Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Dari Legian ke Ara: Pengelolaan Pariwisata dan Perubahan Sosial Indonesia Abdullah Abdullah; Muhammad Ridha
SOSIORELIGIUS Vol 4 No 1 (2019): Sosioreligius: Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama
Publisher : Departemen Sosiologi Aga,ma, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sosioreligius.v4i1.10619

Abstract

Artikel ini merupakan refleksi kritis atas pengelolaan pariwisata Indonesia Kontemporer. Dipandu oleh program peningkatan jumlah kunjungan pariwisata ke Indonesia dengan mendorong program 10 hal baru, Indonesia telah banyak mengalami perkembangan, kemajuan-kemajuan dan juga, tentu saja, kendala-kendala. Artikel ini mencoba memberi deskripsi kritis pengelolaan pariwisata ini.Selain karena Pemerintah Indonesia demikian mengandalkan pendapatan dari sector pariwisata, juga karena begitu banyak uang public terserap untuk membiayai persiapan, pembangunan infrastruktur pariwisata dan pembenahan manajemen pengelolaan pariwisata.Artikel ini menggunakan metode library riset dengan membaca bahan-bahan bacaan yang relevan dan menelaan data-data yang terkait dengan pembangunan pariwisata Indonesia.
PERJUMPAAN ISLAM DAN KATOLIK (Upaya Mencari Akar Epistemologi Tentang Konsep Keselamatan) Abdullah Muthalib
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 10, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v10i1.1139

Abstract

Every religion has a concept of salvation based on transcendent values of the religion. Islam as a religion of revelation has the concept of salvation based on the messages contained Allah in the Qur’an and Hadith of the Prophet are valid. With reference to the ethical principles of Islam, the doctrine of salvation is the main point ranging in religion, with this principle, people feel the need to claim to believe and submit to the values of the revealed God. A person of faith is essentially aims to achieve safety, both in his life on earth and in the Hereafter. In the Catholic Christian religion also found a number of principles are the same theology that is taught about the importance of safety. In the book of the old covenant and new covenant be emphasized that the safety ranging point in the theology. In Islam and Catholicism, the concept of divinity is the same both believe in Almighty God (monotheism). Both believe that Isa (Jesus) and Muhammad. As the bearer of divine revelation. Although Islam to explain the concept of the deity in various contexts and meanings, while the Catholic meaning of salvation is placed in a variety of different verses, but the meaning remains the same.
HAJI BUDAYA DAN BUDAYA HAJI Abdullah Abdullah
Jurnal Tafsere Vol 2 No 1 (2014)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.574 KB)

