This Author published in this journals
All Journal Interaksi Online
Sri Widowati Herieningsih
Unknown Affiliation

Published : 51 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

PENGALAMAN KOMUNIKASI REMAJA YANG DIASUH OLEH ORANGTUA TUNGGAL Ulya Saida; Sri Widowati Herieningsih; Agus Naryoso; Wiwid Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.595 KB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya kasus antara anak dengan orangtua tunggal yang mengalami kesulitan dalam hal pengasuhan anak. Di Indonesia sendiri terdapat tujuh juta perempuan yang yang menjadi kepala rumah tangga atau dengan kata lain mereka semua menjadi oragtua tunggal yang mengasuh anaknya seorang diri. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana pemaknaan pengasuhan anak di dalam keluarga yang dilakukan oleh orangtua tunggal. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif yang merujuk pada paradigma interpretif dan tradisi fenomenologi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah The Interactional View, Dialogue Theory, dan Teori Manajemen Privasi. Teknis analisis data yang digunakan dalam penelitian ini mengacu kepada metode fenomenologi dari Clark Mustakas. Subjek penelitian ini adalah orangtua tunggal baik ibu maupun ayah serta anak remaja mereka (perempuan atau laki-laki) yang berusia 14-22 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keluarga dengan orangtua tunggal tidak semua dapat dengan mudah bertahan dan beradaptasi terhadap kondisi keluarga yang dihadapinya saat ini terkait dengan pengasuhan anak yang dilakukan seorang diri tanpa adanya bantuan dari keluarga lainnya. Kedekatan hubungan yang terjalin antara anak dengan orangtua tunggal bergantung dari interkasi melalui percakapan yang dilakukan sehari -hari. Orangtua tunggal memiliki aturan-aturan tersendiri yang diterapkan di dalam keluarga, pola pengasuhan yang berbeda serta keluarga dengan orangtua tunggal tidak akan mendapatkan intervensi dari pihak ketiga atau dalam hal ini pihak luar seperti pasangan ataupun sanak saudara dalam pengasuhan terhadap anak. Dukungan yang diberikan orangtua tunggal terhadap anak memiliki dampak yang berbeda pada setiap anakPenelitian selanjutnya dapat mengkaji dengan menggunakan metoda penelitian yang lainnya seperti menggunakan pendekatan etnografi yang berusaha melakukan pengamatan dengan proses yang lebih panjang sehingga peneliti memahami betul bagaimana kehidupan keseharian subjek penelitian tersebut.Keyword: Hubungan Anak-Orangtua, Pengasuhan Anak, Orangtua Tunggal
HUBUNGAN MENGAKSES MEDIA MASSA DENGAN ADOPSI OLAHRAGA FLAG FOOTBALL Agraha Dwita Sulistyajati; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso; Djoko Setyabudi
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.751 KB)

Abstract

Berdasarkan pada teori Powerfull Effect, penelitian ini berasumsi bahwa terdapat hubungan antara media massa dengan adopsi olahraga. Peneliti bertujuan untuk menentukan hubungan intensitas membaca komik Eyeshield 21, intensitas menonton film Hollywood yang memuat olahraga American Football, dan intensitas memainkan video game Madden NFL dengan adopsi olahraga Flag Football. Target penelitian adalah 83 orang anggota komunitas Indonesian Flag Football Association di Semarang. Penelitian ini menerapkan metode kuantitatif dan menggunakan uji normalitas dengan uji Kendall’s Tau-b untuk memeriksa hubungan diantara variabel.Hasil data menunjukkan bahwa intensitas membaca komik Eyeshield 21 tergolong tinggi. Intensitas menonton film bertemakan American Football tidak terlalu tinggi. Sedangkan Intensitas memainkan video game Madden NFL terbilang rendah. Meskipun begitu, intensitas mengadopsi olahraga Flag Football tergolong tinggi. Mayoritas responden memainkan olahraga Flag Fooball.Uji normalitas menunjukkan bahwa data pada penelitian ini tidak berdistribusi normal, sehingga peneliti menggunakan analisis non parametrik. Uji korelasi menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara komik Eyeshield 21 dan adopsi olahraga Flag Football. Sebaliknya, film bertemakan olaharaga American Football dan video game Madden NFL memiliki hubungan dengan adopsi 2olahraga Flag Football, meskipun hubungannya lemah. Hasil ini mengungkapkan bahwa media tidak memiliki efek powerfull di setiap kondisi. Pada beberapa kasus, media hanya memberi implikasi kecil kepada khalayak. Orang juga lebih mempercayai kerabat dekat dibandingkan media. Peneliti menggunakan teori minimalis efek dan teori kontrol sosial untuk menjelaskan temuan penelitian.Keyword : intensitas, media, komik, film, video game, hubungan, adopsi, olahraga
MEMAHAMI PEMELIHARAAN HUBUNGAN ANTAR PRIBADI DALAM HUBUNGAN SUAMI DAN ISTRI YANG MEMILIKI PERBEDAAN TINGKAT PENGHASILAN Asri Rachmah Mentari; Sri Widowati Herieningsih; Agus Naryoso; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.564 KB)

