Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Morfofonemik Bahasa Indonesia pada Kata Serapan Bahasa Inggris yang Berawalan Fonem Voiceless: Kajian Teori Optimalitas Ferdiansyah, Irfan; Wagiati, Wagiati; Wahya, Wahya
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 17 No 2 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/st.v17i2.22890

Abstract

This study analyzes the morphophonemic prefix me- on English loanwords in Indonesian language. The approach used to dissect the problem is the Optimality Theory. The method used is a qualitative method with descriptive. The source used in this study is the corpus ind_mixed_2013 in the Corpora Collection Leipzig, and the dictionary source used is the dictionary of Alan M. Stevens and A. Ed. Schmidgall-Tellings entitled A Comprehensive Indonesian-English Dictionary, Second Edition. The purpose of this study is to find the optimal candidate produced by the speaker and find out the relationship between the optimal candidate and the candidate with the most frequency in the corpus. The results obtained in this study show that the candidates most often formed by BI speakers are candidates who have experienced nationalization [n], and [ŋ]. Then, BI speakers have become accustomed to using optimal candidates, except for absorption words that begin with the phonemes /p/, /s/, and /k/.
ASMA YAUM AL-QIYAMAH FIZ AL-QUR'AN AL-KARIM MIN KHILAL AL-MANZHIR AL-DALALI AL-MA'RIFI WA QIYAMUHU AL-TARBAWIYAH AL-RIHIYAH Kosim, Abdul; Nur, Tajudin; Wahab, T. Fuad; Wahya, Wahya
Arabi : Journal of Arabic Studies Vol. 3 No. 2 (2018)
Publisher : IMLA (Arabic Teacher and Lecturer Association of Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24865/ajas.v3i2.94

Abstract

This study aimed to discuss the names of judgment day in the Qur'an through cognitive semantic approach and the values of spiritual education. Through the cognitive semantic approach, the conception of meaning to describe the judgment day in the Qur'an was formulated by mapping the meaning resulted from the source domain (Sd) to target domain (Sd). To show and compare references in (Sd) to (Td), referential technique was used. From organizing (Sd) to (Td) on metaphorical expressions which showed the judgment day in the Qur'an, the conceptions of the meaning of state, time, movement, and change were generated. The studies on the names of judgment day in the Qur'an influence the value of moral education, which is able to increase faith in God, observe nature and its big symptoms, create good character between God and man, and believe in God's noble character.
The Role of the Sound of the Letter "Q" in the Middle and End of Words in Mandar Haruna, Nabilah; Sobarna, Cece; wahya, Wahya
Journal of Social Research Vol. 3 No. 12 (2024): Journal of Social Research
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/josr.v3i12.2322

Abstract

This study raises the role of the sound of the letter "q" in Mandar, especially when it is in the middle and end of the word. The Mandar language, which lives and is used by the people of West Sulawesi, has characteristics that are often misunderstood by non-Mandar speakers. One of the most common mistakes is to replace the sound of the letter "q", which is actually a glottal stop, with the sound of "k", which results in a significant shift in meaning. This study aims to reveal the importance of correct understanding of the pronunciation of glottal stops, especially in the context of the Mandar language. Through a qualitative descriptive method, this study collected data from native speakers and the Great Dictionary of Mandarin-Indonesian Language, to analyze words containing the letter "q". The results of the study show that the sound of glottal stop is very crucial in maintaining the authenticity of the meaning and understanding of a word in Mandar. With a collection of 55 words, the study highlights the urgency of preserving the correct way of pronunciation to avoid misunderstandings among non-native speakers. This research not only contributes to the development of linguistics, but also supports efforts to revitalize the Mandar language, which is now endangered. By understanding the sound of this glottal stop, it is hoped that news anchors, journalists, and the general public can better appreciate and use the Mandar language appropriately, so that this regional language remains alive and developing.
VOKATIF PENGHORMATAN BAHASA SUNDA DALAM PERSPEKTIF SINTAKSIS: VOKATIF PENGHORMATAN BAHASA SUNDA DALAM PERSPEKTIF SINTAKSIS Wahya, Wahya; Permadi, R. Yudi; Ampera, Taufik
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 5 No 1 (2023): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Februari, 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v5i1.44

