Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

STILISTIK BINATANG DALAM PENCIPTAAN KRIYA KONTEMPORER Wiyasa, I Nyoman Ngidep; Jana, I Made; Sumantra, I Made
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 3 (2023): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penciptaan ini memerlukan objek studi sebagai kajian sumber untuk memperdalam dan mematangkan konsep, terutama membentuk struktur karya yang memiliki dasar pemikiran yang kuat dan dapat dijadikan sumber inspirasi penciptaan seni kriya. Tinjauan sumber penciptaan ini bertujuan untuk melacak karya-karya yang objek dan topiknya sama, serta untuk menunjukkan perbedaan dengan karya yang pencipta ciptakan, baik material, teknik dan konsep penciptaan. Objek studi dapat diperoleh dari sumber tertulis atau tekstual, yaitu: buku, majalah, manuskrip lontar, internet dan sumber visual, seperti data yang di kumpulkan seperti: gambar, lukisan, relief kayu, batu, logam, patung berbahan kayu, perunggu, prasi, video, sumber-sumber lisan, diskusi maupun wawancara. Memahami hal ini, dapat menambah daya kreativitas dalam penciptaan karya seni, sehingga menunjukkan hasil yang berbeda/baru antara karya seni yang dicipta dengan karya yang diacu. Mencermati beberapa visualisasi binatang, pencipta akan mengambil sikap yang berbeda dalam menentukan wujud karya kriya yang digarap, baik dalam pemilihan tema, bahan dan teknik. Sehingga dapat menumbuhkan penghargaan terhadap karya seni dan budaya.
STUDI PEMANFAATAN WARNA ALAM PADA PRODUK TEKSTIL Mukti, Made Wahyu Prisma; Sumantra, I Made; Karuni, Ni Kadek
Hastagina : Jurnal Kriya Seni Vol 3 No 02 (2023): Hastagina : Jurnal Kriya dan Industri Kreatif
Publisher : Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/hastagina.v3i02.2906

Abstract

Industri fast fashion dikenal karena kemampuannya untuk menghasilkan pakaian dengan cepat. Merek-merek fast fashion dapat merespons tren mode terbaru dengan mempercepat proses desain, produksi, dan distribusi. Hal ini memungkinkan mereka untuk menawarkan koleksi baru dengan cepat, seringkali dalam hitungan minggu. Produksi massal dalam industri fast fashion dapat memiliki dampak serius pada lingkungan. Proses pewarnaan tekstil, penggunaan bahan kimia, dan pengelolaan limbah yang kurang baik dapat menyebabkan pencemaran air dan tanah. Selain itu, limbah tekstil dari pakaian yang tidak terpakai menjadi masalah serius. Proses produksi tekstil dan pakaian dalam industri fast fashion menggunakan banyak bahan kimia berbahaya, seperti pewarna sintetis dan zat kimia pengolahan tekstil. Limbah cair dari pabrik-pabrik dapat mencemari air, sedangkan pembuangan limbah padat dapat menyebabkan pencemaran tanah. Produksi kain dan pakaian memerlukan penggunaan air yang sangat besar. Proses pewarnaan dan finishing tekstil, khususnya pada serat sintetis, dapat menggunakan banyak air dan menciptakan limbah beracun yang mempengaruhi kualitas air. Pewarna alam dapat menjadi alternatif yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan dibandingkan dengan pewarna sintetis dalam konteks maraknya fast fashion. Penggunaan pewarna alam dapat mengurangi ketergantungan pada bahan kimia berbahaya dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dibandingkan pewarna sintetis. Pewarna alam sering kali lebih mudah diuraikan dan dapat dipecah oleh mikroorganisme secara alami. Ini meningkatkan potensi daur ulang dan mengurangi akumulasi limbah tekstil yang sulit terurai. Tumbuhan yang digunakan untuk pewarna alam sering ditanam dengan metode pertanian organik, mengurangi penggunaan pestisida dan bahan kimia sintetis. Ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan mengurangi dampak negatif pada ekosistem pertanian.
TEKNIK PERWUJUDAN PATUNG TRADISIONAL BALI PADA STUDIO KT. JAYA STONE BR. SENGGUAN, SINGAPADU, SUKAWATI, GIANYAR, BALI I Kadek, Karang Arinatha; Suparta, I Made; Sumantra, I Made
Hastagina : Jurnal Kriya Seni Vol 5 No 01 (2025): Hastagina : Jurnal Kriya dan Industri Kreatif
Publisher : Pusat Penerbitan LPPM ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/hastagina.v5i01.4272

