Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN MENTAL PERAWAT PENANGGULANGAN COVID-19 Maramis, James Richard; Somba, Chintya Zhou Chen Mariam; Ruku, Denny Maurits
Klabat Journal of Nursing Vol. 7 No. 2 (2025): Nursing Insights: Bridging Science and Care
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/kjn.v7i2.1442

Abstract

The daily rise in COVID-19 cases has intensified the workload for nurses treating patients with the virus, placing healthcare workers at heightened risk for mental health disorders. This study seeks to identify the factors that affect the mental health of nurses working in COVID-19 isolation units. A cross-sectional study was conducted involving 86 nurses, utilizing the Daily Spiritual Experience Scale (DSES), Social Provisions Scale (SPS), Coping Mechanisms Questionnaire (CMQ), and The Mental Health Inventory - 38 (MHI-38) instruments. The findings revealed that the average mental health score of participants was Good (74.03 ± 10.15). Mental Health exhibited a significant correlation with Spiritual Support (r = .40, p < .01), Social Support (r = .56, p < .01), and Coping Mechanisms (r = .25, p < .01). However, factors such as gender, education, and length of service showed no significant correlation. Hierarchical multiple regression test analysis identified two key predictors of mental health: Spiritual Support (β= .33, p< .01) and Social Support (β= .34, p< .01). These findings suggest that Spiritual Support, Social Support, and effective Coping Mechanisms can enhance an individual's mental health status, with both Spiritual and Social Support serving as predictors of mental health among nurses dealing with COVID-19. Healthcare institutions should proactively enhance social and spiritual support to mitigate the crisis's negative impact on nurses' mental health. Kasus COVID-19 yang terus bertambah setiap harinya, menyebabkan beban kerja perawat penanggulangan COVID-19 pun terus bertambah. Hal itulah yang menyebabkan tenaga kesehatan berisiko untuk mengalami gangguan kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan mental perawat penanggulangan COVID-19. Cross sectional study design dilakukan pada 86 perawat yang bekerja di ruangan isolasi COVID-19 dengan instrumen Daily Spiritual Experience Scale (DSES), Social Provisions Scale (SPS), Coping Mechanisms Questionnaire (CMQ), dan The Mental Health Inventory - 38 (MHI–38). Hasil menunjukkan bahwa rerata kesehatan mental responden (74,03 ± 10,15). Kesehatan mental mempunyai hubungan yang signifikan dengan dukungan spiritual (r= 0,40, p< ,01), dukungan sosial (r= 0,56, p< 0,01), dan mekanisme koping (r= 0.25, p< 0,01); sedangkan jenis kelamin, pendidikan, dan lamanya bekerja tidak mempunyai hubungan yang signifikan. Uji hierarchical multiple regression memperlihatkan dua variabel merupakan predictor dari kesehatan mental seperti dukungan spiritual (β= 0,33, p< 0,01), dan dukungan sosial (β= 0,34, p< 0,01). Dukungan spiritual, dukungan sosial dan mekanisme koping yang baik dapat meningkatkan status kesehatan mental seseorang, sedangkan dukungan spiritual dan dukungan sosial merupakan prediktor dari kesehatan mental perawat penanganan COVID-19. Institusi kesehatan harus secara proaktif meningkatkan dukungan sosial dan spiritual untuk mengurangi dampak negatif krisis terhadap kesehatan mental perawat.
Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Angka Kematian Pasien Intensive Care Unit Oktoria, Vica Sari; Tambunan, Natalia; Siagian, Indah Mentari; Ruku, Denny Maurits
NUTRIX Vol 9 No 1 (2025): Volume 9, Issue 1, 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/nj.v9i1.1272

