Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

ANALISIS FINANSIAL USAHA BUDIDAYA IKAN NILA(Oreochromis niloticus) PADA KARAMBA JARING TANCAP DI DESA ERIS KECAMATAN ERIS KABUPATEN MINAHASA PROVINSI SULAWESI UTARA Selaindoong, Gabrielle F.; Jusuf, Nurdin; Rarung, Lexy K.
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 7, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.7.1.2019.24403

Abstract

AbstrakTujuan penelitian ini menganalisis secara finansial dan menentukan usaha budidaya ikan nila di Karamba Jaring TancapDesa Eris Kecamatan Eris Kabupeten Minahasa layak atau tidak. Desa Eris Kecamatan Eris Kabupaten Minahasa salah satu desa yang terletak disekitar Danau Tondano yang menjadi tempat usaha pembesaran budidaya ikan nila(Oreochromis niloticus) dengan menggunakan media karamba jaring tancap. Usaha ini sudah berkembang dan berjalan cukup lama hingga sekarang. Sehubungan dengan semakin meningkatnya produksi ikan maka para pembudidaya perlu mengembangkan usaha budidaya ikan nila tersebut dengan sebaik mungkin agar pembudidaya tidak mengalami kerugian, untuk itu diperlukan suatu analisis kelayakan usaha tersebut.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus, dimana pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel data dengan pertimbangan pembudidaya adalah pemilik usaha yang bekerja langsung dalam usaha tersebut. Responden yang diambil adalah 25 orang.Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan Observasi, wawancara dan studi pustaka.Analisis finansial yang digunakan yaitu,Operating profit, Net profit, Profit Rate, Benefit Cost Ratio, Rentabilitas, Break Even Point, dan Payback Period.Berdasarkan hasil analisis secara finansial dari usaha karamba jaring tancap mendapatkan bahwa usaha layak dijalankan karena nilai operating profit yaituRp. 419.900.000. Profit rate dari usaha tersebut mempunyai kemampuan untuk menghasilkan keuntungan mencapai 40% dari seluruh biaya yang dikeluarkan. BCR > 1 yaitu, BCR 1,40 yang artinya usaha tersebut layak untuk dijalankan. Rentabilitas termasuk dalam kategori sangat baik  > 100 yaitu 245%. BEP atau titik impas untuk penjualanRP. 103.968.539 dan satuan 4.332 kg.Payback period, yaitu 4,8 bulan. Net profit sebesar Rp. 386.631.010.Saran yang dapat diberikan sebaiknya membuat pakan sendiri untuk menghemat biaya pengeluaran dan untuk mendapatkan harga yang lebih baikperlu melakukan promosi dan bisa mencari pasar untuk diekspor.lexyrarung@unsrat.ac.id
AKTIVITAS KELUARGA NELAYAN BAJO DESA KINABUHUTAN KECAMATAN LIKUPANG BARAT KABUPATEN MINAHASA UTARAPROVINSI SULAWESI UTARA Moldjo, Sri Y.; Aling, Djuwita R.R.; Jusuf, Nurdin
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 7, No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.7.2.2019.28138

