Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

SISTEM PELESAPAN PADA KONSTRUKSI KOORDINATIF BAHASA SUMBA DIALEK WAIJEWA Ni Wayan Kasni
LITERA Vol 14, No 2: LITERA OKTOBER 2015
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v14i2.7198

Abstract

Penelitian bertujuan mendeskripsikan bentuk konstruksi koordinatif, pemarkah, dansistem pelesapan Bahasa Sumba Dialek Waijewa (BSDW). Sumber data adalah penutur asliBSDW dan data dikumpulkan melalui teknik wawancara. Data dianalisis menggunakanmetode agih dengan cara membagi unsur pembentuk konstruksi koordinatif. Hasilpenelitian sebagai berikut. Pertama, BSDW memiliki dua bentuk konstruksi koordinatif,yaitu sindetis dan asindetis. Konstruksi sindetis dimarkahi secara leksikal dengan konjungsi,seperti monno ‘dan’, baka ‘lalu’, takka ‘tetapi’, dan atto ‘atau’. Konstruksi asindetis tidakdimarkahi secara leksikal, tetapi secara semantis untuk mengungkapkan makna urutankronologis. Kedua, dalam BSDW terdapat pelesapan argumen agen (A) klausa transitifatau argumen subjek (S) klausa intransitif secara langsung pada konstruksi koordinatifsindetis dan asindetis. Pemarkah kasus argumen yang lesap masih muncul pada strukturklausa. Pelesapan argumen objek (O) klausa transitif hanya ada pada konstruksi koordinatifsindetis dan terjadi revaluasi struktur dari diatesis agentif menjadi diatesis objektif.Kata kunci: konstruksi koordinatif, pelesapan, sindetis, asindetis
Peningkatan Kemampuan Bahasa Inggris bagi Pegawai UPTD Tempat Pengelolaan Sampah Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali I Wayan Budiarta; Ni Wayan Kasni; Made Susini
Jurnal Abdidas Vol. 2 No. 5 (2021): October Pages 1021-1256
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/abdidas.v2i5.442

Abstract

Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan karyawan dalam meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris mereka. Peningkatan kemampuan berbahasa Inggris sangat dibutuhkan oleh para karyawan karena mereka biasanya dikunjungi oleh orang asing yang ingin mendapatkan informasi tentang kebijakan tentang pengelolaan pembuangan sampah sebagai salah satu masalah Bali sebagai daerah tujuan wisata. Untuk mengatasi masalah peningkatan kemampuan berbicara bahasa Inggris karyawan, diperlukan metode pengajaran bahasa Inggris yang inovatif dan efektif sehingga dapat meningkatkan bahasa Inggris mereka secara signifikan. Metode pengajaran yang diterapkan dalam melakukan pengabdian masyarakat ini adalah Communicative Language Teaching (CLT). Metode ini secara fungsional menekankan bagaimana bahasa digunakan, sedangkan secara struktural, CLT menekankan pada sistem atau aturan bahasa. Pelatihan Bahasa Inggris telah dilakukan dengan menggunakan metode Communicative Language Teaching selama delapan kali pertemuan. Setelah mengikuti pelatihan selama delapan kali, hasil pelatihan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan berbicara bahasa Inggris peserta yang awalnya berada pada kisaran 2,55 untuk pretest kemudian meningkat menjadi 4,05 untuk post-test dengan skor kisaran 1-5. Hal ini membuktikan bahwa pelatihan bahasa Inggris yang diberikan kepada peserta telah mampu meningkatkan kemampuan bahasa Inggris mereka secara signifikan.
Peningkatan Perekonomian Masyarakat melalui Pelatihan Bahasa Inggris dan Penumbuhan Jiwa Kewirausahaan di Desa Ababi Kecamatan Abang Kabupaten Karangasem I Wayan Budiarta; Putu Ayu Sita Laksmi; Ni Wayan Kasni
Jurnal Abdidas Vol. 3 No. 6 (2022): December Pages 944 - 1124
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/abdidas.v3i6.718