Abstract

Pendeteksi awal pada saat pasien masuk di Intensive Care Unit (ICU) merupakan bagian penting dalam membantu menurunkan angka kematian. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan angka kematian pasien ICU. Cross sectional study design digunakan dalam penelitian ini, dan pengambilan sample menggunakan total sampling dari rekam medis pasien di ICU pada bulan Oktober 2023 sampai September 2024. Analisis statistik yang digunakan adalah Pearson correlation coefficient, t-test, one-way ANOVA, and Hierarchical multiple regression. Sebanyak 73 data pasien meninggal di ICU diambil dalam penelitian ini. Hasinya mendapati bahwa, variable yang berhubungan significant dengan angka kematian pasien di ICU adalah usia (r= 0.24, p= 0.05), komorbiditas (r= -0.87, p= 0.01), kesadaran (r= -0.27, p= 0.01), dan diastolic pasien (r= 0.28, p= 0.05); Sedangkan veriabel ventilator mekanik, admisi, dan diagnostic tidak mempunyai hubungan yang significant dengan angka kematian pasien di ICU. Selain itu, variable predictor dari angka kematian pasien di ICU adalah usia, komorbiditas, systolic, diastolic dan diagnostic akut dari pasien dengan menyumbang 99.5% kematian di ICU. Implikasi penelitian ini adalah untuk memonitor ketat pasien ICU dengan usia lanjut, komorbidity, status kesadaran, dan tekanan darah terhadap angka kematian; Selain itu, tenaga kesehatan perlu memperhatikan secara cermat terhadap predictor dari angka kematian pasien di ICU seperti usia lansia, masuk dengan diagnosa akut, memiliki banyak komorbiditas, serta tidak stabilnya tekanan darah (systolic maupun diastolic) pada saat pasien masuk ke ICU. Early detection upon patient admission to the Intensive Care Unit (ICU) is crucial in reducing mortality rates. This study analyzes the factors associated with ICU patient mortality. A cross-sectional study design was employed, with total sampling conducted using medical records of ICU patients from October 2023 to September 2024. The statistics analysis were used by Pearson correlation coefficient, t-test, one-way ANOVAs, and Hierarchical multiple regression. A total of 73 ICU patient mortality cases were analyzed. The findings indicate that variables significantly associated with ICU mortality included age (r = 0.24, p = 0.05), comorbidities (r= -0.87, p= 0.01), level of consciousness (r= -0.27, p= 0.01), and diastolic blood pressure (r= 0.28, p= 0.05). However, mechanical ventilation, admission type, and primary diagnosis were not significantly associated with ICU mortality. Additionally, the predictive factors for ICU mortality included age, comorbidities, systolic blood pressure, diastolic blood pressure, and acute diagnosis, collectively accounting for 99.5% of ICU deaths. The findings highlight the need for close monitoring of ICU patients, particularly those who are elderly, have multiple comorbidities, exhibit altered consciousness, or have unstable blood pressure. Furthermore, healthcare providers should carefully assess key predictors of ICU mortality, including advanced age, acute admission diagnosis, high comorbidity burden, and blood pressure instability (both systolic and diastolic) upon ICU admission.
Skrining dan Penanggulangan Penyakit Tidak Menular di Kelurahan Airmadidi Ruku, Denny Maurits; Mandias, Reagen Jimmy; Shintya, Lea Andy; Pitoy, Frendy Fernando; Anderson, Elisa; Moedjahedy, Jimmy Herawan; Ella, Eunike; Nander, Gabriel Christovel; Siwu, Nikita Ribka Maya
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 7 (2024): Volume 7 No 7 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i7.15272

