Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Telehealth Model Strategy to Improve Maternal Feeding Practices in Children with Stunting: Randomized Control Trial Yolanda, Henny; Mardani, Raden Ahmad Dedy; Supinganto, Agus
Interest : Jurnal Ilmu Kesehatan INTEREST: Jurnal Ilmu Kesehatan Volume 13 Number 2 November 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37341/interest.v13i2.672

Abstract

Background: The eating behaviour of the stunted children is the high risk for their growth and development. Given the urgency of all the impacts caused and its high prevalence, handling stunting through changes in feeding patterns requires serious attention from the government, society, and individuals as a whole. This study utilises telehealth as an innovative solution to overcome the challenges in feeding children with stunting. The aim of this study is to improve maternal feeding practices for children with stunting using telehealth. Methods: This study uses the single-blind randomised controlled trial method. The sampling method in this study was by using purposive sampling. The participants of this study are 41 mothers who have a child with stunting. Results: There was a significant effect (p=0.169) of the Telehealth Model Strategy to Improve Maternal Feeding Practices in Children with Stunting. Conclusion: We found that the telehealth model can be used to improve maternal feeding practices for children with stunting using telehealth.
Edukasi kesehatan tentang malaria sebagai upaya mendukung program eliminasi malaria Thoyibah, Zurriyatun; Haryani, Haryani; Mardani, Raden Ahmad Dedy; Metri, Ni Ketut; Hajri, Zuhratul
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2427

