Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH BOKASI KASGOT DAN UREA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KAILAN PADA TANAH GAMBUT Boby, Faskalis; Zulfita, Dwi; Rahmidiyani, Rahmidiyani
Agros Journal of Agriculture Science Vol 26, No 1 (2024): Januari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v26i1.3852

Abstract

The Kailan plant (Brassica oleraceae) is a type of leaf vegetable which is a type of cabbage and is a relatively new plant. The use of peat soil as a plant growing medium is faced with several obstacles, including poor chemical properties, insufficiently available nutrients, and high soil acidity levels with a pH between 3-5. One effort to improve the chemical properties of peat soil is by applying casgot fertilizer and urea fertilizer. This research aims to obtain the best dose from the interaction of giving casgot and Urea on the growth and yield of kailan on peat soil. This research was carried out at a location located on Jl. Sepakat 2, Gg. Racana Pontianak Untan, Provinsi Kalimantan Barat. The research was carried out on  2 July 2023 - 23 September 2023. This research used a Completely Randomized Factorial Design (RAL), consisting of 2 factors. The first factor is casgot (k): kl ≈ 37.5 g/polybag, k2 ≈ 75 g/polybag, k3 ≈ 112.5g/polybag. The second factor is Urea fertilizer (u): nl ≈ 0.4 g/plant, u2 ≈ 0.8 g/plant and u3 ≈ 1.2 g/plant. The variables observed in this study included the number of leaves (strands), plant height (cm), leaf area (cm²), root volume (cm³), plant dry weight (g) and plant fresh weight (g). The results of the research showed that there was no interaction between giving casgot and urea fertilizer that was best for your growth and yield on peat soil, but the interaction between giving casgot and urea fertilizer which was effective for your growth and yield on peat soil was shown by the interaction of giving 6 tons of casgot. /ha is equivalent to 75g/polybag and urea fertilizer at a dose of 100kg/ha is equivalent to 0.4g/plant Keywords: Casgot, Kailan, Peat Soil, Urea INTISARITanaman Kailan (Brassica oleraceae) merupakan salah satu jenis sayuran daun yang termasuk jenis kubis-kubisan dan merupakan tanaman yang relatif baru.   Pemanfaatan tanah gambut sebagai media tumbuh tanaman dihadapkan pada beberapa kendala, diantaranya sifat kimia yang kurang baik, unsur hara yang kurang tersedia, serta tingkat kemasaman tanah yang tinggi dengan pH antara 3-5. Salah satu upaya untuk meningkatkan sifat kimia tanah gambut adalah dengan pemberian bokasi Kasgot dan pupuk Urea. Penelitian ini bertujuan mendapatkan dosis terbaik dari interaksi pemberian bokasi Kasgot dan Urea terhadap pertumbuhan dan hasil kailan pada tanah gambut. Penelitian ini dilaksanakan di lokasi yang terletak di Jl. Sepakat 2, Gg. Racana Untan Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat. Penelitian dilaksanakan pada 2 juli 2023 - 23 September 2023. Penelitian ini menggunakan Faktorial Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama yaitu Bokasi Kasgot (K) kl ≈ 37,5 g/polybag, k2 ≈ 75 g/polybag, k3 ≈ 112,5g/polybag. Faktor kedua yaitu pupuk Urea (U): nl ≈ 0,4 g/tanaman, u2 ≈ 0,8 g/tanaman dan u3 ≈ 1,2 g/tanaman. Variabel yang diamati dalam penelitian ini meliputi jumlah daun (helai), tinggi tanaman (cm), luas daun (cm²), volume akar (cm³), berat kering tanaman (g) dan berat segar tanaman (g). Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ditemukan interaksi pemberian bokasi Kasgot dan pupuk Urea yang terbaik untuk pertumbuhan dan hasil kailan pada tanah gambut tetapi interaksi pemberian bokasi kasgot dan pupuk urea yang efektif untuk pertumbuhan dan hasil kailan pada tanah gambut ditunjukan dengan interaksi pemberian bokasi Kasgot dosis 6 ton/ha setara dengan 75g/polybag dan pupuk Urea dengan dosis 100kg/ha setara dengan 0,4g/tanaman Kata Kunci: Bokasi Kasgot, Gambut, Kailan, Urea.
KARAKTER MORFOLOGI DAN HASIL JAGUNG MANIS DENGAN PENGURANGAN PUPUK N, P, K DAN TAKARAN PUPUK HAYATI PADA LAHAN GAMBUT Zulfita, Dwi; Hariyanti, Agus; Budi, Setia; Rahmidiyani, Rahmidiyani
Agros Journal of Agriculture Science Vol 26, No 1 (2024): Januari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v26i1.3864

