Claim Missing Document
Check
Articles

FENOMENA DIFUSI LEKSIKAL UNSUR BAHASA Wahya Wahya
Jurnal Sosioteknologi Vol. 10 No. 23 (2011)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Linguistics lexical diffusion is a phenomenon that can occur in any language. Lexical diffusion of innovation is an element of language that spreads from the lexical to a lexical one another. Observation of lexical diffusion must begin with the observation of language lexical innovation. By observing the lexical diffusion, we can observe how the gradualism changes language elements. This shows that language change does not occur sporadically, but it was systematic. Keywords: lexical diffusion, innovation, gradualism
ISTILAH ALAT TEKNOLOGI TRADISIONAL PERTANIAN SAWAH SUNDA WULUKU ‘BAJAK’ DAN PERSEBARANNYA SECARA GEOGRAFIS Wahya Wahya; Fatimah Djajasudarma; Elvi Citraresmana
Jurnal Sosioteknologi Vol. 16 No. 2 (2017)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2017.16.2.6

Abstract

Etnik Sunda sudah sejak lama mengenal bertanam padi di sawah. Bertanam padi seperti ini dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu, yakni mulai mengolah lahan sampai dengan memetik padi. Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pertanian sawah mengalami perkembangan, baik terkait dengan sistem irigasi maupun perlengkapan yang digunakan dan pupuk penyubur tanaman serta obat-obatan pembasmi hama. Namun demikian, sampai sekarang masih juga dimanfaatkan teknologi tradisioonal pertanian sawah oleh orang Sunda. Salah satu alat yang masih digunakan dalam mengolah lahan adalah wuluku ‘bajak’. Alat ini digunakan dengan cara ditarik oleh seekor atau dua ekor kerbau. Petugas yang melaksanakan pengolahan lahan dengan menggunakan wuluku ini memberikan instruksi-instruksi tertentu kepada kerbau. Dalam bahasa Sunda, kata wuluku memiliki variasi lain, seperti luku dan singkal. Dari hasil penelitian geografi dialek diketahui bahwa kata wuluku dan variasinya ini menyebar di berbagai daerah sejalan dengan penyebaran teknologi sawah tradisional dalam masyarakat Sunda. Artikel ini mencoba mendeskripsikan kata wuluku dan variasinya beserta penyebarannya secara geografis dalam wilayah tutur bahaa Sunda di Jawa Barat.
Toponimi Nama Tempat Berbahasa Sunda di Kabupaten Banyumas Cece Sobarna; Gugun Gunardi; Wahya Wahya
PANGGUNG Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.029 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v28i2.426

