Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

COFFEE CENTER DI BOLAANG MONGONDOW TIMUR. Arsitektur Lansekap Collen Sangkaeng; Harry Kapugu; Amanda S. Sembel
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.29213

Abstract

Dewasa  ini  rutinitas  manusia  yang  meningkat  ditandai  dengan  padatnya aktivitas sehari-hari mampu membuat suasana penat dalam pekerjaan. Salah satu cara masyarakat  terutama masyarakat  perkotaan  menghilangkan  kejenuhan  dari  aktivitas sehari-harinya  yaitu  dengan  minum  kopi.Ngopi di coffee  shop menjadi  suatu  gaya hidup perkotaan masa kini. Pandangan masyarakat terhadap kopi di zaman sekarangpun  sudah  berubah.  Masyarakat  dahulu memandang  kopi  secara  sederhana  dengan cara  yang  sederhana  sedangkan masyarakat  zaman  sekarang  memandang  kopi  dari berbagai sudut pandang dan cara penyajian yang kompleks. Namun terdapat kesamaan yaitu kopi digemari dan dipercaya sebagai penghilang penat. Sayangnya masyarakat Indonesia kurang mengenal asal-usul penemuan kopi, macam-macam kopi terutama kopi Indonesia dan teknik pengolahannya. Disamping itu, saat ini di kota Manado terdapat komunitas pecinta kopi yang bernama Komunitas Pecinta  Kopi  Manado  yang  tidak  memiliki  tempat  tetap  untuk berkumpul  dan melakukan  aktivitas  bersama  komunitasnya.  Dengan  hadirnya Coffee  Center ini, pengunjung  akan  memperoleh  pengetahuan  tentang  sejarah  penemuan  kopi  hingga kopi  masuk  ke  Indonesia.  Selain  itu  juga  pada museum  kopi  ini  terdapat  penjelasan mengenai proses pengolahan kopi dan penjelasan mengenai alat-alat kopi. Pengunjung juga dapat menikmati sajian olahan kopi khas Indonesia dan kopi mancanegara. Coffee Center ini  juga  dilengkapi  dengan  fasilitas pendukung  seperti cupping  room, kelas barista,  dan meeting  room sehingga  pengunjung  mendapat  pengalaman  yang  baru setelah mengunjungi Coffee Center ini.Perancangan dari Coffee Center ini mengaplikasikan tema Arsitektur Lanskap atau seni taman yang membuat para pengunjung nyaman dan relax saat menikmati taman dan pemandangan alam disekitar Coffee Center tersebut. Kata Kunci : Coffee, Museum, Cafe, Arsitektur Lanskap
PUSAT REKREASI ANAK DI KOTA MANADO. Architecture of Happiness Rebecca Y. E. Tooy; Rachmat Prijadi; Amanda S. Sembel
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.30172

Abstract

Berdasarkan teori psikolog Sigmund freud, masa kecil seorang individu adalah masa terpenting dalam menentukan akan menjadi apakah ia kelak dalam hidupnya. Pada abad ke 21, pesatnya perkembangan teknologi begitu mempengaruhi pola aktivitas anak. Tidak hanya memberi pengaruh positif tapi juga memberi dampak negatif. Bermain game atau media sosial menjadi lebih diminati daripada bermain aktif di luar ruang. Dengan melihat minimnya fasilitas bermain edukatif dan ruang hijau bagi anak di kota Manado, serta kebutuhan anak dalam tumbuh kembangnya, digagas perancangan Pusat Rekreasi Anak di Kota Manado ini. Metode dalam perancangan menggunakan teori Host Rittel yaitu dengan mengembangkan beberapa gagasan, lalu dikaji kembali untuk dikembangkan atau direduksi. Pada dasarnya hasil dari perancangan Pusat Rekreasi Anak ini berfokus pada usaha menjawab apa yang membuat anak bahagia, dan pengaruhnya bagi anak, lewat pendekatan tema Architecture of Happiness. Lewat pendekatan tema yang dilakukan objek rancangan bisa menjawab kebutuhan akan wadah untuk bermain dan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Kata Kunci: Rekreasi Anak, Manado, Architecture of Happines
RESOR & PUSAT SELAM DI KECAMATAN MANGANITU SELATAN. Arsitektur Tepi Air Jessy A. Rumouw; Dwight M. Rondonuwu; Amanda S. Sembel
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.30753

