Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Dukungan Sosial Teman Sebaya dengan Tingkat Adaptasi LingkunganKampus pada Mahasiswa Keperawatan TA. 2024 Endah Dwi Kusuma; Slamet Riyanto; Deasti Nurmaguphita
Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2025): Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : PT Pustaka Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71417/galen.v1i2.88

Abstract

Mahasiswa semester awal keperawatan menghadapi tantangan adaptasi berupa tekanan akademik, perubahan lingkungan sosial, dan tuntutan kemandirian. Hambatan dalam penyesuaian diri dapat berdampak pada kesehatan mental, prestasi belajar, dan relasi sosial. Dukungan teman sebaya berperan penting dalam memfasilitasi proses adaptasi mahasiswa melalui pemberian bantuan emosional, informasi, dan rasa kebersamaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan teman sebaya dengan tingkat adaptasi mahasiswa semester awal di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. untuk mengetahui hubungan dukungan sosial teman sebaya dengan tingkat adaptasi lingkungan kampus pada mahasiswa keperawatan tahun ajaran 2024 di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Metode kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa baru tahun ajaran 2024 sejumlah 210 orang, dan sampel berjumlah 68 responden yang dipilih secara stratified random sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Dukungan Teman sebaya untuk mengukur dukungan teman sebaya dan SACQ untuk mengukur tingkat adaptasi. Terdapat hubungan signifikan dan positif antara dukungan teman sebaya dengan penyesuaian diri mahasiswa keperawatan tahun ajaran 2024. Pada penelitian ini semakin tinggi dukungan sosial teman sebaya yang dialami mahasiswa Keperawatan tahun ajaran 2024, maka semakin tinggi tingkat adaptasinya pada lingkungan kampus di Universitas Aisyiyah Yogyakarta.  
Faktor Ketidakpatuhan Minum Obat pada Pasien Skizofrenia Silvia Agustina Ahmadi; Prastiwi Puji Rahayu; Deasti Nurmaguphita
JURNAL RISET RUMPUN ILMU KESEHATAN Vol. 5 No. 1 (2026): April: Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan
Publisher : Pusat riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurrikes.v5i1.7283

Abstract

Long-term treatment adherence is critical for schizophrenia patients, yet non-adherence remains a significant global challenge, contributing to relapse, re-hospitalization, and increased healthcare costs. Understanding the underlying multidimensional factors is crucial for developing effective interventions. This systematic literature review aims to identify and categorize the dominant factors contributing to medication non-adherence among schizophrenia patients, based on current quantitative evidence (2019-2024). A systematic search of Google Scholar and PubMed targeted quantitative cross-sectional studies using the PICOST framework. Article selection followed PRISMA guidelines, and quality was assessed using the JBI Critical Appraisal Checklist. Seven articles were included in the final narrative synthesis. The synthesis confirms that non-adherence is multifactorial. Identified factors were categorized into three groups: (1) Patient-related factors (e.g., poor illness insight, feeling cured, treatment fatigue); (2) Treatment-related factors (e.g., medication side effects, therapy duration); and (3) System and social factors (e.g., low family support, stigma, poor therapeutic alliance). Non-adherence is a complex issue arising from the interplay of patient, treatment, and social factors. Low family support and poor patient knowledge consistently emerge as key determinants. Interventions require a holistic approach extending beyond pharmacotherapy, focusing on comprehensive psychosocial education for patients and families, active side-effect management, and strengthening the family's role in care.
Dukungan keluarga berhubungan dengan motivasi menjalani terapi hemodialisis Hanifah, Ruth Berlianing; Nurmaguphita, Deasti; Rahayu, Prastiwi Puji
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 4 (2026): April Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i4.2722

