Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Pertumbuhan Ikan Gabus (Channa striata) yang Diberi Pakan Keong Mas(Pomacea canaliculata) Segar dan Kering Baalu, Nurfati; Idris, Muhammad; Yusnaini, .; Kurnia, Agus
Jurnal Media Akuatika Vol 3, No 2: April
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.017 KB) | DOI: 10.33772/jma.v3i2.5006

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan ikan gabus (Channa striata) yang diberi pakan keong mas segar dan kering. Penelitian ini dilaksanakan selama 50 hari yaitu pada bulan April – Juni 2017.Penelitian ini didesain dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan pakan uji A (keong mas segar) dan perlakuan B (keong mas kering) dengan pemberian 15% dari bobot ikan gabus/10 hari. Parameter yang diamati adalah pertumbuhan mutlak bobot, pertumbuhan mutlak panjang, laju pertumbuhan spesifik bobot, laju pertumbuhan spesifik panjang, tingkat kelangsungan hidup, rasio konversi pakan, dan konsumsi pakan.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian keong mas segar dan kering tidak berpengaruh nyata terhadap parameter pertumbuhan, kelangsungan hidup, dan konsumsi pakan ikan gabus. Pertumbuhan mutlak panjangikan gabus yang diberi pakan keong mas segar dan kering masing-masing sebesar 2,26 cm dan 2,51 cm. Laju pertumbuhan spesifik bobot pada ikan gabus yang diberi pakan keong mas segar dan kering sebesar 0,32% dan 0,34%, laju pertumbuhan spesifik panjang ikan gabus yang diberi pakan keong mas kering dan segar sebesar 0,37% dan 0,73%. Tingkat kelangsungan hidupikan gabus yang diberi pakan keong mas segar dan kering sebesar 53,33% dan 66,67%. Rasio konversi pakanikan gabus yang diberi pakan keong mas kering dan segar sebesar 1,39% dan 2,54% dan konsumsi pakanikan gabus yang diberi pakan keong mas kering dan segar sebesar 3,64 gdan4,33 g. Penelitian ini menyimpulkan pakan keong mas segar dan pakan keong mas kering dapat diberikan untuk meningkat pertumbuhan ikan gabus. Kata Kunci : Pertumbuhan, Ikan Gabus Channa Striata, Keong Mas Pomacea canaliculata Segar, Kering
Pengaruh Jenis Pakan Segar Terhadap Pertumbuhan Biomassa Calon Induk Lobster Batik (Panulirus longipes) Suriadi, La; Yusnaini, .; Kurnia, Agus
Jurnal Media Akuatika Vol 2, No 2: April
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.93 KB) | DOI: 10.33772/jma.v2i2.4330

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis pakan segar terhadap pertumbuhan biomassa calon induk lobster batik di keramba jaring apung Desa Tapulaga, Kebupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Empat  jenis pakan segar berupa cacing laut (Pakan A), cumi-cumi (Pakan B), ikan teri (Pakan C) dan kombinasi ketiganya (Pakan D) diberikan kepada calon induk lobster batik selama 84 hari. Parameter yang diamati adalah pertumbuhan mutlak (PM), laju pertumbuhan spesifik (LPS) dan Kelangsungan Hidup (SR). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis pakan segar tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap pertumbuhan mutlak, laju pertumbuhan spesifik dan kelangsungan hidup. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai rata-rata pertumbuhan mutlak berkisar antara 25,75 - 60,20 g sementara itu nilai rata-rata laju pertumbuhan spesifik pada lobster batik yang diberikan pakan uji berkisar anrata 0,06 – 0,15 g dan nilai rata-rata kelangsungan hidup lobster batik berkisar antara 75 – 100%. Kesimpulan penelitian ini adalah calon induk lobster batik dapat diberi pakan segar dari salah satu jenis cacing laut, cumi-cumi dan atau ikan teri atau kombinasi ketiga pakan tersebut.Kata Kunci : Pakan Segar, Pertumbuhan, Biomassa, induk, Lobster batik, Jaring apung
Pengaruh Penempatan Media Budidaya Terhadap Pertumbuhan Kepiting Bakau (Scylla Sp) Mustakim, .; Muskita, Wellem H.; Yusnaini, .
Jurnal Media Akuatika Vol 3, No 4: Oktober
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.012 KB) | DOI: 10.33772/jma.v3i4.8022