Abstract

Sulawesi Utara memiliki 283 pulau bernama yang diantaranya memiliki pesona pantai yang indah dan keindahan alam bawah laut, tak terkecuali dengan pulau-pulau yang ada di Kabupaten Kepepulauan Sangihe. Kabupaten  Kepulauan Sangihe memiliki sejumlah pulau dengan pantai berpasir putih dan alam bawah lautnya yang indah. Salah satu pulau dengan keindahanya, yaitu Pulau Mendaku yang terletak di Kecamatan Manganitu Selatan, Kab. Kep. Sangihe, dimana terdapat pantai dengan pasir putih dan taman bawah laut yang menjadi salah satu spot diving di Sangihe. Dengan potensi keindahannya ini mengundang wisatawan untuk datang namun minimnya fasilitas dan akomodasi yang tersedia membuat wisatawan terkendala dan potensi pulau ini tidak termanfaatkan. Dengan melihat minimnya fasilitas yang tersedia maka diangkatlah perancangan Resor & Pusat Selam di Kecamatan Manganitu Selatan ini. Dengan metode perancangan yang digunakan adalah metode dari Horst Rittel yaitu mekanisme pengembangan varieatas – reduksi varieatas, dimana pada tahap awal akan membuat beberapa alternatif dari gagasan awal yang kemudian pada tahap berikutnya akan direduksi untuk mendapatkan alternatif terbaik. Tema yang diimplementasikan adalah “Arsitektur Tepi Air” berangkat dari lokasi yang berada di pulau yang dikelilingi laut dan memiliki potensi alam bawah laut yang indah. Diharapkan dengan penerapan tema ini dapat menjawab permasalahan yang ada dan mewujudkan resor & pusat selam yang sesuai dengan standar dan memiliki keselaran dengan lingkungannya.Kata Kunci: Resor, Pusat Selam, Arsitektur Tepi Air, Kecamatan Manganitu Selatan
LEMBAGA PEMASYARAKATAN WANITA KELAS II A di MANADO. Arsitektur Paradoks Trifena T. A. Tumundo; Dwight M. Rondonuwu; Amanda S. Sembel
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.31100

Abstract

Lembaga Pemasyarakatan merupakan tempat melaksanakan hukuman pidana dan sebagai tempat pembinaan terhadap narapidana dan anak didik pemasyarakatan di Indonesia. Penggolongan Lembaga Pemasyarakatan terbagi atas dasar; jenis kelamin, umur, lama pidana, jenis kejahatan dan kriteria lainnya yang dibutuhkan. Di kota Manado sampai saat ini belum tersedia Lembaga Pemasyarakatan yang dikhususkan untuk narapidana wanita. Karena itulah dibutuhkan perencanaan dan perancangan Lembaga Pemasayarakatan Narapidana Wanita (LPNA) dengan fasilitas dan daya tampung berdasarkan spesifikasi kelasnya yaitu kelas II A. Adapun tujuan perancangan adalah menghadirkan Lembaga Pemasyarakatan khusus untuk wanita Kelas II A yang mampu mewadahi kegiatan narapidana dan juga sebagai tempat pembinaan dan pengembangan para narapidana wanita dengan pendekatan perancangan Arsitektur Paradoks.  Perancangan ini menggunakan metode glass box, dimana proses perancangannya dapat dimulai dari pengumpulan data, analisis, sintesa, sampai pada pradesain. Dengan pendeketan tema Arsitektur Paradoks maka dihasilkan konsep perancangan berupa pernyataan paradoks seperti; “lembut namun keras”, “terbuka namun tertutup”. “Tidak Bebas namun bebas”, “dingin namun hangat”, yang diwujudkan dalam bentuk desain bangunan dan ruang luarnya pada gambar site plan, layout, tampak bangunan, potongan bangunan, utilitas bangunan, spot interior, spot ekesterior dan perspektif bangunan.Kata kunci            : Lembaga Pemasyarakatan, Narapidana wanita, metode glass box Arsitektur paradoks
CONCERT HALL DI KOTAMOBAGU, Arsitektur Metafora Marjulino A. Lalumedja; Sonny Tilaar; Amanda S. Sembel
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 2 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 2, November 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i2.34694

