Dwina Moentamaria
Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Malang, Jl. Soekarno Hatta No. 9, Malang 65141, Indonesia

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

PENGARUH KADAR AIR TERHADAP MASA SIMPAN OLAHAN PANGAN DENGAN TEKNOLOGI STERILISASI SUHU TINGGI Retta Uli Yohana Getsemani Sinaga; Dwina Moentamaria
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 4 (2024): December 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i4.6640

Abstract

Kualitas produk pangan Ready To Eat (RTE) sangat dipengaruhi oleh kadar air yang berpotensi untuk ditumbuhi mikroorganisme yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pangan. Teknologi sterilisasi suhu tinggi dengan autoclave diharapkan mampu untuk mematikan mikroorganisme, sehingga bahan pangan aman dikonsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kadar air produk ayam gulai yang disterilisasi menggunakan autoclave terhadap masa simpannya. Kondisi sterilisasi dilakukan pada suhu 121°C dan 130°C, dengan waktu pemanasan selama 3, 6, 9, 12, dan 15 menit. Kemasan retort pouch digunakan untuk sterilisasi pada suhu tinggi. Hasil produk sterilisasi disimpan pada suhu ruang selama 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, dan 8 minggu. Uji dilakukan pada produk yang disterilisasi melalui analisa total bakteri dan kadar air dengan metode Association of Official Analytical Chemists (AOAC) 2005. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk RTE ayam gulai yang telah disterilisasi pada suhu tinggi 121°C dan 130°C, dengan waktu penyimpanan hingga 8 minggu, mempunyai kadar air masing-masing 29% dan 36,5% serta semua produk tidak ditumbuhi mikroorganisme. Produk RTE yang tidak ditumbuhi mikroorganisme mengindikasikan proses sterilisasi pada suhu tinggi sangat tepat dilakukan untuk olahan pangan dengan masa simpan relatif lama tanpa menurunkan nilai gizinya.
EVALUASI DAN RE-DESAIN UNIT CLARIFIER PADA INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH KAWASAN INDUSTRI Niken Violista; Dwina Moentamaria
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 11 No. 2 (2025): June 2025
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v11i2.6775

Abstract

Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) kawasan industri dirancang untuk mengolah air limbah sisa proses produksi sebelum dibuang ke lingkungan. Salah satu unit penting dalam IPAL adalah clarifier, yang berfungsi memisahkan padatan tersuspensi dari cairan. Waktu detensi yang terlalu lama dalam unit clarifier dapat menyebabkan proses menjadi tidak efisien. Beban air limbah yang masuk ke dalam clarifier dapat digunakan sebagai parameter untuk menentukan waktu detensi. Pada penelitian ini bertujuan untuk mendesain unit sesuai dengan kapasitas yang ada, sehingga aliran lumpur yang terjadi menuju tahap selanjutnya dapat berjalan secara optimal. Hasil perhitungan berdasarkan beban debit air limbah pada kondisi saat ini 4173,6 m³/hari dengan waktu detensi 3,78 jam dan overflow rate 12,06 m³/m².detik. Dimensi clarifier eksisting, yaitu diameter 21 m dengan kedalaman 1,9 m diperoleh volume 657,75 m3. Tahapan perhitungan yang dilakukan untuk menentukan desain ulang meliputi, perhitungan zona settling, zona inlet, zona thickening, dan zona outlet. Hasil perhitungan ulang dengan beban eksisting diperoleh waktu detensi 2 jam dan overflow rate 31,51 m³/m².detik. Dimensi desain ulang clarifier, yaitu diameter 12,89 m dengan kedalaman 3,31 m diperoleh volume 375,75 m3. Hasil desain ulang ini menunjukkan efisiensi waktu detensi sebesar 47%. Hal ini menunjukkan bahwa desain clarifier di IPAL kawasan industri saat ini telah mengantisipasi lonjakan potensi peningkatan debit air limbah dimasa mendatang.
PERHITUNGAN NILAI PARAMETER KELARUTAN HILDEBRAND PELARUT CAMPURAN ORGANIK DALAM EKSTRAKSI BITUMEN Galih Pamungkas Indragiri; Zakijah Irfin; Dwina Moentamaria; Eko Naryono
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 11 No. 1 (2025): March 2025
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v11i1.6925