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penempatan  media budidaya terhadap pertumbuhan kepiting bakau (Scylla Sp). Tiga jenis perlakuan penempatan media yang berbeda: media A (jarang berair), media B (berair atau terendam), media C (sesuai dengan pasang surut). Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan mengaplikasikan 3 perlakuan 3 ulangan. Parameter yang diamati adalah pertumbuhan mutlak, laju pertumbuhan spesifik, tingkat kelangsungan hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan mutlak tertinggi yaitu diperoleh pada media C yaitu media ditempatkan sesuai pasang surut (22,01 g) dan yang terendah pada media A yaitu media ditempatkan yang jarang berair (11,29 g). Tingkat sintasan tertinggi diperoleh pada media B yaitu Media ditempat yang berair atau terendam (72,29 %) dan yang terendah pada media A yaitu media ditempatkan yang jarang berair (50,77 %). Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengaruh media budidaya terhadap pertumbuhan kepiting bakau menunjukkan tidak berpengaruh nyata pada pertumbuhan mutlak, pertumbuhan spesifik dan kelangsungan hidup.Kata Kunci: Kepiting Bakau (Scylla sp.), penempatan media budidaya, Pertumbuhan, Sintasan.
Respon Pemberian Ekstrak Hipofisa Ayam Broiler Dengan Dosis Berbeda Terhadap Ovulasi Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) Betina Wadi, Hamzan; Yusnaini, .; Idris, Muhammad
Jurnal Media Akuatika Vol 3, No 2: April
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.78 KB) | DOI: 10.33772/jma.v3i2.4449

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pemberian ekstrak kelenjar hipofisa ayam broiler dengan dosis berbeda terhadap ovulasi ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) Betina serta mengetahui apakah penggunaan ovaprim dapat digantikan oleh ekstrak hipofisa ayam broiler pada pemijahan induk ikan lele dumbo (C.gariepinus) dengan menggunakan parameter waktu ovulasi, diameter telur, jumlah telur dan performa telur sebagai variabel pengamatan. Dosis penyuntikan pada induk ikan lele dumbo betina yaitu 500 (A), 800 (B), 1000 (C) mg/kg berat badan ikan, kontrol positif (Ovaprim) (D+) dan kontrol negatif (NaCl 0,5 %) (E-). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan mengaplikasikan 1 perlakuan dosis penyuntikan dengan 5 taraf perlakuan yang terbagi atas tiga kelompok. Pengelompokan didasarkan pada perbedaan berat induk yang digunakan, yaitu kelompok I = 400-500 g, kelompok II = 501-600 g dan kelompok III = 601-700 g. Dosis penyuntikan A (500), B (800), C (1000) mg/kg berat ikan, kontrol positif D+ (Ovaprim) dan kontrol negatif E- (NaCl 0,5%). Hasil penelitian ini menunjukkan dosis ekstrak hipofisa ayam broiler tidak berpengaruh terhadap waktu ovulasi, fekunditas, diameter dan performa telur ikan lele dumbo.Kata Kunci: Ekstrak hipofisa ayam broiler, Dosis, Ovulasi, ikan lele dumbo (C.gariepinus)
Pengaruh Jumlah Inti Terhadap Pertumbuhan Dan Ketebalan Lapisan Mutiara Pada Kerang Pteria penguin Satria, .; Muskita, Wellem H.; Yusnaini, .
Jurnal Media Akuatika Vol 4, No 1: Januari
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.639 KB) | DOI: 10.33772/jma.v4i1.6372

