Lulu Eva Rakhmilla, Lulu Eva
Departemen Ilmu Kesehatan Mssyarakat FK UNPAD

Published : 19 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Characteristics of Childhood Steroid-Induced Glaucoma patients in National Eye Center, Cicendo Eye Hospital, Bandung, Indonesia from 2007 to 2011 Indri Nurul Badriyah; Irawati Irfani; Lulu Eva Rakhmilla
Althea Medical Journal Vol 2, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.225 KB)

Abstract

Background: The prevalence of children’s blindness in developing countries is still high especially in Asian countries. This children’s blindness influences their motoric, social and emotional developments and their chances to get education. One of the causes is steroid-induced glaucoma. The aim of the study was to identify the characteristics of childhood steroid-induced glaucoma in National Eye Center, Cicendo Eye Hospital, Bandung, Indonesia.Methods: A descriptive study was conducted to 22 medical records of childhood steroid-induced glaucoma patients in National Eye Center, Cicendo Eye Hospital Bandung from 2007−2011. The inclusion criterias were medical records contained complete demographic (age, sex, address and socioeconomic status), clinical (visual acuity, intraocular pressure, cup-disc ratio, underlying eye disease, working diagnosis, treatment and patient’s compliance to follow up) and risk factor (type and route of administration of steroid and duration of steroid usage).Results: Majority of patients were boys (73%), aged 4−7 years old (41%), from Bandung (55%), with moderate socioeconomic condition (73%). Most of the patients experienced blindness (64%), intraocular pressure around 20−30 mmHg (33%), cup-disc ratio above 0.4 (77%). The underlying eye disease was conjunctivitis vernalis (95%). They were treated by medicamentosa or trabeculectomy. The most common used steroid contained dexamethasone (100%) for more than 1 year of usage (64%). Patients’s compliance to follow up was mostly good (59%).Conclusions: Most of the patients with steroid-induced glaucoma is still very young and the use of topical dexamethasone to treat conjunctivitis vernalis for a long time leads to steroid-induced glaucoma. DOI: 10.15850/amj.v2n3.558
Hubungan antara kehilangan gigi dengan fungsi kognisi dan fungsi memori pada lansia penghuni Panti Sosial Tresna Werdha (PTSW) Senjarawi Kota Bandung Kartika Indah Sari; Murnisari Darjan; Nanan Nur'aeny; Lulu Eva Rakhmilla
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 2 (2017): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.599 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15497

