Irma Ayu Kartika Dewi
Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Toleransi dalam Tradisi Ruwahan di Puro Mangkunegaran Irma Ayu Kartika Dewi
Vol. 1 No. 1 (2022): Proceeding of International Conference Cultures & Languages 2022 816-831
Publisher :

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/ebpekj33

Abstract

Ruwahan merupakan salah satu tradisi yang masih dijaga dan dilestarikan oleh Puro Mangkunegaran. Dalam pelaksanaannya diikuti oleh kerabat, abdi dalem dan masyarakat. Beberapa memiliki keyakinan yang berbeda, tetapi melakukan tradisi Ruwahan di tempat yang sama. Penelitian ini bertujuan untuk mengupas tradisi Ruwahan di Puro Mangkunegaran dan nilai yang terkandung di dalamnya, untuk mengetahui toleransi beragama dalam pelaksanaan Ruwahan di Puro Mangkunegaran serta dampak toleransi beragama dalam pelaksanaan Ruwahan di Puro Mangkunegaran. Metode yang dilakukan adalah literature review, observasi serta wawancara langsung dengan kerabat, abdi dalem dan masyarakat di sekitar Puro Mangkunegaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ruwahan merupakan ritual yang memiliki maksud dan tujuan yang sama dengan ritual selametan. Dalam hal ini kegiatan ruwahan juga identik dengan kegiatan ziarah kubur yaitu mendoakan dan mengenang para leluhur. Puro Mangkunegaran biasanya melakukan Ruwahan pada malam hari setelah tanggal 1 bulan Ruwah, diawali dengan wilujengan dilanjutkan dengan ziarah kubur. Tradisi ziarah kubur mengajarkan kita untuk menghargai jasa-jasa dan menghormati para leluhur yang telah tiada dengan mendoakan agar memperoleh ketenangan dialamnya. Selanjutnya dalam tradisi ziarah kubur mengajarkan kita untuk mensyukuri nikmat yang telah kita peroleh dan mengajarkan kita untuk berbagi antar sesama. Dalam pelaksanaan tradisi Ruwahan di Puro Mangkunegaran dapat dilihat tidak ada perbedaan atau perlakuan khusus. Semua kerabat, abdi dalem, serta masyarakat yang hadir menjalankan tradisi sesuai dengan urutan-urutan prosesi Ruwahan. Meskipun terdapat perbedaan agama, hal tersebut tidak mengurangi makna dan kekhusukan dalam melakukan tradisi Ruwahan. Hal tersebut terjadi karena kerabat, abdi dalem maupun masyarakat saling menjaga toleransi beragama dan karena kebersamaan itulah maka pelaksanaan tradisi Ruwahan berjalan dengan lancar. Dampak toleransi beragama tersebut mampu membentuk karakter manusia yang lebih baik. Karakter yang baik itu dapat ditunjukkan dengan tindakan-tindakan yang bernilai moral terhadap Tuhan, bernilai moral terhadap sesama manusia berupa sikap toleransi.
Agrarian Law Policy: Transition of Baki Pandeyan Factory Land Function into Baki Community Ownership (1860 - 2024) Irma Ayu Kartika Dewi
Vol. 3 No. 1 (2025): Proceeding of International Conference on Cultures & Languages 2025 701-711
Publisher :

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research examines the Agrarian Law policy that became the transition path of land conversion around the Baki Pandeyan factory area. The research begins with the arrival of the Dutch to occupy Baki since the establishment of the open door policy, the global economic crisis, Japanese exploitation in Solo in expelling the Dutch, to the post-independence political power shift in making asset ownership policies from foreign private entities to local communities. The main focus of the research lies on historical, social, legal processes. The results show that the implementation of the Agrarian Law became the main instrument that shaped the historical process of land rights around the Baki Pandeyan factory. The land use transition referred to in this research explains how the land around Baki in 1870 functioned as a Dutch company area until it turned into public facilities, government offices, agricultural areas and residential areas of Baki residents, until today. This research emphasizes the importance of understanding the interaction between legal changes and social dynamics in a historical context to see its impact on local communities. Thus, this article not only aims to present an overview of the impact of agrarian policy in Baki, identifying how these lands were used by the Dutch and local communities, but also as a form of effort to introduce areas and buildings in the Baki area that have traces of historical heritage from the Dutch colonial era.