Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Metalurgi

The Effect of Roasting Prior to The Leaching Process of Alkalinized Ferronickel Slag Followed by Precipitation Process Wahyu Mayangsari; Agus Budi Prasetyo; Eni Febriana; Januar Irawan; Rudi Subagja; Florentinus Firdiyono; Johny Wahyuadi Soedarsono
Metalurgi Vol 36, No 2 (2021): Metalurgi Vol. 36 No. 2 Agustus 2021
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (855.491 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v36i2.588

Abstract

Terak feronikel dihasilkan sebagai produk samping dari produksi feronikel. terak feronikel mempunyai potensi sebagai bahan baku beberapa komponen berharga karena komposisinya melalui proses bertahap. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari proses pemanggangan campuran terak feronikel dan Na2CO3 sebelum leaching air panas dan presipitasi untuk menghasilkan endapan silika. Proses pemanggangan terak feronikel dengan penambahan Na2CO3 telah dilakukan untuk pembentukan natrium silikat. Kemudian dilarutkan melalui proses pelindian menggunakan air panas 90 ° C selama 120 menit. Endapan silika didapatkan dengan proses presipitasi sodium silikat terlarut diikuti dengan pemeraman selama tiga hari. Berdasarkan hasilnya, pemanggangan menyebabkan perubahan komposisi yang mempengaruhi persen pelindian dan perolehan silika. Reaksi terjadi dari permukaan ke inti yang dibuktikan dengan pengecilan ukuran residu pelindian dari RAF nya. Natrium silikat dalam bentuk Na4SiO4  diketahui terlarut Ketika pelindian air dilakukan. Pengendapan dan pemeraman larutan natrium silikat telah menghasilkan endapan silika dengan ukuran partikel lebih dari 100 mm. pemanggangan pada 1000 ° C selama 240 menit menghasilkan perolehan silika tertinggi.
Ekstraksi Litium dari β – Spodumen Hasil Dekomposisi Batuan Sekismika Indonesia Menggunakan Aditif Natrium Sulfat [Lithium Extraction from β-Spodumene the Decomposition Product of Schist Mica Indonesia Using Sodium Sulphate as Additive] Nadia Chrisayu Natasha; Latifa Hanum Lalasari; Miftakhur Rohmah; Johny Wahyuadi Sudarsono
Metalurgi Vol 33, No 2 (2018): Metalurgi Vol. 33 No. 2 Agustus 2018
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.74 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v33i2.429

