Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

ANALISIS RAWAN BENCANA TANAH LONGSOR DI KECAMATAN RATAHAN TIMUR KABUPATEN MINAHASA TENGGARA Sulistio, Septiawan; Rondonuwu, Dwight M; Hanny, Poli
SPASIAL Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bencana alam menjadi permasalahan yang sering terjadi di Negara Indonesia, letak geografis dan bentang alam menjadi salah satu faktor sering terjadi bencana alam tersebut, jumlah kejadian bencana tanah longsor di Indonesia umumnya terjadi pada wilayah yang memiliki topografi yang curam dan memiliki curah hujan 2000mm/tahun, Kecamatan Ratahan Timur memiliki 10 Desa, Desa Pangu dan Wioi adalah desa yang memiliki bentang alam yang berbukit dan, memiliki kemiringan lereng hampir mendekati 40%  menjadi salah satu faktor rawan akan terjadinya longsor. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik fisik wilayah di Kecamatan Ratahan Timur, mengetahui penggunaan lahan pada daerah rawan bencana tanah longsor Kecamatan Ratahan Timur, menganalisis tingkat rawan bencana tanah longsor. Penelitian ini Menggunakan Deskriptif analisis tumpang susun. data-data yang mendukung penelitian ini ialah curah hujan, kemiringan lereng, jenis tanah, jenis batuan dan penggunaan lahan. Mengidentifikasi karakterstik fisik di wilayah di Kecamatan Ratahan Timur yaitu topografi, curah hujan, kemiringan lereng, geologi, jenis tanah. Penggunaan lahan tertinggi di ratahan timur ialah pertanian lahan kering bercampur semak 5028,15%, sedangkan terendah ialah pertanian lahan kering 97,94%, sedangkan penggunaan lahan untuk pemukiman aialah 85,90%. menganalisis tingkat rawan bencana longsong di Kecamatan Ratahan Timur adalah yang kategori curam dan pada desa pangu satu total luasan perumahan permukiman yaitu 13.22431 Ha, dan dalam kategori rawan bencana tanah longsor tinggi yaitu seluas 5.170786 Ha, dan serta total luas total dari desa Pangu Satu yaitu 950.2512 Ha, adapun pada Desa ini termasuk dalam kategori rawan bencana tanah longsor tinggi, adapun perumahan permukiman pada rawan bencana tanah longsor sedang dengan luasan 8.053528 Ha.  Kata Kunci : Rawan Longsor, Bencana Longsor, Ratahan Timur
KESESUAIAN PEMANFAATAN LAHAN WILAYAH PESISIR DI KECAMATAN MANDOLANG Apena, Osiani; Rondonuwu, Dwight M; Poluan, Roosje J
SPASIAL Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesesuaian lahan land suitability merupakan kecocokan adaptability suatu lahan untuk tujuan penggunaan tertentu, melalui penentuan nilai (kelas) lahan serta pola tata guna lahan yang dihubungkan dengan potensi wilayahnya, sehingga dapat diusahakan penggunaan lahan yang lebih terarah berikut usaha pemeliharaan kelestariannya. Pesisir merupakan wilayah yang rentan terhadap perubahan, baik perubahan yang terjadi karena proses alami dan perubahan karena campur tangan manusia. Kegiatan-kegiatan di kawasan pesisir seperti perikanan tangkap, perikanan budidaya (tambak), pelabuhan, pariwisata, permukiman dan suaka alam dapat mempengaruhi keseimbangan ekosistem dan geomorfologi kawasan pesisir. Dengan demikian perlu dilakukan penelitian di kawasan pesisir Kecamatan  Mandolang untuk mengetahui pemanfaatan lahan dan kesesuaiannya sehingga dapat memberikan masukan untuk kebijakan lingkungan yang dapat diterapkan di kawasan pesisir Kecamatan Mandolang. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pola perubahan pemanfaatan lahan terbangun di wilayah pesisir Kecamatan Mandolang dan Menganalisis tingkat kesesuaian pemanfaatan lahan di wilayah pesisir Kecamatan Mandolang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif dengan analisis spasial untuk mengetahui kesesuaian lahan pemanfaatan lahan pesisir di kecamatan mandolang. Bedasarkan hasil analisis kesesuaian lahan Kawasan pesisir di kecamatan mandolang, dapat di interpretasikan terdapat tiga fungsi lahan yang ada di Kecamtan Mandolang yaitu lahan yang sesuai, lahan yang kurang sesuai dan lahan yang tidak sesuai. Hasil dari analisis diketahui luas untuk kategori lahan sesuai adalah 713,34  Ha dengan presentase 53%, luas untuk kategori lahan kurang sesuai adalah 215,39 Ha dengan presentase 16% dan luas untuk kategori lahan tidak sesuai adalah 419,59Ha dengan presentase 31% dari luas wilayah. Kata Kunci : Kesesuaian Lahan, Pemanfaatan Kawasan Pesisir, Kecamatan Mandolang.
