL MERCATORIA DESEMBER
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/mercatoria.v2i2.685

Abstract

Terminal petikemas sebagai salah satu badan usaha yang terkait dalam penyelenggaraan angkutan petikemasmelalui laut, didalam operasionalnya menangani bongkar muat petikemas dari dan ke kapal, selanjutnya melayani jasa penumpukan petikemas dilapangan penumpukan dan jasa-jasa lainnya, selalu dihadapkan pada masalah tuntutan ganti kerugian atas kerusakan, kekurangan atau kehilangan barang didalam petikemas selama berada diterminal petikemas. Sehubungan dengan penggangkatan dilaut maka tanggunghjawab yang berkaitan dengan tuntutan ganti kerugian oleh pihak-pihak yang mengajukannya semakin dirasakan sebagai suatu hal yang penting demi kepentingan pemilik atas keselamatan barang yang diangkut dan merupakan suatu kebutuhan yang semakn diperlukan. Permasalahan tuntutan ganti kerugian atas kerusakan, kekurangan ataupun kehilangan didalam petikemas sering terjadi dan tidak jarang menimbulkan konflik di antara para pihak, apalagi didalam undang-undang tidak ada ketentuan yang mengatur khusus tentang perjanjian  penanganan angkutan petikemas. Perjanjian ini biasanya hanya di dasarkan pada kesempatan para pihak dan mengacu pada kebiasaan yang berlaku dalam pengangkutan, sehingga menimbulkan persepsi yang berbeda-beda, dimana antara teori dan prakteknya tidaklah selalu berjalan karena adanya ketentuan-ketentuan yang dibuat sendiri oleh para pihak yang mengait mereka sebagai undang-undang. Tuntutan penggantian kerugian oleh pengguna jasa terminal petikemas baik dari pihak pengirim barang maupun penerima barang, biasanya terjadi pada saat barang diserahkan dari pengangkutkepada sipenerima setelah petikemas ditumpuk dilapangan penumpukan karena adanya kekurangan jumlah barang atau terjadi kerusakan pada barang ataupun petikemas.
Pemanfaatan Kotoran Kambing Pada Budidaya Tanaman Buah Dalam Pot Untuk Mendukung Perkembangan Pondok Pesantren Mujiyo Mujiyo; Suryono Suryono
PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 1, No 1 (2017): June
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/prima.v1i1.35147

Abstract

Program IbM ini bekerjasama dengan dua mitra, yaitu: (1) UKM Peternakan Kambing “Maendo Mulyo”, dan (2) Pondok Pesantren “Al Mukhlishin”. Mitra (1) berlokasi di Desa Bakalan Desa Ngadirejo, Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar yang berjarak tempuh sekitar 25 km dari Fakultas Pertanian UNS. Bidang usaha yang dikembangkan oleh mitra (1) tersebut adalah usaha kambing. Sedangkan Mitra (2) berlokasi di Desa Tegalgede Kecamatan Karanganyar Kabupaten Karanganyar. Pondok Pesantren Al Muklishin tergolong Pondok Pesantren Salafiyah; yang masih tetap mempertahankan sistem pendidikan khas Pondok Pesantren, baik kurikulum maupun metode pendidikannya. Selain kegiatan Keagamaan, PonPes Al Muklishin juga megadakan kegiatan lain diantaranya adalah pertanian. Permasalahan Mitra 1 (UKM Peternakan Kambing “Maendo Mulyo”) : Mitra 1 dalam kegiatan IbM ini menghadapi permasalahan utama yaitu banyaknya kotoran kambing yang belum termanfaatkan, produksi limbah ternak kambing (kotoran kambing) yang sangat tinggi, yaitu sekitar 50 kg limbah per hari (1,5 ton per bulan), dan jika hal ini dibiarkan akan menjadi tumpukan kotoran kambing yang sangat berbau dan dapat mengundang lalat sebagai penular berbagai macam penyakit, apabila dikelola/diolah/difermentasi bisa digunakan sebagai pupuk organik yang sangat bermutu. Dalam usaha peternakan kambing ini ingin mengarah pada peternakan yang ramah lingkungan sehingga tidak menjadi masalah di masyarakat. Permasalahan Mitra 2 (Ponpes “Al Mukhlishin”) : Mitra 2 dalam kegiatan IbM ini menghadapi permasalahan utama yaitu tingginya kebutuhan buah harian untuk santri mukim sejumlah 95 orang yang diasuh oleh 4 orang guru pondok tetap. Oleh karena itu diperlukan penyediaan buah secara mandiri yang harganya lebih murah, seperti buah organik yang ditanam dalam pot dengan memanfaatkan pupuk dari kotoran kambing yang dibuat dengan menggunakan kotoran ternak kambing yang belum dimanfaatkan. Solusi yang ditawarkan untuk mengatasi permasalahan utama yang dihadapi mitra (1) adalah teknologi pembuatan pupuk organik yang dapat digunakan sebagai pupuk organik yang sangat bermutu yang dapat digunakan sebagai pupuk organik bagi usaha budidaya buah organik dalam pot pada mitra (2).
IbM Pemanfaatan Enceng Gondok Dan Jerami Sebagai Pakan Ternak Dan Pupuk Alternatif Di Desa Ngargorejo Suryono Suryono
PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 1, No 1 (2017): June
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/prima.v1i1.35149

