I Gusti Putu Mayun Mayura
Departemen/KSM Obstetri Dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana-RSUP Sanglah Denpasar, Bali-Indonesia

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : E-Journal Obstetric

PROFIL PELAKSANAAN KEGIATAN PROGRAM SEE AND TREAT DI TIGA KABUPATEN DI BALI 2004-2005 Mayun Mayura, I Gusti Putu
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang         Kanker serviks seringkali terdiagnosis pada stadium lanjut. Pap Smear telah terbukti efektif sebagai salah satu alat skrining namun fasilitas yang diperlukan belum tersebar merata di Indonesia. Alternatif lain adalah Inspeksi Visual Asetat (IVA) yang memiliki sensitifitas tinggi dalam mendeteksi lesi prakanker. Program See & Treat menerapkan metode skrining kanker serviks menggunakan metode IVA pada beberapa kabupaten di Bali, antara lain Gianyar, Bangli, dan Singaraja. Hasil yang diperoleh digambarkan dalam penelitian ini sehingga diperoleh data untuk evaluasi dan kesinambungan program ini.       Tujuan Penelitian         Untuk mengetahui cakupan dan karakteristik pelaksanaan program skrining kanker serviks/ See and Treat programme di tiga Kabupaten di Bali ( Bangli,Singaraja dan Gianyar ) 2004-2005       Metode Penelitian         Penelitian ini berupa penelitian deskriptif retrospektif yang dilakukan di tiga kabupaten (Gianyar, Bangli dan Singaraja) di Bali periode tahun 2004 – 2005. Sampel adalah semua wanita yang datang dan tercatat pada registrasi Program See and Treat di tiga kabupaten di Bali tahun 2004-2005. Data untuk penelitian ini didapatkan dari register program See and Treat, kemudian disusun dan ditabulasi serta disajikan dalam bentuk tabel dan naratif. Hasil tabulasi umum yang telah tercatat dianalisa mempergunakan program SPSS. Hasil Penelitian dan Pembahasan         Responden berjumlah 6415 orang. Rata-rata umur pasien berada pada rentang dan jumlah yang sama. Hampir semua (99%) responden sudah menikah. Enam puluh persen responden menikah pada umur kurang atau sama dengan 20 tahun dan kurang dari 1 % responden menikah diatas 30 tahun. Sembilan puluh persen responden menyatakan bahwa mereka tidak pernah merokok. Rata-rata jumlah kehamilan pada responden di ketiga kabupaten adalah 1 s/d 3 kehamilan. Hasil pemeriksaan IVA di ketiga kabupaten menunjukkan angka yang konsisten berada pada nilai dibawah 10 % di masyarakat, hal ini menunjukkan adanya kesamaan standar diantara para personil kesehatan yang telah dilatih sebelumnya dalam menginterpretasi hasil pemeriksaan IVA. Hasil pemeriksaan Pap Smear menunjukkan kecenderungan yang sedikit lebih rendah dibandingkan hasil pemeriksaan IVA yaitu untuk Kabupaten Gianyar hasil Pap Smear sebesar 2.28%, Kabupaten Bangli sebesar 4.5% dan Kabupaten Buleleng sebesar 2.5% . Hasil Pap Smear untuk Ca In Situ dan Kanker invasif di Kabupaten Gianyar adalah masing-masing sebesar 1.96% dan 3.92%. Untuk Kabupaten Bangli 1.09% dan 2.19% dan Kabupaten Buleleng 3.57% dan 3.57%. Secara keseluruhan kelainan Pap Smear untuk ketiga Kabupaten masing-masing sebesar 2.2% untuk Kabupaten Gianyar, 4.5% untuk Kabupaten Bangli dan 2.5% untuk Kabupaten Buleleng.
