Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

KETERKAITAN RPJMDES TERHADAP RPJMD KABUPATEN Ahmad Adam Althusius; Yori Herwangi; Ahmad Sarwadi
UNEJ e-Proceeding Seminar Nasional Ekonomi dan Bisnis (SNAPER-EBIS 2017) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jembe
Publisher : UPT Penerbitan Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Singkronisasi/keterkaitan pada rancanaan pembangunan yang terstratifikasi antara Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) adalah agar tercapai efektivitas pencapaian sasaran pembangunan nasional yang juga menjadi sasaran pembangunan daerah. Penyelarasan arah kebijakan dilakukan untuk mengintegrasikan program dan kegiatan pembangunan Kabupaten/Kota dengan pembangunan Desa. Fokus penelitian ini adalah untuk melihat seberapa jauh keterkaitan tersebut, serta mencari faktor-faktor yang mempengaruhi level keterkaitan antara RPJMDes terhadap RPJMD. Penelitian ini mengunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Dari 126 desa yang terdapat di wilayah amatan, terkumpul 103 dokumen RPJMDes yang diperoleh dari instansi pemerintahan kabupaten. Metode yang digunakan adalah analisis isi dan analisis pernyataan yang hasilnya digunakan sebagai panduan penggalian data primer secara kualitatif. Dari lima faktor penyebab level keterkaitan RPJMDes terhadap RPJMD disimpulkan bahwasannya faktor motivasi tim penyusun merupakan faktor dominan. Dibutuhkan dokumen pedoman penyusunan yang merinci secara spesifik akan perlunya dan bagaimana teknis cara menyelaraskan arah kebijakan pembangunan untuk menanggulangi faktor motivasi penyusun, koordinasi, waktu penyusunan, serta latar belakang pendidikan penyusun agar RPJMDes memiliki keterkaitan yang tinggi terhadap RPJMD.
EFEKTIVITAS KINERJA PROGRAM PENYEDIAAN SARANA PRASARANA PERMUKIMAN (STUDI KASUS: PROGRAM PENATAAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN BERBASIS KOMUNITAS KELURAHAN KARANGWARU KECAMATAN TEGALREJO KOTA YOGYAKARTA) Yanuar Kusuma Wardani; Yori Herwangi; Ahmad Sarwadi
UNEJ e-Proceeding Seminar Nasional Ekonomi dan Bisnis (SNAPER-EBIS 2017) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jembe
Publisher : UPT Penerbitan Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan permukiman kumuh perkotaan terjadi akibat kurangnya akses layanan sarana dan prasarana lingkungan. Bentuk peran pemerintah dalam pemberantasan permukiman kumuh ialah dengan mencanangkan Program Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLPBK) yang melibatkan pemerintah, kelembagaan, dan masyarakat. Program PLPBK ditekankan kepada perubahan perilaku masyarakat dalam menciptakan lingkungan hunian yang layak huni dengan pembangunan fisik sebagai media belajar masyarakat dalam memecahkan permasalahan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur efektivitas Program PLPBK berdasarkan kinerja output, outcome, dan impact. Pendekatan penelitian yang digunakan ialah pendekatan deduktif dan metode analisis kuantitatif dengan alat analisis statistik deskriptif. Konsep evaluasi dari efektivitas program PLPBK menggunakan konsep evaluasi sumatif. Data penelitian yang digunakan berasal dari observasi lapangan, kuesioner, dan wawancara terhadap informan (tokoh kunci) yang mengetahui pelaksanaan program PLPBK. Unit amatan penelitian yaitu pelaksanaan program PLPBK di Kelurahan Karangwaru Kota Yogyakarta dengan unit analisinya pelaku dalam program PLPBK Kelurahan Karangwaru Kota Yogyakarta. Sampel responden yang digunakan dalam penelitian sejumah 96 KK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan tingkat efektivitas kinerja Program PLPBK Kelurahan Karangwaru sudah efektif. Semua kinerja mencakup kinerja output, kinerja outcome, maupun kinerja impact sudah efektif. Kinerja yang telah efektif menunjukkan bahwa tujuan dan sasaran dari Program PLPBK di Kelurahan Karangwaru sudah tercapai.
Public Transport Performance Based on the Potential Demand and Service Area (Case Study : Jakarta Public Transport) Muchammad Zaenal Muttaqin; Yori Herwangi; Cahyono Susetyo; Tri Sefrus; Muhammad Subair
Daengku: Journal of Humanities and Social Sciences Innovation Vol. 1 No. 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengembangan Teknologi dan Rekayasa, Yayasan Ahmar Cendekia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.538 KB) | DOI: 10.35877/454RI.daengku367

