Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

PELESTARIAN DAN PENGEMBANGAN KAWASAN KOTA LAMA SEBAGAI LANDASAN BUDAYA KOTA SEMARANG sari, suzanna ratih; harani, arnis rochma; werdiningsih, hermin
MODUL Vol 17, No 1 (2017): MODUL vol 17 nomor 1 tahun 2017 (8 articles)
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.857 KB) | DOI: 10.14710/mdl.17.1.2017.49-55

Abstract

Kota Semarang sebagai ibukota Provinsi Jawa Tengah dan juga termasuk dalam kategori kota besar di Indonesia, memiliki ketiga aspek utama dari pengembangan kota berkelanjutan. Konservasi kawasan bersejarah yang termasuk dalam ikon pariwisata, dapat menjadi sumber pendapatan masyarakat dan pemerintah daerah yang menjanjikan dan menjadi fokus utama pengembangannya. Kota Semarang sendiri memiliki beberapa kawasan yang strategis untuk di konservasi keberadaannya seperti Kota Lama, daerah Pecinan, Pasar Johar, dan Kampung Sekayu. Konservasi kawasan dilakukan untuk memberikan perlindungan kawasan bersejarah termasuk isi di dalamnya agar perkembangannya terkendali dan tidak tergusur oleh pembangunan dan modernisasi.Kota Semarang terbentuk melalui perjalanan sejarah panjang dan unik, yang ditandai dengan berbagai peninggalan sejarah utamanya gedung dan bangunan kuno. Bertolak dari hal ini, kiranya diperlukan suatu konsep pemikiran yang komprehensif untuk menangani mutiara-mutiara yang ada di Kota Semarang ini, yang masih tampak kusam dan tidak kelihatan kilauannya. Pemerintah Kota Semarang sendiri juga tidak dapat melihat bahwa potensi kawasan dan bangunan kuno ini merupakan mutiara-mutiara yang masih kusam dan tersembunyi, yang dapat digosok supaya berkilau dan menarik perhatian. Mereka lebih suka latah membangun gedung-gedung dan mal-mal tanpa perencanaan yang matang, dan justeru sering menggusur bangunan bersejarah tersebut.Dari urian di atas, kiranya penelitian ini diperlukan untuk menangani satu diantara mutiara-mutiara tersebut yakni Kawasan Kota Lama melalui pengembangan konsep konservasi kawasan, yaitu merupakan konsep penataan, pelestarian dan pengembangan kawasan-kawasan bersejarah di kota Semarang, dan tentu saja merupakan salah satu landasan budaya bagi perencanaan dan pengembangan kota.Kegiatan penelitian diawali dengan mengumpulkan data-data histories-arkeologis di kawasan-kawasan bersejarah khususnya Kota Lama yang dilakukan melalui studi pustaka, studi arsip, studi peta, serta diikuti dengan observasi lapangan untuk mengetahui kondisi fisik kawasan dan bangunan-bangunan bersejarah. Data-data histories, arkeologis maupun arsitektural, baik berbentuk sumber primer maupun sekunder diklasifikasikan dan dianalisis secara deskriptif. 
PEMILIHAN TAPAK ALTERNATIF BAGI PENGEMBANGAN KANTOR KECAMATAN WINDUSARI Harani, Arnis Rochma; Indarto, Eddy; Riskiyanto, Resza; Sholih, Muhammad Najieb
MODUL Vol 19, No 2 (2019): MODUL vol 19 nomor 2 tahun 2019 (8 articles)
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (842.739 KB) | DOI: 10.14710/mdl.19.2.2019.95-115