Abstract

Correlation between tooth loss and cognitive and memory function in elderly residents at Social Home Tresna Werdha (PTSW) Senjarawi, Bandung City. Tooth loss is reported to be linked with Alzheimer’s disease and dementia. This study aimed to identify the correlation between tooth loss, cognitive and memory functions examined using a MMSE (mini-mental state examination) test to the elderly residents at Panti Sosial Tresna Wreda (PSTW) Senjarawi, Bandung. The research method used cross sectional design. The sampling was selected using concecutive sampling technique. The sample was selected according to the inclusion criteria including physical health (marked by their ability to perform daily activities independently) and ability to communicate well, at least 60 years of age, and independent. The results of the examination on 19 elderly people consisting of 12 females and 7 males showed that the research subjects fall in the category of having a decline in their cognitive and memory function, that is at the average age (75.89; 76.32), education level of elementary school (66.7%; 77.8%), female (41.7%; 66.7%), physical activity in the form of light exercise (50%; 66.7%) and having hypertension (58.3%; 75%), having musculoskeletal disorder (50%; 75%). Pearson chi-square test showed that there is no signicant correlation between tooth loss and cognitive function p = 1.318 (p > 0.05). Similarly, Pearson chi-square test of p = 0.333 (p> 0.05) indicates that there is signicant correlation between tooth loss and memory function. It can be concluded that there is a tendency of a decline in both cognitive function and memory function in tooth loss, but this is not evident statistically. Future research involving a larger number of samples is needed to obtain homogeneous and well-distributed data.ABSTRAKKehilangan gigi dilaporkan berhubungan dengan penyakit Alzheimer dan demensia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kehilangan gigi dengan fungsi kognisi dan fungsi memori yang diperiksa menggunakan lembar MMSE (mini mental state examination) pada lansia di Panti Sosial Tresna Wreda (PSTW) Senjarawi Kota Bandung. Metode penelitian menggunakan desain potong lintang. Teknik pengambilan sampel concecutive sampling. Sampel penelitian dipilih sesuai kriteria inklusi meliputi sehat fisik (yang ditandai dengan dapat melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri) dan mampu berkomunikasi dengan baik, usia minimal 60 tahun, dan mandiri. Hasil pemeriksaan pada 19 orang lansia yang terdiri dari 12 orang wanita dan 7 orang laki-laki menemukan karakteristik subjek penelitian pada kelompok penurunan fungsi kognisi dan penurunan fungsi memori yaitu usia rata-rata (75,89; 76,32), tingkat pendidikan SD (66,7%; 77,8%), jenis kelamin perempuan (41,7%; 66,7%), aktivitas fisik berupa olahraga ringan (50%; 66,7%) dan penyakit yang diderita berupa hipertensi (58,3%; 75%), penyakit muskuloskeletal (50%; 75%). Melalui uji Pearson chi square tidak terlihat hubungan yang signifikan antara kehilangan gigi dengan fungsi kognisi p = 1,318 (p>0,05). Begitu pula melalui uji Pearson chi square, p= 0,333 (p>0,05) dapat dijelaskan bahwa tidak terlihat hubungan yang signifikan antara kehilangan gigi dengan fungsi memori. Simpulan terdapat kecenderungan penurunan fungsi kognisi dan fungsi memori pada kehilangan gigi, namun hal ini secara statistik tidak terlihat korelasi yang signifikan. Penelitian lanjutan diperlukan dengan jumlah sampel yang lebih banyak sehingga diperoleh data yang homogen dan terdistribusi dengan baik.
Analisis Sensorik Dengan Model Rasch Dan Standarisasi Nilai Gizi Makanan Selingan Berbasis Pangan Lokal Dedeh Dedeh; Dewi Marhaeni Diah; Lulu Eva Rakhmilla
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 2, No 3 (2017): Volume 2 Nomor 3 Maret 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.179 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v2i3.11957

Abstract

Makanan selingan merupakan bagian dari pemberian makanan selama dirawat. Makanan berfungsi untuk menunjang perbaikan kondisi kesehatan pasien sehingga dibutuhkan variasi supaya tidak membosankan, dapat mengurangi terjadinya sisa makanan dan dapat meningkatkan asupan. Penelitian ini bertujuan menganalisis daya terima makanan selingan berbasis pangan lokal dan menyusun standar nilai gizi makanan selingan yang dihasilkan. Metode penelitian menggunakan pendekatan cross sectional dengan subyek penelitian adalah  17 orang ahli gizi dan 16 orang pasien gagal ginjal kronik yang diambil secara consecutive addmission di instalasi gizi dan di ruang rawat RSUP dr Hasan Sadikin pada bulan Januari 2016. Data kuantitatif hasil uji organoleptik/ sensorik dianalisis dengan Rasch Model dan standarisasi nilai gizi menggunakan software nutrisurvey. Hasil analisis Multi Facet Rasch Measurement menunjukkan dari 12 macam makanan selingan berbasis pangan lokal diperoleh 8 makanan selingan berbasis pangan lokal yang dapat diterima oleh ahli gizi maupun oleh pasien gagal ginjal kronik dari seluruh aspek yang dinilai yaitu rasa,warna/ penampilan, aroma,tekstur dan besar porsi. Hasil analisis uji t-independent menunjukkan terdapat perbedaan bermakna uji sensorik makanan selingan berbasis pangan lokal oleh ahli gizi dan oleh pasien gagal ginjal kronik (p=0,003). Nilai kalori makanan selingan ada pada kisaran 95 kkal sampai 125 kkal sehingga dapat digunakan untuk penyediaan snack di rumah sakit.Kata Kunci: evaluasi sensorik, pangan lokal, rasch model.
Pengaruh Shift Kerja Malam Terhadap Waktu Reaksi Dan Konsentrasi Tenaga Kesehatan Gicu Rshs Renita Dewi Supyana; Nova Sylviana; Novina Novina; Lulu Eva Rakhmilla
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 4, No 4 (2019): Volume 4 Nomor 4 Juni 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.28 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v4i4.22988

