Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Self-Efficacy Correlated with Basic Life Support Skills: Cardiopulmonary Resuscitation of Nursing Student Rycco Darmareja; Sani Widianti Kuswara; Winara Winara
Journal of Ners and Midwifery Vol 12 No 1 (2025)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v12i1.ART.p080-089

Abstract

Success in providing basic life support to cardiac arrest patients is influenced by self-efficacy related to readiness and confidence in giving first aid. Students as prospective health workers are required to be able to provide basic life support in emergencies. Limited training and direct experience in providing basic life support causes students' skills and self-efficacy to be less than optimal. This study aimed to identify the relationship between self-efficacy and the ability of cardiopulmonary resuscitation performed by students. A quantitative cross-sectional study was conducted on 107 diploma III nursing students selected using the proportional stratified random sampling technique. Primary data were collected using the General Self-Efficacy Scale questionnaire and basic cardiopulmonary resuscitation skills observation sheets. Hypothesis testing in the form of Spearman correlation was conducted to identify the general objectives of the study. The results of the study showed a mean value of self-efficacy of 36.06 and a mean value of basic life support skills of 89.00. The results of the Spearman test obtained a p-value of 0.0001 with a relationship strength of 0.813. It is concluded that there is a very strong positive relationship between self-efficacy and basic life support skills, which means that higher self-efficacy in performing cardiopulmonary resuscitation is directly proportional to the higher success of implementing basic life support. Researchers hope that nursing students can improve their self-efficacy related to cardiopulmonary resuscitation through regular knowledge refresher activities and basic life support skills training.
Penerapan senam anti-hipertensi terhadap perubahan tekanan darah sebagai strategi pencegahan hipertensi emergensi Rycco Darmareja; Mar'atul Isnainyah; Nabila Tsamara Zahra; Clarissa Carera
Riau Journal of Empowerment Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/raje.8.1.35-44

Abstract

One of the emergency complications that usually occurs is hypertension. Physical exercise, such as Anti-Hypertension Exercises, is one of the efforts needed to control blood pressure and reduce the risk of complications. This program aims to improve community understanding and skills in controlling blood pressure through activity training (anti-hypertension exercises) to prevent hypertension-related emergencies. A health education method that provided education, demonstration, and practice of Anti-Hypertension Exercises together was carried out with 48 people with hypertension in the Kebagusan area, Pasar Minggu, Jakarta. The results of the activity showed an increase in public knowledge and attitudes about preventing hypertension emergencies through Anti-Hypertension Exercises and changes in blood pressure, both systolic, diastolic, and MAP, before and after the activity. It is hoped that Anti-Hypertension Exercises activities can be carried out consistently so that blood pressure can be controlled and reduce the risk of complications of hypertension emergencies.
Penerapan Diaphragm Breathing Exercise Terhadap Status Pernapasan Pasien Dengan Penyakit Paru Obstruksi Kronis: Studi Kasus Rafli Rizqi Anugrah; Rycco Darmareja
Nursing News : Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol 9, No 3 (2025): EDISI DESEMBER 2025
Publisher : Tribhuwana Tunggadewi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/nn.v9i3.3221

Abstract

Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) merupakan gangguan sistem pernapasan sebagai penyebab kematian utama di dunia. Beberapa Evidance Based Nursing (EBN) menunjukkan metode Diaphragm Breathing Exercise (DBE) berpotensi meningkatkan gerakan abdomen selama pernapasan alami. Studi ini bertujuan untuk menilai penerapan implementasi DBE terhadap pola nafas tidak efektif selama pemberian asuhan keperawatan komprehensif pasien PPOK. Metode yang digunakan berupa studi kasus pada satu orang pasien yang dipilih berdasarkan kriteria yang ditetapkan (purposive sampling) dan diberikan asuhan keperawatan selama tiga hari berturut-turut pada salah satu ruang perawatan penyakit dalam di Rumah Sakit tipe A di Jakarta. Intervensi DBE dilakukan sehari 2 kali dan minimal tiga hari. Selama pengumpulan data peneliti menggunakan instrumen berupa lembar asuhan keperawatan, lembar observasi dan SOP DBE. Hasil studi menunjukkan terdapat perubahan status pernapasan berupa penurunan frekuensi napas dan skala sesak serta peningkatan saturasi oksigen setelah dilakukan tindakan DBE, sehingga dapat di simpulkan bahwa terdapat pengaruh yang positif dari penerapan DBE terhadap status pernapasan pasien PPOK di ruang rawat inap. Peneliti berharap agar perawat dapat menerapkan DBE sebagai salah satu tindakan terapeutik dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien PPOK untuk meningkatkan kualitas layanan pasien
Program: Manajemen Hipertensi Berbasis Komunitas untuk Meningkatkan Fungsi Kardiorespiratori dan Kesejahteraan Mental pada Lansia Fidyatul Nazhira; Risa Kusuma Anggraeni; Agustiyawan Agustiyawan; Rycco Darmareja; Enny Fauziah
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 7 (2026): Volume 9 Nomor 7 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i7.26064