Abstract

AbstractThis study examines the general condition of the fishing community in the village of Kinabuhutan and knows the family activities of the Bajo fishermen in the village of Kinabuhutan. The method used is a case study method or approach. This research intensively focused on one particular object that studied it as a case, by taking the case against Bajo Fishermen, Kinabuhutan Village, West Likupang District, North Minahasa Regency.Total population of Kinabuhutan village are 1,086 people, the number of supporters based on the level of education as many as 285 people, work as many as 401. The family activities of Bajo fishermen in Kinabuhutan Village ranging from waking up to going back to sleep. Traditional fishermen catch in the village of Kinabuhutan on fishing based on the type of fishing gear they have, carried out during the day and night. Before going to sea things they prepare are ranging from equipment to collect fish, gasoline, and food supplies. Ten (10) respondents said that the location of the capture was not too far away, the location was only about 1 mile to 3 miles from the coast to the waters around Talise Island, Gangga Island and Bangka Island. Traditional fishermen who catch their reef fish operate from 06.00 to 16.00, depending on the weather and income.The ownership of fishing gear owned by traditional fishermen in Kinabuhutan Village is classified as the use of gill nets and fishing rods, noru, as well as the pelang boats that most of the fishermen use pelang and light boats with 6-8 meters boat size with 5.5 PK engine size - 6.5 PK.Keyword: activity, family, fisherman, Bajo AbstrakPenelitian ini mengkaji tentang keadaan umum masyarakat nelayan di Desa Kinabuhutan dan mengetahui Aktivitas keluarga nelayan Bajo di Desa Kinabuhutan. Metode yang digunakan adalah metode atau pendekatan studi kasus (case study). Penelitian ini memusatkan diri secara intensif pada satu obyek tertentu yang mempelajarinya sebagai suatu kasus, dengan mengambil kasus terhadap Nelayan Bajo Desa Kinabuhutan Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Minahasa Utara.Total penduduk Desa Kinabuhutan sebesar 1.086 jiwa, jumlah pendukuk berdasarkan tingkat pendidikan sebanyak 285 jiwa, pekerjaan sebanyak 401. Aktivitas keluarga nelayan Bajo di Desa Kinabuhutan mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali.Bagi nelayan Bajo Operasi penangkapan nelayan tradisional di Desa Kinabuhutan pada penangkapan ikan berdasarkan pada jenis alat tangkap yang dimilikinya,dilakukan pada siang dan malam hari.Sebelum melaut hal-hal yang mereka persiapkan yaitu mulai dari perlengkapan untuk menampung ikan,bensin,dan bekal makanan. Sepuluh (10) orang responden mengatakan bahwa lokasi penangkapan tidak terlalu jauh, jarak lokasi hanya sekitar 1 mil sampai 3 mil dari pesisir pantai ke perairan sekitar pulau Talise, pulau Gangga dan pulau Bangka. Nelayan tradisional yang menangkap ikan karang mereka beroperasi mulai dari jam 06.00 wita sampai jam 16.00 wita,tergantung cuaca dan hasil pendapatan.Pemilikan alat tangkap yang dimiliki oleh nelayan tradisional di Desa Kinabuhutan diklasifikasikan atas penggunaan alat tangkap jaring  insang dan pancing noru, serta perahu pelang yang sebagian besar nelayan menggunakan perahu pelang dan perahu lampu dengan ukuran perahu 6-8 meter dengan ukuran mesin 5,5 PK - 6,5 PK.Kata kunci: aktivitas, keluarga, nelayan, Bajo
ANALISIS NILAI TUKAR NELAYAN PADA USAHA PUKAT PANTAI DI KELURAHAN TANDURUSA KECAMATAN AERTEMBAGA KOTA BITUNG PROVINSI SULAWESI UTARA Baiki, Anasthasya G.M; Jusuf, Nurdin; Rantung, Steelma V.
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 8, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.8.1.2020.28976

