Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Persepsi Klien Tentang Komunikasi Terapeutik Perawat Ditinjau dari Latar Belakang Pendidikan Perawat Rahmat Pannyiwi; Nurhaedah Nurhaedah; Andi Hariati; Rezqiqah Aulia Rahmat
Jurnal Keperawatan Profesional (KEPO) Vol. 2 No. 1 (2021): Volume 2 Nomor 1 Mei 2021
Publisher : Sarana Ilmu Indonesia (salnesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.02 KB) | DOI: 10.36590/kepo.v2i1.146

Abstract

The therapeutic communication is aimed to change the clients' behavior in reaching an optimal awareness. This research aimed to obtain a client perception view about Nursery Therapeutic Communication in Intensive Surgery Care Unit at Hospital Sidenreng Rappang Regency. The kind of research is descriptive with purposive sampling according to inclusive criteria. The variables are verbal and in-verbal communications. Instrument to collect data is questionnaire, whereas the questionnaires are directly fulfilled by the respondents. From the analysis, the researcher found that the 63,5 % of respondents have a good perception toward nursery verbal therapeutic communication and the non-verbal the researcher found that the 85% of respondents have a good perception toward nursery non-verbal terapeutik. The result shows a great clients' perception about nursery therapeutic communications. As for the suggestion, Hospital Sidenreng Rappang Regency shall give a fresh knowledge or seminars to operasional nurses about nursery therapeutic communications in hospital scope.
Pengetahuan Ibu Tentang Metode Kanguru di BPM Lestari Gowa Kabupaten Gowa Yuslinda Yuslinda; Nurhaedah nurhaedah; Nurekawati Nurekawati; Amina Ahmad; Syarifah Masita; Rezqiqah Aulia Rahmat
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2022): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4536.252 KB) | DOI: 10.59585/bajik.v1i1.19