Abstract

ABSTRAK Gangguan Kesehatan tidak pernah lepas dari masyarakat meskipun peningkatan teknologi dibilang sudah cukup pesat. Gangguan kesehatan dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu penyakit yang menular dari satu ke yang lain dan penyakit tidak menular (PTM) yang mana dapat ditularkan dari orang lain. Penyakit tidak menular adalah penyakit katastropik dengan penyebab kematian paling tinggi di Indonesia. Penyakit ini diantaranya adalah hipertensi, diabetes, dan gout arthritis, dan hiperkolesterol. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk melakukan skrining dan penanggulangan PTM di RW 10 Kelurahan Airmadidi Atas dengan cara melakukan pemeriksaan kesehatan dan pemberian edukasi kesehatan pada masyarakat. Metode yang diterapkan pada program ini adalah survey observasi dan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat di RW 10 kelurahan Airmadidi Atas. Data hasil analisis skrining kesehatan menunjukan bahwa pada sebagian besar penderita PTM berada pada kategori usia lanjut atau diatas dari usia 60 tahun dengan nilai persentase penderita Hipertensi sebanyak 18 (66.6%) orang, Diabetes Melitus 12 (60%) orang, dan Hyperkolesterolemia 15 (51%) orang. Sehubungan dengan angka penderita hipertensi yang cukup tinggi, maka telah diberikan edukasi kesehatan mengenai hipertensi pada Masyarakat. PTM ditemukan dengan angka kejadian yang cukup tinggi dikalangan Masyarakat. Kegiatan seperti in harus diadakan agar masyarakat lebih peduli mengenai kesehatannya.  Kata Kunci: Penyakit Tidak Menular, Skrining, Edukasi  ABSTRACT Health problems have never been separated from society even though the technological improvements are increasing rapidly. Health problems can be divided into two types, namely diseases that are transmitted from one person to another and non-communicable diseases (NCDs) which can be transmitted from other people. Non-communicable diseases are catastrophic diseases with the highest cause of death in Indonesia. These diseases include hypertension, diabetes, gouty arthritis and hypercholesterolemia. This community service program aims to carry out the health screening and PTM prevention in RW 10 Airmadidi Atas Village by conducting health observation and providing health education to the community. The data from health screening analysis shows that the majority of NCDs sufferers are in the elderly category or above the age of 60 years with a percentage of 18 (66.6%) people suffering from hypertension, 12 (60%) people with diabetes mellitus, and 15 (51%) people with hypercholesterolemia. According to the high number of hypertension sufferers, health education regarding hypertension has been provided to the community. NCDs is found to have high incidence rate among the community. Activities like this must be held so that people care more about their health. Keywords: Non-Communicable Disease, Screening, Education
Faktor-Faktor Penentu Asupan Kalori dalam Diet pada Penderita Diabetes Gestasional: Analisis PLS-SEM Terintegrasi Ruku, Denny Maurits
NUTRIX Vol 10 No 1 (2026): Volume 10, Issue 1, 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/nj.v10i1.1518

Abstract

Dietary intake plays a critical role in metabolic health, particularly among people with Gestational Diabetes Mellitus, where inappropriate nutritional patterns may increase the risk of adverse pregnancy outcomes. This study aimed to examine the determinants of dietary caloric intake among individuals with gestational diabetes using an integrated structural model. A cross-sectional study was conducted using secondary data from a publicly available dataset on the Kaggle platform (n = 5,165). Variables included body mass index (BMI), glycated hemoglobin (HbA1c), lipid profile, metabolic indicators, blood pressure, and age. Data were analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modelling (PLS-SEM) with bootstrapping. Measurement model evaluation was conducted only for multi-indicator constructs using composite reliability, average variance extracted (AVE), and discriminant validity (HTMT), while single-indicator variables were treated as observed variables. The model demonstrated strong explanatory power (R² = 0.925). Lipid profile exhibited the strongest positive association with dietary intake (β = 0.769, p < 0.001), followed by BMI (β = 0.182, p < 0.001). Age showed a small negative effect (β = -0.062, p < 0.05), whereas glycemic control, metabolic factors, and blood pressure were not statistically significant.  Dietary intake among people with gestational diabetes is primarily influenced by lipid and anthropometric factors, highlighting the importance of metabolism-focused nutritional interventions. Asupan makanan memainkan peran penting dalam kesehatan metabolik, khususnya pada penderita Diabetes Gestational, di mana pola nutrisi yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko hasil kehamilan yang buruk. Studi ini bertujuan untuk meneliti faktor penentu asupan kalori makanan pada penderita diabetes gestasional menggunakan model struktural terintegrasi. Studi potong lintang dilakukan menggunakan data sekunder dari dataset Kaggle yang tersedia untuk umum (n = 5,165). Variabel yang digunakan meliputi indeks massa tubuh (IMT), HbA1c, profil lipid, indikator metabolik, tekanan darah, dan usia. Data dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan bootstrapping. Evaluasi model pengukuran dilakukan hanya pada konstruk multi-indikator menggunakan composite reliability, average variance extracted (AVE), dan discriminant validity (HTMT), sementara variabel indikator tunggal diperlakukan sebagai variabel teramati. Model menunjukkan daya penjelas yang kuat (R² = .925). Profil lipid menunjukkan hubungan positif terkuat dengan asupan makanan (β = .769, p < .001), diikuti oleh IMT (β = .182, p < .001). Usia memiliki efek negatif yang kecil (β = -.062, p < .05), sedangkan kontrol glikemik, faktor metabolik, dan tekanan darah tidak signifikan secara statistik. Asupan makanan pada penderita diabetes gestational terutama dipengaruhi oleh faktor lipid dan antropometrik, yang menyoroti pentingnya intervensi nutrisi yang berfokus pada metabolisme.
DETERMINANTS OF HEALTH-RELATED QUALITY OF LIFE IN PATIENTS WITH CHRONIC KIDNEY DISEASE: A COMPREHENSIVE ANALYSIS OF DEMOGRAPHIC, CLINICAL, AND BEHAVIORAL FACTORS Ruku, Denny Maurits
Klabat Journal of Nursing Vol. 8 No. 1 (2026): Nursing and Well-being Dynamics
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/kjn.v8i1.1512