Abstract

The effectiveness and efficiency of public transport should be a priority for transportation in developing cities. Despite the efforts from the government to improve public transportation, in Jakarta City, Indonesia, there is still 9.93% increase of private vehicles annually per year. In detail, contributor for increasing vehicles in Jakarta is motorcycles with an average annual increase of 10.54% every year, followed by an increase in the percentage of passenger cars by 8.75%. In contrast, the number of public transportation increased only by 1.74%. This research did the evaluation for public transport service in Jakarta by availability and accessibility for them. Neighborhood analysis and Proximity analysis used in this research. The results of the research showed that major problems in public transportations in Jakarta City are the coverage area of the service, route connectivity, and its accessibility for public facilities. There are only 7.78% for coverage area by flexible bus stop service with average walking distance by 300 m. Thus, there are some areas that are not passed by public transport routes, for about 18.5 million people live in blank spot area.
Tahap Pengembangan Smart Kampung di Desa Ketapang Kabupaten Banyuwangi Vincentius Paulinus Baru; Achmad Djunaedi; Yori Herwangi
Jurnal Planoearth Vol 4, No 2: Agustus 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (906.616 KB) | DOI: 10.31764/jpe.v4i2.1000

Abstract

Smart village merupakan sebuah konsep yang baru berkembang di dunia dan menjadi fenomena baru digunakan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan di desa. Desa Ketapang merupakan salah satu desa di kabupaten Banyuwangi yang telah berhasil mengadopsi konsep ini untuk dikembangkan di wilayah mereka. Dalam penerapannya berhasil digunakan untuk mengatasi berbagai permasalahan yang terjadi di desa. Untuk itu perlu dilakukan penelitian untuk menjelasakan tahapan pengembangan dan faktor-faktor apa saja yang berpengaruh dalam pengembangan konsep ini sehingga berhasil. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus eksploratif berbekal sedikit teori dan mengeksplorasi kasus dilapangan. Hasil dari penelitian ini, tahapan perkembangan smart village terdiri dari empat tahap yaitu tahapan persiapan (2011-2015), tahapan pelaksanaan (Akhir 2015-2016), tahap pengembangan (2017-2018) dan tahap monitoring dan evaluasi. Program kegiatan yang dilakukan dalam tahap persiapan terdiri dari pembangunan infrastruktur TIK dan pengembangan aplikasi layanan, penyiapan sumber daya aparatur pemerintah dan pengembangan komunitas masyarakat.Faktor-faktor yang berpengaruh dalam tahapan pengembangan smart kampung antara lain faktor kepemimpinan, teknologi, dukungan warga dan alokasi anggaran. Abstract: Smart village is a concept that has just developed in the world and has become a new phenomenon used to solve various problems in the village. Ketapang Village is one of the villages in Banyuwangi district that has successfully adopted this concept to be developed in their area. In its implementation, it was successfully used to overcome various problems that occurred in the village. For this reason, research is needed to explain the stages of development and what factors are influential in developing this concept so that it works. This study uses a qualitative approach with explorative case study methods armed with little theory and explores cases in the field. The results of this study, the stages of development of smart village consist of four stages, namely the preparation stage (2011-2015), the implementation stage (End of 2015-2016), the development stage (2017-2018) and the monitoring and evaluation stages. Factors that influence the stages of smart village development include leadership, technology, citizen support, and budget allocations.The phases of the village smart development of Ketapang consist of the preparation stage (2011- 2015), the stage of implementation (2015-2016), the development stage (2017-2018), and the Monitoring and evaluation stage (in each year). The Program activities conducted in the preparatory phase consist of ICT infrastructure development and Service application development, government apparatus resource preparation and community development.
ANALISIS PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KAWASAN PERDESAAN EKS TRANSMIGRASI KECAMATAN WASILE KABUPATEN HALMAHERA TIMUR Muchlis Husin; Yori Herwangi
Jurnal Planoearth Vol 3, No 2: Agustus 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (710.198 KB) | DOI: 10.31764/jpe.v3i2.621