Abstract

AbstractThis study aims to determine the exchange rate of coastal trawlers in Tandurusa Village, Aertembaga District. This research was conducted in Tandurusa Village, Aertembaga Subdistrict, Bitung City, North Sulawesi Province in August 2019 to December 2019. Based on the results of the study found: (1) The exchange rate of fishermen in the total income and income of fisheries by fishermen owning trawlers is 3.91 and 19.63 means that fishermen can cover the needs of subsistence and fisheries business costs. (2) The fisherman exchange rate on total fisheries income and income by tonaas is 3.00 and 39.26 meaning that fishermen are able to cover subsistence needs and fishery business costs. (3) The exchange rate of fishermen for the total income and income of fishermen by working fishermen is 1.78 and 11.08, which means that fishermen are able to cover the needs of subsistence and fishery business costs. (4) Observations and calculations in September and October 2019 did not increase and decrease in NTN, with (iNTN) of 100. So, based on an analysis of NTN calculations already> 1, it means that the acceptance of the family of beach trawlers in Tandurusa Village, Aertembaga District, Kota Bitung, North Sulawesi Province is currently able to meet subsistence needs (basic needs).Keywords: beach nets, NTN, INTN, subsistence needs AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai tukar nelayan pukat pantai yang ada di Kelurahan Tandurusa Kecamatan Aertembaga. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Tandurusa, Kecamatan Aertembaga, Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara pada bulan Agustus 2019 sampai Desember 2019. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan: (1) Nilai tukar nelayan pada total pendapatan dan pendapatan perikanan oleh nelayan pemilik pukat pantai sebesar 3,91 dan 19,63 artinya nelayan mampu menutupi kebutuhan subsisten dan biaya usaha perikanan. (2) Nilai tukar nelayan pada total pendapatan dan pendapatan perikanan oleh tonaas sebesar 3,00 dan 39,26 artinya nelayan mampu menutupi kebutuhan subsisten dan biaya usaha perikanan. (3) Nilai tukar nelayan pada total pendapatan dan pendapatan perikanan oleh nelayan pekerja sebesar 1,78 dan 11,08 artinya nelayan mampu menutupi kebutuhan subsisten dan biaya usaha perikanan. (4) Pengamatan dan perhitungan pada bulan September dan Oktober 2019 tidak mengalami kenaikan dan penurunan NTN, dengan (iNTN) sebesar 100. Jadi, berdasarkan analisis perhitungan NTN sudah >1, artinya penerimaan keluarga nelayan pukat pantai di Kelurahan Tandurusa, Kecamatan Aertembaga, Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara untuk saat ini sudah mampu memenuhi kebutuhan subsisten (kebutuhan dasar).Kata Kunci: pukat pantai, NTN, INTN, kebutuhan subsisten
ANALISIS NILAI TAMBAH PADA PRODUK PENGALENGAN IKAN TUNA DI PT. SAMUDRA MANDIRI SENTOSA, KOTA BITUNG, PROVINSI SULAWESI UTARA Talumesang, Anastasia S.; Longdong, Florence V.; Jusuf, Nurdin
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 8, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.8.1.2020.28972

Abstract

AbstractAdded value is value added that occurs because a commodity experiences a process of processing, transporting, and storing in a production process (use / giving functional input). This study aims to identify and analyze the added value of tuna canning products at PT. Samudra Mandiri Sentosa, Bitung City, North Sulawesi Province. The method used in this research is survey. The data taken in this study consisted of primary data and secondary data. Primary data is data obtained from interviews using a questionnaire and direct observation to the field. Primary data collection in this study was conducted by sampling method, while sampling using purposive sampling method with respondents, namely managers in the production company PT. Samudra Mandiri Sentosa, Bitung City, North Sulawesi Province which is the informant for the research topic. Secondary data is supporting data on primary data obtained from various written sources both from related institutions, companies and libraries related to value added analysis. Analysis of the data used in this research is descriptive qualitative analysis and quantitative descriptive analysis. Qualitative descriptive analysis that is used to provide an overview and information about tuna canning products by using the author's sentence in a systematic and easy to understand manner in accordance with the data obtained. The data depicted in a qualitative descriptive analysis in the form of the general state of the Bitung city fishing industry, the general state and organizational structure of the company PT. Samudra Mandiri Sentosa, workers and company products and processing activities. Quantitative descriptive analysis was conducted to analyze the added value of tuna canning products. Data analysis was assisted by using Microsoft Excel software. Systematically the value added function (NT) using the method of Hayami, et al (1987) in Nurhayati (2004) can be formulated as follows: NT = f (T, H, U, h)Keywords: PT. Samudra Mandiri Sentosa, Fish Canning, Value Added AbstrakNilai tambah merupakan pertambahan nilai yang terjadi karena suatu komoditi mengalami proses pengolahan, pengangkutan, dan penyimpanan dalam suatu proses produksi (penggunaan/pemberian input fungsional). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis nilai tambah pada produk pengalengan ikan tuna di PT. Samudra Mandiri Sentosa, Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei. Data yang diambil dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan menggunakan kuesioner dan observasi langsung ke lapangan. Pengambilan data primer dalam penelitian ini dilakukan dengan metode sampling, adapun pengambilan sampling menggunakan metode purposive sampling dengan responden yaitu manajer dibidang produksi perusahaan PT. Samudra Mandiri Sentosa, Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara yang merupakan informan untuk topik penelitian. Data sekunder merupakan data pendukung pada data primer yang diperoleh dari berbagai sumber tertulis baik dari instansi terkait, perusahaan maupun pustaka yang berhubungan dengan analisis nilai tambah. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif dan analisis deskriptif kuantitatif. Analisis deskriptif kualitatif yang digunakan untuk memberi gambaran serta keterangan mengenai produk pengalengan ikan tuna dengan menggunakan kalimat penulis secara sistematis dan mudah dimengerti sesuai dengan data yang diperoleh. Data yang digambarkan dalam analisis deskriptif kualitatif berupa keadaan umum industri perikanan kota Bitung, keadaan umum dan struktur organisasi perusahaan PT. Samudra Mandiri Sentosa, pekerja dan produk perusahaan serta kegiatan pengolahan. Analisis deskriptif kuantitatif dilakukan guna menganalisis nilai tambah produk pengalengan ikan tuna. Analisis data dibantu dengan menggunakan software microsoft excel. Secara sistematis fungsi nilai tambah (NT) menggunakan metode Hayami, dkk (1987) dalam Nurhayati (2004) dapat di rumuskan sebagai berikut : NT = f (T, H, U, h)Kata Kunci : PT. Samudra Mandiri Sentosa, Pengalengan Ikan, Nilai Tambah
PERAN PEREMPUAN PETIBO TERHADAP PENINGKATAN EKONOMI RUMAH TANGGA NELAYAN DI DESA KUMU KECAMATAN TOMBARIRI KABUPATEN MINAHASA PROVINSI SULAWESI UTARA Tumoka, Christian T.D; Jusuf, Nurdin; Kotambunan, Olvie V.
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 8, No 2 (2020): Oktober 2020
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.8.2.2020.30625

