Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

QUALITATIVE ANALYSIS OF MERCURY AND HYDROQUINONE CONTENT IN WHITENING CREAMS CIRCULATING IN BALIKPAPAN Eka Kumala Retno; Nishia Waya Meray; Wury Damayantie; Warrantia Citta Citti Putri; Murtiyana Sari
INDONESIA NATURAL RESEARCH PHARMACEUTICAL JOURNAL Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/inrpj.v7i2.6489

Abstract

Whitening cream is a preparation or mixture of ingredients used on the outside of the body to brighten or change the color of the skin, resulting in clean and white skin. Many people, particularly women, use cosmetics to improve the appearance of their skin, one of which is whitening cream. Many producers saw this opportunity and added mercury and hydroquinone to increase the number of consumers because the product will be cheaper and provide faster results to their skin with these ingredients. This study aims to conduct a qualitative analysis of whitening creams circulating in Balikpapan. To achieve this goal, four samples A, B, C, and D were analyzed using the KI color test method, the flame test, and the color reagent method to determine the presence of mercury and hydroquinone.The findings of the qualitative test of the mercury and hydroquinone content in the whitening cream circulating in the city of Balikpapan revealed that three samples, namely samples B, C, and D, were known to contain mercury and two samples (samples A and D) were known to contain hydroquinone.
Aktivitas Antibakteri Air Perasan Jeruk Purut (Citrus hystrix DC.) terhadap Bakteri Salmonella thypi secara In Vitro: Antibacterial Activity of Kaffir lime juice (Citrus hystrix DC.) Against Salmonella thypi In Vitro Indah Woro Utami; Eka Kumala Retno; Warrantia Citta Citti Putri
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2023): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v5i3.1738

Abstract

Kaffir lime (Citrus hystrix DC.) is a plant that is widely used to treat influenza, scaly and peeling skin, hair care, and so on. Kaffir lime contains various beneficial chemical compounds, such as citric acid, amino acids and essential oil. The flavonoid content in kaffir lime essential oil is one of the compounds that is strongly suspected of acting as a good antibacterial compound. Salmonella thypi is a gram-negative bacterium that is the causative agent of diarrhea and typhoid fever. This bacterium has the most serious form of infection compared to other genus because it can cause complications of intestinal perforation and bleeding. The purpose of this study was to test the antibacterial activity of kaffir lime juice on Salmonella thypi bacteria. This study was conducted with Kirby-Bauer diffusion method. Antibacterial activity is seen from the clear zone that inhibits the growth of Salmonella thypi bacteria in Petri dishes. There were 4 concentrations of kaffir lime juice tested, namely 25%, 50%, 75%, and 100% as well as amoxicillin antibiotic as positive control and sterile distilled water as negative control. The test was conducted with three repetitions. The results showed that the higher the concentration of kaffir lime juice, the greater the inhibition zone formed. Kaffir lime juice already has inhibition against Salmonella typhi growth in the first 5 minutes. Keywords: Kaffir lime (Citrus hystrix DC.), Salmonella thypi, Antibacterial Abstrak Jeruk purut (Citrus hystrix DC.) merupakan tanaman yang banyak digunakan untuk mengobati influenza, kulit yang bersisik dan mengelupas, perawatan rambut, dan sebagainya. Jeruk purut mengandung berbagai senyawa kimia yang bemanfaat, seperti asam sitrat, asam amino dan minyak atsiri. Kandungan flavonoid dalam minyak atsiri jeruk purut menjadi salah satu senyawa yang diduga kuat berperan sebagai senyawa antibakteri yang baik. Salmonella thypi adalah bakteri gram negatif yang merupakan agen penyebab diare dan demam tifoid. Bakteri ini memiliki bentuk infeksi yang paling serius dibandingkan genus lainnya karena dapat menyebabkan komplikasi perforasi usus dan pendarahan. Tujuan dari penelitian ini untuk menguji aktivitas antibakteri air perasan jeruk purut pada bakteri Salmonella thypi. Penelitian ini dilakukan dengan metode difusi Kirby-Bauer. Aktifitas antibakteri terlihat dari adanya zona bening yang menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella thypi di cawan petri. Terdapat 4 konsentrasi air perasan jeruk purut yang diuji, yaitu 25%, 50%, 75%, dan 100% serta antibiotik amoxicillin sebagai kontrol positif dan aquadest steril sebagai kontrol negatif. Pengujian dilakukan dengan tiga kali pengulangan. Hasilnya didapatkan bahwa semakin tinggi konsentrasi perasan air jeruk purut maka semakin besar zona hambat yang terbentuk. Air perasan buah jeruk purut sudah memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan Salmonella typhi pada lama waktu 5 menit pertama. Kata Kunci: Jeruk purut (Citrus hystrix DC.), Salmonella thypi, Antibakteri
HUBUNGAN TINGKAT KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 BERDASARKAN NILAI HBA1C DI PUSKESMAS DAMAI Dewi, Nurul Aulia; Wahyuni, Fitri Ayu; Retno, Eka Kumala; Rahman, Rifazul Aulia
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i3.47922

