Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

KAWASAN AGROWISATA SAYUR DI TOMOHON: Aplikasi Serial Vision pada Arsitektur Lansekap Elisha A. Pijoh; Rieneke L.E. Sela; Amanda S. Sembel
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 11 No. 1 (2022): DASENG Volume 11, Nomor 1, Mei 2022
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pariwisata adalah salah satu sektor yang sangat digemari oleh masyarakat yang didalamnya termasuk agrowisata. Agrowisata merupakan suatu aktivitas yang menggunakan lahan pertanian sebagai wadah untuk berbudidaya yang menjadi daya tarik bagi wisatawan. Pada perancangan ini difokuskan pada sayuran sebagai salah satu kekayaan alam kota Tomohon. Perancangan ini bertujuan untuk menghadirkan kawasan agrowisata yang dapat memaksimalkan potensi dan kebutuhan kota Tomohon serta dengan pengaplikasian tema Serial Vision pada kawasan. Metode yang digunakan pada perancangan ini adalah metode glass box oleh J. Christopher dengan pendekatan tipologis, lokasional dan tematik. Serial Vision sebagai tema adalah suatu media dalam menyusun sequence, dimana merupakan tata urutan yang tersusun dan berlanjut sehingga urutan tersebut akan menjadi sebuah serial vision antara lingkungan satu dan lainnya yang diimplementasikan pada ruang luar atau lansekap kawasan. Kata Kunci : Kota Tomohon, Kawasan Agrowisata, Serial Vision, Arsitektur Lansekap
PUSAT KONSERVASI DAN WISATA EDUKASI DANAU TONDANO DI KABUPATEN MINAHASA: Solution Grows from Place Andriano G. S. Rumbajan; Octavianus H. A. Rogi; Amanda S. Sembel
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 11 No. 1 (2022): DASENG Volume 11, Nomor 1, Mei 2022
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perancangan Pusat Konservasi dan Wisata Edukasi ini lahir dari urgensitas kelestarian Danau Tondano. dimana Danau ini merupakan danau yang kaya akan sumber daya alamnya dan masyarakat sekitar banyak bergantung dengan keberadaan danau ini karena memberikan dampak besar bagi keberlangsungan hidup masyarakat sekitar Danau Tondano terutama masyarakat yang bermukim di kabupaten Minahasa dan Kota Manado. Namun, berbagai permasalahan lingkungan yang dihadapi danau tondano saat ini dapat mengancam kehidupan setiap mahluk hidup yang bergantung pada keberadaan danau ini di masa mendatang untuk itu tujuan perancangan ini adalah untuk menghadirkan wadah pelestarian Danau Tondano lewat kehadiran area konservasi serta area wisata edukasi bagi masyarakat sekitar. Metode yang dipakai dalam perancangan ini merupakan metode dari John Zeisel yakni image, present, dan test dimana pemilihan metode ini bertujuan untuk menghasilkan desain yang bertransformasi untuk mendapatkan konsep dan hasil rancangan lewat proses desain yang berulang untuk memperoleh desain yang baik dan sesuai dengan kondisi tapak untuk mendapatkan solusi terhadap permasalahan tapak. Pada perancangan objek Pusat Konservasi dan Wisata Edukasi ini telah menghasilkan desain arsitektural yang mampu merespon permasalahan tapak yang ada mulai dari permasalahan banjir dengan menaikan elevasi bangunan, eceng gondok dengan penyediaan fasilitas pemberdayaan dan edukasi dan aspek kelestarian tapak dengan memaksimalkan penataan lansekap untuk perwadahan kegiatan konservasi. Dengan penerapan tema “Solution Grows from place.” Maka perancangan ini mampu menjawab permasalahan tapak yang ada lewat solusi arsitektural yang ada dengan pendekatan arsitektur ekologi. Kata kunci: Tondano, Pusat Konservasi, Wisata Edukasi, Solution Grows from Place.
MUSEUM SAM RATULANGI . Extending Tradition Tiatira B. F. Pomantow; Herry Kapugu; Amanda S. Sembel
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.24617