EVALUASI KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN PADA KAWASAN RAWAN BENCANA BANJIR DI KECAMATAN TOILI DAN TOILI BARAT, KABUPATEN BANGGAI Simatupang, Geovanly; Kindangen, Jefrey I; Rondonuwu, Dwight M
SPASIAL Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Toili dan Toili Barat merupakan kecamatan yang masuk dalam arahan pola ruang kabupaten banggai tahun 2012-2032. Sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL), dan juga kecamatan Toili dan Toili Barattermasuk dalam kawasan rawan banjir dengan kategori kerawanan tinggi. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui kondisi kemampuan dan kesesuaian lahan yang ada di Kecamatan Toili dan Toili Barat serta mengevaluasi arahan kesesuaian lahan terhadap penggunaan lahan di Kecamatan Toili dan Toili Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan menggunakan pendekatan analisis spasial dengan bantuan SIG (Sistem Informasi Geografis). Teknik analisis yang digunakan adalah teknik overlay (Tumpang tindih) dan analisis skoring untuk pemberian nilai setiap parameter dari hasil analisis yang di lakukan didapatkan bahwa kemampuan lahan yang dominan adalah kemampuan lahan rendah dan kesesuaian lahan yang dominan adalah kesesuaian lahan perkebunan. Hasil analisis menunjukan adanya ketidaksesuaian antara lahan permukiman dengan hasil analisis kesesuaian lahan dan kerawanan bencana, karena lahan yang sesuai penggunaan lahan permukiman dengan analisis kesesuaian lahan dan kerawanan bencana hanya 381.38 Ha/9.08 % dan yang tidak sesuai atau terjadinya penyimpangan penggunaan lahan permukiman adalah 3818.32 Ha/90.92 % dari total luas penggunaan lahan permukiman seluas 4199.70 Ha dari total luas kecamatan Toili dan Toili Barat. Kata Kunci : Kemampuan lahan, Kesesuaian lahan, Permukiman, Rawan bencana banjir
PERKEMBANGAN.FRINGE-SETTLEMENTS.DI iKAWASAN.RURAL-URBAN.FRINGE. Elias, Stefharen Elshaday; Rondonuwu, Dwight M; Tondobala, Linda
SPASIAL Vol 8, No 3 (2021)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Talawaan District. Kalawat, and Tombulu are sub-districts located on the outskirts of Manado City which are affected by Manado City, one of which is the increase in housing and settlements. In the Regional Spatial Plan of the three sub-districts, development is directed into new settlements that are able to accommodate the shortage of houses in Manado City. This study aims to identify the physical conditions in the rural urban fringe area and analyze the development pattern of fringe settlements in the rural urban fringe area. The survey method used in this research is descriptive and qualitative which is supported by quantitative analysis to analyze the data in digital form and can also be measured based on the standard used and also using spatial analysis spatial analysis by using descriptive qualitative method and a map of the use of land for settlements, with the aim of describing the development and expansion that has occurred, which is then analyzed for the pattern of distribution of settlements that occurs using the closest-neighborhood analysis. The results of the analysis are expected to be a reference for the government to treat development restrictions and supervision so as not to interfere with spatial patterns and spatial structures in the three sub-districts in the next few years.Keywords: Rural Urban Fringe, Fringe Settlements
Preferensi Masyarakat Terhadap Pemanfaatan Taman Kota Sebagai Ruang Terbuka Hijau di Kota Manado Joane Kalalo; Dwight Mooddy Rondonuwu; Reny Syafriny
JURNAL BIOS LOGOS Vol. 13 No. 1 (2023): JURNAL BIOS LOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.v13i1.46483