Abstract

ABSTRAK Hipertensi pada lansia merupakan masalah kesehatan prioritas yang berkaitan erat dengan penurunan fungsi kardiorespiratori dan gangguan kesejahteraan mental. Rendahnya tingkat aktivitas fisik dan terbatasnya program olahraga berbasis komunitas masih menjadi hambatan utama dalam pengelolaan hipertensi secara mandiri. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan fungsi kardiorespiratori dan kesejahteraan mental pada lansia penderita hipertensi melalui program berbasis komunitas "JANTUNG" (Jaga Aktivitas Lansia Tunjang Unggulnya Kesehatan) di Posyandu Sawangan, Depok. Metode yang digunakan meliputi skrining kesehatan awal, penyuluhan interaktif tentang hipertensi dan fungsi kardiorespiratori, pelatihan latihan ekspansi dada dan teknik pernapasan, serta evaluasi pengetahuan menggunakan pre-test dan post-test dengan kuesioner dan penilaian VO2Max. Program ini melibatkan 40 peserta lansia dan 15 kader posyandu. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan dari 60% sebelum program menjadi 95% setelahnya. Peserta menjadi lebih mahir dalam melakukan latihan pernapasan dan ekspansi dada secara mandiri, serta menunjukkan peningkatan kepercayaan diri dalam mengelola hipertensi. Keterlibatan kader sangat berperan dalam keberlanjutan program. Kegiatan ini menunjukkan bahwa program berbasis komunitas yang mengintegrasikan latihan fisik terstruktur, pendidikan interaktif, dan teknologi digital efektif dalam meningkatkan fungsi kardiorespiratori dan kesejahteraan mental pada lansia penderita hipertensi. Kata Kunci: Kardiorespiratori, Hipertensi, Kesejahteraan Mental.  ABSTRACT Hypertension in the elderly is a priority health issue closely associated with decline in cardiorespiratory function and impaired mental well-being. Low levels of physical activity and limited community-based exercise programs remain major barriers to independent hypertension management. This community service program aimed to improve cardiorespiratory function and mental well-being among elderly individuals with hypertension through the “JANTUNG” (Jaga Aktivitas Lansia Tunjang Unggulnya Kesehatan) community-based program at Posyandu Sawangan, Depok. The method included initial health screening, interactive counseling on hypertension and cardiorespiratory function, chest expansion exercise and breathing technique training, and knowledge evaluation using pre- and post-tests with questionnaires and VO2Max assessment. The program involved 40 elderly participants and 15 posyandu cadres. Results showed significant knowledge improvement from 60% before the program to 95% afterward. Participants became more proficient in independently performing breathing and chest expansion exercises, and demonstrated increased confidence in managing hypertension. Cadre involvement was instrumental in sustaining the program. This activity demonstrates that a community-based program integrating structured physical exercise, interactive education, and digital technology is effective in improving cardiorespiratory function and mental well-being in elderly individuals with hypertension. Keywords: Cardiorespiratory, Hypertension, Mental Well-Being.
Edukasi Kesehatan Toxic Lifestyle Pada Murid SMK Kesehatan Pelita Ilmu Diah Tika Anggraeni; Rycco Darmareja; Saidah Alawiyah; Anida Safitri; Devina Dwi Aprillia Sari; Efan Kaesar; Vania Putri Felisia; Chintia Febriyanti; Lusiana Sandriani Dhua; Nur Dewi Ros Septianingsih; Siti Aisyah Azzahra
Bijaksana: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2025): Bijaksana: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bijaksana.v3i2.11441