Abstract

Background: Malaria remains a public health problem in Indonesia, particularly in endemic and hypoendemic areas. Although the national elimination target was set for 2030, malaria cases were still reported as of 2024, including in West Lombok Regency, West Nusa Tenggara. Bukit Tinggi Village, the working area of ​​the Penimbung Community Health Center, faces environmental risk factors, population mobility, and suboptimal preventive behaviors. Limited public knowledge is a major challenge in supporting malaria elimination. Purpose: To increase public knowledge, awareness, and understanding of malaria and its prevention as part of malaria elimination efforts. Method: This community service activity was carried out in September 2024 in Batu Kemalik Hamlet, Bukit Tinggi Village, Penimbung District, West Lombok Regency. The activity was attended by 20 community members and Batu Kemalik Hamlet officials. The target of the activity was community knowledge about malaria and maintaining the environment of Batu Kemalik Hamlet so that it does not become a malaria endemic. The activity was carried out with a community participation-based education approach. Measurement of knowledge levels used questionnaires with direct interviews given before the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). Observation activities were carried out in October 2024 as an evaluation in assessing program implementation in Batu Kemalik Hamlet. Descriptive evaluation was carried out by looking at changes in the knowledge and understanding scores of participants before the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). Results: The level of knowledge of participants before the educational activity was 2 (10.0%) in the good category, 4 (20.0%) in the sufficient category, and 14 (70.0%) in the poor category. There was an increase in knowledge of participants after the educational activity, with 18 (90.0%) in the good category and 2 (10.0%) in the sufficient category. This increase in knowledge was also demonstrated by the practical efforts undertaken after receiving education on malaria prevention. Conclusion: Community service activities through health education using an interactive and participatory approach have had a significant impact on increasing public knowledge and understanding of malaria. The increased public knowledge through these activities also increased community motivation and awareness to implement malaria management and prevention measures in their communities as an effort to end the malaria endemic. Suggestion: Strengthening sustainable education programs through empowering health cadres and establishing malaria awareness groups is recommended, with regular and continuous health education implementation to enable the community to play an active role as agents of change in malaria prevention. It is hoped that similar community service activities can become a model for sustainable community-based health education and contribute significantly to supporting the achievement of the malaria elimination target in West Lombok Regency. Keywords: Community health; Health education; Malaria; Malaria elimination; Malaria prevention Pendahuluan: Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama di wilayah endemis dan hipoendemis. Meskipun target eliminasi nasional ditetapkan pada 2030, kasus malaria masih dilaporkan hingga 2024, termasuk di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Desa Bukit Tinggi, wilayah kerja Puskesmas Penimbung, memiliki faktor risiko lingkungan, mobilitas penduduk, serta perilaku pencegahan yang belum optimal. Keterbatasan pengetahuan masyarakat menjadi tantangan utama dalam mendukung eliminasi malaria. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan pemahaman masyarakat tentang malaria dan pencegahannya sebagai upaya eliminasi malaria. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada bulan September 2024.di Dusun Batu Kemalik, Desa Bukit Tinggi, Kecamatan Penimbung, Kabupaten Lombok Barat. Kegiatan dikuti oleh 20 orang warga masyarakat dan aparatur Dusun Batu Kemalik. Sasaran kegiatan adalah pengetahuan masyarakat tentang malaria dan menjaga lingkungan Dusun Batu Kemalik agar tidak menjadi endemi malaria. Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan edukasi berbasis partisipasi masyarakat. Pengukuran tingkat pengetahuan menggunakan kuesioner dengan wawancara langsung yang diberikan sebelun kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Kegiatan observasi dilakukan pada bulan Oktober 2024 sebagai evaluasi dalam memberikan penilaian pelaksanaan program di Dusun Batu Kemalik. Evaluasi secara deskriptif dilakukan dengan melihat perubahan nilai pengetahuan dan pemahaman peserta sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Hasil: menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan peserta sebelum kegiatan edukasi adalah sebanyak 2 orang (10.0%) dalam kategori baik, sebanyak 4 orang (20.0%) dalam kategori cukup, dan sebanyak 14 orang (70.0%) dalam kategori kurang. Terdapat peningkatan pengetahuan peserta setelah kegiatan edukasi menjadi sebanyak 18 orang (90.0%) dalam kategori baik dan sebanyak 2 orang (10.0%) dalam kategori cukup. Peningkatan pengetahuan peserta juga ditunjukkan dengan upaya praktik yang dilakukan setelah menerima edukasi dalam pencegahan malaria. Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat melalui edukasi kesehatan dengan pendekatan interaktif dan partisipatif meberikan dampak nyata dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang malaria. Meningkatnya pengetahuan masyarakat dalam kegiatan ini juga meningkatkan motivasi masyarakat dan kesadaran komunitas untuk melakukan penatalaksanaan dan langkah pencegahan malaria di lingkungan sebagai upaya memutus endemi kejadian malaria.  Saran: Diharapkan adanya penguatan program edukasi berkelanjutan melalui pemberdayaan kader kesehatan dan pembentukan kelompok peduli malaria, dengan pelaksanaan pendidikan kesehatan secara rutin dan berkesinambungan agar masyarakat dapat berperan aktif sebagai agen perubahan dalam pencegahan malaria. Diharapkan kegiatan pengabdian serupa dapat menjadi model edukasi kesehatan berbasis masyarakat yang berkelanjutan dan berkontribusi nyata dalam mendukung tercapainya target eliminasi malaria di Kabupaten Lombok Barat.  
Hubungan komponen health belief model (HBM) dengan kepatuhan minum obat dan tingkat stress pada pasien hipertensi Fauziah, Fauziah; Sastrawan, Sastrawan; Setiawan, Sabar; Mardani, Raden Ahmad Dedy
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2079

