Articles
Agronomic Character Variability Among Upland Rice Genotypes (Oryza sativa L.)
Ricoh Darisman Sihombing;
Lailatul Badriyah;
Dewi Nawank Sary;
Thoriq Ahmad Syauqy;
Eries Dyah Mustikarini;
Gigih Ibnu Prayoga;
Ratna Santi;
Budi Waluyo
Nusantara Science and Technology Proceedings Multi-Conference Proceeding Series C
Publisher : Future Science
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.11594/nstp.2022.2610
Rice production still has to be increased to meet the domestic needs of consumer preferences. Therefore, it is necessary to develop rice genotypes that have agronomic characteristics which can encourage high production. The objective of this research is to examine the variability of agronomic performance as well as the genotypic and phenotypic variability of agronomic traits among rice lines and cultivars. Materials included six promising lines and four cultivars. Urea, SP-36, and KCl fertilizers are used, as well as equipment for sacks, envelopes, fungicides, and pesticides. The research was based on an experiment with a randomized block design. This research was conducted at the Experimental Field of Agriculture Faculty, Universitas Brawijaya in Jatimulyo, Malang, from March to July 2022. According to the data, there is variation in the agronomic performance of the examined genotypes. Based on the coefficient of genotypic variation value, none are classified as high. All characters had a high category of variation based on phenotypic variance.
Phenological Characteristics, Distinctness, Uniformity, and Morphological Stability of Potential Genotypes of Upland Rice
Lailatul Badriyah;
Dewi Nawank Sary;
Thoriq Ahmad Syauqy;
Ricoh Darisman Sihombing;
Eries Dyah Mustikarini;
Gigih Ibnu Prayoga;
Ratna Santi;
Budi Waluyo
Nusantara Science and Technology Proceedings Multi-Conference Proceeding Series C
Publisher : Future Science
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.11594/nstp.2022.2613
Every cultivar has characteristics that distinguish it from another cultivar. As opposed to within the cultivar it is required to be uniform and not indicate variations due to segregation. Knowledge of the characteristics of local rice and high-yielding cultivar will be more advantageous if it is supported by knowledge of the morphological changes of plant parts at each stage of growth. This study was conducted to determine the distinctness, uniformity, and stability of 10 potential upland rice genotypes and obtain information about growth stages based on phenology. The research was conducted based on an experimental study using a randomized block design with three replications. Observation of rice genotype characteristics was carried out based on the phenological measurement guide from the Biologische Bundesanstalt, bundessortenamt und CHemische Industrie (BBCH) for rice, and the DUS characterization guide from UPOV. The results showed that the growth stages of 10 rice genotypes consisted of 10 primary growth phases and there are variations in phenological phases in each genotype. Morphological characterization showed that 10 genotypes had a uniform and stable morphology and were grouped into 2 clusters. Cluster 1 consisting of G1, G2, G3, G4, G5, G8, and G10. Cluster 2 consists of G6, G7, and G9. The phenology of rice and morphological differences indicate variations in the genetic potential that each genotype possesses. The timing of morphological and agronomic observations of rice can be determined using the information on plant phenology.
Potential of Upland Rice Promising Lines in Acid Dry Land at Two Different Seasons
Eries Dyah Mustikarini;
Gigih Ibnu Prayoga;
Ratna Santi;
Yesi Yesi;
Nur Putri Eka Sari
AGRIVITA, Journal of Agricultural Science Vol 45, No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Agriculture University of Brawijaya in collaboration with PERAGI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17503/agrivita.v45i1.3750
Superior upland rice varieties can be obtained through the plant breeding process. Upland rice lines that are carried out from crossing have different potentials. The research aims to determine upland rice promising lines with high yields in acid-dry land. The study is conducted on Ultisol soil. The first season is in 2019 for F6 lines, and the second is in 2021 for F7 lines. The experimental methods use factorial Randomized Block Design (RBD). The treatment at the preliminary yield test use 5 lines 4 varieties, and 1 landrace. The advanced yield test uses 5 F7 lines (selected from F6 lines) and 5 types. Analysis data use ANOVA and LSI test. The result shows that lines GH8 and GH10 have the highest yields on acid-dry soils during two planting seasons. The GH10 line has a 7.20-9.53 kg/plot yield, and the GH8 line has a 5.22-6.26 kg/plot. The highest yield potential was the GH10 line of 3.69-4.77 t/ha, more increased than Balok, Banyuasin, Danau Gaung, Inpago 8, and PBM-UBB1 varieties. GH10 and GH8 lines are recommended as candidates for new superior varieties of upland rice that are adaptive to acid-dry soils.