SENSITIFITAS DAN SPESIFISITAS INSPEKSI VISUAL ASAM ASETAT PADA LESI SERVIKS DI DESA NYAMBU KEDIRI TABANAN Mayun Mayura, I Gusti Putu
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction : Cervical cancer is the second commonest cancer that affectswomen through out the world.. Its clinical manifestation through molecular and cellular changes are metaplasia and dysplasia. Visual inspection of the cervix by acetic acid ( VIA ) is one of the many screening tools to aid the diagnosis of dysplasia which are caused by HPV infection.   Objective : To identify a positive visual inspection by acetic acid test withpositive human papilloma virus test in cervical lession and a positive visual inspection test with negative human papilloma virus test in cervical lession.   Subject and method : This research is across sectional study .One hundred andfifty samples were included in this study which were identified at the participating local community health center who agreed and are qualified. All samples were inspected and had the PAP Smear test thus the patient was examined by a qualified and trained personel to visual inspection by acetic acid. The result of the VIA test were then compared to the result of the PCR test which were then calculated with chi square and analysed by the t- independent test.   Result : The average age of the sample who are VIA positive is 37,67±5,66 andwith negative result is 34,96±8,19. Results from the t-independent test shows there is no statistical differences in the average age of the subjects (p>0,05). Analysis with the 2x2 table identified sensitivity of 72,73%; specificity 97,12%; negative prediction 97,83% positive prediction 66,67%; ratio of positive probability 25,27; ratio of negative probability 0,28% and an accuracy of 95,33%.   Conclusion: Based on the research result above we may conclude that this simpletest is spesific and sensitive in diagnosing dysplasia thus quiet reliable as a screening tool to detect cervical carcinoma in its early stages.   Key word : Cervical cancer, Visual inspection by acetic acid (VIA)
PERAN MRI DALAM DIAGNOSTIK KANKER SERVIKS Mayun Mayura, I G P
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Magnetic Resonance Imaging telah semakin digunakan dalam penentuan stadium kanker serviks , karena pada tahap awal penyakit ini kinerjanya dapat dibandingkan dengan temuan intraoperatif dan , pada stadium lanjut , hal itu menunjukkan lebih unggul evaluasi klinis . Selain itu , pencitraan resonansi magnetik menyajikan resolusi gambar yang sangat baik untuk kepadatan yang berbeda dari struktur panggul , tidak memerlukan radiasi pengion , nyaman bagi pasien , meningkatkan de penentuan stadium , memungkinkan deteksi dini kekambuhan dan identifikasi faktor-faktor prognostik yang handal yang berkontribusi proses pengambilan keputusan dan hasil prediksi terapi dengan efektivitas biaya yang sangat baik . Artikel ini ditujukan untuk mengkaji aspek yang paling penting dari pencitraan resonansi magnetik pada stadium kanker serviks . Saat ini, karsinoma serviks uterus merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan. Meskipun kelangsungan hidup lebih lama dari pasien karena diagnosis awal dan terapi yang lebih efektif, penyakit ini masih tetap sebagai penyebab utama kematian terkait kanker perempuan di sebagian besar negara-negara berkembang (1). Karsinoma serviks adalah penyakit tumbuh lambat, biasanya menyerang vagina dan ruang paraserviks sepanjang parametrium dan ligamentum uterosakrum. Juga, kandung kemih, rektum, panggul dan kelenjar getah bening paraaortik dapat menyerang (2). Pola penyebaran panggul karsinoma serviks membatasi pemanfaatan bedah pengobatan untuk tahap awal penyakit ini, mengingat kurangnya margin keamanan dalam reseksi tumor yang mungkin sudah mempengaruhi ruang paraserviks. Penentuan stadium yang direkomendasikan oleh International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO) diadopsi secara luas baik untuk perencanaan terapi dan terapi pasca-ikutan, namun telah terbukti tidak akurat dalam estimasi tingkat tumor yang sebenarnya. Namun, di negara berkembang, peralatan pencitraan dasar tidak selalu tersedia secara luas dalam pelayanan kesehatan, maka pemeriksaan ginekologi akhirnya menjadi alternatif utama untuk penentuan stadium karsinoma serviks. Keterlibatan parametrium  dievaluasi dengan pemeriksaan rektal merupakan parameter yang sering ciri karsinoma stadium lanjut (6). Kesalahan dapat terjadi, terutama akibat meremehkan jumlah penyakit sebagai konsekuensi dari keterbatasan pemeriksaan klinis-ginekologi (7) .