Abstract

Penelitian ini didasarkan pada ketidakmampuan seorang suami untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga sehingga mendorong istri untuk ikut bekerja menafkahi keluarga. Seorang istri yang bekerja dan memiliki penghasilan yang lebih tinggi menimbulkan perubahan pembagian tanggung jawab dan peran dari masing-masing pasangan, perubahan tersebut memberikan dampak pada proses pemeliharaan hubungan, keseimbangan dan kepuasan hubungan diantara suami dan istri sebagai upaya menjaga keharmonisan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pengalaman hubungan antar pribadi suami dan istri yang memiliki perbedaan tingkat penghasilan terkait dengan proses pemeliharaan hubungan, dan untuk mengetahui kepuasan dan keseimbangan hubungan yang diperoleh pasangan suami dan istri yang memiliki perbedaan tingkat penghasilan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif yang merujuk pada paradigma interpretif dan tradisi fenomenologi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Relational Dialektic Theory (RDT), Equity Theory, dan konsep mengenai peran dalam keluarga, aspek-aspek pemeliharaan hubungan antar pribadi, dan aspek-aspek kepuasan hubungan antar pribadi. Teknik analisis yang digunakan adalah mengacu pada metode fenomenologi dari Von Eckartsberg, dan subjek penelitian adalah pasangan suami dan istri yang memiliki perbedaan tingkat penghasilan. Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam hubungan suami dan istri yang memiliki perbedaan tingkat penghasilan mengalami ketidakseimbangan pembagian tanggung jawab sehingga mengarahkan pada perubahan peran, selain itu pasangan suami dan istri merasakan adanya kontradiktif dalam diri mereka antara harapan dengan realita hubungan yang dijalani. Upaya pemeliharaan hubungan yang dilakukan masih pada tahap keakraban yaitu pasangan hanya saling terikat, berkomitmen dan membina primary relationship. Pasangan suami dan istri yang memiliki perbedaan tingkat penghasilan masih dimungkinkan memperoleh keseimbangan dan kepuasan hubungan, selama keduanya menilai perbedaan sebagai suatu hal yang konstruktif dan menerapkan sistem sharing. Penelitian selanjutnya dapat menggunakan metode penelitian lain seperti metode studi kasus, dan dapat menemukan variasi pengalaman pada hubungan suami dan istri yang memiliki perbedaan tingkat penghasilan.
HUBUNGAN TERPAAN IKLAN POLITIK PRABOWO SUBIANTO DI TELEVISI DAN INTENSITAS KOMUNIKASI DALAM KELOMPOK REFERENSI TERHADAP MINAT MEMILIH Ari Mukti Wibowo; Sri Widowati Herieningsih; Taufik Suprihartini; Much. Yulianto
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.121 KB)

