Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Case Report: Identification of Eimeria tenella Infection and Pathologic Changes in a Broiler Chicken in Kutuh Village Farm, Badung, Bali Putra, I Putu Cahyadi; Sari, Ni Komang Wahyu Centika; Kardena, I Made; Besung, I Nengah Kerta
Mandalika Veterinary Journal Vol. 5 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/mvj.v5i2.15522

Abstract

Coccidiosis is a serious parasitic disease of chickens caused by the protozoan Eimeria, with Eimeria tenella being one of the most virulent species. The infection causes necrosis and hemorrhage of the large intestine, resulting in significant economic losses in the poultry industry. The purpose of this case report was to determine the cause of death of broiler chickens in one farm in Kutuh Village, South Kuta Subdistrict, Badung Regency. The case animal (protocol number 39/N/24) was a 20-day-old broiler from the farm with a population of 18,000 birds. The examination process included anamnesis, clinical signs, anatomical pathology, histopathology, bacteriology, parasitology (including coprology and McMaster techniques), and morphometric identification of Eimeria tenella using ImageJ software. The clinical signs observed included anorexia, weakness, dull feathers, and reddish feces with a porridge-like consistency. Pathological examination revealed alterations in the cecum and colon. Histopathological analysis indicated typhlitis hemorrhagis et necrotican and colitis necrotican. Bacteriological examination revealed Escherichia coli, a normal flora, in the caecum and colon. Morphological and morphometric analyses of the oocysts revealed that E. tenella is ovoid, with two wall layers, an average size of 21.670 × 19.942 μm, and an oocyst count of 188,600 per gram of feces (OPG). The cause of death of the case chickens was due to severe Eimeria tenella infection.
Pyometra servik terbuka pada anjing domestik dengan riwayat terapi progestin secara rutin Putra, I Putu Cahyadi; Widyasanti, Ni Wayan Helpina; Antaprapta, I Gusti Ngurah Agung; Sibang, I Nengah Anom Adi Nugraha; Suwiti, Ni Ketut
ARSHI Veterinary Letters Vol. 6 No. 1 (2022): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2022
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.6.1.1-2

Abstract

Pyometra servik terbuka merupakan akumulasi nanah pada lumen uterus yang ditandai dengan keluarnya leleran melalui vagina. Penggunaan progestin yang kurang tepat untuk tujuan kontrasepsi telah diketahui dapat menimbulkan terjadinya pyometra. Seekor anjing domestik berjenis kelamin betina, berumur 3 tahun dan memiliki bobot badan 8,64 kg datang ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana (RSHP FKH UNUD) dengan keluhan anjing tidak mau makan, perut membesar dan keluar cairan putih bercampur darah dari vulva sejak sepuluh hari. Berdasarkan hasil anamnesis, anjing tidak pernah kawin dan rutin diberikan kontrasepsi berupa injeksi progestin saat kondisi loop (estrus). Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan anjing mengalami distensi abdomen dan keluar nanah bercampur darah melalui vagina. Hasil pemeriksaan ultrasonografi teramati uterus bersekat – sekat, lumen uterus anekhoik (berisi cairan) dan dinding uterus hiperekhoik. Terapi yang dilakukan adalah ovariohysterectomy, terapi cairan, antibiotik, hemostatik serta antiradang. Anjing sudah mau makan sehari pascaoperasi dan diizinkan untuk rawat jalan. Anjing melakukan kontrol ke RSHP FKH UNUD setelah 7 hari operasi dan diketahui bahwa luka sudah tertutup dan kering sehingga dilakukan pelepasan jahitan.
Abortus pada kucing akibat infeksi feline panleukopenia virus Widyasanti, Ni Wayan Helpina; Putra, I Putu Cahyadi
ARSHI Veterinary Letters Vol. 7 No. 1 (2023): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2023
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.7.1.9-10

Abstract

Feline panleukopenia virus (FPV) yang menginfeksi kucing dalam keadaan bunting diketahui dapat mengakibatkan abortus, mumifikasi fetus, kematian fetus dini dan resorption fetus. Kucing domestik betina berumur 7 bulan dibawa ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan gejala muntah, diare, lemas dan tidak mau makan. Pemeriksaan ultrasonografi terlihat 5 fetus dalam keadaan hidup dengan usia kebuntingan 39,7 ± 2 hari. Hasil pemeriksaan hematologi menunjukkan terjadi leukopenia, anemia makrositik hipokromik dan trombositopenia. Rapid test kit antigen FPV menunjukkan hasil positif. Terapi dalam kasus ini dibagi dalam 2 tahap yaitu pengobatan injeksi selama 3 hari yaitu antibiotik, antiemetik, ATP dan multivitamin. Kucing mengalami abortus pada hari ke-2 dan ke-3 sehingga dilanjutkan dengan terapi oral selama 7 hari yaitu antibiotik, antiprotozoa cefadroxil, metronidazole, adsorben dan emolien serta multivitamin. Terapi cairan ringer laktat diberikan selama 5 hari bersamaan dengan pakan pemulihan. Proses pemulihan ditandai dengan tidak ada muntah dan mulai ada nafsu makan pada hari ke-3. Feses sudah berbentuk semisolid pada skor 5 (skala 1-7) pada hari ke-6. Kucing sudah dapat dibawa pulang oleh pemilik dan dilanjutkan rawat jalan dengan terapi obat oral. Tujuh hari setelah rawat jalan kucing telah dinyatakan sembuh.
Excision of prolapsed vaginal fibroma in a Golden Retriever dog Putra, I Putu Cahyadi; Widyasanti, Ni Wayan Helpina; Sibang, I Nengah Anom Adi Nugraha; Suwiti, Ni Ketut
ARSHI Veterinary Letters Vol. 8 No. 2 (2024): ARSHI Veterinary Letters - May 2024
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.8.2.31-32

