Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

UJI ORGANOLEPTIK SELAI RUMPUT LAUT Gracilaria verrucose DAN Eucheuma cottonii Srie Julyasih; I Putu Parwata
Jurnal Perikanan Unram Vol 12 No 2 (2022): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v12i2.299

Abstract

Pemanfaatan rumput laut di Indonesia sampai saat ini terbatas sebagai bahan makanan bagi penduduk yang tinggal di daerah pesisir dan belum banyak kalangan industri yang mau melirik potensi rumput laut. Rumput laut merupakan salah satu bahan yang bersifat hidrokoloid yang mampu membentuk cairan kental. Rumput laut dapat digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan selai karena rumput laut mempunyai sifat seperti pektin pada buah Tujuan penelitian ini adalah menguji tingkat kesukaan konsumen terhadap selai rumput laut Gracilaria verrucosa, Eucheuma cottonii dan campuran Gracilaria.verrucosa dan Eucheuma.cottonii. Metode penelitian yang digunakan adalah uji organoleptik terhadap aroma, dan rasa selai dengan menggunakan 12 panelis. Penelitian terdiri dari empat perlakuan yaitu selai strawberry pembanding (P0), selai rumput laut G. verrucosa (P1), selai rumput laut E. cottonii (P2), dan selai campuran G. verrucosa dan E.cottonii (P3). Tiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Hasil penelitian uji organoleptik terhadap parameter aroma, dan rasa menunjukkan perbedaan bermakna (p<0,05) di antara perlakuan. Perbedaan jenis bahan baku pembuatan selai mempengaruhi tingkat kesukaan panelis terhadap rasa dan aroma selai. Selai dengan bahan baku rumput laut G.verrucosa memiliki nilai rata-rata tertinggi untuk parameter aroma yaitu 4,07±1,223, dengan kategori disukai tetapi tidak berbeda bermakna dengan selai E.cottoni dengan rata-rata 3,80±0,862, dan berbeda bermakna dengan selai campuran rumput laut, dan selai pembanding, dengan nilai rata-rata 2,60±0,986 dan 2,00±0,756.  Selai dengan bahan baku rumput laut G.verrucosa memiliki nilai rata-rata tertinggi untuk parameter rasa yaitu 3,80±1,014, tetapi tidak berbeda bermakna dengan selai E.cottoni dengan rata-rata 3,47±0,640, dan berbeda bermakna dengan selai campuran dengan rata-rata 3,00±0,926, dan selai pembanding  dengan  nilai rata-rata 2,736 ± 0,704
IbM Calon Pengusaha Produk Makanan Berbasis Rumput Laut di Nusa Penida Oviantari, Made Vivi; Sukerti, Ni Wayan; Parwata, I Putu
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 4 No 2 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.431 KB) | DOI: 10.23887/jwl.v4i2.9603

Abstract

Tujuan umum Program Ipteks bagi Masyarakat (IbM) ini adalah memberdayakan potensi yang dimiliki oleh kelompok tani rumput laut di Nusa Penida. Target program IbM ini adalah terbentuknya unit usaha yang mengembangkan produk makanan dari bahan baku rumput laut sebagai oleh-oleh khas dari Nusa Penida. Secara khusus, program ini bertujuan untuk melatih dua kelompok tani rumput laut dari Nusa Penida menjadi pengusaha produk makanan khas dari rumput laut. Produk makanan yang akan diproduksi adalah kerupuk rumput laut yang akan dikembangkan oleh mitra I dari kelompok tani Tunas Harapan di Desa Ped dan dodol rumput laut yang akan dikembangkan oleh mitra II dari kelompok tani Merta Sari di Desa Nyuh Kukuh. Pelatihan akan diberikan mulai dari teknik produksi, pengemasan, pemasaran, sampai pada teknik manajemen usaha. Metode yang akan diterapkan untuk mencapai tujuan/target program IbM ini adalah kombinasi dari beberapa pendekatan yaitu melalui penyuluhan, pelatihan, pendampingan, serta pemberian bantuan peralatan produksi. Luaran utama kegiatan ini adalah 1) kerupuk rumput laut yang renyah, gurih dan bercita rasa khas rumput laut yang dikembangkan oleh kelompok tani Tunas Harapan di Desa Ped dan 2) dodol rumput laut yang bertekstur kenyal, lembut dan beraroma khas rumput laut yang dikembangkan oleh kelompok tani Merta Sari di Desa Nyuh Kukuh. Kedua produk tersebut juga bisa dikemas dengan baik sehingga dapat dijadikan sebagai oleh-oleh khas Nusa Penida. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah 1) bantuan peralatan produksi yang diberikan sangat membantu dan cukup memadai bagi kedua kelompok tani tersebut dalam melakukan proses produksi. 2) Pelatihan yang diberikan telah memberikan kemampuan terampil bagi kedua kelompok tani tersebut untuk membuat produk yang berkualitas dari rumput laut. 3) Setelah diberikan pelatihan dalam mengemas hasil produksi secara menarik, pihak mitra mampu memberikan ciri khas yang dapat meyakinkan calon pembeli.
Extracellular alpha‐amylase from halophilic bacteria Marinobacter sp. LES TG5: Isolation, optimization, and characterization Parwata, I Putu; Julyasih, Ketut Srie Marhaeni
Indonesian Journal of Biotechnology Vol 30, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijbiotech.108853