Abstract

Pemilihan pelarut dalam ekstraksi bitumen berdasarkan nilai rendemen yang dihasilkan menghabiskan biaya besar dan proses panjang. Pelarut yang belum banyak digunakan adalah pelarut campuran organik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kemampuan pelarut campuran organik serta mencari formulasi pelarut yang sesuai untuk ekstraksi bitumen. Penentuan formulasi ini menggunakan parameter kelarutan hildebrand yang berfungsi untuk mendapatkan indeks kelarutan yang mendekati dengan bitumen asbuton yang akan diekstrak dengan berbasis pada pelarut campuran organik untuk cat yaitu thinner. Formulasi ini mengacu pada pemilihan bahan organik dengan campuran low boiling point 10-30%, medium boiling point 25-45%, high boiling point 45-60%. Dengan acuan tersebut dalam penelitian ini menggunakan formula 60[T]:30[PA]:10[EP], 55[T]:35[PA]:10[EP], 45[T]:45[PA]:10[EP], 60[T]:25[PA]:15[EP], 50[T]:30[PA]:20[EP], 55[T]:30[PA]:15[EP], dan 55[T]:25[PA]:20[EP] dimana [T] adalah toluen, [PA] adalah propil asetat, dan [EP] adalah etil propionat. Nilai parameter tersebut dihitung menggunakan Ms. Excel. Nilai parameter kelarutan hildebrand formula tersebut adalah 18,0401; 17,9919; 17,8779; 18,0472; 17,9505; 18,0024; dan 18,0010 MPa0,5 berturut-turut. Pelarut campuran organik dari toluen, propil asetat dan etil propionat dapat melarutkan bitumen dari asbuton. Formula komposisi yang memiliki kedekatan nilai parameter kelarutan Hildebrand dengan bitumen 19,1502 MPa0,5 adalah 60[T]:25[PA]:15[EP] sebesar 18,0472 MPa0,5.
PEMBUATAN SABUN MANDI CAIR DARI MINYAK KELAPA SAWIT DENGAN PENAMBAHAN EKOENZIM Akhmad Misbakhuz Zuhri; Zakijah Irfin; Dwina Moentamaria
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 12 No. 1 (2026): March 2026
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v12i1.7279

Abstract

Pertumbuhan jumlah penduduk yang terus meningkat mendorong bertambahnya kebutuhan terhadap produk kebutuhan dasar, salah satunya sabun mandi cair. Sabun mandi cair berfungsi menjaga kebersihan tubuh dan kesehatan kulit dari kotoran serta bakteri akibat aktivitas harian. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan sabun mandi cair berbahan dasar minyak goreng sawit serta mengkaji pengaruh variasi konsentrasi kalium hidroksida (KOH) dan penambahan ekoenzim terhadap mutu sabun cair yang dihasilkan. ekoenzim digunakan sebagai bahan aditif alami karena mengandung senyawa asam organik yang berpotensi menurunkan kadar alkali bebas sehingga meningkatkan keamanan sabun terhadap kulit. Pembuatan sabun cair dilakukan melalui tiga tahap, yaitu pembuatan soap base, pelarutan, dan penambahan ekoenzim. Variabel yang digunakan meliputi variasi konsentrasi KOH dan variasi penambahan ekoenzim. Produk sabun cair dianalisis berdasarkan parameter pH, organoleptik, kadar alkali bebas, dan berat jenis, kemudian dibandingkan dengan standar SNI 06-4085-1996 tentang syarat mutu sabun mandi cair. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi terbaik diperoleh pada konsentrasi KOH sebesar 40% dengan penambahan ekoenzim sebesar 4%. Sabun yang dihasilkan memiliki pH 9,5, berbentuk cair kental, beraroma khas, dan berwarna cokelat. Kadar alkali bebas sebesar 0,042% dan berat jenis 1,01014 g/mL menunjukkan bahwa sabun mandi cair yang dihasilkan telah memenuhi persyaratan mutu SNI 06-4085-1996.
SINTESIS LIQUID SMOKE DARI TEMPURUNG KELAPA UNTUK PENGAWET IKAN RAMAH LINGKUNGAN Reggyna Savia Putri; Ernia Novika Dewi; Dwina Moentamaria
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 11 No. 3 (2025): September 2025
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v11i3.7464

Abstract

Ikan merupakan bahan makanan yang mudah sekali mengalami perubahan mutu. Agar ikan tidak mengalami pembusukan maka diperlukan pengawetan. Liquid smoke dapat digunakan sebagai alternatif bahan pengawet yang lebih aman dan dapat memperpanjang umur simpan ikan. Tempurung kelapa sebagai salah satu limbah kelapa memiliki potensi untuk digunakan dalam pembuatan liquid smoke karena mempunyai kadar lignin yang lebih tinggi dari biomassa lainnya. Tujuan dari penelitian adalah untuk menganalisis pengaruh variabel waktu pirolisis terhadap karakteristik liquid smoke serta pengaruh pemberian liquid smoke terhadap ketahanan fisik ikan. Penelitian dilakukan melalui proses pirolisis pada suhu 500°C dengan variasi waktu 2 ; 3 ; dan 4 jam serta variasi penambahan katalis 0 ; 3 ; dan 7 %. Setelah itu dilakukan proses distilasi sebanyak 3 kali untuk memperoleh liquid smoke grade 1 yang digunakan sebagai pengawet ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa liquid smoke grade 1 yang dihasilkan memiliki karakteristik sesuai dengan SNI 8985:2021. Semakin lama waktu pirolisis dan semakin banyak penambahan katalis maka nilai kadar asam semakin meningkat. Hasil terbaik sesuai SNI dengan kadar asam tertinggi yakni pada liquid smoke variasi waktu pirolisis 4 jam dan penambahan katalis 3%. Nilai kadar asam sebesar 14,94% dan nilai kadar fenol sebesar 1,71%. Dilakukan juga pengaplikasian pada liquid smoke hasil terbaik grade 1 sebagai pengawet ikan yang menunjukkan hasil bahwa ikan lebih awet tahan lama selama 48 jam.
PENGARUH PENAMBAHAN ENZIM Α-AMILASE DAN GLUKOAMILASE PADA PEMBUATAN SIRUP GLUKOSA DARI TEPUNG SAGU Shinta Laurensia Dewanti; Dwina Moentamaria; Ernia Novika Dewi; Noor Isnaini Azkiya
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 12 No. 1 (2026): March 2026
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v12i1.7728