Abstract

Berat Bayi Lahir Rendah(BBLR) adalah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2.500 gram sampai dengan 2.499 gram (Maryunani, 2013). BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram tanpa memandang masa kehamilan (Proverawati, 2012). Berdasarkan data di BPM Lestrai Gowa Jumlah Kelahiran bayi mulai dari Januari 2014 sampai Desember 2014 sebanyak 64 kelahiran hidup dan angka kelahiran premature sebanyak 8 dan pada tahun 2014 tidak ada kematian. Dan berdasarkan data di BPM Lestari Gowa jumlah Kelahiran bayi mulai dari Januari 2015 sampai Desember 2015 sebanyak 61 kelahiran hidup dan angka kelahiran premature sebanyak 4 dan pada tahun 2015 tidak ada kematian. Suatu metode perawatan bayi premature yang haru diketahui oleh ibu yaitu metode kanguru yang mampu menjamin bayi untuk mendapatkan kehangatan. ASI, cinta dan proteksi ibu yang selanjutnya akan menjamin tumbuh kembang bayi secara optimal sehingga mampu menurunkan angka kematian Neonatal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengetahuan ibu tentang metode kanguru pada bayi premature di BPM Lestari Gowa. Penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif yaitu penelitian yang dimaksudkan untuk menggambarkan suatu fenomena yang terjadi di dalam masyarakat. Desain penelitian yang digunakan pada penelitian in adalah Survey Cross Sectional. Survey Cross Sectional adalah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor resiko dengan efek dengan cara pendekatan observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat.
Pengaruh Promosi Kesehatan Terhadap Perubahan Perilaku Hidup Sehat Dalam Upaya Menurunkan Angka Morbiditas Pada Masyarakat Rosdiana Rosdiana; Endam Apulina Br Sembiring; Nurhaedah Nurhaedah
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Health promotion is one of the primary strategies for increasing public awareness and encouraging healthy lifestyle behaviors. Positive behavioral changes can help prevent various diseases and reduce morbidity rates in the community. Lack of knowledge and awareness regarding healthy living remains a contributing factor to the high incidence of communicable and non-communicable diseases. This study aimed to analyze the effect of health promotion on healthy lifestyle behavior changes in efforts to reduce community morbidity rates. This study employed a quantitative approach with a pre-experimental one-group pretest-posttest design. A total of 60 respondents were selected using purposive sampling. Data were collected using healthy lifestyle behavior questionnaires before and after health promotion interventions. Data were analyzed using the Paired Sample t-Test with a significance level of 95%. The results showed that the mean healthy lifestyle behavior score increased from 64.25 ± 7.86 before health promotion to 82.70 ± 6.14 after health promotion. Statistical analysis revealed a p-value of 0.000 (p < 0.05), indicating a significant effect of health promotion on healthy lifestyle behavior changes among community members. In conclusion, health promotion effectively improves healthy lifestyle behaviors and can contribute to reducing morbidity rates through increased public awareness and participation in maintaining health. Keywords: Health Promotion, Healthy Lifestyle Behavior, Morbidity, Community, Health Education ABSTRAK Promosi kesehatan merupakan salah satu strategi utama dalam meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup sehat. Perubahan perilaku yang positif dapat membantu mencegah berbagai penyakit dan menurunkan angka morbiditas di masyarakat. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pola hidup sehat masih menjadi faktor yang berkontribusi terhadap tingginya kejadian penyakit menular maupun tidak menular. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh promosi kesehatan terhadap perubahan perilaku hidup sehat dalam upaya menurunkan angka morbiditas pada masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental one group pretest-posttest. Sampel penelitian berjumlah 60 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner perilaku hidup sehat sebelum dan sesudah pelaksanaan promosi kesehatan. Analisis data dilakukan menggunakan uji Paired Sample t-Test dengan tingkat signifikansi 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor perilaku hidup sehat meningkat dari 64,25 ± 7,86 sebelum promosi kesehatan menjadi 82,70 ± 6,14 setelah promosi kesehatan. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan promosi kesehatan terhadap perubahan perilaku hidup sehat masyarakat. Disimpulkan bahwa promosi kesehatan efektif dalam meningkatkan perilaku hidup sehat masyarakat sehingga dapat menjadi salah satu upaya untuk menurunkan angka morbiditas melalui peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga kesehatan. Kata Kunci: Promosi Kesehatan, Perilaku Hidup Sehat, Morbiditas, Masyarakat, Pendidikan Kesehatan
Hubungan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Dengan Sikap Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender Pada Remaja Putri Rismayana Rismayana; Nurhaedah Nurhaedah
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v4i3.1302