Abstract

Background: Chronic kidney disease (CKD) is a condition where kidney function declines irreversibly, resulting in the body's inability to maintain fluid balance, necessitating renal replacement therapy, one of which is hemodialysis. Purpose: To analyze the relationship between family support and the motivation of CKD patients undergoing hemodialysis, to determine the most dominant family support, and to determine the close relationship between family support and motivation for undergoing hemodialysis. Method: This study is a quantitative cross-sectional study. The sampling technique used purposive sampling, calculated using the Slovin formula e = 0.05, for 120 respondents. The family support variable was measured using a family support questionnaire. The motivation variable for undergoing hemodialysis was measured using a hemodialysis motivation questionnaire. Results: The study showed that some CRF patients undergoing hemodialysis were highly motivated, demonstrating their readiness and commitment to undergoing hemodialysis. The most prevalent form of family support was informational support. The analysis revealed a positive correlation with moderate closeness, meaning that the higher the family support received, the higher the patient's motivation to undergo hemodialysis. Conclusion: There is a positive correlation between family support and motivation to undergo hemodialysis.   Keywords: Chronic Kidney Failure; Family Support; Hemodialysis; Motivation.   Pendahuluan: Gagal ginjal kronik (GGK) adalah kondisi menurunnya fungsi ginjal secara irreversible yang mengakibatkan tubuh tidak dapat mempertahankan keseimbangan cairan, sehingga perlu terapi pengganti ginjal salah satunya hemodialisis. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan dukungan keluarga dengan motivasi pasien GGK dalam menjalani hemodialisis, mengetahui dukungan keluarga yang paling dominan, dan bagaimana keeratan hubungan antara dukungan keluarga dengan motivasi menjalani hemodialisis. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel dengan metode Purposive Sampling setelah dihitung dengan rumus slovin e = 0,05 sebanyak 120 responden. Variabel dukungan keluarga diukur menggunakan kuesioner dukungan keluarga. Variabel motivasi menjalani hemodialisis diukur dengan kuesioner motivasi menjalani hemodialisis. Hasil: Sebagian pasien GGK yang menjalani hemodialisis memiliki motivasi tinggi, menunjukkan kesiapan serta komitmen pasien dalam menjalani hemodialisis. Dukungan keluarga yang paling dominan diberikan adalah dukungan informasional. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif dengan keeratan sedang, yang berarti semakin tinggi dkungan keluarga yang diterima maka semakin tinggi motivasi pasien dalam menjalani hemodialisis. Simpulan : Terdapat hubungan positif antara dukungan keluarga dengan motivasi menjalani hemodialisis.   Kata Kunci: Dukungan Keluarga; Gagal Ginjal Kronis; Hemodialisis. Motivasi.
The effect of five-finger hypnosis therapy on anxiety levels among patients with type 2 diabetes mellitus Akhmad Danu Shafar Pradana; Deasti Nurmaguphita; Slamet Riyanto
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 5 No. 2 (2026): May Edition 2026
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v5i2.3322

Abstract

Background: Patients with Type 2 Diabetes Mellitus often experience psychological disorders, one of which is anxiety due to lifestyle changes and long-term treatment. Five-finger hypnosis therapy is a non-pharmacological intervention that combines relaxation and positive suggestion. Purpose: To determine the effect of five-finger hypnosis therapy on reducing anxiety levels in Type 2 Diabetes Mellitus patients. Method: A pre-experimental design with a one-group pretest-posttest approach. The sample consisted of 30 respondents selected through purposive sampling. The research instrument used the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Data analysis used the Paired Sample T-Test. Results: The average anxiety score before the intervention was 16.87 (SD = 2.921) and decreased to 11.27 (SD = 3.523) after the intervention. Statistical test results showed a p-value of 0.000 (< 0.05). Conclusion: There is a significant effect of providing five-finger hypnosis therapy in reducing anxiety levels in Type 2 Diabetes Mellitus patients. Keywords: Anxiety; Five-Finger Hypnosis; Type 2 Diabetes Mellitus.
Studi Kasus Implementasi Asuhan Keperawatan Terapi Psikoreligius: Dzikir pada Ny. S dengan Resiko Perilaku Kekerasan di Rumah Sakit Jiwa Grhasia Ilham Ramadan; Deasti Nurmaguphita
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.600

