Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

PENGGUNAAN METILPREDNISOLON SEBAGAI PEREDA NYERI PADA PASIEN NYERI PUNGGUNG BAWAH AKUT DI INSTALASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT BETHESDA YOGYAKARTA Tiara Triasari; Rizaldy Taslim Pinzon
Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana Vol 2, No 3 (2017): BERKALA ILMIAH KEDOKTERAN DUTA WACANA
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Kristen Duta Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1710.565 KB) | DOI: 10.21460/bikdw.v2i3.72

Abstract

Nyeri punggung bawah (NPB) akut adalah nyeri yang terjadi merupakan penyakit umum dan penyebab keterbatasan dalam bekerja maupun melakukan aktivitas sehari-hari yang terjadi selama kurang dari 12 minggu atau terjadi selama 6 bulan dengan interval tanpa nyeri. Pada penelitian sebelumnya diberikan hasil bahwa penambahan metilprednisolon untuk terapi NPB tidak memberikan hasil yang baik dibandingkan dengan tanpa metilprednisolon.Mengukur penurunan nilai VAS serta mengidentifikasi outcome dan efek samping aktual yang terjadi pada penambahan metilprednisolon pada pasien NPB akut di instalasi rawat jalan rumah sakit Bethesda Yogyakarta.Observasional-analitik dengan rancangan kohort. Subyek penelitian pada penelitian ini adalah pasien NPB akut yang dikelompokkan berdasarkan jenis terapi yang diterima yaitu kelompok analgesik nonsteroid dengan atau tanpa tambahan metilprednisolon 4 mg. Data diukur dengan VAS (Visual Analog Scale), dan diidentifikasi dengan kuisioner subyektif dan obyektif.Diperoleh 30 NPB akut yang terdiri dari 11 pasien laki-laki (36.67%) dan 19 pasien perempuan (63.33%) dengan 40% pasien berusia > 62 tahun, 46.67% 41-62 tahun, dan 13.33% pasien berusia 18-41 tahun. Sebanyak 15 pasien masuk dalam kelompok terapi NPB akut tanpa metilprednisolon dan 15 pasien masuk dalam kelompok dengan tambahan metilprednisolon 4 mg untuk terapi NPB akut. Hasil analisis penambahan metilprednisolon 4 mg terhadap pengurangan nyeri tidak terdapat perbedaan bermakna pada rata-rata penurunan nilai VAS sebelum dan setelah terapi (p = 0.253), outcome terapi berupa pengurangan nyeri saat beraktivitas (p = 0.589) dan menjelang atau saat tidur (p = 0.330), efek samping aktual pada kedua kelompok, dan rata-rata selisih nilai VAS pada tiga kelompok berdasarkan regimen dosis metilprednisolon tidak berbeda bermakna (p = 0.792). Penambahan metilprednisolon untuk terapi NPB akut dapat menurunkan nilai intensitas nyeri, tercapainya outcome terapi, dan tidak terdapat perbedaan efek aktual namun tidak berbeda bermakna dengan terapi NPB akut tanpa metilprednisolon.
PERBANDINGAN RERATA KADAR HbA1c PADA PASIEN DIABETES MELITUS DENGAN NEUROPATI DAN TANPA NEUROPATI SENSORI MOTOR Jerry Tanhardjo; Rizaldy Taslim Pinzon; Lisa Kurnia Sari
Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana Vol 1, No 2 (2016): BERKALA ILMIAH KEDOKTERAN DUTA WACANA
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Kristen Duta Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (786.725 KB) | DOI: 10.21460/bikdw.v1i2.13

