Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

SEBARAN NILAI KAPASITAS TUKAR KATION (KTK) DAN KEMASAMAN (pH) TANAH DI TANAH VERTISOL KECAMATAN SAKRA KABUPATEN LOMBOK TIMUR Sarah, Siti; AB, Baharuddin; Bustan, Bustan
Journal of Soil Quality and Management Vol. 3 No. 1 (2024): Jurnal Soil Quality and Management
Publisher : Department of Soil Science, Faculty of Agriculture, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jsqm.v3i1.145

Abstract

Abstract : this study aims to determine the distribution of Cation Exchange Capacity (CEC) and Acidity (pH) values ​​of soil. This research was conducted in December 2021 - January 2022. The location for taking soil samples was in Sakra District, East Lombok Regency, West Nusa Tenggara. Soil analysis was carried out in January 2021 at the Soil Chemistry Laboratory, Faculty of Agriculture, University of Mataram. The approach used in this study is the land unit (land unit). Soil samples in this study were taken by random sampling technique. The random sampling method is the process of taking samples using a random method. The sample points that will be used are 35 points representing vertisol soils in Sakra District. Soil sample data from the field is analyzed or tested in the laboratory. This laboratory test aims to determine the value of Cation Exchange Capacity (CEC) and Soil Acidity (pH). Utilization of Geographic Information Systems (GIS) in this research is by using the Arcgis application which is used to make maps. Maps are made by processing data that has been analyzed so that it can be entered and overlaid in the application. The results of the study showed that the CEC content analysis of this soil was classified as high, with medium to very high categories. Soil CEC at the study site ranged from 19.73 me/100gr to 69.62 me/100gr. Meanwhile, the results of the analysis of soil pH levels were classified as neutral, with a slightly acidic to slightly alkaline category. The pH level at the study site ranged from 6 to 8.4. Based on the results of research that has been done, this soil has a fairly good level of fertility, but it is necessary to add organic matter as a soil conditioner in order to maintain and increase soil fertility.
KEARIFAN LOKAL ANDINGINGI MASYARAKAT KAJANG SEBAGAI MODEL PENDIDIKAN KESELARASAN LINGKUNGAN Bustan, Bustan; Jumadi, Jumadi; Ibrahim, Ibrahim; Said, Muhammad; Sakmawati, Sakmawati
Panrita Inovasi: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3, No 2 December 2024
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56680/pijpm.v3i2.68300

Abstract

The Kajang indigenous community has always maintained their lives in harmony with nature. One of the rituals that has been maintained by the Kajang indigenous community is the Andingingi ritual. This Andingingi tradition has been carried out for generations by ancestors or ancestors, and this is still done by people in Tana Toa Village, Kajang District, Bulukumba Regency. This activity method is packaged as a workshop. The andingingi ritual is considered a ritual to invoke safety and cool nature and its contents. In addition, the Kajang people require all participants of the Andingingi event to wear all-black clothes that are sanctified. Andingingi is a ceremony performed by all residents to cool nature and ask for prayers for everything on Earth. They ask God to bless and protect the universe. The andingingi ritual has great philosophical value and importance as a way to express gratitude for all the favors given by God. This tradition is in line with evidence of the eternal relationship between nature and humans in the Kajang indigenous community.
TINGKAT KEKERINGAN LAHAN DAN DAMPAKNYA PADA LAHAN PERTANIAN DI KECAMATAN SEKOTONG KABUPATEN LOMBOK BARAT Iemaaniah, Zuhdiyah Matienatul; Bustan, Bustan; Dewi, Rika Andriati Sukma; Selvia, Siska Ita
JURNAL AGRIMANSION Vol 25 No 2 (2024): Jurnal Agrimansion Agustus 2024
Publisher : Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/agrimansion.v25i2.1708

