Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

POLA PERKEMBANGAN ZONA KAWASAN PENYANGGA TPA SUMOMPO MANADO DI TINJAU TERHADAP ASPEK SPASIAL DAN TATA LETAK BANGUNAN Sunardi, Sigit Mauludi; -, Sangkertadi; Rondonuwu, Dwight M
SPASIAL Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKKehadiran tempat pemrosesan akhir seringkali menimbulkan dilema. TPA dibutuhkan, tetapi sekaligus tidak diinginkan kehadirannya.Pemanfaatan lahan disekitar Zona Penyangga TPA sebagai permukiman berdampak buruk bagi kesehatan dan perilaku sosial masyarakat, pada TPA dengan Sistem Pengelolaan Lahan Urug Saniter (LUS) adalah sarana pengurugan sampah ke lingkungan yang disiapkan dan dioperasikan secara sistematik, dengan penyebaran dan pemadatan sampah pada area pengurugan, serta penutupan sampah setiap hari tidak di perbolehkan mendirikan Bangunan. Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk Mengetahui Faktor yang mendorong terjadinya perubahan tersebut ditinjau dari aspek spasial dan tata letak bangunan disekitarnya. Dan Mengetahui Pola Perkembangan Zona Penyangga Kawasan TPA Sumompo Manado. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penginderaan jauh dengan menggunakan informasi Multi Temporal dan teknik overlay. Sehingga menemukan hasil bahwa Faktor yang mendorong terjadinya perubahan Fungsi Lahan di Kawasan Zona Penyangga TPA karena kurang pahamnya Masyarakat sekitar tentang larangan untuk tidak mendirikan Bangunan di sekitar Kawasan Penyangga. Berdasarkan PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NO 20 TAHUN 2011 dan PERDA RTRW Kota Manado Tahun 2014 Mengenai batas Zona Penyangga Kawasan TPA yang harus di bebaskan dengan pembangunan atau Kegiatan huni-menghuni, dan Jika tidak ada Penaganan dari Pemerintah dan Kesadaran dari masyarakat itu sendiri, maka dalam jangka waktu 5 Tahun Kedepan pada Tahun 2020. Perkembangan Kawasan Zona Penyangga TPA Sumompo akan Menjadi Kawasan Permukiman dan Pengurangan Luasan RTH di Kawasan Zona Penyangga TPA yang seharusnya tidak di perbolehkan menjadi kawasan terbangun.Kata Kunci : Zona Penyangga TPA, Aspek Spasial dan Tata letak Bangunan
EVALUASI PENGGUNAAN LAHAN SEMPADAN SUNGAI SARIO DI KOTA MANADO Rondonuwu, Dwight M; Rengkung, Michael M; Labora, Putra Rahman
SPASIAL Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Permasalahan pembangunan perkotaan semakin komplek. Salah satu masalah yang muncul adalah kebutuhan ruang tidak sebanding dengan ketersediaan ruang. Hal tersebut menyebabkan terjadinya konversi penggunaan lahan yang tidak sejalan dengan rencana tata ruang. Perkembangan penduduk yang cukup pesat serta adanya konversi lahan di wilayah Sungai Sario Kota Manado mengakibatkan intensitas penggunaan lahan yang semakin tinggi dan penyempitan aliran sungai di beberapa tempat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian antara penggunaan lahan saat ini dengan ketentuan pemanfaatan ruang sempadan Sungai Sario yang ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Manado, maka perlu dilakukannya identifikasi letak bangunan dan karekteristik penggunaan lahan eksisting, serta menganalisis kesesuaian antara ketentuan pemanfaatan ruang sempadan sungai dengan kondisi letak bangunan dan penggunaan lahan eksisting. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan metode analisis sistem informasi geografi dan pengindraan jauh menggunakan bantuan perangkat lunak ESRI ArcGis. Dari hasil analisis berdasarkan kondisi eksisting diperoleh jumlah bangunan yang terdapat pada daerah sempadan Sungai Sario dengan lebar 5 meter adalah sebanyak 419 unit bangunan, sedangkan jumlah bangunan pada daerah sempadan dengan jarak 15 meter adalah sebanyak 724 unit. Adapun kesesuaian bangunan dan penggunaan lahan pada daerah sempadan Sungai Sario untuk jarak sempadan 5 meter di dominasi penggunaan lahan yang tidak sesuai yaitu 41597,33 m2 (68%) dengan 417 unit bangunan, dan penggunaan lahan yang sesuai sebesar 19234,05 m2 (32%) dengan 2 unit bangunan. Sedangkan sempadan 15 meter didominasi penggunaan lahan yang tidak sesuai yaitu sebesar 126998,01 m2 (69%), dengan 724 unit bangunan dan penggunaan lahan yang sesuai sebesar 58030,94m2 (31%).Kata Kunci : Evaluasi, Penggunaan Lahan, Sempadan Sungai
KARAKTERISTIK KAWASAN KOTA LAMA MANADO DENGAN PENDEKATAN TEORI HAMID SHIRVANI Kojongian, Jeivan O.G; Rondonuwu, Dwight M; Tungka, Aristotulus E
SPASIAL Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan Kota Manado yang begitu cepat membuat terbentuknya beberapa kawasan pusat kegiatan yang baru, sehingga Kawasan Kota Lama Manado harus beradaptasi dengan perkembangan tersebut. Perkembangan Kota bisa akan mengubah citra dari kawasan tersebut dan citra Kota Lama berperan sebagai Identitas Kota Manado sehingga Citra Kota Lama bisa di lihat melalui karakteristik Kawasan, menurut pakar Arsitektur Kota yaitu Hamid Shirvani, Kualitas fisik yang diberikan suatu kawasan dapat menimbulkan citra yang cukup kuat dan sebagai identitas yang memiliki daya tarik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik Kawasan Kota Lama Manado berdasarkan 8 elemen teori Hamid Shirvani. Metode yang digunakan pada penelitian ini yakni metode deskriptif yang menggambarkan bagaimana karakteristik Kawasan Kota Lama Manado. Berdasarkan hasil penelitian yang didapat yakni Penggunaan lahan pada Kawasan dominan oleh perdagangan dan jasa. Bentuk bangunan berwujud persegi dengan pola berderet dan massa bangunan lebih banyak 2-3 lantai dengan fungsi pertokoan. Sirkulasi kendaraan sering terjadi kemacetan dan salah satu penyebab sistem parkir on-street. Ruang terbuka yang tersedia pada kawasan terbagi antara ruang terbuka hijau yang linear dan mengelompok serta ruang terbuka non-hijau. Jalur pedestrian pada Kawasan sudah tersedia pada sisi-sisi jalan dengan kondisi baik dan lebar 2 meter. Pendukung kegiatan yang terdapat pada Kawasan seperti pedagang kaki lima yang terkonsentrasi pada pusat keramaian dan menempati di atas trotoar. Perpapanan-nama/penanda yang terdapat pada Kawasan berupa identitas bangunan, papan reklame, rambu lalu lintas dan penanda jalan yang di pasang pada tiang dan terletak di tanah. Preservasi, terdapat bangunan-bangunan bersejarah yang perlu di jaga sehingga tampilan bangunan tidak berubah.Kata Kunci : Citra Kota, Karakteristik, Kota Lama.