Abstract

ABSTRACTThe continuous changes of society have brought some impacts to the name of a place. Even though it is only a name, it actually deals with the cultural perspective of the surrounding communities. Currently, toponym becomes important for society as a part of identity formation processes including for the Sundanese. Beside spoken in West Java and Banten, Sundanese language is also spoken by Central Java communities who live in western areas such as Cilacap, Brebes, and Banyumas regencies. In Cilacap and Brebes regencies, Sundanese language is still an effective language for daily communication. However, in Banyumas regency, this language undergo changes. In fact, the Sundanese language in Banyumas is a quite unique since the archaic words such as pineuh  (sleeping) and teoh (below) are still found. This area still keeps its oral tradition such as the story about the history of the place names. By employing dialectology theory to the data collected from the field, this study of the place name is an effort to strengthen an identity as the place name can be understood as a symbol rooted on the history of the place in its local culture. This tradition contributes toward a sustainability of the place name along with their cultural values.Key words: place names, local wisdom, identity   ABSTRAKPerubahan masyarakat yang terus-menerus berpengaruh pada perubahan penamaaan tempat di suatu daerah.Tidak hanya sekadar nama, dalam penamaan sebuah tempat terkandung pandangan  masyarakat pemiliknya. Saat ini, toponimi menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia sebagai bagian dari proses pembentukan identitas. Selain di wilayah Jawa Barat dan Banten, bahasa Sunda digunakan pula oleh sebagian masyarakat Jawa Tengah yang berada di bagian barat, seperti Kabupaten Cilacap, Brebes, dan Banyumas. Di wilayah Kabupaten Cilacap dan Brebes bahasa Sunda sampai sekarang masih digunakan. Namun, di wilayah Kabupaten Banyumas, bahasa Sunda mengalami penyusutan. Padahal, bahasa Sunda di wilayah tersebut cukup menarik, yakni masih ditemukan kata-kata arkais, seperti pineuh ‘tidur’ dan teoh ‘bawah’. Wilayah ini juga masih menyimpan banyak tradisi lisan, di antaranya adalah ihwal cerita terjadinya nama tempat. Dengan menggunakan teori dialektologi terhadap data yaang dikumpulkan di lapangan, pengkajian nama tempat ini merupakan sebuah upaya yang strategis dalam rangka penguatan jati diri bangsa karena nama tempat dapat dipahami sebagai tanda yang mengacu pada cerita dan sejarah yang berakar pada budaya lokal. Tradisi ini berkontribusi terhadap kelanggengan nama berikut nilai-nilai budaya di dalamnya.Kata kunci: nama tempat, kearifan lokal, jati diri
PEMERTAHANAN BAHASA SUNDA DI KECAMATAN BINONG KABUPATEN SUBANG: SUATU KAJIAN SOSIOLINGUISTIK (THE MAINTENANCE OF SUNDANESE LANGUAGE IN BINONG DISTRICT, SUBANG REGENCY: A SOCIOLINGUISTIC STUDY) Nunung Yuliantini; Cece Sobarna; Wahya Wahya
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 19, No 2 (2021): METALINGUA EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/metalingua.v19i2.927

Abstract

This research examines about matters and language choice, the preservation pattern and strategy of Sundanese language, and the determinants that influence of Sundanese language preservation. in Binong District, Subang Regency. This research was conducted by considering two approaches, those were theoretical approach and methodological approach. Theoretically, the approach used in this research is a sociolinguistic approach. Methodologically, this research used a combination of quantitative and qualitative methods. The data sources extracted in this study consisted of main data in the form of respondents’ answers to the questionnaire, respondents’ answer during the interview, and notes during observation; as well as additional or secondary data sources, in the form of supporting documents such as the informant’s age, educational background, and environment. Data were obtained from respondents with certain age criteria (children, adolescence, adults, and the elderly) according to a questionnaire designed to support the study towards the identified problems. The data used in this study comes from the use of Sundanese in the communities of Nangerang Village, Cicadas, Karangsari, and Binong Village. A total of 160 respondents spread across four villages (Nangerang Village, Cicadas, Karangsari, and Binong Village) were used as research samples.The results showed that: (1) The attitudes and language choices of the Nangerang Village, Cicadas, Karangsari, and Binong Village people were based on four age groups, those are: children 6-12 years, adolescence 13-21, adults 22-35, and the elderly 36-70 years, in general, from all respondents, most of them still use Sundanese as their main language in communication; (2) the pattern and strategy of the Sundanese language preservation on the eight domains of use, Sundanese is still consistently used by Sundanese speakers in Binong sub-district, at various age levels, starting from the age of children, adolescents, adults, and the elderly, in the eight domains of use, namely the family domain. neighborliness and friendship, transactions, traditions/culture, education, government, religion, and topics of discussion; and (3) Internal factors extremely influence the preservation of Sundanese language, especially depending on the positive attitude of Sundanese language in personal, family environment, and close relatives who make Sundanese language accustomed to the life of the people. External factors have made the use of Sundanese language marginalized and replaced by Indonesian and local Javanese.
HUMOR PORNOGRAFI DALAM TATARUCINGAN ‘TEKA-TEKI SUNDA’ (PORNOGRAPHIC HUMOUR IN TATARUCINGAN ‘SUNDANESE RIDDLES’) Hera Meganova Lyra; Wahya Wahya; R Yudi Permadi
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 18, No 1 (2020): METALINGUA EDISI JUNI 2020
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.127 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v18i1.509