Abstract

Latar Belakang: Neuropati diabetika/polineuropati diabetika ditandai munculnya kehilangan fungsi saraf secara progresif. Komplikasi ini terjadi pada 50% pasien dengan DM tipe 1 dan 2. Kadar HbA1c dapat menggambarkan rata-rata kadar glukosa dalam darah selama 2-3 bulan terakhir. Pemeriksaan ini penting pengelolaan pasien DM dalam jangka panjang dan pasien DM dengan perubahan gula darah yang dramatis setiap harinya. Penelitian sebelumnya mengenai HbA1c dan neuropati masih belum jelas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan rerata kadar HbA1c pada pasien DM dengan neuropati dan tanpa neuropati sensori motor. Metodologi: Penelitian ini adalah penelitian potong lintang. Penelitian dilakukan di RS Bethesda, Yogyakarta. Pengambilan sampel dengan metode consecutive sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 64 sampel. Semua sampel dilakukan screening neuropati sensori motor menggunakan Diabetic Neuropathy Examination, Diabetic Neuropathy Symptom, dan Monofilament Test. Sampel terbagi menjadi 2 kelompok : DM Neuropati (DMN) dan DM Tidak Neuropati (DMTN); masing-masing kelompok terdiri dari 32 sampel. Hasil: Hasil penelitian pada 64 sampel menunjukkan bahwa kelompok DMN memiliki rerata kadar HbA1c (% ; mean ± SD) lebih tinggi dibandingkan kelompok DMTN (9,61 ± 2,60 Vs. 9,05 ± 2,35). Hasil analisis data menggunakan uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara rerata kadar HbA1c terhadap neuropati (p = 0,368). Pada penelitian ini didapatkan durasi DM menunjukkan hubungan bermakna terhadap neuropati (p = 0,006). Kesimpulan: Rerata kadar HbA1c ditemukan lebih tinggi pada pasien DM dengan neuropati sensori motor dibandingkan pada pasien DM tidak neuropati sensori motor, namun secara statistik tidak signifikan.
INTEGRASI PENDIDIKAN, PENELITIAN, & PELAYANAN YANG BERKUALITAS DALAM ACADEMIC HEALTH SYSTEM Rizaldy Taslim Pinzon; Maria Silvia Merry
Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana Vol 2, No 2 (2017): BERKALA ILMIAH KEDOKTERAN DUTA WACANA
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Kristen Duta Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.874 KB) | DOI: 10.21460/bikdw.v2i2.64

Abstract

Pelayanan kesehatan di era ini mengalami perubahan sesuai dengan pengaruh situasi global, kemajuan pesat di bidang informasi dan teknologi, serta tingginya mobilitas penduduk dunia. Hal tersebut menyebabkan pelayanan kesehatan juga terdampak dengan menghadapi berbagai tantangan, yaitu: 1) pola penyakit yang berubah, 2) perubahan proporsi populasi dan demografi, 3) disparitas pelayanan kesehatan dan tuntutan masyarakat. Perubahan sistem pelayanan kesehatan di Indonesia sejak tahun 2014 dengan diberlakukannya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) juga turut berandil besar dalam perubahan pola pemberian pelayanan kesehatan yang cukup bermakna.
HUBUNGAN KADAR KOLESTEROL HDL SAAT MASUK RUMAH SAKIT DENGAN LUARAN KLINIS PASIEN STROKE ISKEMIK DI RS BETHESDA YOGYAKARTA Florence Florence; Rizaldy Taslim Pinzon; Esdras Ardi Pramudita
Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana Vol 1, No 1 (2015): BERKALA ILMIAH KEDOKTERAN DUTA WACANA
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Kristen Duta Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/bikdw.v1i1.1