Abstract

Pada masa pemilu presiden tahun 2014 ini terlihat banyaknya iklan politik yang muncul di media massa khususnya televisi. Prabowo Subianto merupakan salah satu kandidat yang telah ditetapkan oleh KPU sebagai calon presiden. Iklan politik Prabowo Subianto seringkali tayang di berbagai media televisi nasional. Penelitian ini merupakan tipe penelitian eksplanatory yang bertujuan untuk mengetahui hubungan terpaan iklan politik Prabowo Subianto di televisi dan intensitas komunikasi dalam kelompok referensi terhadap minat memilih. Sampel penelitian ini adalah warga Semarang berusia 17 tahun ke atas yang memiliki hak pilih dan pernah menyaksikan iklan politik Prabowo Subianto di televisi. Sampel yang digunakan adalah non random dengan teknik accidental sampling. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah The Learning Hierarcy Theory yang diungkapkan Rotzoll dan Teori kelompok rujukan dari Hyman.Berdasarkan perhitungan statistik dengan menggunakan rumus uji korelasi Rank kendall, maka diketahui terdapat hubungan positif yang signifikan antara terpaan iklan politik Prabowo Subianto di televisi (X1) dengan minat memilih (Y). Hasil nilai signifikansi yakni 0,010 dengan nilai korelasi sebesar 0,325. Dengan demikian semakin tinggi terpaan iklan maka semakin tinggi minat memilih. Iklan politik merupakan sarana menyampaikan pesan-pesan politik. Akibatnya secara tidak langsung khalayak telah melakukan proses belajar dalam mencerna serta mengingat pesan yang telah diterimanya. Kondisi tersebut tanpa disadari merupakan upaya mengubah sikap khalayak. Pesan-pesan didalam iklanyang menerpa khalayak mampu mempengaruhi aspek kognitif. Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus uji korelasi Rank Kendall juga diketahui bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara intensitas komunikasi dalam kelompok referensi (X2) dengan minat memilih (Y). Hasil hasil nilai signifikansi yakni 0,004 dengan nilai korelasi sebesar 0,361. Dengan demikian semakin tinggi intensitas komunikasi dalam kelompok referensi maka semakin tinggi minat memilih. Kelompok referensi merupakan sarana bagi individu untuk mencari acuan dalam bersikap ataupun keyakinan untuk bertindak. Sedangkan intensitas komunikasi didalam kelompoknya akan semakin meningkatkan kohesifitas, kepercayaan, dan konformitas. Oleh karena itu, intensitas juga mempengaruhi seberapa besar sugesti yang diberikan oleh kelompok tersebut dapat diterima oleh indiviu didalamnya.Kata kunci: terpaan iklan, intensitas komunikasi dalam kelompok referensi dan minat memilih
Memahami Proses Adaptasi Individu yang Berpindah Tempat dengan Host Culture di Semarang Fitria Nur Pratiwi; Taufik Suprihatini; Sri Widowati Herieningsih
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar BelakangManusia adalah makhluk sosial yang selalu berpindah tempat dari satu daerah kedaerah yang lain karena berpindah tugas, transmigrasi dan imigrasi, merekamembutuhkan interaksi satu sama lain, baik itu dengan sesama, adat istiadat,norma, pengetahuan ataupun budaya di sekitarnya. Pengalaman tentangperpindahan seseorang dari satu kota ke kota lainnya memang tidak mudah untukdihadapi, mempelajari karakteristik budaya sangat menolong dalam melakukankomunikasi yang lebih baik. Hal terpenting dalam budaya meliputi bahasa, agama,tradisi, dan kebiasaan.Perasaan takut dan was-was muncul dalam diri pendatang tersebut karenasetiap hari mereka harus berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya menggunakanbahasa daerah yang juga digunakan sebagai bahasa pengantar dalam pergaulansehari-hari. Proses komunikasi antarbudaya sangat dipengaruhi oleh persepsiseorang manusia mengenai lingkungan, benda dan peristiwa yang beradadisekitarnya. Bila seorang manusia telah memahami dan menghargai persepsiorang lain yang berbeda budaya, maka akan bisa melangsungkan proseskomunikasi dengan lancar dan memperoleh reaksi yang diharapkan.(http://www.anneahira.com/komunikasi-antarbudaya.htm).Dalam prosesnya, perbedaan latar belakang budaya memiliki pengaruhkuat terhadap munculnya kecemasan dan ketidakpastian yang berpotensimenimbulkan kesalahpahaman yang menjadi kendala dalam proses adaptasi dankerjasama antarbudaya tersebut. Oleh sebab itu, melakukan adaptasi dankerjasama antarbudaya tidaklah mudah dilakukan. Proses adaptasi budaya yangterjadi pada setiap suku bangsa ada beberapa model adaptasi yang dilakukan olehpendatang terhadap penduduk asli, adaptasi yang dilakukan penduduk asliterhadap pendatang dan adaptasi yang tidak dilakukan oleh pihak manapun,dimana masing-masing etnik berdiam diri tanpa melakukan adapatasi. Padaumumnya adaptasi yang paling sering terjadi adalah adaptasi yang dilakukan olehpenduduk pendatang terhadap penduduk asli.(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19439/5/Chapter%20I.pdf)3Keberadaaan pendatang di daerah yang baru merupakan hal yang menarikuntuk dicermati. Keberadaan pendatang tersebut dengan membawa budayaasalnya dengan mudah dapat ditemui dan dikenali misalnya dari logat maupunbahasa yang digunakan. Hal ini menjadikan mereka “berbeda” dengan masyarakathost culture. Keadaan “berbeda” ini akan menyebabkan suatu perasaan “asing”bagi para “perantau” ketika berada dilingkungan yang baru. Inilah yang disebutdengan gegar budaya.Ketika pertama kali berada di sebuah lingkungan yang baru berbagaimacam ketidakpastian (uncertainty) dan kecemasan (anxiety) dialami oleh hampirsemua individu. Ternasuk pendatang tersebut ketika berada di daerah baru.Ketidakpastian (uncertainty) dan kecemasan (anxiety) relative tinggi dari masingmasingindividu