Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Hubungan Antara Status Gizi dengan Tingkat Fleksibilitas Tubuh pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unisba Hannia Azzahra Zahlevi; Rizky Suganda Prawiradilaga; Siti Annisa Devi Trusda
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.12405

Abstract

Abstract. Flexibility is the ability to move body parts through a range of motion, such as joints, tendons and tissues. A person's flexibility can be influenced by several factors, one of which can be influenced by fat accumulation which can make it difficult for a person to move flexibly. This study aims to see the relationship between nutritional status and body clotting levels in UNISBA Medical Faculty students. This research uses quantitative analytical observational research with a cross-sectional design. The sampling technique in this research used non-probability sampling with purposive sampling. The subjects of this research were 84 students with inclusion criteria including being registered as active students at the Faculty of Medicine, Bandung Islamic University for the 2022-2023 academic year and being students aged >20 years. Exclusion criteria included students with a history of injury to the lower back or hamstring muscles and students with joint deformities or a history of joint disease. Level of flexibility was measured using the sit-and-reach test and nutritional status was measured by calculating Body Mass Index and physical activity was measured using the IPAQ questionnaire. Statistical tests use the Gamma correlation test. The research results showed that there was no relationship (p=0.212, r=0.177) between nutritional status and level of welfare. Even though there is no relationship between nutritional status and the level of cold, a person still needs to have good taste to live their daily life. Abstrak. Fleksibilitas merupakan kemampuan untuk menggerakkan bagian tubuh melalui rentang gerak, seperti persendian, tendon dan jaringan. Fleksibilitas seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya dapat dipengaruhi oleh penumpukan lemak yang dapat membuat seseorang sulit untuk bergerak fleksibel. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara status gizi dengan tingkat fleksibilitas tubuh pada mahasiswa Fakultas Kedokteran UNISBA. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif analitik observasional dengan desain cross-sectional. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan non-probability sampling dengan jenis purposive sampling. Subjek penelitian ini sebesar 84 mahasiswa dengan kriteria inklusi meliputi terdaftar sebagai mahasiswa aktif Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung tahun ajaran 2022-2023 dan merupakan mahasiswa dengan usia >20 tahun. Kriteria eksklusi meliputi mahasiswa dengan riwayat cedera pada punggung bagian bawah atau otot hamstring dan mahasiswa dengan kelainan bentuk sendi atau riwayat penyakit sendi. Tingkat fleksibilitas diukur menggunakan sit-and-reach test dan status gizi diukur dengan menghitung Indeks Massa Tubuh. Uji statistik menggunakan uji korelasi Gamma. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan (p=0,212, r=0,177) antara status gizi dengan tingkat fleksibilitas. Meskipun tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan tingkat fleksibilitas, namun seseorang tetap harus memiliki fleksibilitas yang baik untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
Gambaran Penatalaksanaan dan Karakteristik Pasien Penyalahgunaan Narkoba di Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta Periode 2017-2021 Zikri Resa Hasrian; Wida Purbaningsih; Siti Annisa Devi Trusda
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.12511

Abstract

Abstract. World Drugs Reports (WDR) in 2018 informed that around 269 million people use drugs across the globe. The results of research conducted by the National Narcotics Agency (BNN) stated that the prevalence rate for narcotics reached 3.41 million people (1.80%) in 2019. In the Jakarta area, there were 260,656 people who used drugs. This research aims to determine the description of the management of drug abuse patients at RSKO Jakarta in 2017–2021. The research method used was descriptive observational with a cross-sectional design. This research uses medical record data taken directly from RSKO Jakarta. The results of this research showed that the majority of drug abuse patients at RSKO Jakarta for the 2017-2021 period based on gender characteristics were male. Based on the characteristics, the highest age level is 15-34 years old. Based on the characteristics of the highest region, it is JABODETABEK. Based on the characteristics of the highest job is not working. And there are rehabilitation patients using special programs and primary programs Abstrak. World Drugs Reports (WDR) pada 2018 menginformasikan bahwa sekitar 269 juta orang menggunakan narkoba di penjuru bumi. Hasil penelitian yang dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebutkan bahwa angka prevalensi terhadap narkotika mencapai 3,41 juta jiwa (1,80%) pada tahun 2019. Di wilayah Jakarta, terdapat 260,656 orang yang menggunakan narkoba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penatalaksanaan pasien penyalahgunaan narkoba di RSKO Jakarta tahun 2017–2021. Metode penelitian yang di gunakan adalah deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Penelitian ini menggunakan data rekam medis yang di ambil langsung dari RSKO Jakarta. Hasil penelitian ini diperoleh bahwa Pasien penyalahgunaan narkoba di RSKO Jakarta periode 2017-2021 berdasarkan karakteristik dari jenis kelamin terbanyak adalah jenis kelamin laki-laki. Berdasarkan karakteristik dari tingkat usia terbanyak adalah usia 15-34 tahun. Berdasarkan karakteristik dari wilayah tertinggi adalah JABODETABEK. Berdasarkan karakteristik dari pekerjaan tertinggi adalah tidak bekerja. Dan terdapat pasien rehabilitasi menggunakan special program dan primary program.
Evaluasi Kekuatan, Daya Otot, Kelenturan, Dan Ketahanan Jantung-Paru Berdasarkan Dengan Usia Haiqa Sharma Putri; M. Nurhalim Shabib; Siti Annisa Devi Trusda
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.12567