Abstract

The growing demand for stable and effective enzymes requires the discovery of novel microbial producers. Alpha‐amylase is an enzyme in high demand by various industries; however, the discovery of novel and stable alpha‐amylase producers remains limited. This study aims to isolate, optimize, and characterize extracellular alpha‐amylase from halophilic bacteria Marinobacter sp. LES TG5. Bacteria were isolated from saltwater and soil samples collected from traditional salt ponds in Les Village, Bali, Indonesia. Initial screening on starch agar yielded several amylase‐producing colonies, and subsequent spectrophotometric assays identified one promising isolate (LES TG5), which demonstrated an initial activity of 0.63 U/mL. The production of amylase was significantly enhanced by a multi‐stage optimization process. This involved first identifying optimal carbon and nitrogen sources, followed by a one‐variable‐at‐a‐time approach to determine the ideal nutrient levels, salt concentration, and incubation time. This optimization led to an 11‐fold increase in activity, from 0.63 U/mL to 6.99 U/mL, achieved with a medium containing 2.4% (w/v) nutrient broth, 0.4% (w/v) maltose, and 3% (w/v) NaCl with an incubation time of 22 hours. Enzyme characterization revealed optimal amylase activity at pH 7, 55 °C, and 3% (w/v) NaCl. While Ca2+ and Mg2+ had no effect on amylase activity, Pb2+, Fe2+, Sn2+, and Al3+ significantly reduced it. Importantly, the amylase demonstrated outstanding stability in organic solvents such as methanol, ethanol, and n‐hexane, suggesting its potential as a biocatalyst for chemical synthesis in non‐aqueous systems. Furthermore, its notable stability against surfactants and detergents highlights its promise as an additive in cleaning product formulations.
Differences in the Percentage of Fusarium Wilt Disease Attacks and High Vegetative Growth of Purple Eggplant (Solanum melongena L.) Plants with Various Concentrations of Antagonist Fungus Trichoderma harzianum Julyasih, Ketut Srie Marhaeni; Parwata, I Putu; Pertiwi, Ni Putu Dian
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 11 No 8 (2025): August
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v11i8.12090

Abstract

Microorganisms that have antagonistic properties against pathogens are an alternative as a material for control, such as Trichoderma sp. The use of biological agents has the potential to control plant diseases safely and environmentally friendly, Trichoderma sp is a fungus that can be a biocontrol agent because it is antagonistic to other fungi. Trichoderma sp is a fungus whose habitat is in the soil, including the Ascomycetes class which has green spores. This fungus has the potential for degradation of various heterogeneous substrates in the soil, positive interactions with the host, producing enzymes to improve plant nutrition. Until now, there has not been much research conducted on the competence of Trichoderma sp. isolates in inhibiting the development of Fusarium wilt disease. The purpose of this study was to test the difference in the percentage of Fusarium wilt disease attacks on eggplant plants and plant vegetative growth due to the provision of variations in the concentration of Trichoderma sp. The type of research conducted was a true experimental, with the research design used was a Completely Randomized Design using 6 treatments, namely with the treatment of Trichoderma sp. isolate concentration. grown on rice media with concentrations of 0%, 10%, 20%, 30% 40%, and 50%, each treatment was repeated 5 times so that there were 30 experimental units. The variables observed in this study were the differences in the percentage of Fusarium Wilt disease attacks and the high vegetative growth of purple eggplant plants. The data obtained were analyzed using the analysis of variance of the ANOVA test with a level of 5%. If there is a significant difference, it is continued with the Duncan test at a level of 5%. The results showed that there was a significant difference in the variation of T. harzianum concentration on the percentage of Fusarium wilt disease attacks, and the high growth of purple eggplant plants.
OPTIMALISASI PEROKSIDASE DARI BUAH BELIMBING MANIS (Averrhoa carambola) UNTUK DEGRADASI SENYAWA FENOL Dwiyanthi, Ni Made Ratna; Oviantari, Made Vivi; Parwata, I Putu
JST (Jurnal Sains dan Teknologi) Vol. 9 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.976 KB) | DOI: 10.23887/jstundiksha.v9i2.29039