Abstract

Terjadinya perubahan sirkulasi udara yang terjadi dibumi dapat memberikan dampak ekstrim la nina ataupun el nino. Fenomena el nino dan la nina ini merupakan fenomena yang berlawanan kejadian alamnya. Berdasarkan informasi BMKG wilayah Indonesia mengalami peristiwa kekeringan akibat fenomena El Nino dengan curah hujan sangat rendah dengan suhu udara yang sangat panas. Ketersediaan air dalam tanah disupplay oleh curah hujan yang turun pada suatu wilayah. Sementara itu dengan adanya fenomena el nino ini supplay air kebawah permukaan sangat kecil, sebaliknya penguapan dipermukaan tanah semakin tinggi akibat intensitas cahaya matahari yang sangat besar sehingga menekan ketersediaan air tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Tingkat kekeringan lahan masing-masing desa di Kecamatan Sekotong dan bagaimana sikap petani yang terdampak kekeringan lahan ini. Metode penelitian dilakukan dengan metode survey lapangan dengan teknik analisis spasial dan deskriptif. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Sekotong pada 23 mei 2024. Hasil diperoleh Tingkat kekeringan lahan tertinggi adalah Desa Sekotong Tengah dengan luas kekeringan lahan mencapai 1737,3 hektar /97% dari luas wilayah mengalami kekeringan sementara desa dengan Tingkat kekeringan lahan terendah adalah Desa Cendi Manik dengan luas kekeringan lahan mencapai 705,8 hektar/ 76% lahan mengalami kekeringan
EDUKASI SEJARAH UNTUK SISWA SMA 9 MAROS: WORKSHOP PENULISAN SEJARAH PEMBERONTAKAN DI/TII SEBAGAI UPAYA MENCEGAH RADIKALISME DI SULAWESI SELATAN Subair, Ahmad; Bustan, Bustan; Kabubu, Rusmala Dewi; Asmunandar, Asmunandar; Ridha, Muhammad Rasyid
Panrita Inovasi: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4, No 1 June 2025
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56680/pijpm.v4i1.73105

Abstract

Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan peserta didik melalui pendekatan partisipatif berbasis penulisan sejarah lokal. Metode pelaksanaan meliputi empat tahap: persiapan (analisis kebutuhan, koordinasi dengan sekolah, penyusunan modul), pelaksanaan (pelatihan keterampilan dengan metode ceramah interaktif, demonstrasi, dan pendampingan), evaluasi (kuesioner, tes pengetahuan, observasi), serta pelaporan dan tindak lanjut (pembentukan kelompok usaha, konsultasi daring). Program ini melibatkan kolaborasi dengan SMA negeri 9 maros untuk memastikan relevansi dan keberlanjutan program. Hasilnya, peserta menunjukkan peningkatan pemahaman keterampilan teknis penulisan sejarah lokal dan upaya mencegah radikalisme di tingkat kabupaten. Kegiatan ini menekankan pentingnya adaptasi metode partisipatif dan sinergi multistakeholder dalam penguatan pengetahuan sekarah lokal.
Tradisi Pesta Panen di Dusun Birue, Desa Siawung, Kabupaten Barru, 1998–2021. Aulia, Tina; Patahuddin, Patahuddin; Bustan, Bustan
Attoriolong Vol 23, No 1 (2025): Attoriolong Jurnal Pemikiran Kesejarahan dan Pendidikan Sejarah
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tradisi adat pesta panen masyarakat Dusun Birue merupakan sebuah budaya turun temurun yang telah di wariskan oleh para pendahulu. Artikel ini mengulas sejarah tradisi Pesta Panen di Dusun Birue, Desa Siawung, Kabupaten Barru (1998–2021). Dengan menggunakan metode sejarah yang menekankan pada proses dan waktu, studi ini memanfaatkan sumber-sumber primer, seperti, koran dan hasil wawancara. Temuan studi menunjukkan bahwa tradisi Tradisi Pesta Panen di Dusun Birue Desa Siawung Kabupaten Barru sudah dilakukan turun temurun, namun pada tahun 1998 merupakan latar belakang pelaksanaan pesta panen dilaksanakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Perubahan signifikan pada pelaksanaan tradisi pesta panen yaitu pada tahun 2007 sebagian masyarakat dusun Birue sudah tidak melakukan ritual mabbaca-baca. Pada tahun 2015 ditandai popularitas tradisi Pesta Panen semakin berjaya dengan dibuktikan hadirnya \masyarakat dari laur daerah datang ke Dusun Birue. Tradisi pesta panen juga turut dipengaruhi oleh peristiwa global sebagaimana pelaksanaan tradisi Pesta Panen tahun 2020- 2021 dilaksanakan secara sederhana dalam artian tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya karena adanya wabah Covid-19. Tradisi pesta panen memberikan dampak terhadap masyarakat Dusun Birue yaitu dari dampak sosial seperti terjalinnya hubungan solidaritas, gotong royong dan timbulnya persatuan serta sebagai ajang silaturahmi. Dampak ekonomi yaitu datangnya para pedagang baik dari luar dusun Birue maupun masyarakat dusun Birue dan mendapatkan penghasilan tambahan. Dampak wisata budaya yaitu tiap tahun acara ini selalu ramai di kunjungi oleh wisatan dari luar daerah. Tradisi pesta panen ini juga akan ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda dan akan berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata dari Kabupaten Barru.
PERAN PEMERINTAH DESA DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS HASIL PERTANIAN DI DESA KALOLING KECAMATAN SINJAI TIMUR KABUPATEN SINJAI Bustan, Bustan; Syamsuddin, Syamsuddin; Wahid, Abd
DEMOKRASI Vol 5, No 2 (2025): Volume 5 Nomor 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36269/dmkr.v5i2.3809