Abstract

AbstractBased on the results of research and discussion, it can be concluded that: the condition of the woman in the village Kumu district of West Sulawesi Minahasa province Includes age, education level, place of residence and total family liabilities. The role of female Petibo in the village of Kumu there are 2 namely: (a) role in social life is the role of women Petibo in the care of families and roles in community environment such as following the PKK (Family Welfare Empowerment); (b) The role in economic life is the role women of Petibo to help husbands meet the needs of families. Contribution of women's income of Petibo to the increase in the economy of the fishermen households of 20 female respondents Petibo have an average income of RP. 972,100-Per month (35.0%).Keywords: role, petibo women, economic enhancement, Kumu villageAbstrakBerdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa : Keadaan perempuan petibo yang ada di Desa Kumu Kecamatan Tombariri Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara. Meliputi umur, tingkat pendidikan, keadaan tempat tinggal dan jumlah tanggungan keluarga. Peran perempuan petibo di Desa Kumu ada 2 yaitu, (a) Peran dalam kehidupan sosial adalah peran perempuan petibo dalam mengurus keluarga dan peran dalam lingkungan masyarakat seperti mengikuti PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga); (b) Peran dalam kehidupan ekonomi adalah peran perempuan petibo untuk membantu suami memenuhi kebutuhan keluarga. Kontribusi pendapatan perempuan petibo terhadap peningkatan ekonomi rumah tangga nelayan dari 20 responden perempuan petibo memiliki pendapatan rata – rata yaitu RP. 972.100- perbulan (35,0%).Kata Kunci : peran, perempuan petibo, peningkatan ekonomi, Desa Kumu
KAJIAN NILAI TUKAR PEMBUDIDAYA USAHA BUDIDAYA RUMPUT LAUT MENGHADAPI ERA NEW NORMAL DI DESA PELING SEASA KECAMATAN BULAGI KABUPATEN BANGGAI KEPULAUAN PROVINSI SULAWESI TENGAH Dawaso, Agri; Jusuf, Nurdin; Manoppo, Victoria E.N; Sondakh, Srie J.; Tambani, Grace O.; Ngangi, Edwin L.A.
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 9, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.9.1.2021.34059