Abstract

Diabetes melitus tipe 2 adalah salah satu penyakit kronis dengan angka kejaidan yang tinggi dan membutuhkan pengobatan serta pengelolaan dalam jangka panjang. Kepatuhan pasien dalam minum obat sangat penting untuk mencapai kontrol glikemik yang optimal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara tingkat kepatuhan minum obat dengan nilai HbA1c pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Damai. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan desain cross sectional. Penentuan sampel menggunakan all sampling sebanyak 30 pasien. Tingkat kepatuhan diukur menggunakan kartu pengobatan MODEM, sedangkan nilai HbA1c diperoleh dari hasil laboratorium. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kepatuhan minum obat dengan nilai HbA1c (p<0.001) dengan kekuatan korelasi yang kuat (r=0.748). Terdapat hubungan yang kuat antara tingkat kepatuhan minum obat dengan nilai HbA1c pada pasien diabetes melitus tipe 2, semakin tinggi tingkat kepatuhan maka nilai HbA1c terkontrol.
Analisis Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etil Asetat Tanaman Sirih Cina (Peperomia pellucida L.) pada Bakteri Shigella Dysenterie A. Nurul Fitriandini Ekaputri; Indah Woro Utami; Eka Kumala Retno
An-Najat Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus : An-Najat : Jurnal Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/an-najat.v3i4.3356