Abstract

This study aims to analyze the role of the Kaloling Village Government in efforts to increase the productivity of agricultural products and identify supporting factors and obstacles in its implementation. The research method used is a descriptive qualitative approach with data collection techniques through observation, in-depth interviews, and documentation. The role of the Kaloling village government is very important in an effort to increase the productivity of agricultural products, considering that the challenges faced by farmers are complex and multidimensional. The village government can play a role as a facilitator who bridges the needs of farmers with programs from the central and regional governments. The results of the study show that the Kaloling Village Government plays an active role in encouraging increased agricultural productivity through extension programs, providing assistance for production facilities (seeds, fertilizers, agricultural tools), agricultural infrastructure development through the Village Fund, as well as support for agricultural institutions and digitalization. The implementation of these programs has had a significant impact on increasing agricultural yields, especially rice and horticultural commodities, with an increase in productivity of 12–15% in the last two years. In addition, village agricultural governance has become more adaptive and open to collaboration with external parties. However, obstacles are still found in the form of limited access to subsidized fertilizers and lack of regeneration of young farmers. Therefore, a sustainable and inclusive village policy is needed so that agricultural productivity can continue to be optimally increased.
Dampak Budaya Organisasi terhadap Inovasi dalam Perusahaan Teknologi: Sebuah Penelitian Kualitatif Putri, Naulya Dwi; Haslindah, Haslindah; Marwati, Putri Kharisma Shafah; Hermawansyah, Wira; Bustan, Bustan; Ilahi, Andi Alfianto Anugrah
Jurnal Ilmiah Multidisiplin Amsir Vol 2 No 1 (2023): Desember
Publisher : AhInstitute of Research and Community Service (LP2M) Institute of Social Sciences and Business Andi Sapada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62861/jimat amsir.v2i1.403

Abstract

Innovation is crucial to technology companies' success in an ever-changing environment. Organizational culture has been identified as a factor capable of influencing a company's innovation level. This qualitative research explores this further by examining how organizational culture affects innovation in technology companies. Our literature review covers the concepts of corporate culture innovation and relevant previous research. We used a qualitative approach involving in-depth interviews with leaders and members of innovation teams at several leading technology companies. This research reveals a complex relationship between elements of organizational culture, such as norms, values, organizational structure, and innovation. This research provides a deeper understanding of the cultural factors that can motivate or hinder the innovation process in technology companies. The practical implications of this research include suggestions for companies to design an organizational culture that supports sustainable innovation. The results of this research provide important insights for technology companies seeking to increase their level of innovation in an ever-evolving world. By understanding the impact of organizational culture on innovation, companies can design more effective strategies to remain competitive in an era of ever-changing technology.
Problematika Sistem Pendidikan di Indonesia Bustan, Bustan
JURNAL PEMIKIRAN DAN PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN Vol. 4 No. 1 (2022): JURNAL PEMIKIRAN DAN PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN (JP-3)
Publisher : RAYHAN INTERMEDIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/pendidikan.v4i1.460

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengurai tentang keadaan sistem pendidikan kita yang tergolong masih tertinggal begitupula kualitas yang masih rendah menjadi problema yang harus dihadapi dalam dunia pendidikan kita dan harus dicarikan solusinya. Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan kerja keras dan sinergitas diberbagai elemen, sebut saja harus dimulai dari lingkungan keluarga, masyarakat dan pemerintah. Harus diakui, bahwa perubahan pendidikan ke arah yang lebih baik memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Isu tentang pendidikan merupakan salah satu isu utama dalam membangun masyarakat menuju suatu peradaban yang tinggi. Pendidikan yang maju dan berkualitas dapat dijadikan salah satu indikator penentu keberhasilan suatu negara. Penelitan ini merupakan kualitatif yang berusaha mengungkap peristiw secara deskriptif analitis.
Ma’nene: Dinamika Sejarah Tradisi Membersihkan dan Mengganti Pakaian Jenazah Leluhur Suku Toraja Bustan, Bustan; Najamuddin, Najamuddin; Jumadi, Jumadi; Bahri, Bahri
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 7 No 1 (2023): Juni
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v7i1.7942