ketika melakukan komunikasi antar budaya pada gilirannyamenyebabkan munculnya tindakan atau perilaku yang tidak fungsional. Ekspresiperilaku yang tidak fungsional tersebut antara lain tidak memiliki kepedulianterhadap eksistensi orang lain, ketidaktulusan dalam berkomunikasi dengan oranglain, melakukan penghindaran komunikasi cenderung mennciptakan permusuhandengan orang lain (Turnomo Rahardjo, 2005: 13).II. Rumusan MasalahFaktor perbedaan budaya yaitu masalah bahasa, kebiasaan sehari-hari dan adatistiadat antara pendatang dengan masyarakat setempat (host culture) dalam hal inikeluarga pendatang menjadi masalah. Perasaan “berbeda” dari segi bahasa,kebiasaan dan adat istiadat ini berpotensi menimbulkan conflik. Perasaan“berbeda” ini juga dipengaruhi oleh persepsi dan tingginya pengharapanseseorang ketika memasuki lingkungan yang baru.Ketidakmampuan untuk memprediksi perilaku kalangan pendatang adalahbentuk ketidakpastian (uncertainty) dan kecemasan (anxiety) yang dialami olehkeluarga tersebut di lingkungan yang baru. Hal ini berpotensi menimbulkankesalahpahaman. Dalam prosesnya, ketika “perbedaan” ditonjolkan, dapatmeyebabkan munculnya konflik.4III. Tujuan Penelitian1. Untuk memahami kecemasan dalam interaksi antarabudaya bagi kalanganpendatang yang berpindah tempat.2. Untuk memahami proses adaptasi dan strategi adaptasi yang diterapkanoleh para pendatang saat memasuki daerah yang baru.3. Untuk memahami pengalaman dari host culture ketika hidupberdampingan bermasyarakat dengan kalangan pendatang.IV. Kerangka TeoriSecara konseptual ketidakpastian (uncertainty) merupakan ketidakmampuanseseorang untuk memprediksikan atau menjelaskan perilaku, perasaan, sikap ataunilai-nilai yang diyakini orang lain. Sedangkan, kecemasan (anxiety) merupakanperasaan gelisah, tegang, khawatir atau cemas tentang sesuatu yang akan terjadi.Ketidakpastian merupakan pikiran (thought) dan kecemasan merupakan perasaan(feeling). Ketidakpastian (uncertainty) dan kecemasan (anxiety) merupakanfaktor-faktor penyebab kegagalan komunikasi antar kultural. Gudykunts (dalamGudykunts, 2005:23) menjelaskan bahwa untuk menyesuaikan diri terhadapkebudayaan baru, seseorang tidak seharusnya mengurangi kecemasan danketidakpastian mereka secara total. akan tetapi, mereka tidak dapat berinteraksisecara efektif dengan host culture apabila ketidakpastian dan kecemasan merekaterlalu tinggi, sehingga mereka tidak mampu memprediksi perilaku wargasetempat.Teori negosiasi muka (Face-Negotiation Theory) adalah salah satu darisedikit teori yang secara eksplisit mengakui bahwa orang dari budaya yangberbeda memiliki bermacam-macam pemikiran mengenai “muka” orang lain.Pemikiran ini menyebabkan mereka menghadapi konflik dengan cara berbeda.Wajah merupakan perpanjangan dari konsep diri seseorang, wajah telah menjadifokus dari banyak penelitian didalam berbagai ilmu (Littlejohn & Karen A. Foss,1998 : 130).5Interaction Adaption Theory (IAT) is intended to provide a comprehensiveaccount of multiple concurrent adaptations patterns. Teori ini meningkatkanjangkauan dari model adaptasi yang lalu dengan menandai pengaruh yang kuatyang muncul dalam interaksi normal dan dengan memasukkan perilaku dan fungsikomunikasi yang lebih luas. Konsep kunci IAT adalah requirement, expectations,desires, interaction position, dan actual positions (Gudykunst, 2005: 162). Prosesadaptasi interaksi yang kompleks, yang belum ada, dan kadang-kadang takterlihat.Perasaan berbeda bahasa, adat istiadat dan budaya seketika hilang apabilakita mampu beradaptasi dengan baik di sekitar lingkungan baru kita. Perlahanlahanbudaya host culture harus dipelajari dan dimengerti apabila ingin hidupberdampingan secara harmonis dengan masyarakat setempat.V. Metodologi PenelitianTipe penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif, dengan pendekatanfenomenologi. Unit analisis data dalam penelitian ini terdiri dari empat orangpendatang (dua mahasiswa dan dua keluarga pendatang) sebagai subjekpenelitian, dan empat orang host culture yang menjadi informan tambahan gunacross-check data untuk memenuhi goodness criteria. Data diperoleh melaluiwawancara mendalam dengan delapan subjek penelitianVI. Kesimpulan Interaksi antarbudaya yang dilakukan oleh para informan dari luar pulau Jawadengan host culture di Semarang, mengalami kesulitan saat pertama kaliberinteraksi karena perbedaan budaya dan bahasa. Hal ini mengakibatkan parainforman mengalami kecemasan untuk berinteraksi kembali dengan hostculture serta ketidakpastian bahasa yang digunakan saat berpindah tempat diSemarang. Host culture membantu para informan yang mengalami kecemasandan ketidakpastian dengan membantu proses interaksi antarbudaya dalammelakukan adaptasi bagi para pendatang yaitu berinisiatif dahulu mengajak6para informan untuk berinteraksi dan mengajak para informan untukmengikuti kegiatan yang diadakan dilingkungannya, antara lain pengajian,arisan dan kegiatan olahraga. Proses adapatsi para informan dikatagorikan berdasarkan pengalamankomunikasi yaitu adaptasi antarbudaya yang dilakukan disekitarlingkungannya, konteks identitas dan perbedaan budaya serta bahasa parainforman, kepantasan dan keefektivitas para informan dalam berperilakusehari-hari di lingkungannya, pengetahuan para informan untuk lebihmengenal lingkungan baru, motivasi dalam melakukan interaksi dengan hostculture dan tindakan yang dilakukan para informan dilingkungannya. Prosesadaptasi para informan memakan waktu yang berbeda pada setiap informan,bergantung pada keaktifan informan terhadap kegiatan yang diadakan dilingkungannya. Semakin sering mengikuti