Abstract

Gangguan skizoafektif merupakan gangguan jiwa berat yang ditandai oleh kombinasi gejala psikotik dan gangguan mood, yang berpotensi menimbulkan risiko perilaku kekerasan apabila tidak ditangani secara komprehensif. Risiko perilaku kekerasan sering dipicu oleh ketidakstabilan emosi, tekanan psikososial, serta ketidakpatuhan terhadap pengobatan. Selain terapi farmakologis, pendekatan nonfarmakologis berupa terapi psikoreligius, khususnya dzikir, dapat menjadi intervensi keperawatan jiwa untuk membantu pasien mengendalikan emosi dan impuls agresif. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan implementasi asuhan keperawatan dengan terapi psikoreligius dzikir pada pasien skizoafektif dengan risiko perilaku kekerasan. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan metode studi kasus melalui pendekatan proses keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Studi kasus dilaksanakan selama empat hari di Wisma Sembodro RSJ Grhasia Yogyakarta pada Ny. S, pasien dengan diagnosis skizoafektif disertai risiko perilaku kekerasan. Intervensi utama berupa terapi dzikir dengan lafadz Allahu Akbar, Astagfirullah, dan Subhanallah yang dilakukan secara bertahap dan terstruktur dalam aktivitas harian pasien. Hasil studi menunjukkan adanya perubahan positif pada kondisi emosional pasien. Setelah dilakukan terapi dzikir secara konsisten, pasien menunjukkan penurunan intensitas kemarahan, peningkatan ketenangan, perbaikan kualitas tidur, kemampuan berkomunikasi yang lebih koheren, serta peningkatan kontrol diri terhadap dorongan perilaku kekerasan. Pada akhir evaluasi, pasien mampu mengidentifikasi perilaku amuk sebagai respons yang tidak adaptif dan menunjukkan sikap yang lebih tenang dalam menghadapi konflik. Kesimpulan dari studi kasus ini adalah bahwa implementasi asuhan keperawatan dengan terapi psikoreligius dzikir efektif dalam membantu menurunkan risiko perilaku kekerasan pada pasien skizoafektif.
Laporan Kasus Pada Pasien Dengan Gangguan Isolasi Sosial Di Rumah Sakit Jiwa Grhasia Yogyakarta Namulondo Nadya Mwajib; Deasti Nurmaguphita
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 7 (2026): Menulis - Juli
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i7.1315

Abstract

Latar Belakang:.Kesehatan Jiwa merupakan gangguan mental yang masih sering mendapatkan stigma negatif dan diskriminasi dari lingkungan sekitar. Gejala yang muncul pada pasien skizofrenia biasanya akan mengalami penurunan atau kehilangan kemampuan menjalin hubungan dengan lingkungan sosial sekitar. Isolasi sosial ditandai dengan perasaan kesepian karena merasa ditolak, takut tidak diterima sehingga mempengaruhi keterampilan berkomunikasi dan bersosialisasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan isolasi sosial di RSJ Grhasia Yogykarta. Metode:Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dalam bentuk studi kasus pada pasien dengan masalah isolasi sosial selama 3 hari dengan tehnik pengumpulan data melalui pendekatan metodologi keperawatan yang meliputi pengkajian, penegakan diagnosa keperawatan, penetapan intervensi keperawatan, pelaksanaan implementasi keperawatan dan evaluasi keperawatan Hasil: Setelah diberikan salah satu intervensi dengan menggunakan (SP) 1 yaitu bina hubungan salin percaya dengan pasien, (SP) 2 ajarkan cara berkenalan secara bertahap dengan orang pertama dan (SP) 3 ajarkan cara berkenalan secara bertahap dengan dua orang selama 3 hari pasien mampu untuk melakukan bina hubungan saling percaya, menjelaskan kembali faktor penyebab isolasi sosial ,menceritakan masalah yang dialami klien, berdiskusi manfaat berhubungan dengan orang lain . Kesimpulan: Masalah keperawatan isolasi sosial teratasi, sudah menunjukkan perbaikan yang signifikan. Klien mulai membangun interaksi sosial dasar dan menunjukkan peningkatan komunikasi, serta keterbukaan terhadap lingkungan.