Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

ANALISIS PENGETAHUAN MASYARAKAT MANDIANGIN KECAMATAN KARANG INTAN KABUPATEN BANJAR KALIMANTAN SELATAN MENGENAI PEMANFAATAN TANAMAN MAHANG (Macaranga hypoleuca), TEJA (Cinnamomum iners) DAN WANGUN GUNUNG (Melicope sp) Sariana Sariana; Adi Rahmadi; Yuniarti Yuniarti
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 3 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 3 Edisi Juni 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i3.9215

Abstract

Knowledge analysis of the community of Mandiangin, Karang Intan subdistrict, Banjar district, South Kalimantan on the use of mahang (Macaranga hypoleuca), teja (Cinnamomum iners) and wangun gunung (Melicope sp.). The study aims to analyze the community knowledge about the use of mahang, teja, wangun gunung that can reduce or prevent covid-19 and analyze the plant parts used for the covid-19 treatment. Collecting data using interview techniques with snowball sampling method.. Based on interviews with the people in Mandiangin Timur Village, they have used mahang, teja and wangun gunung plants for the prevention and treatment of Covid-19.. he parts of the plants used in the mahang plant are the roots, the teja plant in the leaves and the wangun gunung plant in the shootsAnalisis Pengetahuan Masyarakat Mandiangin Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan Mengenai Pemanfaatan Tanaman Mahang (Macaranga hypoleuca), Teja (Cinnamomum iners) dan Wangun Gunung  (Melicope sp.). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengetahuan masyarakat tentang pemanfaatan tanaman Mahang, Teja, Wangun gunung yang dapat mengurangi atau mencegah Covid-19 dan Menganalisis bagian tanaman yang digunakan untuk pengobatan Covid-19. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dengan metode snowball sampling. Berdasarkan hasil wawancara masyarakat di Desa Mandiangin Timur telah memanfaatkan tanaman mahang, teja dan wangun gunung untuk pencegahan dan pengobatan Covid-19. Bagian tanaman yang dimanfaatkan pada tanaman mahang yaitu bagian akar, tanaman teja pada bagian daun dan tanaman wangun gunung pada bagian pucuk
PEMANFAATAN LIMBAH CANGKANG BUAH KARET DAN GERGAJIAN KAYU MAHONI MENJADI BRIKET ARANG Ogi Elian Aziz Arrifqi; Yuniarti Yuniarti; Noor Mirad Sari
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 4 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 4 Edisi Agustus 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i4.9985

Abstract

The waste of rubber fruit shells and sawn mahogany is a biomass waste. This waste is rarely used, but it can be used as an alternative fuel, namely by making charcoal briquettes with a mixture of tapioca flour. This study aims to analyze the value of moisture content, density, ash content, volatile subtance content, bound carbon content and calorific value, and to obtain the composition of charcoal briquettes produced from a mixture of rubber fruit shells and mahogany sawn waste with good quality charcoal briquettes according to standards. . The statistical design used was a completely randomized design (CRD) with 3 replications and 5 treatments. The research procedures carried out include making charcoal, making powder, filtering, making adhesives and mixing gluing with raw materials, molding and drying charcoal briquettes. Parameters tested for charcoal briquettes include moisture content, density, ash content, volatile matter content, bound carbon content and calorific value using the American Standard Testing and Materials (ASTM D 5142 – 02) procedure. The results obtained from charcoal briquettes in this study obtained an average water content of 6.3100 - 6.9633%, density 0.3534 - 0.5800g/cm3, ash content 0.6000 - 1.1733%, volatile matter 60 .0833 – 70.0033%, bonded carbon 22.4667 - 32.7400% and for calorific value 6,171.91 – 7,397.54 cal/g. The best results were found in treatment B with a mixture of 75% rubber fruit shell waste + 25% mahogany sawn waste with a calorific value of 6,557.51 cal/g.Limbah cangkang buah karet dan gergajian kayu mahoni ini merupakan limbah biomasssa. Limbah ini jarang dimanfaatkan, namun limbah tersebut dapat dijadikan sebagai salah satu bahan bakar alternatif, yaitu dengan cara dibuat menjadi briket arang dengan campuran tepung tapioka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai kadar air, kerapatan,  kadar abu, kandungan zat terbang, kadar karbon terikat dan nilai kalor, serta mendapatkan komposisi briket arang yang dihasilkan dari campurang cangkang buah karet dan limbah gergajian kayu mahoni dengan kualitas briket arang yang baik sesuai standar. Rancangan statistik yang dilakukan yaitu menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 ulangan 5 perlakuan. Prosedur penelitian yang dilakukan diantaranya pembuatan arang, pembuatan serbuk, penyaringan, pembuatan perekat serta pencampuran perekatan dengan bahan baku, pencetakan dan pengeringan briket arang. Parameter yang diuji dari briket arang meliputi, kadar air, kerapatan, kadar abu, kandungan zat terbang, kadar karbon terikat dan nilai kalor dengan prosedur (ASTM D 5142 – 02) American Standard Testing and Material. Hasil yang diperoleh dari briket arang dalam penelitian ini memperoleh nilai rata-rata kadar air 6,3100 - 6,9633%, kerapatan 0,3534 – 0,5800g/cm3, kadar abu 0,6000 – 1,1733%, zat terbang 60,0833 – 70,0033%, karbon terikat 22,4667 - 32,7400% dan untuk nilai kalor 6.171,91 – 7.397,54 kal/g. Hasil yang terbaik yaitu terdapat pada perlakuan B yaitu dengan campuran limbah cangkang buah karet 75% + limbah gergajian kayu mahoni 25% dengan nilai kalor 6.557,51 kal/g.
Diversifikasi Produk Olahan Sayur Pada UMKM Haifa Trisnu Satriadi; Yuniarti Yuniarti; Syamani Syamani; Susilawati Susilawati; Damaris Payung
Jurnal Pengabdian ILUNG (Inovasi Lahan Basah Unggul) Vol 3, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ilung.v3i1.8719