Abstract

AbstractBased on the results and discussion of this research, it can be concluded: (a) The exchange rate of seaweed farming income is calculated based on the ratio between the total income and the total expenditure of the business. Based on the results of the NTP calculation for the seaweed cultivation business, the seaweed cultivation income is 438,881. The result of this NTP value is greater than 100, where the seaweed cultivator business can cover the costs incurred from the business; (b) The exchange rate of seaweed cultivators to total income can be calculated based on the ratio between the total income of seaweed cultivators, both from fishery and non-fishery businesses, and expenditures for seaweed cultivators from both cultivation and family consumption. Based on the results of the NTP calculation for the seaweed cultivator business, the total income was 147.41. This NTP value is greater than 100, which indicates that the income from the seaweed cultivator business can cover the subsistence needs (basic needs) of the seaweed cultivator family.     AbstrakBerdasarkan hasil dan pembahasan penelitian ini, dapat disimpulkan: (a) Nilai tukar pendapatan usaha budidaya rumput laut dihitung berdasarkan perbandingan antara jumlah pendapatan dan jumlah pengeluaran dari usaha tersebut. Berdasarkan hasil perhitungan NTP untuk usaha budidaya rumput laut pada pendapatan budidaya rumput laut sebesar 438,881. Nilai NTP ini hasilnya lebih besar dari 100, dimana usaha pembudidaya rumput laut dapat menutupi biaya yang ditimbulkan dari usaha tersebut; (b) Nilai tukar pembudidaya rumput laut pada total pendapatan dapat dihitung berdasarkan perbandingan antara jumlah total pendapatan pembudidaya usaha rumput rumput laut, baik dari usaha perikanan dan non perikanan berbanding dengan pengeluaran usaha pembudidaya rumput laut baik dari usaha budidaya dan konsumsi keluarga. Berdasarkan hasil perhitungan NTP untuk usaha pembudidaya rumput laut pada total pendapatan sebesar 147,41. Nilai NTP ini hasilnya lebih besar dari 100, hal mana mengindikasikan bahwa pendapatan dari usaha pembudidaya rumput laut dapat menutupi kebutuhan subsisten (kebutuhan dasar) keluarga pembudidaya rumput laut.
KAJIAN SOSIAL EKONOMI NELAYAN ALAT TANGKAP JUBI PADA ERA NEW NORMAL DI DESA KAHAKITANG KECAMATAN TATOARENG KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE PROVINSI SULAWESI UTARA Jamin, Lasrin; Manoppo, Victoria E.N.; Jusuf, Nurdin; Longdong, Florence V.; Rarung, Lexy K.; Opa, Esry T.
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 9, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.9.1.2021.34611