Abstract

Kawasan kecamatan di Indonesia pada saat ini harus mampu mewadahi kegiatan masyarakat tingkat kecamatan tersebut, baik itu formal dan informal. Kebutuhan ruangan dan kelayakan tapak untuk kantor kecamatan mengalami tren yang meningkat. Sehingga bangunan saat iniyang  hanya mampu menampung kegiatan-kegiatan bagi staffnya dan ruang yang sudah ada, harus dikembangkan agar dapat menampung masyarakat. Kebencanaan juga berkembang dalam kondisi Indonesia yang terletak pada lingkaran gunung api (ring of fire). Berbagai masalah yang timbul di lokasi memerlukan suatu studi untuk mengetahui kecamatan untuk dapat dikembangkan. Studi berlangsung dengan paradigma kuantitatif dengan pendekatan deduktif melalui analisis pustaka, studi observasi lapangan dan studi kasus kecamatan. Tujuan dari studi ini adalah untuk menentukan kelaikan tapak yang sedang digunakan sebagai kantor kecamatan. Hasil dari studi ini menemukan bahwa tapak eksisting masih layak untuk dikembangkan.
Management of Gender-Based Production and Commercial Spaces Murtini, Titien Woro; Harani, Arnis Rochma; Adiyati, Arlina
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 20, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v20i1.13621

Abstract

Currently, home industry is attaining particular attention from Indonesian government. This activity is considered as an embryo of Indonesia's economic growth. One of the home industries that have been recognized worldwide is batik. Batik is the cultural heritage of Indonesia that which has received international recognition. The famous batik in Indonesia comes from Pekalongan. In Pekalongan, some villages have characteristic of batik, one of them is proto village. In this village, batik is growing through the home industry business, and almost 70% women can write batik. Also, almost all the houses in this village become a place for industry, whether to make batik, sell batik, and modify batik fabric into clothing. The house which should be a residence, it is functioned as a production and business space. This research employed qualitative method with phenomenology paradigm, aimed to understand and reveal the meaning of the phenomenon of human life behavior, both human in capacity as individuals, groups and the wider community in using residential as a business space and production in Proto Batik Village. The results of this study found that the spatial management system in Proto Batik Village is dominated by women in every home. If the living room in business space used as a place to sell and marketing, the function of production room is located in women area such as kitchens, and backyard. It can be concluded that private house spaces are still used as residential functions, but semi-public spaces are utilized as production and business space.
Exhibiting Material Localities Through Embodied Sensorial Performance Paramita, Kristanti Dewi; Riskiyanto, Resza; Harani, Arnis Rochma
Journal of Architectural Design and Urbanism Vol 7, No 1 (2024): Volume 7 No 1, 2024
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, Universitas Diponegoro, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jadu.v7i1.25323

Abstract

This study investigates the embodied sensorial performance in material exhibition design as a way to enhance visitors’ experience about local cultures. Exhibitions and installations designed in museum or gallery context often incorporate a sensorial approach to increase engagement and to cater specific needs of society. This study takes particular interest in expanding such discussion, highlighting how a sensorial approach can be used in a more active way to experience localities, particularly in relation with food material.The study explores such sensorial aspects through reflecting towards an exhibition event conducted by the Indonesian Architect Association Central Java titled Rumarasa, an exhibition that explores the sensorial narrative of Indonesian spices. The exhibition consists of three particular stages that activate the overall senses that construct the experience of spices in Indonesia. The first stage consists of the visual stages of the spices, displaying the form and origin of spices in an interactive way. The next stage requires the visitors to touch the spices, inviting the visitors to experience the spice using their tactile, olfactory, and auditory senses. The third stage highlights how the spice can be used as a medium of creative play, transforming the spice as colouring material with different gradients. Through these stages, the sensorial journey constructs the overall local narrative of Indonesian spices, understanding the origin, building the intimacy, and enabling transformation of material. In conclusion, this study contributes to expanding the sensory experience as an approach to design cultural exhibitions, enabling an active and deep experience of locality.
EVALUATION OF BUILDING C FEB DIPONEGORO UNIVERSITY BASED ON GREEN ARCHITECTURE CRITERIA BASED ON EDGE BUILDING APP EVALUASI GEDUNG C FEB UNIVERSITAS DIPONEGORO BERDASARKAN KRITERIA GREEN ARCHITECTURE BERBASIS EDGE BUILDING APP lestari, Arifah; Salsabilla J. P., Zahra; Harani, Arnis Rochma; Aminnudin, Asrul Mahjuddin
JURNAL ARSIP UNPAND Vol 5 No 1 (2025): JURNAL ARSIP UNPAND
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/arsip.v5i1.145