Abstract

Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) merupakan salah satu penggerak roda perekonomian masyarakat Indonesia. Pandemi Covid-19 di Indonesia memukul hampir semua sector, tidak terkecuali UMKM kuliner seperti yang di alami oleh UMKM Haifa yang berada di Kampung Sayur  Kelurahan Landasasan Ulin Utara. Produk yang dijual berupa produk olahan seperti sosis, nuget, bakso dan lain-lain. UMKM Haifa terdiri dari petani sayur yang memiliki kebun yang cukup luas. Sayur segar yang mereka miliki belum dimanfaatkan sebagai produk andalan UMKM Haifa. Permasalahan UMKM Haifa adalah penurunan omzet dan belum memiliki keterampilan mendiversifikasi produk olahan sayur. Solusi yang ditawarkan kepada mitra adalah memberikan pelatihan diversifikasi produk olahan sayur keripik sayur. Metode yang diterapkan yaitu penyuluhan, pelatihan produksi dan evaluasi.Hasil kegiatan pengabdian ini berjalan dengan lancer, mitra telah meningkat pengetahuannya dalam melakukan diversifikasi olahan sayur yaitu aneka keripik sayur seperti keripik bayam, keripik sawi, keripik pare dan keripik kemangi. Pelatihan Teknik pengemasan dan pelatihan berjalan lancar dan dapat dikuasi mitra. Mitra juga telah mendapatkan pengetahuan manajemen usaha sederhana.
KARAKTERISTIK BRIKET ARANG DARI LIMBAH SERBUK PENGGERGAJIAN KAYU KARET DAN LIMBAH SERBUK PENGGERGAJIAN KAYU MERANTI MERAH Dian Taufani; Yuniarti Yuniarti; Budi Sutiya
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 5 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 5 Edisi Oktober 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i5.10653