Abstract

Vokatif penghormatan dalam bahasa Sunda merupakan salah satu vokatif yang secara sintaktis dapat diamati perilakuknya. Penelitian ini yang berjudul “Vokatif Penghormatan dalam Bahasa Sunda: Kajian Sintaksis” mengamati vokatif penghormatan yang terdapat dalam jenis kalimat berdasarkan bentuk sintakasis. Di samping itu, mengamati distribusi vokatif dalam kalimat serta satuan lingual yang mendampingi vokatif penghormatan tersebut dalam kalimat deklaratif, baik yang di sebelah kanan maupun yang di sebelah kirinya. Penenelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode simak dengan tekni catat; penganalisisan data menggunakan metode distribusional dengan pendekatan sintaksis. Sumber data yang digunakan adalah tujuh buah buku fiksi berbahasa Sunda. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa vokatif penghormatan terdapat dalam kalimat deklaratif, kalimat imperatif, kalimat interogatif, dan kalimat eksklamatif dan dominan terdapat dalam kalimat deklaratif dan eksklamatif. Vokatif penghormatan dapat berdistribusi pada awal, tengah, dan akhir kalimat dan dominan terdapat pada akhir kalimat eksklamatif. Satuan lingual yang mendampingi vokatif penghormatan dalam kalimat deklaratif, ada yang di sebelah kanan kalimat deklaratif; ada yang di selah kiri kalimat deklaratif. Pendamping di sebelah kanan umumnya berkonstruksi bukan klausa, sedangkan pendamping di sebelah kiri semuanya berkonstruksi klausa.
SISI SOSIOLINGUISTIK PENGGUNAAN VOKATIF PENGGALAN BAHASA SUNDA DALAM NOVEL KABANDANG KU KUDA LUMPING: SISI SOSIOLINGUISTIK PENGGUNAAN VOKATIF PENGGALAN BAHASA SUNDA DALAM NOVEL KABANDANG KU KUDA LUMPING Wahya, Wahya; Permadi, R. Yudi; Ampera, Taufik
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 4 No 3 (2022): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2022
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v4i3.71

Abstract

Vokatif merupakan unsur universal bahasa yang digunakan penutur untuk memanggil pertutur. Secara bentuk, vokatif ada dua, yaitu bentuk utuh dan bentuk penggalan. Tulisan ini membahas vokatif bentuk penggalan. Metode penelitian bersifat deskriptif kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode simak dengan teknik catat. Metode analisis data menggunakan metode distribusional dan padann. Sumber data penelitian berupa novel berbahasa Sunda berjudul Kabandang ku Kuda Lumping (2018) karya Ahmad Bakri. Berdasarkan sumber data yang digunakan diperoleh 34 data yang memuat vokatif dalam bentuk penggalan, yaitu 31 data memuat vokatif nama diri dan 3 data memuat vokatif kekerabatan. Dari 31 data vokatif nama ditemukan 6 vokatif nama diri yang berbeda, yaitu Mod, Asan, Jang, Léh, Téng, dan Yib yang masing-masing merupakan penggalan dari Emod, Marhasan, Ujang, Aléh, Oténg, dan Oyib. sedangkan vokatif kekerabatan yang berbeda ada 2, yaitu Ki dan Mang, yang masing-masing merupakan penggalan dari Aki ‘Kakek’ dan Emang ‘Paman’. Hubungan sosial yang terdapat di antara penutur dan petutur adalah 26 merupakan hubungan sosial pertemanan, 2 hubungan sosial ketetanggaan, 5 hubungan sosial kenalan baru, dan 1 hubungan sosial suami-istri. Adapun dari sisi pemakaian tingkat tutur, 33 data menunjukkan tingkat tutur kode akrab dan 1 data menunjukkan tingkat tutrur kode hormat. Tingkat tutur kode hormat hanya ditemukan satu data, yakni antara Ujang Udin dengan Aki Uda, yang memiliki hubungan sosial ketetanggan. Dengan demikian, dari hasil analisis di atas, vokatif bentuk penggalan didominasi vokatif nama diri, hubungan sosial antara penutur dan petutur merupakan hubungan pertemanan, dan tingkat tutur didominasi kode akrab.
PERSPEKTIF SINTAKSIS TERHADAP VOKATIF BERULANG BERDERET BEREFERENSI SAMA DALAM BAHASA SUNDA: PERSPEKTIF SINTAKSIS TERHADAP VOKATIF BERULANG BERDERET BEREFERENSI SAMA DALAM BAHASA SUNDA Wahya, Wahya
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 5 No 2 (2023): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Juni 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v5i2.149