Abstract

Shift kerja malam rentan mengakibatkan penyimpangan ritme sirkadian. Penyimpangan ritme sirkadian dapat mengganggu kinerja fungsi kognitif seperti waktu reaksi dan konsentrasi. Gangguan fungsi kognitif dapat mengakibatkan terjadinya error dan injury  terutama pada lingkungan kerja yang berisiko tinggi, seperti General Intensive Care Unit (GICU). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh shift kerja malam terhadap waktu reaksi dan konsentrasi tenaga kesehatan General Intensive Care Unit Rumah Sakit Umum Pusat Dr.Hasan Sadikin (RSHS), Bandung. Penelitian ini menggunakan desain penelitian potong lintang. Total sampel yang masuk kriteria inklusi sebanyak 30 orang, terdiri dari 4 dokter dan 26 perawat. Penelitian dilakukan di bagian GICU  RSHS pada bulan Oktober 2016. Uji normalitas Shapiro Wilk menunjukkan data waktu reaksi terdistribusi normal dan konsentrasi tidak terdistribusi normal. Uji-t berpasangan dilakukan pada waktu reaksi dan uji wilcoxon terhadap konsentrasi menunjukkan secara statistik terdapat perbedaan yang bermakna pada kedua variabel antara sebelum dan sesudah shift kerja malam, p < 0.05. Sehingga peneliti menyimpulkan terdapat pengaruh dari shift kerja malam terhadap waktu reaksi dan konsentrasi tenaga kesehatan GICU RSHS.Kata Kunci : Intensive Care Unit, Konsentrasi, Ritme Sirkadian, Shift Kerja Malam, Waktu Reaksi
THE LEVEL OF KNOWLEDGE AMONG UNDERGRADUATE MEDICAL STUDENTS ABOUT STROKE Rita Arsika Fauziah; Lisda Amalia; Nandina Oktavia; Lulu Eva Rakhmilla
Jurnal Pendidikan Kedokteran Indonesia: The Indonesian Journal of Medical Education Vol 11, No 2 (2022): JUNI
Publisher : Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpki.67942

Abstract

Background: Stroke is a neurological emergency that requires prompt and precise diagnosis and treatment. However, errors in diagnosis and treatment are still frequently seen. One of the main causes of this problem is the lack of doctors’ knowledge. This study aims to determine the level of knowledge among undergraduate medical students about stroke. The results of this study can be used as basic information to provide educational interventions to medical students to prevent and minimize the occurrence of medical errors. Methods: This study used a quantitative-descriptive method with a cross-sectional approach. The study subjects were third-semester medical undergraduate students at the Medical Faculty of Padjadjaran University during the 2018/2019 academic year. Samples were 43 secondary data collected from ischemic and hemorrhagic stroke Students Objective Oral Case Analysis (SOOCA) exam scores and 168 primary data collected using a 30-item questionnaire regarding stroke knowledge. The data obtained was then analyzed descriptively and the result was categorized into 3 levels of knowledge: Good, moderate, and poor. Results: Each variable demonstrates a varying degree of knowledge. However, based on the total scores and averages collected from both the questionnaire and the SOOCA exam, most of the students had a moderate level of knowledge regarding ischemic and hemorrhagic stroke. Conclusion: Most of the students had a moderate level of knowledge about stroke, so educational interventions and student’s capabilities improvement are required to increase knowledge of stroke.
Overview of The Risk Factors of Spontaneous Abortus Among Young Pregnancy Woman: A Systemic Review Tan, Zaki Miftah Nalalindra; Irianti, Setyorini; Rakhmilla, Lulu Eva; Ramdhan, Muhammad Raihan; Judistiani, Raden Tina Dewi; Handono, Budi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.741

