Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

KE-MUTAWATIR-AN AL-QUR’AN: Metode Periwayatan dalam Sejarah Al-Qur’an Yusufa, Uun
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 2 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v7i2.921

Abstract

Al-Qur’an diriwayatkan secara mutawatir > , baik makna dan lafalnya.Ke-mutawa>tir-an al-Qur’an menunjukkan derajat sahih yangpaling tinggi dalam tradisi periwayatan. Tidak ada selain al-Qur’anyang memiliki kualitas dan spesifiasi seperti itu. Keotentikanal-Qur’an akan selalu bersinar terang, walaupun ada beberapakelompok dari kalangan insider maupun outsider berusahauntuk meredupkannya. Sebagian dari proyek mereka adalahmemberhangus (menghilangkan??) kaidah yang diterapkangenerasi awal Islam dalam menjaga kemurnian al-Qur’an, denganmelakukan kritikan tajam terhadap metodologi yang digunakanoleh para ulama salaf/ mutaqaddimin. Pada kesempatan ini, kitamasih tetap menggunakan referensi turats sebagai kompas yangmengarahkan kajian kita, serta beberapa referensi terkini, jikadiperlukan. Dari turats inilah kita akan mengetahui, bagaimanapendahulu kita telah menerapkan metode ilmiah untuk menjagakemurnian Islam. Tulisan ini membahas tentang periwayatan alQur’an, termasuk para perawi dan huffdz, serta menyinggungpermasalahan qira’ah yang penuh dengan polemik itu. Temaini sekilas terlihat sederhana, namun ketika dipahami bahwaal-Qur’an menjadi dusturul Hayah bagi manusia, maka ia akanmenjadi sesuatu yang sangat luar biasa.
MUKJIZAT MATEMATIS DALAM AL-QUR’AN: Kritik Wacana dengan Pendekatan Sains dan Budaya Yusufa, Uun
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 2 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v8i2.897

Abstract

Artikel ini hendak mengungkap mukjizat matematis dalam alQur’an dengan memposisikannya sebagai kritik wacana yangdilakukan dengan pendekatan sains dan budaya. Selama ini, uraiantentang kemukjizatan al-Qur’an lebih dominan pada pembahasansusunan kalimat dan pemilihan bahasanya yang bagus, sertapenempatan kosa katanya yang berimbang, yang sejatinyabermuara pada mukjizat kebahasaan al-Qur’an, disampingmukjizat al-Qur’an yang terkait dengan ajaran keagamaan daninformasi keilmuan, serta aspek pemberitaan gaib ataupun kisahkisah lampau. Pembahasan tentang mukjizat matematis masihrelatif minim dilakukan. Mukjizat matematis dalam al-Qur’anpertama kali dikenalkan oleh Rashad Khalifa yang berupa bilanganatau angka tertentu yang menjadi rumus dalam susunan ayat/surat al-Qur’an. Perumusan mukjizat matematis dimulai denganpelbagai pembahasan tentang huruf-huruf muqaththa‘ah padaawal-awal surat tertentu.Di antarasainsdanbudaya yang terlibatdalam perumusan mukjizat matematis al-Qur’an—disampingMatematika itu sendiri—adalah numerologi dan gematria.Namun demikian, perlu diperhatikan juga bahwa pendekatanpengetahuan dan realitas dalam perumusan mukjizat matematisal-Qur’an tersebut perlu memperhatikan statusnya yang valid,ilmiah, tetap, dan tidak masuk ke ranah mazhab atau aliran tertentu. Dengan demikian, hasil penghitungan diharapkan tidakkeluar dari konteks pembuktian mukjizat al-Qur’an.