Abstract

Artikel in membahas vokatif berulang berderet bereferensi sama. Metode penelitian bersifat deskriptif-kualitatif. Penyediaan data menggunakan metode simak, yakni simak tanpa libat cakap dengan teknik catat. Penganalisisan data menggunakan metode distribusional. Adapun metode penyajian data bersifat informal. Sumber data yang digunakan adalah sebelas buku cerita rekaan berbahasa Sunda yang di dalamnya memuat data yang diperlukan. Berdasarkan hasil penelitian, dari sumber data yang digunakan dengan kriteria data yang ditetapkan, ditemukan empat belas data yang memuat vokatif berulang berderet bereferensi sama. Selanjutnya, vokatif tersebut terbagi atas tujuh tipe, yaitu (1) vokatif nama diri berulang berderet berwujud kata utuh disertai penggalannya, (2) vokatif nama diri berulang berderet berwujud penggalan disertai kata utuhnya, (3) vokatif nama diri berulang berderet berwujud penggalan, (4) vokatif kekerabatan berulang berderet berwujud kata utuh, (5) vokatif berulang berderet berunsur kata kekerabatan disertai nama diri, (6) vokatif berulang berderet berunsur nama diri disertai panggilan kesayangan, dan (7) vokatif berulang berderet berunsur panggilan kesayangan yang berbeda. Distribusi vokatif berulang berderet bereferensi sama tersebut berposisi pada awal kalimat ada sepuluh data, pada tengah kalimat ada satu data, dan pada akhir kalimat ada tiga data. Dengan demikian, dominasi pada awal kalimat. Jenis kalimat yang terbentuk dengan tipe-tipe vokatif di atas adalah interogatif, imperatif, deskriptif, dan eksklamatif. Adapun jenis vokatif yang ditemukan adalah vokatif nama diri, vokatif kekerabatan, vokatif panggilan sayang, serta vokatif kombinasi antara kekerabatan dan nama diri serta nama diri dan panggilankesayangan.
VOKATIF AKANG DAN KANG BAHASA SUNDA DALAM PERSPEKTIF SINTAKSIS: VOKATIF AKANG DAN KANG BAHASA SUNDA DALAM PERSPEKTIF SINTAKSIS Wahya, Wahya
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 5 No 3 (2023): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v5i3.180

Abstract

Artikel ini berjudul “Vokatif Akang dan Kang Bahasa Sunda dalam Perspektif Sintaksis”. Vokatif Akang dan vokatif Kang merupakan vokatif kekerabatan dalam bahasa Sunda. Vokatif Kang merupakan penggalan dari vokatif Akang. Kedua vokatif ini memiliki kesamaan dan perbedaan perilaku sintaksis. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Penyediaan data menggunakan metode simak. Penganalisisan data menggunakan metode distribusional. Sumber data terdiri atas dua belas buku fiksi berbahasa Sunda, yang terbit di antara tahun 1993 dan 2018. Berdasarkan sumber data yang digunakan dengan kriteria data yang ditentukan ditemukan kalimat yang memuat vokatif Akang dan Kang sebanyak 37 buah. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa vokatif Akang dan Kang memiliki kesamaan dan perbedaan perilaku sintaksis. Perbedaan perilaku sintaksis di antara kedua vokatif ini adalah sebagai berikut: vokatif Akang hanya terdapat dalam kalimat deklaratif dan eksklamatif, sedangkan vokatif Kang ditemukan pula dalam kalimat imperatif dan interogatif; vokatif Akang hanya terdapat pada tengah dan akhir kalimat, sedangkan vokatif Kang ditemukan pula pada awal kalimat; vokatif Akang lebih sering didahului fatis emosi, sedangkan vokatif Kang tidak; vokatif Akang dapat didahului artikula si, sedangkan vokatif Kang tidak; vokatif Akang tidak berkombinasi dengan nama diri dan gelar, sedangkan vokatif Kang berkombinasi.
PENGGUNAAN FATIS DEULEU DALAM BUKU FIKSI BERBAHASA SUNDA: PENGGUNAAN FATIS DEULEU DALAM BUKU FIKSI BERBAHASA SUNDA Wahya, Wahya
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 6 No 1 (2024): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Februari, 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v6i1.215