Abstract

Taman Kota merupakan bagian dari ruang terbuka hijau publik. Saat ini ketersediaan taman di Kota Manado telah memenuhi proporsi penyediaan taman kota sebagaimana standar yang berlaku. Namun kenyataannya pemanfataan taman kota masih sepi dari pengunjung dan sepertinya belum memenuhi harapan masyarakat. Tujuan penelitian adalah menganalisis preferensi masyarakat terhadap pemanfaatan taman kota sebagai ruang terbuka hijau publik di Kota Manado. Penelitian menggunakan metode analisis kualitatif deskriptif. Hasil penelitian berdasarkan preferensi masyarakat terhadap pemanfaatan taman kota menunjukkan bahwa taman kota yang paling diminati adalah Manado Godbless Park. Alasannya karena ketersediaan fasilitasnya dan keberagaman aktivitas yang ada lebih representatif jika dibandingkan dengan lapangan Sparta Tikala dan lapangan Sario serta taman kota lainnya di Kota Manado. Preferensi masyarakat terhadap pendukung kualitas fasilitas taman kota, seperti kenyamanan, kebersihan, keindahan, keamanan dan kemudahan akses merupakan hal penting yang perlu mendapat perhatian dari semua pihak.
Persepsi dan Preferensi Masyarakat dalam Kegiatan Pertanian Perkotaan (Urban Farming) Di Kota Manado Podung, Geraldine C.D; Rondonuwu, Dwight M; Kumurur, Veronica A
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 11 No. 1 (2022): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v11i1.41231

Abstract

AbstrakJumlah penduduk terus bertambah, menyebabkan peningkatan kebutuhan bangunan dan menyebabkan sulitnya penyediaan RTH, terutama pada skala kecamatan. Salah satu solusi penghijauan dan penyediaan RTH pada lokasi padat ialah dengan partisipasi masyarakat untuk menghijaukan lahan pribadi dengan cara urban farming. Sebelum itu, perlu diteliti pemahaman masyarakat tentang urban farming untuk penghijauan. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lokasi yang berpotensi serta bagaimana persepsi dan preferensi masyarakat terkait urban farming. Penelitian menggunakan metode deskriptif dari data yang diperoleh melalui observasi langsung dan kuesioner. Adapun penelitian ini difokuskan pada kecamatan padat yakni Kecamatan Sario, Wenang, dan Singkil, lokasi potensial untuk pelaksanaan urban farming antara lain lahan terbengkalai di kecamatan (54 titik lahan terbengkalai), area revitalisasi sungai, ruang vertikal, halaman rumah ataupun pada lahan di bangunan komersil dan perkantoran. Berdasarkan analisa, 85% responden memberikan respon positif mengenai urban farming, dan dari preferensi masyarakat, urban farming pada lahan privat dapat dilakukan dengan metode konvensional dan vertikal, ditujukan untuk penyediaan RTH privat, estetika lingkungan, dan ketahanan pangan, sedangkan untuk di lahan bersama atau lahan terbengkalai ditujukan untuk pembuatan taman komunal dengan fungsi pemenuhan RTH dan penghijauan, ketahanan pangan dan ekonomi. Urban farming juga dapat dilakukan di atap bangunan terutama bagi bangunan komersil. Kata kunci: Pertanian Perkotaan; Ruang Terbuka Hijau; Penghijauan Kawasan Padat; Partisipasi Masyarakat.Abstract  The number of opulation continues to grow, causing an increase in the need for buildings and making it difficult to provide green open space, especially at the sub-district scale. Therefore, one of the solution for reforestation in crowded locations is by involving community participation to utilize their own private with urban farming. So, it is necessary to do research about the community's understanding of urban farming for reforestation purposes. This study uses a descriptive method based on the data obtained through direct observation regarding urban farming. This research is focused on densely populated sub-districts namely Sario, Wenang, and Singkil District, potential locations for urban farming are abandoned lands in each sub-district (54 points location), river revitalization areas, vertical space and private land and commercial buildings. Based on the analysis, 85% of respondents gave a positive response about urban farming, and from their preferences, urban farming on private land can be carried out using conventional and vertical methods, aimed for of private green open space, and food security, while urban farming on shared land is intended for the function of fulfilling green open space, reforestation, as well as resilience food and economy. Urban farming can also be done on the rooftop, especially for commercial buildings Keyword: Urban Farming, Green Opesn Space, Reforestation Dense Areas, Community Participation.
Perubahan Pemanfaatan Ruang Kawasan Sempadan Sungai Pada Wilayah Pusat Kegiatan Kota Di Kecamatan Kotamobagu Barat Kota Kotamobagu Djufri, Chandra W; Rondonuwu, Dwight M; Kumurur, Veronica A
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 10 No. 2 (2021): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v10i2.37537