Abstract

Spodumene is one of minerals that present in hard rock as lithium resources. Mineral for lithium resources in nature is α-phase spodumene. Requirement of lithium extraction from spodumene by leaching is the presence of β-form phase in ore because it has a porosity that makes it more reactive than α-form. Formation of β-phase spodumene was obtained from schist mica Kebumen, Center Java, Indonesia by roasting method using sodium sulfate at 650, 700, 750 and 800 oC for 20, 40 and 60 minutes. Leaching was done to determine the phase effect on lithium extraction percentage. The variations of solid and liquid ratio on this leaching are 1 : 15, 1 : 10, 1 : 5, 1 : 2 and 1 : 1 (g/mL). Leaching was done using aquadest for 1 h. STA (simultaneous thermal analysis) was used to determine reaction temperature between schist mica and sodium sulfate by thermal treatment. XRD (x-ray diffraction) and SEM (scanning electron microscopy) were used to examine the presence of spodumene phase, morphology and particle size. While the composition of schist mica was determined by ICP (inductively coupled plasma). In schist mica from Kebumen, Center Java, Indonesia indicates that spodumene exist in it. β-phase spodumene started to form at 700 oC for 20 minutes and it phase changed at 750 oC for 40 minutes become sanidine (AlLiO8Si3). Optimum value of extraction percentage from this investigation is 70.6% at 700 oC for 40 minutes. AbstrakSpodumen merupakan salah satu mineral yang terkandung di dalam batuan sebagai sumber litium. Mineral bahan baku litium ditemukan di alam dalam bentuk α – spodumen. Syarat utama dalam melakukan ekstraksi litium dari spodumen dengan metode leaching adalah fasa β – spodumen. Hal tersebut dapat terjadi karena fasa tersebut mempunyai poros yang membuatnya menjadi lebih reaktif jika dibandingkan dengan fasa α – spodumen.  Pembentukan fasa β – spodumen diperoleh dari batuan sekismika Indonesia dengan metode roasting menggunakan natrium sulfat sebagai aditif pada 650, 700, 750 dan 850 ºC selama 20, 40 dan 60 menit.  Proses leaching dilakukan untuk mengetahui pengaruh fasa yang terbentuk terhadap persen ekstraksi litium. Variasi perbandingan solid dan liquid pada proses leaching yaitu 1 : 15, 1 : 10, 1 : 5, 1 : 2 dan 1 : 1. Proses leaching dilakukan menggunakan aquadest selama 1 jam pada temperatur kamar. Analisis Simultaneous Thermal Analysis (STA) digunakan untuk menentukan temperatur reaksi antara sekismika dan natrium sulfat pada saat proses roasting. Analisis X – ray diffraction (XRD) dan Scanning Electron Microscope (SEM) dilakukan untuk analisis secara fisik dalam mengetahui perubahan fasa yang terbentuk, morfologi dan mapping. Sedangkan komposisi dari sekismika ditentukan dengan Inductively Coupled Plasma (ICP). Di dalam batuan sekismika, Kebumen Indonesia mengindikasikan adanya kandungan mineral spodumen. Fasa β – spodumen mulai terbentuk pada temperatur 700 ºC dan waktu roasting 20 menit namun fasa tersebut berubah pada 750 ºC dan waktu roasting 40 menit menjadi sanidine (AlLiO8Si3). Persen ekstraksi optimum litium yang diperoleh adalah 70,6% pada 700 ºC dan waktu roasting 40 menit.
PENGKAYAAN UNSUR YTTRIUM DAN CERIUM PADA TERAK TIMAH BANGKA: ANALISIS TERMODINAMIKA Sulaksana Permana; Debby Rachel; Agus Budi Prasetyo; Rafdi Abdul Majid; Wahyu Kartika; Iwan Susanto; Johny Wahyuadi M
Metalurgi Vol 35, No 2 (2020): Metalurgi Vol. 35 No. 2 Agustus 2020
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1104.845 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v35i2.564

Abstract

Beberapa negara melakukan penelitian untuk mendapatkan sumber unsur tanah jarang (UTJ) dikarenakan dominasi suplai UTJ oleh negara China. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan adanya sumber UTJ dari proses penambangan dan pemurnian timah di kepulauan Bangka Belitung. Pada penelitian ini terak timah Bangka (TTB) dilakukan serangkaian kondisi proses untuk mendapatkan hasil pengkayaan yttrium dan cerium yang optimal. Proses yang dilakukan adalah dengan melakukan pemanggangan TTB pada suhu 900⁰C, pelindian dengan NaOH, pelindian dengan HNO3 dan terakhir pelindian dengan H3PO4 dengan variasi konsentrasi. Hasil yang didapatkan adalah kadar optimal cerium 4,39 % setelah kondisi proses pelindian NaOH dan kadar yttrium mengalami peningkatan terus pada seluruh kondisi proses serta didapatkan kadar optimal 1,35 % setelah dilakukan pelindian dengan HNO3 2M dan H3PO4 1,5 M.  
Influence of Electrolyte Molarity and Applied Voltage on the Purification of Ferronickel by Electrolysis Method Astini, Vita; Meirawati, Selvia; Nengsih, Sulistia; -, Arif; -, Hasriyanti; Soedarsono, Johny Wahyuadi Mudaryoto; Zulfia, Anne
Metalurgi Vol 39, No 1 (2024): Metalurgi Vol. 39 No. 1 2024
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/metalurgi.2024.742