PERANAN BRACHYTHERAPY SEBAGAI TERAPI PADA KANKER SERVIKS Mayun Mayura, I G P
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kanker serviks merupakan suatu keganasan memiliki insiden rendah di Eropa Barat dan Amerika Utara tetapi masih tinggi insidennya di negara berkembang. Human Papilloma Virus (HPV) tipe 16,18,31,33 memainkan peran penting dalam terjadinya kanker serviks dan ditemukan pada 90 % dari semua wanita dengan kanker serviks. Dalam beberapa dekade terakhir, peningkatan insiden kanker serviks terutama terjadi pada wanita muda berusia 35-55 tahun. Sebanyak 90% dari kanker serviks berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju ke uterus. Gejala tergantung pada tahap penyakit yaitu penyakit tanpa gejala pada awal penyakit dan berbagai gejala seperti keputihan dan perdarahan pada penyakit lanjut sesuai dengan ekstensi tumor pada individu. Faktor prognosis yang paling penting adalah ukuran tumor, ekstensi tumor, dan keterlibatan kelenjar getah bening. Terapi kanker serviks dilakukan bila mana diagnosis telah dipastikan secara histologik dan sesudah dikerjakan perencanaan yang matang oleh tim yang sanggup melakukan rehabilitasi dan pengamatan lanjutan (tim kanker/tim onkologi). Pemilihan pengobatan kanker serviks tergantung pada ukuran tumor, stadium penyakit, usia, keadaan umum, dan rencana penderita untuk hamil lagi. Standar pengobatan kanker serviks meliputi pembedahan, radioterapi, dan kemoterapi. Pengobatan kanker serviks stadium IB dan IIA tergantung ukuran tumornya. Bila ukuran tumor tidak melebih 4 cm, disarankan radikal histerektomi ataupun radioterapi dengan/tanpa kemo. Bila ukuran tumor lebih dari 4 cm, pasien disarankan menjalani radioterapi dan kemoterapi berbasis cisplatin, histerektomi, ataupun kemo berbasis cisplatin dilanjutkan dengan histerektomi. Salah satu dari terapi radiasi yang sedang dikembangkan saat ini yaitu brachytherapy. Brachytherapy memainkan peran penting dalam pengobatan semua kanker serviks invasif. Dalam pengobatan radikal, brachytherapy biasanya dikombinasikan dengan radioterapi eksternal, tetapi juga dapat dikombinasikan dengan aplikasi/ penanaman sebelum dan/atau pasca operasi. Baru-baru ini, radioterapi telah digabungkan dengan kemoterapi berbasis platinum simultan pada kanker serviks stadium IB hingga IVA. Brachytherapy terutama diterapkan sebagai prosedur intrakavitari, pada kasus tertentu dilengkapi dengan implan interstitial. Brachytherapy radikal untuk kanker serviks selalu didasarkan pada penggunaan sumber intrauterin dan intravaginal.
RISK OF IRON DEFICIENCY ANEMIA AND CERVICAL LESIONS IN INTRAUTERINE DEVICE TYPE Cu T 380 A APPLICATION Mayun Mayura, I Gusti Putu
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 2, No 5 (2014)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Background: Since expansion of population number became global issue, contraception programme had primary role, one contraception methods was IUD Cu T 380 A, that succesfully reduce total fertility rate from 6,4 to 3,2. In application of IUD Cu T 380 were found high rate of discontinuity as 15 percent, bleeding and infection were the main reason of discontinuity. The study objective was to know risk of iron deficiency anemia and cervical lesion on IUD Cu T 380 A application at least one year.Methods: Case-Control analytic study at the Obstetrics and Gynaecology Department of Sanglah Hospital was conducted on Jully 1, 2011 until July 15, 2015. Research samples were obtained from women who were reproductive age  and attended Obstetrics Gynecology Outpatient clinic of Sanglah Hospital, Denpasar. Samples were selected based on the random sampling of the reachable population after fulfilled the inclusion and exclusion criteria. Peripheral blood sampling of haemoglobin and profile iron level conducted by ELISA technique at Prodia laboratory and done gynecology examination at Obstetrics Gynecology Outpatient clinic of Sanglah Hospital to obtained cervical lession. Data was statistically analyzed with Shapiro Wilk test for normality, homogeneity test with the T independent  test and comparative test with the Chi-Square , by using the SPSS 17 for windows® version.Results: The average age, education and economic on both groups were homogeneous. The odds ratio was 4,8 in IUD Cu T 380 A group for iron deficiency anemia, Aplication of Intrauterine device type Cu T 380 A  increase  risk of iron deficiency anemia 4 time (OR = 4,80; CI 95% = 1,04-22,10; p =0,036) than non user. The odds ratio was 7,65 in IUD Cu T 380 A group for cervical lession, Aplication of Intrauterine device type Cu T 380 A  increase  risk of cervical lession 7 time (OR = 7,65; CI95% = 1,37-42,71; p =0,012) than non userConclusion : Risk of iron deficiency anemia are four times greater and cervical lesions are seven times greater after Intraterine device type Cu T 380 A application in one year.   Keywords: Iron deficiency anemia, cervical lesion, type Cu T 380 A IUD