Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Jurnal Agro

Keragaan karakter morfo-agronomi beberapa aksesi bawang merah (Allium cepa L.) lokal jawa berdasarkan analisis multivariat Azizah, Elia; Ardiyansah, Ardiyansah; Fauzi, Iqbal
Jurnal AGRO Vol 11, No 2 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/38577

Abstract

Shallot production still fluctuative in several production centers such as Brebes due to the lack of new superior varieties with a high level of adaptation in areas of Indonesia that are prone to damage from land conversion, weather, and low technology application. The study aimed to obtain the best morphological and agronomic appearance of lowland shallots accessions through clustering analysis, and to obtain the limiting characters that provide the highest variation in the population. The research was conducted at the Experimental Farm, Faculty of Agriculture, Singaperbangsa University of Karawang in Pasirjengkol Village, West Java. Field trials were conducted during one growing season using 8 accessions of shallots from different regions, including the accession of Cikijing, Pati, Nganjuk, Trisula, Bima, Berlin, Maja, and Bandung with 15 observed morpho-agro characters. The research was conducted using a single-factor randomized block design with 4 replications, further tested using cluster and principal component analysis (PCA). The results showed that the level of similarity of Trisula accession was very different from other accessions (0.2) for the widest diameter and tuber shape characters. In contrast, the accessions Berlin and Maja have the same morpho-agro appearance (0.8) in tuber diameter, root tip shape, tuber shape, tuber skin thickness, leaf color, crown curvature, and tuber color. The limiting characteristics causing the highest variation in the population are the dry weight of tubers per plant and the shape of the tip tuber stem. ABSTRAK Produksi bawang merah masih fluktuatif di beberapa sentra bawang merah seperti brebes, hal ini akibat belum adanya varietas unggul baru yang memiliki tingkat adaptasi luas pada wilayah di Indonesia yang cenderung mengalami kerusakan akibat alih fungsi lahan, cuaca, dan rendahnya penerapan teknologi. Tujuan penelitian untuk mendapatkan aksesi bawang merah yang memiliki penampilan morfologi dan agronomi terbaik di dataran rendah melalui analisis klaster serta mendapatkan karakter pembatas yang memberikan variasi tertinggi pada populasi. Penelitian dilaksanakan dikebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Singaperbangsa Karawang di Desa Pasirjengkol, Jawa Barat. Percobaan lapangan dilaksanakan selama satu musim tanam dengan 8 aksesi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) yang diambil dari berbagai wilayah diantaranya yaitu aksesi Cikijing, Pati, Nganjuk, Trisula, Bima, Berlin, Maja, dan Bandung berdasarkan 15 karakter morfo-agro yang diamati. Penelitian dilakukan dengan rancangan acak kelompok faktor tunggal dengan 4 ulangan, kemudian diuji lanjut dengan analisis kluster dan komponen utama (principle component analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kemiripan (similarity) aksesi Trisula jauh berbeda dengan aksesi lainnya (0,2) untuk karakter diameter terluas dan bentuk umbi. Berbeda dengan aksesi Berlin dan Maja yang memiliki penampilan morfo-agro yang sama (0,8) pada diameter umbi, bentuk ujung akar, bentuk umbi, ketebalan kulit umbi, warna daun, kelengkungan tajuk, dan warna umbi. Adapun karakter pembatas yang menyebabkan variasi tertinggi pada populasi adalah bobot kering umbi per tanaman dan bentuk ujung batang umbi.
Keragaan karakter morfo-agronomi beberapa aksesi bawang merah (Allium cepa L.) lokal jawa berdasarkan analisis multivariat Azizah, Elia; Ardiyansah, Ardiyansah; Fauzi, Iqbal
Jurnal AGRO Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/38577