Abstract

Pemanfaatan ruang sebagai upaya agar dapat melaksanakan struktur ruang, pola ruang berdasarkan aturan rencana suatu tata ruang dengan penyusunan, pelaksanaan program di sertakan pembiayaannya. Sungai sebagai jalur atau alu wadah alami dan/atau buata sebagai jaringan air yang mengalir di dalam, berawal pada hulu hingga muara, membatasi garis sempadan dari kanan dan kiri. Garis bayangan di kanan, kiri palung sungai berfungsi untuk batas perlindungan sungai. Kota–kotamobagu dilewati beberapa sungai yaitu, Sungai besar sungai ongkag mongondow dan sungai ongkag dumoga ini menyatu yang mengalir di inobonto. Sungai lainnya yaitu Sungai dayanan, moayat, katulidan, kotobangon dan beberapa sungai kecil. Dari sungai tersebut, keadaan sungai dayananlah yang perlu di perhatikan. Sungai dayanan ini melintasi lima Kelurahan, yaitu Kelurahan Upai, Biga, Kotamobagu, Gogagoman, Molinow dan Mongkonai. Dalam aturan RTRW Kota Kotamobagu pusat kegiatan kota di Kecamatan Kotamobagu Barat berada di Kelurahan Gogagoman, Kelurahan Kotamobagu, Kelurahan Kotobangon dan Kelurahan Mogolaing, aliran sungai melewati 3 Kelurahan yang pada wilayahnya pusat kegiatan kota yaitu di Kelurahan Gogagoman, Kotamobagu dan Mogolaing sehingga peneliti tertarik untuk melalukan penelitian terkait perubahan pemanfaatan ruang kawasan sempadan sungai pada pusat kegiatan kota di kecamatan kotamobagu barat.
Pengaruh Instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) terhadap Masyarakat & Lingkungan di Kota Manado Florence, Ivana Marcia; Rondonuwu, Dwight M; Wuisang, Cynthia E.V
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 10 No. 2 (2021): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v10i2.37546