Abstract

Dysentery is a gastrointestinal infection characterized by bloody or mucoid diarrhea, abdominal pain, and tenesmus. One of its main causative agents is Shigella dysenteriae , a Gram-negative bacterium capable of causing epidemics and showing resistance to various antibiotics. Therefore, alternative treatments are needed, one of which is the use of traditional medicinal plants such as Peperomia pellucida L. (“sirih cina”). This study aimed to determine the ability of the ethyl acetate extract of Peperomia pellucida L to inhibit the growth of Shigella dysenteriae , and to identify the most effective concentration in exhibiting antibacterial activity. The research was conducted experimentally in the laboratory, involving simplisia preparation, maceration extraction with ethyl acetate, phytochemical screening, and antibacterial testing using the agar well diffusion method. Three extract concentrations were tested (20%, 25%, and 30%), with ciprofloxacin (5 µg) as the positive control and 5% DMSO as the negative control. Phytochemical screening revealed the presence of flavonoids, tannins, and terpenoids, while alkaloids, steroids, and saponins were not detected. Antibacterial assays showed that all extract concentrations inhibited the growth of S. dysenteriae with inhibition zones >20 mm (classified as very strong). The highest activity was observed at 30% concentration with an average inhibition zone of ±22.6 mm, approaching the effectiveness of ciprofloxacin. This study demonstrates that the ethyl acetate extract of P. pellucida possesses strong antibacterial activity and has potential as an alternative or combination therapy to reduce antibiotic resistance.
ISOLASI DAN KARAKTERISASI BAKTERI ASAM LAKTAT (BAL) DARI FERMENTASI STATER (Lactobacillus casei) PADA CUKA MANDAI CEMPEDEK (Artocarpus champeden) Rezia Elok Canrika; Utami, Indah Woro; Retno, Eka Kumala
PHARMACIA Vol. 2 No. 1 (2024): Pharmacy
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mandai merupakan salah satu olahan makanan fermentasi dari kulit cempedak (Artocarpus champeden). Namun bagian dari mandai yang belum dimanfaatkan yakni cuka mandai yang dapat dibuat menjadi bahan pangan fungsional. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan isolat dan mengetahui karakteristik dari bakteri asam laktat dari hasil fermentasi stater (Lactobacillus casei) pada cuka mandai cempedak. Metode penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan analisis data berupa analisis data dekskriptif. Fermentasi mandai ditambahkan stater 4% kemudian diambil sampel cuka pada hari ke-14 untuk di isolasi dengan Media MRS Agar dan dikarakterisasi. Dari hasil isolasi diperoleh empat koloni yang dapat dikatakan sebagai isolat dari bakteri asam laktat cuka mandai cempedak atau BAL CM dengan kode BAL CM1, BAL CM2, BAL CM3 dan BAL CM4. Keempat isolat tersebut memiliki karakteristik morfologi yang sama yakni berwarna putih dan tepi utuh dengan bentuk isolat yakni dua isolat bulat dan dua isolat tidak beraturan. Pada empat isolat tersebut menunjukan hasil berupa gram positif, berbetuk batang, uji katalase negatif tidak terbentuknya gelembung atau gas dan uji indol negatif tidak terbentuknya warna merah atau cincin merah. Keempat isolat tersebut diduga sebagai bakteri asam laktat genus Lactobacillus.
STUDI KASUS METODE FIFO (First In First Out) DAN FEFO (First Expired First Out) PENGELOLAAN OBAT GENERIK TABLET DAN KAPSUL DALAM PENGGUNAAN BPJS KLINIK X BALIKPAPAN Hasanah, Nur; Retno, Eka Kumala; Erwina, Wiwi; Wardhana, Mada Aditia
PHARMACIA Vol. 2 No. 2 (2024): Pharmacy
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan stok obat di fasilitas pelayanan kesehatan merupakan aspek krusial dalam menjamin keberlangsungan terapi pasien serta efisiensi penggunaan anggaran obat. Penggunaan metode FIFO (First In First Out) dan FEFO (First Expired First Out) merupakan strategi umum dalam manajemen persediaan obat. FIFO menekankan penggunaan stok yang pertama kali masuk, sementara FEFO memprioritaskan penggunaan obat yang memiliki tanggal kedaluwarsa paling dekat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan kedua metode tersebut terhadap efektivitas dan efisiensi pengelolaan obat generik tablet dan kapsul di Klinik X Balikpapan dengan studi khusus pada dua jenis obat, yaitu cetirizine dan ranitidine. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan teknik dokumentasi dan analisis data statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas batch berada pada kategori rata-rata dalam hal perputaran stok dan lama masa kedaluwarsa, meskipun ditemukan beberapa batch yang memiliki performa distribusi di bawah rata-rata. Hal ini menunjukkan perlunya penguatan sistem monitoring dan digitalisasi manajemen stok guna mendukung penerapan metode FIFO dan FEFO secara optimal.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL 96% AKAR SENGGANI (Melastoma malabathricum L.) TERHADAP BAKTERI Salmonella typhi rapiah, rapiah juanda nur10; Rofidah Nur Umar; Eka Kumala Retno
PHARMACIA Vol. 3 No. 1 (2025): Pharmacy
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Demam tifoid merupakan salah satu masalah kesehatan yang masih sering terjadi di Indonesia dan disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi. Terapi utama yang umum digunakan adalah pemberian antibiotik, namun penggunaannya dalam jangka panjang dapat menimbulkan resistensi. Oleh karena itu, diperlukan alternatif pengobatan yang lebih aman, salah satunya melalui pemanfaatan bahan alam. Akar senggani (Melastoma malabathricum L.) diketahui mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, saponin, tanin, triterpenoid, dan alkaloid yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96% akar senggani terhadap Salmonella typhi serta menentukan konsentrasi efektifnya. Pengujian dilakukan menggunakan metode difusi sumuran dengan variasi konsentrasi ekstrak sebesar 25%, 50%, dan 75%, serta menggunakan amoksisilin sebagai kontrol positif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak akar senggani mampu menghambat pertumbuhan Salmonella typhi, dengan zona hambat terbesar tercatat pada konsentrasi 75% (11,26 mm). Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antar konsentrasi(p < 0,05). Dengan demikian, ekstrak etanol 96% akar senggani memiliki potensi sebagai agen antibakteri alternatif terhadap infeksi Salmonella typhi.
Evaluasi Pengkajian Pelayanan Resep Manual dan Telemedicine di Apotek Bio's Farma Balikpapan Sinurat, Selvia; Fitri Ayu Wahyuni; Eka Kumala Retno
PHARMACIA Vol. 3 No. 1 (2025): Pharmacy
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelayanan kefarmasian merupakan layanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien, terutama terkait penyediaan obat yang aman dan rasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelengkapan dan kesesuaian pengkajian resep manual dan telemedicine berdasarkan Permenkes No. 73 Tahun 2016 di Apotek Bio’s Farma Kota Balikpapan. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan cross-sectional dan data dikumpulkan secara prospektif dari 96 resep manual dan 96 resep telemedicine pada periode Agustus hingga November 2024. Instrumen yang digunakan berupa lembar observasi dan checklist pengkajian administratif, farmasetik, dan klinis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resep telemedicine memiliki tingkat kelengkapan yang lebih tinggi dibandingkan resep manual, terutama dalam aspek klinis seperti cara pakai, lama penggunaan obat, dan deteksi interaksi obat. Resep manual menunjukkan kekurangan signifikan pada pencantuman berat badan, paraf dokter, dan informasi klinis. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa sistem telemedicine menunjukkan keunggulan dalam hal kelengkapan dan keamanan pengkajian resep. Oleh karena itu, peningkatan sistem dokumentasi pada resep manual dan pelatihan kepada tenaga kefarmasian sangat diperlukan untuk menurunkan risiko medication error.
IDENTIFIKASI KANDUNGAN BORAKS, FORMALIN DAN CEMARAN MIKROBA PADA MIE BASAH DI KOTA BALIKPAPAN Utami, Indah Woro; Retno, Eka Kumala; Meray, Nishia Waya; Sapri, Sapri
INDONESIA NATURAL RESEARCH PHARMACEUTICAL JOURNAL Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/inrpj.v8i2.7214