Abstract

Kebudayaan adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang yang telah di wariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur, termasuk sistem agama dan politik, adat-istiadat, perkakas, pakaian, bangunan, peristiwa penting, transportasi, karya seni, dan bahasa sebagaimana juga budaya yang telah menjadi sejarah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari diri  manusia. Sehingga banyak orang cenderung menganggapnya sebagai warisan genetis Museum merupakan lembaga yang diperuntukkan bagi masyarakat umum. Museum juga berfungsi mengumpulkan, merawat, dan menyajikan serta melestarikan warisan budaya untuk tujuan pembelajaran, penelitian ataupun dapat diartikan sebagai hiburan. Museum harus aktif dalam pembangunan moral. Dalam perancangan ini akan dirancangkan sebuah museum yang mana dilengkapi dengan aktifitas edukasi agar masyarakat dapat mempelajari budaya lokal dari Sulawesi Utara mulai dari aspek kesenian, budaya dan nilai lokalitas yang berhubungan erat antara agama dan kebudayaan juga sejarah. Perancangan Museum Sam Ratulangi ini mengusung tema Extending Tradition sebagai titik dasar landasan perancangan, sehingga keutuhan dan kebersamaan merupakan tujuan akhir dalam pencapaian nilai-nilai yang terdapat pada museum ini, pola tatanan ruang museum yang terpusat melambangkan interaksi antar sesama makhluk. Pola tatanan seperti ini diharapkan museum Sam Ratulangi ini akan menumbuhkan nilai-nilai tradisi lokal yang dapat mengedukasi para pengunjung. Kata kunci: Museum Sam Ratulangi di Manado, Extending Tradition.
PUSAT SENI BUDAYA MASYARAKAT SORONG. Arsitektur Nusantara Nomensen Tiba; Judy O. Waani; Amanda S. Sembel
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.24633

Abstract

Kota Sorong merupakan salah satu daerah di Provinsi Papua Barat yang memiliki keanekeragaman seni dan budaya yang tak kalah dengan daerah lain. Dan sangat mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat Sorong sendiri, hal ini dapat dilihat dari banyaknya peminat yang tertarik ingin belajar dan mencoba menghasilkan karya-karya seni, Serta Adanya dukungan pemerintah dalam mengembangkan seni budaya di Sorong seperti banyaknya perizinan akan kegiatan-kegiatan seni budaya dari luar/dalam Sorong seperti atraksi kesenian, pagelaran dan festival seni tari-tarian, musik tradisional, seni pahat ukir, pameran hasil kerajinan tangan.Akan tetapi masalah yang dihadapi untuk mengembangkan bahkan melestarikan dan mempertahankan seni dan budaya di Sorong adalah Kurangnya informasi serta promosi seni budaya secara continue kepada masyarakat maupun wisatawan. Dan juga Belum adanya suatu wadah untuk menampung kegiatan aktifitas seni dan budaya secara menyeluruh namun terpusat.Berdasarkan kondisi diatas maka objek Pusat Seni Budaya Masyarakat Sorong diperlukan untu memecahkan serta menjembatani permasalahan yang dihadapi dalam pelayanannya akan kegiatan-kegiatan pengembangan seni budaya berupa kegiatan pendidikan, kesenian, pemasaran serta informasi. Dan kiranya mampu memberikan pengetahuan mengenai seni dan budaya kepada masyarakat Sorong melalui tampilan visual hasil-hasil karyanya, dan dapat menambah wawasan  masyarakat kota Sorong tentang seni dan budaya itu sendiri, serta menjadi sarana untuk melatih kreatifitas ke dalam produk seni dan budaya. Kata kunci:Pusat, seni dan budaya,Papua
FASHION AND BEAUTY CENTRE DI MANADO. Arsitektur Biomorfik Regina Pattyranie; Roosje J. Poluan; Amanda S. Sembel
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 2 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 2, November 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i2.25555