Abstract

The current advancements in the automotive industry highlight the critical need for electric vehicles, which require a reliable supply of nickel for battery production. A potential nickel source is Ferronickel's local content, which can be used as a secondary resource. However, research on converting smelted Ferronickel into electrolytic nickel is still limited. This study aims to examine the effects of electrolyte molarity and applied voltage during the electrolysis process for refining Ferronickel. The molarities of HCl employed in this research are 0.1, 0.25, 0.5, 0.75, and 1 M for 2 hours. Additionally, the molarities of HCl are set at 2, 3, and 4 M for 6 hours. Further experiments were performed using varying voltages of 1, 2, 4, 6, and 8 V while keeping the solution concentration constant at 1 M and maintaining an electrolysis duration of 2 hours. The electrolysis solution was subsequently analyzed using the AAS (atomic absorption spectrophotometry) test. The results indicated that higher molarity levels were associated with increased current, resulting in faster reaction rates and greater solubilization of nickel metal. The Ni concentration rose with higher molarity, increasing from 76.50 mg/L in .25 M HCl to 91.88 mg/L in 1 M HCl. In contrast, the Fe concentration remained nearly constant across various molarity levels, ranging from 11.81 mg/L in .25 M HCl to 11.95 mg/L in 1 M HCl, suggesting a minimal influence of molarity below 1 M. Fe exhibited a strong positive correlation with increasing electrolyte molarity, showing a significant rise in concentration from 49.06 g/L at 2 M to 90.17 g/L at 4 M. Ni showed a more modest response to elevated molarity, with concentrations increasing from 11.95 g/L at 2 M to 22.70 g/L at 4 M. The Ni concentration increased with the applied voltage up to 6 V, reaching 95.57 mg/L, but then decreased to 77.67 mg/L at 8 V, indicating that the optimum voltage is 6 V. The Fe concentration displayed slight fluctuations but remained relatively stable across different voltage levels, measuring 11.81 mg/L at 1 V and 12.28 mg/L at 8 V, indicating that the applied voltage does not significantly influence Fe concentration in the solution.
Co-Authors Adelia, Ni Luh Triska Adipurnama, Iman Aditiyawarman, Taufik Agus Budi Prasetyo Agus Budi Prasetyo Ahmad Maksum Andon Insani Angga Pratama Putra, Angga Pratama Anjar Oktikawati Anne Zulfia Aprizal Aprizal Arif Arif Arif, Chandra Ariyani, Ira Ariyo Suharyanto Arya Parande, Egidius Asfar, Mhd. Ibkar Yusran Astini, Vita Avifa, Venny Nur Azizah Intan Pangesty Badrul Munir, Badrul Bambang Suharno Budi Prasetyo, Agus Darnengsih, Darnengsih Debby Rachel Eddy S Siradj Eni Febriana Eriyatno . Ersina Rakhma Fachry Abda El Rahman Florentinus Firdiyono Hadi Suwarno Haekal, Teuku Ahmad Haidir, Yuki Hasriyanti Hasriyanti Hendrastuti Hendrastuti Hernowo, Widi Indah Ciptasari, Nurhayati Isnanda Nuriskasari Iwan Susanto Januar Irawan Kautsar Muwahhid Kautsar Muwahhid Kezia Kurnia Trinopiawan Kurnia Trinopiawan Laksana, Aldi Putra Lalasari, Latifa Hanum Latifa Hanum Lalasari Latifa Hanum Lalasari Mahendra, Mirza Meika Syahbana Rusli Meirawati, Selvia Mhd. Ibkar Yusran Asfar Miftahul Ulum, Reza Miftakhur Rohmah Miftakhur Rohmah, Miftakhur Munira Munira Mustafiah Mustafiah Nadia Chrisayu Natasha Natasha, Nadia Chrisayu Nengsih, Sulistia Ni Luh, Triska Adelia Nugraha, Cahyo Ady Nugroho, Firman A. Padmodwiputra, Rendhatya Permana, Sulaksana Pertama, Tio Angger Pramono, Khalisha Rizqi Olga Purnawarman, Faisal Dwiyana Putra, Budhi Putra, Ivan Fitrian Rafdi Abdul Majid Rafdi Abdul Majid Rahmaulita, Giafin Bibsy Rakhma, Ersina Ramadhan, Romal Riady, Rado Rianti Dewi Sulamet-Ariobimo, Rianti Dewi Rini Riastuti, Rini Rudi Subagja Satria, Bambang Eka Sholihin, Muhammad Yudi Masduky Soelistiyono, Dony Solihin, M. Yudi M. Suarthana, Eka Juni Sukirna, Iwan Sulaksana Permana Sulaksana Permana Sulaksana Permana Supriyatna, Yayat Iman Tri Partuti Venny Nur Avifa Vika Rizkia Wahyu Kartika Wahyu Kartika Wahyu Mayangsari Wahyu Mayangsari Widianto, Shilla Rizqi Wijaya, Arie Wisnu Ari Adi Yarianto Sugeng Budi Susilo Yarianto Sugeng Budi Susilo, Yarianto Sugeng Budi Yayat Iman Supriyatna Yudha Pratesa Yusran asfar, Muhammad Ibkar Zulfia Syahrial, Anne