Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Analysis of Abundance and Composition of Culturable Bacteria and Their Relationship with Water Quality Parameters in Intensive Shrimp Ponds Gede Iwan Setiabudi; Kadek Lila Antara; Hamdanul Fain; Meutia Samira Ismet
Advances in Tropical Biodiversity and Environmental Sciences Vol. 10 No. 1 (2026): February 2026
Publisher : Institute for Research and Community Services Udayana University (LP2M Universitas Udayana)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/ATBES.2026.v10.i01.p01

Abstract

Intensive cultivation of Pacific white shrimp (Penaeus vannamei) is a crucial pillar of the aquaculture economy, but it faces sustainability challenges due to water-quality degradation driven by microbial activity. This study aims to analyze the total bacterial count (TBC) and total Vibrio count (TVC), identify the dominant culturable bacterial genera, and determine their statistical relationship with physicochemical water quality parameters in intensive shrimp ponds. The research methodology included regular sampling of water and sediment over one cultivation cycle. Water quality was analyzed using standard methods, while bacterial enumeration was performed using the spread plate technique on Marine Agar and Thiosulfate Citrate Bile Salts Sucrose Agar media. Pearson's correlation analysis was used to test the relationship between variables. The results show that some water quality parameters, particularly ammonia and TOM, tended to increase and exceed the SNI 01-7246-2006 quality standard as the cultivation cycle progressed. The abundance of TBC and TVC in sediment (average 106−107CFU/g) was significantly higher than in the water column (average 104−105 CFU/mL). Correlation analysis revealed a strong and significant negative relationship between DO and TBC (r=−0.85, p<0.01) and TVC (r=−0.79, p<0.01). Conversely, a strong and significant positive correlation was found between TOM and TBC (r=0.91, p<0.01) and TVC (r=0.88, p<0.01), as well as between ammonia and both TBC and TVC. It is concluded that the abundance of culturable bacteria, especially TBC and TVC, serves as a sensitive biological indicator of organic load and ecological stress in intensive pond systems. The strong predictive relationship between these microbial metrics and key parameters, such as DO and TOM, underscores the importance of microbiological monitoring for proactive management and improved sustainability in aquaculture.
Efektivitas Dosis Probiotik EM4 terhadap Pertumbuhan dan Sintasan Benih Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Putu Satria Nugraha; Kadek Lila Antara; Jasmine Masyitha Amelia
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 9 No 1 (2026): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Edisi Mei 2026
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v9i1.5314

Abstract

Keberhasilan produksi benih ikan nila (Oreochromis niloticus) pada sistem budidaya intensif sering terkendala oleh rendahnya efisiensi pemanfaatan nutrien dan tingginya kerentanan terhadap stres lingkungan pada fase awal pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh pemberian dosis probiotik EM4 yang berbeda dalam pakan terhadap Laju Pertumbuhan Spesifik (Specific Growth Rate/SGR) dan Tingkat Kelangsungan Hidup (Survival Rate/SR) benih ikan nila. Penelitian dilaksanakan selama 30 hari di Balai Benih Ikan (BBI) Ringdikit menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan, yaitu kontrol (0 mL/kg pakan), 10 mL/kg, 20 mL/kg, dan 30 mL/kg pakan. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa suplementasi EM4 berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan benih (P < 0,05). Pertumbuhan optimal diperoleh pada dosis 20 mL/kg pakan dengan nilai SGR bobot sebesar 3,02% dan SGR panjang sebesar 3,46%. Tingkat kelangsungan hidup tidak menunjukkan perbedaan nyata antarperlakuan (P > 0,05), namun secara deskriptif dosis 20 mL/kg menghasilkan sintasan tertinggi (90,00%) dibandingkan kontrol (66,67%). Parameter kualitas air selama pemeliharaan berada dalam kisaran optimal sehingga tidak menjadi faktor pembatas. Berdasarkan hasil penelitian, dosis 20 mL/kg pakan menunjukkan efektivitas tertinggi dalam meningkatkan pertumbuhan serta mempertahankan stabilitas sintasan benih ikan nila.
Performa Transportasi Ikan Kerapu Cantang (Epinephelus fuscoguttatus × Epinephelus lanceolatus) pada Variasi Kepadatan Biomassa Menggunakan Wadah Sekunder Vertikal dalam Sistem Tangki Tertutup Bintang Napitupulu; Gede Iwan Setibudi; Kadek Lila Antara
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 9 No 1 (2026): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Edisi Mei 2026
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v9i1.5516