Abstract

Sirup glukosa merupakan gula cair yang penting dalam industri makanan karena sifatnya yang tidak mudah mengkristal dan tanpa membutuhkan pelarutan. Meskipun memiliki kandungan pati tinggi, tepung sagu masih kurang dimanfaatkan padahal berpotensi besar sebagai bahan baku alternatif dalam pembuatan sirup glukosa. Pembuatan sirup glukosa dari tepung sagu dapat dilakukan melalui proses hidrolisis enzimatis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penambahan enzim α-amilase dan glukoamilase terhadap karakteristik sirup glukosa yang dihasilkan. Proses hidrolisis dilakukan dalam tiga tahap yaitu gelatinisasi dengan pemanasan pada suhu 70°C, likuifikasi menggunakan enzim α-amilase pada suhu 90°C selama 1,5 jam, dan sakarifikasi menggunakan enzim glukoamilase pada suhu 60°C yang diinkubasi selama 72 jam. Variasi massa enzim yang digunakan adalah 0,08; 1; 2; dan 4 gram dengan rasio enzim enzim α-amilase dan glukoamilase 1:1. Parameter yang dianalisis meliputi kadar glukosa hasil likuifikasi dan sakarifikasi, kadar air, serta uji organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan enzim hingga titik optimum meningkatkan kadar glukosa dan menurunkan kadar air, namun penambahan berlebih justru menurunkan kadar glukosa. Variabel terbaik dalam penelitian ini diperoleh pada penambahan enzim sebanyak 2 gram, yang menghasilkan kadar glukosa tertinggi sebesar 1,2776%, kadar air terendah sebesar 8,2%, serta karakteristik organoleptik sirup glukosa yang manis, berwarna bening kekuningan, dan tidak berbau.
PENGARUH FORMULASI TEPUNG SAGU DAN AIR TERHADAP KARAKTERISTIK SIRUP GLUKOSA Amalia Dwi Ardini Putri; Dwina Moentamaria; Ernia Novika Dewi; Noor Isnaini Azkiya
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 12 No. 1 (2026): March 2026
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v12i1.7732

Abstract

Sagu merupakan salah satu komoditas terbesar di Indonesia. Namun, pemanfaatannya masih terbatas pada produksi pati atau tepung sagu yang umumnya digunakan sebagai bahan pangan tradisional atau campuran dalam pembuatan kue dengan skala produksi yang relatif kecil. Padahal, sagu memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi yaitu 79%–80%, berpotensi sebagai bahan baku pembuatan sirup glukosa. Sirup glukosa merupakan gula cair yang dihasilkan melalui proses hidrolisis pati baik secara enzimatis maupun asam. Proses hidrolisis pada penelitian ini dilakukan secara enzimatis menggunakan enzim α-amilase dan glukoamilase. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis pengaruh variasi perbandingan tepung sagu dan air terhadap karakteristik sirup glukosa yang dihasilkan. Proses pembuatan sirup glukosa diawali dengan tahap gelatinisasi pada suhu 70°C dengan perbandingan tepung sagu dan air sebesar 1:2, 1:4, 1:6, dan 1:8 (b/v). Selanjutnya dilakukan liquifikasi menggunakan enzim α-amilase pada suhu 90°C, dilanjutkan dengan proses sakarifikasi menggunakan enzim glukoamilase pada suhu 50°C selama 72 jam dan dilakukan pemurnian menggunakan karbon aktif. Tahap terakhir yaitu analisa sirup glukosa menggunakan spektrofotometer UV-Vis . Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa kadar glukosa yang diperoleh dari variasi perbandingan tepung sagu dan air berturut-turut sebesar 0,603%, 0,364%, 0,197%, dan 0,131%. Selain itu, kadar air sirup glukosa sebesar 13% telah memenuhi standar mutu berdasarkan SNI 01-2978-1992, dengan batas maksimum kadar air sebesar 20%.