Kemampuan Adaptasi Tanaman Nenas Badau Pada Lahan Pasca Tambang Timah Kabupaten Belitung
Hepa Lestari;
Eries Dyah Mustikarini
National Multidisciplinary Sciences Vol. 2 No. 3 (2023): Proceeding SEMARTANI 2
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32528/nms.v2i3.272
Lahan pasca tambang timah merupakan lahan kritis yang berpotensi sebagai lahan pertanian. Nenas Badau adalah salah satu jenis tanaman yang dapat dibudidayakan pada lahan pasca tambang timah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan adaptasi tanaman Nenas Badau yang dibudidayakan pada lahan pasca tambang timah dan mengetahui serapan logam berat kadmium (Cd) dan timbal (Pb) pada morfologi nenas. Penelitian ini dilaksanakan pada Areal Reklamasi Lahan Pasca Tambang Timah PT. Timah di Desa Badau, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung pada bulan Desember 2022 sampai Maret 2023. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan teknik pengambilan contoh berdasarkan metode Purposive Random Sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nenas Badau dapat tumbuh pada lahan pasca tambang timah dengan karakter yang berbeda dengan Nenas Badau yang dibudidayakan pada lahan normal. Laju pertumbuhan Nenas Badau pada lahan pasca tambang timah lebih rendah dibandingkan pada lahan normal. Nenas Badau mampu beradaptasi pada lahan pasca tambang timah namun mengalami penurunan produksi pada panjang buah sekitar 27%. Nenas Badau teridentifikasi tercemar oleh logam berat timbal (Pb) mulai dari yang terbesar yaitu daun, akar dan buah melebihi batas maksimum cemaran berdasarkan SNI 7387 Tahun 2009 tentang Batas Maksimum Cemaran Logam Berat Dalam Pangan.
Kajian Serapan Logam Berat Timbal (Pb) pada Pertumbuhan Bawang Merah (Allium ascalonicum)
Hepa Lestari;
Eries Dyah Mustikarini;
Nyayu Siti Khodijah
Agroteknika Vol 6 No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Green Engineering Society
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55043/agroteknika.v6i2.214
Bawang merah sebagai komoditas sayuran dengan banyak manfaat sehingga dibutuhkan dalam jumlah besar. Pengembangan bawang merah pada Lahan Pasca Tambang diterapkan oleh beberapa petani hortikultura Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Budidaya Bawang Merah pada Pasca Tambang Timah teridentifikasi tercemar logam berat timbal (Pb) di bawah batas maksimum residu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan bawang merah pada media tanam mengandung logam berat Pb dan tingkat konsentrasi Pb yang dapat mencemari umbi bawang merah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan bawang merah pada media tanam mengandung logam berat Pb dan tingkat konsentrasi Pb yang dapat mencemari umbi bawang merah. Metode yang digunakan metode eksperimen Rancangan Acak Kelompok (RAK) sebanyak 6 perlakuan. Perlakuan dosis pemberian logam timbal (Pb) terdiri dari P0 (0 ppm) sebagai kontrol, P1 (25 ppm), P2 (50ppm), P3 (75 ppm), P4 (100 ppm) dan P5 (150 ppm). Pemberian logam berat timbal (Pb) pada media tanam dengan konsentrasi berbeda menunjukkan pengaruh tidak nyata pada pertumbuhan bawang merah. Serapan Pb sangat dipengaruhi oleh konsentrasi jumlah logam berat yang diberikan. Serapan logam berat Pb tertinggi sebesar 0,27 ppm yaitu pada perlakuan P5 dengan konsentrasi 150 ppm. Logam berat Pb dengan konsentrasi 25-150 ppm dapat mencemari umbi bawang merah jika terdapat pada media tanam. Hasil uji diketahui bahwa umbi bawang merah yang tercemar tidak melebihi batas maksimum cemaran sebesar 0,5 ppm sesuai dengan standar batas maksimum cemaran SNI 7387 Tahun.