Abstract

The Internship/Work Practice Activity of the Independent Learning Independent Campus Program this time was carried out by the author at the KT. Jaya Stone Sculpture Studio located in Banjar Sengguan, Singapadu , Sukawati, Gianyar. The Studio Owner, in addition to as sculptor is also one of the skilled dance artists . The basic material used in making statue use processed waste rock that is easily found around the studio. The works the besides functioning profane there are also natures sacred in accordance with existing orders. Manufacturing process work at the beginning with demonstrate various dance moves for get quality character in accordance with desired figure. This internship program, the author wants to learn about the form and character of the work Paksi Dari, Monkey, Godogan (Frog), Sidakarya and dog using a rock. In the Independent Learning activity This Independent Campus writerFor tracing use method Exploration For get various character and nature Materials, Design For as well as know various existing dimensions in art statue Forget characteristics that exist in each figure like decoration, vehicle and manifestation Formore know every figure as well as movement, proportions and clothing used. Each method used Formake it easier do related searches with statue character Paksi Dedari who has graceful movements and character, Monkey who has facial expressions as if mocking his friends, Godogan (Frog), the mask character Sidakarya, Begawan, and motion naturalist dog.
STUDI PEMANFAATAN WARNA ALAM PADA PRODUK TEKSTIL Mukti, Made Wahyu Prisma; Sumantra, I Made; Karuni, Ni Kadek
Hastagina : Jurnal Kriya Seni Vol 3 No 02 (2023): Hastagina : Jurnal Kriya dan Industri Kreatif
Publisher : Pusat Penerbitan LPPM ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/hastagina.v3i02.2906

Abstract

Industri fast fashion dikenal karena kemampuannya untuk menghasilkan pakaian dengan cepat. Merek-merek fast fashion dapat merespons tren mode terbaru dengan mempercepat proses desain, produksi, dan distribusi. Hal ini memungkinkan mereka untuk menawarkan koleksi baru dengan cepat, seringkali dalam hitungan minggu. Produksi massal dalam industri fast fashion dapat memiliki dampak serius pada lingkungan. Proses pewarnaan tekstil, penggunaan bahan kimia, dan pengelolaan limbah yang kurang baik dapat menyebabkan pencemaran air dan tanah. Selain itu, limbah tekstil dari pakaian yang tidak terpakai menjadi masalah serius. Proses produksi tekstil dan pakaian dalam industri fast fashion menggunakan banyak bahan kimia berbahaya, seperti pewarna sintetis dan zat kimia pengolahan tekstil. Limbah cair dari pabrik-pabrik dapat mencemari air, sedangkan pembuangan limbah padat dapat menyebabkan pencemaran tanah. Produksi kain dan pakaian memerlukan penggunaan air yang sangat besar. Proses pewarnaan dan finishing tekstil, khususnya pada serat sintetis, dapat menggunakan banyak air dan menciptakan limbah beracun yang mempengaruhi kualitas air. Pewarna alam dapat menjadi alternatif yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan dibandingkan dengan pewarna sintetis dalam konteks maraknya fast fashion. Penggunaan pewarna alam dapat mengurangi ketergantungan pada bahan kimia berbahaya dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dibandingkan pewarna sintetis. Pewarna alam sering kali lebih mudah diuraikan dan dapat dipecah oleh mikroorganisme secara alami. Ini meningkatkan potensi daur ulang dan mengurangi akumulasi limbah tekstil yang sulit terurai. Tumbuhan yang digunakan untuk pewarna alam sering ditanam dengan metode pertanian organik, mengurangi penggunaan pestisida dan bahan kimia sintetis. Ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan mengurangi dampak negatif pada ekosistem pertanian.
Anomali Suku Bunga: Analisis Determinasi Jumlah Nasabah dan Faktor Makroekonomi terhadap Simpanan Masyarakat pada BPR di Kabupaten Badung (2014-2023) I Made Sumantra; I wayan Terimajaya; Ngurah Wisnu Murthi; I Komang Trisna Eka Putra
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 6 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana tingkat suku bunga tabungan, jumlah nasabah, dan inflasi berdampak pada jumlah simpanan masyarakat pada Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Kabupaten Badung dari tahun 2014 hingga 2023. Metode kuantitatif digunakan untuk menganalisis data; program SPSS digunakan untuk melakukannya. Tingkat suku bunga dan inflasi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap jumlah simpanan, tetapi penelitian secara parsial menunjukkan bahwa variabel jumlah konsumen berpengaruh positif dan signifikan terhadap jumlah simpanan. Hasil menunjukkan bahwa jumlah pelanggan adalah faktor utama dalam pengambilan dana pihak ketiga pada BPR di Kabupaten Badung. Disarankan bagi pengelola BPR untuk meningkatkan kualitas layanan guna menarik lebih banyak nasabah dan bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas makroekonomi guna mendukung pertumbuhan simpanan masyarakat.
Pemanfaatan Limbah Bunga Canang Sebagai Sumber Warna Alam : Natural Dyes Suryawan I Made; Sumantra I Made; Karuni Ni Kadek
Hastagina : Jurnal Kriya Seni Vol 6 No 01 (2026): Hastagina : Jurnal Kriya dan Industri Kreatif
Publisher : Pusat Penerbitan LPPM ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/hastagina.v6i01.5686