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pH dan suhu optimal yang diperlukan oleh ekstrak peroksidase dari buah belimbing manis dalam mengkatalisis reaksi degradasi senyawa fenol. Subjek penelitian ini adalah peroksidase yang diisolasi dari buah belimbing manis (Averrhoa carambola) yang sudah matang, sedangkan objek penelitian adalah pH dan suhu optimum yang diperlukan oleh peroksidase dari buah belimbing manis (Averrhoa carambola) untuk mendegradasi fenol. Peroksidase diekstraksi dari buah belimbing manis (Averrhoa carambola) yang sudah matang menggunakan blender dan disentrifugasi dengan kecepatan 5000 rpm selama 120 menit. Ekstrak enzim kemudian diuji aktivitasnya dalam mendegradasi fenol pada variasi pH dan suhu. Pengukuran konsentrasi fenol dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa degradasi senyawa fenol dengan biokatalisator peroksidase dari buah belimbing manis berlangsung optimum pada pH 5 dan suhu 65˚C dengan nilai efisiensi 72,71%.
Deteksi Molekuler Bakteri Liberobacter Asiaticum Penyebab Penyakit Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) Pada Tanaman Jeruk Siam (Citrus Nobilis) Marhaeni, Ketut Srie; I Putu Parwata
JST (Jurnal Sains dan Teknologi) Vol. 13 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jstundiksha.v13i1.79556

Abstract

Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) merupakan penyakit yang sering menyerang tanaman jeruk. Penyebab penyakit CVPD yang disebut juga citrus greening atau huang longbing adalah bakteri Liberobacter yang termasuk dalam subdivisi Protobacteria. Bakteri Liberobacter hidup pada floem tanaman jeruk dan menimbulkan gejala yang khas, namun bakteri tersebut tidak dapat dibiakkan pada media buatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi gejala secara morfologi terhadap tanaman jeruk yang menunjukkan gejala terserang penyakit CVPD dan tanaman jeruk yang tidak menunjukkan gejala. Peneltian ini tergolong ke dalam penelitian eksperimental laboratorium. Subjek penelitian adalah tanaman jeruk siam yang menunjukkan gejala serangan CVPD dan yang tidak menunjukkan gejala serangan yang diambil di dua lokasi yang berbeda. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengambilan sampel daun jeruk dari dua lokasi berbeda, yaitu dari tanaman jeruk yang nampak sehat dan yang menunjukkan gejala penyakit CVPD. Instrumen yang digunakan meliputi berbagai alat laboratorium seperti mesin PCR, alat elektroforesis, centrifuge, UV transilluminator, dan lainnya yang digunakan untuk analisis DNA. Setelah data dikumpulkan kemudian dianalisis dengan teknik isolasi DNA dan amplifikasi DNA menggunakan teknik PCR.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa, deteksi menggunakan PCR menunjukkan keberadaan bakteri Liberobacter asiaticum pada daun jeruk Siam bergejala dan tidak bergejala CVPD, dengan pita DNA teramplifikasi pada 1160 bp. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa, daun jeruk Siam yang bergejala dan tidak bergejala CVPD sama-sama mengandung bakteri Liberobacter asiaticum, yang terdeteksi melalui PCR dengan pita DNA pada 1160 bp. Maka dari itu, memungkinkan tindakan pencegahan lebih awal dalam pengelolaan penyakit jeruk.