Abstract

Penampilan berbusana adalah hal yang menjadi perhatian khusus bagi setiap orang. Penampilan seseorang pada dasarnya akan mencerminkan pribadi seseorang yang nantinya akan berpengaruh kepada kehidupan seseorang. Kebutuhan wanita dan pria akan fasilitas perawatan kecantikan sekarang ini terus meningkat, karena mereka sudah menyadari begitu pentingnya kesehatan tubuh dan merawatnya agar terlihat lebih baik.Manado merupakan kota yang masyarakatnya tidak lepas dari fenomena tentang pentingnya penampilan diri dalam setiap aktivitasnya. Jika melihat kenyataan yang ada perkembangan mode di Indonesia khususnya di Manado sangat baik dan telah menjadi industri atau peluang bisnis yang baik. Perancanganan Fashion and Beauty Centre di Manado menggunakan konsep Arsitektur Biomorfik yaitu konsep perancangan yang mengambil inspirasi bentuk dan motif dari kehidupan alam. Kata kunci : fashion, perawatan kecantikan, fashion and beauty centre, Kota Manado, Arsitektur Biomorfik
COFFEE CENTER DI BOLAANG MONGONDOW TIMUR. Arsitektur Lansekap Collen Sangkaeng; Harry Kapugu; Amanda S. Sembel
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.29213

Abstract

Dewasa  ini  rutinitas  manusia  yang  meningkat  ditandai  dengan  padatnya aktivitas sehari-hari mampu membuat suasana penat dalam pekerjaan. Salah satu cara masyarakat  terutama masyarakat  perkotaan  menghilangkan  kejenuhan  dari  aktivitas sehari-harinya  yaitu  dengan  minum  kopi.Ngopi di coffee  shop menjadi  suatu  gaya hidup perkotaan masa kini. Pandangan masyarakat terhadap kopi di zaman sekarangpun  sudah  berubah.  Masyarakat  dahulu memandang  kopi  secara  sederhana  dengan cara  yang  sederhana  sedangkan masyarakat  zaman  sekarang  memandang  kopi  dari berbagai sudut pandang dan cara penyajian yang kompleks. Namun terdapat kesamaan yaitu kopi digemari dan dipercaya sebagai penghilang penat. Sayangnya masyarakat Indonesia kurang mengenal asal-usul penemuan kopi, macam-macam kopi terutama kopi Indonesia dan teknik pengolahannya. Disamping itu, saat ini di kota Manado terdapat komunitas pecinta kopi yang bernama Komunitas Pecinta  Kopi  Manado  yang  tidak  memiliki  tempat  tetap  untuk berkumpul  dan melakukan  aktivitas  bersama  komunitasnya.  Dengan  hadirnya Coffee  Center ini, pengunjung  akan  memperoleh  pengetahuan  tentang  sejarah  penemuan  kopi  hingga kopi  masuk  ke  Indonesia.  Selain  itu  juga  pada museum  kopi  ini  terdapat  penjelasan mengenai proses pengolahan kopi dan penjelasan mengenai alat-alat kopi. Pengunjung juga dapat menikmati sajian olahan kopi khas Indonesia dan kopi mancanegara. Coffee Center ini  juga  dilengkapi  dengan  fasilitas pendukung  seperti cupping  room, kelas barista,  dan meeting  room sehingga  pengunjung  mendapat  pengalaman  yang  baru setelah mengunjungi Coffee Center ini.Perancangan dari Coffee Center ini mengaplikasikan tema Arsitektur Lanskap atau seni taman yang membuat para pengunjung nyaman dan relax saat menikmati taman dan pemandangan alam disekitar Coffee Center tersebut. Kata Kunci : Coffee, Museum, Cafe, Arsitektur Lanskap
PUSAT REKREASI ANAK DI KOTA MANADO. Architecture of Happiness Rebecca Y. E. Tooy; Rachmat Prijadi; Amanda S. Sembel
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.30172