Abstract

Penelitian penggunaan fatis deuleu dalam fiksi berbahasa Sunda ini bersifat deskriptif- kualitatif. Data disajikan menggunakan metode simak, yakni simak bebas libat cakap. Data dianalisis menggunakan metode padan referensial dengan pendekatan sosiolinguistik dan semantik. Sumber data sampel yang digunakan berjumlah sembilan buku fiksi berbahasa Sunda dengan pertimbangan terdapatnya sampel data yang diperlukan di dalamnya. Berdasarkan pengamatan atas sumber data tersebut, dipilihlah 28 data kalimat yang di dalamnya memuat fatis deuleu. Dari semua data tersebut penggunaan fatis deuleu ditemukan hanya terdapat dalam tingkat tutur kode akrab. Selanjutnya, ditemukan empat hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur dalam penggunaan fatis deuleu ini, yaitu (1) ketetanggaan, (2) kekerabatan, (3) pertemanan, dan (4) kenalan baru dengan jumlah data masing-masing 13, 8, 6, dan 1. Selanjutnya, jika diamati berdasarkan makna konteks kalimat, fatis deuleu yang terdapat dalam kalimat eksklamatif ini dalam penuturan memiliki sebelas jenis makna gramatikal, yaitu (1) menegaskan ketidaksetujuan,1 data, (2) menegaskan kemarahan, 9 data, (3) menegaskan sanggahan, 5 data, (4) menegaskan penjelasan, 6 data, kemudian (5) menegaskan kekagetan, (6) meminta tidak terburu-buru, (7) menegaskan perintah, (8) menegaskan alasan, (9) menegaskan ejekan, (10) menegaskan penyesalan, dan (11) menegaskan larangan, masing-masing ada 1 data. Dengan demikian, penggunaan fatis deuleu dalam buku fiksi berbahasa Sunda hanya digunakan dalam tingkat tutur kode akrab dengan hubungann sosial penutur dengan mitra tutur cenderung ketetanggaan serta dengan makna gramatikal kalimat penutur terhadap mitra tutur menegaskan kemarahan.
STRATEGI BERKOMUNIKASI VERBAL ORANG SUNDA MENGGUNAKAN VOKATIF KEKERABATAN DAN VOKATIF NAMA DIRI DISERTAI TINGKAT TUTUR: STRATEGI BERKOMUNIKASI VERBAL ORANG SUNDA MENGGUNAKAN VOKATIF KEKERABATAN DAN VOKATIF NAMA DIRI DISERTAI TINGKAT TUTUR Wahya, Wahya
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 6 No 2 (2024): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Juni 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v6i2.235