Abstract

Increasing sweet corn production can be done through fertilizing N, P, K and applying various doses of biological fertilizer. This research was conducted on farmers' land in Rasau Jaya 2 Village, Kubu Rara Regency. The research was carried out on 14 August - 27 October 2023. The research aims to obtain the best interaction between doses of N, P, K fertilizer and biological fertilizer on the growth and yield of sweet corn on peat land. The research used a factorial randomized block design consisting of 2 factors. The first factor is the dose of N, P, K (A) fertilizer with 3 levels, namely: a1 (300 kg Urea/ha, 150 kg SP-36/ha, 100 kg KCl/ha), a2 (225 kg Urea/ha, 112 .5 kg SP-36/ha, 75 kg KCl/ha) and a3 (150 kg Urea/ha, 75 kg SP-36/ha, 50 kg KCl/ha). The second factor is the dosage of biological fertilizer (P) with 3 levels, namely: p1 (45 kg/ha), p2 (60 kg/ha) and p3 (75 kg/ha). The research results showed an interaction between N, P, K fertilizer at 75% of the recommended dose (225 kg Urea/ha, 112.5 kg SP-36/ha, 75 kg KCl/ha) and biological fertilizer at a dose of 60 kg/ha which showed Morphological characters and yields of sweet corn are best on peat soil. Keyword: Biological Fertilizer, Sweet Corn, N, P, K Fertilizer, Peat.INTISARIPeningkatan produksi jagung manis dapat dilakukan melalui pemupukan N, P, K dan pemberian berbagai takaran pupuk hayati. Penelitian ini dilakukan di lahan petani di Desa Rasau Jaya 2 Kabupaten Kubu Rara.  Penelitian dilaksanakan pada tanggal 14 Agustus - 27 Oktober 2023. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan interaksi terbaik antara dosis pupuk N, P, K dan pupuk hayati terhadap pertumbuhan dan hasil jagung manis pada lahan gambut. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial  yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama adalah takaran pupuk N, P, K (A) dengan 3 aras yaitu: a1 (300 kg Urea/ha, 150 kg SP-36/ha, 100 kg KCl/ha), a2 (225 kg Urea/ha, 112,5 kg SP-36/ha, 75 kg KCl/ha) dan a3 (150 kg Urea/ha, 75 kg SP-36/ha, 50 kg KCl/ha). Faktor kedua adalah takaran pupuk hayati (P) dengan 3 aras yaitu: p1 (45 kg/ha), p2 (60 kg/ha) dan p3 (75 kg/ha). Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara pupuk N, P, K dengan 75% dari takaran anjuran (225 kg Urea/ha, 112,5 kg SP-36/ha, 75 kg KCl/ha) dan pupuk hayati dosis 60 kg/ha yang menunjukkan karakter morfologi dan hasil jagung manis yang terbaik pada tanah gambut.Kata Kunci: Pupuk Hayati, Jagung manis, Pupuk N, P, K, Gambut.
PENGARUH RED MUD DAN BOKASHI LIMBAH SAYURAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL LOBAK PUTIH PADA TANAH GAMBUT Lestari, Lisa Listri; Susana, Rini; Rahmidiyani, Rahmidiyani
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 13 No. 2
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v13i2.73195