Abstract

Science and technology for society program (IbM) on Ngargorejo Village. The usage of  Water Hyacinth (Euchornia crassipes) and Straw as an Cattle Feed and Fertilizer Alternative in cooperation with two partners , namely : Mina Sejahtera Breeders Group and Ngudi Makmur Farmers Group Association subdistrict Ngargorejo Ngemplak Boyolali with the distance of about 20 km from UNS . Problems experienced by Mina Sejahtera Breeders Group can be identified as follows : the presence of water hyacinth disrupt fish farms as waters cover , water hyacinth removed only inside of reservoir and allowed to sit there . Problems experienced Gapoktan Ngudi Makmur is the availability of fertilizer is still highly dependent on chemical fertilizers manufactured, so greatly disrupt the smooth process of agricultural production and the price of chemical fertilizers manufactured, so unstable / erratic even tend to be expensive , which is ultimately detrimental to the farmers . The solutions offered to solve the problems that arise is to identify problems than continued training and practice composting of water hyacinth and straw as fertilizer and cattle feed . Outcomes that would result from the IbM action plan that will include a scientific article published by the journal in the University of Sebelas March and models / tools appropriate technology ( TTG ) in the form of trash thrasher, that partners used to make compost . As a result of this activities, training making cattle feed and fertilizer from water hyacinth and straw have been carried out. The delivery of aid water hyacinth and straw thrasher , and continued to the practice of making fertilizer and cattle feed from water hyacinth and straw.
ANALISIS PENENTUAN INTERVAL WAKTU PERAWATAN FINISH MILL BERDASARKAN DOWNTIME PADA PT. SEMEN TONASA Muh Rusdi; Muhammad Arsyad Suyuti; Aditya P H; Suryono Suryono
Jurnal Teknik Mesin Sinergi Vol 15, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Politeknik Negeri Ujung Pandang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (744.852 KB) | DOI: 10.31963/sinergi.v15i1.1174

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan cara mengolah data downtime dari masing-masing subsitem atau komponen, yang diubah menjadi data waktu antar kegagalan. Kemudian dilakukan pengujian data distribusi untuk mengetahui distribusi yang sesuai. Berdasarkan parameter yang diperoleh dapat digunakan untuk menentukan fungsi keandalan masing-masing subsistem atau komponen. Sehingga, nilai keandalan setiap komponen pada periode waktu tertentu dapat dihitung. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab kegagalan utama Unit Finish Mill selama bulan Maret 2010 – Maret 2013 adalah komponen atau subsistem 419BE01, 421BE01, 419WF01, 419FM01, 419AP01, 419FG03, 419SC01, 419FA07, 419OP01, 419AS02, 419OP10, 419BC01, 419FG04, 421GA01, 419MD02, 419OP06, 418PC07. Sehingga kehandalan difokuskan pada komponen atau subsistem tersebut, selanjutnya dilakukan penyusunan interval waktu perawatan sebagai strategi perawatan secara grup untuk mencapai kehandalan sistem yang ditargetkan.
Dampak Keterkenalan Objek Wisata Terhadap Perubahan Guna Lahan di Kota Tomohon Allfia Esterlita Mengko; Veronica A Kumurur; Suryono Suryono
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 9 No. 2 (2020): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v9i2.31731