Abstract

ABSTRACT Chronic kidney disease (CKD) significantly impairs health-related quality of life (HRQOL); however, global evidence regarding its determinants remains limited and fragmented. This study aimed to examine the combined effects of demographic, clinical, and behavioral factors on HRQOL among individuals with CKD. A cross-sectional study design was employed using secondary data obtained from the Kaggle dataset, involving 1,524 participants. HRQOL was analyzed in relation to demographic characteristics, clinical indicators, and behavioral factors. Statistical analyses included descriptive statistics, Pearson correlation, independent t-test, one-way ANOVA, and multiple linear regression. HRQOL was significantly negatively correlated with age (r = −0.58), body mass index (r = −0.06), alcohol consumption (r = −0.92), systolic blood pressure (r = −0.45), fasting blood sugar (r = −0.31), total cholesterol (r = −0.28), and low-density lipoprotein (LDL) (r = −0.23). In contrast, HRQOL was positively associated with physical activity (r = 0.98) and high-density lipoprotein (HDL) (r = 0.40). No significant associations were observed with gender, ethnicity, education level, or diabetes status. In multivariate analysis, physical activity emerged as the strongest positive predictor (β = 0.75, p < .001), while alcohol consumption was the strongest negative predictor (β = −0.18, p < .001), alongside age, diastolic blood pressure, total cholesterol, and LDL. The final model explained 97.8% of the variance in HRQOL (R² = 0.978). HRQOL in CKD is influenced by a complex interplay of demographic, clinical, and behavioral factors, with behavioral factors—particularly physical activity and alcohol consumption—playing a dominant role. An integrated, patient-centered approach is essential to improve HRQOL outcomes in this population.       Penyakit ginjal kronis (PGK) secara signifikan memengaruhi health-related quality of life (HRQOL), namun bukti yang ada mengenai faktor prediktornya masih terbatas secara global. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji pengaruh gabungan dari faktor demografis, klinis, dan perilaku terhadap HRQoL pada individu dengan PGK. Desain Cross sectional study dilakukan menggunakan data sekunder dari Kaggle, yang melibatkan 1524 peserta. HRQOL dianalisis dalam kaitannya dengan karakteristik demografis, indikator klinis, dan faktor perilaku. Analisis statistik deskriptif, Pearson correlation, t-test, ANOVA, dan multiple linear regression digunakan dalam analisis. HRQOL secara signifikan negative terkait dengan usia (r = -0,58), index masa tubuh (r = 0,05), konsumsi alkohol (r = -0,92), systolic (r = -0,45), fasting blood sugar (r = -0,31), cholesterol (r = -0,28), low-density lipoprotein (LDL) (r = -0,23); Sedangkan HRQOL positive significant dengan aktifitas fisik (r = 0,98), dan high-density lipoprotein (HDL) (r = 0,40); Namun, tidak memiliki hubungan yang significant dengan jenis kelamin, etnis, education, dan Riwayat diabetes. Dalam analisis multivariat, aktivitas fisik muncul sebagai prediktor positif terkuat (β = 0,75, p < 0,001), selain systolic, FBS, HDL dan trigliseride; Sedangkan konsumsi alkohol (β = -0,18, p < 0,001) merupakan predictor negative terkuat selain usia, diastolic, cholesterol, LDL yang merupakan predictor dari HRQOL pasien PGK. Model akhir menjelaskan 97,8% varians dalam HRQOL (R² = 0,978). HRQOL pada PGK dipengaruhi oleh kombinasi faktor demografis, klinis, dan perilaku, dengan aktivitas fisik memainkan peran dominan. Pendekatan terintegrasi sangat penting untuk meningkatkan hasil yang berpusat pada pasien.