aktivitas di lingkungannya, makaproses adaptasinya berjalan dengan cepat. Strategi adaptasi yang dipakai olehpara informan adalah strategi aktif dan strategi interaktif. Strategi aktif yaitumulai mencari tahu tentang lingkungan host culture dari orang yang sudahdahulu dikenal, strategi ini digunakan oleh informan I dan informan III yangberstatus mahasiswa. Sementara strategi interaktif yaitu berhubunganlangsung dengan host culture, seperti memulai percakapan dan interaksisehari-hari (pengajian, olahraga dan arisan), strategi ini digunakan olehinforman II dan informan IV yang merupakan keluarga pendatang. Pengalaman para host culture saat melakukan interaksi pertama kali denganpara informan berbeda-beda. Para host culture tersebut antara lain ibu kost,tetangga, teman kampus, teman kost dan teman lingkungan para informan. Ibukost para informan berinisiatif dahulu untuk melakukan pembicaraan denganinforman, karena akan menempati kost, sedangkan tetangga keluargapendatang juga lebih dahulu melakukan interaksi kepada informan agar cepatakrab dengan warga baru. Teman lingkungan kost maupun teman kampusmenunggu informan untuk melakukan interaksi terlebih dahulu karena takutberbeda bahasa dengan informan.7Gambar 4.1Bangunan Teoritik Pengalaman Proses Adaptasi Individu yang BerpindahTempat dengan Host Culture di SemarangMengalami Ketidakpastian KecemasanMembantu Proses AdatasiPENDATANGHOST CULTUREKompetensiKomunikasi:- AdaptasiAntarbudaya- Konteks- KepantasanDanEfektivitas- Pengetahuan- Motivasi- TindakanHambatan Proses Adaptasi:Internal : KarakteristikindividuExternal : Budaya danBahasaStrategi Adaptasi:- Strategi aktif- Strategi interraktif8DAFTAR PUSTAKABukuCupach, W. R., and Canary, D. J. (1997). Competence In Interpersonal Conflict.California: Waveland Press, Inc.Devito, A Joseph. (1997). Komunikasi Antar Manusia. Professional Books:Karisma Publishing.Guba, E. G. and Lincoln, Y. S. (1994a). Competing Paradigms In QualitativeResearch. London: Sage Publications.Guba, E. G. and Lincoln, Y. S. (1994b). Naturalistic Inquiry . London: SagePublications.Gudykunst, William. (2005). Theorizing About Intercultural Communication.California: Sage Publication, Inc.Liliweri, Alo. (2002). Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya.Yogyakarta: LKis.Liliweri, Alo. (2003). Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya EdisiRevisi. Yogyakarta: LKis.Liliweri, Alo. (2004). Dasar-dasar Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.Littlejohn, Stephen W, and Foss Karen A. (1998). Theories of HumanCommunication. Belmont: Thomson Learning, Inc.Lustig, Myron W. and Jolene Koester. (1996). Intercultural Competence:Interpersonal Communication Across Culture. New York: HappercollinsCollege Publisher.Lustig, Myron W. and Jolene Koester. (2006). Intercultural Competence:Interpersonal Communication Across Culture 6th Edition. New York:Happercollins College Publisher.Martin, Judith N. and Thomas K. Nakayama. (2004). InterculturalCommunication in Contexts. New York: McGraw – Hill.Moleong, Lexy J. (2002). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: RemajaRosdakarya.Moleong, Lexy J. (2005). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: RemajaRosdakarya.9Moleong, Lexy J. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung:Remaja Rosdakarya.Moustakas, Clark. (1994). Phenomenological Research Methods. California: SagePublication, IncMulyana, Deddy. (2010). Komunikasi Lintas Budaya: Pemikiran, Perjalanan.Bandung: Remaja Rosdakarya.Mulyana, Deddy. (2006). Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: RemajaRosdakarya.Rahardjo, Turnomo. (2005). Menghargai Perbedaan Kultural: KompetensiKomunikasi Antar Budaya dalam Komunikasi Antar Etnis. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.Riswandi. (2009). Ilmu Komunikasi. Yogyakarta: Graha Ilmu.Samovar, Larry A, and Porter Richard E, Jain C Nemi. (1984). UnderstandingIntercultural Communication. Jakarta: Salemba Humanika.Samovar, Larry A, and Porter Richard E, McDaniel R Edwin. (2010). KomunikasiLintas Budaya. Jakarta: Salemba Humanika.Sukmadinata, Nana Syaodih. (2006). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung :Remaja Rosda KaryaSingarimbun M, dan Sofian E. (1995). Metode Penelitian Survey. Jakarta:Pustaka LP3ES Indonesia.Ting-Toomey, Stella. (1999). Communicating Across Cultures. California:Guilford PressYin, Robert K. (2006). Studi Kasus : Desain dan Metode. Jakarta : Raja GrafindoPersadaJurnalRahardjo, Turnomo. (2007). Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. I. Semarang: 29SkripsiFrimandona, Nike., (2007). Memahami Adaptasi dalam Komunikasi Antarbudaya(Kasus Pernikahan Antaretnis Jawa-Minang). Skripsi. UniversitasDiponegoro.Ulfah, Maria., (2009). Memahami Adaptasi Antar Budaya antara Warga Asingdengan Host Culture di Salatiga. Skripsi. Universitas Diponegoro.Khotimah, Khusnul., (2010). Adaptasi Antar Budaya Warga Korea Selatandengan Budaya Tuan Rumah di Salatiga. Skripsi. Universitas Diponegoro.10Internet(http://gatothp2000.com/2011/09/23/cross-culture-sesorang-yg-diperjalankan/).Diunduh pada tanggal 14 September 2012 pukul 19.00 WIB(http://www.anneahira.com/komunikasi-antarbudaya.htm).Diunduh pada tanggal 14 September 2012 pukul 20.30 WIB(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19439/5/Chapter%20I.pdf).Diunduh pada tanggal 16 September 2012 pukul 21.00 WIB
PERILAKU KOMUNIKASI REMAJA DENGAN LINGKUNGAN SOSIAL DARI KELUARGA SINGLE PARENT Vinna Dewi Haryanti; Agus Naryoso; Wiwid Noor Rakhmad; Sri Widowati Herieningsih
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.796 KB)