Abstract

PKM ini dilaksanakan karena adanya Pandemi Covid-19 yang berdampak pada kehidupan masyarakat Desa Ababi yang sangat bergantung pada pariwisata. Objek dari pelaksanaan PKM ini adalah masyarakat yang terdampak Pandemic Covid-19. Selama ini masyarakat sangat menggantungkan hidupmya dari kegiatan pariwisata yang berada di desa tersebut. PKM ini bertujuan untuk membantu mengatasi permasalahan yang dihadapi masyarakat terutama terkait dengan upaya peningkatan perekonomian di masa pandemic covid-19 ini sehingga masyarakat tidak terlalu bergantung semata mata pada pariwisata. Masyarakat diharapkan dapat mencari alternatif lain untuk bertahan di masa pandemi dan juga dalam rangka peningkatan perekonomian masyarakat yang selama ini ketergantungnya pada sektor pariwisata. Metode pelaksanaan PKM ini adalah dalam bentuk pelatihanbahasa Inggris dan sosialisasi tentang kewirausahaan. Pentingnya pengajaran bahasa Inggris dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan kompetensi anak -anak dalam berbahasa Inggris sehingga jika kondisi sudah mulai normal masyarakat sudah siap sebagai pelaku pariwista di desanya. Sementara itu pentingnya penyuluhan kewirausahaan diberikan karena bertujuan untuk mendorong masyarakat untuk mrnjadi wirausaha dengan memanfaaatkan perkembangan teknologi informasi saat ini. Hasil pengabdian ini menunjukkan tejadinya peningkatan kemampuan bahasa Inggris siswa sekolah dasar yang awalnya meraka masih banyak yang belum mampu melafalkan huruf dan angka, Sementara untuk kegiatan penyuluhan kewirausahaan ini juga mendapat respon yang sangat positif dari peserta. Hal ini dibuktikan dengan antusiame yang cukup tinggi dan banyak mengajukan pertanyaan terkait dengan kewirausahaan.
THE TRANSLATION SHIFTS AND TRANSLATION PROCEDURES OCCURRED IN GARUDA INDONESIA’S MAGAZINE: COLOURS I Wayan Budiarta; Kasni Ni Wayan; Anak Agung Istri Manik Warmadewi
LINGUA : Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol. 19 No. 2 (2022): September
Publisher : Center of Language and Cultural Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30957/lingua.v19i2.767

Abstract

This study aimed at identifying and analyzing the types of translation shifts and translation procedures in the Garuda Indonesia: Colors magazine and its translations. The theory used was the theory of translation shift by Catford (1965) and the theory of translation procedures The results showed that in the Colors: Quiet Seoul magazine article, two categories of shifts were come across. Meanwhile, in the Colors: Explore Banyuwangi magazine article there were only Category Shifts found, namely structure shift, class shift, unit shift and intra-system shift. In terms of translation procedures, this research indicated that in the Colors: Quiet Seoul magazine article, there were two translation procedures detected, namely: Adaptation and Borrowing. Meanwhile, in the Colors: Explore Banyuwangi magazine article (pp. 96-104), there were 11 translation procedures found, namely: Adaptation, Amplification, Borrowing, Calque, Compensation, Generalization, Literal Translation, Modulation, Particularization, Reduction, and Transposition.
INDEFINITENESS AND DEFINITENESS IN WAIJEWA I Wayan Budiarta; Ni Wayan Kasni
Linguistik Indonesia Vol. 41 No. 1 (2023): Linguistik Indonesia
Publisher : Masyarakat Linguistik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/li.v41i1.348

Abstract

This study aims to find out how Waijewa, a minority language in Sumba, East Nusa Tenggara, differentiates between definite and indefinite noun phrases. The data were taken from structured interviews with four informants who speak Waijewa language as well as documentation. This study revealed that the indefinite noun phrase in Waijewa language is conveyed by zero article. The definite noun phrases are marked by using the demonstratives ne ‘this’, nati/neti ‘that’, na ‘that’, hidda ‘these’, and heida ‘those’, genitive case, and definite emphasizing clitics, such as {-wa} ‘that’, {-we} ‘this’, {-wi} ‘these’, ‘those’. The particle pais also used to convey the definiteness of a noun with a family status as father, mother, or uncle. The reference is anaphoric. However, the reference can be cataphoric when the noun phrase has a definite emphasizing marker functioning to emphasize the referent meant by the speaker.
Pengembangan Desa Wisata Penglipuran Menuju Desa Wisata Berkelanjutan I Wayan Budiarta; Ni Wayan Kasni; Made Pulawan; Putu Ayu Sita Laksmi
Jurnal Abdidas Vol. 4 No. 5 (2023): October Pages 363 - 456
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/abdidas.v4i5.830