Abstract

Shallot production still fluctuative in several production centers such as Brebes due to the lack of new superior varieties with a high level of adaptation in areas of Indonesia that are prone to damage from land conversion, weather, and low technology application. The study aimed to obtain the best morphological and agronomic appearance of lowland shallots accessions through clustering analysis, and to obtain the limiting characters that provide the highest variation in the population. The research was conducted at the Experimental Farm, Faculty of Agriculture, Singaperbangsa University of Karawang in Pasirjengkol Village, West Java. Field trials were conducted during one growing season using 8 accessions of shallots from different regions, including the accession of Cikijing, Pati, Nganjuk, Trisula, Bima, Berlin, Maja, and Bandung with 15 observed morpho-agro characters. The research was conducted using a single-factor randomized block design with 4 replications, further tested using cluster and principal component analysis (PCA). The results showed that the level of similarity of Trisula accession was very different from other accessions (0.2) for the widest diameter and tuber shape characters. In contrast, the accessions Berlin and Maja have the same morpho-agro appearance (0.8) in tuber diameter, root tip shape, tuber shape, tuber skin thickness, leaf color, crown curvature, and tuber color. The limiting characteristics causing the highest variation in the population are the dry weight of tubers per plant and the shape of the tip tuber stem. ABSTRAK Produksi bawang merah masih fluktuatif di beberapa sentra bawang merah seperti brebes, hal ini akibat belum adanya varietas unggul baru yang memiliki tingkat adaptasi luas pada wilayah di Indonesia yang cenderung mengalami kerusakan akibat alih fungsi lahan, cuaca, dan rendahnya penerapan teknologi. Tujuan penelitian untuk mendapatkan aksesi bawang merah yang memiliki penampilan morfologi dan agronomi terbaik di dataran rendah melalui analisis klaster serta mendapatkan karakter pembatas yang memberikan variasi tertinggi pada populasi. Penelitian dilaksanakan dikebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Singaperbangsa Karawang di Desa Pasirjengkol, Jawa Barat. Percobaan lapangan dilaksanakan selama satu musim tanam dengan 8 aksesi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) yang diambil dari berbagai wilayah diantaranya yaitu aksesi Cikijing, Pati, Nganjuk, Trisula, Bima, Berlin, Maja, dan Bandung berdasarkan 15 karakter morfo-agro yang diamati. Penelitian dilakukan dengan rancangan acak kelompok faktor tunggal dengan 4 ulangan, kemudian diuji lanjut dengan analisis kluster dan komponen utama (principle component analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kemiripan (similarity) aksesi Trisula jauh berbeda dengan aksesi lainnya (0,2) untuk karakter diameter terluas dan bentuk umbi. Berbeda dengan aksesi Berlin dan Maja yang memiliki penampilan morfo-agro yang sama (0,8) pada diameter umbi, bentuk ujung akar, bentuk umbi, ketebalan kulit umbi, warna daun, kelengkungan tajuk, dan warna umbi. Adapun karakter pembatas yang menyebabkan variasi tertinggi pada populasi adalah bobot kering umbi per tanaman dan bentuk ujung batang umbi.
Respon mortalitas dan pertumbuhan nimfa menjadi imago wereng batang cokelat (Nilaparvata lugens Stål.) terhadap lima jenis insektisida pada beberapa populasi di pulau Jawa lintang cahya bhekti; siriyah, Siti latifatus; azizah, elia; Irfan, Budi
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 2 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.51032

Abstract

Wereng batang cokelat (Nilaparvata lugens Stål.) merupakan hama utama padi yang menyebabkan gejala hopper burn dan menjadi vektor penyakit virus. Pengendalian dengan insektisida masih menjadi pilihan utama petani, namun efektivitasnya sangat dipengaruhi oleh riwayat penggunaan di lapangan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh beberapa insektisida (fenobucarb, triflumezopyrim, pymetrozine, imidakloprid, dan nikotin) terhadap mortalitas nimfa serta persentase keberhasilan perubahan nimfa menjadi imago dari enam populasi N. lugens (lima lapangan dan satu standar laboratorium). Percobaan dilakukan menggunakan rancangan split plot dengan tiga ulangan, dan data dianalisis menggunakan ANOVA serta uji lanjut DMRT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenobucarb, triflumezopyrim, dan pymetrozine memberikan mortalitas tinggi (>80%) sekaligus menekan keberhasilan nimfa menjadi imago (<12%). Imidakloprid menunjukkan efektivitas rendah dengan mortalitas hanya 31,2–45,7% dan keberhasilan imago >50%, mengindikasikan adanya ketahanan pada reseptor nikotinat asetilkolin. Nikotin menghasilkan mortalitas sedang (55,8–73,4%) dengan imago 25,6–38,2%, yang kurang presisten namun lebih ramah lingkungan. Perbedaan antar lokasi menunjukkan bahwa populasi dari Karawang dan Indramayu lebih toleran terhadap perlakuan insektisida dibanding populasi lainnya. Hasil ini menegaskan bahwa evaluasi insektisida perlu mempertimbangkan mortalitas dan keberhasilan nimfa menjadi imago sebagai parameter subletal untuk mendukung strategi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang berkelanjutan. ABSTRACT The brown planthopper (Nilaparvata lugens Stål.) is a major rice pest that causes hopper burn symptoms and acts as a vector for viral diseases. Control with insecticides remains the primary option for farmers, but its effectiveness is greatly influenced by the history of use in the field. This study aimed to evaluate the effect of several insecticides (fenobucarb, triflumezopyrim, pymetrozine, imidacloprid, and nicotine) on nymph mortality and the percentage of successful nymph-to-adult emergence from six populations of N. lugens (five field populations and one laboratory standard population). The experiment was conducted using a split-plot design with three replicates, and the data were analyzed using ANOVA and DMRT follow-up tests at a 5% level. The results showed that fenobucarb, triflumezopyrim, and pymetrozine caused high mortality (>80%) and suppressed the success rate of nymphs becoming adults (<12%). Imidacloprid showed low effectiveness with mortality of only 31.2–45.7% and adult emergence >50%, indicates resistance to acetylcholine nicotinic receptors. Nicotine produced moderate mortality (55.8–73.4%) with adult emergence of 25.6–38.2%, less persistent but more environmentally friendly. The result indicate that population from Karawang and Indramayu are more tolerant to insecticide treatment than other populations. These results confirm that insecticide evaluation should consider mortality and nymph-to-adult emergence success as sublethal parameters to support control strategies.