Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Study of controlling the content heavy metals Pb, Cu, Cd, and Cr in land using hyperaccumulator plants Widyasari, Ni Luh; Rai, I Nyoman; Dharma, IGB Sila; Mahendra, Made Sudiana
Journal of Degraded and Mining Lands Management Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15243/jdmlm.2024.112.5159

Abstract

This study aimed to determine the types of hyperaccumulator plants that can absorb the heavy metal content of Pb, Cu, Cd, Cr based on the values of bioaccumulation factors (BAF) and translocation factors (TF). Results of the analysis showed that BAF value of the hanjuang plant (Cordyline fruicosa), for heavy metal Pb was 0.369; Cu 0.442; Cd 0.055; Cr 0.078 and TF value for heavy metal Pb 1.572; Cu 0.964; Cd 0.108; Cr 1.358. Croton plant (Codiaeum variegatum), had a BAF value of Pb 0.021; Cu 0.060; Cd 0.000; Cr 0.003 and TF value of Pb 3.638; Cu 0.000; Cd 0.000; Cr 1.399. Sansevieria plant (Sansevieria trifasciata) had a BAF value of Pb 0.090; Cu 0.036; Cd 0.015; Cr 0.002 and TF value of Pb 0.410; Cu 0.334; Cd 0.222; Cr 0.726. Sunflower plant (Helianthus annuus) had a BAF value of Pb 0.022; Cu 0.094; Cd 0.308; Cr 0.001 and TF value of Pb 1.930; Cu 0.399; Cd 1.383; Cr 1.361. Based on a comparison of BAF values, hanjuang plant was the best hyperaccumulator plant capable of accumulating Pb, Cu, Cr with a phytoextraction mechanism and accumulating Cd with a phytostabilization mechanism. At the same time, sunflower a hyperaccumulator plant with the best translocation factor where the roots of sunflower plants absorbed Pb, Cu, Cd, Cr, which were then translocated to the stems and leaves optimally through a phytoextraction mechanism.
PEMANFAATAN FLY ASH SEBAGAI PENGGANTI SEBAGIAN SEMEN PORTLAND UNTUK MENGURANGI EMISI KARBON Agus Karmadi, Ketut; Widyasari, Ni Luh
Jurnal Ecocentrism Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Ecocentrism
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Mahasaraswati Denpasar, Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Understanding concrete is the most building material in construction industry. Advantages concrete of compared to other materials are that it requires little maintenance fire and water resistant. This study aims to 1) Determine the utilization fly ash from Asphalt Mixing Plan (AMP) in PT. Harapan Jaya Beton for concrete mix; 2) Determine the efficiency percentage of optimal fly ash use in concrete mix. The composition of fly ash used is Portland cement 5%; 10%; 15%; 20%; 30% made from mixture fly ash and Portland I type cement. The results of reaserch showed that burning of AMP as cement component instead of concrete mix. The workability of fly ash at 28 days is 15% with compressive strength of 28.7 MPa and 15% with modulus of elasticity of 14790 MPa. At 56 days the best use is 15% of tensile strength with value of 30.1 MPa and 15% elastic modulus with value of 15325.9 MPa, and at 90 days the best use is 10% compression strength with value of 31.9 MPa and 15% modulus of elasticity with value of 18213.5 MPa. From the above results, it shows that Portland cement can be used by using to reduce carbon emission by 20-30%.
PENGGUNAAN KANTONG KAIN (TOTE BAGS) PENGGANTI KANTONG PLASTIK PADA REMAJA KOTA DENPASAR NI LUH WIDYASARI; NI MADE WEDAYANI; NI NYOMAN TRI GITAYANI
GANEC SWARA Vol 18, No 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Universitas Mahasaraswati K. Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35327/gara.v18i2.869