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah inti terhadap pertumbuhan dan ketebalan lapisan mutiara pada kerang Pteria penguin menggunakan metode tali gantung pada rakit apung. Penelitian ini dilaksanakan selama empat bulan yakni bulan Agustus-Desember 2018 di Perairan Palabusa Kecamatan Lea-Lea Kabupaten Buton, menggunakan Rancangan Acak lengkap yang terdiri dari tiga perlakuan yaitu perlakuan A (satu inti kiri), perlakuan B(dua inti kiri) dan perlakuan C(2 inti kiri + 1 inti kanan) dengan 5 ulangan individu setiap perlakuan. Parameter yang diamati pertumbuhan dan ketebalan lapisan mutiara pada kerang P. penguin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata pertumbuhan mutlak lebarcangkang tertinggi pada perlakuan A yaitu 18,76 mm, pertumbuhan mutlak tinggi cangkang tertinggi pada perlakuan C yaitu 14,25 mm dan pertumbuhan mutlak tebal cangkang tertinggi pada perlakuan A yaitu 1,52 mm. Ketebalan lapisan Base (dasar) mutiara tertinggi pada perlakuan A yaitu 0,29 mm dan ketebalan lapisan Top (kuba) mutiara tertinggi pada perlakuan A yaitu 0,16 mm. Penambahan jumlah inti mutiara tidak memberikan pengaruh sifnifikan terhadap pertumbuhan dimensicangkang dan ketebalan lapisan mutiara.Penelitian ini menyimpulkan bahwa jumlah inti yang dapat diimplantasikan pada kerang P. penguin minimal 3 inti per individu kerang.Kata kunci : Jumlah inti, Pertumbuhan, Ketebalan lapisan mutiara, Pteria penguin
Studi Pertumbuhan dan Tingkat Kelangsungan Hidup Teripang Pasir (Holothuria scabra, Jaeger) yang Dipelihara dengan Sistem Basket Yonno, Muhammad; Yusnaini, .; Balubi, Abdul M.
Jurnal Media Akuatika Vol 2, No 3: Juli
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.217 KB) | DOI: 10.33772/jma.v2i3.4347

Abstract

Teripang merupakan hewan invertebrata yang memiliki tubuh yang lunak, berdaging dan berbentuk silindris memanjang seperti ketimun. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui  pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup teripang pasir (Holothuria scabra, Jaeger) yang dipelihara dengan sistem basket. Percobaan ini dilakukan selama dua bulan dari tanggal 10 Agustus sampai 10 Oktober 2016, di desa Tanjung Tiram, Kabupaten Moramo Utara, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Selatan. Ada tiga stasiun koordinat pembesaran berdasarkan kedalaman laut yaitu: 4 ° 21.30LS; 122 ° 4019.53BT (jarak stasiun A: 25-40 cm), 4 ° 21.52LS; 122 ° 4019.60BT (stasiun B: kedalaman 75-90 cm) dan 4 ° 20,05LS; 122 ° 4019.68BT (stasiun C: kedalaman 125-140 cm). Jumlah teripang (berat awal: 20-25 g) adalah 45 teripang (15 ind / station). Parameter yang diteliti adalah pertumbuhan absolut (AG), laju pertumbuhan spesifik (SGR), tingkat kelangsungan hidup (SR) dan kualitas air. AG tertinggi ditemukan di teripang yang terbaca pada stasion B (27,69 g). Teripang yang dipelihara di stasiun B paling tinggi di SGR (1,29%). Yang tertinggi SR ditemukan di teripang yang dipelihara di stasiun C (100%). Penelitian ini menyimpulkan bahwa teripang dapat dipelihara dalam  kedalaman yang berbeda dari 25-140 cm dengan menggunakan keranjang plastik dalam sistem pencultur. Kata Kunci: Teripang Pasir, Pertumbuhan, Kelangsungan Hidup dan Sistem Basket
Pengaruh Kedalaman terhadap Pertumbuhan Spons Clahtria reinwardtii yang Dipelihara di Permukaan Kurungan dengan Metode Gantung Asran, .; Yusnaini, .; Rahmadani, .
Jurnal Media Akuatika Vol 3, No 4: Oktober
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (665.336 KB) | DOI: 10.33772/jma.v3i4.8023

