Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Analisis Kontrastif Kosakata Bahasa Jawa Serang (Bebasan) dan Bahasa Betawi dalam Film Si Doel Versi Youtube Season 1 dan 2 Ananda Cahya Camila; Siti Nurjanah; Odien Rosidin
Jurnal Riset Rumpun Ilmu Bahasa Vol. 4 No. 2 (2025): Agustus : Jurnal Riset Rumpun Ilmu Bahasa
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurribah.v4i2.5364

Abstract

This study aims to recognize and compare the vocabulary used in Serang Javanese and Betawi language in the YouTube Version of Si Doel Movie in Season 1 and 2. The approach used is descriptive qualitative by using contrastive analysis technique. Data were obtained by observing the dialog in the movie, as well as conducting interviews with native speakers of both languages. The findings of this study show that there are vocabularies that have the same form and meaning (10 vocabularies), similar forms but the same meaning (9 vocabularies), and different forms but the same meaning (45 vocabularies). This difference shows the characteristics of each regional language, even though they are geographically located in close proximity. This study emphasizes the importance of maintaining local languages and understanding vocabulary variation in inter-dialect communication.
Analisis Kontrastif Ekspresi Makian Bahasa Jawa Dialek Solo dan Malang dalam Peristiwa Tutur Mahasiswa Ghifara, Zilfa; Siti Nurbaiti; Odien Rosidin
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 7 No. 2 (2025): Oktober
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v7i2.7103

Abstract

Bahasa Jawa memiliki banyak dialek yang berkembang sesuai dengan orang-orang yang berbicaranya, seperti dialek Solo dan Malang. Meskipun kedua dialek berasal dari keluarga Bahasa Jawa yang sama, namun para mahasiswa menggunakan makian dengan cara yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makian dalam dialek Solo dan Malang Bahasa Jawa dalam konteks tutur peristiwa mahasiswa. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara informal dengan mahasiswa aktif yang sedang menjalankan studi di kampus daerah Solo dan Malang. Bentuk dan fungsi makian dalam kedua dialek tersebut dijelaskan melalui pendekatan kualitatif. Menurut hasil penelitian, makian dalam dialek Solo cenderung lebih simbolis dan tidak langsung kasar, sedangkan makian dalam dialek Malang lebih sederhana dan jelas. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi signifikan untuk penelitian linguistik, khususnya dalam bidang analisis kontrastif, dan memperkaya pemahaman kita tentang peristiwa penggunaan bahasa daerah dalam komunikasi generasi muda terutama dalam lingkup mahasiswa. Hal Ini karena analisis kontrastif membantu mengidentifikasi perbedaan leksikal dan struktural antara kedua dialek.
Linguistik Kontrastif Fonem Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia: Kajian Perbedaan Fonologis dalam “Boboiboy the Movie” Siti Maulida; Risma Fitriyani; Odien Rosidin
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA Vol. 15 No. 2 (2025): JURNAL PENDIDIKAN BAHASA
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpb.v15i2.2824

Abstract

Kajian ini mengeksplorasi variasi fonologis antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu Malaysia melalui studi linguistik perbandingan dengan memanfaatkan dialog dari "BoBoiBoy the Movie" sebagai bahan analisis. Pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis kontras diterapkan untuk mengenali perbedaan dalam fonem vokal, konsonan, dan diftong. Temuan dari penelitian ini mengungkap tujuh variasi fonem vokal, lima variasi fonem konsonan, satu variasi fonem diftong, dan dua variasi gabungan fonem vokal-konsonan. Pola sistematis yang teridentifikasi mencakup: (1) dominasi netralisasi schwa (/ə/ menjadi /a/), (2) penurunan vokal tinggi (/i/ menjadi /ɛ/, /u/ menjadi /o/), dan (3) penyederhanaan gugus konsonan (/kh/ menjadi /k/, /f/ menjadi /p/). Kajian fonologi generatif menegaskan bahwa variasi tersebut terletak pada aturan transformasi yang terstruktur, bukan variasi yang bersifat acak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bahasa Indonesia cenderung mengadopsi bentuk fonologis yang lebih akustik stabil dan efisien dalam pengucapan, sementara Bahasa Melayu Malaysia lebih memilih bentuk yang lebih rumit. Penelitian ini memberikan sumbangan teoritis dalam studi linguistik perbandingan serta relevansi praktis bagi pengajaran bahasa dan adaptasi media audiovisual antara bahasa-bahasa seakar.
Analisis Kontrastif Prefiks Bahasa Sunda dan Bahasa Indonesia dalam Peristiwa Tutur di Kampus Afina Aulia; Fadhilah Nur Salsabila; Odien Rosidin
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA Vol. 15 No. 2 (2025): JURNAL PENDIDIKAN BAHASA
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpb.v15i2.2841