Abstract

Keluarga merupakan lembaga sosial inti di dalam masyarakat, sebab di dalam keluargalah anak memperoleh berbagai bekal dalam berinteraksi dengan masyarakat. Sebuah keluarga yang berpisah menjadikan anak memperoleh sedikit bekal untuk berinteraksi dengan lingkungannya sehingga akan berdampak buruk bagi tumbuh kembang anak terlebih ketika anak menginjak masa remaja. Remaja yang tumbuh dan berkembang dalam keluarga di mana kedua orang tuanya bercerai mengalami kekhawatiran dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial di sekitarnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan perilaku komunikasi dan pemeliharaan hubungan komunikasi antara remaja yang berasal dari keluarga single parent dengan lingkungan sosialnya. Teori yang digunakan adalah Teori Pemeliharaan Hubungan dari Charless Berger dan Teori Dialektika Relational dari Baxter dan Montgomery. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Subyek dalam penelitian ini adalah remaja dengan latar belakang keluarga single parent, orang tua, teman dan extended family dari remaja.Berdasarkan hasil penelitian Pengasuhan dibawah pengasuhan ibu dalam keluarga single parent menjadikan adanya kedekatan emosi antara anak dan orang tua dibandingkan anak single parent dibawah pengawasan ayah. Kedekatan yang terjalin antara remaja dengan lingkungan sekitarnya ini terjadi karena adanya aktivitas komunikasi yang sering dilakukan antara remaja dengan lingkungan sekitarnya. Kedekatan emosional merupakan aspek penting dalam suatu hubungan karena dapat meningkatkan kesempatan komunikasi antar individu. Perceraian menimbulkan adanya pengaruh emosional pada anak. Pasca perceraian terjadi informan memiliki seseorang untuk diajak berbagi dengannya. Dukungan serta motivasi yang diberikan oleh lingkungan sosial di sekitarnya sangat mempengaruhi perilakunya saat ini. Individu belajar mengenai diri mereka melalui interaksi yang mereka lakukan dengan lingkungan sosialnya. Pengalaman, pengetahuan dan perilaku komunikasi dibentuk sebagian besar oleh kelompok sosial. Komunikasi interpersonal yang dilakukan remaja dengan lingkungan sosialnya akan menguatkan hubungan karena adanya pertukaran pesan dalam komunikasi tersebut. Keterbukaan antara satu dengan yang lain menjadikan kunci dalam memelihara hubungan antara remaja dengan lingkungan sosialnya. Konsep diri yang positif ditunjukan oleh remaja dengan yakin akan kemampuan dalam mengatasi masalah dan berprestasi, merasa setara dengan orang lain, mampu untuk memperbaiki diri sebagai wujud pembuktian diri kepada masyarakat.Kata kunci : konflik, keterbukaan, pemeliharaan hubungan
Hubungan antara Parental Discipline dan Intensitas Komunikasi Peer Group dengan Minat Belajar Anak Wening Jiwandaru Pradanari; Sri Widowati Herieningsih; Agus Naryoso; Wiwid Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.988 KB)