Abstract

Pertumbuhan spons sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah faktor lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kedalaman terhadap pertumbuhan spons Clathria reinwardtiiyang ditransplantasi. Penelitian ini dilaksanakan selama 90 hari, bertempat di perairan Desa Tapulaga Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Pemeliharaan spons dilakukan di permukaan kurungan dengan metode gantung. Penelitian ini mengujikan berbagai kedalaman berbeda, yakni kedalaman 1, 3, dan 7 m. Variabel yang diamati yaitu pertumbuhan mutlak (PM), laju pertumbuhan spesifik (LPS), sintasan (SR), dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukan rata-rata PM pada kedalaman 1 madalah(14 mm) disusul kedalaman 3 m(11 mm),sedangkan nilai terendah pada kedalaman 7 m yaitu(7 mm). Rata-rata LPS dalam setiap perlakuan kedalaman diperoleh nilai tertinggi adalah pada kedalaman 1 m, yaitu (0,17 mm/hari), selanjutnya pada kedalaman3 m (0,14 mm/hari), dan pada kedalaman 7 myaitu (0,09 mm/hari). Nilai rata-rata SR adalah 75%, 87,5%, dan 68,8% untuk kedalaman 1, 3, dan 7 m secara berurutan. Kajian ini menyimpulkan bahwa kedalaman 1 m adalah kedalaman terbaik untuk pertumbuhan transplantasi spons C. reinwardtii.Kata Kunci: Spons Clathria reinwardtii, transplantasi, kedalaman, metode gantung
Studi Kombinasi Tepung Kepala Ikan Peperek, Tepung Burungo, dan Tepung Kepala Udang terhadap Pertumbuhan Post Larva Udang Windu (Penaeus monodon) Farida, .; Hamzah, Muhaimin; Yusnaini, .
Jurnal Media Akuatika Vol 2, No 1: Januari
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.14 KB) | DOI: 10.33772/jma.v2i1.4322

Abstract

Penelitian tentang studi kombinasi tepung kepala ikan peperek, tepung burungo, dan tepung udang terhadap pertumbuhan post larva udang windu telah dilakukan selama 42 hari di Balai Benih Perikanan (BBP) Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sulawesi Tenggara. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi tepung kepala ikan peperek, tepung burungo, dan tepung kepala udang terhadap pertumbuhan post larva udang windu (Penaeus monodon).Penelitian didesain dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan.Perlakuan yang diterapkan adalah perlakuan A (25% TI + 15 % TKU); perlakuan B (25 % TI + 15 % TB); perlakuan; C (25 % TI + 15 % TIKP); perlakuan D (25 % TI + 5% TKU + 5% TB +5 % TIKP). Hewan uji yang digunakan adalah post larva udang windu dengan bobot rata-rata 0,044 g. wadah perlakuan adalah stirofoam berukuran 27x40x46 cm. Post larva dipelihara selama 42 hari. Selama pemelihraan post larava udang windu diberi pakan sesuai perlakuan dengan frekuensi lima kali sehari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi tepung kepala ikan peperek, tepung burungo, dan tepung kepala udang tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap Pertumbuhan Mutlak (PM), Laju Pertumbuhan Spesifik (LPS), Rasio Konversi Pakan (FCR), Retensi Protein (RP), Retensi Lemak (RL) serta Kelangsungan Hidup (KH). Nilai PM pada penelitian ini berkisar antara 0,01-0,24g, LPS berkisar antara 2,51-3,81%, FCR berkisar antara 3,02-4,79, RP berkisar antara 10,72-19,28%, RL berkisar antara 11,21-15,90%, dan KH berkisar antara 60-73,33%.Kata kunci: Kepala ikan peperek, Tepung Burungo, Tepung Kepala Udang, Pertumbuhan, Panaeus monodon
Pertumbuhan Kepiting Bakau (Scylla Serrata) yang Diberi Pakan Usus Ayam yang Dikukus dan Ikan Rucah Akbar, Wahidin; Yusnaini, .; Muskita, Wellem H.
Jurnal Media Akuatika Vol 1, No 3: Juli
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (85.194 KB) | DOI: 10.33772/jma.v1i3.4290