Abstract

Bali, as a major tourist destination in Indonesia, boasts a rich cultural heritage and rich religious traditions, one of which is the use of canang (a kind of sacred offering) as a means of worship for Balinese Hindus. Canang, a sacred offering made from flowers, leaves, and other natural materials, is used daily in various religious ceremonies. However, the high use of canang generates large amounts of organic waste, which has not been optimally managed. The accumulation of canang waste not only pollutes the environment but also contributes to Bali's waste management crisis. However, flower waste from canang has significant potential as a raw material for natural dyes. The natural pigments in flowers can be utilized to produce environmentally friendly and skin-safe natural colors, particularly in ecoprinting. Through the MBKM Program at PT Bali Karya Kreatif, a local business focused on sustainable textile products utilizing natural materials to produce natural dyes, the internship method used is collaborative. This method was chosen because it encourages students to actively engage in interactions, discussions, and collaboration with PT Bali Karya Kreatif to help each other solve problems and achieve shared learning goals. This activity aims to explore the process of processing canang flower waste into natural dyes and its application in ecoprinting techniques on RB 1 rayon fabric. The expected result is a textile product that not only has aesthetic value but also elevates environmental sustainability and local cultural preservation. With this approach, canang waste can be transformed from trash into a creative resource with high economic value.
PROSES KREATIF PEMBUATAN TOGOG TRADISIONAL DI MERTANING TOGOG ART GALLERY BALI: PROSES KREATIF PEMBUATAN TOGOG TRADISIONAL DI MERTANING TOGOG ART GALLERY BALI Satrio Purwo Yudho; Suardina I Nyoman; Sumantra I Made
Hastagina : Jurnal Kriya Seni Vol 6 No 01 (2026): Hastagina : Jurnal Kriya dan Industri Kreatif
Publisher : Pusat Penerbitan LPPM ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/hastagina.v6i01.5687

Abstract

The creation of this work aims to explore figurative forms in the art of paras stone sculpture and develop sculptural techniques that are efficient and have high aesthetic value while still being based on Balinese traditions. Through this work, the author seeks to present figures that have a strong visual character and are full of symbolic meaning, so that they can represent the spiritual values and local wisdom of the Balinese people. The creation method used refers to the Sp. Gustami method, which consists of three main stages, namely exploration, design, and realization. The exploration stage is carried out by exploring ideas and references from traditional Balinese cultural sources and iconography. The design stage includes sketching, determining anatomical proportions, and making an initial model. Meanwhile, the embodiment stage is realized through the process of manual level stone carving, including the formation of bare, refining, and finishing. The result of the creation produced five sculptures with the figures of Rsi, Delem, the Suratma, the Head of the Buddha, and the Cow, each with its own characteristics and symbolic meaning. Each work highlights a blend of technique, expression, and philosophy, thus bringing strong aesthetic value and spiritual depth. In conclusion, this creation shows that traditional Balinese sculpture art is still very relevant to be developed as a medium of artistic expression and cultural preservation. Through the exploration of form and the application of proper sculptural techniques, the work of the paras stone sculpture is not only an aesthetic representation, but also a container for the inheritance of the noble values and spirituality of the Balinese people.