Abstract

Menurunnya hasil ujian nasional pada tahun 2012/2013 karena faktor minat belajar menjadi dasar latar belakang penelitian ini. Faktor Orang tua dan Teman sebaya merupakan faktor yang dinilai dapat berkontribusi kepada minat belajar. Kurangnya minat anak untuk belajar merupakan hal yang memprihatinkan mengingat pentingnya minat belajar dalam proses belajar mengajar di lingkungan sekolah. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan tipe eksplanatori, yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara parental discipline dan intensitas komunikasi peer group dengan minat belajar anak. Teori yang digunakan adalah teori Konvergensi dan teori Kelompok Rujukan. Jumah populasi sebanyak 34.523 yang berada di Kecamatan Pedurungan Kota Semarang. Penelitian ini menggunakan teknik multi stage random sampling diambil sebanyak 100 orang. Data primer dianalisis menggunakan uji validitas, uji reliabilitas, uji korelasi Rank Kendall dengan bantuan program SPSS.Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan uji korelasi Rank Kendall antara variabel parental discipline (X1) dengan minat belajar anak (Y) diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,279 dan nilai signifikansi 0,000. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang sangat signifikan antara variabel X1 dengan Y, namun hubungannya rendah. Sedangkan antara variabel intensitas komunikasi peer group (X2)dengan minat belajar anak (Y) diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,346 dan nilai signifikansi 0,000. Hal tersebut menunjukkan terdapat hubungan positif yang sangat signifikan antara variabel X2 dengan Y, namun hubungannya rendah. Orang tua sebagai lingkungan sosial pertama anak harus berperan lebih, dalam memberikan perhatian terhadap pola belajar anak di rumah. Selain itu, orang tua juga sebaiknya turut serta mengarahkan dengan siapa anak mereka berteman. Peneliti selanjutnya diharapkan melakukan penelitian menggunakan variabel-variabel lain.Kata kunci : Parental Discipline, Peer Group, Minat Belajar.
Memahami Kompetensi Komunikasi Antarbudaya Antara Pemilik Homestay dengan Wisatawan Asing di Karimunjawa Meidiza Firda Mapikawanti; Sri Widowati Herieningsih; Taufik Suprihartini; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.773 KB)

Abstract

Karimunjawa merupakan daerah wisata yang banyak dikunjungi wisatawan, termasuk wisatawan asing. Banyak masyarakat Karimunjawa memanfaatkan peluang tersebut untuk membuka bisnis homestay. Pemilik homestay dan wisatawan asing, memiliki perbedaan kebudayaan, kebiasaan, dan bahasa, sedangkan mereka harus dapat hidup berdampingan dan saling berkomunikasi setiap harinya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kompetensi komunikasi antarbudaya antara pemilik homestay dengan wisatawan asing di Karimunjawa. Tipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang menjelaskan pengalaman unik pemilik homestay dan wisatawan asing dalam berinteraksi dan berkomunikasi secara efektif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu menggunakan teknik wawancara mendalam (indepth interview) dengan enam subjek penelitian, yaitu tiga orang pemilik homestay dan tiga orang wisatawan asing di Karimunjawa. Penelitian ini menggunakan Teori Kompetensi Komunikasi Antarbudaya oleh Lustig dan Koester (1996), Teori Interaksi Simbolik oleh George Herber Mead (1934), serta Teori Pengelolaan Ketidakpastian dan Kecemasan oleh William Gudykunst (2005) sebagai landasan teori.Berdasarkan hasil penelitian, tidak semua wisatawan asing mengalami ketidakpastian dan kecemasan ketika pertamakali datang ke Karimunjawa, hal ini dikarenakan singkatnya kunjungan mereka yaitu hanya beberapa hari dan tujuan mereka ke Karimunjawa adalah untuk berlibur. Meskipun tidak semua wisatawan asing mengalami kecemasan dan ketidakpastian, namun mereka melakukan strategi aktif, pasif, dan interaktif untuk menghindari dan mengurangi kecemasan dan ketidakpastian mereka. Strategi tersebut mereka gunakan untuk mengumpulkan informasi mengenai Karimunjawa dan pemilik homestay. Untuk dapat berkomunikasi secara lancar, pemilik homestay dan wisatawan asing menggunakan aktivitas non verbal kinesis, yaitu menggunakan gerakan tangan dan anggota tubuh bersamaan dengan komunikasi verbal dan tergolong dalam perilaku non verbal illustrator yang bersifat komunikatif, informatif, daninteraktif. Penelitian menunjukkan bahwa pemilik homestay dan wisatawan asing memiliki motivasi yang kuat untuk saling berkomunikasi dan berinteraksi, memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kebudayaan, kebiasaan dan bahasa masing-masing, dan bertindak untuk membaur dan berkomunikasi. Selain itu, mereka juga memahami konteks komunikasi antarbudaya dan memiliki kepantasan dan efektivitas dalam interaksi antarbudaya. Hal-hal tersebut merupakan komponen yang dibutuhkan untuk mencapai kecakapan dalam kompetensi komunikasi antarbudaya.
Hubungan Terpaan Iklan Berniaga.com di Media Massa dan Intensitas Komunikasi Word Of Mouth dengan Minat Bertransaksi Indah Puspawardhani; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso; Nurrist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.132 KB)