Abstract

Pemanfaatan tanah gambut sebagai media tanam memiliki kendala yaitu kesuburan tanah rendah, kapasitas tukar kation yang tinggi, kejenuhan basa rendah, pH tanah rendah, serta ketersediaan unsur hara yang rendah. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian red mud sebagai amelioran yang dapat memperbaiki kemasaman tanah serta bokashi limbah sayuran untuk meningkatkan ketersedian unsur hara pada tanah gambut. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mendapatkan dosis terbaik dari interaksi red mud dan bokashi limbah sayuran terhadap pertumbuhan dan hasil lobak putih pada tanah gambut. Penelitian ini dilaksanakan di Pontianak, Kalimantan Barat dimulai pada Juni sampai Juli 2023. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan pola Rancangan Acak Lengkap Faktorial terdiri dari dua faktor yang masing-masing terdiri dari 3 taraf perlakuan dengan 3 kali ulangan dan terdiri dari 4 tanaman sempel sehingga diperoleh jumlah keseluruhan tanaman sebanyak 108 tanaman. Faktor pertama yaitu red mud (r) terdiri dari r1 = 18 ton/ha setara dengan 220 g/tanaman, r2 = 20 ton/ha setara dengan 240 g/tanaman dan r3 = 22 ton/ha setara dengan 260 g/tanaman dan faktor kedua yaitu bokashi limbah sayuran terdiri dari s1 = 15 ton/ha setara dengan 180 g/tanaman, s2 = 20 ton/ha setara dengan 240 g/tanaman dan s3 = 25 ton/ha setara dengan 300 g/tanaman. Variabel pengamatan meliputi jumlah daun, berat kering tanaman, panjang umbi, diameter umbi, dan berat segar umbi. Hasil penelitian menunjukkan tidak terjadi interaksi antara pemberian red mud dan bokashi limbah sayuran terhadap pertumbuhan dan hasil lobak putih pada tanah gambut. Dosis efektif untuk pertumbuhan dan hasil lobak putih adalah red mud 18 ton/ha dan bokasi limbah sayuran dosis 15 ton/ha.
PENGARUH PERSENTASE NAUNGAN TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN PORANG DI FASE VEGETATIF PADA TANAH GAMBUT Eka Wardhana, Muhammad Khafidzan; Susana, Rini; Rahmidiyani, Rahmidiyani
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 13 No. 1
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v13i1.72407

Abstract

Tanaman porang merupakan tanaman asli daerah tropis, penghasil umbi yang memiliki kandungan karbohidrat, lemak, protein, mineral, vitamin, dan serat pangan. Peningkatan produksi porang per satuan luas dapat dilakukan diantaranya dengan cara menyediakan ruang tumbuh yang mendukung pertumbuhan tanaman porang, satu diantaranya dengan memenuhi kebutuhan intensitas cahaya yang sesuai keperluan tanaman porang, yaitu sebesar 60 - 70%. Saat ini belum diketahui persentasi naungan yang terbaik untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman porang pada tanah gambut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan persentase naungan terbaik terhadap pertumbuhan tanaman porang di fase vegetatif pada tanah gambut Penelitian ini berlangsung selama 2 bulan yang dimulai pada bulan April "“ Juni 2023 yang berlokasi di Kelurahan Banjar Serasan, Kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 5 perlakuan, 5 ulangan dan masing - masing ulangan terdiri dari 4 sampel, sehingga diperoleh 100 tanaman. Perlakuan yang digunakan yaitu N0: tanpa naungan, N1: intensitas naungan 45%, N2: intensitas naungan 60%, N3: intensitas naungan 75%, N4: intensitas naungan 90%. Variabel pengamatan meliputi: tinggi tanaman, diameter batang, jumlah tunas , lebar kanopi , waktu kemunculan katak, dan jumlah katak total. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa perlakuan naungan dengan intensitas 45, 60, 75 dan 90% menghasilkan pertumbuhan vegetatif tanaman porang yang sama baiknya pada tanah gambut. Naungan 45% lebih efisien digunakan dari segi harga naungannya.
RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL LOBAK TERHADAP PEMBERIAN PUPUK KANDANG BEBEK DAN NPK PADA TANAH GAMBUT Nurhayati, Nurhayati; Rahmidiyani, Rahmidiyani; Zulfita, Dwi
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 13 No. 1
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v13i1.64994