Abstract

Objective: To identify the risk factors of spontaneous abortus among young pregnancy women.Methods: We used PubMed and ScienceDirect databases and electronic journals such as the American Journal of Obstetrics and Gynecology and the International Journal of Gynecology and Obstetrics. The articles were screened based on inclusion and exclusion criteria. The keywords used for inclusion were “Risk Factors,” “Abortus,” and “Young Maternal Age.” Next, articles were quality assessed using the JBI Critical Appraisal Checklist. The extracted data were presented in the table and narrative synthesis.Result: This review has six studies that has identified the risk factors of spontaneous abortus among young pregnancy woman. The risks were body mass index, maternal habits, infection, coital, and experience of IPV. However, some factors, such as iodine level, are insignificant to spontaneous abortuses. This review also found that infection also had a role in the complications of spontaneous abortus. The limitation of this study was each variable was different in each survey. So, we couldn’t compare each variable to avoid bias from each study.Conclusion: The most affected risk factors of spontaneous abortus among young pregnancy woman are an infection, followed by first coital age, IPV, partner controlling behaviour, BMI, and maternal smoking habit.Faktor Risiko Abortus Spontan pada Kehamilan Usia Muda: Systematic ReviewAbstrakTujuan: Mengidentifikasi faktor risiko abortus spontan pada kehamilan usia muda.Metode: Kami menggunakan database web-based berupa PubMed dan ScienceDirect dan jurnal elektrik berupa American Journal of Obstetrics and Gynecology dan International Journal of Gynecology. Artikel yang didapatkan akan dilakukan skrining berdasarkan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Kata kunci yang digunakan untuk melakukan inklusi berupa “Faktor Risiko”, “Abortus”, dan “Kehamilan Usia Muda”. Selanjutnya, artikel dilakukan penilaian kualitas menggunakan JBI Critical Appraisal Checklist. Data yang diekstrak disajikan dalam bentuk dabel dan narasi.Hasil: Sebanyak 6 penelitian yang ditelaah mengidentifikasi faktor risiko abortus spontan pada kehamilan usia muda berupa indeks massa tubuh, kebiasaan ibu hamil, infeksi, koitus, dan pengalaman kekerasan oleh pasangan. Namun, kadar iodine dalam tubuh tidak memengaruhi secara signifikan kejadian abortus spontan. Penelitian ini juga menemukan bahwa infeksi juga memiliki peran dalam terjadinya komplikasi pada abortus spontan. Keterbatasan pada penelitian ini adalah tidak ada variable yang sama dari artikel ditelaah. Oleh karena itu perbandingan tidak dapat dilakukan untuk mencegah kemungkinan kecenderungan pada penelitian yang ditelaah.Kesimpulan: Faktor risiko yang paling mempengaruhi abortus spontan pada ibu hamil Ketika usia muda adalah infeksi, diikuti dengan usia pada saat koital pertama, kekerasan dari pasangan, kebiasaan mengontrol pasangan, indeks massa tubuh, dan kebiasaan merokok.Kata Kunci: Abortus Spontan, Faktor Risiko, Kehamilan Usia Muda 
PENGARUH EDUKASI TERHADAP PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU DALAM PENCEGAHAN SKABIES DI PESANTREN DI JATINANGOR Hisan, Kultsum Khairatun; Hidayah, Risa Miliawati Nurul; Rakhmilla, Lulu Eva; Avriyanti, Erda; Sutedja, Endang
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 2 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i2.467

Abstract

   Pendahuluan: Skabies merupakan penyakit kulit yang sangat menular, disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei var. hominis. Pesantren menjadi salah satu tempat berisiko sebagai tempat penularan skabies karena kepadatan penghuni serta frekuensi kontak langsung dan berbagi alat tidur yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh edukasi terhadap perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku dalam pencegahan penyakit skabies di Pesantren Al Falah Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. Metode: Penelitian melibatkan 64 warga pesantren yang terdiri dari santri yang tinggal bersama di pesantren. Metode yang digunakan adalah one group pre-test post-test dengan instrumen kuesioner sebelum dan setelah edukasi. Data post-test perilaku diambil 17 hari setelah edukasi. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa edukasi berpengaruh terhadap peningkatan rata-rata skor pre-test dan post-test pengetahuan (9,42 menjadi 12,11; p=0,000), sikap (33,46 menjadi 36,95; p=0,000), dan perilaku (25,61 menjadi 37,23; p=0,012). Kesimpulan: Edukasi dinilai efektif dalam usaha pencegahan penularan skabies. 
Impact Of Maternal Education On Birth Weight and Gestational Age In West Java: A 2022 Study Aprilia Kadi, Fiva; Pratiwi, Indah Anindya; Rakhmilla, Lulu Eva
Jurnal Promkes: The Indonesian Journal of Health Promotion and Health Education Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Promkes: The Indonesian Journal of Health Promotion and Health Educatio
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jpk.V13.I2.2025.224-229