Abstract

Pengabdian Masyarakat ini dilaksanakan sebagai upaya untuk menjawab permasalahan yang dihadapi oleh mitra, yaitu terkait dengan objek kunjungan wisatawan ke Desa Penglipuran yang hanya mengandalkan keindahan dan kebersihan serta keseragaman bentuk rumah adat warga. Dengan hanya mengandalkan daya tarik tersebut saja, maka dampak kegiatan pariwisata belum secara maksimal dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Solusi yang ditawarkan terhadap permasalahan tersebut adalah penyuluhan kewirausahaan. Penyuluhan kewirausahaan bertujuan untuk memperkenalkan kewirausahaan kepada masyarakat di Desa Penglipuran sehingga tidak tergantung pada pendapatan dari tiket masuk yang dikenakan kepada wisatawan. Dengan penyuluhan kewirausahaan ini diharapkan dapat mendorong terciptanya wirausaha baru yang menunjang keberlangsungan pariwisata di Desa Penglipuran. Permasalahan kedua adalah terkait dengan penyiapan Sumber Daya Manusia guna menunjang pengembangan Desa Wisata Penglipuran. Penyiapan SDM diprioritaskan pada siswa sekolah dasar dengan pertimbangan bahwa mereka merupakan SDM penerus dalam keberlanjutan pariwisata di Penglipuran. Materi pengajaran bahasa Inggris yang diberikan meliputi body parts, question words, preposition and giving direction dan job. Dalam pengajaran bahasa Ingrgis ini metode yang diaplikasikan adalah Metode Communicative Language Teaching (CLT). Metode pembelajaran ini merupakan metode yang terbukti efektif dalam bidang pengajaran bahasa sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Hasil pengabdian ini menunjukkan adanya peningkatan kemampuan bahasa Inggris siswa sekolah dasar terkait materi yang telah diberikan. Sementara untuk kegiatan penyuluhan kewirausahaan ini juga mendapat respon yang sangat positif dari peserta yang merupakan generasi muda Desa Penglipuran.
Language and Power: A Critical Discourse Analysis of Sexist Expressions in the Novels Re: dan Perempuan Genvil Darmarris; Ni Wayan Kasni; I Wayan Budiarta
Jurnal Global Ilmiah Vol. 3 No. 7 (2026): Jurnal Global Ilmiah
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/jgi.v3i7.359

Abstract

Sexist language in literary texts often reflects and reinforces unequal gender relations through both explicit and subtle linguistic strategies. In contemporary Indonesian literature, such representations can reveal how gendered power relations and resistance are constructed through narrative language. This study investigates the types of sexist expressions and the construction of gendered power and verbal resistance in the novel Re: dan Perempuan. The research aims to identify how sexist expressions are linguistically realized and how gendered power relations are represented within the narrative. The study employed Sara Mills’ feminist stylistics to classify overt and covert sexism, while Fairclough’s Critical Discourse Analysis is used to examine how linguistic features construct power relations and shape the possibility of verbal resistance. The findings reveal that sexism in the novel is realized through both overt and covert forms. Overt sexism appears through derogatory terms, negative evaluative lexis, and sexist naming practices that directly degrade women’s identity. Meanwhile, covert sexism operates through representational strategies such as backgrounding women’s voices, reinforcing gendered role stereotypes, and foregrounding male authority within narrative structures. These linguistic patterns construct gendered power relations by limiting women’s agency and positioning them within subordinate social roles. Furthermore, verbal resistance is shown to be constrained within the narrative, as women’s voices are frequently mediated through evaluative language, categorization, and emotional internalization rather than direct confrontation. Overall, the study demonstrates that language in the novel functions not only as a medium of storytelling but also as a mechanism through which gender hierarchy is reproduced and negotiated.
Balinese Language Usage by Ethnic Bali Teens in Dangin Puri Village, East Denpasar Subdistrict, Denpasar City Ni Putu Geasha Pusvika Devi; Ni Wayan Kasni
RETORIKA: Jurnal Ilmu Bahasa Vol. 4 No. 2 (2018): Oktober 2018
Publisher : Program Studi Magister Ilmu Linguistik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/jr.4.2.2018.171-180