Abstract

Abstract. The physical fitness situation among workers is a situation that receives little attention. In 2016, Rahmawati, Sulroto, and Wahyuni conducted research which revealed that around 43.6% of workers lacked physical fitness. Maintaining physical fitness is very important for workplace safety, as it is the foundation for employees to provide their best performance. Research reveals that a lack of physical activity can lead to a decline in physical fitness, which can lead to health problems and reduced productivity. Therefore, it is important to understand how physical activity, physical health, and age relate to the workplace, especialy for those in physicaly demanding jobs such as security guards. At Bandung Islamic University, a sample of 86 security officers was colected for this research. The research method used is a quantitative observational analytical approach with a cross-sectional research design to evaluate the relationship between age and physical fitness, by measuring muscle strength and endurance using a number of tests, including push-ups, sit-ups, squat leaps and vertical jumps. . Results showed that the majority of security guards were found to be between 18 and 25 years old, and most of them had normal or below normal muscle strength and endurance. Statistical analysis shows that there is a significant relationship between the level of strength and muscular endurance and age on certain indicators, while there is no significant relationship between the level of flexibility and cardiopulmonary endurance and age. This research provides a deeper understanding of the relationship between physical activity, physical fitness and age in security officers, which can provide a basis for improving their wel-being and productivity. Abstrak. Situasi kebugaran fisik di kalangan pekerja merupakan situasi yang kurang mendapat perhatian. Pada tahun 2016, Rahmawati, Sulroto, dan Wahyuni melakukan penelitian yang mengungkapkan bahwa sekitar 43,6% pekerja kurang dalam kebugaran jasmani. Menjaga kebugaran fisik sangat penting untuk keselamatan di tempat kerja, karena merupakan landasan bagi karyawan untuk memberikan kinerja terbaiknya. Penelitian mengungkapkan bahwa kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan penurunan kebugaran fisik, yang dapat menyebabkan masalah kesehatan dan penurunan produktivitas. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana aktivitas fisik, kesehatan fisik, dan usia berhubungan dengan tempat kerja, terutama bagi mereka yang melakukan pekerjaan yang menuntut fisik seperti penjaga keamanan (Satpam). Di Universitas Islam Bandung, sampel dari 86 petugas keamanan dikumpulkan untuk penelitian ini. Metode penelitian yang digunakan yaitu pendekatan kuantitatif observasional analitik dengan desain penelitian cross-sectional untuk mengevaluasi hubungan antara usia dan kebugaran fisik, dengan mengukur kekuatan dan daya tahan otot menggunakan sejumlah tes, termasuk push-up, sit-up, squat leap, dan vertical jump. Hasil menunjukan bahwa mayoritas penjaga keamanan ditemukan berusia antara 18 dan 25 tahun, dan sebagian besar dari mereka memiliki kekuatan dan daya tahan otot yang biasa atau di bawah normal. Analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kekuatan dan daya tahan otot dengan umur pada indikator tertentu, sedangkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat fleksibilitas dan daya tahan jantung paru dengan umur. Penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai hubungan antara aktivitas fisik, kebugaran jasmani dan usia pada petugas keamanan, yang dapat memberikan dasar untuk meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas mereka.
Apakah Konsumsi Total Asupan Gula Berhubungan dengan Kejadian Depresi pada Dewasa Muda? Putri, Mirasari; Trusda, Siti Annisa Devi; Nugraha, Nadia Salsabila
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 7, No 1 (2025): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains (in progress)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v7i1.13544