Abstract

The phenomenon of reducing the use of plastic bags is an important concern that still continues to be socialized nowadays since it is related to the issue of sustainable environmental pollution. In relation to that phenomenon, this study focused on the existence of tote bags as the substitute of plastic bags that are used by people while doing shopping. It aims to analyze the enthusiasm of teenagers in using the tote bag as the action to decrease the plastic usage in the environment. The data of this study were collected by fulfilling the questionnaire which involved 100 teenagers in the Denpasar City as respondents. The findings of this study indicate that the awareness, understanding, and influence of the social environment are important factors for Denpasar City teenagers in implementing plastic bag diet behavior. As many as 36% of teenagers in Denpasar City rarely receive plastic bags when shopping, and 53% of the respondents always provide tote bags as a substitute for plastic bags when do shopping. Based on the result of the likert scale, the data shows the effectiveness of the regulation in reducing the use of plastic bags in Denpasar City can be categorized as the effective ones
Inovasi Teknologi Pengendalian Hama Tikus Dan Teknis Budidaya Terpadu Dalam Mengoptimalkan Produksi Padi Yuniti, I Gusti Ayu Diah; Widyastuti, Luh Putu Yuni; Pratiwi, Luh Putu Kirana; Widyasari, Ni Luh
Jurnal Aplikasi dan Inovasi Iptek Vol 6 No 1 (2024): Jurnal Aplikasi dan Inovasi Iptek No. 6 Vol. 1 Oktober, 2024
Publisher : Denpasar Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52232/jasintek.v6i1.172

Abstract

Meningkatkan produktivitas tanaman padi merupakan kunci dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional. Salah satu hambatan utama dalam pertanian padi adalah serangan tikus (Rattus argentiventer), yang menjadi hama paling berbahaya dengan kerusakan yang signifikan. Kelompok mitra menghadapi kegagalan panen lebih dari 50% karena beberapa faktor, antara lain kurangnya pengendalian tikus secara menyeluruh, pemupukan tanah yang tidak optimal, kurangnya sanitasi lingkungan yang berkelanjutan, serta absennya manajemen risiko kegagalan panen. Program ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat melalui penerapan pengendalian hama terpadu dalam rangka mendukung pertanian ramah lingkungan untuk meningkatkan produksi padi di Subak Uma Jero, Desa Taman Bali, Kabupaten Bangli. Metode yang digunakan dalam program ini adalah transfer pengetahuan berbasis participatory action program. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan pengetahuan dan keterampilan mitra setelah pelatihan dan pendampingan dalam pengendalian hama tikus dengan rodentisida nabati, perbaikan kesuburan tanah dengan pupuk organik, penerapan sanitasi lingkungan, serta manajemen risiko kegagalan panen. Program pelatihan ini diharapkan dapat memperkuat kelembagaan mitra dengan prinsip green economy yang tidak hanya menekankan pada keberlanjutan, tetapi juga pertumbuhan inklusif, di mana pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat berjalan beriringan
Analisis Carbon Footprint pada Jasa Akomodasi Pariwisata di Kabupaten Badung, Bali Wiratama, I Gusti Ngurah Made; Widyasari, Ni Luh; Darmayasa, I Gede Oka
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 26 No. 1 (2025)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2025.3626