Abstract

Penelitian ini difokuskan pada prefiks bahasa Sunda dan bahasa Indonesia dalam peristiwa di kampus, prefiks adalah imbuhan yang diletakkan di awal kata dasar membentuk kata baru dengan makna yang berbeda, sedangkan prefiks dalam bahasa Sunda adalah digunakan untuk membentuk kata kerja, kata benda dan kata sifat. Penelitian ini untuk mencari persamaan dan perbedaan prefiks yaitu, ng-, di-, n--, ny. Identifikasi perbedaan dan persamaan sistem prefiksasi dapat membantu dalam memprediksi potensi kesulitan dan kemudahan dalam proses berbahasa. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, dengan teknik dan pengumpulan data yang digunakan melalui simakan kemudian mencatat temuan prefiks dalam observasi tersebut, data berupa temuan-temuan prefiks diperoleh dari hasil observasi. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai sistem prefiksasi dalam bahasa Sunda dan bahasa Indonesia, menyoroti potensi linguistik dalam pembelajaran bahasa kedua serta berkontribusi dalam studi tipologi bahasa. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam studi tipologi bahasa.
IMPLIKATUR PERCAKAPAN PADA PROSES PEMBELAJARAN SISWA BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SKH NEGERI 01 KOTA SERANG RAMADHANIAR RIZKY GAUDISWARI; Odien Rosidin; Sundawati Tisnasari
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6 No 1 (2026)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v6i1.302

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk (a) mendeskripsikan dan mengklasifikasikan jenis implikatur percakapan dalam interaksi antara guru dan siswa tunagrahita dalam pembelajaran di SKH Negeri 01 Kota Serang dan (b) mendeskripsikan dan mengklasifikasikan fungsi implikatur percakapan dalam interaksi antara guru dan siswa tunagrahita dalam pembelajaran di SKH Negeri 01 Kota Serang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak dengan teknik sadap sebagai teknik dasar, teknik Simak Bebas Libat Cakap sebagai teknik lanjutan, dan teknik catat. Selanjutnya, sumber data dalam penelitian ini adalah rekaman interaksi pembelajaran dari beberapa kelas di SKH Negeri 01 Kota Serang yang kemudian ditranskripsikan ke dalam bentuk tulisan. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode padan pragmatis dengan teknik dasar Pilah Unsur Penentu (PUP) dan teknik lanjutan berupa analisis kontekstual. Penelitian ini memperoleh temuan berupa jenis implikatur percakapan sebanyak 37 data yang diperinci sebagai berikut: (1) implikatur percakapan umum sebanyak 7 data; (2) implikatur percakapan khusus sebanyak 27 data; dan (3) implikatur percakapan berskala sebanyak 3 data. Adapun temuan fungsi implikatur percakapan dalam interaksi guru-siswa tunagrahita di SKH Negeri 01 Kota Serang adalah sebagai berikut: (1) fungsi asertif sebanyak 11 data; (2) fungsi direktif sebanyak 23 data; (3) fungsi ekspresif sebanyak 2 data; dan (4) fungsi deklaratif sebanyak 1 data. KATA KUNCI: pragmatik; implikatur percakapan; tunagrahita >  IMPLICATIONS OF CONVERSATION IN THE LEARNING PROCESS OF STUDENTS WITH SPECIAL NEEDS AT SKH NEGERI 01 KOTA SERANG   ABSTRACT: This study aims to (a) describe and classify the types of conversational implicatures in interactions between teachers and students with intellectual disabilities in learning at SKH Negeri 01 Kota Serang and (b) describe and classify the functions of conversational implicatures in interactions between teachers and students with intellectual disabilities in learning at SKH Negeri 01 Kota Serang. The research method used is descriptive qualitative. The data collection techniques used are the listening method with eavesdropping as the basic technique, the Free Listening and Involved Conversation technique as the advanced technique, and the note-taking technique. Furthermore, the data sources in this study are recordings of learning interactions from several classes at SKH Negeri 01 Kota Serang, which were then transcribed into written form. The data analysis technique in this study used the pragmatic matching method with the basic technique of Element Selection (PUP) and an advanced technique of contextual analysis. This study found 37 types of conversational implicatures, which are detailed as follows: (1) 7 general conversational implicatures; (2) 27 specific conversational implicatures; and (3) 3 scaled conversational implicatures. The findings on the functions of conversational implicatures in teacher-student interactions with mentally disabled students at SKH Negeri 01 Kota Serang are as follows: (1) 11 data points for assertive functions; (2) 23 data points for directive functions; (3) 2 data points for expressive functions; and (4) 1 data point for declarative functions. KEYWORDS: pragmatics; conversational implicature; mentally disabled  
Linguistic Relationship and Dialect Variation of Banten Javanese and Sundanese in Indonesia Dase Erwin Juansah; Akhmad Baihaqi; Odien Rosidin; Erwin Salpa Riansi
Studies in English Language and Education Vol 12, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/siele.v12i3.45734