OPTIMALISASI SISTEM PRODUKSI PRODUK OLAHAN NENAS BERKUALITAS SERTA MANAJEMEN LIMBAH PASCA PRODUKSINYA DI KELURAHAN TUATUNU – KOTA PANGKALPINANG
Tri Lestari;
Eries Dyah Mustikarini;
Rion Apriyadi
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Bangka Belitung Vol 7 No 2 (2020): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Bangka Belitung
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Bangka Belitung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33019/jpu.v7i2.2090
Aktivitas agronomi dan usahatani lokal seringkali belum mendapatkan sentuhan teknologi mumpuni, baik dalam sisi manajerial produksi maupun pengelolaan limbah pasca produksinya. Salah satu kelompok usaha tani yang masih menggunakan teknologi tradisional adalah usahatani pengolahan produk nenas lokal. Produk nenas lokal umumnya dijual dalam bentuk komoditas hortikultura segar dan olahan berupa selai nenas. Nenas yang diproduksi oleh petani lokal memiliki kualitas yang cukup baik walaupun secara ukuran dan konsistensi kualitas masih belum dapat dipertahankan. Kondisi inilah yang menyebabkan sulitnya komoditas nenas lokal bangka bersaing dengan komoditas nenas yang dihasilkan oleh provinsi lain. Oleh karena itu, diperlukan adanya diseminasi teknologi pengolahan hasil pertanian berbasis produk. Diseminasi teknologi dan inovasi dapat dilakukan sebagai upaya diversifikasi produk pertanian yang dapat mengangkat potensi keberlanjutan usaha dari mitra pengabdian. Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) ini menjadi salah satu media transfer teknologi manajemen produksi olahan nenas lokal bangka berbasis usahatani keluarga berorientasi produk. Transfer teknologi yang telah dilaksanakan dapat meningkatkan pengetahuan, wawasan, dan pemahaman serta penguasaan teknologi pada masyarakat. Kegiatan pengabdian yang dilaksanakan melewati 3 tahap kegiatan, yaitu pelatihan pembuatan produk olahan nenas, pembuatan POC dan kegiatan sosialisasi ke KWT Ceria kelurahan Tuatunu. Pembuatan produk nenas diawali dengan kegiatan survey dan pembuatan video teknik pemilihan buah nenas yang baik untuk diolah selanjutnya dilakukan proses pengupasan, penghalusan, pemasakan dan penyimpanan. Kegiatan pembuatan POC limbah nenas dilaksanakan dengan memanfaatkan limbah diantaranya adalah limbah kulit nanas, air kelapa limbah tempat pemarutan kelapa dan limbah air cucian beras yang difermentasi selama sekitar 30 hari. Kegiatan sosialisasi dilaksanakan dengan menggunakan metode presentasi dan diskusi interaktif yang memuat semua pertanyaan dan respon positif dari para tamu/audience
Korelasi dan Analisis Jalur Karakter Perkecambahan dan Karakter Agronomis yang Berkontribusi terhadap Hasil Padi (Oryza sativa L.) di Bawah Cekaman Masam
Eggy Akhmad Armandoni;
Darmawan Saptadi;
Eries Dyah Mustikarini;
Gigih Ibnu Prayoga;
Ratna Santi;
Budi Waluyo
Gunung Djati Conference Series Vol. 33 (2023): Seminar Nasional Pertanian 2023