Abstract

Bahasa Sunda sebagai bahasa alamiah masih digunakan sebagai alat komunikasi, baik dalam ranah keluarga maupun dalam ranah di luar keluarga oleh etnik Sunda di Indonesia. Sebagai sarana komunikasi, bahasa ini kaya dengan vokatif, di antaranya vokatif kekerabatan, vokatif nama diri, dan vokatif kombinasi kekerbatan dan nama diri. Tulisan ini membahas ketiga jenis vokatif tersebut dikaitkan dengan penggunaan tingkat tutur dalam bahasa Sunda sebagai strategi komunikasi verbal orang Sunda. Penelitian bersifat deskriptif kualitatif. Penyediaan data menggunakan metode simak dengan teknik cakap. Penganalisisan data menggunakan metode padan pragmatik dengan pendekatan sosiolinguistik. Berdasarkan kriteria data yang telah ditetapkan dari sumber data yang layak, terpilih 39 data yang memuat vokatif kekerabatan, vokatif nama diri, dan vokatif kombinasi kekerabatan dan nama diri. Dari data sejumlah itu, ditemukan sebanyak 13 data memuat vokatif kekerabatan saja, 10 data memuat vokatif nama diri saja, dan 16 data memuat vokatif kombinasi kekerabatan dan nama diri. Sejalan dengan kriteria data tersebut disertai penggunaan tingkat tutur, kemudian dikaitkan dengan strategi berkomunikasi verbal orang Sunda, sebanyak 13 data berkaitan dengan strategi kesantunan berkomunikasi orang Sunda, 10 data berkaitan dengan strategi keakraban berkomunikasi verbal orang Sunda, dan 16 data berkaitan dengan strategi kesantunan sekaligus keakraban berkomunikasi verbal orang Sunda. Berdasarkan wujud data vokatif kekerabatan dan jenis kode tingkat tutur yang menyertainya, strategi kesantunan berkomunikasi verbal orang Sunda terdiri atas (1) menciptakan hubungan agak santun, (2) menciptakan hubungan santun, (3) menciptakan hubungan lebih santun, dan (4) menciptakan hubungan sangat santun, baik dalam ranah keluarga maupun di luar ranah keluarga. Berdasarkan wujud vokatif nama diri dan jenis kode tingkat tutur yang menyertainya, strategi keakraban berkomunikai verbal orang Sunda terdiri atas (1) menciptakan hubungan lebih akrab, dan (2) menciptakan hubungan akrab, baik dalam ranah keluarga maupun di luar ranah keluarga. Selanjutnya, berdasarkan wujud vokatif kombinasi kekerabatan dan nama diri serta jenis kode tingkat tutur yang menyertainya, strategi kesantunan sekaligus keakraban berkomunikai verbal orang Sunda terdiri atas (1) menciptakan hubungan santun sekaligus akrab, (2) menciptakan hubungan lebih santun sekaligus lebih akrab, (3) menciptakan hubungan lebih santun sekaligus akrab, dan (4) menciptakan hubungan sangatsantun sekaligus akrab.
VOKATIF KESAYANGAN BAHASA SUNDA `DALAM PERSPEKTIF SOSIOLINGUISTIK: VOKATIF KESAYANGAN BAHASA SUNDA `DALAM PERSPEKTIF SOSIOLINGUISTIK Wahya, Wahya; Permadi, R. Yudi; Ampera, Taufik
KABUYUTAN Vol 1 No 2 (2022): Kabuyutan, Juli 2022
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v1i2.39

Abstract

Vokatif sebagai panggilan atau sapaan dari penutur kepada petutur memiliki berbagai jenis. Salah satu jenis vokatif ini adalah vokatif kesayangan. Vokatif ini memiliki fungsi untuk mamanggil petutur dengan perasaan sayang. Vokatif kesayangan biasanya digunakan orang tua untuk memanggil anaknya atau suami memanggil istrinya. Vokatif kesayangan secara universal terdapat dalam bahasa-bahasa di dunia, termasuk dalam bahasa Sunda. Tulisan ini membahas vokatif kesayangan dalam bahasa Sunda, yang secara khusus hanya diamati secara sosiolinguistik. Data dikumpulkan dengan metode simak dengan teknik catat. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan metode padan dengan pendekatan sosiolinguistik. Sumber data yang digunakan berupa buku fiksi berbahasa Sunda sebanyak sebelas buku. Dari hasil penelitian diperoleh 22 data kalimat yang memuat vokatif kesayangan. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa vokatif kesayangan sebanyak 22 data ini dipakai dalam hubungan sosial antara penutur dan petutur yang berbeda, yang terdiri atas (1) vokatif kesayangan untuk anak kecil laki-laki (3 data), (2) vokatif kesayangan untuk anak remaja laki-laki (4 data), (3) vokatif kesayangan untuk anak remaja perempuan (5 data), vokatif kesayangan untuk laki-laki dewasa (1 data), dan vokatif kesayangan untuk perempuan dewasa (9 data). Ditemukan vokatif yang sama untuk pemakaian di antara penutur dan petutur dalam hubungan sosial yang berbeda, yaitu vokatif cu, panggalan dari incu, kasep, anaking, eulis, dan geulis.