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan kepiting bakau (Scylla serrata) yang diberi pakan usus ayam yang dikukus dan ikan rucah.Pemberian pakan uji dilakukan sebanyak 3 kali dalam sehari. Jumlah pakan uji yang diberikan sebanyak 3 % dari bobot hewan uji.Penelitian ini menggunakan uji T dengan mengaplikasikan 2 perlakuan dan 3 ulangan.Parameter yang diamati adalah pertumbuhan mutlak, laju pertumbuhan spesifik, sintasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan mutlak tertinggi yaitu diperoleh pada kelompok kepiting bakau yang diberi pakan B (35,86 g) dan yang terendah pada kelompok kepiting bakau yang diberi pakan A (3,87 g). Tingkat sintasan kelompok kepiting bakau 100%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ikan rucah lebih baik digunakan sebagai pakan dibanding usus ayam yang dikukus untuk pertumbuhan optimum.Kata Kunci: Kepiting Bakau, Pertumbuhan, Sintasan, Usus ayam kukus, dan Ikan Rucah.
Pengaruh Ablasi Mata terhadap Pertumbuhan Lobster Batik (Panulirus longipes) Rivai, Hasbin; Yusnaini, .; Nur, Indriyani
Jurnal Media Akuatika Vol 3, No 2: April
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.474 KB) | DOI: 10.33772/jma.v3i2.4451

Abstract

Lobster batik (Panulirus longipes) merupakan salah satu organisme ekonomis penting yang dibudidayakan untuk memenuhi permintaan pasar yang tinggi. Pada budidaya lobster, ablasi mata dilakukan untuk merangsang reproduksi.  Perubahan hormon akibat ablasi mata diduga juga akan mempengaruhi pertumbuhan somatik. Olehnya, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ablasi mata terhadap laju pertumbuhan lobster batik yang dipelihara pada jaring kantung apung. Penelitian ini dilaksanakan di Keramba Jaring Apung (KJA) Desa Tapulaga, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe. Sebanyak 12 ekor lobster batik betina (berat awal rata-rata lobster yang ablasi adalah 193 ± 29.2 g sedangkan lobster yang tidak ablasi adalah 253 ± 41.2 g). Organisme tersebut ditempatkan dalam 12 jaring katung apung bersama lobster jantan (2 ekor/wadah). Pakan yang diberikan selama masa penelitian ini adalah pakan ikan rucah yang diperoleh dari hasil tangkap masyarakat setempat. Parameter yang diamati adalah Pertumbuhan Mutlak (PM), Laju Pertumbuhan Spesifik (LPS) dan kualitas air. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ablasi mata pada lobster tidak memberikan pengaruh terhadap keseluruhan parameter yang diamati. Pertumbuhan mutlak tertinggi diperoleh pada lobster yang diablasi sebesar (23.3 ± 16.2 g) dan LPS (0.14 ± 0.104 %/hari).  Penelitian ini menyimpulkan bahwa ablasi mata pada lobster tidak memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan lobster batik (P. longipes). Kata Kunci: Lobster Batik, Ablasi Mata, Pertumbuhan.