Abstract

Lobak (Raphanus sativus, L) Dapat tumbuh dengan baik pada media yang subur salah satu media tumbuh yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan lobak adalah tanah gambut yang memiliki beberapa kendala. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan memberikan bahan organik berupa pupuk kandang bebek dan pupuk anorganik NPK yang dikombinasikan dan diberikan secara berimbang. Penggunaan pupuk kandang bebek sebagai bahan organik dapat memperbaiki kendala yang ada pada tanah gambut terutama sifat tanah, dan penambahan NPK yang dapat diserap oleh tanaman secara cepat untuk memenuhi kebutuhan unsur hara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya interaksi antara pupuk kandang bebek dan NPK terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman lobak di tanah gambut, serta mendapatkan dosis interaksi terbaik pupuk kandang bebek dan NPK. Penelitian ini dilaksanakan di lahan uji coba penelitian Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura pada tanggal 23 Febuari-14 Maret 2023. Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu pemberian pupuk kandang bebek (N) dan NPK(P) masing-masing dengan 3 taraf perlakuan yang terdiri dari 9 kombinasi perlakuan dan 3 ulangan, sehingga total keseluruhan ada 108 sampel tanaman. Hasil penelitian ini terjadi interaksi antara pemberian pupuk kandang bebek dan pupuk NPK terhadap panjang umbi lobak pada tanah gambut dan interaksi antara pupuk kandang bebek dosis 15 ton/ha setara dengan 180 g/polybag dan pupuk NPK dosis 400 kg/ha setara dengan 321 g/polybag memberikan pertumbuhan dan hasil lobak yang terbaik pada tanah gambut
Pengaruh Biochar Sekam Padi dan Pupuk NPK terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tomat pada Tanah Podsolik Merah Kuning Resti, Resti; Anggorowati, Dini; Rahmidiyani, Rahmidiyani
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 13 No. 1
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v13i1.63841

Abstract

Tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) merupakan tanaman hortikultura yang banyak diminati dikalangan masyarakat Indonesia. Tomat bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku industri, misalnya diolah menjadi saus, pewarna alami dan berbagai olahan lainnya. Salah satu jenis tanah yang dapat dimanfaatkan untuk budidaya tomat adalah tanah PMK. Tanah PMK mempunyai beberapa kendala seperti pH rendah, struktur tanah menggumpal, mudah tergenang, penyediaan air dan udara yang buruk, dan kurangnya kandungan unsur hara serta bahan organik pada tanah sehingga dilakukan penambahan biochar sekam padi dan pupuk NPK pada media untuk mengatasi masalah tersebut. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mendapatkan interaksi dosis biochar sekam padi dan pupuk NPK yang memberikan pertumbuhan dan hasil tomat terbaik pada tanah PMK. Penelitian dilakukan selama 3 bulan, dimulai sejak 27 Mei 2022 sampai dengan 22 Agustus 2022. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial yang terdiri dari 2 faktor perlakuan. Faktor biochar sekam padi 3 taraf, dan faktor pupuk NPK 3 taraf. Perlakuan diulang sebanyak 3 kali dan setiap satu unit percobaan terdapat 4 sampel, sehingga diperoleh sebanyak 108 tanaman. Perlakuan yang dimaksud adalah: faktor pertama b1= 4 ton/ha biochar sekam padi setara dengan 100 g/polybag, b2= 6 ton/ha biochar sekam padi setara dengan 150 g/polybag, b3= 8 ton/ha biochar sekam padi setara dengan 200 g/polybag, faktor kedua p1= 400 kg/ha pupuk NPK setara dengan 10 g/polybag, p2= 500 kg/ha pupuk NPK setara dengan 12,5 g/polybag, p3= 600 kg/ha pupuk NPK setara dengan 15 g/polybag. Variabel pengamatan meliputi tinggi tanaman, volume akar, berat kering tanaman, jumlah buah pertanaman, berat buah pertanaman, dan berat perbuah. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, didapatkan kesimpulan bahwa Interaksi biochar sekam padi 6 ton/ha dan pupuk NPK 500 kg/ha memberikan rerata tertinggi terhadap variabel tinggi tanaman dan volume akar. Sedangkan faktor tunggal biochar sekam padi 6 ton/ha dan pupuk NPK 500 kg/ha masing- masing memberikan rerata tertinggi terhadap jumlah buah pertanaman dan berat buah pertanaman.
Pengaruh Pemberian Kascing Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Kedelai Pada Tanah Alluvial Yokhanan, Bayu; Rahmidiyani, Rahmidiyani; Astina, Astina
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 3 No. 1: April 2014
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v3i1.4775

