Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Hubungan penggunaan antibiotik empiris terhadap outcome terapi pasien community acquired pneumonia (CAP) di RSUP Fatmawati Jakarta Feri Setiadi; Magdalena Niken Oktovina; Umi Salamah; Tengku Nadiah Fadillah
MEDIA ILMU KESEHATAN Vol 10 No 3 (2021): Media Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30989/mik.v10i3.643

Abstract

Backgrounds: Community Acquired Pneumonia (CAP) is an inflammation of the lungs that is mostly caused by bacteria. Based on the 2018 Basic Health Research (RISKESDAS) data, the prevalence of pneumonia has increased every year, namely in 2013 (1.8%) and in 2018 (2.0%).Objective: This study aims to describes the relationship between empirical antibiotic use and empirical antibiotic use on the therapeutic outcome of CAP patients.Methods: This study was conducted retrospectively with a cross sectional method on CAP patients who met the inclusion criteria in the period January–December 2019.Results: The results of the study were patients aged 17-65 years 48 patients (65.8%), for male gender 39 patients (53.4%). The use of a single antibiotic ceftriaxone (42.5%) and a combination antibiotic ceftriaxone+levofloxacin (35.6%). Cephalosporin group of antibiotics (50.7%) and a combination of cephalosporin+quinolone group (42.5%).Conclusion: The longest duration of antibiotic use was in the range of 1-7 days (90.4%). The results of analysis of Chi-Square resulted having a Value of 0.75 (> 0.05), meaning that there was no relationship between the duration of empirical antibiotic use on the patient's therapeutic outcome (CAP). The duration of empirical antibiotic use has a value of 0.025 (<0.05), meaning that there is a relationship between the duration of the use of empirical antibiotics on the patient's therapeutic outcomes (CAP).
ANALISIS HUBUNGAN KETEPATAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK TERHADAP LAMA RAWAT PADA PASIEN COMMUNITY ACQUIRED PNEUMONIA (CAP) DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT ANNA MEDIKA PERIODE 2020 Feri Setiadi; Sharfina Maulidayanti; Nuzul Gyanata Adiwisastra; Devi Naibaho
Jurnal Farmamedika (Pharmamedika Journal) Vol 7 No 2 (2022): Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47219/ath.v7i2.141

Abstract

CAP Community-acquired pneumonia merupakan pneumonia yang menginfeksi pasien di luar rumah sakit atau pada komunitas. Pneumonia adalah adanya inflamasi, pembengkakan atau peradangan pada jaringan parenkim paru yang biasanya dikaitkan dengan pengisian alveoli dengan cairan yang disebabkan oleh mikroorganisme yaitu bakteri, virus, jamur dan parasit Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubunganketepatan antibiotik terhadap lama rawat pasien Community Acquired Pneumonia (CAP) di instalasi rawat inap Rumah Sakit Anna Medika periode 2020. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental secara cross sectional, dan pengambilan data dilakukansecara retrospektif yang berdasarkan catatan data rekam medis. Data yang diperoleh dari rekam medis pasien sebanyak 155 pasien. Hasil penelitian yang dihasilkan bahwa angka kejadian (CAP) terbanyak pada jenis kelamin laki- laki 59,3% dan pada usia 18-60 tahun 74,1%. Golongan antibiotik tunggal yang paling banyak digunakan adalah golongan fluoroquinolon yaitu levofloksasin 33.3 % dan kombinasi levofloksasin dengan seftriaxon 5.6 % Pada penelitian ini didapat penggunaan antibiotik yang tepat sebanyak 46 pasien 85,2%, dan 8 pasien 14,8% penggunaan antibiotik yang tidak tepat, lama rawat pasian 1-7 hari 92.5 % > 7 hari 7.5 %. Berdasarkan dari ketepatan penggunaan antibiotik dari kriteria 4T yaitu, Tepat Pasien 100%, Tepat Obat 100%, Tepat Dosis 85, 2% dan Tepat Indikasi 100%. Hasil dari hubungan antara ketepatan penggunaan antibiotik dengan lama rawat pasien nilai p = 0,008, OR = 0,037, CI = 0,003-0,427. Dengan demikian, terdapat hubungan antara ketepatan penggunaan antibiotik dengan lama rawat pasien.
Pengaruh Penggunaan Antikoagulan Terhadap Penurunan Nilai D-Dimer pada Pasien COVID-19 Feri Setiadi; Dealya Adira Panjaitan; Memy Aviatin
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 8 No. 2 (2022): The Indonesian Journal of Infectious Disease
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v8i2.149