Abstract

Haji sebagai budaya dan budaya dalam berhaji perspektif sosio-filosofis, menjadi tradisi yang serius diteliti dalam kehidupan keberagamaan dewasa ini, sebab dalam upacara ritual berhaji terkadang sebagian jamaah melupakan makana substansi atau ontologism dalam berhaji itu sendiri. Seharusnya para pelaksana haji sedapat mungkin memahaminya secara dhahiriyah dan bathiniyah atau teks dan konteks dalam pelaksanaan haji. Dalam peneluusuran tulisan ini menemukan Pertama, Haji budaya adalah pelaksanaan haji yang dilakukan oleh setiap umat Islam yang berkemampuan totalitas, secara hakiki ritualistik, spiritualistik dan nilai-nilai sosialistik yang dilakukan oleh orang-orang yang berhaji adalah sebuah budaya. Kedua, Para pelaksana haji baik yang berkemampuan lebih atau yang memaksa diri dalam rangka meraih tingkatan mabrur sebatas pada ritualisme belaka dan tidak memberikan nilai implikasi dari ke-hajiannya, merupakan budaya haji yang hura-hura mengejar prestise bukan prestasi dan kualitas. Hal inilah yang merusak kehidupan kemanusiaan secara individu dan kelompok seperti melakukan penyimpangan sepulang dari melaksanakan haji antara lain korupsi, kolusi dan nepotisme yang tidak wajar untuk dilakukan oleh para haji-haji..
HAJI BUDAYA DAN BUDAYA HAJI Abdullah Abdullah
Jurnal Tafsere Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Haji sebagai budaya dan budaya dalam berhaji perspektif sosio-filosofis, menjadi tradisi yang serius diteliti dalam kehidupan keberagamaan dewasa ini, sebab dalam upacara ritual berhaji terkadang sebagian jamaah melupakan makana substansi atau ontologism dalam berhaji itu sendiri.Seharusnya para pelaksana haji sedapat mungkin memahaminya secara dhahiriyah dan bathiniyah atau teks dan konteks dalam pelaksanaan haji. Dalam peneluusuran tulisan ini menemukan Pertama, Haji budaya adalah pelaksanaan haji yang dilakukan oleh setiap umat Islam yang berkemampuan totalitas, secara hakiki ritualistik, spiritualistik dan nilai-nilai sosialistik yang dilakukan oleh orang-orang yang berhaji adalah sebuah budaya. Kedua, Para pelaksana haji baik yang berkemampuan lebih atau yang memaksa diri dalam rangka meraih tingkatan mabrur sebatas pada ritualisme belaka dan tidak memberikan nilai implikasi dari ke-hajiannya, merupakan budaya haji yang hura-hura mengejar prestise bukan prestasi dan kualitas. Hal inilah yang merusak kehidupan kemanusiaan secara individu dan kelompok seperti melakukan penyimpangan sepulang dari melaksanakan haji antara lain korupsi, kolusi dan nepotisme yang tidak wajar untuk dilakukan oleh para haji-haji.
PERSPEKTIF KOMPARATIF SUNNI–SYIAH: Identifikasi Perbedaan Kunci dan Ruang Kerjasama Nurhayati Selvi; Abdullah Abdullah; Muh. Natsir Siola; Wahyullah Alannasir
AT-TAJDID Vol 10 No 1 (2026): JANUARI-JUNI 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menyajikan kajian komparatif mengenai perbedaan dan titik kesamaan utama antara Islam Sunni dan Syiah untuk merespons berbagai kesalahpahaman yang masih memicu ketegangan sektarian. Tujuan penelitian ini adalah memperjelas perbedaan teologis, historis, dan sosial-politik yang mendasar, sekaligus mengidentifikasi prinsip bersama yang membuka peluang kerja sama konstruktif. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-komparatif, analisis dilakukan melalui telaah tekstual terhadap sumber-sumber klasik Islam, literatur akademik kontemporer, serta inisiatif dialog antar-sekte yang telah terdokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan signifikan tetap ada, terutama terkait isu suksesi, otoritas keagamaan, dan interpretasi hukum. Namun demikian, kedua tradisi memiliki komitmen yang sama terhadap tauhid, tuntunan kenabian, perilaku etis, dan kemaslahatan sosial. Temuan juga menunjukkan bahwa kolaborasi semakin mungkin dilakukan dalam bidang pendidikan, pembangunan sosial, dan upaya perdamaian, di mana nilai-nilai bersama menyediakan landasan praktis bagi keterlibatan bersama. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa harmonisasi tidak menuntut penyatuan doktrin, tetapi dapat dicapai melalui pengakuan timbal balik, pemahaman yang lebih terinformasi, serta kerja sama pada isu-isu yang menjadi kepentingan bersama. Penguatan literasi antar-sekte dan perluasan pertukaran akademik muncul sebagai langkah strategis untuk membangun hubungan yang lebih konstruktif dan berkelanjutan. This study offers a comparative examination of the principal differences and shared elements between Sunni and Shia Islam to address the persistent misunderstandings that often fuel sectarian tensions. The research aims to clarify the core theological, historical, and sociopolitical distinctions while identifying common principles that open opportunities for constructive cooperation. Using a qualitative–comparative approach, the analysis draws on classical