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kascing terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai pada tanah alluvial. Penelitian ini dilaksanakan dirumah penelitian Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak dimulai sejak tanam 26 Mei 2013 hingga panen 12 Agustus 2013 dengan menggunakan metoda eksperimen lapangan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 1 faktor yaitu kascing (K), 6 taraf yaitu k1 (kascing 62,5 g/polybag), k2 (kascing 87,5 g/polybag), k3 (kascing 112,5 g/polybag), k4 (kascing 137,5 g/polybag), k5 (kascing 162,5 g/polybag), dan k6 (kascing 187,5 g/polybag). Setiap perlakuan terdiri dari 4 ulangan. Setiap ulangan terdiri dari 4 sampel, sehingga terdapat 24 satuan perlakuan dan 96 tanaman. Variabel yang diamati dalam penelitian ini yaitu bobot kering tanaman (g), jumlah bintil akar, berat biji pertanaman (g), jumlah polong pertanaman, dan volume akar (cm3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kascing berpengaruh tidak nyata terhadap semua variabel pengamatan. Perlakuan 162,5 g/polybag memberikan rerata tertinggi pada variabel bobot kering tanaman yaitu 8,2 g. Perlakuan 137,5 g/polybag memberi rerata tertinggi pada variabel jumlah bintil akar yaitu 8. Perlakuan 187,5 g/polybag memberi rerata tertinggi pada variabel jumlah polong pertanaman yaitu 67,87. Perlakuan 187,5 g/polybag memberi rerata tertinggi pada variabel berat biji pertanaman yaitu 22,73 g. Dan perlakuan 187,5 g/polybag memberi rerata tertinggi pada variabel volume akar yaitu 6,75 cm3.
PENGARUH WAKTU APLIKASI HERBISIDA PARAQUAT TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAGUNG MANIS (Zea masy saccharata Sturt) Listifia, Henny; Sarbino, Sarbino; Rahmidiyani, Rahmidiyani
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 3 No. 3: Desember 2014
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v3i3.7300