Abstract

Kota Tomohon memiliki kondisi karakteristik wilayah yang spesifik sehingga terdapat banyak objek wisata yang terkenal serta adanya pembangunan tempat-tempat wisata baru. Hal ini telah mempengaruhi perubahan guna lahan seperti lahan kosong menjadi lahan terbangun berupa sarana penunjang pariwisata. Tujuan penelitian ini mengukur tingkat keterkenalan objek wisata di Kota Tomohon dan menganalisis dampak keterkenalan objek wisata terhadap perubahan guna lahan di Kota Tomohon. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan analisis formula milgram dengan kuesioner dan analisis spasial dengan menggunakan aplikasi ArcGIS. Berdasarkan hasil analisis maka tingkat keterkenalan objek wisata pertama bukit doa dengan perubahan guna lahan 31%, kedua danau linow dengan perubahan guna lahan 31%, ketiga welu dengan perubahan guna lahan 12%, keempat kaisanti dengan perubahan guna lahan 11%, kelima valentine dengan perubahan guna lahan 6%, keenam puncak tintingon dengan perubahan guna lahan 9%. Sehingga disimpulkan semakin tinggi nilai keterkenalan suatu objek wisata maka perubahan guna lahan pada kawasan sekitar objek wisata tersebut semakin bertambah dengan adanya perubahan guna lahan dari lahan tidak terbangun menjadi lahan terbangun. Perubahan penggunaan lahan juga tidak hanya di pengaruhi oleh keterkenalan objek wisata tetapi juga terjadi karena adanya pertambahan jumlah penduduk yang semakin meningkat sehingga permintaan akan lahan permukiman bertambah. Kata kunci: Keterkenalan, Objek Wisata, Perubahan Guna Lahan
PENGEMBANGAN KAWASAN PRIORITAS PARIWISATA DI KABUPATEN BANGGAI Evita D.S.A. Kusnanto; Pingkan P. Egam; Suryono Suryono
SPASIAL Vol. 11 No. 1 (2023): Volume 11 no.1 2023
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kabupaten Banggai merupakan salah satu dari Kabupaten di Sulawesi Tengah memiliki objek pariwisata yang potensial untuk dikembangkan. Pada penelitian ini diambil 4 objek wisata yang dijadikan objek penelitian, yaitu Pantai Kilo Lima, Pulau Dua, Teluk Lalong dan Air Terjun Salodik yang merupakan wisata unggulan di Kabupaten Banggai. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ketersediaan sarana dan prasarana wisata unggulan serta menganalisis usulan pengembangan prioritas pariwisata di Kabupaten Banggai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis AHP dengan menggunakan 5 variabel ukur; Daya Tarik Wisata, Aksesibilitas, Akomodasi, Ketersediaan Fasilitas Penunjang dan Ketersediaan Sarana Prasarana. Proses analisis metode AHP ada tiga tahap yaitu (1) tujuan analisis: menentukan prioritas pengembangan objek wisata, (2) kriteria: daya tarik wisata, aksesibilitas, akomodasi, ketersediaan fasilitas penunjang, ketersediaan sarana prasarana, (3) alternatif: Pantai Kilo Lima, Pulau Dua, Teluk Lalong, Air Terjun Salodik. Hasil penelitian dari analisis AHP menunjukan bahwa nilai keseluruhan masing-masing alternatif objek wisata di Pantai Kilo Lima sebesar (0,46), Pulau Dua sebesar (0,18), Teluk Lalong sebesar (0,14) dan Air Terjun Salodik sebesar (0,19). Maka objek wisata yang lebih diprioritaskan dalam pengembangan kawasan prioritas pariwisata Kabupaten Banggai yaitu Pantai Kilo Lima dengan bobot nilai (0,46). Kata Kunci : Pengembangan, AHP, Kawasan Prioritas, Kabupaten Banggai
Sistem Pakar Untuk Menentukan Tingkat Risiko Ibu Hamil Pada Klinik Bersalin Pratama Umi Rahma Menggunakan Metode Forward Chaining Suryono Suryono; Lisna Dewi
JURNAL PENELITIAN SISTEM INFORMASI (JPSI) Vol. 1 No. 4 (2023): NOVEMBER : JURNAL PENELITIAN SISTEM INFORMASI
Publisher : Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54066/jpsi.v1i4.1240