Abstract

Pendahuluan: Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di dunia. Prinsip dasar terjadinya stroke adalah adanya aterosklero- trombosis. Kadar kolesterol HDL yang tinggi dapat menjadi faktor protektif terhadap stroke iskemik. Kadar kolesterol HDL yang tinggi dapat memperbaiki luaran klinis stroke iskemik. Penelitian terdahulu masih kontroversial dan memerlukan penelitian lebih lanjut. Metode: Penelitian ini merupakan studi prognostik dengan menggunakan metode penelitian kohort retrospektif. Sampel didapatkan dari data rekam medis pasien di poliklinik saraf Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta pada tahun 2013 sampai 2014. Data yang diperoleh kemudian dianalisis univariat, dilanjutkan dengan analisis bivariat dengan uji chi-square serta uji t-independen dan multivariat dengan uji regresi logistik. Hasil: Dari 102 data rekam medis pasien stroke iskemik dengan onset < 24 jam didapatkan 65 pasien laki-laki (63,7%) dan 37 pasien perempuan (36,3%) dengan usia terbanyak yang menderita stroke adalah usia 61-70 tahun yaitu sebanyak 36 orang (35,3%). Pasien yang memiliki kadar kolesterol HDL yang normal saat masuk rumah sakit adalah sebanyak 53 pasien (52%). Hasil analisis bivariat didapatkan variabel yang berhubungan signifikan dengan luaran klinis stroke iskemik adalah kolesterol total (RR: 0,273, 95%CI: 0,106-0,700, p: 0,005), afasia (RR: 0,256, 95%CI: 0,087-0,754,p: 0,010) dan kekuatan otot (RR: 0,344, 95%CI: 0,137-0,863, p: 0,020). Hubungan kadar kolesterol HDL dengan luaran klinis stroke iskemik yang diukur menggunakan skor mRS didapatkan hubungan yang tidak signifikan (RR: 0,61&, 95%CI: 0,253-1,485, p: 0,276). Hasil analisis multivariat dengan regresi logistik didapatkan hasil bahwa kolesterol total dan afasia merupakan faktor independen yang mempengaruhi luaran klinis stroke iskemik. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kadar kolesterol HDL saat masuk dengan luaran klinis stroke iskemik yang diukur dengan skor mRS. Kata Kunci: stroke iskemik, kadar kolesterol HD/, luaran klinis, modified Rankin Scale (mRS)
IMPLEMENTASI CLINICAL PATHWAY HERNIA INGUINALIS LATERALIS REPONIBILIS DEWASA DI RUMAH SAKIT BETHESDA YOGYAKARTA Yohana Puji Dyah Utami; Hariatmoko .; Pudji Sri Rasmiati; Rizaldy Taslim Pinzon
Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana Vol 2, No 1 (2016): BERKALA ILMIAH KEDOKTERAN DUTA WACANA
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Kristen Duta Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.738 KB) | DOI: 10.21460/bikdw.v2i1.41

Abstract

Pendahuluan: Permenkes 1438 tahun 2010 menetapkan standar pelayanan kedokteran berupa Panduan Nasional Praktek Kedokteran (PNPK) dan Standar Prosedur Operasional (SPO). SPO disusun dalam bentuk Panduan Praktek Klinis (PPK) yang dilengkapi dengan alur klinis (Clinical Pathway). Dipilihnya hernia untuk dibuat PPK/CP di RS Bethesda karena tingginya jumlah kasus hernia yang dilakukan operasi. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan outcome pelayanan terkait hernia sebelum dan sesudah implementasi Clinical Pathway. Metode: Desain penelitian adalah quasi experimental after and before test. Tempat pengambilan data adalah di RS Bethesda melalui dokumen dalam rekam medis termasuk Clinical Pathway (CP). Waktu pengambilan data adalah sebelum implementasi CP hernia dan setelah implementasi CP hernia. Populasi adalah semua kasus hernia inguinalis lateralis reponibilis dewasa yang dilakukan herniotomi sebelum implementasi PPK/CP dan setelah implementasi PPK/CP. Hasil: Diperoleh sampel sebanyak 29 untuk pasien hernia sebelum implementasi CP dan 29 setelah implementasi CP. Hasil menunjukkan persentase kepatuhan sebelum dan sesudah implementasi CP pada penggunaan obat injeksi meningkat (dari 44,82% menjadi 57,69%), pada penggunaan obat oral meningkat (dari 20,08% menjadi 30,77%), pada penggunaan Spinal Anesthesia Block meningkat (dari 17% menjadi 84,62%), pada penggunaan obat anestesi (dari 17% menjadi 76,92%), pada lama rawat inap sebelum operasi kurang dari 24 jam menurun (dari 93% menjadi 88,46%), dan pada lama rawat inap paska operasi kurang dari 3 hari meningkat (dari 86% menjadi 88.46%). Rata-rata biaya rawat inap sebelum dan sesudah implementasi CP pada kelas I sebesar Rp 8.050.350,00 dan Rp 8.231.700,00, pada kelas II sebesar Rp 6.668.580,00 dan Rp 6.139.733,00, dan pada kelas III sebesar Rp 4.542.100,00 dan Rp 4.464.400,00. Kesimpulan: Clinical Pathway bermanfaat untuk memperbaiki indikator proses pelayanan terkait hernia di RS Bethesda. Tidak ada perbedaan yang bermakna dalam hal biaya pada implementasi CP hernia.
HUBUNGAN DIABETES MELITUS TERHADAP KEJADIAN SINDROMA TEROWONGAN KARPAL DI RS BETHESDA YOGYAKARTA Dyah Wulaningsih Retno Edi; Rizaldy Taslim Pinzon; Esdras Ardi Pramudita
Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana Vol 1, No 1 (2015): BERKALA ILMIAH KEDOKTERAN DUTA WACANA
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Kristen Duta Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/bikdw.v1i1.7