Abstract

Kota Kotamobagu menawarkan berbagai bentuk hiburan bagi masyarakatnya yaitu mulai dari tempat wisata, kegiatan kerohanian, bahkan sampai pertunjukkan seni dan tari. Namun, saat ini di Kota Kotamobagu sendiri belum ada bangunan yang memadai khusus untuk mewadahi masyarakat Kota Kotamobagu dalam menyalurkan bakat dan kemampuan mereka di bidang seni dan tari tersebut. Sehingga untuk memenuhi tujuan tersebut maka diperlukan suatu fasilitas berupa concert hall. Berdasarkan pemilihan tapak di lokasi perencanaan maka kawasan yang terpilih sebagai tempat untuk membangun objek perancangan ini yaitu Kelurahan Kobo Besar Kecamatan Kotamobagu Timur. Objek perancangan concert hall di desain menggunakan tema metafora arsitektur di mana tema ini berfungsi untuk menganalogikan sebuah objek dasar berbentuk piano. Selain berfungsi sebagai tempat untuk mewadahi kegiatan seni dan tari bagi masyarakat Kota Kotamobagu, bentuk dasar objek yang di ambil dari bentuk alat musik piano ini juga di sesuaikan dengan fungsi estetika pada suatu objek rancangan sehingga memiliki karakter arsitektural yang sangat khas karena memiliki bentuk yang berbeda dengan objek pada umumnya. Untuk fisibilitas dari objek concert hall ini yaitu di dasarkan pada tingkat kelayakan lokasi tapak dan lingkungan serta layanan fasilitas objek yang ditawarkan. Concert hall ini dibangun dengan memperhatikan berbagai aspek perancangan agar tercipta fasilitas concert hall yang layak untuk dinikmati masyarakat dan nyaman.Kata kunci: Concert hall, Metafora, Kota Kotamobagu
ANALISIS TINGKAT RESIKO BENCANA GUNUNG API LOKON DI KOTA TOMOHON Aldrin R. Kading; Aristotulus E. Tungka; Amanda S. Sembel
MEDIA MATRASAIN Vol. 17 No. 2 (2020)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/matrasain.v17i2.37039

Abstract

Resiko bencana merupakan potensi kerugian yang ditumbulkan akibat bencana pada suatu kawasan dalam kurun waktu waktu tertentu yang dapat berupa kematian , luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan, atau kehilangan harta benda, dan gangguan kegiatan masyarakat. Berdasarkan penelitian di belahan dunia terdapat 1500 gunung Merapi aktif, 127 diantaranya berada di Indonesia, hal ini karena Indonesia berada pada zona ring of fire, yaitu zona yang paling sering mengalami gempa bumi dan erupsi gunung api. gunung lokon merupakan salah satu gunung api tipe A berjenis Stratovulcano yang berada di antara kota tomohon dan minahasa selatan.. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat resiko bencana erupsi gunung api lokon dikota tomohon serta menentukan jalur evakuasi, titik kumpul, dan titik pengungsian berdasarkan hasil analisis tingkat resiko sebagai upaya dalam mengurangi resiko erupsi gunung api lokon di kota tomohon. Metode yang digunakan untuk analisis resiko adalah analisis spasial (overlay), pembobotan dan skoring dengan indikator ancaman, kerentanan, kapasitas dan resiko, sedangkan untuk penentuan jalur evakuasi, titik kumpul, dan titik pengungsian adalah dengan menggunakan metode network analysis. Berdasarkan hasil analisis terdapat 7 kelurahan dengan tingkat resiko tinggi yang dipengaruhi oleh tingkat ancaman, indeks kerentanan, tingkat kerugian dan dan tingkat kapasitas, sedangkan untuk jalur evakuasi direncanakan sebanyak 22 titik kumpul, 32 titik pengungsian, dan 21 rute terpendek menuju pengungsian.
ANALISIS PENYEDIAAN LOKASI LAHAN TERBANGUN (PERMUKIMAN) BAGI MASYARAKAT YANG TERKENA TSUNAMI DI KABUPATEN DONGGALA KECAMATAN BANAWA Dewa P. Christabel J.; Esly D. Takumansang; Amanda S. Sembel
MEDIA MATRASAIN Vol. 18 No. 1 (2021)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/matrasain.v18i1.37058