Abstract

Latar Belakang : COVID-19 diidentifikasi sebagai penyakit sistem pernapasan namun diketahui juga berperan dalam gangguan koagulasi darah. Peningkatan nilai D-dimer secara signifikan merupakan parameter koagulasi yang menandakan adanya hiperinflamasi dan menyebabkan terjadinya hiperkoagulasi. Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh penggunaan antikoagulan berdasarkan jenis antikoagulan, rute, dan lama pemberian terhadap penurunan nilai D-dimer. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif secara retrospektif dengan desain cross sectional dan menggunakan metode total sampling. Subjek penelitian sebanyak 246 pasien rawat inap COVID-19 di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso periode Januari-Desember 2021. Hasil: Pemeriksaan D-dimer sebelum dan sesudah pemberian menunjukkan perbedaan signifikan (p<0,05) dimana rata-rata sebelum 1,477 mg/L dan sesudah 0,6806 mg/L dengan penurunan sebesar 0,778 mg/L. Hasil pengujian menunjukkan terdapat pengaruh dari variabel independen (penggunaan antikoagulan) terhadap variabel dependen (penurunan nilai D-dimer) (p<0,05) dimana variabel yang berpengaruh signifikan adalah jenis antikoagulan dan rute pemberian (p<0,05) serta diketahui bahwa jenis antikoagulan enoxaparin dan rute subkutan adalah yang paling baik dalam menurunkan nilai D-dimer. Kesimpulan: Dalam upaya mengatasi hiperkoagulasi pada pasien COVID-19, penggunaan antikoagulan dengan mempertimbangkan jenis dan rute pemberian akan memberikan pengaruh signifikan terhadap penurunan nilai D-dimer.
Analisis Hubungan Efektivitas Obat Antiviral Terhadap Lama Rawat Pasien Covid-19 Rawat Inap di Rumah Sakit Ananda Babelan Tahun 2021 Feri Setiadi; Wahyu Muhammad Nur
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 4, No 2 (2023): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v4i2.11105

Abstract

Corona virus disease 2019 (COVID-19) merupakan penyakit menular yang menyerang saluran pernafasan dengan tingkat penyebaran yang cepat bahkan dapat menimbulkan kematian, disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan efektivitas obat Antiviral terhadap lama rawat pasien COVID-19 rawat inap di Rumah Sakit Ananda Babelan tahun 2021. Desain penelitian ini menggunakan penelitian cross sectional, yaitu melakukan observasi terhadap data pasien dengan data rekam medis. Data yang digunakan adalah retrospektif yang dianalisis dengan cara analisis univariat deskriptif melihat sosiodemografi (usia, jenis kelamin, penyakit penyerta), pola pengobatan pasien (Antiviral), serta analisis bivariat melihat hubungan efektivitas obat Antiviral terhadap lama rawat pasien COVID-19 dengan mengevaluatif dari data rekam medis pasien menggunakan statistik Chi-Square. Sampel yang digunakan adalah pasien dengan diagnosa COVID-19 di Rumah Sakit Ananda Babelan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yaitu slovin dengan margin error 5%. Keseluruhan pasien di Rumah Sakit Ananda Babelan tahun 2021 sebanyak 1785 pasien dari perhitungan slovin didapatkan hasil sebanyak 330 pasien. Hasil penelitian ini menunjukan jumlah terbanyak pasien berjenis kelamin laki-laki sebanyak 177 pasien (53,6%), sedangkan pasien berjenis kelamin perempuan sebanyak 153 pasien (46,4%). Obat Antiviral yang digunakan yaitu Oseltamivir sebanyak 79 Pasien (23,9%), Favipiravir sebanyak 250 Pasien (75,8%), dan Remdesivir sebanyak 1 pasien (0,3%). Berdasarkan hasil uji Chi-Square didapatkan nilai P value = 0,002 yang menunjukkan terdapat hubungan antara pengunaan Antiviral terhadap lama rawat pasien COVID-19 rawat inap di Rumah Sakit Ananda Babelan tahun 2021.
In Vitro Evaluation of Antidiabetic and Anti-Inflammatory Activities of Five Selected Syzygium Leaves Ethanolic Extract as Alpha-Glucosidase Inhibitors and Anti-denaturation of Bovine Serum Albumin (BSA) Meiliza Ekayanti; Feri Setiadi; Siti Aminah; Alam Almaaz Afandi
JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 12 No. 1 (2025): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfiki.v12i12025.83-92