Abstract

(intact) yang mengalami nyeri saat buang air kecil dan terlihat adanya massa yang menonjol dari vagina. Pada pemeriksaan fisik, anjing tersebut ditemukan dalam keadaan shock dengan nyeri vagina. Teramati massa oval berwarna putih dengan tekstur keras berukuran 9,3 cm x 5,5 cm yang tertutup darah. Analisis hematologis menunjukkan leukositosis, limfositosis, granulopenia, anemia mikrositik hiperkromik, dan trombositopenia. Massa tumor diangkat, dinding vagina dikembalikan ke dalam rongga vagina, dan vulva dijahit. Premedikasi termasuk atropin sulfat dan xylazine, serta anestesi diberikan menggunakan ketamin dan isofluran. Perawatan pascaoperasi terdiri dari asam tolfenamat, vitamin K1, amoksisilin, meloksikam, dan suplemen Sangobion®. Pemeriksaan histopatologi menggunakan pewarnaan hematoksilin-eosin mengungkapkan sel-sel fibroma fusiform. Tujuh hari setelah pengangkatan tumor, jahitan dilepas, dan kondisi vagina kembali normal.
Pathology of proventricular tetrameriasis in a free-range chicken Sewoyo, Palagan Senopati; Putra, I Putu Cahyadi; Nainggolan, Willy Morris
ARSHI Veterinary Letters Vol. 8 No. 3 (2024): ARSHI Veterinary Letters - August 2024
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.8.3.47-48

Abstract

Laporan kasus ini bertujuan untuk menyelidiki etiologi lesi proventrikulus dan gejala klinis terkait pada ayam kampung lokal yang diduga menderita tetameriasis proventrikulus. Tetameriasis proventrikulus adalah penyakit unggas yang disebabkan oleh nematoda Tetrameres sp. Dalam kasus ini, 15 ekor ayam kampung lokal berumur sekitar delapan bulan dari Gianyar, Bali, Indonesia, menunjukkan gejala anoreksia dan diare kehijauan, yang mengakibatkan kematian tiga ekor ayam. Salah satu ayam yang mati menjalani pemeriksaan menyeluruh, termasuk pemeriksaan patologi anatomi (PA), histopatologi (HP), tes hemaglutinin (HA), dan tes inhibisi hemaglutinin (HI) untuk virus Newcastle disease (NDV). Pemeriksaan PA menunjukkan adanya nodul berwarna kehitaman dan kemerahan pada permukaan proventrikulus, meskipun hasil tes HA dan HI untuk NDV negatif. Pemeriksaan HP pada jaringan proventrikulus mengungkapkan adanya penampang melintang nematoda Tetrameres sp. dengan pseudo-selom yang berisi cairan eosinofilik cerah. Selain itu, ditemukan juga ektasia kelenjar proventrikulus dengan atrofi kompresi dan peradangan ringan.
Deteksi Virus Avian influenza Pada Ayam Pedaging Komersial yang di Suplementasi Water Additive Isnawati, Rina; Putra, I Putu Cahyadi; Susiani, Rina Dwi; Wuryastuti, Hastari; Wasito, R.
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2020: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.76 KB)

Abstract

Penyakit Avian influenza (AI) merupakan penyakit infeksius pada unggas yang disebabkan oleh avian influenza virus (AIV) telah mewabah dan menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar pada industri perunggasan di Indonesia serta bersifat zoonosis. Penurunan kejadian AI pada manusia perlu difokuskan pada pencegahan dan kontrol infeksi pada unggas. Tujuan penelitian ini adalah deteksi dini dengan pendekatan molekuler dan imunologis untuk mencegah penyebaran AIV dengan menjaga kesehatan ayam pedaging komersial yang di suplementasi water additive. Lima puluh lima ekor DOC ayam pedaging strain Cobb digunakan sebagai hewan coba selama 35 hari. Lima ekor day old chick (DOC) dipilih secara acak dan dinekropsi untuk diambil organ paru-paru. Lima puluh ekor ayam yang tersisa di bagi menjadi dua kelompok perlakuan yaitu kelompok kontrol (K) dan perlakuan (P). Setiap minggunya (minggu ke-1 sampai ke-5) sebanyak lima ekor ayam pada masing-masing kelompok di pilih secara acak untuk dinekropsi diambil organ paru-paru. Deteksi AIV dilakukan dengan Reverse Transcriptase-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) terhadap gen matrix (MA) dan hemagglutinin (H5, H7, H9), sedangkan deteksi imunologis imunohistokimia streptavidin biotin (IHK-SB) diamati dengan mikroskop. Hasil penelitian ini adalah sampel paru-paru (P) minggu pertama dan kedua terdeteksi MA, namun tidak terdeteksi H5, H7, H9. Hasil IHK-SB pada kelompok K positif VAI, sedangkan pada kelompok P positif VAI pada minggu pertama dan kedua, minggu ketiga negatif. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat infeksi alami VAI tipe A, Water additive yang tersedia secara komersial dapat mencegah infeksi alami VAI pada minggu ketiga setelah pemberian.