Abstract

Pergeseran drastis pola hidup masyarakat yang tidak sehat atau toxic lifestyle di era modern, khususnya pada remaja, berkontribusi terhadap meningkatnya kejadian penyakit Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman remaja mengenai gejala serta perilaku berisiko yang berkaitan dengan toxic lifestyle dan penyakit GERD. Kegiatan dilakukan melalui edukasi kesehatan kepada siswa dan siswi Sekolah Menengah Kejuruan Kesehatan Pelita Ilmu kelas X hingga XII dengan jumlah peserta 59 orang. Metode dari kegiatan ini kami menggunakan metode ceramah berupa pemaparan materi melalui PPT yang telah disiapkan sebelumnya lalu untuk mengetahui pemahaman para siswa dan siswi sebelum dan sesudah materi diberikan, evaluasi dilakukan menggunakan kuesioner yang diberikan pada kegiatan. Pelaksanaan edukasi pada tanggal 29 April 2025 berlangsung tertib dan lancar. Hasil menunjukkan bahwa peserta mampu mendeskripsikan hubungan antara gaya hidup dan gejala penyakit GERD serta memahami dampak toxic lifestyle terhadap kesehatan. Selain itu, terjadi peningkatan pengetahuan dari 74,58% menjadi 95,25% setelah edukasi diberikan. Kegiatan ini menyimpulkan bahwa edukasi kesehatan berbasis pengalaman efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja sehingga mereka tidak hanya dapat menjaga kesehatan diri sendiri, tetapi juga berpotensi menjadi agen perubahan di masyarakat.
Abdominal Massage as Nursing Implementation of Feeding Intolerance of Preterm Infants in Neonatal Intensive Care Unit: A Systematic Review Rycco Darmareja; Susiana Jansen
Care : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol. 13 No. 1 (2025): EDITION MARCH 2025
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jc.v13i1.5213

Abstract

The immaturity of the gastrointestinal tract of preterm infants can increase the prevalence of feeding intolerance that must be addressed by nurses. Massage is considered effective and is often used in neonatal intensive care. This study aims to identify the effectiveness of complementary therapy in the form of abdominal massage as a nursing implementation strategy for premature infants with feeding intolerance in the NICU. The study method refers to the PRISMA 2020 checklist with the following keywords: "Feeding Intolerance" AND "Newborn" OR "Premature" AND "Abdominal massage" AND "Neonatal Intensive Care Unit" AND "Nursing". Article searches were conducted on Google Scholar, Springer Link, Scopus, and PubMed databases by applying several criteria including full-text articles relevant to the study objectives, written in Indonesian or English, published in the last 3 years, and using experimental study designs, then continued critical appraisal using the Joanna Briggs Institute (JBI) instrument. Based on the search results, 74 articles were found and after screening only 5 articles were used. The results of the study showed that abdominal massage was considered to have a positive impact on reducing the residual volume of the stomach, vomiting behavior, and abdominal distension. Based on this, it is recommended that abdominal massage can be performed at least twice per day to control feeding intolerance in preterm infants in the neonatal intensive care unit.
HEALTHY WORKPLACE MOVEMENT: SKRINING DAN EDUKASI KELUHAN MUSKULOSKELETAL PADA KARYAWAN Andy Sirada; Kiki Rezki Faradillah; Susianna Jansen; Lina Berliana Togatorop; Dwi Suratmini; Rycco Darmareja
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 4 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i4.39710