Abstract

Infant development is greatly influenced by maternal health. Maternal factors such as level of education and age impact self-care during pregnancy, resulting in heterogeneity of birth weight and gestational age. Objective: This study analyzes the association between maternal level of education and age with birth weight and gestational age. Methods: A cross-sectional study with simple random sampling was performed by using medical records at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung from 1st January to 31st December 2019. Subjects were mothers who delivered single live-born and infants without congenital anomalies at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. Data analysis represents the proportion between groups and the Mann-Whitney test (p<0.05) to observe the association between variables. Results: A total of 1574 birth data encounter the criteria in this study. Types of delivery, abnormality of amnion fluid, IUGR, PROM, and pregnancy complications didn’t differ between high- and low-risk groups of mothers. High-risk maternal age (<20 and >35 years old) was associated with gestational age (preterm birth, c=36.59 weeks; p=0.036). Maternal level of education wasn’t associated with gestational age and birth weight, also maternal age wasn’t associated with birth weight (p>0.05). Conclusion: High-risk maternal age (<20 and >35 years old) was associated with gestational age (preterm birth), however, a low level of education (no education, elementary school, and junior high school) wasn't shown to be related. Birth weight wasn't affected by maternal age and level of education. Further studies that account for socioeconomic aspect in regards of education level and birth weight and gestational age are necessary.
Kejadian Respiratory Distress Syndrome pada Bayi Lahir Prematur di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Kadi, Fiva Aprilia; Paramita, Ajeng Anggia; Rakhmilla, Lulu Eva
Sari Pediatri Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.1.2024.9-15

Abstract

Latar belakang. Respiratory Distress Syndrome adalah masalah serius yang menyebabkan morbiditas dan mortalitas tinggi pada bayi prematur. Beberapa faktor risiko, antara lain, jenis kelamin laki-laki, ibu dengan diabetes melitus, ketuban pecah dini, hipertensi, usia ibu <20 tahun, persalinan sesar, berat lahir <2500 gram, dan paritas.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kejadian Respiratory Distress Syndrome pada bayi prematur.Metode. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Subjek dipilih secara consecutive sampling dari data rekam medis. Kriteria inklusi adalah bayi berusia kurang dari 37 minggu dan kriteria eksklusi bayi kembar, bayi dengan sepsis, serta data rekam medis yang tidak lengkap. Dari 872 data didapatkan sampel 361 bayi yang memenuhi kriteria. Analisis data menggunakan uji univariat, bivariat (Chi-square), dan multivariat (regresi logistik).Hasil. Analisis bivariat menunjukkan bahwa usia ibu ?20 tahun, usia kehamilan <28 minggu, berat lahir <2500 gram, dan jenis kelamin laki-laki memiliki hubungan signifikan. Analisis multivariat menunjukkan dua faktor risiko signifikan: (1) Usia ibu <20 tahun memiliki pengaruh lebih besar dalam pencegahan dibandingkan dengan usia ibu ?20 tahun (p=0,000; OR IK95%: 0,089-0,402), dan (2) Berat lahir bayi <2500 gram meningkatkan risiko lebih dari tiga kali lipat untuk mengalami Respiratory Distress Syndrome dibandingkan dengan berat lahir ?2500 gram (p=0,024; OR IK95%: 1,162-8,872).Kesimpulan. Faktor risiko kejadian Respiratory Distress Syndrome pada bayi prematur sangat erat kaitannya dengan kondisi ibu dan bayi, seperti usia ibu, berat lahir, usia kehamilan, dan jenis kelamin. Dalam penelitian ini tidak ditunjukkan hubungan signifikan akibat faktor lain, seperti Diabetes Melitus, hipertensi, PROM, paritas, dan jenis persalinan.