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Proses perkecambahan padi merupakan langkah awal penting penentu perkembangan tanama dan dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti cekaman kemasaman. Sebagian besar lahan pertanian di Indonesia memiliki nilai pH yang rendah. Oleh karena itu penelitian ini dialakukan untuk mengetahui hubungan antara karakter morfologis perkecambahan padi pada fase perkecambahan pada kondisi cekaman masam terhadap hasil panen pada lahan sawah. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2022. Percobaan perkecambahan dilasanakan di Laboratorium Pemuliaan Tanaman yang berada di Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, sedangkan penanaman di lahan dilaksanakan di lahan percobaan milik Universitas Brawijaya, yang terletak di Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Media perkecambahan dipersiapkan dalam kondisi pH masam. Simulasi kondisi hujan asam atau simulated acid rain (SAR) disiapkan dengan menggunakan larutan buffer asam sulfur H2SO4. Variabel yang diamati meliputi analisis korelasi genotipik, fenotipik dan analisis jalur dilakukan menggunakan software OPSTAT. Hasil penelitan ini menunjukan bahwa karakter perkecambahan bobot kering tunas pada kondisi masam memiliki nilai korelasi genotipik dan fenotipik dan pengaruh langsung yang tinggi terhadap hasil. Karakter umur panen dan umur berbunga menunjukan nilai koefisien korelasi dan pengaruh langsung yang negatif terhadap hasil panen.
Keragaman Galur Harapan Padi Gogo Toleran Rebah di Lahan Ultisol Pulau Belitung
Eries Dyah Mustikarini;
Gigih Ibnu Prayoga;
Ratna Santi;
Hurin Nabila
Gunung Djati Conference Series Vol. 33 (2023): Seminar Nasional Pertanian 2023
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Calon varietas harus memenuhi kriteria baru, unik, seragam dan stabil (BUSS). Galur sebagai calon varietas harus memiliki keseragaman yang tinggi. Stabilitas dari galur diuji dengan melakukan uji multilokasi. Penelitian bertujuan mengetahui tingkat keseragaman galur F8 padi gogo, dan menentukan galur F8 padi gogo yang dapat dilepas sebagai varietas unggul baru. Pelaksanaan penelitian bulan Agustus 2022 hingga April 2023. Tempat penelitian di Desa Air Rayak Kecamatan Tanjungpandan Kabupaten Belitung. Penelitian menggunakan rancangan rancangan acak kelompok (RAK), terdapat 3 blok. Perlakuan terdiri dari 5 galur F8 (191-06-09-23-03, 21B-57-21-21-23, 23F- 04 10-18-18, 23A-56-20-07-20 dan 23A-56-22-20-05) dan 5 varietas pembanding (Inpago 8, Inpago 12, Rindang 1, Danau Gaung dan PBM UBB 1). Analisis data menggunakan uji Fisher (analisis of variance), Duncan’s Multiple Range Test (DMRT), uji variabilitas dan uji keseragaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa galur F8 memiliki nilai variabilitas genotip dan fenotip yang sempit pada semua karakter yang diamati. Hal ini menunjukkan bahwa keseragaman galur yang diuji tinggi. Persentase keseragaman yang diperoleh pada galur F8 yaitu 100%. Galur F8 yang dapat direkomendasikan sebagai calon varietas unggul baru yaitu galur 23A-56-20-7-20 untuk beras putih dan galur 23A-56-22-20-5 untuk beras merah dengan persentase keseragaman 100%.