Abstract

AbstractThe aim of the study is to analyze the Socio-Economic condition of Jubi Fishermen in Kahakitang Village in the New Normal Era? The research was conducted in Kahakitang Village, Tatoareng District, Sangihe Islands Regency for approximately 5 months, from August-December 2020. The research method used the census method, primary data sources and secondary data; will be discussed and analyzed based on the analysis of quantitative descriptions and qualitative descriptions.The total population of Kahakitang Island is 2,088 people or about 420 families. Most of the people in Kahakitang Village are fishermen using jubi fishing gear. Age shows that fishermen in Kahakitang Village are between 15 - 64 years old. Primary school fisherman education. The state of the house already has its own house with a 100% presentation, because their parents donated it as an inheritance, the number of dependents is 1-3 people with the highest percentage is 60, side jobs with a percentage of 50%, because they want to increase their income when they are not going down to sea., the duration of being fishermen is 5- 10 years as much as 40%, meaning that they have not been fishermen for long.Their income also depends on the frequency of fishing in a month where the more diligent or the more often they go to sea, the more likely they are to get a large catch compared to those who are less frequent. The catch varies, but on average each fishing trip gets 5 kg of fish and suntung. their income as jubi fishermen is only Rp. 1,200,000 in a month can be said to be less than the price of staple goods such as rice, which has risen especially before the holidays. Funds spent on making jubi tools are not large, only around Rp. 30,000, - to Rp. 100,000, -. However, the average fund needed is Rp. 65,000, - for one time. Keywords: Jubi, Kahakitang, Tatoareng AbstrakTujuan Penelitian untuk menganalisis keadaan Sosial Ekonomi Nelayan Jubi di Desa Kahakitang pada Era New Normal? Penelitian dilaksanakan di Desa Kahakitang Kecamatan Tatoareng Kabupaten Kepulauan Sangihe kurang lebih 5 bulan, dari bulan Agustus-Desember 2020. Metode penelitian menggunakan metode sensus, Sumber data primer dan data sekunder; akan dibahas dan dianalisis berdasarkan analisis deskripsi kuantitatif dan deskripsi kualitatif.Jumlah penduduk di Pulau Kahakitang 2.088 jiwa atau sekitar 420 KK . Mata pencaharian masyarakat di desa kahakitang sebagian besar sebagai nelayan yang menggunakan alat tangkap jubi. Umur menunjukan bahwa nelayan di Desa Kahakitang berumur antara 15 – 64 tahun. Pendidikan nelayan Sekolah Dasar. Keadaan rumah sudah memiliki rumah sendiri dengan persentasi 100%, disebabkan karena orang tua mereka menghibah sebagai warisan/peninggalan, jumlah tanggungan sebanyak 1-3 orang dengan persentase terbanyak 60, pekerjaan sampingan dengan persentase 50%, karena mereka ingin menambah penghasil pada saat mereka tidak turun melaut., lamanya menjadi nelayan 5- 10 tahun sebanyak 40%, artinya mereka belum lama menjadi nelayan.Pendapatan mereka tergantung juga pada frekuensi melaut dalam sebulan dimana makin rajin atau makin sering mereka melaut maka kemungkinan bisa untuk mendapat hasil tangkapan yang banyak dibandingkan dengan yang frekuensi melaut kurang. Hasil tangkapan bervariasi , namun rata-rata setiap melaut mendapat 5 kg ikan maupun suntung. penghasilan mereka sebagai nelayan jubi hanya Rp. 1.200.000 dalam sebulan bisa dikatakan kurang dibandingkan dengan harga bahan pokok seperti beras yang menaik apalagi sudah menjelang hari raya. Pengeluaran dana untuk pembuatan alat jubi tidak besar jumlahnya, hanya berkisar antara Rp. 30.000,- sampai Rp. 100.000,-. Namun rata-rata dana yang dibutuhkan Rp.. 65.000,- sekali pembuatan.Kata Kunci: Jubi, Kahakitang, Tatoareng
EVALUASI PENGENDALIAN ECENG GONDOK (EICHORNIACRASSIPES) DI DANAU TONDANO KABUPATEN MINAHASA DALAM MASA PANDEMI COVID-19 Moningkey, Gerry Sean; Andaki, Jardie A.; Dien, Christian R.; Jusuf, Nurdin; Rarung, Lexy K.; Moningkey, Ruddy D.
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 9, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.9.1.2021.34615