Abstract

Kawasan perdesaan Cemara Jaya dan Batu Raja merupakan salah satu kawasan perdesaan eks transmigrasi di Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara yang saat ini telah berkembang pesat, baik dari aspek sosial ekonomi maupun perkembangan fisik. Berbagai perkembangan tersebut menyebabkan meningkatnya perubahan penggunaan lahan, terutama perubahan dari lahan non produktif menjadi lahan produktif. Untuk itu diperlukan analisis terkait penggunaan lahan untuk menggambarkan dinamika perubahan yang terjadi. Analisis yang digunakan adalah analisis overlay yang dilakukan secara multi periode yakni tahun 1982, 1990, 2000, 2010, dan 2017. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perubahan penggunaan lahan di kawasan perdesaan Cemara Jaya dan Batu Raja dari penggunaan lahan yang didominasi hutan menjadi penggunaan lahan yang didominasi sawah.
Peran Struktur Sosial dalam Pembangunan Sarana Prasarana Permukiman Perkotaan (Studi Kasus: PLPBK Kelurahan Karangwaru Kecamatan Tegalrejo Kota Yogyakarta) Yanuar Kusuma Wardani; Yori Herwangi; Ahmad Sarwadi
Jurnal Ilmu Pemerintahan Widya Praja Vol 44 No 1 (2018)
Publisher : Lembaga Riset dan Pengkajian Strategi Pemerintahan (LRPSP), Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (845.02 KB) | DOI: 10.33701/jipwp.v44i1.215

Abstract

Social structure is one of the important elements in development. Elements in the social structure will form relationships and form joint actions on the program. PLPBK Program in Karangwaru Village, Tegalrejo Sub-District, Yogyakarta City has focus on society. Social life is closely related to social structure. Based on the explanation, the purpose of this research is to determine the role of social structure in the PLPBK program in Karangwaru Village. The approach of this research is deductive qualitative. The method of analysis used is descriptive qualitative. Methods of data collection using field observation, secondary survey, and primary survey. Sampling technique of primary survey using non-probability sampling that is purposive sampling. The results showed that the social structure in Karangwaru Village has a positive and negative role in the PLPBK program. Social institutions, social groups, power and authority, and culture have a positive role while social stratification and social dynamics have a positive and negative role. The function of social structures such as maintaining patterns, integration, achieving objectives, and adaptation has been demonstrated by the social structure in the PLPBK program at Karangwaru Village.Keywords: Development; Infrastructure; Social Structure; Society
Evaluasi Kinerja Terminal Warumusio Sebagai Terminal Regional Baru di Kota Baubau: The Evaluation Of Warumusio Terminal’s Performance As A New Regional Terminal In Baubau City Lely Ersilya; Yori Herwangi
Jurnal Sinar Manajemen Vol. 9 No. 3: NOVEMBER 2022
Publisher : Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jsm.v9i3.2626

Abstract

Terminal Warumusio, terletak di Kota Baubau Provinsi Sulawesi tenggara. Beberapa armada di Terminal Warumusio tidak memanfaatkan lokasi dan fasilitas yang ada di terminal dalam hal menaikkan dan menurunkan penumpang. Salah satu faktor diduga yang menyebabkan calon penumpang/penumpang dan pengemudi enggan untuk memanfaatkan terminal yang telah disediakan, yaitu karena Karakteristik lahan dan beberapa fasilitas yang ada di terminal warumusio belum terpenuhi sesuai dengan standar ketentuan fasilitas terminal. Oleh karena itu, akan dikaji terkait evaluasi kinerja terminal warumusio dengan melihat tingkat pelayanan kinerja terminal warumusio. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk Mengukur kinerja terminal warumusio sebagai Terminal Regional baru di Kota Baubau. Data diperoleh dengan cara Observasi secara langsung di Terminal warumusio dengan menggunakan Analisis normatif untuk mengetahui bagaimana kinerja terminal warumusio Hasil analisis menunjukkan bahwa Terminal Warumusio belum bekerja secara optimal sebagai Terminal Regional Baru di Kota Baubau, dan belum sepenuhnya memenuhi standar terminal Tipe B, tetapi ada beberapa hal yang telah memenuhi standar atau kriteria dari terminal tipe B yaitu Lokasi, sirkulasi, dan volume penumpang dan pengemudi.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pemilihan Moda Transportasi Berjalan Kaki dan Sepeda di Kota Bogor Widianto Aji Wibowo; Yori Herwangi
Jurnal Indonesia Sosial Sains Vol. 3 No. 06 (2022): Jurnal Indonesia Sosial Sains
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.259 KB) | DOI: 10.59141/jiss.v3i06.602