Abstract

Mie basah merupakan bahan pangan yang banyak diminati oleh masyarakat Indonesia. Mie basah banyak diproduksi oleh industri rumah tangga dengan skala kecil. Mie basah dijual bebas di pasar tradisional dalam bentuk kemasan sederhana, basah dan dijual terbuka. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi adanya kandungan formalin, boraks dan cemaran mikroba pada mie basah yang beredar di pasar tradisional di Kota Balikpapan. Metode pengujian formalin menggunakan pereaksi KMnO4 dan spektrofotometer UV-VIS, pengujian boraks menggunakan kertas turmeric dan uji cemaran mikroba menggunakan metode Total Plate Count (TPC). Total sampel mie basah yang didapatkan adalah 6 sampel dari 7 pasar tradisional di Kota Balikpapan. Hasil uji formalin dan boraks dianalisis secara kualitatif sedangkan data cemaran mikroba dianalisis secara kuantitatif dan membandingkan hasilnya dengan SNI. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa seluruh sampel mie basah tidak terdapat campuran boraks namun terdapat satu yang terindikasi mengandung formalin. Hasil identifikasi cemaran mikroba menunjukkan mie basah mengandung mikroba dibawah ambang batas maksimal 1 x 106 koloni/gram dan dinyatakan memenuhi syarat mutu mie basah SNI 2987:2015. 
Analisis Efektivitas Biaya Penggunan Obat Antidiabetes pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit TK. II Dr. R. Hardjanto Balikpapan Suci Indah Rachmayani; Eka Kumala Retno; Warantia Citta Citti Putri
OBAT: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2026): Maret: OBAT: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/obat.v4i2.2089

Abstract

Type 2 Diabetes Mellitus is a chronic disease with an increasing prevalence and requires long-term therapy, resulting in a significant economic burden on healthcare systems. This study aimed to analyze the cost-effectiveness of antidiabetic drug use among Type 2 Diabetes Mellitus patients in the inpatient unit of Dr. R. Hardjanto Hospital, Balikpapan. This research employed an observational analytic design with a cross-sectional approach and retrospective data collection from medical records and administrative data for the period January–December 2023. A total of 54 patients who met the inclusion criteria were included as study samples. Therapeutic effectiveness was assessed based on the achievement of random blood glucose levels ≤200 mg/dL, while the analysis focused on direct medical costs. Cost-effectiveness was evaluated using the Average Cost-Effectiveness Ratio (ACER) and Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER). The results showed that Metformin–Apidra therapy achieved higher clinical effectiveness (92%) with an average cost of IDR 3,636,721 and an ACER value of IDR 39,529. Meanwhile, Glimepiride–Sansulin therapy demonstrated 81% effectiveness with a lower average cost of IDR 2,519,259 and an ACER value of IDR 31,101. The ICER value of IDR 10,158 indicates the additional cost required to achieve a 1% increase in effectiveness. In conclusion, Metformin–Apidra therapy is more clinically effective, whereas Glimepiride–Sansulin therapy is more cost-effective economically.