Islamic texts, contemporary scholarly literature, and documented initiatives of inter-sect dialogue. The findings indicate that substantial differences remain, particularly in matters of succession, religious authority, and legal interpretation. However, both traditions uphold shared commitments to monotheism, prophetic guidance, ethical conduct, and communal welfare. The results further show that collaboration is increasingly feasible in sectors such as education, social development, and peacebuilding, where these shared values create a practical foundation for joint engagement. Overall, the study demonstrates that harmonization is attainable not through doctrinal convergence but through mutual recognition, informed understanding, and cooperation in areas of shared concern. Strengthening inter-sect literacy and promoting scholarly exchange emerge as strategic pathways for fostering more constructive and sustainable relations.
KOSMOLOGI PENCIPTAAN DALAM DISKURSUS SAINS DAN AGAMA: Analisis Epistemologis terhadap Teori Emanasi Al-Farabi, Konsep Nur Muhammad, dan Kosmologi Big Bang Sumarni Sumarni; Abdullah Abdullah; Muh. Natsir Siola
AT-TAJDID Vol 10 No 1 (2026): JANUARI-JUNI 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji persoalan asal-usul penciptaan alam semesta dengan menempatkannya dalam dialog antara pemikiran Islam klasik dan kosmologi modern. Fokus pembahasan diarahkan pada teori emanasi Al-Farabi, konsep Nur Muhammad dalam tradisi tasawuf Islam, serta relevansinya dengan teori Big Bang dalam sains kontemporer. Permasalahan utama yang dikaji adalah bagaimana masing-masing kerangka epistemik menjelaskan relasi antara Tuhan sebagai sebab pertama dengan realitas kosmik yang beragam. Metode penelitian yang digunakan bersifat kualitatif-deskriptif melalui studi kepustakaan (library research), dengan analisis komparatif-epistemologis terhadap sumber filsafat Islam, teks tasawuf, dan literatur kosmologi modern. Hasil analisis menunjukkan bahwa teori emanasi Al-Farabi menekankan rasionalitas-metafisis dan struktur hierarkis, konsep Nur Muhammad menekankan pengalaman batin, intuisi, dan simbolisme, sementara teori Big Bang menuntut verifikasi empiris melalui observasi dan pemodelan matematis. Temuan ini menegaskan bahwa ketiga paradigma kosmologi beroperasi dalam rezim epistemik berbeda namun tidak saling meniadakan. Integrasi komparatif yang bersifat epistemologis memungkinkan pembentukan pemahaman kosmologi yang komprehensif yakni argumentatif secara filosofis, mendalam secara spiritual, dan terverifikasi secara ilmiah. Pendekatan ini sekaligus menegaskan novelty penelitian, yakni menyediakan kerangka metodologis baru untuk dialog kritis antara filsafat Islam, sufisme, dan sains modern, serta menunjukkan relevansi pemikiran Islam klasik dalam konteks kosmologi kontemporer. This research examines the question of the origin of the creation of the universe by placing it in a dialogue between classical Islamic thought and modern cosmology. The focus of the discussion was directed to the theory of the emanation of Al-Farabi, the concept of Nur Muhammad in the Islamic Sufism tradition, and its relevance to the Big Bang theory in contemporary science. The main problem examined is how each epistemic framework explains the relationship between God as the first cause and the diverse cosmic realities. The research method used is qualitative-descriptive through library research, with a comparative-epistemological analysis of Islamic philosophical sources, Sufism texts, and modern cosmological literature. The results of the analysis show that Al-Farabi's theory of emanation emphasizes metaphysical rationality and hierarchical structure, Nur Muhammad's concept emphasizes inner experience, intuition, and symbolism, while the Big Bang theory demands empirical verification through observation and mathematical modeling. These findings confirm that the three cosmological paradigms operate in different epistemic regimes but do not negate each other. Comparative integration that is epistemological allows the formation of a comprehensive understanding of cosmology, which is philosophically argumentative, spiritually profound, and scientifically verified. This approach also affirms the novelty of the research, which provides a new methodological framework for the critical dialogue between Islamic philosophy, Sufism, and modern science, and demonstrates the relevance of classical Islamic thought in the context of contemporary cosmology.
Inclusive Theology and Religious Pluralism: A Critical Analysis of Major Thinkers Hasfiana Hasfiana; Muh. Natsir Siola; Abdullah Abdullah
al-Afkar, Journal For Islamic Studies Vol. 9 No. 2 (2026)
Publisher : Perkumpulan Dosen Fakultas Agama Islam Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/afkarjournal.v9i2.3172