Abstract

The development of the city as an economic and trade node is very important for the urban system and the regional economy. The distribution of centralized public facilities and services attracts people to work in the city center. In these conditions, the ideal form of the city is needed because to reach work, school, public services and so on can be done only by walking or cycling. This study aims to examine the characteristics and behavior of walking and bicycle mode selection based on the shape of the urban environment, demographic, social and economic conditions of the community. And look at the factors that might influence the decision to choose the mode of transportation. This study uses a quantitative deductive approach. This research method is based on a questionnaire along with interviews and field observations. The study was conducted in eight urban villages in the city of Bogor. The target respondents are individuals who reside/domicile in the area. The results showed that walking mode was the most frequently chosen mode of travel. In addition, the bicycle mode is the second most frequently used mode. The influencing city form factor is the access and affordability of public facilities and services such as bus stops and commercial areas. In addition, population density and the level of land use are also influential factors. Furthermore, demographic, social, and economic factors that influence are income, personal vehicle ownership, days of travel, and ability to walk based on the furthest distance. In addition, there are other factors that influence, namely the travel time to the destination, affordable costs, as well as the safety and comfort of pedestrian and bicycle paths.
PENGUKURAN SPASIAL URBAN SPRAWL DI KOTA MALANG MENGGUNAKAN SHANNON’S ENTROPY Salsha Firsty Agustina; Yori Herwangi
JURNAL RISET PEMBANGUNAN Vol 5, No 2 (2023)
Publisher : BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36087/jrp.v5i2.131

Abstract

Urban sprawl merupakan fenomena perkembangan wilayah dengan kepadatan rendah yang berada di wilayah pinggiran kota karena keterbatasan ruang yang tersedia di pusat kota. Adanya indikasi fenomena penjalaran fisik kekokaatan di Kota Malang dilihat dari pembangunan perumahan-perumahan di pinggiran wilayah kota. Hal ini didukung dengan perkembangan wilayah Kota Malang yang ditinjau menurut RTRW Kota Malang Tahun 2010 – 2030 terdapat konsep pengembangan Malang Raya dengan mengarahkan pengembangan perkotaan Malang dengan sekitarnya membentuk kota inti dan satelit. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur penjalaran fisik kekotaan secara spasial yang terjadi di Kota Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan Sistem Informasi Geografis (GIS) dan pendekatan Shannon Entropy. Data yang diperoleh adalah data sekunder yakni data perkembangan lahan terbangun Kota Malang pada tahun 2006, 2012, dan 2020. Hasil temuan pada penelitian ini menunjukkan nilai indeks relative entropy mendekati angka 1 dan kecenderungan penjalaran linier terhadap jalan. Penjalaran terlihat mengarah ke Utara, Barat, dan Timur pinggiran Kota Malang. Pada wilayah utara tepatnya pada Kecamatan Lowokwaru mengarah ke Kecamatan Singosari. Penjalaran juga terjadi pada wilayah barat dari Kecamatan Blimbing dan Kecamatan Kedungkandang mengarah ke Kecamatan Pakis Kabupaten Malang.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN KEBIJAKAN TERHADAP STATUS KAWASAN STRATEGIS TANJUNG BERIKAT PADA PERUBAHAN RTRW KABUPATEN BANGKA TENGAH Fradita Sandi; Yori Herwangi
JEM Jurnal Ekonomi dan Manajemen Vol 6 No 1 (2020): JEM JURNAL EKONOMI DAN MANAJEMEN
Publisher : LPPM STIE PERTIBA Pangkalpinang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A common problem often faced by local government, is the underdevelopment and inequality. To overcome this problem and to be able to compete with other regions, Central Bangka Regency seeks to accelerate economic development through the development of the Tanjung Berikat Strategic Zone. It has been planned since 2011 in the Regency Spatial Plan by establishing it as KSK and KSP. However, in 2019, the Central Bangka Regency Government has changed its policy by not establishing Tanjung Berikat as the KSK. This study aims to identify the factors that influence the policy changes of the Central Bangka Regency Government about status of the Tanjung Berikat Strategic Zone on the change of the Central Bangka Regency spatial plan. The method used in this study is a qualitative research method with a descriptive approach. Data collection techniques used are observation, interview and documentation. The results of this study indicate that the policy change towards the status of the Tanjung Berikat Strategic Zone at the change of Bangka Tengah Regency spatial plan is due to changes in opinion on the plan, the lessons learned from previous experience, and also part of the strategy to realize the plan.