Abstract

ABSTRACT Gender-based violence is a significant social and public health issue affecting adolescent girls. Limited knowledge of reproductive health may increase adolescents’ vulnerability to various forms of violence, including physical, psychological, sexual, and online violence. Adequate reproductive health knowledge is expected to foster positive attitudes toward preventing gender-based violence. This study aimed to determine the relationship between reproductive health knowledge and attitudes toward gender-based violence prevention among adolescent girls. This study employed a quantitative approach with a cross-sectional analytical design. The sample consisted of 60 adolescent girls selected using purposive sampling. Data were collected using reproductive health knowledge questionnaires and gender-based violence prevention attitude questionnaires. Data were analyzed using the Chi-Square test with a significance level of 95%. The results showed that 68.3% of respondents had good reproductive health knowledge, while 65% demonstrated positive attitudes toward gender-based violence prevention. The Chi-Square test revealed a p-value of 0.001 (p < 0.05), indicating a significant relationship between reproductive health knowledge and attitudes toward gender-based violence prevention. In conclusion, better reproductive health knowledge is associated with more positive attitudes toward preventing gender-based violence among adolescent girls. Keywords: Reproductive Health, Gender-Based Violence, Adolescent Girls, Knowledge, Attitude ABSTRAK Kekerasan berbasis gender merupakan salah satu masalah sosial dan kesehatan yang banyak dialami oleh remaja putri. Kurangnya pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi dapat meningkatkan kerentanan remaja terhadap berbagai bentuk kekerasan, termasuk kekerasan fisik, psikologis, seksual, dan kekerasan dalam lingkungan digital. Pengetahuan kesehatan reproduksi yang baik diharapkan dapat membentuk sikap positif dalam upaya pencegahan kekerasan berbasis gender. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan kesehatan reproduksi dengan sikap pencegahan kekerasan berbasis gender pada remaja putri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan metode cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 60 remaja putri yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan kesehatan reproduksi dan kuesioner sikap pencegahan kekerasan berbasis gender. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 41 responden (68,3%) memiliki tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi yang baik, sedangkan 39 responden (65%) memiliki sikap pencegahan kekerasan berbasis gender yang positif. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,001 (p < 0,05), yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan kesehatan reproduksi dan sikap pencegahan kekerasan berbasis gender pada remaja putri. Disimpulkan bahwa semakin baik pengetahuan kesehatan reproduksi yang dimiliki remaja putri, maka semakin positif pula sikap mereka dalam mencegah kekerasan berbasis gender. Kata Kunci: Kesehatan Reproduksi, Kekerasan Berbasis Gender, Remaja Putri, Pengetahuan, Sikap
Edukasi Pencegahan Abses Odontogenik Sebagai Penyakit Gigi Kritis Pada Masyarakat Desa Natalia Natalia; Ainul Auliyah A; Nurhaedah Nurhaedah; Ainun Jariyah
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (Juni)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Odontogenic abscess is a serious oral infection originating from the teeth and supporting tissues. This condition may cause severe pain, swelling, impaired oral function, and even serious complications if not properly treated. Limited public knowledge regarding oral and dental health is one of the factors increasing the risk of odontogenic abscess in rural communities. This community service program aimed to improve public knowledge and awareness regarding the prevention of odontogenic abscess through oral health education. The implementation methods included health counseling, demonstrations of proper tooth brushing techniques, simple dental examinations, interactive discussions, and evaluations using pre-test and post-test methods. The activity involved 40 rural community participants. The results showed an increase in participants’ knowledge, with the average pre-test score increasing from 54 to 88 in the post-test. In addition, participants began to understand the importance of maintaining oral hygiene and conducting regular dental check-ups. This program proved effective in increasing public awareness regarding the prevention of odontogenic abscess as a critical dental disease. Keywords: Odontogenic Abscess, Oral Health, Health Education, Rural Community, Dental Disease Prevention ABSTRAK Abses odontogenik merupakan infeksi serius pada rongga mulut yang berasal dari jaringan gigi dan jaringan pendukungnya. Penyakit ini dapat menyebabkan nyeri hebat, pembengkakan, gangguan fungsi mulut, bahkan komplikasi serius apabila tidak ditangani dengan baik. Rendahnya pengetahuan masyarakat desa mengenai kesehatan gigi dan mulut menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko terjadinya abses odontogenik. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai pencegahan abses odontogenik melalui edukasi kesehatan gigi dan mulut. Metode pelaksanaan meliputi penyuluhan kesehatan, demonstrasi cara menyikat gigi yang benar, pemeriksaan kesehatan gigi sederhana, diskusi interaktif, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Kegiatan diikuti oleh 40 peserta masyarakat desa. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta dengan rata-rata skor pre-test sebesar 54 meningkat menjadi 88 pada post-test. Selain itu, peserta mulai memahami pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut serta melakukan pemeriksaan gigi secara rutin. Program ini terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pencegahan abses odontogenik sebagai penyakit gigi kritis. Kata Kunci: Abses Odontogenik, Kesehatan Gigi, Edukasi Kesehatan, Masyarakat Desa, Pencegahan Penyakit Gigi
Epidemiologi Sosial: Pengaruh Determinan Sosial Terhadap Status Kesehatan Masyarakat Achmad Hilal; Nurhaedah Nurhaedah
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v4i3.1332