Abstract

Perubahan iklim menjadi isu global terbesar di dunia saat ini. Konstruksi merupakan penyumbang utama emisi karbon serta memberi dampak yangsignifikan terhadap iklim, meningkatkan suhu global dan polusi udara. Green building dirancang untuk mengurangi dampak negatif lingkungan. Software EDGE membantu menganalisis kelayakan bangunan ramah lingkungan dengan standar sertifikasi yang dikembangkan oleh IFC. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi desain Gedung C Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro berdasarkan kriteria green architecturemenggunakanuji EDGE Building App. Aspek-aspek yang dievaluasi meliputi efisiensi energi, air, dan material. Pada pebelitian ini data primer dan sekunder diperoleh menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data yang diperoleh dimodelkan dengan menggunakan EDGE Building App untuk menentukan rekomendasi desain. Hasil dari evaluasi desain ditemukan bahwa Gedung C Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro belum memenuhi standar green building. Maka, diperlukan upaya untuk meningkatkan penghematan energi agar memenuhi kriteria greenbuildingpada EDGE Building App. Rekomendasi desain dapat meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi biaya utilitas dengan investasi yang dapat kembali dalam 3,4 tahun.
KAJIAN FASILITAS UMUM DESA MOROSARI DEMAK Riskiyanto, Resza; Harani, Arnis Rochma; Atmoko, Rasyita; Hasan, Muhammad Ismail
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3 No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Life's demands continue together with deteriorating natural conditions cause the community adjust its "space" which is exacerbated by the low economic conditions that occur in Morosari Demak Village.  Several public facilities in Morosari such as schools and health centers were available even though the conditions were not feasible. The study of this facility considered important regarding Morosari known as a marine tourism village, but in reality the village's maritime potential has not been well managed.This village has a funeral of an Islamic religious leader who is located in the middle of the waters that used to be land.  This is what drives the need for public facilities which can accommodate the needs of the community and visitors who make pilgrimages in Morosari Village as an aspect to support the needs and survival of the Morosari Village community where pilgrimage tourism can be one of the village's income sources.The method used is qualitative which uses field conditions (natural) as data then explores through various observations such as data collection, photographing, interviewing and observing.  The purpose of this study is to find out the most important facility needs to begin the design of the development of the Morosari village area.From this research, it was concluded that the first public facility needs developed by the Morosari Village community were focused on the problems of road infrastructure.  Then being followed by the needs of other public facilities such as schools, health facilities that are supported by a good drainage system and distribution of clean water, Morosari Village will become a good marine tourism village.Keyword: Morosari, Public Facilities, Infrastructure Design Abstrak: Tuntutan hidup yang terus berlangsung beriringan dengan memburuknya kondisi alam yang membuat masyarakat menyesuaikan “ruang”nya yang diperburuk dengan keadaan perekonomian yang rendah terjadi pada Desa Morosari Demak. Pada Desa Morosari beberapa fasilitas umum seperti sekolah dan puskesmas sudah tersedia walaupun kondisinya yang kurang layak. Kajian mengenai fasilitas ini sangat penting berkaitan dengan sebutan Desa Morosari sebagai desa wisata bahari, namun kenyataannya potensi bahari desa ini belum di kelola dengan baik.Desa ini memiliki pemakaman seorang tokoh agama Islam yang letaknya di tengah perairan yang dulunya merupakan daratan. Hal inilah yang mendorong untuk menganalisa kebutuhan akan fasilitas umum yang dapat mengakomodir kebutuhan masyarakat dan pengunjung yang melakukan ziarah di Desa Morosari sebagai salah satu aspek untuk menunjang kebutuhan dan keberlangsungan hidup masyarakat Desa Morosari yang dimana wisata ziarah dapat menjadi salah satu sumber pendapatan desa ini.Metode yang digunakan adalah kualitatif yang menggunakan kondisi lapangan (alami) sebagai data kemudan menggalinya melalui berbagai observasi, yaitu mendata, memotret, wawancara dan mengamati. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui kebutuhan fasilitas yang terpenting untuk memulai perancangan pengembangan Kawasan desa Morosari.Dari penelitian ini didapatkan kesimpulan yaitu, kebutuhan fasilitas umum yang pertama dikembangkan oleh masyarakat Desa Morosari baiknya menitik beratkan pada permasalahan infrastruktur jalan. Adapun diikuti oleh kebutuhan fasilitas umum lainnya seperti sekolah, fasilitas kesehatan yang didukung dengan sistem pembuangan serta distribusi air bersih yang baik dengan begini maka Desa Morosari akan menjadi desa wisata Bahari yang baik.Kata Kunci: Desa Morosari, Fasilitas Umum, Perancangan infrastruktur
A SENSORY READING OF SPATIAL EXPERIENCE FROM A FILM'S SETTING Shofia, Ghina; Harani, Arnis Rochma
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The purpose of this article is to explore spatial experience through the lens of film settings. Films have been structured to depict a narrative about a space and its experiences to date. There have been few studies examining how a spatial setting in a film can evoke an architectural experience. Through the analysis of sensory-centered experiences derived from spatial settings in films, this paper aims to contribute to the understanding of architecture, particularly the relationship between the body and the space. Using a qualitative approach, this article discusses the film "Later We Tell About Today" (NKCTHI) through a case study. The spaces that are the settings in this film can be viewed as the user's experience of space. Based on the findings of this study, users' spatial experiences are influenced by the four senses of sight, smell, hearing, and touch. As a result of the degradation of lighting, users usually feel a change in their experience of space through the sense of sight, from initially being focused with high concentration to being visually uncomfortable and feeling alert. Using spatial reading methods, this article demonstrates that residents in film settings experience a variety of spatial experiences..Keywords:, Spatial experience, sense, atmosphere, spatial setting, sensoryAbstrak: Tulisan ini bertujuan untuk membaca spatial experience melalui penelusuran menggunakan setting film. Selama ini film disusun untuk menunjukkan adanya narasi mengenai suatu ruang dan pengalamannya. Belum banyak yang mencoba untuk mempelajari bagaimana suatu setting ruang dalam film dapat memberikan pengalaman arsitektur. Tulisan ini mencoba memperluas pemahaman experience yang berpusat pada sensori dari setting ruang dalam film, ini berpotensi memperkaya pengetahuan arsitektur khususnya hubungan antara body dan space. Artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan pembahasan melalui studi kasus film yang berjudul “Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini” (NKCTHI). Ruang-ruang yang menjadi setting tempat dalam film ini dapat dibaca sebagai pengalaman ruang penggunanya. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengalaman ruang yang dirasakan oleh pengguna terkait dengan empat indra manusia sebagai pemicunya, yaitu penglihatan, penciuman, pendengaran, serta peraba. Melalui indra penglihatan, pengguna merasakan perubahan pengalaman ruang yang awalnya fokus dengan konsentrasi tinggi beralih menjadi ketidaknyamanan visual dan rasa waspada karena pengaruh degradasi pencahayaan. Tulisan ini menunjukkan adanya berbagai bentuk pengalaman ruang yang dirasakan penghuni pada setting film berbasis dari pembacaan ruang.Kata Kunci: ruang, pengalaman ruang, indra manusia
Akuisisi Ruang Perkotaan Sebagai Tempat Bermain Anak: Studi Kasus Pandeyan, Yogyakarta Nurjannah, Siti; Harani, Arnis Rochma; Harsritanto, Bangun I.R. Harsritanto
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 2 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i2.3998