Abstract

Latar Belakang: Sindroma Terowongan Karpal (STK) merupakan neuropati jebakan yang paling sering dijumpai. Terdapat berbagai faktor risiko yang berpotensi meningkatkan terjadinya STK, contohnya diabetes melitus. Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa STK banyak terkait dengan diabetes melitus namun hasilnya masih kontroversial. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara diabetes melitus terhadap kejadian sindroma terowongan karpal di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Metode: Studi potong lintang menggunakan data rekam medis pasien saraf Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Data yang diperoleh kemudian diuji dengan analisis univariat yang kemudian dilanjutkan dengan analisis bivariat dan multivariat dengan uji regresi logistik Hasil: Data diperoleh dari 222 sampel (134 perempuan dan 88 laki-laki) dengan 95 pasien STK dan 127 pasien non STK. Riwayat diabetes melitus terdapat pada 17 (17,9%) pasien kelompok STK dan 31 (24,4%) pasien pada kelompok non STK. Didapatkan hasil bahwa diabetes melitus tidak memiliki hubungan terhadap kejadian STK (RO: 0,68, IK 95%=0,35 – 1,31, p=0,243), namun pekerjaan sebagai ibu rumah tangga merupakan faktor risiko independen dari STK (RO: 3,34, IK 95%=1,36 – 8,24, p=0,009). Kesimpulan: Pekerjaan sebagai ibu rumah tangga meningkatkan kejadian STK sebesar 3,3 kali lipat dibanding pekerjaan lain. Diabetes melitus tidak menunjukkan hubungan yang signifkan terhadap kejadian STK di RS Bethesda Yogyakarta. Kata Kunci: sindroma terowongan karpal, STK, faktor risiko, diabetes melitus
EVALUASI PROSES PENGEMBANGAN DAN PENERAPAN CLINICAL PATHWAY KASUS STROKE ISKEMIK AKUT DI RUMAH SAKIT ANUTAPURA KOTA PALU Diah Mutiarasari; Rizaldy Taslim Pinzon; Gunadi Gunadi
Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana Vol 2, No 2 (2017): BERKALA ILMIAH KEDOKTERAN DUTA WACANA
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Kristen Duta Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.958 KB) | DOI: 10.21460/bikdw.v2i2.59