Abstract

Background: Hypertension is a silent killer because sufferers often do not experience any symptoms at all. Complications can occur if hypertension cannot be controlled or remains high for a long period of time. The Health Belief Model (HBM) is a model used to describe individuals' beliefs about healthy living behaviors, so that individuals will engage in healthy behaviors, which can be preventive behaviors or the use of health facilities. Purpose: To determine the relationship between components of the Health Belief Model (HBM) and medication adherence and stress levels in hypertensive patients. Method: This observational analytical study, using a cross-sectional design, was conducted at the North Batukliang District Community Health Center in hypertensive patients. A sample of 90 respondents was used. Data collection was conducted through interviews, surveys, and questionnaires. Multiple logistic regression was used as the data analysis technique. Results: Based on the results of statistical tests on the relationship between the health belief model (HBM) and medication adherence, the p-value was 0.000 (< 0.05), with an Odd Ratio (OR) = 9.425. Respondents in the high perception category were 9.425 times more likely to adhere to medication compared to those in the low perception category. The relationship between the health belief model (HBM) and stress levels yielded a p-value of 0.002 (<0.05) and an odds ratio (OR) of 4.286, indicating that respondents in the high perception category were 4.286 times more likely to experience stress than those in the low perception category. Conclusion: There is a relationship between medication adherence and stress levels with the health belief model (HBM) in hypertensive patients at the North Batukliang District Health Center. Suggestion: For future researchers, it is hoped that the research population will be larger and come from different places. Health workers should also play a role in encouraging the prevention of hypertension in healthy individuals and treatment at health centers for individuals who are already sick.   Keywords: Health Belief Model (HBM); Hypertension Patients; Medication Adherence; Stress.   Pendahuluan: Hipertensi merupakan penyakit pembunuh diam-diam karena penderita sering kali tidak merasakan gejalanya sama sekali. Komplikasi dapat terjadi jika penyakit hipertensi yang tidak mampu di kontrol atau tetap terus menerus tinggi berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Health belief model (HBM) adalah suatu model yang digunakan untuk menggambarkan kepercayaan individu terhadap perilaku hidup sehat, sehingga individu akan melakukan perilaku sehat, perilaku sehat tersebut dapat berupa perilaku pencegahan maupun penggunaan fasilitas kesehatan. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan komponen health belief model (HBM) dengan kepatuhan minum obat dan tingkat stress pada pasien hipertens. Metode: Penelitian analitik observasional dengan rancangan cross-sectional, dilakukan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Batukliang Utara pada pasien hipertensi. Sampel yang digunakan sebanyak 90 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, survei, dan penyebaran kuesioner. Teknik analisis data yang digunakan regresi logistik berganda. Hasil: Berdasarkan uji statistik pada hubungan health belief model (HBM) dengan kepatuhan minum obat, diperoleh p-value: 0.000 (< 0.05), Odd Ratio (OR) = 9.425, responden kategori persepsi tinggi memiliki peluang 9.425 kali patuh minum obat dibandingkan kategori persepsi rendah. Dan hubungan health belief model (HBM) dengan tingkat stres diperoleh p-value: 0.002 (< 0.05), Odd Ratio (OR) = 4.286, responden kategori persepsi tinggi memiliki peluang 4.286 kali mengalami stress dibandingkan kategori persepsi rendah. Simpulan: Terdapat hubungan kepatuhan minum obat dan tingkat stres dengan health belief model (HBM) pada pasien hipertensi. Saran: Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan populasi penelitian lebih besar dan berasal dari tempat yang berbeda. Dan untuk kader supaya ikut berperan serta mendorong pencegahan penyakit hipertensi pada individu yang sehat dan pengobatan ke puskesmas untuk individu yang telah sakit.   Kata Kunci: Health Belief Model (HBM); Kepatuhan Minum Obat; Pasien Hipertensi; Stres.
PENGENDALIAN HIPERTENSI DAN SENAM HIPERTENSI PADA LANSIA Marthilda Suprayitna; Zuhratul Hajri; Melati Inayati Albayani; Henny Yolanda; Zuliardi Zuliardi; Raden Ahmad Dedy Mardani
Jurnal LENTERA Vol. 6 No. 2 (2026): Jurnal Lentera
Publisher : Institut Kesehatan Yarsi Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57267/lentera.v6i2.651

Abstract

Hypertension is a global health problem that poses a risk of cardiovascular complications such as myocardial infarction, coronary heart disease, congestive heart failure, and stroke, as well as chronic kidney disease and blindness when it affects the kidneys. Older adults are at high risk for hypertension; therefore, education is needed regarding its definition, causes, risks, complications, and management, along with an introduction to hypertension exercises as a non-pharmacological method to lower blood pressure and improve quality of life. Methods: The program was conducted in the service area of the Penimbung Community Health Center using a step-by-step educational approach involving visual and verbal instruction, followed by training and guidance on performing hypertension exercises. Results: Interactive health education increased the elderly participants’ knowledge of hypertension by 85%, while regular hypertension exercise reduced average systolic blood pressure by 10 mmHg within three months. Discussion: A step-by-step educational approach using visual and verbal methods, combined with hypertension exercise, effectively improved understanding and lowered blood pressure among the elderly, making it a practical and sustainable model for non-pharmacological intervention in primary health care
Gambaran Tingkat Kepatuhan Perawat dalam Implementasi Enam Sasaran Keselamatan Pasien: A Systematic Literature Review Sumadniati Sumadniati; Raden Ahmad Dedy Mardani; Zul Hendri
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 7 (2026): Volume 8 Nomor 7 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i7.25358