Abstract

PENGARUH WAKTU APLIKASI HERBISIDA PARAQUAT TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata Sturt) Henny Listifia1) Sarbino dan Rahmidiyani2) 1)Mahasiswa, 2)Dosen Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh waktu aplikasi herbisida paraquat yang tepat terhadap pertumbuhan dan produksi pada tanaman jagung manis. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK), terdiri dari 5 perlakuan dengan 3 ulangan dan tiap ulangan terdiri dari 5 sampel. Perlakuan yang dimaksud adalah waktu aplikasi 3 minggu setelah tanam (P1), Waktu aplikasi 4 minggu setelah tanam (P2), waktu aplikasi 5 minggu setelah tanam (P3), waktu aplikasi 6 minggu setelah tanam (P4) dan pendangiran (P5). Variabel yang diamati dalam penelitian ini meliputi tinggi tanaman (cm), berat kering brangkasan jagung (g), diameter tongkol (cm), panjang tongkol (cm), berat bersih tongkol per tanaman (g), berat tongkol per bedengan (kg) dan berat kering gulma (g). Hasil Penelitian menunjukan bahwa waktu penyemprotan herbisida paraquat tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, berat kering brangkasan jagung, diameter tongkol, panajang tongkol, berat bersih tongkol per tanaman, berat tongkol per bedengan tetapi berpengaruh nyata terhadap berat kering gulma, penelitian ini menunjukan bahwa perlakuan P2 (waktu penyemprotan 4 MST) memberikan hasil terbaik terhadap berat tongkol bersih yaitu 298,8 gram per tanaman. Kata Kunci : Herbisida Paraquat, Jagung Manis, Waktu Aplikasi THE INFLUENCE OF TIME IN PARAQUAT HERBICIDE APPLICATION TO THE GROWTH AND THE RESULTS OF SWEET CORNS (Zea mays saccharata Sturt) Henny Listifia1) Sarbino dan Rahmidiyani2) 1)Student, 2)Lecturers in Agriculture Faculty of Tanjungpura University ABSTRACT The aim of this research is to know the influence of implementation time of herbisida paraquat to growth of and production of sweet corn plants. This research used randomized block design (RBD), consists of 5 implementations by 3 repetitions and each repetition consists of 5 samples. The intended treatment is implementation time 3 weeks after planting (P1). Implementation time 4 weeks after planting (P2), implementation time 5 weeks after planting (P3), implementation time 6 weeks after planting (P4) by cultivation (P5). The variable that observed in this research includes the higher plants (cm), dry weight stover of corn (g), cob diameter (cm), the length of the cob (cm), net weight of the cob each plants (g), weight of the cob each plot (kg) and dry weight of weeds (g). The result of this research shows that the time of spraying herbisida paraquat is not influential to the higher plants, dry weight stover of corn, cob diameter, cob length, cob net weight, cob weight each plot but it is influential to dry weight of weeds, this research shows that from all of implementation, P2 give the best result, that is implementation time 4 weeks after planting with the net weight of the cob each plants is 298,8 gram.Key words: Herbisida paraquat,sweet corn, implementation time
PENGARUH PENGGUNAAN HERBISIDA SISTEMIK TERHADAP PENGENDALIAN GULMA DIPERKEBUNAN KELAPA RAKYAT PADA LAHAN GAMBUT DI PADANG TIKAR KECAMATAN BATU AMPAR ERPIANI, ERPIANI; SARBINO, SARBINO; RAHMIDIYANI, RAHMIDIYANI
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 3 No. 3: Desember 2014
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v3i3.7615