Abstract

Charcoal briquettes made from a mixture of rubber wood sawing powder and red meranti sawdust is one of the efforts to utilize waste. The purpose of this study was to determine the characteristics of charcoal briquettes from a mixture of rubber sawdust waste and red meranti sawdust waste. The mixture of raw materials used 5 treatments, namely 1) 100% rubber wood charcoal briquettes; 2) 75% rubber wood charcoal briquettes and 25% red meranti wood charcoal; 3) 50% rubber wood charcoal briquettes and 50% red meranti wood charcoal; 4) 25% rubber wood charcoal briquettes and 75% red meranti wood charcoal; and 5) 100% red meranti wood charcoal briquettes. The resulting data were then analyzed by means of variance and compared with SNI. The quality of charcoal briquettes was not affected by the composition of the mixture of rubber wood charcoal briquettes and red meranti wood charcoal briquettes. Treatment with 100% rubber wood charcoal briquettes as raw material, without a mixture of red meranti wood charcoal briquettes, was charcoal briquettes with the quality closest to SNI standards, in the form of volatile substances, and calorific value. Other parameters such as moisture content, density, ash content and bound carbon still do not meet the SNI standardBriket arang yang terbuat dari campuran serbuk penggergajian kayu karet dan serbuk penggergajian kayu meranti merah merupakan salah satu upaya pemanfaatan limbah. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik briket arang dari campuran limbah serbuk penggergajian kayu karet dan limbah serbuk penggergajian kayu meranti merah. Campuran bahan baku menggunakan 5 perlakuan yaitu 1) briket arang kayu karet 100%; 2) briket arang kayu karet 75% dan arang kayu meranti merah 25%; 3) briket arang kayu karet 50% dan arang kayu meranti merah 50%, 4) briket arang kayu karet 25% dan arang kayu meranti merah 75%; dan 5) briket arang kayu meranti merah 100%. Data yang dihasilkan selanjutnya dianalisis dengan sidik ragam dan dibandingkan dengan SNI. Kualitas briket arang tidak dipengaruhi oleh komposisi campuran briket arang kayu karet dan briket arang kayu meranti merah. Perlakuan dengan bahan baku briket arang kayu karet 100%, tanpa campuran briket arang kayu meranti merah, merupakan briket arang dengan kualitas yang paling mendekati standar SNI, berupa zat terbang, dan nilai kalor.  Parameter lainnya berupa kadar air, kerapatan, kadar abu dan karbon terikat masih belum memenuhi standar SNI.
KARAKTERISTIK BIOPELET CAMPURAN SERBUK KAYU SENGON (Paraserianthes falcataria) DAN SERBUK PELEPAH KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis) Muhammad Fahmi Noor; Muhammad Faisal Mahdie; Yuniarti Yuniarti
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 6 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 6 Edisi Desember 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i6.11024

Abstract

Research on the characteristics of biopellets mixed with sengon (Paraserianthes falcataria) sawdust and Palm (Elaeis guineensis) frond powder was observed with the aim of analysing the quality of biopellets mixed with sengon wood and oil palm fronds based on the Indonesian National Standard (SNI 8021:2014). The study used the SNI 8021-2014 method with test parameters including Moisture content, bound carbon content, volatile matter, ash content, and heating value. The experimental design uses an exploratory data analysis (EDA) experimental design which is presented graphically with a box and whisker plot. Based on the results of this study, it showed that the mixture of sengon sawdust and palm frond powder showed that the results of the water content (%) treatment had reached the standard (SNI), namely 12% max and the lowest water content value was in treatment C, namely 5.1965%. The results obtained from the ash content (%) test showed that each treatment varied, some reached the standard and some did not meet the standard (SNI), namely 1.5% max, and the ash content that met the standard was treated A and B. Test results Determination of Calorific Value (cal/g) indicates that it does not meet the standard (SNI), namely 4000 cal/g min. The best composition comparison is in comparison with 75% sengon sawdust and 25% palm frond powder (in treatment D), because the results of the calorific value are close to the standard (SNI).Penelitian karakteristik biopelet campuran serbuk kayu sengon (paraserianthes falcataria) dan serbuk pelepah kelapa sawit (elaeis guineensis) diamati dengan tujuan menganalisa kualitas biopelet campuran kayu sengon dan pelepah kelapa sawit berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI 8021:2014). Penelitian menggunakan metode SNI 8021-2014) dengan parameter uji meiliputi kadar air, kadar karbon terikat, zat terbang, kadar abu, dan nilai kalor. Rancangan percobaan menggunakan rancangan percobaan analisis data eksploratif (Exploratory Data Analysis – EDA) yang disuguhkan secara grafis dengan box and whisker plot. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan campuran serbuk kayu sengon dengan serbuk pelepah kelapa sawit bahwa hasil pengujian Kadar Air (%) perlakuannya telah mencapai standar (SNI) yaitu maks 12% dan nilai kadar air paling rendah pada perlakuan C yaitu 5,1965%. Hasil yang diperoleh dari pengujian Kadar Abu (%) bahwa setiap perlakuan beragam, ada yang mencapai standar dan ada juga yang tidak memenuhi standar (SNI) yaitu maks 1,5%, dan kadar abu yang memenuhi stardar ada diperlakuan A dan B. Hasil uji  penentuan Nilai Kalor (kal/g) menujukan bahwa belum memenuhi standar (SNI) yaitu min 4000 kal/g. Perbandingan komposisi terbaik ada pada perbandingan dengan serbuk 75% serbuk kayu sengon dan 25% serbuk pelepah kelapa sawit (pada perlakuan D), karena hasil nilai kalor yang mendekati standar (SNI).
PRODUKTIVITAS DAN RENDEMEN PEMBUATAN ANYAMAN PANDAN LAUT (Pandanus odorifer) SERTA KONTRIBUSI TERHADAP PENDAPATAN DI DESA PULAU KERAYAAN Rezky Ramadhan; Noor Mirad Sari; Yuniarti Yuniarti
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 1 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 1 Edisi Februari 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i1.11725