Abstract

The Toraja people still maintain their cultural existence in the midst of advances in technology and science, they still carry out traditions from generation to generation called Ma'Nene.However, this culture, over time, has undergone various changes that are no longer original and have even begun to be abandoned by some of its supporting communities. Therefore, this paper seeks to reveal the background of the birth of the Ma'Nene culture, and the factors underlying this cultural change in the Toraja people. This study uses historical research methods, including heuristics (data collection process), criticism/verification (data analysis), interpretation (data interpretation), and historiography (data writing) into a complete story of events.Ma'Nene for the Toraja people is not just a traditional ceremony, but has a deep meaning. Along with the times, various changes have occurred in this Ma'Nene tradition. Various shifts in meaning so that gradually this ceremony is just carrying out the tradition. However, in this way the community continues to maintain the Ma'Nene ceremony because there are still many Toraja tribes who believe that if it is not carried out, it will bring disaster to their lives, for example, failed harvests. The Ma'Nene culture is the ancestral culture of the people who adhere to the Aluk Todolo belief, but the majority of them are already Christian, but some of them still carry out this Ma'Nene culture.Suku Toraja masih mempertahankan eksistensi kebudayaan mereka di tengah kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, mereka masih melaksanakan tradisi secara turun temurun yang disebut dengan Ma’nene. Akan tetapi budaya tersebut, seiring perkembangan waktu mengalami berbagai perubahan yang tidak lagi orisinil bahkan sudah mulai ditinggalkan oleh sebagian masyarakat pendukungnya. Olehnya itu, tulisan ini berupaya mengungkap tentang latar belakang lahirnya budaya Ma’Nene, dan faktor yang mendasari terjadinya perubahan budaya tersebut pada Suku Toraja. Kajian ini menggunakan metode penelitian sejarah, meliputi heuristik (proses pengumpulan data) kritik/verifikasi (analisa data), interpretasi (penafsiran data), dan historiografi (penulisan data) menjadi suatu cerita peristiwa yang utuh. Ma’Nene bagi masyarakat Toraja bukan hanya sekedar upacara adat, namun memiliki makna yang mendalam. Seiring perkembangan zaman berbagai perubahan yang terjadi pada tradisi Ma’Nene ini. Berbagai pergeseran makna sehingga lambat laun upacara ini hanya sekedar menjalankan tradisi. Namun dengan begitu masyarakat tetap mempertahankan upacara Ma’Nene karena masih banyak dari Sukut Toraja  yang percaya bahwa jika tidak dilaksanakan akan membawa mala peTidaka bagi kehidupannya, misalnya saja hasil panen yang gagal. Budaya Ma’Nene merupakan budaya leluhur masyarakat yang menganut kepercayaan Aluk Todolo, namun mayoritas mereka sudah beragama kristen, tetapi masih ada diantara mereka yang tetap melaksanakan tradisi Ma’Nene ini.
Reaktualisasi Siri’ sebagai Pembelajaran Nilai Pada Kepemimpinan Masyarakat Bugis-Makassar Bustan, Bustan; Jumadi, Jumadi
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 3 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i3.10588

Abstract

Siri’ bagi masyarakat Bugis-Makassar dapat dimaknai sebagai harga diri, makanya suku Bugis-Makassar sangat menjunjung tinggi siri’. Meski demikian, eksistensi budaya siri’, semakin memudar karena pengaruh perubahan sosial budaya. Seringkali siri’ digandengkan dengan kata siri’ na pesse (Bahasa Bugis) atau siri’ na pacce (Bahasa Makassar), yang berarti penegakan rasa malu (harga diri) dan kokoh pendirian. Pesse atau pacce sebagai landasan solidaritas pada individu masyarakat Bugis-Makassar dengan menunjuk empat prinsip yakni; (1) getting/tantang artinya tegas, (2) lempu’ artinya lurus dalam hal ini jujur, (3) acca artinya pintar, (4) warani artinya berani. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan studi literatur yang relevan. Kemudian melakukan observasi di daerah Bone dan Makassar. Selanjutnya melakukan wawancara dengan tokoh masyarakat, akademisi dan budayawan dari Suku Bugis-Makassar. Tidak terbantahkan, jika siri’ semakin dibayang-bayangi prilaku yang berbanding terbalik yaitu prilaku mappaka siri’-siri’, (memalukan). Penegakan budaya siri’ dibutuhkan konsistensi dengan memegang teguh siri’. Namun prilaku mappaka siri’-siri’, juga seakan menjadi perbuatan yang dibiarkan dan dibenarkan.