Abstract

This writing describes pornographic humour conveyed in tatarucingan ‘Sundanese riddles’. I focuses on pornographic connotation and types of pornographic humour existing in tatarucingan. The method used was descriptive one with theoretical analysis by Sukatman (2009) combined with Danandjaja (1984), Rahmanadji (2007), Yuniawan (2007), and Mulia (2014). The result shows that the pornographic connotation in tatarucingan conveyed in the questions or answers of the tatarucingan ‘riddles’. I means that the pornographic connotation may be conveyed in the questionsand may also be in the answers of the riddles. The types of pornographic connotation include rational-answer humour, logic games humour, pseudo-incoherence humour, sound games humour and metaphorical humour. AbstrakPenelitian ini mendeskripsikan humor pornografi yang terdapat dalam tatarucingan ‘teka-teki Sunda’. Masalah yang dikaji meliputi konotasi pornografi dan jenis humor pornografi yang terdapat dalam tatarucingan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan kajian menggunakan analisis teori Sukatman (2009) yang diekletikkan dengan teori Danandjaja (1984), Rahmanadji (2007), Yuniawan (2007), dan Mulia (2014). Hasil penelitian menunjukkan konotasi pornografi yang terdapat dalam tatarucingan muncul pada pertanyaan atau jawaban tatarucingan. Dalam arti, konotasi pornografi ada yang muncul dalam pertanyaan,ada pula yang muncul dalam jawaban tatarucingan. Humor pornografi jika dilihat dari jenisnya meliputi humor rasionalitas jawaban, humor permainan logika, humor ketidaklogisan semu, humor permainan bunyi, dan humor bermetafora.
Makna Imperatif Struktural dan Nonstruktural dalam Novel Anak Berbahasa Inggris Hello Universe Karya Erin Entrada Kelly Afni Apriliyanti Devita; Wahya Wahya; Nani Darmayanti
Silampari Bisa: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa Indonesia, Daerah, dan Asing Vol 3 No 2 (2020): Silampari Bisa: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa Indonesia, Daerah, dan Asing
Publisher : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31540/silamparibisa.v3i2.1000

Abstract

One of the literary works for children that can be used as a medium for learning English is novel. The children's novel tells the children's worlds and thoughts. The method used in this research is examine the imperative form of speech in the English children's novel Hello Universe by Erin Entrada Kelly with a pragmatic study. The object or data of this research is the imperative structural and non-structural speech in the novel. The technique of collecting data was done by using the observation technique and noting technique from the novel. The data analysis used the distributional and identity method with the Segmenting Immediate Constituents technique and Dividing Key Factors technique with pragmatic competence-in-dividing technique, namely reading imperative sentences in the novel, classifying structural imperative sentence types, analyzing data based on the form and function of imperative speech, and summarize research results. The data validity was checked through membercheck and pragmatic expert test. Based on the research results, it was found that the form of utterance with imperative meaning consists of declarative sentences, interrogative sentences and imperative sentences. The meaning of the imperative can be found in non-structural imperative sentences in the form of declarative and interrogative sentences. The use of imperatives in this novel uses more direct speech because the conversation is in non-formal children's friendship situations. The structural imperative speech function is mostly a command. Meanwhile, the interrogative sentence mostly has a function as a request and declarative sentences mostly has a function as a suggestion.
Kata Bahasa Indonesia Penanda Register Twitter: Suatu Kajian Morfologi Rima Rismaya; Wahya Wahya; Fahmy Lukman
Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 5 No 2 (2022)
Publisher : Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (727.199 KB) | DOI: 10.30872/diglosia.v5i2.411