Abstract

Latar belakang: Stroke memiliki angka kematian dan kecacatan yang tinggi. Stroke menjadi penyebab nomor 1 admisi pasien ke rumah sakit. Penggunaan clinical pathway dapat mengurangi variasi dalam tindakan medis untuk kondisi klinis yang sama sehingga meningkatkan kualitas pelayanan stroke. Penelitian mengenai pengembangan clinical pathway sesuai Integrated Clinical Pathway Appraisal Tools (ICPAT) di Indonesia masih sangat terbatas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengevaluasi proses pengembangan dan penerapan clinical pathway kasus stroke iskemik akut di RS Anutapura Kota Palu. Metode: Rancangan Penelitian ini adalah action research. Pengumpulan data dilakukan dengan triangulasi metode melalui wawancara terstruktur, diskusi kelompok terarah, survei, observasi, dan telaah dokumen. Integrated Clinical Pathway Appraisal Tools (ICPAT) digunakan sebagai alat ukur. Subyek penelitian sebanyak 25 responden terdiri dari petugas kesehatan RS Anutapura dan tim clinical pathway, 1 responden keluarga pasien dan 30 responden pasien yang dirawat inap di bagian saraf RS Anutapura yang memenuhi kriteria eligibilitas. Hasil: Pada proses pengembangan hasil evaluasi dengan ICPAT menunjukkan dimensi 1 terpenuhi persyaratan secara keseluruhan. Dimensi 1 memberikan kepastian bahwa dokumen yang dikembangkan merupakan clinical pathway. Pada proses penerapan clinical pathway dilakukan evaluasi uji coba clinical pathway stroke iskemik akut sejak pasien masuk RS sampai pasien diijinkan keluar RS. Indikator proses pelayanan yang dinilai adalah pemeriksaan EKG sebesar 100%, penilaian kemampuan menelan sebesar 100%, pemberian antiplatelet (aspirin 80mg atau clopidogrel 75mg) diberikan 24-48 jam sejak masuk RS sebesar 100%, pemberian anti platelet (aspirin 325mg atau clopidogrel 300mg) diberikan 24-48 jam sejak masuk RS sebesar 46,7 % dan penilaian status gizi dan diet seawal mungkin sebesar 100%. Kepatuhan pengisian clinical pathway dokter dan case manager mencapai 80%. Kesimpulan: Berdasarkan evaluasi CP baru stroke iskemik akut menunjukkan kesesuaian dengan ICPAT. Sinergi seluruh manajemen RS, clinical champion, dokter spesialis saraf dan tim multidisiplin menjadi kunci keberhasilan pengembangan dan penerapan clinical pathway.
HUBUNGAN MALNUTRISI DENGAN KEJADIAN STROKE Aditya Batlajery; Esdras Ardi Pramudita; Sugianto Sugianto; Rizaldy Taslim Pinzon
JKKI : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Indonesia JKKI, Vol 10, No 1, (2019)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/JKKI.Vol10.Iss1.art9

Abstract

Background: Stroke is a serious health problem that is characterized by high morbidity and mortality. One of the risk factors for stroke able to be controlled is malnutrition (undernutrition). Malnutrition can be assessed by Total Lymphocyte Count (TLC) if a low TLC value is found or less than 1500 cells/mm3. Undernutrition increases the risk of cerebrovascular disease. Lack of substances such as vitamins can affect brain blood vessels.Objective: To determine the relationship of malnutrition assessed according to the parameter of Total Lymphocyte Count (TLC) to stroke. Methods: This study used a cross-sectional research method. The sample was obtained from the medical record data of the patient in the nerve polyclinic at Bethesda Hospital, Yogyakarta. The sample size in this study was 210 medical records consisting of 105 stroke patients and 105 non-stroke patients. Data from medical records obtained were analyzed by computerization and tested by univariate analysis followed by bivariate analysis with chi-square test. Results: In this study, the description of sex showed that the majority were male patients by 119 (56.7%), while female patients were 91 (43.3%). The most age ranges in this study were aged 60-69 years and over 70 years, each of which was 64 (30.5%). The most common risk factor was hypertension with 131 patients (62.4%). In the statistical analysis it was found that hypertension showed a significant relationship (RP: 4.85, 95% CI: 2.62-8.97, p: 0.000), and it was the strongest variable related to stroke. Statistical malnutrition did not have a significant relationship to the incidence of stroke (Rp. 0.80, 95% CI: 0.32-2.00, p: 0.644).Conclusion: Generally, malnutrition does not show a significant relationship to stroke. Hypertension is an independent risk factor for stroke.
AKURASI PENINGKATAN PROSTATE-SPECIFIC ANTIGEN DALAM DARAH TERHADAP KEGANASAN PROSTAT Daniel Mahendra Krisna; Hariatmoko Hariatmoko; Rizaldy Taslim Pinzon
JKKI : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Indonesia JKKI, Vol 9, No 1, (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/JKKI.Vol9.Iss1.art5