Abstract

Abstrak: Gangguan muskuloskeletal merupakan salah satu masalah kesehatan kerja yang sering dialami pekerja akibat posisi kerja statis, aktivitas berulang, dan penerapan ergonomi yang kurang optimal. Kondisi ini dapat menurunkan kenyamanan, kapasitas kerja, dan produktivitas apabila tidak dilakukan upaya pencegahan sejak dini. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan karyawan mengenai kesehatan muskuloskeletal dan ergonomi kerja serta mengidentifikasi keluhan muskuloskeletal melalui skrining menggunakan Nordic Body Map (NBM). Kegiatan dilaksanakan pada 32 karyawan PT Cakra Manggilingan Jaya melalui edukasi kesehatan kerja, skrining keluhan muskuloskeletal, dan praktik workplace stretching. Evaluasi pengetahuan dilakukan menggunakan pre-test dan post-test yang terdiri atas 10 pertanyaan terkait kesehatan muskuloskeletal dan ergonomi kerja. Indikator keberhasilan kegiatan ditetapkan berdasarkan peningkatan skor pengetahuan peserta setelah intervensi edukasi. Hasil evaluasi menunjukkan rerata skor pengetahuan meningkat dari 58,4 pada pre-test menjadi 81,2 pada post-test dengan selisih peningkatan sebesar 22,8 poin. Hasil skrining NBM menunjukkan keluhan muskuloskeletal paling banyak ditemukan pada area pinggang/punggung bawah (75%), leher (62%), dan bahu (56%). Seluruh peserta mengikuti rangkaian kegiatan hingga selesai dan berpartisipasi dalam praktik workplace stretching yang diberikan. Kegiatan Healthy Workplace Movement efektif meningkatkan pengetahuan karyawan mengenai kesehatan muskuloskeletal dan ergonomi kerja serta dapat menjadi salah satu strategi promotif dan preventif untuk mengurangi risiko gangguan muskuloskeletal di lingkungan kerja.Abstract: Musculoskeletal disorders are among the most common occupational health problems experienced by workers due to prolonged static postures, repetitive activities, and inadequate ergonomic practices. These conditions may reduce comfort, work capacity, and productivity if preventive measures are not implemented at an early stage. This community service program aimed to improve employees’ knowledge of musculoskeletal health and workplace ergonomics and to identify musculoskeletal complaints through screening using the Nordic Body Map (NBM). The program involved 32 employees of PT Cakra Manggilingan Jaya and consisted of occupational health education, musculoskeletal complaint screening, and workplace stretching practice. Knowledge evaluation was conducted using a pre-test and post-test comprising 10 questions related to musculoskeletal health and workplace ergonomics. The success indicator of the program was defined as an improvement in participants’ knowledge scores following the educational intervention. The results showed that the mean knowledge score increased from 58.4 in the pre-test to 81.2 in the post-test, representing an increase of 22.8 points. The NBM screening revealed that musculoskeletal complaints were most frequently reported in the lower back (75%), neck (62%), and shoulder (56%) regions. All participants completed the entire program and actively participated in the workplace stretching session. The Healthy Workplace Movement program was effective in improving employees’ knowledge of musculoskeletal health and workplace ergonomics and may serve as a promotive and preventive strategy to reduce the risk of musculoskeletal disorders in the workplace.
Co-Authors Aghna Alfafa Mamnunia Agustiyawan Agustiyawan Alettha, Keyza Zie Alifa, Salsa Bila Almira, Dinda Marsha Anandita, Laura Andy Sirada Anggi Mulyana Rahayu Anggraeni, Diah Tika Anida Safitri Ayu Prawesti Priambodo Cecep Eli Kosasih Chintia Febriyanti Clarissa Carera Devina Dwi Aprillia Sari Diah Tika Anggraeni Dwi Suratmini Efan Kaesar Endah Yuliany Rahmawati Enny Fauziah Fadhira Citra Surya Anjani Febi Puspitasari Galuh Nurulita Fitriani Galuh Nurulita Fitriani Gamya Tri Utami Ghyffara Agathy Putri Hasan, Melani Meta Hermawati, Risma Indira Cahyani Iqbal Taufik Ismail Iqbal Taufik Ismail Iqbal Taufik Ismail Isnainyah, Mar'atul Izza, Nurul Jansen, Susiana Kiki Rezki Faradillah Lestari, Arlynqa Siva Lina Berliana Togatorop Lusiana Sandriani Dhua Mar'atul Isnainyah Maulida, Mutia Mauliya, Nadiyyah Maulyda Azzahra Mawaddah, Fauziah Mona Oktarina Nabila , Putri Rahma Nabila Tsamara Zahra Nabilla Asmarany Nabilla Asmarany Nadiya Fitriani Tanjung Nazhira, Fidyatul Ningtiyas, Astuti Nur Dewi Ros Septianingsih Pamungkas, Wahyu Putri Pangestu, Siti Yaasinta Dwi Priwardani, Khaerunisa Puspitasari, Nabiila Putri, Annisa Rahma Cahya Rachmat , Syafa Salsabila Meisya Rafli Rizqi Anugrah Reihana Zakiya Rikani Rikani Risa Kusuma Anggraeni Saidah Alawiyah Sani Widianti Kuswara Sani Widianti Kuswara Siti Aisyah Azzahra Solagracia Sukatno Putri Susiana Jansen Susianna Jansen Triana Dewi Safariah Vania Putri Felisia Widianti Kuswara, Sani Winanda Diany Winara Winara Yefta Primasari Zahra, Nabila Tsamara