Abstract

Sebagai bentuk realisasi Kebijakan Energi Nasional, pemerintah kota Manado menerima hibah hasil penelitian teknologi biogas yang diadakan oleh FCU Taiwan melalui program APEC ACABT berupa instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg). PLTBg ini merupakan sebuah proyek percontohan bertenaga 10kW dengan model sistem Biowaste-to-Bioenergy menggunakan Teknologi Paten Biohidrogen/Biometana Dua Tahap (Two-stage Biohythane Production - HyMeTek) dan beroperasi menggunakan limbah biologis dari RPH sebagai bahan baku untuk menghasilkan energi listrik dan pupuk cair. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa apakah instalasi PLTBg memiliki pengaruh yang signifikan terhadap aspek Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan masyarakat pada kawasan permukiman di kota Manado. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis Uji T (One sample t test) untuk menganalisa apakah ada perbedaan signifikan yang dihasilkan oleh PLTBg terhadap aspek sosial dan lingkungan baik setelah 1 hingga 2 tahun diimplementasikan. Sedangkan aspek ekonomi dihitung menggunakan asumsi pendapatan dan pengeluaran. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh signifikan yang dihasilkan oleh PLTBg terhadap aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan pada kawasan permukiman di kota Manado baik setelah 1 hingga 2 tahun diimplementasikan. Dimana perubahan lebih signifikan dirasakan oleh masyarakat setelah PLTBg telah diimplementasikan selama 2 tahun. Oleh sebab itu, direkomendasikan pengembangan PLTBg skala besar agar manfaatnya bisa menjangkau seluruh mayarakat kota, bahkan pulau-pulau kecil di sekitar kota Manado. Kata Kunci : Pengaruh, Energi, Biogas, Uji t, PLTBg, Manado
Kajian Pusat Pelayanan Kesehatan Jiwa di Kota Makassar dengan Pendekatan Tema Healing Environment Jermias, Agatha Kirey; Rondonuwu, Dwight M; Tilaar, Sonny
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 13 No. 1 (2024): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v13i1.57319

Abstract

AbstrakPusat pelayanan kesehatan jiwa adalah sebuah fasilitas yang melayani dan membantu untuk memulihkan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok untuk menjadi baik dan normal perasaan dan pemikirannya sehingga memungkinkan seorang individu untuk hidup harmonis dan produktif sebagai bagian dari masyarakat. Pentingnya kesehatan jiwa sudah mulai disadari oleh masyarakat Kota Makassar. Oleh karena itu, tujuan dari kajian Pusat Pelayanan Kesehatan Jiwa di Kota Makassar ini adalah untuk mendapatkan konsep yang tepat dalam merancang Pusat Pelayanan Kesehatan Jiwa yang mampu menerapkan prinsip-prinsip perancangan berbasis lingkungan penyembuhan di mana dalam implementasi desain terdapat interaksi antara indera manusia dengan alam sehingga membuat penggunanya merasa nyaman, diharapkan paradigma masyarakat mengenai gangguan jiwa dapat berubah dan masyarakat tidak segan lagi untuk memeriksakan kejiwaannya. Dalam proses perancangan objek ini menggunakan metode rasional atau metode perancangan yang melakukan analisis desain berdasarkan proses logis dan konsekuensi keputusannya dan dalam kajiannya melakukan studi komparasi yang dalam prosesnya melakukan pembandingan objek rancangan yang sudah ada dengan tipologi yang sama untuk mendapatkan data-data pendukung perancangan. Konsep yang diterapkan melalui pendekatan tema healing environment menghasilkan perancangan desain bangunan yang beradaptasi dengan alam, taman penyembuh, dan kebun untuk keperluan terapi dan rehabilitasi.Kata kunci: Pusat Pelayanan Kesehatan Jiwa; Kota Makassar; Healing Environment.AbstractA mental health service center is a facility that serves the mental health examination, treatment and counseling needs of a person or group to be able to live harmoniously and productively as part of society. The importance of mental health has begun to be realized by the people of Makassar City. Therefore, the aim of this study of the Mental Health Service Center in Makassar City is to obtain the right concept in designing a Mental Health Service Center which is able to apply design principles based on environmental healing where in the implementation of the design there is interaction between the human senses and nature so that making users feel comfortable, it is hoped that society's paradigm regarding mental disorders can change and people will no longer hesitate to have their mental health checked. In the process of designing this object, a rational method or design method is used which carries out design analysis based on the logistics process and the consequences of decisions and in the study carries out a comparative study which in the process compares existing design objects with the same typology to obtain design supporting data. The concept applied through the healing environment theme approach produces building designs that adapt to nature, healing gardens and gardens for therapy and rehabilitation purposes.Keyword: Mental Health; Makassar City; Healing Environment