Abstract

Abstract: Urban spaces are often used by children as places to play, even if they are not specifically designed for this activity. This research explores how children acquire urban spaces and utilize urban elements as part of their play, with a focus on traditional games in Indonesia. Using a qualitative approach through direct observation in Pandeyan, Yogyakarta, this study found that children show great creativity in appropriating the surrounding environment, such as roads, sidewalks, fences, and open spaces, as play areas. The results show that various city elements have affordances that enable children's exploration and social interaction, but also present challenges related to safety and accessibility. Therefore, designing a more inclusive and child-friendly city needs to consider the balance between structured and spontaneous play spaces. With this understanding, it can serve as a reference to create an environment that is more supportive of children's development, both in terms of physical, social and cognitive aspects. Keyword: urban space, children's play, space acquisition, affordance  
ANALISIS SISTEM SIRKULASI TATA RUANG BERDASARKAN STANDAR DAN KONDISI PENGGUNA PADA PASAR PEDURUNGAN KOTA SEMARANG Zanjabila, Nasheila Mutia; Harani, Arnis Rochma
Arsitekno Vol. 12 No. 2 (2025): Arsitekno
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/arj.v12i2.21360

Abstract

Pasar memiliki kedudukan penting dalam siklus perekonomian, namun pasar tradisional sering terpinggirkan karena penataan ruang yang buruk dan kondisi lingkungan yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem sirkulasi dan tata ruang di Pasar Pedurungan Kota Semarang sebagai upaya evaluasi keberhasilan pasca renovasi. Penelitian ini terbagi dalam dua kategori yaitu menganalisis sistem sirkulasi dan tata ruang kemudian hasilnya digunakan sebagai bagian dalam mengeksplorasi desain layout pasar. Metode pengumpulan data meliputi observasi langsung aktivitas pengguna, pengukuran denah sirkulasi, dan dokumentasi foto eksisting. Analisis data menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, membandingkan kondisi eksisting dengan SNI 8152:2021 dan literatur pendukung. Hasil penelitian ini menunjukkan pola sirkulasi double loaded corridor eksisting mengakibatkan permasalahan kemacetan dan ketidaknyamanan pembeli akibat ketidakteraturan layout. Temuan lain adalah, kurangnya zonasi jelas antara area basah dan kering juga menyebabkan penyebaran bau dan kondisi kumuh. Temuan dari penelitian ini menunjukkan desain pasar tidak dapat lepas dari kemungkinan adanya perubahan praktik spasial yang berbeda sehingga kemungkinan perubahan tersebut harus bisa di skenariokan sebelum mendesain.
What Architecture Students Learn About IoT and Energy Efficiency Harsritanto, Bangun I.R.; Harani, Arnis Rochma; Riskiyanto, Resza; Wahyuningrum, Sri Hartuti
Journal of Information System and Informatics Vol 7 No 3 (2025): September
Publisher : Universitas Bina Darma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51519/journalisi.v7i3.1237

Abstract

Energy consumption has become a major concern within academic communities, affecting everyone from undergraduate students to senior professors. In response, architectural schools in Indonesia have begun incorporating energy efficiency education into the curriculum for first-year students across various courses. One of the newest mandatory courses at the university is the Internet of Things (IoT). In the architecture department, this course not only covers the fundamentals of IoT but also emphasizes designing IoT solutions that support energy efficiency. This article describes the process by which architecture students integrate energy efficiency concepts into their IoT designs. A case study conducted during the Spring semester of 2025 in IoT classes for second-year students, using the updated teaching syllabus, highlights the positive outcomes. The results demonstrate that early-stage architectural education can significantly raise awareness of energy efficiency in both IoT and building design.