Abstract

Everyone who performs daily activities that require energy will produce carbon dioxide (CO2) emissions. The more activities are carried out, the more energy is used, and thus, the greater the carbon footprint produced. Badung Regency is the center of gravity tourism in Bali. The tourism sector in Badung Regency has been consistently growing over the years. The development of tourism in Badung Regency has environmental implications. The objectives of this research are to identify the carbon footprint values ​​in tourism accommodation services and to analyze the factors influencing the carbon footprint values ​​in tourism accommodation services. The study was conducted in Badung Regency, Bali Province, with a sample of 60 villas selected using the simple random sampling technique. The first research objective involves calculating the carbon footprint based on IPCC guidelines, while the second objective is analyzed through multiple linear regression analysis. The research findings indicate that the primary carbon footprint amount is 25.71 kg CO2-eq/month, or an average of 8.57 kg CO2-eq/month per sub-district. The secondary carbon footprint is 10,520.73 kg CO2-eq/month, or an average of 3,506.91 kg CO2-eq/month. The total carbon footprint of tourism accommodation services is 10,546.45 kg CO2-eq/month, with an average of 3,515.48 kg CO2-eq/month. The correlation coefficient between independent and dependent variables is 80.90%, and the contribution of the independent variables R2 (X1, X2, and X3) to the dependent variable (Y) is 65.50%. The factor that most influences the carbon footprint is the number of villa appliances that use LPG (X2), which is 41.30%. Abstrak Setiap orang yang melakukan aktivitas sehari-hari memerlukan energi dan akan menghasilkan emisi karbon dioksida (CO2). Semakin banyak aktivitas yang dilakukan, semakin banyak energi yang digunakan, dan dengan demikian semakin besar carbon footprint yang dihasilkan. Kabupaten Badung merupakan pusat tujuan pariwisata Bali. Perkembangan pariwisata di Kabupaten Badung terus mengalami perkembangan dari tahun ke tahun. Perkembangan pariwisata di Kabupaten Badung akan berdampak pada kondisi lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi nilai jejak karbon pada jasa akomodasi pariwisata dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi nilai jejak karbon pada jasa akomodasi pariwisata. Lokasi penelitian dilakukan di Kabupaten Badung, Provinsi Bali dengan sampel sebanyak 60 vila dan dipilih dengan teknik simple random sampling. Analisis tujuan penelitian yang pertama yaitu menghitung jejak karbon dengan berpedoman pada IPCC, sedangkan tujuan penelitian yang kedua dianalisis dengan analisis regresi linear berganda. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa jumlah carbon footprint primer adalah 25,71 kg CO2-eq/bulan atau dengan rata-rata setiap kecamatan adalah 8,57 kg CO2-eq/bulan. Carbon footprint sekunder adalah 10.520,73 kg CO2-eq/bulan atau dengan rata-rata 3.506,91 kg CO2-eq/bulan. Carbon footprint total jasa akomodasi pariwisata sebesar 10.546,45 kg CO2-eq/bulan atau dengan rata-rata 3.515,48 kg CO2-eq/bulan. Koefisien korelasi antara variabel bebas dan variabel terikat adalah sebesar 80,90% sedangkan kontribusi pengaruh variabel bebas R2 (X1, X2, dan X3) terhadap variabel terikat (Y) sebesar 65,50%. Faktor yang paling memengaruhi carbon footprint adalah jumlah peralatan vila yang menggunakan LPG (X2) yaitu sebesar 41,30%
KONDISI DAN LUAS SEBARAN EKOSISTEM PADANG LAMUN DI WILAYAH PESISIR PULAU BALI Sutrisna Wijaya Putra, A.A. Gde; Widyasari, Ni Luh; Vina Maharani, Made; Indah Dianti Putri, Putu
Jurnal Ecocentrism Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Ecocentrism
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Mahasaraswati Denpasar, Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/jeco.v5i1.10972