Abstract

ABSTRACT Public health status is influenced not only by biological factors and healthcare services but also by social, economic, cultural, environmental, and policy-related factors. Social epidemiology examines how social conditions influence the distribution of diseases and health inequalities within populations. This article aims to explain the influence of social determinants on public health status and identify social factors contributing to health disparities. This article used a literature review approach by analyzing scientific sources related to social epidemiology, social determinants of health, and health inequalities. Social determinants such as education level, income, employment, living environment, healthcare access, social support, and public policies significantly influence individual and population health outcomes. Communities with lower socioeconomic conditions tend to experience higher risks of infectious diseases, non-communicable diseases, and barriers to accessing adequate healthcare services. Social determinants have a substantial impact on public health status. Improving population health requires not only medical interventions but also multisectoral approaches addressing social, economic, and environmental factors. Keywords: Social Epidemiology, Social Determinants of Health, Health Status, Health Inequality, Population Health ABSTRAK Status kesehatan masyarakat tidak hanya dipengaruhi oleh faktor biologis dan pelayanan kesehatan, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi sosial, ekonomi, budaya, lingkungan, dan kebijakan. Epidemiologi sosial mempelajari bagaimana faktor sosial memengaruhi distribusi penyakit dan ketimpangan kesehatan dalam suatu populasi. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh determinan sosial terhadap status kesehatan masyarakat serta mengidentifikasi faktor sosial yang berperan dalam munculnya kesenjangan kesehatan. Artikel ini menggunakan metode kajian literatur dengan menelaah berbagai sumber ilmiah mengenai epidemiologi sosial, determinan sosial kesehatan, dan ketimpangan kesehatan masyarakat. Determinan sosial seperti tingkat pendidikan, pendapatan, pekerjaan, lingkungan tempat tinggal, akses pelayanan kesehatan, dukungan sosial, dan kebijakan publik terbukti memiliki hubungan dengan tingkat kesehatan individu maupun kelompok. Masyarakat dengan kondisi sosial ekonomi rendah cenderung memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit infeksi, penyakit tidak menular, serta hambatan dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang optimal. Determinan sosial memiliki pengaruh besar terhadap status kesehatan masyarakat. Upaya peningkatan kesehatan tidak cukup hanya melalui intervensi medis, tetapi membutuhkan pendekatan multisektor yang memperhatikan faktor sosial, ekonomi, dan lingkungan. Kata Kunci: Epidemiologi Sosial, Determinan Sosial Kesehatan, Status Kesehatan, Ketimpangan Kesehatan, Masyarakat
Persepsi Masyarakat Terhadap Isu LGBT Dalam Perspektif Sosiologi Budaya Rahmat Pannyiwi; Amelia Darwis; Nurhaedah Nurhaedah
JIMAD : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 3 No. 2 (2026): JIMAD : Jurnal Ilmiah Multidisiplin (January)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/jimad.v3i2.1016

Abstract

The phenomenon of Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender (LGBT) has become a social issue that has sparked controversy in society. Public perception of LGBT is influenced by cultural, religious, educational, and prevailing social values. This study aims to analyze public perceptions of LGBT issues from a cultural sociology perspective. The research method used is qualitative with a descriptive-analytical approach through literature study and interviews. The results of the study show that most people view LGBT as a deviation from local social and cultural norms, although there are groups that are beginning to be more inclusive on the grounds of human rights. From a cultural sociology perspective, these perceptions are formed through the internalization of values, social interaction, and cultural constructs that develop within society.
Faktor Sosiodemografi Yang Mempengaruhi Status Kesehatan Masyarakat Sahabuddin Sahabuddin; Nurhaedah Nurhaedah
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurna Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1400