Abstract

Umi Rahma Maternity Clinic which provides pregnancy and childbirth examination services. Eclampsia ranks second in causes of maternal death. Preeclampsia diagnosis, which is a precursor to eclampsia, needs to be implemented to reduce maternal and child mortality rates. The aim of this research is to create an expert system for early diagnosis of preeclampsia in pregnant women using the Forward Chaining method. Research methodology stages include literature study, observation, interviews, data collection, primary and secondary. data preprocessing, database design, system design, analysis the calculation results. ,Gestational Age, Maternal Age, Edema. From the system output results, namely the diagnosis of mild preeclampsia and severe preeclampsia. The use of this expert system is web-based using the PHP programming language. To find out the accuracy of the system, a system evaluation was carried out by comparing the expert results with the system results on 10 testing data, and getting 1 result indicating an incorrect result and 9 correct results. Thus, the system accuracy percentage is 90%. So this research was carried out by creating an expert system which aims to make it easier to access information regarding the symptoms of preerclampsia in pregnant women and is able to provide knowledge to pregnant women online to make it more accurate. This research uses the extreme programming method in developing an expert system which will be built using the PHP and MySQL programming languages ​​as the database and using Unified Modeling Langueage (UML) modeling.
Pengaruh Efektifitas dan Kualitas Layanan Sistem Informasi Akademik Berbasis Web terhadap Tingkat Kepuasan Mahasiswa Pada STMIK Pranata Indonesia Bekasi Suryono Suryono
Merkurius : Jurnal Riset Sistem Informasi dan Teknik Informatika Vol. 3 No. 6 (2025): November: Merkurius: Jurnal Riset Sistem Informasi dan Teknik Informatika
Publisher : Asosiasi Riset Teknik Elektro dan Informatika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/merkurius.v3i6.1143

Abstract

The use of information technology has become a non-negotiable necessity, as the availability of integrated information is increasingly crucial in supporting efforts to create efficient and competitive company/organizational systems. Good academic information system management is essential for providing services to those in need and resulting in improved performance in education delivery. Accuracy and precision in presenting information are important factors in managing information. From the results of the t-test calculation calculated using SPSS 20 partially, it was found that the t-value for the effectiveness variable was 3.819 and the convenience variable was 1.745 and the quality variable was 1.933 when compared with the t-table of 1.663, it was concluded that Ho was rejected and H1 was accepted, thus partially the independent variable influenced the dependent variable, namely student satisfaction. From the results of the F-test calculation, it was found that the F-count was 9.628> from the F-table, which was 2.48, and the significance level was 0.00, which was smaller than 0.05, and this meant that overall the independent variables had an effect on the dependent variable. From the results of the R test, it was found that the determinant coefficient was 0.599 and R2 was 0.359, this meant that the influence of the independent variables on the dependent variable was 35.9% and the remaining 64.1% was influenced by other variables that had not been studied.
Manipulation of the aquatic physical environment and its relationship with ectoparasitic infection in dumbo catfish (Clarias sp) Suratno Suratno; Suryono Suryono; Muhammad Naswir
Depik Vol 12, No 3 (2023): DECEMBER 2023
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.12.3.33182

Abstract

Fish disease is an obstacle in the cultivation of Dumbo catfish (Clarias sp.) which can result in fish death. The need for information on how to prevent and treat fish diseases is very necessary. This study aims to determine the effect of aeration duration on water quality, ectoparasite intensity, prevalence, dominance, survival and condition factors, then correlate water quality with ectoparasite intensity. This study used a Complete Randomized Design (CRD) with five treatments and four replications. Treatment includes aeration 0 hours/day, 6 hours/day, 12 hours/day, 18 hours/day and 24 hours/day. Data analysis using ANOVA of a certain level of significance. If there is a noticeable difference from each treatment, proceed to the DUNCAN test. Test the correlation of water quality with ectoparasite intensity. The result of this study is that long aeration can increase oxygen solubility, acidity but reduce ammonia and nitrite. The correlation value of oxygen solubility in ectoparasite intensity is 0.828, acidity (pH) is 0.849, ammonia is -0.888, nitrite is -0.592. The prevalence value of P0 and P1 is 0%, P2 is 89%, P3 and P4 is 100%. The intensity of ectoparasites in Dumbo catfish (Clarias sp.), at P0 is 2, P1 is 13, P2 is 75, while at P3 and P4 is 100. The dominance of ectoparasites that infect is Trichodina sp. by 71.7-100% and Dactylogyrus sp. by 0-28.4%. The survival rate of fish at P0 was highest with a value of 89%, P1 at 84%, P2 at 71%, P3 and P4 rates at 0%. The value of the condition factor then P0 and P1 have a value of 1, P2, P3 and P4 have a condition factor value of 1. It is concluded that the longer aeration is given, the solubility of oxygen increases which results in an increase in the intensity and prevalence of ectoparasite infections, the pH of the water becomes neutral and decreases the content of ammonia and nitrite. There is a moderate to very strong correlation between water quality and ectoparasite intensity. There is an increase in the prevalence of infection, ectoparasite intensity and fish mortality so that it can reduce the survival and condition factors of Dumbo catfish (Clarias sp.).Keywords:AerationInfectionEctoparasitesClarias sp