Abstract

Padang lamun adalah salah satu ekosistem di kawasan pesisir Pulau Bali yang memberikan dampak positif terhadap lingkungan. Namun, aktivitas antropogenik telah menyebabkan ekosistem lamun mengalami degradasi yang signifikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kondisi kesehatan bedeng lamun dan menentukan distribusi area bedeng lamun di kawasan pesisir Pulau Bali. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan data sekunder yang diperoleh dari Peraturan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali No. 3 Tahun 2020. Hasil analisis menunjukkan bahwa kondisi ekosistem lamun di kawasan pesisir Pulau Bali dibagi menjadi tiga kategori, yaitu kategori kaya/Sehat yang mencakup area seluas 47,11 Ha (3,66%); kategori kurang kaya/kurang sehat seluas 932,72 Ha (72,39%); dan kategori buruk seluas 308,68 Ha (23,96%). Kawasan pesisir Kota Denpasar memiliki distribusi lamun tertinggi, yaitu 400,95 Ha, dengan ditemukan 10 jenis vegetasi lamun, yaitu Holodulepinifolia, Thalassia hemprichii, Thalassodendron ciliatum, Enhalus acoroides, Zostrea sp., Holodule uninervis, Cymodocea rotundata, Syringodium isoetifolium, Halophilia avails, dan Cymodocea serrulata.
PERENCANAAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH DI PASAR SEMBUNG, KECAMATAN MENGWI, KABUPATEN BADUNG Sastra Wibawa, I Made; Widyasari, Ni Luh; Ayu Anjani Putri, Ni Komang; Mahendra Dewi, Ni Luh Putu
Jurnal Ecocentrism Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Ecocentrism
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Mahasaraswati Denpasar, Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/jeco.v5i1.11125

Abstract

Sampah pasar merupakan salah satu sumber limbah organik yang dapat didaur ulang menjadi kompos, biogas (metanisasi), maupun pakan ternak. Sampah pasar memiliki karakteristik yang berbeda dengan sampah rumah tangga. Komposisi sampah pasar didominasi oleh limbah organik, terutama berasal dari pedagang sayur dan buah. Dampak lain dari aktivitas para pedagang di pasar adalah meningkatnya jumlah sampah seiring berkembangnya pasar dan kegiatan di dalamnya. Pasar Sembung yang terletak di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, merupakan pusat jual beli masyarakat dari 15 desa berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Badung Nomor 3 Tahun 2017 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Rakyat, Pusat Perbelanjaan dan Toko Swalayan. Kondisi Pasar Sembung dengan beragam aktivitas penjual dan pembeli tentu menghasilkan limbah padat, termasuk limbah organik dan anorganik. Berdasarkan hasil observasi, Pasar Sembung belum memiliki sistem pengelolaan sampah yang efektif. Oleh karena itu, perlu direncanakan pengelolaan sampah di Pasar Sembung dengan pendekatan 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Dari hasil perencanaan yang telah dilakukan, dibutuhkan luas lahan sebesar 385 m² untuk mendukung sistem pengelolaan sampah tersebut.
Identifikasi Karakteristik Permukiman Kumuh di Kecamatan Pupuan Kabupaten Tabanan Wijaya Putra, A. A. Gde Sutrisna; Widyasari, Ni Luh
Jurnal Ilmiah Kurva Teknik Vol. 14 No. 1 (2025): Jurnal Ilmiah Kurva Teknik
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/jikt.v14i1.11430

Abstract

Tingginya pertumbuhan penduduk memberikan dampak terhadap peningkatan kebutuhan lahan untuk pembangunan kawasan permukiman dan pemenuhan kebutuhan akan sarana dan prasarana. Perkembangan pembangunan yang tidak diiringi dengan perkembangan ekonomi masyarakat memicu permasalahan permukiman berupa munculnya permukiman kumuh, sebagaimana yang terjadi di Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi kondisi kekumuhan yang terjadi di Kecamatan Pupuan sebagai kecamatan dengan titik lokasi kawasan permukiman kumuh terbanyak di Kabupaten Tabanan. Metode yang dilakukan untuk mengidentifikasi kondisi kekumuhan pada permukiman kumuh Kecamatan Pupuan adalah dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif yang seluruh data dan informasi didapatkan melalui kegiatan observasi ke lapangan. Permukiman kumuh di Kecamatan Pupuan masuk ke dalam kategori kumuh tingkat ringan dengan tingkat kepadatan bangunan yang rendah. Meskipun demikian, adanya ketersediaan jalan lingkungan, drainase, pengelolaan air limbah, penyediaan air minum, pengelolaan persampahan, hingga sarana dan prasarana proteksi kebakaran masih belum memenuhi standar dan persyaratan teknis.