Abstract

Maraknya kasus penipuan yang terjadi dalam transaksi jual beli online menjadi latar belakang penelitian ini. Berniaga.com sebagai salah satu situs jual beli online melakukan strategi komunikasi untuk meningkatkan minat khalayak bertransaksi dengan banyak beriklan di media massa. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Apakah ada hubungan terpaan iklan Berniaga.com di media massa dan intensitas komunikasi word of mouth dengan minat bertransaksi?Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan terpaan iklan Berniaga.com di media massa dan intensitas komunikasi word of mouth dengan minat khalayak untuk bertransaksi di forum jual beli online Berniaga.com. Dimana sebagai variabel independen yaitu terpaan iklan Berniaga.com di media massa dan intensitas komunikasi word of mouth berhubungan dengan minat bertransaksi sebagai variabel dependennya.Populasi dalam penelitian ini adalah khalayak yang pernah melihat iklan Berniaga.com di media massa. Sampel yang diambil sebanyak 100 orang responden dengan menggunakan teknik non-random accidental sampling. Data dikumpulkan denganmenggunakan metode melalui kuesioner yang diisi sendiri oleh responden. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis korelasi pearson. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara terpaan iklan Berniaga.com di media massa dengan minat bertransaksi dimana diperoleh korelasi pearson sebesar 0,854 yang berarti semakin tinggi terpaan iklan maka semakin tinggi minat bertransaksi. Terdapat hubungan positif dan signifikan antara intensitas komunikasi word of mouth dengan minat bertransaksi dimana diperoleh korelasi pearson sebesar 0,902 yang berarti bahwa semakin tinggi intensitas komunikasi word of mouth maka semakin tinggi minat bertransaksi.Kata kunci : Terpaan iklan, word of mouth, minat bertransaksi
HUBUNGAN TERPAAN IKLAN DAN CITRA MEREK DENGAN KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK TOP COFFEE Vicho Whisnurangga; Tandiyo Pradekso; Wiwid Noor Rakhmad; Sri Widowati Herieningsih
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.794 KB)

Abstract

Produk kopi instan merek Top Coffee dari Wings Food merupakan kopi sachet adalah kopi yang diproduksi untuk pria yang menginginkan kebebasan dan pemenuhan selera jantan pemberani. Seiring dengan perkembangan teknologi dan munculnya permintaan masyarakat yang tinggi akan kopi, kini produk Top Coffee lebih tersegmentasi. PT. Wings Food merupakan produsen kopi Top Coffee membidik segmen pasar laki-laki dewasa, khususnya bagi pria yang suka kebugaran dan berselera jantan pemberani.Dalam membangun citra merek TOP coffee memilih Iwan Fals sebagai bintang iklan dan sebagai pendongkrak citra merek TOP coffee . Dalam hal ini Iklan memiliki hubungan dengan citra merek karena dengan beriklan bisa dapat membangun sebuah citra merek melalui pesan-pesan yang disampaikan melalui iklan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan terpaan iklan dan citra merek dengan keputusan pembelian. Landasan teori pada penelitian ini adalah Cognitive Respons Theory. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksplanatori. Penelitian ini menggunakan teknik multistage random sampling dengan metode accidental sampling sebagai alat untuk menentukan sampel. Jumlah sampel sebanyak 84 responden dengan usia 20-50 tahun. Analisis data yang digunakan adalah korelasi kendall dengan bantuan SPSS .Hasil penelitian ini adalah bahwa terdapat hubungan antara terpaan iklan dan citra merek (H1).Dan pada hipotesis yang kedua juga terdapat hubungan antara citra merek dengan keputusan pembelian produk TOP coffee. Saran yang kita peroleh dari penelitian ini adalah bagi pembuat iklan TOP coffee harus lebih kreatif lagi dalam pembuatan iklan selanjutnya dan lebih mengutamakan hal-hal yang penting seperti pemilihan bintang iklan ,isi cerita ,dan sebagainya.