PENATAAN RUANG KAWASAN TEPI SUNGAI TONDANO DI SEGMEN KAMPUNG TUBIR SAMPAI JEMBATAN MIANGAS DI MANADO Tomigolung, Billy Adiputra; Rondonuwu, Dwight M; Rogi, Octavianus
SPASIAL Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penataan ruang kawasan tepi air sungai di Kota Manado khususnya daerah bantaran sungai sangat penting untuk dilakukan, karena berdasarkan kondisi eksisting yang ada di lokasi penelitian masih terdapat banyak bangunan  di area 15 meter sempadan sungai, dan arah hadap bangunan masih membelakangi sungai sebagai area waterfront City. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis kondisi eksisting tata ruang kawasan tepi sungai Tondano di segmen Kampung Tubir sampai jembatan Miangas dan merekomendasi konsep penataan ruang kawasan tepi sungai Tondano di segmen Kampung Tubir sampai jembatan Miangas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Dari hasil penelitian yang ada di lokasi, maka ditemukan 195 unit bangunan yang masih membelakangi sungai. Tata guna lahan  didominasi oleh perumahan teratur sebesar 20,3 ha dan aspek pendukung kegiatan yang ada, terdapat lapangan di Kelurahan Ketang Baru yang dimanfaatkan warga menjadi tempat berkumpul. Konsep rekomendasi dengan melakukan penatan yaitu menata kembali arah hadap bangunan mengarah ke sungai dan menambah taman yang ada di Kelurahan Dendengan Luar agar bisa dimanfaatkan warga menjadi tempat berkumpul. Untuk perencanaan di area sempadan sungai yaitu membebaskan bangunan di area sempadan sungai dengan membangun rusunawa di lingkungan 3 Kelurahan Dendengan Luar karena masih memiliki tanah kosong dan dermaga penyeberangan yang berfungsi sebagai lalu lintas transportasi masyarakat dalam mendukung ekonomi dan pariwisata, serta menyediakan ruang terbuka di area sempadan sungai Tondano.  Kata Kunci : Waterfront, Penataan Ruang, Sempadan Sungai 
ANALISIS ELEMEN – ELEMEN PEMBENTUK CITRA KOTA DI KAWASAN PERKOTAAN TAHUNA, KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE Budiman, Ival Tom Rees; Rondonuwu, Dwight M; Tungka, Aristotulus E
SPASIAL Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada era globalisasi suatu kota dalam perkembangan  perlu adanya suatu citra kota atau identitas kota untuk sebagai penambah daya tarik kota. Tahuna memiliki kawasan pusat niaga yang disebut “Trikora”. Selain berada pada pusat kegiatan perdagangan dan jasa, kawasan ini juga memiliki sejarah penting bagi perkembangan di Kawasan Perkotaan Tahuna. Kondisi ini dapat terlihat sangat jelas dari kondisi arsiktekturnya yang masih terdapat banyak bangunan tua, seperti pertokoan, perkantoran, dan juga pasar tradisional yang belum banyak berubah yang nampak pada wajah kotanya. Citra kota menjadi sesuatu yang penting untuk memperkuat identitas dan wajah kota sehingga membuat kota tersebut menarik dan memiliki daya tarik. tujuan penelitian menemukan citra kota di kawasan perkotaan Tahuna melalui lima elemen pembentuk citra kota. dalam teori Kevin Lynch yaitu, Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi elemen – elemen pembentuk citra kota di kawasan perkotaan Tahuna  dan menganalisis elemen – lemen pembentuk citra kota di kawasan perkotaa Tahuna. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dimana landasan teori yang berkaitan dengan judul analisis elemen – elemen pembentuk citra kota di kawasan perkotaan Tahuna. metode statistik deskriptif dan data kuantitatif dipakai untuk membuat kesimpulan pada peta mental maupun kuesioner berdasarkan hasil presentase responden yang berjumlah 99 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kawasan perkotaan Tahuna, kabupaten Kepuauan Sangihe berdasarkan  tata ruang kota memiliki 29 elemen pembentuk citra kota oleh kevin lynch, diantaranya ada 7 kawasan (District ), 5 elemen batas (Eedges), 2 titik temu ( Nodes ) serta memiliki 16 jalur  ( Path ). Hasil dari menurut masyarakat Tahuna, kawasan perkotaan Tahuna memiliki 24 elemen fisik sebagai elemen pembentuk citra kota, diantaranya adalah 5 elemen kawasan   ( District ), 2 elemen jalur ( Path ), 1 elemen penanda kawasan ( Landmark ), 1 elemen titik temu ( Nodes ) serta 7 elemen batas ( Edges ).  Kata Kunci : Analisis, Elemen Kota, Kawasan  Perkotaan, Citra Kota.