Abstract

Berdasarkan teori psikolog Sigmund freud, masa kecil seorang individu adalah masa terpenting dalam menentukan akan menjadi apakah ia kelak dalam hidupnya. Pada abad ke 21, pesatnya perkembangan teknologi begitu mempengaruhi pola aktivitas anak. Tidak hanya memberi pengaruh positif tapi juga memberi dampak negatif. Bermain game atau media sosial menjadi lebih diminati daripada bermain aktif di luar ruang. Dengan melihat minimnya fasilitas bermain edukatif dan ruang hijau bagi anak di kota Manado, serta kebutuhan anak dalam tumbuh kembangnya, digagas perancangan Pusat Rekreasi Anak di Kota Manado ini. Metode dalam perancangan menggunakan teori Host Rittel yaitu dengan mengembangkan beberapa gagasan, lalu dikaji kembali untuk dikembangkan atau direduksi. Pada dasarnya hasil dari perancangan Pusat Rekreasi Anak ini berfokus pada usaha menjawab apa yang membuat anak bahagia, dan pengaruhnya bagi anak, lewat pendekatan tema Architecture of Happiness. Lewat pendekatan tema yang dilakukan objek rancangan bisa menjawab kebutuhan akan wadah untuk bermain dan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Kata Kunci: Rekreasi Anak, Manado, Architecture of Happines
RESOR & PUSAT SELAM DI KECAMATAN MANGANITU SELATAN. Arsitektur Tepi Air Jessy A. Rumouw; Dwight M. Rondonuwu; Amanda S. Sembel
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.30753

Abstract

Sulawesi Utara memiliki 283 pulau bernama yang diantaranya memiliki pesona pantai yang indah dan keindahan alam bawah laut, tak terkecuali dengan pulau-pulau yang ada di Kabupaten Kepepulauan Sangihe. Kabupaten  Kepulauan Sangihe memiliki sejumlah pulau dengan pantai berpasir putih dan alam bawah lautnya yang indah. Salah satu pulau dengan keindahanya, yaitu Pulau Mendaku yang terletak di Kecamatan Manganitu Selatan, Kab. Kep. Sangihe, dimana terdapat pantai dengan pasir putih dan taman bawah laut yang menjadi salah satu spot diving di Sangihe. Dengan potensi keindahannya ini mengundang wisatawan untuk datang namun minimnya fasilitas dan akomodasi yang tersedia membuat wisatawan terkendala dan potensi pulau ini tidak termanfaatkan. Dengan melihat minimnya fasilitas yang tersedia maka diangkatlah perancangan Resor & Pusat Selam di Kecamatan Manganitu Selatan ini. Dengan metode perancangan yang digunakan adalah metode dari Horst Rittel yaitu mekanisme pengembangan varieatas – reduksi varieatas, dimana pada tahap awal akan membuat beberapa alternatif dari gagasan awal yang kemudian pada tahap berikutnya akan direduksi untuk mendapatkan alternatif terbaik. Tema yang diimplementasikan adalah “Arsitektur Tepi Air” berangkat dari lokasi yang berada di pulau yang dikelilingi laut dan memiliki potensi alam bawah laut yang indah. Diharapkan dengan penerapan tema ini dapat menjawab permasalahan yang ada dan mewujudkan resor & pusat selam yang sesuai dengan standar dan memiliki keselaran dengan lingkungannya.Kata Kunci: Resor, Pusat Selam, Arsitektur Tepi Air, Kecamatan Manganitu Selatan
LEMBAGA PEMASYARAKATAN WANITA KELAS II A di MANADO. Arsitektur Paradoks Trifena T. A. Tumundo; Dwight M. Rondonuwu; Amanda S. Sembel
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.31100