Abstract

Status kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, termasuk karakteristik sosiodemografi. Faktor-faktor seperti umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, pendapatan, status perkawinan, dan tempat tinggal berperan penting dalam menentukan akses terhadap pelayanan kesehatan, perilaku hidup sehat, serta kualitas hidup individu. Perbedaan kondisi sosiodemografi dapat menyebabkan terjadinya kesenjangan kesehatan di masyarakat. Oleh karena itu, identifikasi faktor-faktor sosiodemografi yang memengaruhi status kesehatan menjadi penting sebagai dasar dalam penyusunan kebijakan dan intervensi kesehatan masyarakat yang tepat sasaran. Menganalisis faktor-faktor sosiodemografi yang memengaruhi status kesehatan masyarakat. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 220 responden dipilih menggunakan teknik stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis univariat, bivariat (uji Chi-square), dan multivariat (regresi logistik) dengan tingkat kepercayaan 95%. Sebagian besar responden memiliki status kesehatan baik (67,3%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa pendidikan (p=0,002), pendapatan (p<0,001), pekerjaan (p=0,018), dan umur (p=0,031) berhubungan signifikan dengan status kesehatan masyarakat. Analisis multivariat menunjukkan bahwa pendapatan merupakan faktor yang paling dominan memengaruhi status kesehatan (AOR=3,84; 95% CI=2,01–7,32). Faktor sosiodemografi, khususnya pendapatan, pendidikan, pekerjaan, dan umur, berpengaruh terhadap status kesehatan masyarakat. Upaya peningkatan kesehatan masyarakat perlu memperhatikan kondisi sosial ekonomi dan karakteristik demografi masyarakat sebagai dasar perencanaan program kesehatan.
Sosiologi Kesehatan Dalam Praktik: Pelatihan Dan Penyuluhan Perubahan Gaya Hidup Untuk Mengurangi Risiko Asam Urat Pada Komunitas Lansia Desa B Tahun 2025 Meiana Harfika; Jukarnain Jukarnain; Nurhaedah Nurhaedah; Nursinah Nursinah
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2025): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (Desember)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i1.876

Abstract

Gout or gouty arthritis cases are increasing among the elderly due to unhealthy lifestyles, such as high-purine food consumption, lack of physical activity, and minimal awareness of the importance of healthy behaviors. This community service activity aims to improve the knowledge and behavior of the elderly in preventing gout through a sociology of health approach, which emphasizes behavioral change based on social interactions, cultural values, and community norms. The implementation method included counseling, training in healthy lifestyle practices, group discussions, and pre- and post-test evaluations. The activity was conducted in Village B, South Sulawesi, involving 30 elderly participants. The materials provided included education on low-purine nutrition, light physical exercise, and the formation of a social support group "Healthy Elderly Without Gout." The activity results showed a significant increase in participants' knowledge of 70% after the training and an increase in healthy behaviors, such as reducing offal consumption and increasing physical activity. The sociology of health approach has proven effective because it prioritizes behavioral change based on social support and community learning, rather than solely individual medical interventions. Conclusion: This activity successfully promoted healthy lifestyle changes in the elderly through an integrated social and educational approach. Sustainable programs with cross-sector collaboration are needed to ensure long-term sustainability of behavioral changes.
Edukasi Gizi Seimbang Untuk Pencegahan Stunting Pada Ibu Hamil Dan Balita Di Desa Binaan Isra Wati; Lusyana Aripa; Edi Pramono; Eka Setiawati; Suriani Bahrun; Nurhaedah Nurhaedah; Rezqiqah Aulia Rahmat
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2025): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (Desember)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i1.913

Abstract

Stunting is a chronic nutritional problem that remains a major challenge in Indonesia, particularly in rural areas with limited access to nutrition education, sanitation, and health services. This community service program aims to improve the knowledge of pregnant women and mothers of toddlers regarding balanced nutrition as a means of preventing stunting in Assisted Village X. Activities included balanced nutrition counseling, demonstrations on making nutritious complementary foods (MP-ASI), screening for toddler nutritional status, and mentoring families at risk of stunting. A total of 65 participants (22 pregnant women and 43 mothers of toddlers) participated in the program. Results showed an increase in participant knowledge, with an average pre-test score of 55.3, rising to 86.1 in the post-test. Furthermore, 12 toddlers at risk of stunting were identified and provided with further mentoring. The program also encouraged the formation of "Village Nutrition Friends" (Sahabat Gizi Desa) cadres as a sustainability effort for the program. This program has proven effective in increasing community knowledge and awareness regarding the importance of balanced nutrition to prevent stunting.