KAJIAN PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KECAMATAN PAAL DUA KOTA MANADO Lawahaka, Moh Junaedi A; Franklin, Papia J.; Rondonuwu, Dwight M
SPASIAL Vol 5, No 3 (2018)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan penggunaan lahan besar-besaran terjadi di tiap-tiap wilayah administrasi Kota Manado yang mencakup beberapa kecamatan salah satunya yaitu Kecamatan Paal Dua, kecamatan Paal Dua adalah kecamatan yang resmi dimekarkan dari Kecamatan Tikala pada tahun 2012 yang lalu. Hal ini dikarenakan pertumbuhan dan perekembangan kota yang semakin hari semakin meningkat. Hal ini juga berdampak pada kebutuhan akan lahan, karena lahan tidak dapat bertambah, maka yang terjadi adalah penambahan guna lahan tertentu yang berakibat pada berkurangnya guna lahan lain di kecamatan Paal Dua itu sendiri. Berangkat dari hal tersebut maka dilakukanlah penelitian tentang perubahan penggunaan lahan di kecamatan Paal Dua Kota Manado yang difokuskan pada dua kelurahan yaitu kelurahan Malendeng dan kelurahan Paal Dua. Tujuan dari penelitian ini adalah 1Mengkaji intensitas perubahan penggunaan lahannya dan 2Mengetahui apa faktor – faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaannya. Metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif serta pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan melakukan wawancara dan interpretasi visual karakteristik yang tergambar pada peta citra satelit. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada kelurahan Malendeng selama range waktu 12 tahun (2006-2018) mengalami peningkatan yang terbilang signifikan yaitu seluas 18,20 Ha (28%) daritotal luas lahan terbangun yang ada dengan perubahan guna lahan yang paling dominan yaitu perubahan lahan perkebunan menjadi lahan perumahan dengan luas 12,20 Ha. Kemudian untuk di kelurahan Paal Dua juga mengalami peningkatan yang terbilang signifikan yaitu seluas 25,22 Ha (26%) dari total luas lahan terbangun yang ada dengan perubahan gunalahan yang paling dominan yaitu perubahan lahan perkebunan menjadi lahan perumahan dengan luas 12,70 Ha. Faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu terdiri atas faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal dipengaruhi oleh (1)Penduduk, (2)Kepemilikan lahan, (3)Aksesbilitas; kemudahan menjangkau lokasi usaha/tempat kerja & kemudahan menjangkau kawasan lain, (4)prasarana dan sarana, (5)Topografi; ketinggian lahan dan kemiringan lereng. Sedangkan faktor eksternal dipengaruhi oleh (1)Aturan/kebijakan pemerintah; rencana struktur ruang kota dan rencana pola ruang kota. Kata Kunci : Perubahan Penggunaan Lahan, Kecamatan Paal Dua
EVALUASI RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTAMOBAGU TAHUN 2014 - 2034 Mokodongan, Rohaya Putri; Rondonuwu, Dwight M; Moniaga, Ingerid L
SPASIAL Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kotamobagu memiliki rencana tata ruang wilayah (RTRW) yang telah disahkan dalam Peraturan daerah tentang Rencana tata ruang wilayah Kotamobagu tahun 2014 – 2034. Rencana tata ruang wilayah Kotamobagu sampai pada tahun 2019 telah masuk tahun ke 5 setelah rtrw disahkan, sehingga perlu dilakukan evaluasi 5 tahun pertama. Ketidaksesuaian rencana tata ruang wilayah terhadap kondisi aktual yang terjadi di lapangan seringkali terjadi. Ketidaksesuaian pada RTRW Kotamobagu terjadi pada rencana struktur ruang dan pola ruang, dari hasil survey yang dilakukan pada rencana pola ruang kawasan sektor informal untuk pedagang kaki lima yang direncanakan diarahkan lokasinya di 3 Kelurahan / Desa yaitu Kelurahan Molinow, Kelurahan Genggulang dan Desa Poyowa Kecil. Dilihat dari kondisi aktual yang terjadi, realisasi di 3 Kelurahan / Desa dalam rencana tidak ada, lokasi pedagang kaki lima di Kotamobagu dilihat dari kondisi aktual yang ada lokasinya berbeda dengan yang direncanakan dimana lokasinya yaitu di Jln. Kartini Kelurahan Gogagoman. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengevaluasi kesesuaian rencana tata ruang wilayah kotamobagu terhadap kondisi aktual dan implementasinya. Penelitian menggunakan metode kualitatif kuantitatif untuk menjelaskan kondisi sebenarnya antara rencana tata ruang wilayah kotamobagu terhadap kondisi aktual dilapangan, kemudian dihitung dengan menggunakan persentase (%) untuk mengetahui tingkat kesesuaian rencana tata ruang wilayah kotamobagu terhadap kondisi aktual. Evaluasi rencana tata ruang wilayah kotamobagu menggunakan pedoman dari Peraturan Menteri Agraria & Tata Ruang No. 9 tahun 2017 tentang pedoman pemantauan dan evaluasi pemanfaatan ruang. Dari hasil evaluasi yang dilakukan, tingkat kesesuaian rencana tata ruang wilayah kotamobagu masuk dalam kategori kesesuaian kurang berkualitas dengan hasil yang didapatkan adalah  74,18 % sehingga rekomendasi yang diberikan berdasarkan pedoman adalah perlu dilakukan revisi sebagian Rencana Tata Ruang Wilayah Kotamobagu. Kata Kunci: Evaluasi, Kesesuaian RTRW Kotamobagu
ANALISIS PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP TIPOLOGI EKOSISTEM PERKOTAAN DI KECAMATAN MAPANGET KOTA MANADO Dauhan, Edgard M; Rondonuwu, Dwight M; Wuisang, Cynthia E.V.
SPASIAL Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan penggunaan lahan kota Manado berdampak pada perubahan ekosistem perkotaan dan eksisting lahan. Kecamatan Mapanget adalah kawasan yang berdekatan dengan pinggiran perkotaan, bila dilihat dari tipologi ekosistem penggunaan lahan di kecamatan Mapanget indentik dengan perkebunan. Tetapi, karena adanya pengaruh perkembangan pada pusat kota maka terjadi perubahan dan penggunaan lahan di kecamatan Mapanget sehingga merubah tipologi ekosistem perkotaan yang ada. Tujuan penelitian ini menganalisis perubahan  dan penggunaan lahan kecamatan Mapanget untuk menentukan tipologi ekosistem perkotaan berdasarkan perubahan dan penggunaan lahan di kecamatan Mapanget. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Untuk dapat menganalisis perubahan lahan dan penggunaan lahan penulis menggunakan software  Arc Gis 10.3 dengan  data-data penunjang yaitu peta citra satelit 2002-2018, peta penggunaan lahan 2007-2016 dan observasi berdasarkan variabel yang diambil dari teori Riddel 1981 sebagai pedoman. Berdasarkan hasil analisis penggunaan lahan terbuka pada tahun 2002 sampai pada tahun 2018 terjadi perkembangan secara signifikan, dengan berkurang penggunaan lahan terbuka hijau, perkebunan dan pertania, berganti menjadi lahan terbangun yaitu penggunaan lahan perumahan dan permukiman, perdagangan dan jasa. Perkembangan yang terjadi terus bertambah sehingga mengambil tempat-tempat yang masih indentik dengan lahan terbuka hijau. Tipologi ekosistem perkotaan kecamatan Mapanget adalah ekosistem absorbsi, produksi dan komposit. Dari ketiga tipologi yang didapatkan berdasarkan hasil penelitian, ekosistem produksilah yang mendominasi penggunaan lahan di kecamatan Mapanget. Akibat perkembangan pemanfaatan lahan di kota Manado maka terjadi perubahan penggunaan lahan, yang mengakibatkan perubahan tipologi ekosistem, dari  produksi menjadi ekosistem absorbsi, hal ini nampak berubahnya lahan terbuka hijau, perkebunan, dan pertanian menjadi perumahan dan permukiman.Kata Kunci : Penggunaan Lahan, Tipologi Ekosistem Analisis Gis, Kecamatan Mapanget