Abstract

This study was conducted to describe the formation and meaning of Indonesian words as Indonesian Twitter's tweet register markers. This research is a qualitative descriptive study with data collection methods using listen and note method. The referential equivalent method and the content analysis method with the presentation of the results of data analysis carried out using formal and informal methods are two methods used in data analysis. The data source is Twitter user comments in the six tweets of the @areajulid account with the most comments in 2021. The results show that there are five ways of forming Indonesian words as Twitter registers, namely the process of (1) affixation, including the words "mengjamet", "mengkesal", and "membagongkan"; (2) abbreviations include the words "mjb", "pen", "jamet", "lontang", "sat", "dahlah", and "monmaap"; (3) anagrams include the words "kane", "isilop", and "ngab"; (4) hybrids include the words "kenawhy", "akhlakn't", and "jujurly"; and (5) changes in the form of syllables in basic words including the words "anjir", "anjrit", "santuy", "gemoy", and "cangtip". The purposes of using the Indonesian word Twitter register marker are (1) to express feelings; (2) to make fun of; (3) to greet; and (4) to misspelt words.
ANALISIS FONOLOGIS KOSAKATA ISOLEK SUNDA DI KECAMATAN CILAMAYA KULON KABUPATEN KARAWANG (PHONOLOGICAL ANALYSIS OF SUNDA ISOLEK VOCABULARY IN CILAMAYA KULON DISTRICT OF KARAWANG REGENCY) Zakia Nurfitri Aulia; Cece Sobarna; Wahya Wahya
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 20, No 1 (2022): METALINGUA EDISI JUNI 2022
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/metalingua.v20i1.941

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perubahan bunyi yang terjadi dalam peristiwa tutur masyarakat Cilamaya Kulon. Objek penelitian ini adalah kosakata yang mengalami perubahan bunyi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kualitatif yang terdiri dari tiga tahap, yakni, (1) tahap penyediaan data menggunakan metode simak; (2) tahap analisis data menggunakan metode padan; dan (3) tahap penyajian hasil analisis data menggunakan metode formal dan informal. Berdasarkan penelitian ini ditemukan 48 kosakata yang mengalami perubahan bunyi yang diklasifikasikan berdasarkan teori Crowley (2010), yakni (1) penguatan bunyi vokal [ɛ] à [i] dan [ə] à [ɛ]; (2) pelemahan bunyi yang meliputi perubahan bunyi vokal dan konsonan. Pelemahan bunyi vokal di antaranya adalah perubahan vokal [a] à [ə], [ö] à [ə], [ɔ] à [ə], dan [ɛ] à [ə].  Pelemahan bunyi fonem konsonan di antaranya [b] à [p] dan  [w] à [h] ; (3) aferesis pada konsonan fonem /h/; (4) sinkope pada konsonan fonem /a/, /l/, dan /d/; (5) apokope pada konsonan (h); (6) protesis pada fonem konsonan vokal /ɔ/ dan /ö/; (7) epentesis pada fonem konsonan /n/dan /m/ yang merupakan fonem konsonan apiko dental  nasal dan bilabial; (8) paragog pada fonem konsonan /h/.
Dimensi Sintaksis dan Semantik Partikel Euy dalam Novel Budak Teuneung Karya Samseodi Wahya Wahya
Metahumaniora Vol 9, No 1 (2019): METAHUMANIORA, APRIL 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v9i1.22875