Abstract

Penentuan kepadatan biomassa yang tepat merupakan faktor krusial dalam meminimalkan stres fisiologis selama distribusi ikan hidup. Penelitian ini bertujuan menimbulkan pengaruh variasi kepadatan (15 kg, 16 kg, dan 17 kg per wadah) terhadap sintasan dan respon respirasi ikan Kerapu Cantang ( Epinephelus fuscoguttatus × E. lanceolatus ) pada simulasi transportasi tertutup selama 72 jam. Menggunakan sistem hiperoksia dan suhu rendah (21,0–22,5°C), hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi kepadatan tidak berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup (P > 0,05), dengan tingkat sintasan tetap terjaga di atas 92% pada seluruh perlakuan. Namun peningkatan kepadatan biomassa berpengaruh sangat signifikan (P < 0,05) terhadap Frekuensi Bukaan Operkulum (FBO). Kepadatan 17 kg memicu stres respirasi akut (120 kali/menit) dan kerusakan fisik pada sirip, sementara kepadatan 15 kg menunjukkan kondisi homeostasis paling stabil (75 kali/menit). Disimpulkan bahwa kepadatan 15–16 kg/wadah merupakan standar optimal untuk menjaga kualitas fisik dan kesejahteraan ikan Kerapu Cantang dalam transportasi jarak jauh.
Analisis Kepadatan Benih Terhadap Sintasan Kerapu Cantang (Epinephelus fuscoguttatus × E. Lanceolatus) pada Transportasi Sistem Tertutup A. Dzunun Yubi Pradana; Kadek Lila Antara; Hamdanul Fain
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 9 No 1 (2026): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Edisi Mei 2026
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v9i1.5518

Abstract

Transportasi sistem tertutup merupakan tahapan kritis dalam distribusi benih ikan kerapu yang berpotensi menyebabkan mortalitas tinggi akibat penurunan kualitas lingkungan media. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi kepadatan terhadap kelulushidupan (survival rate) benih ikan kerapu cantang (Epinephelus fuscoguttatus × E. lanceolatus), serta menentukan kepadatan optimal pada simulasi pengangkutan selama 24 jam. Metode penelitian menggunakan pendekatan eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas tiga perlakuan kepadatan, yaitu P1 (150 ekor/5 L), P2 (175 ekor/5 L), dan P3 (200 ekor/5 L), masing-masing dengan tiga ulangan. Parameter yang diamati meliputi kelulushidupan serta kualitas air, yaitu suhu, oksigen terlarut (DO), pH, dan amonia. Hasil analisis statistik menggunakan ANOVA menunjukkan bahwa variasi kepadatan berpengaruh signifikan (P < 0,05) terhadap kelulushidupan benih. Nilai kelulushidupan tertinggi diperoleh pada perlakuan P1 sebesar 97,77% ± 1,01, diikuti P2 sebesar 95,23% ± 0,87, sedangkan nilai terendah terjadi pada P3 sebesar 71,06% ± 1,00. Penurunan kelulushidupan pada kepadatan tinggi sejalan dengan degradasi kualitas air, yang ditandai oleh peningkatan konsentrasi amonia hingga 0,3 mg/L serta penurunan oksigen terlarut hingga 5,5 mg/L. Kepadatan 150 ekor per 5 liter merupakan kondisi optimal dalam mempertahankan stabilitas fisiologis benih serta meningkatkan efisiensi transportasi dalam sistem tertutup.
Efektivitas Pemanfaatan Sistem Akuaponik Menggunakan Filter Kitosan Terhadap Kualitas Air Pada Parameter Uji Amonia, Nitrit, dan Nitrat I Gede Satriya Wibawa; Ni Nyoman Dian Martini; Kadek Lila Antara
Vol 16 No 4 (2026): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v16i4.2373

Abstract

Kitosan merupakan senyawa polisakarida turunan dari kitin yang diperoleh dari limbah cangkang hewan laut dan dapat berperan sebagai biokoagulan dan bioflokulan dalam menjaga mutu kualitas air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas kitosan dengan konsentrasi yang berbeda dalam memperbaiki kualitas air dilihat dari kandungan amonia, nitrit, dan nitrat pada sistem akuaponik. Penelitian ini dilaksanakan selama 30 hari di Kelurahan Banjar Tegal, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang digunakan meliputi A (Sistem akuaponik tanpa filter kitosan), B (Sistem akuaponik dengan penambahan filter kitosan berdosis 30 mg/L), C (Sistem akuaponik dengan penambahan filter kitosan berdosis 50 mg/L). Data dikumpulkan dengan metode simple random sampling dan dianalisis menggunakan teknik analisis data deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa performa kualitas air (parameter uji amonia, nitrit, dan nitrat) sistem akuaponik pada perlakuan penambahan filter kitosan dengan konsentrasi 50 mg/L (Perlakuan C) lebih baik bila dibandingkan dengan kontrol maupun dengan perlakuan penambahan filter kitosan dengan konsentrasi 30 mg/L.