KAJIAN CITY BRANDING TOMOHON SEBAGAI KOTA BUNGA Mokalu, Kezia Stefani; Rondonuwu, Dwight M; Lintong, Steven
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

City branding merupakan strategi untuk meningkatkan daya saing kota dalam menghadapi kompetensi global dengan membangun diferensiasi dan memperkuat identitasnya. Saat ini, Kota Tomohon dikenal luas oleh masyarakat sebagai Kota Bunga dan telah melaksanakan Tomohon International Flower Festival (TIFF) sejak tahun 2008. Selain itu, sejak dahulu penduduknya sudah mengembangkan budidaya tanaman hias. Bahkan Tomohon telah ditetapkan sebagai Kawasan Khusus Pengembangan Agrobisnis Florikultura (KKPAF) untuk Kawasan Indonesia Timur oleh Ditjen Hortikultura. Berbagai potensi tersebut digunakan pemerintah untuk membangun diferensiasi kota yang merupakan bagian dari strategi city branding. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui city branding Tomohon sebagai Kota Bunga menurut teori Kavaratzis. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik analisis Miles & Huberman dan SWOT. Hasil penelitian menunjukkan visi Kota Tomohon tidak secara ekplisit menetapkan Kota Bunga pada setiap dokumen perencanaan. Akan tetapi, budaya internal menunjukkan pengelolaan dan pemasaran Kota Bunga telah dilakukan oleh pemerintah melalui berbagai program dinas terkait. Namun sayangnya, keterlibatan komunitas lokal dalam pengembangan Kota Bunga baru sebatas pelaksanaan TIFF. Begitu pula dengan sinergi yang terbentuk diantara stakeholder yang saling mendukung untuk mensukseskan TIFF. Meskipun demikian, infrastruktur kota sudah mampu menyediakan kebutuhan dasar, termasuk untuk pengembangan Kota Bunga. Hanya saja, ruang dan gerbang kota kurang menonjolkan brand bunga. Sedangkan kesempatan yang menonjolkan brand sangat terbuka dan komunikasi masih belum memaksimalkan logo dan slogan. Untuk itu dapat disimpulkan bahwa Kota Tomohon telah menerapkan city branding menurut teori Kavaratzis, walaupun masih belum maksimal karena masih berujung pada promosi TIFF. Kata Kunci : City Branding, Tomohon, Kota Bunga
KAJIAN SEJARAH DAN ARSITEKTUR TUGU PERANG DUNIA II DI MANADO Rondonuwu, Dwight Mooddy
MEDIA MATRASAIN Vol 12, No 2 (2015)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bangunan kuno Tugu Perang Dunia II yang berdiri kokoh di halaman samping Gereja Sentrum Manado, dirancang Ir. Cj uit Den Bosch seorang  arsitek yang berkebangsaan Sekutu  dibangun tahun 1946-an. Secara visual bangunan kuno Tugu Perang Dunia II ini memperlihatkan tampilan arsitektur yang  bergaya kolonial. Penelitian ini  bertujuan untuk mengkaji  sejarah Tugu Perang Dunia II dan melihat kelayakan nilai-nilai arsitektur yang dimiliki bangunan Tugu Perang II ini sehingga dapat dilakukan upaya pelestarian dan konservasi dalam rangka memperkaya khasanah Arsitektur Kota khususnya bangunan tua bersejarah di Manado. Dengan menggunakan metode analisis deskripsi maka dari hasil penelitian ditemukan sejumlah peristiwa kesejarahan penting yang menjadi alasan bangunan Tugu Perang Dunia II ini dibangun. Dari aspek arsitektur, bangunan kuno Tugu Perang Dunia II ini ternyata memiliki keunikan arsitektur bergaya kolonial serta menyimpan makna tampilan khas yang mampu memberikan identitas tersendiri pada wajah arsitektur di kawasan pusat kota Manado. Kata Kunci : Bangunan Kuno, Tugu Perang Dunia, Konservasi, Pelestarian, Arsitektur Kota