Abstract

Pengaruh Penggunaan Herbisida Sistemik Terhadap Pengendalian Gulma Di Perkebunan Kelapa Rakyat Pada Lahan Gambut Di Padang Tikar Kecamatan Batu Ampar Erpiani(1), Sarbino(2), Rahmidiyani(2) (1)Mahasiswa, (2) Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penggunaan herbisida sistemik terhadap pengendalian gulma di perkebunan kelapa dan konsentrasi yang tepat dalam pengendalian gulma yang tumbuh di perkebunan kelapa rakyat pada lahan gambut di Padang Tikar Kecamatan Batu Ampar. Penelitian dilakukan dengan analisis vegetasi dengan menggunakan metode kuadrat berukuran 1m x 1m sebelum dan sesudah penyemprotan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 1 kontrol dan 5 taraf konsentrasi herbisida yaitu P0 (secara mekanis yaitu dengan cara ditebas), P1 (konsentrasi 4 cc/l setara dengan dosis 2 l/ha), P2 (konsentrasi 5 cc/l setara dengan dosis 2,5 l/ha, P3 (konsentrasi 6 cc/l setara dengan dosis 3 l/ha), P4 (konsentrasi 7 cc/l setara dengan dosis 3,5 l/ha), dan P5 (konsentrasi 8 cc/l setara dengan dosis 4 l/ha). Hasil pengamatan menunjukkan terdapat 11 jenis gulma dari 8 family yang ditemukan di lokasi penelitian. Jenis gulma dominan yang terdapat di lokasi penelitian sebelum penyemprotan adalah gulma Scleria sumatrensis dengan nilai SDR 15,94%, tetapi setelah penyemprotan gulma yang dominan menjadi gulma Stenochlaena palustris dengan nilai SDR 30,29%. Gulma yang mampu bertahan terhadap penyemprotan adalah Stenochlaena palustris, Nephrolepsis bisserata, Gleichenia linearis, dan Scleria sumatrensis. Kata Kunci : Gleichenia linearis, gulma, herbisida sistemik, Nephrolepsis bisserata , Scleria sumatrensis, dan Stenochlaena palustris. EEFECT OF THE USE SYSTEMIC HERBICIDE TO THE WEEDS CONTROL AT PEOPLE"™S COCONUT PLANTATION IN PEATLANDS IN PADANG TIKAR DISTRICT OF BATU AMPAR Erpiani(1), Sarbino(2), Rahmidiyani(2) (1)Student, (2) Lecturers of Agriculture Faculty Tanjungpura University Pontianak ABSTRACT This study aims to determine the effect of the use of systemic herbicides to control weeds in coconut plantations and the appropriate concentration in the control of weeds that grow on people"™s coconut plantations on peatland in Padang Tikar District of Batu Ampar. The study was conducted with vegetation analysis using the least squares method measuring 1m x 1m before and after spraying. The research was conducted using a randomized block design (RBD) with 1 control and 5 herbicide concentration level, are P0 ( mechanically by means of cut down), P1 (concentration of 4 cc/l dose equivalent to 2 l/ha), P2 (concentration of 5 cc/l is dose equivalent to 2.5 l/ha, P3 (concentration of 6 cc/l dose equivalent to 3 l/ha), P4 (concentration of 7 cc/l dose equivalent to 3.5 l/ha), and P5 (concentration of 8 cc/l dose equivalent to 4 l/ha). The results showed there are 11 types of weeds from 8 family found at the location. The dominant weed species found in the research location before spraying weeds is Scleria sumatrensis with the SDR value 15.94%, but after spraying weeds became dominant is Stenochlaena palustris with the SDR value 30.29%. Weeds are able to survive after spraying is Stenochlaena palustris, Nephrolepsis bisserata, Gleichenia linearis, and Scleria sumatrensis. Keywords: Gleichenia linearis,weeds, systemic herbicide, Nephrolepsis bisserata, Scleria sumatrensis, and Stenochlaena palustris.
RESPON TANAMAN KAILAN TERHADAP APLIKASI ABU KULIT KOPI DI TANAH GAMBUT Siregar, Ahmad Nurdin; Rahmidiyani, Rahmidiyani; Mulyadi, Ahmad
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 3 No. 3: Desember 2014
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v3i3.7712

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon tanaman kailan terhadap aplikasi abu kulit kopi di tanah gambut dan mengetahui dosis abu kulit kopi terbaik untuk meningkatkan produksi kailan. Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak. Waktu penelitian dilaksanakan selama 10 minggu. Penelitian dimulai pada tanggal 8 Mei 2014 sampai 15 Juli 2014. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 6 perlakuan abu kulit kopi yang diulang sebanyak 4 kali, setiap ulangan terdiri dari 3 sampel sehingga tanaman seluruhnya berjumlah 72 tanaman. Perlakuan yang dimaksud adalah A0 = tanpa pemberian abu kulit kopi, A1 = pemberian dengan dosis 120 g/polybag, A2 = pemberian dengan dosis 180 g/polybag, A3 = pemberian dengan dosis 240 g/polybag, A4 = pemberian dengan dosis 300 g/polybag, dan A5 = pemberian dengan dosis 360 g/polybag. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah pH tanah setelah inkubasi, volume akar (cm3), jumlah daun (helai), jumlah klorofil (Spad Unit), luas daun (cm2), berat segar tanaman (g), dan berat kering tanaman (g). Hasil penelitian menunjukkan aplikasi abu kulit kopi memberikan peningkatan terhadap pH tanah tetapi tidak memberikan peningkatan terhadap volume akar, jumlah daun, jumlah klorofil, luas daun, berat segar dan berat kering tanaman. Dosis 120 g/polybag merupakan dosis efektif penggunaan abu kulit kopi di tanah gambut. Kata kunci : Abu kulit kopi, Kailan, Tanah gambut.