Abstract

Debates on the theology of religions, particularly between inclusive theology and religious pluralism, have become a significant issue in the context of Indonesia’s plural society. This article aims to critically analyze the concepts of inclusive theology and religious pluralism and examine their relevance for fostering interreligious relations in Indonesia. Employing a qualitative approach based on library research, this study explores the ideas of key figures such as Nurcholish Madjid and John Hick, as well as Indonesian Muslim responses to religious pluralism. The findings indicate that inclusive theology offers a middle ground that enables Muslims to maintain strong theological commitments while remaining open to dialogue and cooperation with followers of other religions. In contrast, religious pluralism understood in a theological sense namely, the notion that all religions are equally true and lead to the same salvation has been subject to serious methodological and theological criticism, as it is considered incompatible with the principle of tawhid in Islam. In the Indonesian context, this debate is further complicated by the Indonesian Council of Ulama’s (MUI) fatwa on religious pluralism and the emergence of religious moderation as a paradigm emphasizing the principle of wasathiyyah (the middle path). This article concludes that an Islamic wasathiyyah approach, which distinguishes between plurality as a sociological fact and pluralism as a theological ideology, provides the most contextual framework for managing religious diversity in a dialogical, just, and peaceful manner without undermining Islamic theological integrity.
Tantangan dan Solusi dalam Penerapan Metode al-Miftāh li al-‘Ulūm dalam Pembelajaran Qawā‘id: Studi Kasus di Pondok Pesantren Nurul As’adiyah Parang/Challenges and Solutions in Implementing the al-Miftāh li al-‘Ulūm Method in Qawā‘id Learning: A Case Study at the Nurul As’adiyah Parang Islamic Boarding School Abdullah Abdullah; Andi Abdul Hamzah; Mohamad Harjum
Loghat Arabi : Jurnal Bahasa Arab dan Pendidikan Bahasa Arab VOL 7, NO 1 (MARET 2026): LOGHAT ARABI
Publisher : Universitas Islam DDI AGH Abdurrahman Ambo Dalle Polewali Mandar, Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36915/la.v7i1.542

Abstract

This study aims to analyze the challenges and solutions in the implementation of the al-Miftāh li al-‘Ulūm method in qawā‘id learning at the Nurul As’adiyah Parang Islamic Boarding School, Bantaeng Regency. This study uses a descriptive qualitative approach to analyze the challenges and solutions in the application of the al-Miftāh li al-‘Ulūm method in qawā‘id learning: a case study at the Nurul As’adiyah Parang Islamic Boarding School, Bantaeng Regency. Descriptive research describes the phenomena that exist in the field, while qualitative research analyzes and interprets social activities, attitudes, beliefs, and perceptions of individuals or groups. The results show that this study offers a five-step solution model to overcome the challenges of implementing the al-Miftāḥ li al-‘Ulūm method in qawā‘id learning, namely habituation, providing motivation, filtration, classifying students based on ability, and adding teaching staff. This model is a new contribution because it has not been formulated systematically in previous studies that generally only focus on the effectiveness of learning methods.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan dan solusi dalam penerapan metode al-Miftāh li al-‘Ulūm dalam pembelajaran qawā‘id di Pondok Pesantren Nurul As’adiyah Parang Kabupaten Bantaeng. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menganalisis tantangan dan solusi dalam penerapan metode al-Miftāh li al-‘Ulūm dalam pembelajaran qawā‘id: studi kasus di Pondok Pesantren Nurul As’adiyah Parang Kabupaten Bantaeng. Penelitian deskriptif menggambarkan fenomena yang ada di lapangan, sedangkan penelitian kualitatif menganalisis dan menginterpretasi aktivitas sosial, sikap, keyakinan, dan persepsi individu atau kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penelitian ini menawarkan model solusi lima langkah untuk mengatasi tantangan penerapan metode al-Miftāḥ li al-‘Ulūm dalam pembelajaran qawā‘id, yaitu habituasi, pemberian motivasi, filtrasi, pengklasifikasian santri berdasarkan kemampuan, serta penambahan tenaga pengajar. Model ini menjadi kontribusi baru karena belum dirumuskan secara sistematis dalam penelitian sebelumnya yang umumnya hanya berfokus pada efektivitas metode pembelajaran.