Abstract

The purpose of this study was to determine the average value of the contribution of woven sea pandanus to productivity, yield, and income in the form of fans, hoods, and bowls. Analyze the data collected by collecting information on the contribution of income to productivity, yield, and productivity of the woven sea pandanus craftsmen. Findings show that fan mats produce an average of 0.075 pieces per hour. The hood productivity averaged 0.042 pieces per hour. The average woven bowl productivity is 0.031 pieces per hour. The average yield of woven fans was 76.12 percent, the average yield of hoods was 71.59 percent, and the average yield of woven bowls was 57.38 percent. For weaving fans, the average net income value per year was IDR 2,886,118, with an average of IDR. Bowl weaving generated an annual net income of IDR 2,824,844. Bowl, hoods, and fan contributions all had average values of 29.03 percent and 29.06 percent, respectively. The highest average value of woven productivity was 0.075 pieces per hour, the highest average yield was 76.12 percent, and the highest annual average net income was IDR 2,886,118, with fan weaving contributing 30.06 percent of the highest average contribution valueTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai rata-rata kontribusi anyaman pandan laut terhadap produktivitas, hasil, dan pendapatan berupa kipas, tudung, dan mangkok.  Analisis data yang dikumpulkan melalui pengumpulan informasi mengenai kontribusi pendapatan terhadap produktivitas, hasil, dan produktivitas pengrajin anyaman pandan laut. Temuan menunjukkan bahwa tikar kipas menghasilkan rata-rata 0,075 lembar per jam. Produktivitas kap mesin rata-rata 0,042 lembar per jam. Produktivitas mangkuk anyaman rata-rata 0,031 lembar per jam. Hasil rata-rata kipas tenun adalah 76,12 persen, rendemen rata-rata tudung 71,59 persen, dan rendemen rata-rata anyaman mangkok 57,38 persen. Untuk kipas tenun, rata-rata nilai pendapatan bersih per tahun adalah Rp2.886.118, dengan rata-rata Rp. Anyaman mangkok menghasilkan pendapatan bersih tahunan Rp2.824.844.2.741.760.Mangkok, tudung, dan kipas tenun kontribusi semuanya memiliki nilai rata-rata masing-masing 29,03 persen dan 29,06 persen. Nilai rata-rata produktivitas anyaman tertinggi adalah 0,075 lembar per jam, hasil rata-rata tertinggi 76,12 persen, dan pendapatan bersih rata-rata tahunan tertinggi sebesar Rp2.886.118, dengan tenun kipas menyumbang 30,06% dari nilai kontribusi rata-rata tertinggi.
PENGUJIAN SIFAT FISIK ASAP CAIR CANGKANG KEMIRI (Aleurites moluccana (L.) Willd) DARI HASIL PEMURNIAN MENGGUNAKAN ZEOLIT AKTIF DAN ARANG AKTIF ALABAN (Vitex pubescens VAHL) Rafi’ah Maulida; Noor Mirad Sari; Yuniarti Yuniarti
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 4 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 4 Edisi Agustus 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i4.13263