Abstract

Housing and settlements are one of the basic human needs. Settlement is part of a residential environment consisting of more than one housing unit that has infrastructure, facilities, public utilities, and has supporting activities for other functions in urban areas or rural areas. The government is obliged to meet the housing needs of the Indonesian people.The earthquake and tsunami disaster in Donggala Regency, Banawa District has caused damage to community housing. As a result of this disaster, it is necessary to provide new residential land locations for disaster-affected communities in Banawa District. This study aims to provide an understanding in analyzing the suitability of residential land in Donggala Regency, Banawa District and to assist the government in determining a suitable location for a new residential area in Donggala Regency, Banawa District. To determine the right location in building regional residential areas, the unit analysis method of land capability and land suitability is used. The results of the research show that the land capability in Donggala Regency is still in the category that can be developed but still has to follow the appropriate directions and rules for the development category. Meanwhile, land suitability in Donggala Regency, the Agricultural area has the most dominating area. The right land location for the development of the new settlement area is located in Banawa District, Gunung Bale Village.
PASAR KULINER, SENI DAN KERAJINAN DI KOTA LUWUK: Arsitektur Vernakular Axel W. Rantung; Raymond D. Ch. Tarore; Amanda S. Sembel
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 12 No. 1 (2023): DASENG Volume 12, Nomor 1, Januari 2023
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Luwuk sebagai ibu kota provinsi Banggai memiliki potensi yang menarik yang dapat dijadikan sebagai pusat atraksi untuk menarik lebih banyak orang ke daerah tersebut. Pasar Kuliner Seni, dan Kerajinan Kota Luwuk merupakan salah satu dari strategi untuk menyediakan platform untuk berbagai khalayak nasional dan internasional. Untuk menonjolkan potensi budaya lokal, tema perancangan yang dipilih adalah 'arsitektur Vernakular', yang mencakup desain yang memasukkan ciri khas lokal sebagai identitas budaya lokal. Kata Kunci :Pasar, kuliner, seni, kerajinan, Arsitektur Vernakular
REDESAIN OBJEK WISATA BUNTU SINGKI DI KABUPATEN TORAJA UTARA: Arsitektur Neo Vernakular Widyal Sara; Fela Warouw; Amanda S. Sembel
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 12 No. 4 (2023): DASENG Volume 12 Nomor 4, Oktober 2023
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bagi perekonomian Perekonomian Indonesia, sektor pariwisata merupakan sektor yang sangat penting. Keindahan alam, tradisi budaya, dan warisan asli Indonesia merupakan permata berharga yang patut kita hargai dan kumandangkan. Salah satu objek wisata yang ada di kabupaten Toraja Utara adalah objek wisata Buntu Singki yang merupakan objek wisata religi dengan daya tarik salib raksasa, di bangun di atas bukit di kota Rantepao membuat objek wisata ini dapat dilihat dari seluruh penjuru kota Rantepao sehingga menjadi vocal point kota dan juga menjadi wajah Kabupaten Toraja Utara. Namun objek wisata Buntu Singki sekarang ini terbengkalai imbas sepi pengunjung di momen natal. Dikatakan bahwa objek wisata tersebut tak mendapat perhatian Pemerintah. Dari hal tersebut dapat dikatakan bahwa objek wisata ini tidak memiliki unsur 3A yang lengkap. maka dari itu mendesain ulang objek wisata Buntu Singki ini dilakukan dengan harapan dapat mengundang kembali wisatwaan untuk berkunjung. Objek wisata ini akan di redesain dengan menggunakan tema arsitektur Neo Vernakular, karena tema ini diharapkan dapat menjadi acuan dasar untuk menghasilkan karya dengan tampilan visual yang baru dengan menggunakan bentuk-bentuk bangunan tradisional sebagai identitas suku Toraja yang di transfirmasikan kedalam bentuk yang lebih modern. Kata Kunci: Objek Wisata, Buntu Singki, Neo Vernakular
GALERI CERITA RAKYAT MINAHASA DI PINABETENGAN: Implementasi Extending Tradition Angelino P. Tangkulung; Pierre H. Gosal; Amanda S. Sembel
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 13 No. 1 (2024): DASENG Volume 13 Nomor 1, Februari 2024
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Galeri Cerita Rakyat Minahasa di Pinabetengan dengan tema "Extending Tradition" adalah sebuah proyek budaya yang bertujuan untuk merayakan, melestarikan, dan memperluas tradisi kaya Minahasa. Pinabetengan, sebuah desa yang dikelilingi oleh alam yang indah, telah lama menjadi kustodian cerita rakyat Minahasa yang kaya dan budaya lokal yang unik. Galeri ini bertujuan untuk membawa cerita-cerita tersebut ke generasi yang lebih muda dan merangsang pertumbuhan budaya dengan cara yang inovatif.Galeri ini memaparkan sejarah dan nilai-nilai budaya Minahasa serta menggambarkan bagaimana tradisi-tradisi tersebut mengalami evolusi seiring berjalannya waktu. Pengunjung akan diajak dalam perjalanan interaktif yang membawa mereka melalui narasi cerita rakyat yang diceritakan kembali dalam bentuk yang lebih kontemporer. Mereka akan melihat bagaimana cerita-cerita kuno ini tetap relevan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Pinabetengan.Galeri Cerita Rakyat Minahasa di Pinabetengan dengan tema "Extending Tradition" adalah upaya untuk memadukan nilai-nilai warisan budaya dengan inovasi, menjembatani kesenjangan antara masa lalu dan masa depan, dan menjadikan cerita rakyat Minahasa sebagai bagian yang hidup dan relevan dalam kehidupan masyarakat Pinabetengan saat ini. Kata Kunci: Cerita rakyat minahasa, Extending Tradition.