Abstract

This study examines the use of Balinese language by ethnic Balinese teenagers based on the language use domains that have been determined by the author, and also the factors that influence the use of Balinese language by ethnic Balinese teenagers in the village of Dangin Puri, East Denpasar district, Denpasar City. The method used in this research is qualitative and quantitative method. This research data in the form of primary data taken from the field in the form of the use of the language of Bali by teenagers, and secondary data in the form of writing data obtained from the questionnaire. The results of this study indicate that the use of Balinese language by ethnic Balinese teenagers in the village of Dangin Puri based on four domains that have been determined that the family, the neighborhood, the domain of education, and the domain of religion are still quite high. Factors influencing the use of Balinese language by ethnic Balinese teenagers are caused by internal factors that include self-factor, interaction factor in the family, and factor interaction with the environment and friends, then external factors that influence the condition of bilingual speakers, the factors of globalization, educational factors, and Indonesian factors.
The Specific Role of Verb “To Carry” in Balinese Ida Ayu Pristina Pidada; Mirsa Umiyati; Ni Wayan Kasni
RETORIKA: Jurnal Ilmu Bahasa Vol. 5 No. 1 (2019)
Publisher : Program Studi Magister Ilmu Linguistik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/jr.5.1.2019.79-90

Abstract

A number of studies on verbs as one of the linguistic grammatical categories, serving to desccribe events, have been to explore in depth their more distinct types according to their semantic primitives under the natural semantic metalanguage theory approach. This research aims is to features the semantic types and specific roles of the verb ‘to carry’ in Balinese from the natural semantic metalanguage theory perspective. This study is a qualitative study. The semantic types of the verb in question was first classified in order to ease the identification of their specific semantic roles. The results of research show type of semantic roles were restricted to agent for the arguments serving as an actor of the activity described with the each of semantic type of the verb ‘to carry’ and patient for those serving as target of the said activity. This research discloses a 21 type of Balinese verbs which semantically have an intimate relation to the verb ‘to carry’; they are nèngtèng, ningting, nyangkol, nyangkil, nyuun, negen, ngandong, nenggolong, nyelet, nyelepit, ngabin, nampa, ngundit, nangal, nandan, nyekel, nikul, ngenyang, mundut, nyunggi, dan ngayot.
Politeness in Anggoro Ihank’s "Pak Guru Inyong" Comic Ni Putu Venia Marelda Artha; I Nyoman Muliana; Ni Wayan Kasni
RETORIKA: Jurnal Ilmu Bahasa Vol. 5 No. 2 (2019)
Publisher : Program Studi Magister Ilmu Linguistik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/jr.5.2.2019.104-113

Abstract

This research aims to explore the accomplishment of politeness principles and the violation on the politeness principles in “Pak Guru Inyong” comic. This research was carried out using qualitative type of research. The data were collected by reading and taking notes from a 40 episode of the comic texts written by Anggoro Ihank and uploded in a Webstoon Aplication. The application was reached in Line application via android. The data were analyzed by using the theory of general strategy of politeness by Leech. The results of the analysis show that there are ten general strategies of politeness accomplished by the characters in the comic: generosity maxim, tact maxim, approbation maxim, and modesty maxim, obligation S to O maxim, obligation O to S maxim, agreement maxim, opinion maxim, sympathy maxim and feeling reticence maxim. There are five maxims violated by Pak Inyong, such as the maxims of generosity, approbation, modesty, agreement, feeling reticence.