Abstract

Background: Various controversies arose in the study of PSA examination as an alternative of biopsy to detect prostate malignancy. Prostate Specific Antigen (PSA) is a specific protein secreted by the prostate gland and is affected by various conditions. PSA levels will certainly increase at the enlargement of the prostate gland. An accurate cutoff point that can detect prostate cancer is needed.Objective: To evaluate the PSA diagnostic test against prostate malignancy.Methods: This study used a diagnostic test method for 91 patients undergoing either prostate gland surgery or open prostatectomy at Bethesda Hospital Yogyakarta in January 2014-January 2016 period. Data were taken from medical records with inclusion criteria as follow: over 50 years of age, preoperative PSA, and PA results. This study was a descriptive analytic study. In the diagnostic test AuROC, cutoff points were determined. Chisquare test was performed to assess sensitivity, specificity, PPV, NPV, LHR -, and LHR +.Results: We studied 91 patients with a mean age of 70.24 ( 46-54 ) and mean PSA level of 27.2 ( 0.59-101 ). The results of PA prostate tissue examinations were adenocarcinoma in 15 patients ( 16.5 % ) and BPH in 76 patients ( 83.5 %) On all PSA levels, AuROC were 0.90. Specificity of PSA with 4 ng / mL cutoff, 10 ng / mL, 20 ng / mL, 50 ng / mL, and 100 ng / mL were 0.53, 35.53, 67.11, 96.05, 98.68. When the cutoffs were reduced to 4.01-10ng/mL, 10.01-20 ng/mL, 20.01-50ng/ mL,50.01-100 ng/mL, and > 100 ng/mL, the specifity were 76.32, 68.00, 69.74, 96.05, 100.00. Cutoff value of 50ng / mL had LHR + >10.00 ( 15:20 ).Conclusion: There is a strong correlation between PSA and prostate malignancy. PSA value> 50 ng / mL has high accuracy to detect prostate malignancy. A biopsy is needed to determine a definitive diagnostic because no cutoff value can be used as a benchmark.
Defisiensi Vitamin D Pasien COVID-19 Gejala Berat Disertai Manifestasi Neurologis Rizaldy Taslim Pinzon; Nunki Puspita Utomo
eJournal Kedokteran Indonesia Vol 10, No. 1 - April 2022
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.003 KB) | DOI: 10.23886/ejki.10.63.64-70

Abstract

Saat infeksi COVID-19 menjadi pandemi ketiga dan terluas di dunia, studi mengenai tatalaksana  preventif dan kuratif COVID-19 sangat dibutuhkan. Studi sebelumnya menunjukan kemungkinan vitamin D sebagai profilaksis dan terapi untuk COVID-19, terutama saat hipovitaminosis D yang sering terjadi. Studi ini memuat dua kasus terkonfirmasi COVID-19 di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta Indonesia dan data tentang tanda, gejala klinis serta pemeriksaan laboratoriumnya termasuk status vitamin D yang diukur menggunakan metode laboratorium standar. Keduanya menunjukan hasil defisiensi vitamin D. Laporan kasus berbasis bukti ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status vitamin D dan tingkat keparahan COVID-19. Pencarian literatur dilakukan di database PubMed, CENTRAL, EbscoHost dan ProQuest dengan kata kunci  ‘vitamin D’, ‘deficiency’, ‘status’, ‘COVID-19’, ‘severity’, ‘risk factor’. Didapatkan satu artikel terkini yang mempresentasikan kasus studi ini, yaitu studi kohort yang menunjukan bahwa terdapat hubungan signifikan antara defisiensi vitamin D dengan tingginya risiko infeksi dan derajat keparahan COVID-19.