Abstract

ABSTRACT Patient safety is a global health priority, with nurses playing a crucial role in implementing the Six Patient Safety Goals (SPSG). However, nurse compliance levels vary significantly across different contexts and dimensions of SPSG.This systematic literature review aimed to analyze the level of nurse compliance in implementing the Six Patient Safety Goals based on current scientific evidence (2020-2025). A systematic literature review was conducted using Scopus and Web of Science databases with keywords "nurse compliance," "patient safety goals," and "six international patient safety goals." Inclusion criteria were primary articles, published 2020-2025, indexed in Scopus/WoS, focusing on nurse compliance with SPSG. Eleven articles met the criteria and were analyzed using thematic analysis techniques. Nurse compliance levels toward SPSG varied between 39%-95% across different dimensions. Goal 1 (Patient Identification) showed the highest compliance (86-95%), while Goal 6 (Fall Prevention) showed the greatest implementation complexity. Main barriers included human resource limitations (69%), lack of continuous training (58%), high workload (52%), and inadequate infrastructure (45%). Supporting factors included positive safety culture, transformational leadership, and effective incident reporting systems. Nurse compliance with SPSG is influenced by multifactorial interactions at individual, unit, and organizational levels. Comprehensive evidence-based interventions are needed to improve implementation fidelity and reduce adverse events. Keywords: Implementation Science, Nurse Compliance, Patient Safety, Six Patient Safety Goals, Systematic Review.  ABSTRAK Keselamatan pasien merupakan prioritas kesehatan global, dengan perawat memainkan peran krusial dalam implementasi Enam Sasaran Keselamatan Pasien (SPSG). Namun, tingkat kepatuhan perawat bervariasi signifikan di berbagai konteks dan dimensi SPSG. Tujuan: Systematic literature review ini bertujuan untuk menganalisis gambaran tingkat kepatuhan perawat dalam implementasi Enam Sasaran Keselamatan Pasien berdasarkan bukti ilmiah terkini (2020-2025). Systematic literature review dilakukan menggunakan database Scopus dan Web of Science dengan kata kunci "nurse compliance," "patient safety goals," dan "six international patient safety goals." Kriteria inklusi: artikel primer, terbit 2020-2025, terindeks Scopus/WoS, fokus pada kepatuhan perawat terhadap SPSG. Sebelas artikel memenuhi kriteria dan dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Tingkat kepatuhan perawat terhadap SPSG bervariasi antara 39%-95% di berbagai dimensi. Goal 1 (Identifikasi Pasien) menunjukkan kepatuhan tertinggi (86-95%), sedangkan Goal 6 (Prevensi Jatuh) menunjukkan kompleksitas implementasi tertinggi. Hambatan utama meliputi: keterbatasan sumber daya manusia (69%), kurangnya pelatihan berkelanjutan (58%), beban kerja tinggi (52%), dan infrastruktur tidak memadai (45%). Faktor pendukung meliputi: budaya keselamatan positif, kepemimpinan transformasional, dan sistem pelaporan insiden yang efektif. Kepatuhan perawat terhadap SPSG dipengaruhi oleh interaksi multifaktorial pada tingkat individu, unit, dan organisasional. Diperlukan intervensi komprehensif berbasis evidence untuk meningkatkan implementation fidelity dan mengurangi adverse events. Kata Kunci: Enam Sasaran Keselamatan Pasien, Implementation Science, Kepatuhan Perawat, Keselamatan Pasien, Systematic Review.
The Effect of Education Through Video Self Care Management on Type 2 Diabetes Mellitus Patients: A Quasi-Experimental Study Ernawati Ernawati; Maelina Ariyanti; Heri Bahtiar; Raden Ahmad Dedy Mardani
Jurnal Ilmiah STIKES Yarsi Mataram Vol. 15 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah STIKES Yarsi Mataram
Publisher : Institut Kesehatan YARSI Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57267/jisym.v15i2.497