Abstract

Banten people in Indonesia speak two different local languages: Banten Javanese and Banten Sundanese. In reality, it demonstrates that both languages share similarities in phonological and morphological patterns. The purpose of this study is to investigate the language kinship and dialect variations that occur within these local languages. This research employed a case study that involved eight native speakers of Banten Javanese from Serang, as well as eight native speakers of Banten Sundanese from Pandeglang and Lebak. In this study, non-participant observation was used to investigate the dialect variation used among the respondents. Then, semi-structured interviews and documentation were used to analyze the language kinship and separation time between Banten Javanese and Sundanese. The data were analyzed using Miles et al.s model in combination with Swadeshs lexicostatistical technique. The results revealed that (1) 51 pairs of identical words share both morphemic and phonemic similarities; (2) glottochronological estimates suggest that the separation of these local languages from the proto-language occurred between 1171 and 311 BC; and (3) regional dialects are the primary influence on the dialectal variation of these languages. Since these local languages are widely spoken in Banten, the findings reveal important linguistic relationships among local languages, emphasize the role of regional factors, and determine the value of glottochronology in tracing language development and variation
Afiksasi Verba Bahasa Sunda dan Indonesia pada Cerpen “Stiker Hemat Energi” Salma Fadilla; Odien Rosidin
JURNALISTRENDI : JURNAL LINGUISTIK, SASTRA, DAN PENDIDIKAN Vol 9 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Nahdlatul Wathan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51673/jurnalistrendi.v9i1.1560