Abstract

Depresi termasuk penyakit mental yang dapat menyerang segala kalangan. Penyebab timbulnya gejala depresi melibatkan berbagai faktor, salah satunya adalah konsumsi gula. Mekanisme hubungan konsumsi gula dengan gejala depresi diyakini oleh proses inflamasi. Banyak pria tercatat sebagai konsumen utama gula. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan konsumsi gula dengan derajat depresi pada Mahasiswa Putra Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Tahap Akademik 2022/2023 yang aktif dan terdaftar secara akademik serta berusia antara 18 hingga 25 tahun, bersedia mengikuti penelitian hingga akhir. Mahasiswa yang didiagnosis gangguan mood atau gangguan psikiatrik lain, ikut program diet, memiliki penyakit diabetes maupun penyakit jantung, serta anggota keluarga utama, yakni ayah, ibu, saudara kembar yang mengalami depresi, dieksklusikan dari penelitian. Metode penelitian ini menggunakan rancangan observasional analitik dengan desain cross-sectional, melibatkan 73 subjek yang dipilih secara total population sampling. Pengumpulan data menggunakan Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9) secara self-afministered untuk mengukur derajat depresi yang mencakup sembilan pertanyaan, sementara data konsumsi gula diukur menggunakan aplikasi FatSecret® selama periode dua minggu. Semua makanan yang dikonsumsi pada pagi, siang, dan malam termasuk kudapan dicatat menggunakan aplikasi. Data harian dapat dilihat pada laporan nutrisi sesuai tanggal. Data kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan dari 39 mahasiswa putra yang mengonsumsi gula berlebih, 16 di antaranya mengalami depresi ringan dan dua responden mengalami depresi berat. Di sisi lain, dari total 34 mahasiswa putra yang mengonsumsi gula dalam jumlah cukup, terdapat 17 responden depresi minimal dan tidak ada yang mengalami depresi berat. Dari data penelitian tidak didapatkan hubungan yang signifikan (p=0.376) antara konsumsi gula dengan derajat depresi yang disebabkan dari berbagai macam faktor, seperti stigmatisme maupun ketidakterbukaan responden dalam mengisi kuesioner. Is Total Sugar Intake Associated with the Incidence of Depression in Young Adults?AbstractDepression is a mental illness that can affect individuals from all walks of life. The emergence of depressive symptoms involves various factors, one of which is sugar consumption. The mechanism linking sugar consumption to depressive symptoms is believed to involve inflammatory processes. Many men are noted as the primary consumers of sugar. The aim of this study is to determine the relationship between sugar consumption and the degree of depression among male students of the Faculty of Medicine at Universitas Islam Bandung in the 2022/2023 academic year, who are active and registered academically, aged between 18 and 25 years, and willing to participate until the study's completion. Students diagnosed with mood disorders or other psychiatric disorders, those on diet programs, those with diabetes or heart disease, and those with a primary family member (father, mother, twin) experiencing depression were excluded from the study. This research used an observational analytic method with a cross-sectional design, involving 73 subjects selected through total population sampling. Data collection used the Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9) in a self-administered format to measure the degree of depression, which includes nine questions, while sugar consumption data was measured using the FatSecret® application over a two-week period. All foods consumed in the morning, afternoon, and evening, including snacks, were recorded using the application. Daily data could be viewed in nutrition reports according to the date. Data were then analyzed using the chi-square test. The study results showed that of the 39 male students who consumed excessive sugar, 16 experienced mild depression and two experienced severe depression. On the other hand, among the total 34 male students who consumed an adequate amount of sugar, 17 had minimal depression and none experienced severe depression. The study data did not show a significant relationship (p=0.376) between sugar consumption and the degree of depression, which could be attributed to various factors such as stigma or the respondents' lack of openness in completing the questionnaire.
Clozapine Efektif pada Pasien Skizofrenia yang Resisten terhadap Pengobatan Natasha Syifa Rachman; Siti Annisa Devi Trusda; Dede Setiapriagung
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 1 No. 1 (2021): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v1i1.67

Abstract

Abstract. Schizophrenia is a neuropsychiatric disorder with a high morbidity rate. One of the therapies to treat schizophrenic patients is to use antipsychotics such as typical and atypical drugs. Typical antipsychotics are the first line of treatment for schizophrenia but recently resistance is often developed, so that therapy is switched to atypical antipsychotics. Clozapine is the most commonly used atypical antipsychotic. The aim of this study was to determine the effectiveness of clozapine in schizophrenic patients who were resistant to other antipsychotics. The method used in this study is a scoping review, with research articles from international journals that meet the inclusion and exclusion criteria. This article was then selected using the PRISMA diagram by considering Population (schizophrenic patients), Intervention (giving clozapine), Comparison (placebo or other antipsychotic), Outcome (reduction in psychotic symptoms), Study (RCT, clinical trial, case report, and meta analysis). The results of this study indicate that clozapine is one of the most effective atypical antipsychotics compared to other antipsychotic drugs to treat patients suffering from schizophrenia, especially for schizophrenic patients who are resistant to other antipsychotic treatments. Abstrak. Skizofrenia merupakan gangguan neuropsikiatik dengan angka morbiditas yang masih tinggi. Salah satu terapi untuk menangani pasien skizofrenia adalah dengan menggunakan antipsikotik berupa tipikal dan atipikal. Antipsikotik tipikal menjadi lini pertama pengobatan skizofrenia. Dewasa ini berkembang penelitian bahwa sering terjadi resistensi terhadap antipsikotik tipikal, sehingga terapi beralih ke antipsikotik atipikal. Clozapine merupakan antipsikotik atipikal yang paling sering digunakan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektifitas clozapine terhadap pasien skizofrenia yang resisten terhadap antipsikotik lain. Metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah scoping review, dengan bahan penelitian artikel dari jurnal internasional yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Artikel ini kemudian diseleksi menggunakan diagram prisma dengan mempertimbangkan Population (pasien skizofrenia), Intervention (pemberian clozapine), Comparison (plasebo atau antipsikotik lain), Outcome (penurunan gejala psikotik), Study (RCT, clinical trial, case report, dan meta analysis). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa clozapine merupakan salah satu antipsikotik atipikal yang paling efektif dibandingkan dengan obat antipsikotik lainnya untuk mengobati pasien yang menderita skizofrenia, khususnya untuk pasien skizofrenia yang resisten terhadap pengobatan antipsikotik lain.