STUDI KEPUTUSAN PETANI LADA PUTIH TERHADAP PENGGUNAAN JUNJUNG HIDUP DALAM SISTEM PERTANIAN BERKELANJUTAN
Paramitha, Annisa Pradnya;
Mustikarini, Eries Dyah;
Khodijah, Nyayu Siti
Enviagro: Jurnal Pertanian dan Lingkungan Vol 9 No 1 (2023): Enviagro: Jurnal Pertanian dan Lingkungan
Publisher : Program Studi Magister Ilmu Pertanian, Fakultas Pertanian, Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi Universitas Bangka Belitung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33019/enviagro.v9i1.4061
White pepper is a superior spice plant from the agricultural sector in Bangka Belitung Islands Province which is known in the world market as Muntok White Pepper with uniqueness that comes from Geographical Indications (GI). The high production of Muntok White Pepper in Bangka Belitung Islands Province does not provide benefit for farmers, because farmers have to pay for the procurement of large production inputs with a relatively short production time. This problem needs to be addressed by farmers through the application of sustainable farming system with Good Agriculture Practice (GAP) such as the live climbing pole using. The farmer's decision to change the dead climbing pole to the live climbing pole is influenced by several factors. The purpose of this research was to analyze the determinant of white pepper farmers’s decision on the live climbing pole using. This research was conducted in Air Gegas Sub-district, South Bangka District on August until December 2022. The data used on this research was secondary data collected through library research method. The results of this research indicate that the decision of white pepper farmers on the live climbing pole using is influenced by six factors, including age, level of formal education, farming experience, land area, land ownership status, and participation on agricultural group.
UPAYA PENERAPAN PERTANIAN BERKELANJUTAN MELALUI PENERAPAN KONSEP ZERO WASTE DI LAHAN PASCA TAMBANG TIMAH
Marini, Marini;
Mustikarini, Eries Dyah;
Khodijah, Nyayu Siti
Enviagro: Jurnal Pertanian dan Lingkungan Vol 10 No 1 (2024): Enviagro: Jurnal Pertanian dan Lingkungan
Publisher : Program Studi Magister Ilmu Pertanian, Fakultas Pertanian, Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi Universitas Bangka Belitung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33019/enviagro.v10i1.4795
Kepulauan Bangka Belitung khususnya Kota Pangkalpinang setiap tahunnya terjadi peningkatan lahan degradasi akibat penambangan timah. Dampak negatif kegiatan ini berupa kerusakan lingkungan juga merusak sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Kerusakan lingkungan di Pangkalpinang tidak hanya karena penambangan timah tetapi juga permasalahan limbah. Limbah yang mendominasi merupakan hasil dari limbah rumah tangga. Salah satu cara untuk memperbaiki kerusakan lahan pasca tambang dan permasalahan limbah yaitu melalui mandiri pangan dengan mengalihfungsikan lahan pasca tambang menjadi lahan pertanian dengan konsep zero weste. Kemandirian pangan dengan konsep zero weste yang dimaksud adalah penggunaan pupuk organik yang diaplikasikan pada lahan pasca tambang. Kemandirian pangan ini akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan produktivitas pangan sebagai sumber gizi. Karya tulis ini bertujuan untuk mencapai kemandirian pangan dengan memanfaatkan konsep zero waste guna memperbaki sifat lahan pasca tambang dalam meningkatkan produktivitas lahan pasca tambang pada budidaya tanaman menuju keberlanjutan pertanian di kota Pangkalpinang. Metode yang digunakan dalam penulisan karya tulis ini yaitu dengan metode studi pustaka dari berbagai pustaka yang telah terbukti kebenarannya. Kesimpulan yang diperoleh yaitu konsep zero weste mampu menyelesaikan permasalahan limbah, perbaikan lahan pasca tambang sekaligus meningkatkan produktivitas tanaman sebagai sumber pangan, melalui pemberdayaan masyarakat dalam pengelolahan limbah rumah tangga menjadi pupuk organik. Harapannya penggunaan pupuk organik limbah rumah tangga dengan pengaplikasian di lahan pasca tambang mampu meningkatkan produktivitas hasil budidaya menuju mandiri pangan dan keberlanjutan pertanian di Kota Pangkalpinang