Abstract

The Effect of Education Through Video Self Care Management on Type 2 Diabetes Mellitus Patients: A Quasi-Experimental Study ABSTRAK Prevalensi penderita diabetes adalah 537 juta di seluruh dunia, dan jumlah ini diperkirakan akan mencapai 783 juta pada tahun 2045. Indonesia menempati peringkat kelima di dunia pada tahun 2021, dengan 19,47 juta pasien. Salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan dan mengubah perilaku pasien adalah melalui pendidikan kesehatan yang dapat diberikan kepada pasien diabetes melitus tipe 2, yaitu manajemen perawatan diri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh edukasi melalui video manajemen perawatan diri pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Desa Meninting. Metode penelitian adalah quasi eksperimen dengan desain one group pretest-posttest. Sampel penelitian sebanyak 18 responden. Instrumen Manajemen Perawatan Diri menggunakan kuesioner Summary of Diabetes Self-care Activities (SDSCA) yang terdiri dari 20. Kuesioner manajemen perawatan diri telah digunakan oleh peneliti sebelumnya, nilai r hitung > 0,378. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor pra-tes sebesar 30,50 dengan simpangan baku 3,930, sedangkan rata-rata skor pasca-tes sebesar 35,59 dengan simpangan baku 1,243. Rata-rata hasil pasca-tes mengalami peningkatan setelah diberikan edukasi melalui video tentang manajemen perawatan diri. Nilai ρ sebesar 0,001 (< 0,05) diperoleh, yang menunjukkan bahwa edukasi video efektif dalam meningkatkan manajemen perawatan diri pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Desa Meninting. Disarankan agar metode ini sering diterapkan untuk meningkatkan manajemen perawatan diri terkait diet, aktivitas fisik, dan perawatan kaki.
Pendekatan Keperawatan Dengan Model Telehealth Dalam Manajemen Deteksi Dan Intervensi Weight Faltering Untuk Mengurangi Resiko Stunting Henny Yolanda; Raden Ahmad Dedy Mardani; Zul Hendry
Khatulistiwa Nursing Journal Vol. 8 No. 1 (2026): January 2026
Publisher : STIKes YARSI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53399/knj.v8i1.371

Abstract

Latar Belakang: Urgensi penelitian didasari oleh tingginya angka prevalensi anak dengan stunting di NTB bahkan menduduki peringkat keempat secara nasional. Selain menyebabkan gangguan pertumbuhan, stunting menyebabkan penurunan kemampuan kognitif, motorik dan performa kerja. Proses deteksi dini sangat penting untuk mencegah stunting yang diinduksi oleh ketidakpatuhan terhadap pedoman gizi. Masalah utama dalam deteksi dan intervensi weight faltering terletak dalam kompleksitas pengenalan dan pelaksanaan intervensi yang tepat, mengakibatkan respon yang lambat terhadap masalah gizi pada anak. Keterbatasan sistem pemantauan tersebut mendorong perlunya pendekatan keperawatan berbasis telehealth dalam manajemen weight faltering. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model telehealth dalam manajemen deteksi intervensi weight faltering untuk mengurangi resiko stunting. Metode: Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D), yaitu pendekatan sistematis pendekatan keperawatan melalui telehealth untuk menghasilkan produk desain website dalam Manajemen Deteksi Intervensi Weight faltering. Hasil: Hasil uji statistik hasil bahwa mayoritas responden menunjukan hasil SUS dengan kategori acceptable 77.6% Kesimpulan: website https://tumbuhkembang.id yang sudah dapat dimanfaatkan sebagai model model telehealth dalam manajemen deteksi dan intervensi weight faltering untuk mengurangi resiko stunting.