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengantisipasi ganguan yang ditemui pembelajar dalam mempelajari B-2. Data dalam penelitian berasal dari cerpen “Stiker Hemat Energi” yang merupakan cerpen dari buku Basa Sunda Urang karya Tatang Sumarsono (2017). Teknik penelitian ini menggunakan teknik analisis isi untuk mengidentifikasi bentuk afiksasi verba bahasa Sunda dan Indonesia dalam cerpen “Stiker Hemat Energi” dan menggunakan teknik studi dokumentasi yang berkaitan dengan teori analisis kontrastif dan morfologis. Hasil penelitian menunjukan adanya kesamaan dan perbedaan bentuk afiksasi verba dalam bahasa Sunda dan Indonesia. kesamaan bentuk afiksasi verba dalam bahasa Sunda dan Indonesia, yakni prefiks {di-} dalam bahasa Sunda dengan prefiks {di-} dalam bahasa Indonesia; konfiks {di-…-keun} dalam bahasa Sunda dengan konfiks {di-…-kan} dalam bahasa Indonesia; konfiks {nga-…-keun}, {ny-…-keun}, dan {n-…-keun} dalam bahasa sunda dengan konfiks {me(N)-…-kan} dalam bahasa Indonesia; dan konfiks {nga-…-na} pada bahasa sunda dengan konfiks {me(N)-…-nya} pada bahasa Indonesia. Dalam penelitian ini juga ditemukan kesamaan dan perbedaan makna antara afiksasi verba bahasa Sunda dan Indonesia. kesamaan makna afiks verba bahasa Sunda dan Indonesia, yakni sufiks {-keun + -eun} dalam bahasa Sunda dengan konfiks {di-…-kan} dalam bahasa Indonesia dan konfiks {di-…-keun} pada bahasa Sunda dengan konfiks {di-…-kan} pada bahasa Indonesia, kedua afiks ini sama-sama membentuk makna verba pasif yang bermakna ‘melakukan perbuatan yang bersifat pasif’. Dalam penelitian ini juga dapat diketahui bahwa pada bahasa Sunda dan Indonesia terdapat kesamaan atau persamaan dalam kelas bentuk dasar, yakni penggunaan kata benda, kerja, dan sifat.
ANALISIS KONTRASTIF KALIMAT SEDERHANA BAHASA SUNDA DAN BAHASA INDONESIA UNTUK PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR Nurmalasari Nurmalasari; Odien Rosidin; Sundawati Tisnasari
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 12 No 7.C (2026): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian analisis kontrastif bertujuan untuk menganalisis kebahasaan dengan melakukan perbandingan struktur kalimat sederhana bahasa Sunda dan bahasa Indonesia serta implikasinya terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data penelitian berupa kalimat sederhana yang digunakan oleh siswa kelas V SDN Panimbang Jaya 4 dan dianalisis menggunakan langkah analisis kontrastif, yaitu mendeskripsikan, menyeleksi, mengontraskan, dan memprediksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua bahasa memiliki kesamaan pola dasar kalimat sederhana, yaitu Subjek–Predikat (S–P), Subjek–Predikat–Objek (S–P–O), dan Subjek–Predikat–Keterangan (S–P–K). Perbedaan struktur tampak pada kehadiran unsur subjek, penggunaan afiksasi verba, pemilihan preposisi, serta penggunaan partikel penegas wé dalam bahasa Sunda. Perbedaan tersebut berpotensi menimbulkan interferensi bahasa daerah dalam penggunaan bahasa Indonesia oleh siswa. Oleh karena itu, hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai dasar pengembangan pembelajaran Bahasa Indonesia yang mempertimbangkan latar belakang bahasa ibu siswa.
BENTUK DAN MAKNA UNGKAPAN TABU DALAM TUTURAN CONTENT CREATOR KEANU AGL DAN KONTEN YOUTUBE Sandria Difna Nur Annisa; Odien Rosidin; Sundawati Tisnasari
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 12 No 7.D (2026): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk dan mendeskripsikan makna ungkapan tabu dalam tuturan content creator Keanu AGL pada konten YouTube. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik simak, sadap, simak bebas libat cakap, dan catat. Data berjumlah 15 tuturan yang mengandung ungkapan tabu dianalisis menggunakan teori referensi kata tabu Timothy Jay (1996) dan teori makna Geoffrey Leech (1981). Hasil penelitian menunjukkan lima kategori referensi tabu: kecabulan (5 data), penyebutan nama dan hinaan (5 data), penghujatan (2 data), bahasa vulgar (2 data), dan pelecehan seksual (1 data). Dari aspek makna, ditemukan makna konotatif (13 data), makna afektif (13 data), makna sosial (12 data), dan makna reflektif (2 data). Dominasi makna konotatif dan afektif menunjukkan bahwa ungkapan tabu digunakan untuk menyampaikan emosi negatif dan membangun gaya komunikasi provokatif dalam ruang digital.
PENGEMBANGAN MEDIA DIORAMA BERBASIS MULTILITERASI UNTUK MELATIH KETERAMPILAN BERBAHASA PRODUKTIF Rafelliya S.P, Adhinda; Rina Yuliana; Odien Rosidin; Sundawati Tisnasari
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 9 No. 2 (2024): Volume 09 No. 2 Juni 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v9i2.15343

Abstract

This research aims to develop multiliteracy-based diorama learning media for Indonesian language subjects for class V elementary. To determine the feasibility of the learning media being developed, and to determine user responses to multiliteration. diorama based media. The research method used is Research and Development (R&D) which refers to the Borg and Gall development model developed by Sugiyono through 6 stages, namely: (1) Potential Problems, (2) Data Collection, (3) Product Design, (4) Validation Product, (5) Product Revision, (6) Product Trial (limited scale). Expert validation was carried out by media experts, material experts and language experts, with the research subjects being class V of SDN Banjarsari 4, totaling 29 students. Data collection was obtained by interviews, observation, questionnaires and documentation. The results of the research are (1) the feasibility level of learning media in terms of design obtained a score of 85.71% which can be categorized as "very feasible" (2) the feasibility level of learning media in terms of material obtained a score of 91.50% which can be categorized as "very feasible " (3) the level of suitability of learning media in terms of language obtained a score of 83.33% which can be categorized as "very suitable" (4) the average score of student responses obtained a percentage of 94% which can be categorized as "very good" so it can be concluded that multiliteracy-based diorama media is suitable for use in interview material in Chapter 4 Learning to be Entrepreneurial and can practice productive language skills, namely speaking and writing