Abstract

Background: Diabetes mellitus (DM) has become a major health problem worldwide, with a continuous increase in mortality due to complications caused by hyperglycemia. Chronic hyperglycemia is often associated with inflammation due to increased production of free radicals. Objective: This study’s main objective is to assess antidiabetic and anti-inflammatory properties in vitro of five particular Syzygium leaves extract (S. cumini, S.aqueum, S. malaccense, S. polyanthum, and S. aromaticum) using alpha-glucosidase and Bovine Serum Albumin (BSA).  Methods: The five of selected Szygium leaves were macerated by using ethanol 96%, each extract was assessed in vitro for antidiabetic activity by analyzing the inhibitory of alpha-glucosidase using acarbose as strandard, and anti-inflammatory activity by analyzing the inhibitory denaturation of BSA Heat-induced and BSA induced by 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazine (DPPH) with Sodium diclofenac as standard. Results: The IC50 of α-glucosidase inhibition was 76.235 µg/mL (strong) for S. malaccense and 0.241 µg/mL (very strong) for the acarbose standard. The greater IC50 of antidenaturation of BSA with heat-induced was S. polyanthum (95.7 µg/mL) and sodium diclofenac standard (59.25 µg/mL) both were strong inhibitor. Along with greater anti-denaturation of BSA, DPPH-induced S. malaccense (90.320 µg/mL) and sodium diclofenac standard (43.301 µg/mL), both of which are strong inhibitors. Conclusion: The ethanol extract of Syzygium leaves has the potential to be developed as an antidiabetic and anti-inflammatory herbal medicine, particularly S. malaccense and S. polyanthum leaf extracts, which provided greater activity in this study.
Development of Blush On Powder Formulation using Beetroot Extract (Beta vulgaris L.) as Natural Colorant: Pengembangan Formulasi Blush On Powder menggunakan Ekstrak Umbi Bit (Beta vulgaris L.) sebagai Pewarna Alami Feronika Evma Rahayu; Evi Sri Maulidi Risalah; Aluwi Nirwanasari; Ing Mayfa Situmorang; Feri Setiadi
Berkala Ilmiah Kimia Farmasi Vol. 12 No. 2 (2025): December
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/bikfar.v12i2.75812

Abstract

Research on the development of natural dyes using beetroot (Beta vulgaris L.) has been investigated. Beetroot extract was obtained using the maceration method and then characterized through phytochemical screening tests, TLC (Thin Layer Chromatography), FT-IR (Fourier Transform Infrared), and XRD (X-ray Diffraction). The extract was developed as an active ingredient in a blush on powder formulation. The formulation was evaluated through organoleptic testing, homogeneity, pH, and spreadability tests, as well as stability testing using the freeze and thaw method. The results showed that the beetroot extract yield was 4.64%, containing secondary metabolites in the form of alkaloids, flavonoids, saponins, tannins, and terpenoids, with an Rf value of 0.54, the presence of chemical structures in the form of O-H, C-H, C-H, and R-CH=CH-R, and an amorphous form. Formulation was carried out by varying the beetroot extract to F1 (2%), F2 (5%), and F3 (8%) and control F0. Based on organoleptic testing, the formulations showed light brown color for F1, brown for F2, and dark brown for F3, homogeneous, pH in the range of 6.56-6.94, and spreading power in the range of 5-7 cm. The stability test showed a normality test >0.05, indicating that the formulation was normally distributed. The homogeneity test >0.05 showed no significant differences between the formulations. The one-way ANOVA test p<0.05 showed that the formulation had an effect on the pH value, while the post hoc Tukey HSD test p<0.05 showed no significant differences between the formulations.   Keywords: Beetroot, TLC, FT-IR, XRD, Blush On, Natural Colorant
EDUKASI PEMANFAATAN BUBUR DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) UNTUK STUNTING DAN NUGGET LELE UNTUK MP-ASI: Indonesia Dewi Rostianingsih; Feri Setiadi; Lenny Irmawati Sirait; Lina Indrawati; Arabta M. Peraten Pelawi; Evi Sri Maulidi Risalah
Jurnal Pengabdian Masyarakat FKIP UTP Vol 7 No 1 (2026): PROFICIO : Jurnal Abdimas FKIP UTP
Publisher : FKIP UNIVERSITAS TUNAS PEMBANGUNAN SURAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36728/jpf.v7i1.5584

Abstract

Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan yang masih tinggi di Indonesia dan berdampak pada pertumbuhan serta perkembangan anak. Rendahnya pengetahuan ibu balita mengenai pemenuhan gizi menjadi faktor penting yang perlu ditangani, khususnya dalam pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman ibu balita terkait pencegahan stunting melalui edukasi pemanfaatan bubur daun kelor (Moringa oleifera) dan nugget lele sebagai MP-ASI bergizi. Metode pelaksanaan meliputi penyuluhan, demonstrasi pembuatan makanan, pembagian media edukasi, serta evaluasi dengan pre-test dan post-test. Kegiatan diikuti oleh 50 ibu dengan balita di RW 004 Kelurahan Sepanjang Jaya. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan ibu yang cukup signifikan, di mana sebelum penyuluhan sebagian besar peserta belum memahami pentingnya gizi seimbang, namun setelah kegiatan mayoritas ibu mampu menjelaskan kembali materi yang diberikan. Peserta menunjukkan antusiasme tinggi dan termotivasi untuk mengaplikasikan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini membuktikan bahwa edukasi berbasis praktik mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemenuhan gizi seimbang sebagai upaya pencegahan stunting, meskipun masih terdapat keterbatasan waktu dalam pelaksanaan.