Abstract

The results of grade 3 hazelnut shell liquid smoke produced by the Batu Kura Forest Farmers Group have not been purified and tested for physical properties using Japanese standards. This study aims to analyze the quality of the physical properties of grade 1, grade 2 and grade 3 hazelnut shell liquid smoke, namely specific gravity, acidity (pH), gross content tau transparency, color and odor, then analyze the yield of hazelnut shell liquid smoke processing. The results of this research are the physical properties of grade 1 hazelnut shell liquid smoke have met Japanese standards in pH (3.58), transparency (0%), color (faint brass), typical smoke odor (lighter), grade 2 hazelnut shell liquid smoke has met the standards in pH (3.52), color (yellowish), odor (typical of liquid smoke, slightly pungent), grade 3 hazelnut shell liquid smoke that meets the standards in color (reddish brown) and typical smoke odor (pungent). The yield of grade 1 hazelnut shell liquid smoke is an average of 53.75%, grade 2 is 55.00% and grade 3 is 29.97%.Hasil dari asap cair cangkang kemiri grade 3 yang di produksi oleh Kelompok Tani Hutan Batu Kura belum dilakukan pemurnian dan pengujian sifat fisiknya menggunakan standar Jepang. Penelitian ini bertujuan menganalisis kualitas sifat fisik asap cair cangkang kemiri grade 1, grade 2 dan grade 3 yaitu berat jenis, keasaman (pH), kadar kotor tau transparansi, warna dan bau, kemudian analisis rendemen dari pengolahan asap cair cangkang kemiri. Hasil dari penelitian ini adalah sifat fisik asap cair cangkang kemiri grade 1 telah memenuhi standar Jepang ada pada pH (3,58), transparansi (0%), warna (kuningan samar), bau  khas asap (lebih ringan), asap cair cangkang kemiri grade 2 telah memenuhi standar ada pada pH (3,52), warna (kekuningan), bau (khas asap cair, agak menyengat), asap cair cangkang kemiri grade 3 yang memenuhi standar ada pada warna (coklat kemerahan) dan bau khas asap (menyengat). Rendemen dari asap cair cangkang kemiri grade 1 yaitu rata-rata 53,75% , grade 2 yaitu 55,00% dan grade 3 yaitu 29,97%.
KAJIAN ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT OLEH MASYARAKAT DAYAK DEAH DESA PANGELAK KECAMATAN UPAU KABUPATEN TABALONG PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Anggi Ocman Tampubolon; Budi Sutiya; Yuniarti Yuniarti
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 2 (2024): Jurnal Sylva Scientea Vol 7 No 2 Edisi April 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i2.12318

Abstract

Pangelak Village is inhabited by the majority of Dayak Deah who have knowledge in the use of medicinal plants for generations. The knowledge possessed by the Dayak community is diverse, such as belief in the spirits of previous ancestors and ethnobotanical studies that they conduct in traditional medicine. This study used a descriptive method with in-depth interviews with selected persons, including traditional leaders and traditional healers using a questionnaire and purposive sampling techniques. The results obtained indicate that there are 39 types of medicinal plants. These medicinal plants are used for the treatment of back pain, impotence, nefrolitiasis, ulcers, antidote, hepatitis, cough, wound infection, cancer, diarrhoea, typhoid, bone fracture, stomach. pain, fever and hypertension. The most widely used plant part is the root, which is as much as 45.95%.  Plant parts can be processed into medicine in 5 ways: mixed with other plants and soaked with water, mixed with other plants and boiled, mixed with other plants or other ingredients and mashed, steamed, and sliced for sapDesa Pangelak dihuni oleh mayoritas Dayak Deah yang memiliki pengetahuan dalam penggunaan tanaman obat secara turun temurun. Pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat Dayak beragam, seperti kepercayaan terhadap arwah nenek moyang sebelumnya dan studi etnobotani yang mereka lakukan dalam pengobatan tradisional. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan wawancara mendalam dengan narasumber terpilih, antara lain tokoh adat dan pengobat tradisional dengan menggunakan kuesioner dan teknik purposive sampling. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa ada 39 jenis tanaman obat, tanaman obat ini digunakan untuk pengobatan sakit pinggang, lemah syahwat, kencing batu, maag, penawar, hepatitis, batuk, infeksi luka, kanker, diare, tipus, patah tulang, perut, nyeri, demam dan hipertensi. Bagian yang banyak digunakan adalah akar sebanyak 45,95%. Bagian tumbuhan dapat diolah menjadi obat dengan 5 cara: dicampur dengan tumbuhan lain dan di rendam dengan air, dicampur dengan tumbuhan lain dan di rebus, dicampur tumbuhan lain atau bahan lain dan dihaluskan, dikukus, dan disayat diambil getahnya.