Abstract

AbstractThis research was conducted to evaluate the factors that determine so that the control of water hyacinth in Lake Tondano since the existence of this weed in 1996 until now has not provided maximum results. The research method used is a qualitative research method, more specifically a 'Case Study' with the research object of 'place' which in this case is Lake Tondano, the 'actors' namely the government and citizens of the Minahasa district, and 'activities'. namely the cleaning of water hyacinth in Lake Tondano by the government and the community that has been going on for more than two decades. The data collection methods applied were "unstructured interviews", "non-participant observation", and "document study". The analysis method used was "descriptive analysis." The research began at the end of February 2020 and ended in December 2020. The results showed that there are several factors that determine the inadequate control of water hyacinth in Lake Tondano, namely management factors, institutional factors, technical factors, budget factors, and regulatory factors.Key words: Lake Tondano, water hyacinth, prevention, management AbstrakPenelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi faktor-faktor yang menentukan sehingga pengendalian Eceng Gondok di Danau Tondano sejak keberadaan gulma ini pada tahun 1996 sampai saat ini belum memberikan hasil yang maksimal. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, lebih khusus lagi adalah sebuah ‘Studi Kasus’ dengan obyek penelitian ‘tempat’ yang dalam hal ini adalah Danau Tondano, ‘para pelaku’ yaitu pemerintah dan warga masyarakat kabupaten Minahasa, dan ‘aktivitas-aktivitas’ yaitu kegiatan pembersihan Eceng Gondok di Danau Tondano oleh pemerintah dan masyarakat yang telah berlangsung selama lebih dari dua dekade. Adapun metode pengumpulan data yang diterapkan adalah ‘wawancara tidak terstruktur’, ‘observasi non partisipan’, dan ‘studi dokumen’ dengan metode analisis yang digunakan adalah metode ‘analisis deskriptif. Penelitian dimulai padaakhir Pebruari 2020 dan berakhir pada Desember 2020.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa faktor yang yang menjadi penentu tidak maksimalnya pengendalian Eceng Gondok di Danau Tondano selama ini yaitu faktor manajemen, faktor kelembagaan, faktor teknis, faktor anggaran, dan faktor regulasi.Kata kunci: Danau Tondano, eceng gondok, penanggulangan, manajemen
ANALISIS NILAI TUKAR PEKERJA PADA PENGOLAHAN IKAN KAYU (katsuobushi) DI PT. NICHINDO MANADO SUISAN KELURAHAN PONDANG KECAMATAN AMURANG TIMUR KABUPATEN MINAHASA SELATAN Tumewu, Jorgie Y.S.; Pangemanan, Jeannette F.; Jusuf, Nurdin; Andaki, Jardie A.; Dien, Christian R.; Sinjal, Chatrien A.L.
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 10, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.v10i1.38590

Abstract

AbstractThis study aims to determine the exchange rate of workers in wood fish processing (katsuobushi) in PT. Nichindo Manado Suisan, Pondang Village, East Amurang District. This research was conducted in Pondang Village, East Amurang District, South Minahasa Regency, North Sulawesi Province from September 2020 to March 2021. Based on the results of the study, it was obtained: (1) The exchange rate of wood fish processing workers on the total income and income of processing by workers is 1.5% and 29.28%, meaning that the workers are able to cover the subsistence needs and costs of the wood fish processing business. (2) Observations and calculations in November 2019 and October 2020 did not experience an increase or decrease in NTP, with an (INTP) of 100. So, based on the analysis of the NTN calculation, it was >1, meaning that the family acceptance of wood fish processing workers at PT. Nichindo Manado Suisan Kelurahan Pondang, East Amurang District, South Minahasa Regency is currently able to meet subsistence needs (basic needs). Keywords: wood fish processing; NTP; INTP; subsistence needs AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai tukar pekerja pada pengolahan ikan kayu (katsuobushi) yang ada di PT. Nichindo Manado Suisan Kelurahan Pondang Kecamatan Amurang Timur. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Pondang Kecamatan Amurang Timur, Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara pada bulan September 2020 sampai Maret 2021. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan: (1) Nilai tukar pekerja pengolahan ikan kayu pada total pendapatan dan pendapatan pengolahan oleh pekerja sebesar 1,5% dan 29,28% artinya pekerja mampu menutupi kebutuhan subsisten dan biaya usaha pengolahan ikan kayu. (2)Pengamatan dan perhitungan pada bulan November 2019 dan Oktober 2020 tidak mengalami kenaikan dan penurunan NTP, dengan (INTP) sebesar 100 Jadi, berdasarkan analisis perhitungan NTN sudah >1, artinya penerimaan keluarga pekerja pengolahan ikan kayu di PT. Nichindo Manado Suisan Kelurahan Pondang Kecamatan Amurang Timur Kabupaten Minahasa Selatan untuk saat ini sudah mampu memenuhi kebutuhan subsisten (kebutuhan dasar). Kata Kunci: pengolahan ikan kayu; NTP; INTP; kebutuhan subsisten