Abstract

Partikel euy merupakan salah satu partikel fatis dalam bahasa Sunda. Partikel ini, sebagaimana partikel fatis lain, tidak memiliki fungsi sintaksis dalam kalimat, yakni sebagai unsur ekstraposisi dalam kalimat. Tulisan ini yang berjudul  “Dimensi Sintaksis dan Semantik Partikel Euy dalam Novel Budak Teuneung”membahas perilaku sintaksis partikel euy, yaitu keberadaannnya dalam jenis kalimat berdasarkan bentuk sintaksisnya, dan makna gramatikal partikel euy dalam lingkungan kalimat deklaratif, interogatif, imperatif, dan eksklamatif. Metode penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode simak dengan teknk catat. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan metode agih atau distribusional. Sumber data yang digunakan adalah novel anak-anak yang berjudul Budak Teuneung (2018) karya Samsoedi. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan 46 data kalimat yang memuat partikel euy. Berdasarkan analisis terhadap 46 data tersebut dengan pendekatan sintaksis dan semantik, dapat disimpulkan bahwa partikel euy  dapat berposisi di awal, di tengah, atau di akhir kalimat deklaratif, tetapi dominan berposisi di tengah kailimat. Partikel euy hanya berposisi di tengah dan di akhir kalimat interogatif, tidak ada yang berposisi di awal kalimat. Partikel euy dapat berposisi di awal, di tengah, dan di akhir kalimat imperatif, tetapi dominan berposisi di akhir kalimat. Partikel euy hanya berposisi di awal dan di akhir kalimat eksklamatif, tidak ada yang berposisi di tengah kalimat. Secara semantik, partikel euy bersama jenis kalimat yang memuatnya memiliki keragaman makna gramatikal. Secara umum dapat dikatakan partikel euy beserta unsur lingusitik yang mendampinginya dalam kalimat deklaratif memiliki makna ‘meberitahukan atau menyatakan sesuatu’; dalam kalimat interogatif, memiliki makna ‘meminta sesuatu’; dalam kalimat imperatif, memiliki makna ‘meminta sesuatu’ atau ‘memerintahkan sesuatu’; dalam kalimat  eksklamataif. memiliki makna ‘mengungkapkan atau menyampaikan sesuatu’.Particle euy is just one-structured particles in the Sundanese language. This  particle, as another particles phatic, does  not have the syntactic function in the sentence, namely as an element in extraposition sentence. This article entitled "Dimensions of Syntax and Semantics of the Euy Particle in Novel of Budak Teuneung" discuses the behavior of particles in syntax dimension, namely it’s distribution in the type of sentence based on syntactic and grammatical meaning of particles in the environment, namely in declarative sentences, interrogative, imperative, and exclamative ones. This research method is descriptive qualitative. Data collected by using observation techniques to record. Furthermore, the data were analyzed using distributional method. Source data used is a children's novel titled Budak Teuneung (2018) written by Samsoedi. Based on the results of the study, found that 46 data sentence contains particles here. Based on an analysis of 46 data with the approach of syntax and semantics, it can be concluded that the particle euy can be positioned at the beginning, in the middle, or at the end of a declarative sentence, but a dominant position in the middle; particle euy simply positioned in the middle and at the end of interrogative sentences, no position early in the sentence; particle euy can be positioned at the beginning, in the middle, and at the end of the imperative sentence, but a dominant position in the end of the sentence; particle euy only just plays in the beginning and at the end of the exclamative  sentence, no position in the middle of a sentence. Semantically, particle euy with the kind of sentences  contain a variety of grammatical meaning. Generally speaking, the particle with linguistic elements that accompany the declarative sentences have meaning 'report missing or declared something'; interrogative sentences have  meaning 'ask anything';  imperative sentences have meaning 'ask anything' or 'ordered something';  exclamative sentences have  meaning 'reveal or convey something'. 
Naon ataukah Naon ‘Apa’ Inovasi Internal dalam Bahasa Sunda Wahya Wahya
Metahumaniora Vol 7, No 1 (2017): METAHUMANIORA, APRIL 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v7i1.23320

Abstract

Konsep ‘apa’ dalam bahasa Sunda diekspresikan dengan kata naᴐn. Secara geolinguistik kata naᴐn memiliki varian naön. Sebaran geografis kata naᴐn dan naön berbeda. Kata naᴐn  tersebar luas di wilayah Priangan, sedangkan naön  tersebar di daerah Banten dan Priangan Timur berbatasan dengan Jawa Tengah, juga di Brebes. Secara diakronis kata naᴐn berasal dari nahaon, sedangkan kata naön  berasal dari nahaön, yang masingmsing kehilangan suku kata ha  karena proses sinkop. Baik kata nahaon  maupun nahaön memiliki bentuk dasar naha  yang masing-masing ditambah suku kata on  dan ön. Dalam bahasa Sunda bentuk ön secara morfemis berstatus sufiks. Dengan demikian, kemungkinan besar kata nahaön merupakan kata polimorfemis yang berasal dari naha + - ön. Dari analisis di atas, kemungkinan besar kata nahaon  berasal dari nahaön. Sama halnya dengan kata naᴐn  berasal dari naön. Dengan demikian, kata naᴐn dan nahaᴐn masing-masing merupakan inovasi internal dari kata naön dan nahaön.