Abstract

Lembaga Pemasyarakatan merupakan tempat melaksanakan hukuman pidana dan sebagai tempat pembinaan terhadap narapidana dan anak didik pemasyarakatan di Indonesia. Penggolongan Lembaga Pemasyarakatan terbagi atas dasar; jenis kelamin, umur, lama pidana, jenis kejahatan dan kriteria lainnya yang dibutuhkan. Di kota Manado sampai saat ini belum tersedia Lembaga Pemasyarakatan yang dikhususkan untuk narapidana wanita. Karena itulah dibutuhkan perencanaan dan perancangan Lembaga Pemasayarakatan Narapidana Wanita (LPNA) dengan fasilitas dan daya tampung berdasarkan spesifikasi kelasnya yaitu kelas II A. Adapun tujuan perancangan adalah menghadirkan Lembaga Pemasyarakatan khusus untuk wanita Kelas II A yang mampu mewadahi kegiatan narapidana dan juga sebagai tempat pembinaan dan pengembangan para narapidana wanita dengan pendekatan perancangan Arsitektur Paradoks.  Perancangan ini menggunakan metode glass box, dimana proses perancangannya dapat dimulai dari pengumpulan data, analisis, sintesa, sampai pada pradesain. Dengan pendeketan tema Arsitektur Paradoks maka dihasilkan konsep perancangan berupa pernyataan paradoks seperti; “lembut namun keras”, “terbuka namun tertutup”. “Tidak Bebas namun bebas”, “dingin namun hangat”, yang diwujudkan dalam bentuk desain bangunan dan ruang luarnya pada gambar site plan, layout, tampak bangunan, potongan bangunan, utilitas bangunan, spot interior, spot ekesterior dan perspektif bangunan.Kata kunci            : Lembaga Pemasyarakatan, Narapidana wanita, metode glass box Arsitektur paradoks
CONCERT HALL DI KOTAMOBAGU, Arsitektur Metafora Marjulino A. Lalumedja; Sonny Tilaar; Amanda S. Sembel
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 2 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 2, November 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i2.34694

Abstract

Kota Kotamobagu menawarkan berbagai bentuk hiburan bagi masyarakatnya yaitu mulai dari tempat wisata, kegiatan kerohanian, bahkan sampai pertunjukkan seni dan tari. Namun, saat ini di Kota Kotamobagu sendiri belum ada bangunan yang memadai khusus untuk mewadahi masyarakat Kota Kotamobagu dalam menyalurkan bakat dan kemampuan mereka di bidang seni dan tari tersebut. Sehingga untuk memenuhi tujuan tersebut maka diperlukan suatu fasilitas berupa concert hall. Berdasarkan pemilihan tapak di lokasi perencanaan maka kawasan yang terpilih sebagai tempat untuk membangun objek perancangan ini yaitu Kelurahan Kobo Besar Kecamatan Kotamobagu Timur. Objek perancangan concert hall di desain menggunakan tema metafora arsitektur di mana tema ini berfungsi untuk menganalogikan sebuah objek dasar berbentuk piano. Selain berfungsi sebagai tempat untuk mewadahi kegiatan seni dan tari bagi masyarakat Kota Kotamobagu, bentuk dasar objek yang di ambil dari bentuk alat musik piano ini juga di sesuaikan dengan fungsi estetika pada suatu objek rancangan sehingga memiliki karakter arsitektural yang sangat khas karena memiliki bentuk yang berbeda dengan objek pada umumnya. Untuk fisibilitas dari objek concert hall ini yaitu di dasarkan pada tingkat kelayakan lokasi tapak dan lingkungan serta layanan fasilitas objek yang ditawarkan. Concert hall ini dibangun dengan memperhatikan berbagai aspek perancangan agar tercipta fasilitas concert hall yang layak untuk dinikmati masyarakat dan nyaman.Kata kunci: Concert hall, Metafora, Kota Kotamobagu